• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : ANALISIS HASIL PENELITIAN

B. Analisis Hasil Penelitian

1. Struktur Organisasi PT. BPR Karyabhakti Ugahari

Suatu pengawasan yang baik mengharuskan adanya pemisahan yanggung jawab fungsional secara tegas dan tepat sesuai dengan sifat, jenis, metode, operasi, dan besarnya perusahaan. Hal ini harus tercermin dalam struktur organisasi suatu

perusahaan, sehingga mempermudah melakukan pemeriksaan, pengawasan dan meminta pertanggungjawaban dan melakukan penilaian terhadap prestasi yang dicapai oleh bawahan. Faktor penting yang menjadi perhatian dalam menyusun suatu struktur organisasi adalah pembagian kerja yang diikuti garis-garis, tanggung jawab dan wewenang yang jelas dan seimbang pada masing-masing pekerjaan, sehingga setiap pimpinan mengetahui bidang pekerjaan dan tanggung jawabnya dan dapat melaksanakan semaksimal mungkin dan adanya suatu kesatuan perintah pada bagiannya masing-masing, serta tidak terjadi tumpang tindih pada fungsi masing-masing bagian.

Dilihat dari struktur organisasi PT. BPR Karyabhakti Ugahari Tanjung Morawa, telah terdapat pemisahan tugas dan wewenang di setiap unit/bagiannya.

Misalnya dalam pemberian kredit modal kerja. Hal ini dapat dilihat dari adanya pemisahan tugas yang cukup jelas dari masing-masing fungsi yang terkait langsung dalam pemberian kredit di bank ini, yaitu bagian pemasaran, bagian kredit, bagian operasional, bagian administrasi keuangan dan administrasi umum.

Bagian pemasaran merupakan bagian yang sangat penting dalam memasarkan kredit di bank ini. Hal ini dapat dilihat dari fungsinya dimulai dari pencarian calon nasabah sampai dengan pelunasan kredit tersebut. Jika ada calon nasabah yang ingin mengajukan permohonan kredit, maka bagian kredit yang akan melakukan analisis. Selanjutnya bila kredit disetujui bagian kredit, baguan pemasaran akan mempresentasikan permohonan pembiayaan dari calon nasabah. Sedangkan pengambilan keputusan bila permohonan disetujui atau ditolak diputuskan oleh bagian operasional melalui direktur utama. Bila disetujui pencairan kredit

dilakukan oleh bagian administrasi keuangan dan umum. Bila terdapat masalah dalam proses kredit akan ditangani oleh bagian operasional untuk menyelesaikan masalah yang timbul serta mencari tindakan preventif untuk mencegahnya.

Dengan adanya pemisahan fungsi/bagian ini akan lebih mempermudah melaksanakan pengawasan, meminta pertanggungjawaban dan penilaian terhadap bawahan pada bagian-bagian yang ada dalam perusahaan dan memperkecil peluang terjadinya kesalahan, kecurangan, dan kolusi atau persekongkolan.

Disamping itu, agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan baik sesuai dengan pembagian tugas yang ditetapkan dalam struktur organisasi dan job description, maka salah satu faktor yang mendukung adalah karyawan yang berkualitas (cakap, ahli di bidangnya, serta dapat dipercaya) yang seimbang dengan tugas atau tanggung jawabnya. Kualitas pegawai dari PT. BPR Karyabhakti Ugahari secara umum dapat dikatakan memadai dan masing-masing pegawai telah ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan ketrampilan atau bidang keahliannya masing-masing. Karena sebaik apa pun struktur organisasi yang dirancang dan didukung oleh pegawai yang cukup terampil dan ahli di bidangnya, tetapi tidak ditempatkan pada bidangnya dan tidak memiliki moral yang baik dan etos kerja yang tinggi, maka tujuan pengawasan intern dan tujuan perusahaan tidak akan dapat dicapai secara maksimal. Untuk itu pada PT. BPR Karyabhakti Ugahari membentuk bagian personalia yang bertugas untuk memberikan pembinaan terhadap pegawai, terutama yang baru diterima atau direkrut, sehingga mereka benar-benar siap dan penuh tanggung jawab dalam melakukan tugasnya.

2. Prosedur Pemberian Kredit Modal Kerja

Dilihat dari uraian-uraian sebelumnya, keseluruhan prosedur pemberian kredit modal kerja yang dilakukan oleh PT. BPR Karyabhakti Ugahari senantiasa dilaksanakan dengan semestinya yang menerapkan sesuai dengan prosedur yang ada yang berdasarkan standar operasional perusahaan. Kebijaksanaan pemberian kredit modal kerja pada PT. BPR Karyabhakti Ugahari adalah berdasarkan pada asas perkreditan yang sehat dan prinsip kehati-hatian bank (prudential bank), hal ini dikarenakan perkreditan merupakan salah satu kegiatan usaha bank yang utama yang memiliki resiko yang dapat merugikan bank dan dapat berakibat pada kepentingan masyarakat penyimpan dana dan pengguna jasa perbankan lainnya.

Prinsip kehati-hatian ini tampak pada analisis-analisis kredit yang cukup detail yang dilakukan oleh pihak PT. BPR Karyabhakti Ugahari dalam menghitun kebutuhan kredit calon debitur, baik analisis kuntitatif maupun kualitatif. Juga dapat dilihat dari kecilnya kredit bermasalah yang terdapat di PT. BPR Karyabhakti Ugahari.

Prosedur pemberian kredit harus dilakukan melalui prosedur yang telah ditetapkan bank yang bersangkutan untuk menghindari terjadinya resiko kredit bermasalah. Berdasarkan pengamatan, secara keseluruhan pelaksanaan prosedur pemberian kredit modal kerja yang dilakukan oleh PT. BPR Karyabhakti Ugahari telah dilaksanakan dengan efisien dalam menentukan apakah calon debitur berhak menerima kredit modal kerja tersebut atau tidak. Setiap tahapan dari prosedur pemberian kredit modal kerja telah dilakukan dengan baik, mulai dari tahap awal, penyidikan terhadap calon debitur hingga sampai pada pengambilan keputusan

pemberian kredit. Hal ini dapat dilihat dari setiap tahapan prosedur pemberian kredit yang dilakukan harus mempunyai laporan yang dibuat untuk setiap tahapannya. Setiap laporan dari setiap tahapan kemudian dianalisis oleh komite untuk ditindak lanjuti. Selain itu kebijaksananaan persetujuan kredit yang meliputi penetapan batas wewenang persetujuan kredit, tanggung jawab pemutus kredit, proses persetujuan kredit, perjanjian kredit dan persetujuan pencairannya termasuk di dalamnya pejabat terkait dalam proses pemberian kredit adalah pejabat pemrakarsa kredit dan pejabat pemutus kredit, komite kredit dan juga pimpinan yang bertindak sebagai pengambil keputusan. Dalam melakukan tinjauan langsung ketempat calon debitur, bagian pemasaran melakukan penyelidikan secara detail terhadap calon debitur termasuk melihat karakter calon debitur, baik itu melaui debitur langsung maupun tetangga-tetangga disekitar lokasi debitur, juga melihat usaha debitur dan melihat agunan yang ada. Begitu pun halnya dengan dokumentasi dan administrasi kredit yang baik dan tertib yang meliputi pengecekan kelengkapan dan keabsahan dokumen, jenis dokumen, penyimpanan dokumen tersebut termasuk penetapan pejabat atau satuan unit kerja yang bertanggung jawab dalam pengadministrasian kredit serta tata cara penatausahaannya.

3. Pengawasan Kredit Modal Kerja

Pengawasan kredit merupakan suatu kegiatan pengamanan dan penjagaan terhadap kekayaan bank yang disalurkan pada bidang perkreditan. Kegiatan pengawasan ini menjadi sangat penting karena kredit merupakan harta bank yang dikuasai oleh pihak luar bank atau nasabah. Pengawasan kredit modal kerja yang

ada pada PT. BPR Karyabhakti Ugahari sudah dilaksanakan dengan baik dan dilakukan secara ketat sesuai dengan standar perusahaan yang melibatkan beberapa fungsi/bagian yang terkait dalam pelunasan kredit. PT. BPR Karyabhakti Ugahari juga menerapkan praktek-praktek yang sehat dalam pemberian kredit menurut prosedur yang ada yang telah ditetapkan oleh bank. Dimana pengawasan dimulai pada saat permohonan kredit yang harus terlebih dahulu dianalisa dahulu untuk menentukan apakah layak diterima atau tidak baik dari segi ekonomis maupun yuridis yang ditangani oleh bagian-bagiannya masing –masing. Setiap bagian melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan mulai dari pekerjaan awal hingga akhir, sehingga kecurangan pun dapat dicegah, dihindari atau diperkecil. Pada saat kredit terealisasi pelu dilakukan pengawasan yang berupa mengawasi pelaksanaan kredit itu sendiri, pengawasan juga dilakukan dalam melihat kepatuhan pembayaran debitur dalam pelunasan angsurannya setiap bulan. Pengawasan pada saat kredit dipergunakan juga tetap diperhatikan, diawasi serta diperiksa oleh pihak bank secara pendadakan maupun berdasarkan jangka waktu yang sudah ditetapkan sebelumnya untuk mengetahui bagaimana perkembangan usaha debitur. Apabila timbul masalah-masalah maka bank mengusulkan tindaka-tindakan yang dapat diambil untuk memperbaiki atau memecahkan masalah tersebut. Prinsip keamanan kredit juga tetap diperhatikan melalui penetapan, bahwa setiap kredit harus memiliki jaminan yang cukup untuk menutupi resiko yang mungkin terjadi atas penunggakkan kredit tersebut.

Pengikatan jaminan kredit yang dilakukan sudah cukup memadai karena telah melibatkan notaris sehingga telah memiliki kekuatan hukum. Pengawasan dalam

penyelesaian fasilitas kredit modal kerja juga sudah efisien dilakukan oleh PT.

BPR Karyabhakti Ugahari yang menghendaki pendekatan secara kekeluargaan.

Namun, jika debitur tidak menanggapi hal tersebut maka pihak bank akan melakukan penagihan dalam bentuk eksekusi akta perjanjian kredit, eksekusi barang-barang agunan debitur, penjualan barang jaminan secara di bawah tangan, pengambilalihan agunan (take over). Pengotorisasian yang baik dalam suatu bank akan dapat meningkatkan pengamanan terhadap harta kekayaan bank.

Berdasarkan data laporan kolektibilitas pinjaman debitur pada tahun 2008, untuk golongan yang kurang lancar pinjaman pokoknya sebesar 220.292.898, untuk golongan yang diragukan pinjaman pokoknya sebesar 228.444.426, sedangkan untuk golongan yang macet pinjaman pokoknya sebesar 225.710.216. Maka total NPL (Non Performing Loan) yang diperoleh adalah 2,32%. Usaha ini cukup memuaskan, dimana pada tahun 2008 PT BPR KBU Tanjung Morawa berhasil menurunkan kembali tingkat NPL sebesar 1,28%. Dapat disimpulkan bahwa pengawasan kredit yang dilakukan oleh PT. BPR KBU Tanjung Morawa dilaksanakan semakin baik, hal ini dapat dilihat menurunnya persentase tingkat NPL atau kredit bermasalah yang diberikan oleh pihak PT. BPR KBU Tanjung Morawa terhadap para debitur/nasabahnya

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Struktur organisasi dari persuhaan telah menggambarkan adanya suatu pemisahan fungsi pemisahan tugas serta tanggung jawab yang jelas di antara bagian-bagian yang ada begitu juga pada bagian-bagian yang terlibat langsung dalam pelaksanaan prosedur pemberian kredit dan didukung dengan pengawasan kredit modal kerja yang baik, serta setiap bagian sudah mempunyai fungsi dan tugas yang dideskripsikan dan job description sesuai dengan batasan tanggung jawab serta wewenang yang dimiliki.

2. Prosedur pemberian dan pengawasan kredit modal kerja telah diterapkan dan dilaksanakan dengan baik yang sesuai dengan standar operasional yang ada pada PT. BPR Karyabhakti Ugahari, yang dapat dilihat dari kolektibilitas pinjaman debitur per Desember 2006 dan per Desember 2007 yang terjadinya penurunan persentase tingkat NPL atau kredit yang bermasalah sebesar 1,28% per Desember 2008 serta didukung oleh sumber daya manusia dan sarana/prasarana yang ada sehingga dapat meningkatkan efisiensi pada PT. BPR Karyabhakti Ugahari itu sendiri.

3. Pengawasan kredit modal kerja yang meliputi sistem akuntansinya dan administasinya dalam kaitan dengan prosedur pemberian kredit juga sudah cukup baik, hal ini dapat dilihat dari struktur organisasi, pelaksanaan prosedur pemberian, pencatatan, penagihan kredit yang sistematis serta

penyimpanan dokumen pendukung kegiatan perkreditan termasuk agunan/jaminan telah dilakukan dengan baik sehingga resiko kredit bermasalah atau kredit macet dapat dihindari.

4. Komite kredit yang secara keseluruhan melaksanankan posedur pemberian serta pengawasan kredit modal kerja telah bekerja secara baik dalam menganalisa dan mengawasi setiap permohonan kredit modal kerja yang diajukan oleh debitur.

5. Secara keseluruhan, prosedur pemberian dan pengawasan kredit modal kerja yang ada pada PT. BPR Karyabhakti Ugahari telah diterapkan dengan efektif.

B. Saran

1. Untuk menghadapi keadaan pasar yang semakin kompetitif, maka perusahaan perlu menciptakan metode baru yang kreatif dalam mempromosikan produk bank didalam memberi pelayanan kepada nasabah. Disamping itu, perlu diwaspadai bahwa sekarang ini berbagai metode atau teknik yang dapat dilakukan oleh calon nasabah baik dengan cara penipuan atau kolusi dengan pihak intern bank untuk mendapat fasilitas kredit. Oleh karena itu, prinsip kehati-hatian (prudential banking) harus tetap diperhatikan dan dilaksanakan.

2. PT. BPR Karyabhakti Ugahari sebaiknya meningkatkan mutu karyawannya terutama bagian pemasarannya, sebab bagian ini memegang peranan yang sangat penting demi kemajuan usaha dalam proses pemberian kredit dan pengawasannya.

3. Sebaiknya unit pemasaran tidak mengurus tugas yang menyangkut penagihan bunga dan pokok pinjaman namun dibentuklah tim khusus.

Karena tugas bagian pemasaran yang begitu penting untuk mencari calon nasabah yang potensial, terutama dal hal pengajuan permohonan fasilitas kredit, oleh sebab itu diperlukan waktu dan perhatian khusus dicurahkan terhadap hal itu.

4. Perusahaan perlu melakukan intensifikasi penagihan dengan penyusunan jadwal penagihan dengan sebaik-baiknya, pembagian wilayah penagihan diantara petugas penagih secara jelas dan tegas. Bank dapat mengadakan perjanjian dengan nasabah sebelum kredit direalisasi, yaitu supaya mereka yang langsung mengantar setoran atau angsuran kreditnya ke bank atau melalui transfer rekening, sehingga hal ini dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya penagihan kredit.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Faisal, 2005. Manajemen Perbankan, Cetakan Ketiga, UMM Press, Malang.

Dendawijaya Lukman, 2001. Manajemen Perbankan, Cetakan Pertama, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.

Djohan, Warman, 2000. Manajemen Perbankan, Cetakan Kesatu, PT. Mutiara Sumber Widya, Jakarta.

Hasibuan, Malayu, 2001. Dasar-Dasar Perbankan, Edisi Pertama, PT. Bumi Aksara, Jakarta.

Kasmir, 2003. Manajemen Perbankan, Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Mulyadi, 2001. Sistem Akuntansi, Salemba Empat, Jakarta.

Rivai, Veithzal dan Andriana Permata Vethzal, 2006. Credit Management Handbook, Edisi Pertama, Jakarta.

Sastradipoera, Komaruddin, 2004. Strategi Manajemen Bisnis Perbankan : Konsep dan Implementasi Untuk Bersaing, Penerbit Kappa Sigma, Bandung.

Siggalingging, Hotgin, dkk, Peranan BRI Unit dan BPR dalam pemberdayaan Ekonomi Pedesaan, Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia, Jakarta, 2002.

Skousen, K Fred, W. Steve Albrecht, James D. Stice, Earl K. Stice, 2001.

Akuntansi Keuangan Menengah, Edisi Ketiga Belas, Jilid Satu Terjemahan Safrida Rumondang Parulian dan Ahmad Maulana, Salemba Empat, Jakarta.

Sugiyono, 2006. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan Kesembilan, CV. Alfabeta, Bandung.

Suyatno, Thomas, H.A. Chalik, Made Sukadi, C. Tiron Yunianti Ananda, Djuhaepah T. Marala, 2003, Dasar-Dasar Perkreditan, Cetakan Kesepuluh, PT. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta.

Syahyunan, 2004. Manajemen Keuangan, Cetakan Pertama, USU Press, Medan.

Tjoekam, Moh., 1999. Perkreditan Bisnis Inti Bank Komersil :Konsep, Teknik &

Kasus, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tohar, Moh., 2000. Permodalan dan Perkreditan Koperasi, Kanisius, Yogyakarta.

Direktorat Penelitian dan Pengaturan Pebankan, Bank Indonesia, 2001. Pedoman Akutansi Perbankan Indonesia (PAPI), Revisi 2001, Jakarta.

Ikatan Akuntan Indonesia, 2004. Standar Akuntansi Keuangan, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Pemerintah RI, 1998 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992, Sinar Grafika, Jakarta.

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, Jurusan Akuntansi, 2004. Buku Petunjuk Teknik Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi, Medan.

Bank Indonesia, 2004. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor SE No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004. www.bi.go.id

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI

PT. BPR KARYA BHAKTI UGAHARI TANJUNG MORAWA

Rapat Umum

Sumber : PT. BPR KBU Tanjung Morawa

Dokumen terkait