BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Sikap Responden Terhadap Penanganan dan Pencegahan COVID-19
responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19. Terdapat 8 pernyataan yang digunakan untuk mengukur sikap/respon yang ditunjukkan responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19.
4.5.1 Frekuensi Tanggapan Responden Pada Pernyataan Sikap Terhadap Penanganan dan Pencegahan COVID-19
Frekuensi tanggapan responden pada pernyataan sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 dapat dilihat pada Tabel 4.8:
Tabel 4.8 Frekuensi tanggapan responden pada pernyataan sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19
Pernyataan Sikap
Tabel 4.8 Lanjutan. Frekuensi tanggapan responden pada pernyataan sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19
Pernyataan Sikap Posisi duduk yang diberi
jarak perlu diterapkan untuk kegiatan belajar diantara siswa dan guru
27 untuk para siswa dan tenaga pendidik Keterangan: Jumlah = Jumlah jawaban responden pada pernyataan sikap terhadap
penanganan dan pencegahan COVID-19; % = Persentase jawaban responden pada pernyataan sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19; STS = Sangat tidak setuju; TS = Tidak setuju; S = Setuju; SS = Sangat setuju.
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa lebih dari 80% tenaga pendidik (guru) setuju bahwa menggunakan masker dan mencuci tangan dapat mencegah infeksi COVID-19 yaitu dengan menjawab setuju dan sangat setuju pada 2 pernyataan mengenai pelaksanaan protokol kesehatan. Menurut Yanti dkk. (2020), penggunaan masker sangatlah penting dalam rangka melawan pandemi
COVID-19. Masker memiliki kemampuan untuk melindungi pemakainya dari adanya partikel infeksius, ataupun berguna sebagai source control yaitu membatasi penyebaran droplet yang dikeluarkan oleh pemakainya ke udara. Menurut Budi dan Iga (2020), mencuci tangan merupakan wujud tindakan pencegahan dini infeksi COVID-19. Karena selain sederhana, sikap dan perilaku mencuci tangan yang dilakukan dengan benar dinilai sangat efisien dalam mencegah penyebaran COVID-19 (Budi dan Iga, 2020).
Berdasarkan hasil penelitian ini, lebih dari 80% tenaga pendidik setuju dengan pelaksanaan protokol kesehatan jika kegiatan belajar mengajar dilakukan di sekolah yaitu dengan menjawab setuju dan sangat setuju pada 6 pernyataan mengenai pelaksanaan protokol kesehatan dalam mencegah transmisi COVID-19 di lingkungan sekolah. Pelaksanaan protokol kesehatan, kebijakan menjaga jarak dan pembagian jadwal masuk siswa bertujuan untuk mengurangi kerumunan dan interaksi fisik antar peserta didik sehingga diharapkan dapat mengurangi risiko penyebaran COVID-19 di sekolah. Hal ini sesuai dengan panduan pembelajaran pada masa pandemi COVID-19 yang diatur oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
4.5.2 Frekuensi Sikap Responden Terhadap Penanganan dan Pencegahan COVID-19
Berdasarkan tanggapan responden pada pernyataan sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 pada Tabel 4.7 maka sikap responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu baik, cukup, dan kurang. Gambaran frekuensi sikap responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 dapat dilihat pada
Tabel 4.9 Frekuensi sikap responden terhadap penanganan dan pencegahan
Berdasarkan Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap dalam kategori baik sebanyak 413 responden (90%). Sedangkan responden yang memiliki sikap dalam kategori cukup sebanyak 19 responden (4,1%) dan responden yang memiliki sikap dalam kategori kurang sebanyak 27 responden (5,9%). Berdasarkan nilai rata-rata skor sikap tenaga pendidik, mayoritas tenaga pendidik memperoleh skor dalam kategori baik yaitu 33,48. Maka dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas tenaga pendidik di Kabupaten Kampar Provinsi menunjukkan sikap yang baik terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19.
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. Sikap terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 merupakan respon atau reaksi yang masih tertutup sehingga belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Sikap terdiri dari beberapa tingkatan antara lain: menerima (receiving), merespon (responding), menghargai (valuing), dan bertanggung jawab (responsible) (Thamaria, 2016).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Purnamasari dan Anisa (2020) mengenai tingkat pengetahuan dan perilaku masyarakat Kabupaten Wonosobo tentang COVID-19, dimana 59% responden menunjukkan sikap yang positif (Purnamasari dan Anisa, 2020).
4.5.3 Hubungan Karakteristik Responden Dengan Sikap Responden Terhadap Penanganan dan Pencegahan COVID-19
Untuk mengetahui hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan sikap responden digunakan analisis bivariat yaitu menggunakan uji Mann-Whitney U, dengan tujuan untuk membandingkan dua mean populasi yang berasal dari populasi yang sama. Untuk mengetahui hubungan antara tingkatan tenaga pendidik dengan sikap responden digunakan analisis bivariat yaitu menggunakan uji Kruskal-Wallis, dengan tujuan untuk membandingkan tiga atau lebih kelompok data (Khairunnisa dkk., 2016).
Apabila nilai signifikansi atau probabilitas yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan, sebaliknya apabila nilai signifikansi atau probabilitas yang diperoleh lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (Khairunnisa dkk., 2016).
Hubungan antara karakteristik responden dengan sikap responden terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 dapat dilihat pada Tabel 4.10:
Tabel 4.10 Hubungan antara karakteristik responden dengan sikap responden
Variabel Jumlah (N) Mean Signifikansi
Berdasarkan Tabel 4.10 dapat dilihat bahwa hasil analisis statistik hubungan antara usia dengan sikap tenaga pendidik diperoleh nilai signifikansi (p value) 0,355 (p>0,05). Hal ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata sikap tenaga pendidik yang berusia 20-40 tahun (dewasa awal) dengan tenaga pendidik yang berusia 41-60 tahun (dewasa madya).
Berdasarkan Tabel 4.10 dapat dilihat bahwa hasil analisis statistik hubungan antara jenis kelamin dengan sikap tenaga pendidik diperoleh nilai signifikansi (p value) 0,079 (p>0,05). Hal ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata sikap tenaga pendidik yang berjenis kelamin laki-laki dengan tenaga pendidik yang berjenis kelamin perempuan.
Berdasarkan Tabel 4.10 dapat dilihat bahwa hasil analisis statistik hubungan antara tingkatan tenaga pendidik dengan sikap tenaga pendidik diperoleh nilai signifikansi (p value) 0,429 (p>0,05). Hal ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata sikap tenaga pendidik yang mengajar di SD/MI dengan tenaga pendidik yang mengajar di SMP/MTS dan SMA/SMK.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diketahui bahwa usia, jenis kelamin, dan tingkatan tenaga pendidik tidak mempengaruhi pembentukan sikap tenaga pendidik. Hal ini dapat terjadi karena sikap terdiri dari komponen kognitif yang berupa persepsi dan keyakinan. Pertimbangan akan segala dampak positif dan negatif turut menentukan bagaimana sikap seseorang. Seseorang yang yakin bahwa tindakan yang akan dilakukan menimbulkan dampak yang positif pada dirinya, maka ia akan cenderung bersikap menerima atau melakukan tindakan
tersebut. Sebaliknya seseorang yang yakin bahwa tindakan yang akan dilakukan menimbulkan dampak yang negatif terhadap dirinya, maka ia akan bersikap menolak tindakan tersebut (Zuchdi, 1995).
Hal ini berarti bahwa tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan tingkatan tenaga pendidik baik itu guru SD/MI, guru SMP/MTS, dan guru SMA/SMK sama sama meyakini bahwa tindakan pencegahan penularan COVID-19 dapat memberikan dampak yang positif terhadap dirinya, sehingga tenaga pendidik cenderung bersikap menerima untuk melakukan tindakan pencegahan COVID-19 yaitu dengan tetap mematuhi pelaksanaan protokol kesehatan. Hal ini terbukti dengan 90% tenaga pendidik menunjukkan sikap yang baik terhadap penanganan dan pencegahan COVID-19 dengan perolehan nilai rata-rata yang berada di dalam kategori baik yaitu 33,48.
4.6 Perilaku Responden Terhadap Penanganan dan Pencegahan COVID-19