BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.10 Prosedur Penelitian
Langkah-langkah yang diambil dalam penelitian ini adalah:
Menetukan permasalahan Menentukan tujuan
Meminta surat keterangan kelayakan etik dari komite etik penelitian kesehatan Uniersitas Sumatera Utara
Meminta izin kepada Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kampar Provinsi Riau dan Dinas Pendidikan Provinsi Riau untuk melakukan penelitian dan pengambilan data
Menyiapkan dan membagikan kuesioner Mengumpulkan data
Mengolah data
Gambar 3.2 Diagram langkah penelitian Persiapan Penelitian
Izin Penelitian
Pengambilan Data
Hasil Kelayakan etik
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner 4.1.1 Hasil Uji Validitas Kuesioner
Alat ukur (instrumen) dikatakan valid apabila alat ukur yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Dalam hal ini, valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Setiawan, 2017). Suatu variabel dikatakan valid apabila skor variabel tersebut berkorelasi secara signifikan dengan skor totalnya. Teknik korelasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi Pearson product moment. Variabel dikatakan valid, jika r hitung lebih besar dari r tabel. Begitu juga sebaliknya, apabila r hitung lebih kecil dari r tabel, maka variabel berarti tidak valid (Hastono, 2006).
Hasil uji validitas dari masing-masing pertanyaan dan pernyataan pada kuesioner dapat dilihat pada Tabel 4.1:
Tabel 4.1 Hasil uji validitas pertanyaan dan pernyataan pada kuesioner
No Variabel r tabel r hitung Hasil
1 Pengetahuan 1 0,361 0,725 Valid
2 Pengetahuan 2 0,361 0,737 Valid
3 Pengetahuan 3 0,361 0,661 Valid
4 Pengetahuan 4 0,361 0,653 Valid
5 Pengetahuan 5 0,361 0,754 Valid
6 Pengetahuan 6 0,361 0,442 Valid
7 Pengetahuan 7 0,361 0,412 Valid
8 Pengetahuan 8 0,361 0,755 Valid
9 Pengetahuan 9 0,361 0,803 Valid
10 Pengetahuan 10 0,361 0,603 Valid
11 Pengetahuan 11 0,361 0,661 Valid
12 Pengetahuan 12 0,361 0,805 Valid
13 Sikap 1 0,361 0,639 Valid
14 Sikap 2 0,361 0,775 Valid
Tabel 4.1 Lanjutan. Hasil uji validitas pertanyaan dan pernyataan pada kuesioner
No Variabel r tabel r hitung Hasil
16 Sikap 4 0,361 0,829 Valid
17 Sikap 5 0,361 0,848 Valid
18 Sikap 6 0,361 0,825 Valid
19 Sikap 7 0,361 0,805 Valid
20 Sikap 8 0,361 0,887 Valid
21 Perilaku 1 0,361 0,707 Valid
22 Perilaku 2 0,361 0,61 Valid
23 Perilaku 3 0,361 0,607 Valid
24 Perilaku 4 0,361 0,587 Valid
25 Perilaku 5 0,361 0,625 Valid
26 Perilaku 6 0,361 0,534 Valid
27 Perilaku 7 0,361 0,597 Valid
28 Perilaku 8 0,361 0,644 Valid
29 Perilaku 9 0,361 0,748 Valid
30 Perilaku 10 0,361 0,457 Valid
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa r hitung dari seluruh pertanyaan dan pernyataan pada kuesioner lebih besar dari pada r tabel (0,361).
Maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan dan pernyataan pada kuesioner dinyatakan valid.
4.1.2 Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner
Pertanyaan atau pernyataan dikatakan reliabel jika jawaban responden terhadap pertanyaan/pernyataan tersebut konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Hastono, 2006). Pengujian reliabilitas dilakukan setelah pertanyaan dan pernyataan pada kuesioner dinyatakan valid. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik Alfa Cronbach. Instrumen dikatakan reliabel jika koefisien reliabilitas Alfa Cronbach lebih besar dari 0,70 (Yusup, 2018).
Dari hasil uji reliabilitas yang dilakukan terhadap pertanyaan dan pernyataan pada kuesioner, diperoleh nilai koefisien reliabilitas Alfa Cronbach
Dimana pada bagian pengetahuan responden tentang penanganan dan pencegahan COVID-19 diperoleh koefisien reliabilitas Alfa Cronbach 0,759. Pada bagian sikap responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 diperoleh koefisien reliabilitas Alfa Cronbach 0,787 dan pada perilaku responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 diperoleh koefisien reliabilitas Alfa Cronbach 0,750. Hal ini berarti bahwa seluruh pertanyaan dan pernyataan pada kuesioner dinyatakan reliabel.
4.2 Karakteristik Responden
Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah tenaga pendidik (guru SD, SMP, dan SMA sederajat) di Kabupaten Kampar Provinsi Riau yaitu terdiri dari 459 responden. Dari keseluruhan responden, gambaran karakteristik meliputi:
usia, jenis kelamin, tingkatan tenaga pendidik, dan tempat mengajar (kecamatan).
Secara garis besar karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 4.2:
Tabel 4.2 Frekuensi karakteristik responden
No. Variabel Jumlah Responden Persentase (%)
1 Usia
3 Tingkatan tenaga pendidik Guru SD/MI
4 Tempat mengajar Bangkinang Kota
Tabel 4.2 Lanjutan. Frekuensi karakteristik responden
No. Variabel Jumlah Responden Persentase (%)
Rumbio Jaya
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat disimpulkan bahwa mayoritas tenaga pendidik yang menjadi responden dalam penelitian ini berusia 20-40 tahun yaitu sebanyak 233 responden (50,8%), berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 337 responden (73,4%), guru SMA/SMK yaitu sebanyak 190 responden (41,4%), dan berasal dari 20 kecamatan dengan total kecamatan yang ada di Kabupaten Kampar Provinsi Riau berjumlah 21 kecamatan.
Berdasarkan tempat mengajar (kecamatan) responden yang paling banyak menanggapi kuesioner penelitian ini tersebar di Kecamatan Rumbio Jaya yaitu sebanyak 80 responden (17,4%) dan responden yang paling sedikit menanggapi kuesioner peneltian ini tersebar di Kecamatan Tapung yaitu sebanyak 1 responden (0,2%). Perbedaan distribusi responden ini dapat disebabkan karena pengisian kuesioner yang dilakukan secara online melalui google formulir.
4.3 Karakteristik Sumber Perolehan Informasi Mengenai COVID-19
Berdasarkan hasil analisis kuesioner yang dilakukan pada penelitian ini, diperoleh persentase karakteristik sumber informasi mengenai COVID-19 yang digunakan responden pada Tabel 4.3:
Tabel 4.3 Karakteristik sumber informasi mengenai COVID-19 yang digunakan responden
Sumber informasi mengenai COVID-19 Responden
Jumlah Persentase (%)
Keluarga atau teman sejawat 291 63,39
Majalah atau koran 201 43,79
Seminar atau workshop 61 13,28
Poster atau pamflet 211 45,96
Radio atau televisi 387 84,31
Jurnal 38 8,27
Media sosial 398 86,71
Lainnya 3 0,65
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa lebih dari 60% tenaga pendidik (guru) mendapatkan informasi mengenai COVID-19 dari keluarga atau teman sejawat, radio, televisi, dan media sosial. Sekitar kurang dari 50% tenaga pendidik (guru) mendapatkan informasi mengenai COVID-19 dari majalah, koran, poster, pamflet, seminar, workshop, jurnal, dan lainnya (pemerintah setempat dan sekolah).
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa media utama sebagai sumber informasi mengenai COVID-19 yang paling banyak digunakan responden adalah media sosial yaitu 398 (86,71%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Erfani dkk. (2020) bahwa mayoritas subjek (82,9%) mendapatkan informasi mengenai COVID-19 dari media sosial dan internet (Erfani dkk., 2020).
Media sosial adalah sebuah media daring dimana penggunanya dengan mudah dapat berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial,
sumber informasi mengenai COVID-19 dapat dipengaruhi karena pemberlakuan social distancing sebagai salah satu cara pencegahan COVID-19. Sehingga dengan adanya media sosial/internet pemerintah tetap bisa memberikan informasi dan edukasi tentang COVID-19 yang dapat diakses oleh masyarakat umum secara cepat, update, dan terpercaya (Grishela dkk., 2020). Pemerintah memberikan edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat terkait dengan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak minimal 1 meter, dan selalu mencuci tangan menggunakan sabun (Sukesih dkk., 2020).
4.4 Tingkat Pengetahuan Responden Tentang Penanganan dan Pencegahan COVID-19
Salah satu parameter yang diukur pada penelitian ini adalah tingkat pengetahuan responden tentang penanganan dan pencegahan COVID-19.
Terdapat 12 pertanyaan terkait COVID-19 yang harus dijawab responden untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden mengenai penanganan dan pencegahan COVID-19.
4.4.1 Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang Simptom COVID-19
Frekuensi jawaban responden tentang simptom COVID-19 dapat dilihat pada Tabel 4.4:
Tabel 4.4 Frekuensi jawaban simptom
Simptom COVID-19 Jawaban Responden
Jumlah Persentase (%)
Demam 421 91,72
Batuk 381 83,00
Sakit tenggorokan 368 80,17
Sakit otot 116 25,27
Diare 101 22,00
Hidung berair 199 43,35
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa lebih dari 80% tenaga pendidik mengetahui bahwa demam, batuk, dan sakit tenggorokan merupakan simptom/gejala infeksi COVID-19. Sedangkan kurang dari 50% tenaga pendidik yang mengetahui bahwa hidung berair, sakit otot, dan diare merupakan tanda atau gejala infeksi COVID-19. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan Erfani dkk. (2020) terhadap masyarakat Iran dimana sekitar 90%
masyarakat mengetahui bahwa demam dan batuk merupakan salah satu simptom COVID-19 (Erfani dkk., 2020).
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa masih sedikit responden yang mengetahui bahwa diare merupakan salah satu simptom atau gejala dari infeksi COVID-19 yaitu hanya sebesar 22%. Menurut Foladori dkk.
(2020), SARS-CoV-2 tidak hanya dapat mempengaruhi sistem pernapasan, demam, batuk, dispnea atau pneumonia berat dan limfopenia, tetapi juga dapat menyebabkan gejala klinis lain seperti lesu, nyeri otot, sakit kepala, manifestasi neurologis atau gejala gastrointestinal seperti diare (Foladori dkk., 2020).
4.4.2 Frekuensi Tanggapan Responden Pada Pertanyaan Pengetahuan Tentang COVID-19
Frekuensi tanggapan responden pada pertanyaan tentang COVID-19 dapat dilihat pada Tabel 4.5:
Tabel 4.5 Frekuensi tanggapan responden pada pertanyaan pengetahuan tentang penanganan dan pencegahan COVID-19
Pertanyaan Pengetahuan
infeksi yang disebabkan oleh virus
Tabel 4.5 Lanjutan. Frekuensi tanggapan responden pada pertanyaan tentang penanganan dan pencegahan COVID-19
Pertanyaan Pengetahuan Periode inkubasi dari COVID-19
adalah 2-14 hari
COVID-19 telah ditemukan dan tersedia Swab hidung atau tenggorokan
merupakan cara yang paling akurat untuk pemeriksaan Tidak semua orang dengan
COVID-19 akan berada dalam kasus yang berat. Hanya mereka yang berusia lanjut dan
mempunyai penyakit kronis yang akan mengalami kasus COVID-19 yang berat.
Orang dengan COVID-19 tidak dapat menularkan virus kepada orang lain ketika tidak
mengalami gejala. infeksi oleh virus COVID-19
439 Anak-anak dan remaja tidak
perlu mengambil tindakan Untuk mencegah infeksi oleh
COVID-19, individu harus Isolasi dan perawatan orang
yang terinfeksi virus COVID-19 adalah cara yang efektif untuk mengurangi penyebaran virus
Keterangan: Jumlah = Jumlah jawaban responden pada pertanyaan pengetahuan tentang penanganan dan pencegahan COVID-19; % = Persentase jawaban responden pada pertanyaan pengetahuan tentang penanganan dan pencegahan COVID-19
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa lebih dari 75% tenaga pendidik mengetahui bahwa COVID-19 merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus dan dapat menyebabkan kematian (fatal) dengan periode inkubasi virus selama 2-14 hari sehingga gejala infeksi COVID-19 akan muncul 2-14 hari setelah virus pertama masuk ke dalam tubuh (Sukur dkk., 2020)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 67,1% tenaga pendidik mengetahui bahwa vaksinasi COVID-19 telah ditemukan dan tersedia. Badan POM telah memberikan persetujuan penggunaan dalam kondisi emergensi (EUA) untuk vaksin COVID-19 yang pertama kali kepada vaksin coronavac produksi Sinovac Biotech yang bekerja sama dengan PT. Bio Farma. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, proses vaksinasi di Indonesia sudah dilaksanakan mulai dari tanggal 13 Januari 2020 hingga sekarang. Proses vaksinasi yang dilakukan di Indonesia terdiri dari IV tahap, namun yang dilakukan sekarang masih pada tahap I dan II. Tahap I diberikan kepada tenaga kesehatan dan tahap II diberikan kepada petugas pelayanan publik dan kelompok usia lanjut (≥ 60 tahun) (Kemenkes RI, 2021).
Berdasarkan hasil penelitian ini, sebesar 82,6% tenaga pendidik mengetahui bahwa swab hidung atau tenggorokan merupakan cara untuk mendeteksi terjadinya infeksi COVID-19. Sebesar 73,6% tenaga pendidik mengetahui tentang penderita yang berisiko mengalami kasus COVID-19 yang berat yaitu bagi penderita yang berusia lanjut dan memiliki penyakit penyerta.
lansia dan individu yang memiliki penyakit kronis mendasar seperti hipertensi, penyakit paru obstruktif kronis, diabetes, dan penyakit kardiovaskular (Sari, 2020).
Berdasarkan hasil penelitian ini, lebih dari 65% tenaga pendidik mengetahui cara penularan COVID-19 dengan memberikan jawaban yang benar pada 2 pertanyaan mengenai penularan COVID-19. Namun, sekitar 34,7% belum memahami tentang penularan COVID-19 dari orang tanpa gejala (OTG) yaitu dengan menjawab benar (19,4%) dan tidak tahu (15,3%) pada pertanyaan nomor 7 (unfavorable). Dalam faktanya, orang tanpa gejala (OTG) memiliki kecenderungan dapat menularkan virus SARS-CoV-2 sebanding dengan orang yang menunjukkan berbagai gejala (Yanti dkk., 2020).
Berdasarkan hasil penelitian ini, lebih dari 85% tenaga pendidik mengetahui tentang cara mencegah penularan COVID-19 dengan memberikan jawaban yang benar pada 4 pertanyaan mengenai cara pencegahan COVID-19.
Tindakan awal dalam mencegah transmisi COVID-19 yaitu dengan menerapkan protokol kesehatan yang memuat perlindungan diri seperti menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan menggunakan sabun atau menggunakan hand sanitizer, menggunakan masker, dan menjaga jarak (minimal 1 meter) terutama dari orang yang mengalami gejala gangguan pernapasan (Kemenkes RI, 2020).
4.4.3 Frekuensi Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap Penanganan dan Pencegahan COVID-19
Berdasarkan tanggapan responden pada pertanyaan pengetahuan mengenai COVID-19 pada Tabel 4.5 maka tingkat pengetahuan responden dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu baik, cukup, dan kurang. Gambaran
tingkat pengetahuan responden tentang penanganan dan pencegahan COVID-19 dapat dilihat pada Tabel 4.6:
Tabel 4.6 Frekuensi tingkat pengetahuan responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa responden memiliki pengetahuan dalam kategori baik sebanyak 426 responden (92,8%). Responden yang memiliki pengetahuan dalam kategori cukup sebanyak 31 responden (6,8%) dan dalam kategori kurang sebanyak 2 responden (0,4%). Berdasarkan nilai rata-rata skor total pengetahuan, mayoritas tenaga pendidik memperoleh skor yang berada dalam kategori baik yaitu sebesar 10,19. Maka dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas tenaga pendidik di Kabupaten Kampar Provinsi Riau memiliki pengetahuan yang baik tentang penanganan dan pencegahan COVID-19.
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu (Thamaria, 2016). Dengan pengetahuan yang baik terhadap suatu hal, seseorang akan memiliki kemampuan untuk menentukan dan mengambil keputusan bagaimana ia dapat menghadapi hal tersebut. Pengetahuan yang baik dapat didukung oleh penerimaan informasi yang beredar tentang COVID-19 (Purnamasari dan Anisa, 2020). Situasi pandemi dan berita yang banyak beredar mengenai COVID-19 membuat masyarakat secara aktif mempelajari mengenai penyakit ini (COVID-19) dari berbagai media informasi dan situs resmi pemerintah (Zhong dkk., 2020).
Menurut peneliti, pengetahuan tenaga pendidik yang baik mengenai cara mencegah transmisi COVID-19 sangat berguna untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 khususnya di lingkungan sekolah. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Moudy dan Rizma (2020) tentang pengetahuan terkait usaha pencegahan COVID-19 di Indonesia, dimana responden memiliki pengetahuan yang baik tentang COVID-19 (76,9%).
4.4.4 Hubungan Karakteristik Responden Dengan Tingkat Pengetahuan Responden Tentang Penanganan dan Pencegahan COVID-19
Untuk mengetahui hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan responden digunakan analisis bivariat yaitu menggunakan uji Mann-Whitney U, dengan tujuan untuk membandingkan dua mean populasi yang berasal dari populasi yang sama. Untuk mengetahui hubungan antara tingkatan tenaga pendidik dengan tingkat pengetahuan responden digunakan analisis bivariat yaitu menggunakan uji Kruskal-Wallis, dengan tujuan untuk membandingkan tiga atau lebih kelompok data (Khairunnisa dkk., 2016).
Apabila nilai signifikansi atau probabilitas yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan, sebaliknya apabila nilai signifikansi atau probabilitas yang diperoleh lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (Khairunnisa dkk., 2016).
Hubungan antara karakteristik responden dengan tingkat pengetahuan responden tentang penanganan dan pencegahan COVID-19 dapat dilihat pada Tabel 4.7:
Tabel 4.7 Hubungan antara karakteristik responden dengan tingkat pengetahuan
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa hasil analisis statistik hubungan antara usia dengan tingkat pengetahuan tenaga pendidik diperoleh nilai signifikansi (p value) 0,197 (p>0,05). Hal ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata pengetahuan tenaga pendidik yang berusia 20-40 tahun (dewasa awal) dengan tenaga pendidik yang berusia 41-60 tahun (dewasa madya).
Tidak adanya hubungan antara usia dengan pengetahuan responden dapat disebabkan karena umur tidak menjadi faktor penghambat bagi tenaga pendidik untuk memperoleh informasi mengenai pencegahan COVID-19, karena tenaga pendidik dari semua kategori umur memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh edukasi ataupun informasi yang sama mengenai COVID-19. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari dkk.
(2020), bahwa tidak terdapat hubungan antara umur dengan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan COVID-19 (p=0,368) (Wulandari dkk., 2020).
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa hasil analisis statistik hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan tenaga pendidik diperoleh nilai
signifikansi (p value) 0,003 (p<0,05). Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata tenaga pendidik yang berjenis kelamin laki-laki dan tenaga pendidik yang berjenis kelamin perempuan. Berdasarkan nilai rata-rata dari skor total pengetahuan responden, dapat dilihat bahwa tenaga pendidik yang berjenis kelamin perempuan memiliki nilai rata-rata (10,37) yang lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata tenaga pendidik yang berjenis kelamin laki-laki (9,69).
Tingginya tingkat pengetahuan tenaga pendidik yang berjenis kelamin perempuan dibandingkan tenaga pendidik berjenis kelamin laki-laki dapat disebabkan karena sifat perempuan yang lebih ingin mencari tahu daripada laki-laki. Serta perempuan memiliki lebih banyak waktu untuk membaca dan berdiskusi dengan lingkungannnya terkait pencegahan COVID-19 (Wulandari dkk., 2020). Hasil penelitian ini dapat dihubungkan dengan penggunaan media sosial atau internet sebagai media utama sumber informasi tentang COVID-19.
Menurut Badan Pusat Statistik (2018), laki-laki lebih banyak menggunakan internet untuk memperoleh informasi seperti membaca berita, olahraga, dan cuaca sedangkan perempuan lebih banyak menggunakan internet untuk email dan memperoleh informasi mengenai kesehatan dan agama. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Grishela dkk. (2020) yang menunjukkan bahwa subjek yang berjenis kelamin perempuan memiliki pengetahuan yang lebih baik dibanding subjek yang berjenis kelamin laki-laki.
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa hasil analisis statistik hubungan antara tingkatan tenaga pendidik dengan tingkat pengetahuan tenaga pendidik diperoleh nilai signifikansi (p value) 0,268 (p>0,05). Hal ini berarti bahwa tidak
terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata tenaga pendidik yang mengajar di SD/MI dengan tenaga pendidik yang mengajar di SMP/MTS dan SMA/SMK.
Tidak adanya hubungan antara tingkatan tenaga pendidik dengan tingkat pengetahuan tenaga pendidik dapat terjadi karena seluruh masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh edukasi dan promosi kesehatan dari pemerintah mengenai pencegahan COVID-19 baik itu dari media sosial, televisi, poster, pamflet, dan berbagai sumber informasi lainnya. Oleh karena itu, guru SD/MI, guru SMP/MTS, dan guru SMA/SMK dapat memperoleh informasi yang sama mengenai COVID-19.
4.5 Sikap Responden Terhadap Penanganan dan Pencegahan COVID-19 Salah satu parameter yang diukur pada penelitian ini adalah sikap responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19. Terdapat 8 pernyataan yang digunakan untuk mengukur sikap/respon yang ditunjukkan responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19.
4.5.1 Frekuensi Tanggapan Responden Pada Pernyataan Sikap Terhadap Penanganan dan Pencegahan COVID-19
Frekuensi tanggapan responden pada pernyataan sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 dapat dilihat pada Tabel 4.8:
Tabel 4.8 Frekuensi tanggapan responden pada pernyataan sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19
Pernyataan Sikap
Tabel 4.8 Lanjutan. Frekuensi tanggapan responden pada pernyataan sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19
Pernyataan Sikap Posisi duduk yang diberi
jarak perlu diterapkan untuk kegiatan belajar diantara siswa dan guru
27 untuk para siswa dan tenaga pendidik Keterangan: Jumlah = Jumlah jawaban responden pada pernyataan sikap terhadap
penanganan dan pencegahan COVID-19; % = Persentase jawaban responden pada pernyataan sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19; STS = Sangat tidak setuju; TS = Tidak setuju; S = Setuju; SS = Sangat setuju.
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa lebih dari 80% tenaga pendidik (guru) setuju bahwa menggunakan masker dan mencuci tangan dapat mencegah infeksi COVID-19 yaitu dengan menjawab setuju dan sangat setuju pada 2 pernyataan mengenai pelaksanaan protokol kesehatan. Menurut Yanti dkk. (2020), penggunaan masker sangatlah penting dalam rangka melawan pandemi
COVID-19. Masker memiliki kemampuan untuk melindungi pemakainya dari adanya partikel infeksius, ataupun berguna sebagai source control yaitu membatasi penyebaran droplet yang dikeluarkan oleh pemakainya ke udara. Menurut Budi dan Iga (2020), mencuci tangan merupakan wujud tindakan pencegahan dini infeksi COVID-19. Karena selain sederhana, sikap dan perilaku mencuci tangan yang dilakukan dengan benar dinilai sangat efisien dalam mencegah penyebaran COVID-19 (Budi dan Iga, 2020).
Berdasarkan hasil penelitian ini, lebih dari 80% tenaga pendidik setuju dengan pelaksanaan protokol kesehatan jika kegiatan belajar mengajar dilakukan di sekolah yaitu dengan menjawab setuju dan sangat setuju pada 6 pernyataan mengenai pelaksanaan protokol kesehatan dalam mencegah transmisi COVID-19 di lingkungan sekolah. Pelaksanaan protokol kesehatan, kebijakan menjaga jarak dan pembagian jadwal masuk siswa bertujuan untuk mengurangi kerumunan dan interaksi fisik antar peserta didik sehingga diharapkan dapat mengurangi risiko penyebaran COVID-19 di sekolah. Hal ini sesuai dengan panduan pembelajaran pada masa pandemi COVID-19 yang diatur oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
4.5.2 Frekuensi Sikap Responden Terhadap Penanganan dan Pencegahan COVID-19
Berdasarkan tanggapan responden pada pernyataan sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 pada Tabel 4.7 maka sikap responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu baik, cukup, dan kurang. Gambaran frekuensi sikap responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 dapat dilihat pada
Tabel 4.9 Frekuensi sikap responden terhadap penanganan dan pencegahan
Berdasarkan Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap dalam kategori baik sebanyak 413 responden (90%). Sedangkan responden yang memiliki sikap dalam kategori cukup sebanyak 19 responden (4,1%) dan responden yang memiliki sikap dalam kategori kurang sebanyak 27 responden (5,9%). Berdasarkan nilai rata-rata skor sikap tenaga pendidik, mayoritas tenaga pendidik memperoleh skor dalam kategori baik yaitu 33,48. Maka dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas tenaga pendidik di Kabupaten Kampar Provinsi menunjukkan sikap yang baik terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19.
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. Sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 merupakan respon atau reaksi yang masih tertutup sehingga belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Sikap terdiri dari beberapa tingkatan antara lain: menerima (receiving), merespon (responding), menghargai (valuing), dan bertanggung jawab (responsible) (Thamaria, 2016).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Purnamasari dan Anisa (2020) mengenai tingkat pengetahuan dan perilaku masyarakat Kabupaten Wonosobo tentang COVID-19, dimana 59% responden menunjukkan sikap yang positif (Purnamasari dan Anisa, 2020).
4.5.3 Hubungan Karakteristik Responden Dengan Sikap Responden Terhadap Penanganan dan Pencegahan COVID-19
Untuk mengetahui hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan sikap responden digunakan analisis bivariat yaitu menggunakan uji Mann-Whitney U, dengan tujuan untuk membandingkan dua mean populasi yang berasal dari populasi yang sama. Untuk mengetahui hubungan antara tingkatan tenaga pendidik dengan sikap responden digunakan analisis bivariat yaitu menggunakan uji Kruskal-Wallis, dengan tujuan untuk membandingkan tiga atau lebih kelompok data (Khairunnisa dkk., 2016).
Apabila nilai signifikansi atau probabilitas yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan, sebaliknya apabila nilai signifikansi atau probabilitas yang diperoleh lebih besar
Apabila nilai signifikansi atau probabilitas yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan, sebaliknya apabila nilai signifikansi atau probabilitas yang diperoleh lebih besar