• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERGANTUNG OPERASIONAL UKUR UKUR UKUR UKUR

4.5 Metode Pengumpulan Data .1 Alat Penelitian .1 Alat Penelitian

4.5.3 Prosedur Penelitian

a. Persiapan sampel

Sampel berjumlah 40 buah gigi premolar satu dan dua maksila yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti dibersihkan dengan menggunakan skeler elektrik, kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik yang berisikan larutan saline dan sampel dibiarkan dalam keadaan terendam. Selanjutnya sampel dibagi menjadi 4 kelompok secara random dan setiap kelompok perlakuan berjumlah 10 sampel serta ditanam dalam balok gips untuk memudahkan preparasi dan restorasi.

Gambar 17. 40 buah sampel yang ditanam dalam balok gips

b. Perlakuan sampel penelitian

1. Preparasi Sampel

Bentuk outline form kavitas pada gigi premolar maksila menggunakan pensil kayu dan dengan bantuan jangka, penggaris dan kedalaman mata bur, bentuk desain restorasi klas V berbentuk saucer dengan batas servikal 1mm diatas Cemento Enamel

Juntion (CEJ), dengan lebar 4 mm dan panjang 2 mm untuk mendapatkan hasil

pengukuran yang akurat, serta kedalaman kavitas 2 mm.

Gambar 18. Desain kavitas, dengan ukuran 4x2x2mm

Preparasi kavitas menggunakan high speed handpiece dan akses ke jaringan karies di enamel dan dentin menggunakan diamond burdan preparasi dimulai pada enamel permukaaan servikal. Selanjutnya kavitas diperdalam dengan memasukkan bur perlahan-lahan dengan kecepatan sedang sehingga mencapai kedalaman seluruh kepala bur (1,5-2mm).

Kemudian kavitas diperluas sampai membentuk outline form dengan menggunakan diamond bur. kedalaman kavitas yang dibentuk adalah 2 mm dengan pembagiannya 1mm untuk intermediate layer, yaitu Stress Decreasing Resin dan 1mm untuk lapisan penutup, yaitu resin komposit nano hybrid. Setelah preparasi selesai, kavitas dicuci dengan air dan dikeringkan.

2. Restorasi Sampel

Kelompok I diberikan perlakuan aplikasi self-etching primer dengan menggunakan brush selama 15 detik. Selanjutnya disinar selama 10 detik untuk proses polimerisasi. Aplikasikan Stress Decreasing Resin dengan ketebalan 1 mm dan kemudian disinari selama 20 detik. Selanjutnya untuk tahap akhir, aplikasikan resin komposit nano hybrid dan kemudian disinari selama 20 detik dengan ketebalan 1mm.

Kelompok I

Kelompok II diberikan perlakuan aplikasi etsa dengan menggunakan brush selama 15 detik, kemudian dibilas dengan air dan struktur gigi gigi dijaga dan dipertahankan untuk tetap dalam keadaan yang lembab (moist). Selanjutnya bonding diaplikasikan sehingga akan berpenetrasi ke dalam struktur yang ireguler dan disinar selama 20 detik untuk proses polimerisasi. Aplikasikan stress decreasing resin sebagai intermediate layer dengan ketebalan 1 mm dan kemudian disinari selama 20 detik. Selanjutnya untuk tahap akhir, aplikasikan resin komposit nano hybrid dan kemudian disinari selama 20 detik.

Kelompok III diberikan perlakuan aplikasi self-ethcing primer dengan menggunakan brush selama 15 detik. Selanjutnya disinar selama 10 detik untuk proses polimerisasi. Aplikasikan resin komposit flowable dengan ketebalan 1 mm dan kemudian disinari selama 20 detik. Selanjutnya untuk tahap akhir, aplikasikan resin komposit nano hybrid dan kemudian disinari selama 20 detik dengan ketebalan 1 mm.

Kelompok III

Kelompok IV diberikan perlakuan aplikasi etsa dengan menggunakan brush selama 15 detik, kemudian dibilas dengan air dan struktur gigi dijaga dan dipertahankan untuk tetap dalam keadaan yang lembab (moist). Selanjutnya bonding diaplikasikan sehingga akan berpenetrasi ke dalam struktur yang ireguler dan disinar selama 20 detik untuk proses polimerisasi. Aplikasikan resin komposit flowable sebagai intermediate layer dengan ketebalan 1 mm dan kemudian disinari selama 20 detik. Selanjutnya untuk tahap akhir, aplikasikan resin komposit nano hybrid dan kemudian disinari selama 20 detik .

Kelompok IV

3. Finishing dan Polishing

Tahap finishing restorasi dilakukan menggunakan fine finishing bur untuk membuang resin komposit yang berlebihan, kemudian polis menggunakan bur polis berbasissilicone (enhance)pada seluruh permukaan restorasi. proses preparasi, restorasi dan finishing dilakukan oleh operator yang sama.

Gambar 19. Proses restorasi sampel (A) Aplikasi self-etching primer selama 15 detik, (B) Penyinaran selama 10 detik, (C) 1. Aplikasi Stress Decreasing Resin (SDR) sebagai intermediate layer pada kelompok I. 2. Aplikasi resin komposit flowable konvensional sebagai intermediate layer pada kelompok III, (D) Penyinaran kembali selama 20 detik, (E) Aplikasi

nanohybrid sebagai restorasi akhir, (F) Tahap finishing menggunakan fine finishing bur, (G) Tahap polishing menggunakan bur enhance.

Gambar 20. Proses restorasi sampel (A) 1. Aplikasi total-etch selama 15 detik, 2. kemudian di bilas dengan air, 3. Struktur gigi di jaga dan dipertahankan agar tetap dalam keadaan moist dengan absorband paper, (B) Aplikasikan bonding, (C) Penyinaran selama 20 detik, (D) 1. Aplikasi

Stress Decreasing Resin (SDR) sebagai intermediate layer pada

kelompok II. 2. Aplikasi resin komposit flowable konvensional sebagai

intermediate layer pada kelompok IV, (E) Aplikasi nanohybrid sebagai

restorasi akhir (F) Penyinaran selama 20 detik. (G) Tahap finishing menggunakan fine finishing bur (H) Tahap polishing menggunakan bur

enhance.

4. Water storage dan Thermocycling

Seluruh sampel yang telah direstorasi dimasukkan kedalam wadah plastik yang berisi saline dan direndam selama 24 jam. Kemudian dilakukan proses

thermocycling menggunakan waterbath dengan terlebih dahulu memasukkan sampel

kedalam baker glass yang berisi air es bersuhu 5o C, diamkan selama 30 detik dan selanjutnya dipindahkan dengan waktu transfer 10 detik kedalam waterbath bersuhu 55o C, diamkan selama 30 detik serta dilakukan secara berulang sebanyak 200 kali putaran.

Gambar 21. (A) Sampel direndam dalam air es bersuhu 5o C, (B) Waktu transfer selama 10 detik, dan (C) Sampel direndam dalam waterbath bersuhu 55o C dan proses diulang sebanyak 200x.

5. Perendaman dalam larutan Methylene Blue 2%

Bagian apeks seluruh sampel ditutupi dengan sticky wax sekitar 2 mm dari bagian servikal dan seluruh permukaan gigi dilapisi dengan 2 lapis cat kuku kecuali 1mm di sekitar tepi restorasi. Kemudian dibiarkan mengering di udara terbuka hingga tidak terasa lengket lagi. Setelah itu, lakukan perendaman Methylene Blue 2% selama 24 jam pada suhu kamar. Selanjutnya, seluruh gigi dibersihkan dari zat warna pada air mengalir dan dikeringkan.

6. Pengukuran celah mikro

Sampel ditempatkan pada bais sebagai penahan, kemudian sampel dibelah dari arah bukolingual dengan menggunakan disc bur. Pengamatan celah mikro dilakukan dengan melihat penetrasi zat warna mesial dan distal pada sisi Methylene

Blue 2% pada tepi restorasi melalui stereomikroskop dengan pembesaran 20x.

Pengamatan dan penilaian skor dilakukan oleh 2 orang untuk menghindari terjadinya subjektivitas.

Gambar 23. (A) Pengamatan dilakukan dengan menggunakan stereomikroskop, dan (B) pembesaran stereomikroskop 20x

Derajat celah mikro ditentukan dengan mengamati perluasan Methylene Blue 2% dari sisi gigi yang perluasannya paling panjang dan dinilai dengan sistem penilaian standar dengan skor 0-3 seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Arslan S dkk (2013).10

Tabel 2. Skor Penetrasi Zat Warna.

SKOR DEFINISI

0 Tidak ada penetrasi

1 Penetrasi melibatkan 1/2 dinding kavitas

2 Penetrasi melibatkan lebih dari 1/2 dinding kavitas 3 Penetrasi melibatkan dinding aksial

Gambar 24. Skema penentuan skor celah mikro berdasarkan penetrasi zat pewarna.

Dokumen terkait