BAB I PENDAHULUAN
1.6 Metodologi Penelitian
1.6.3 Prosedur Penelitian
1.5.3 Politik
B. N. Marbun (2007 : 396) dalam buku Kamus Politik menjelaskan bahwa politik adalah cara atau perbuatan yang berkaitan dengan perjuangan kolektif dengan segenap kebijakannya (policy) untuk mencapai tujuan-tujuan kolektif tertentu, misalnya melakukan manuver politik atau koalisi antar partai.
1.6 Metodologi Penelitian 1.6.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Penelitian deskripif adalah penelitian yang mendeskripsikan objek penelitian berdasarkan fakta yang ada (Sudaryanto, 1988 : 62). Dalam skripsi ini akan dipaparkan mengenai istilah-istilah politik dalam surat kabar harian Kompas edisi bulan Februari dan Maret 2007.
1.6.2 Objek Penelitian
Objek penelitian yang akan dikaji dalam skripsi adalah istilah-istilah yang digunakan dalam dunia politik pada surat kabar harian Kompas edisi bulan Februari dan Maret 2007.
1.6.3 Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan strategis, yaitu pertama tahap pengumpulan data. Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data berupa istilah-istilah politik dalam surat kabar harian Kompas edisi bulan Februari dan Maret 2007. Setelah data terkumpul, dilanjutkan tahap kedua, yaitu analisis data. Setelah data-data dianalisis, kemudian dilanjutkan tahap ketiga, yaitu tahap penyajian hasil analisis data.
1.6.3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini berupa istilah-istilah politik dalam bentuk kalimat. Data itu diperoleh dari surat kabar harian Kompas edisi bulan Februari dan Maret 2007. Untuk mengumpulkan data digunakan metode simak. Metode simak adalah metode yang dilakukan dengan menyimak, yaitu menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1988 : 57). Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik nonpartisipasi atau teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dengan mengamati dan mencatat data istilah-istilah politik yang berupa satuan-satuan lingual dalam surat kabar harian Kompas edisi bulan Februari dan Maret 2007. Dalam teknik simak bebas libat cakap (SBLC) ini si penulis tidak terlibat dalam dialog, konversasi, atau imbal wicara; jadi, tidak ikut serta dalam proses pembicaraan atau pembuatan bahasa, tetapi penulis hanya mengamati dan menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993 : 134).
1.6.3.2 Metode dan Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode agih dan metode padan. Metode agih adalah metode analisa data yang alat penentunya terdapat dalam bahasa itu sendiri (Sudaryanto, 1993 : 15). Teknik dasar yang digunakan dalam metode agih ini adalah teknik bagi unsur langsung. Teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik perluas dan teknik lesap. Penggunaan teknik perluas ini dilaksanakan dengan memperluas satuan lingual yang bersangkutan ke kanan atau ke kiri, dan perluasan itu menggunakan “afiks atau imbuhan serapan” tertentu (Sudaryanto, 1993 : 37). Contoh bagaimana teknik perluas diterapkan dapat dilihat dalam analisis berikut:
18
(21) Namun akan lebih baik jika AS tidak menangani Iran dengan cara kekerasan tetapi melalui cara diplomasi. (Kompas, Selasa, 13 Februari 2007 hal 9)
(22) Sementara Ketua Divisi Pemantauan Impunitas dan Reformasi Institusi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar mengusulkan agar DPR mengajukan interpelasi kepada presiden atas penolakan Jaksa Agung menyidik para pelaku pelanggaran HAM. (Kompas, Senin, 12 Februari 2007 hal 4)
(23) Menurut Jusuf Kalla Fraksi Partai Golkar juga harus mengetahui pasal-pasal apa yang diusulkan oleh pihak-pihak yang mengusulkan untuk
mengamandemen UUD 1945. (Kompas, Sabtu, 24 Februari 2007 hal 2)
(24) Pertanyaannya kini, apakah DPR akan menentukan perlu tidaknya meratifikasi kedua perjanjian itu atau dilakukan secara tandem (bersamaan). (Kompas, Rabu, 21 Februari 2007 hal 6)
Pada contoh (21) terdapat satuan lingual kata dasar diplomasi. Kata diplomasi termasuk kata asing yang sudah diindonesiakan artinya kata diplomasi ini sudah mewarga dalam bahasa Indonesia dan bisa menjadi bentuk kata dasar dalam bahasa Indonesia. Dengan menggunakan teknik perluas dapat dijelaskan bahwa bentuk dasar kata diplomasi bisa diperluas satuan lingualnya dengan menggunakan atau melekatkan unsur afiks bahasa Indonesia (jenis prefiks) ber- menjadi kata verba berdiplomasi. Kata
berdiplomasi artinya melakukan suatu diplomasi. Pada contoh (22) terdapat satuan lingual kata dasar interpelasi. Kata interpelasi termasuk kata asing sudah diindonesiakan artinya kata interpelasi ini sudah mewarga dalam bahasa Indonesia sehingga bisa menjadi bentuk kata dasar dalam bahasa Indonesia Dengan menggunakan teknik perluas dapat
dijelaskan bahwa bentuk dasar kata interpelasi bisa diperluas satuan lingualnya dengan menggunakan atau melekatkan unsur afiks bahasa Indonesia (jenis prefiks)
me(N)-sehingga menjadi kata verba menginterpelasi. Kata menginterpelasi artinya melakukan suatu interpelasi sesuai dengan aturan.
Pada contoh (23) terdapat satuan lingual kata berafiks mengamandemen. Kata berafiks mengamandemen merupakan gabungan antara afiks (jenis prefiks) me(N)- +
amandemen yang menunjukkan bahwa kata amandemen yang berasal dari bahasa Perancis dapat disebut sebagai bentuk kata dasar dan sudah mewarga dalam bahasa Indonesia karena dapat bergabung dengan afiks (jenis prefiks) me(N)-. Istilah
mengamandemen ini masuk dalam ranah politik karena berkaitan dengan proses
perubahan atas rancangan undang-undang yang diajukan oleh pemerintah atau presiden untuk disahkan badan legislatif. Dalam domain politik, amandemen mengarah pada usul perubahan dalam suatu rancangan undang-undang oleh pemerintah. Di Indonesia pokok usul perubahan dapat dikemukakan pada pembicaraan tingkat ke-2. Perubahan undang-undang tersebut mencakup tentang perubahan kalimat, penyisipan kata, pencabutan pasal dan penambahan pasal.
Pada contoh (24) terdapat satuan lingual berupa kata berafiks meratifikasi. Kata berafiks meratifikasi merupakan gabungan antara afiks (jenis prefiks) me(N)- + ratifikasi
yang menunjukkan bahwa kata ratifikasi yang berasal dari bahasa Latin dapat disebut sebagai bentuk kata dasar dan sudah mewarga dalam bahasa Indonesia karena dapat bergabung dengan afiks (jenis prefiks) me(N)-. Istilah meratifikasi ini masuk dalam ranah politik karena berkaitan dengan kebijakan seorang presiden dalam mengesahkan sebuah rancangan atau undang-undang. Dalam domain politik, istilah kata meratifikasi lebih
20
mengarah pada suatu tindakan resmi presiden untuk mempengaruhi atau menyetujui rancangan perjanjian atau fakta yang diajukan oleh senat (majelis tinggi/menteri), atau juga sebaliknya di mana rancangan perjanjian itu diajukan oleh presiden untuk mendapatkan persetujuan senat. Jika kedua belah pihak dalam hal ini presiden dan senat telah memberikan tanda tangan persetujuan maka secara hukum perjanjian tersebut dapat diterapkan.
Penggunaan teknik lesap ini dilaksanakan dengan melesapkan (menghilangkan, menghapuskan) unsur tertentu satuan lingual yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993 : 37). Contoh bagaimana teknik perluas diterapkan dapat dilihat dalam analisis berikut:
(23) Dalam hal ini, komisi-komisi independen negara sebagai buah dari perubahan sistem ketatanegaraan pascareformasi ternyata kerap berbenturan kiprahnya, baik di antara mereka maupun dengan lembaga negara yang sudah terlebih dahulu mapan. (Kompas, Jumat, 19 Februari 2007 hal 5)
(24) Selain masalah pembagian kekuasaan antara sipil dan militer di negara itu, disampaikan juga mengenai rencana memberikan otonomi penuh kepada tujuh wilayah sehingga Myanmar pun diproyeksikan akan memiliki
parlemen-parlemen daerah. (Kompas, Jumat, 16 Februari 2007 hal 9)
(25) Jika sebelumnya dikenal sebagai lembaga stempel kebijakan pemerintah, saat ini DPR berubah menjadi lembaga yang sangat kuat. (Kompas, Selasa, 20 Februari 2007 hal 5)
Pada contoh (23) terdapat satuan lingual kata ulang komisi-komisi yang diulang seluruh bentuk dasarnya maka disebut kata ulangan atas bentuk dasar yang berupa kata dasar. Dengan menggunakan teknik lesap akan dapat diketahui kadar keintian unsur kata
ulang komisi-komisi. Untuk membuktikannya, salah satu kata ulang komisi-komisi akan dihilangkan dan dapat diuji dengan teknik lesap.
(23a) Dalam hal ini, komisi independen negara sebagai buah dari perubahan sistem ketatanegaraan pascareformasi ternyata kerap berbenturan kiprahnya, baik di antara mereka maupun dengan lembaga negara yang sudah terlebih dahulu mapan.
Pada contoh (23a) tampak bahwa dengan dihilangkannya salah satu unsur bentuk kata komisi pada kata ulang komisi-komisi menunjukkan bahwa kalimat (23a) tersebut tetap merupakan bentuk kalimat yang gramatikal. Dengan demikian dapat disimpulkan walaupun salah satu unsur kata ulang komisi-komisi dihilangkan dengan menggunakan teknik lesap, unsur inti kata komisi yang tidak dilesapkan tetap menjadikan kalimat tersebut menjadi satuan bentuk yang gramatikal tanpa merusak tipe struktur kalimatnya.
Pada contoh (24) terdapat satuan lingual kata ulang parlemen-parlemen yang diulang seluruh bentuk dasarnya maka disebut kata ulangan atas bentuk dasar yang berupa kata dasar. Dengan menggunakan teknik lesap akan dapat diketahui kadar keintian unsur kata ulang parlemen-parlemen. Untuk membuktikannya, salah satu kata ulang parlemen-parlemen akan dihilangkan dan dapat diuji dengan teknik lesap.
(24a) Selain masalah pembagian kekuasaan antara sipil dan militer di negara itu, disampaikan juga mengenai rencana memberikan otonomi penuh kepada tujuh wilayah sehingga Myanmar pun diproyeksikan akan memiliki parlemen daerah. Pada contoh (24a) tampak bahwa dengan dihilangkannya salah satu unsur bentuk kata parlemen pada kata ulang parlemen-parlemen menunjukkan bahwa kalimat (24a) tersebut tetap merupakan bentuk kalimat yang gramatikal. Dengan demikian dapat
22
disimpulkan walaupun salah satu unsur kata ulang parlemen-parlemen dihilangkan dengan menggunakan teknik lesap, unsur inti kata parlemen yang tidak dilesapkan tetap menjadikan kalimat tersebut menjadi satuan bentuk yang gramatikal tanpa merusak tipe struktur kalimatnya.
Pada contoh (25) terdapat frase lembaga stempel yang merupakan frase endosentrik yang atributif. Dengan menggunakan teknik lesap akan dapat diketahui bagaimana kadar keintian frase lembaga stempel dengan mencoba menghilangkan unsur atributnya.
(25a) Jika sebelumnya dikenal sebagai lembaga kebijakan pemerintah, saat ini DPR berubah menjadi lembaga yang sangat kuat.
Pada contoh (25a) tampak bahwa dengan dihilangkannya salah satu unsur atribut kata stempel pada frase lembaga stempel menunjukkan bahwa kalimat (25a) tersebut tetap merupakan satuan bentuk kalimat yang gramatikal tanpa merusak struktur kalimatnya. Dari hasil ini unsur kata lembaga pada kalimat (24a) merupakan unsur pusat (UP).
Metode padan adalah metode penelitian yang menggunakan alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993 : 13). Untuk menerapkan metode padan digunakan salah satu sub-jenis metode padan yaitu metode padan translasional dengan alat penentunya adalah alat penentunya adalah
langue lain. Kegunaan metode translasional adalah untuk membuktikan bahwa ada kata-kata yang berasal atau dipinjam dari bahasa lain (Latin, Yunani, Belanda, Perancis, dan Inggris).
Contoh bagaimana metode padan translasional diterapkan dapat dilihat dalam analisis berikut:
(26) Suryadharma, yang masuk kabinet Indonesia Bersatu atas usulan PPP ini, bahkan berani menantang kemungkinan adanya koalisi kandidat ketua umum yang lain. (Kompas, 1 Februari 2007)
(27) Menurut Akbar, saat ini rekrutmen politisi memang masih tertutup oligarki elite partai. (Kompas, Senin, 12 Februari 2007)
(28) Ratifikasi tersebut merupakan upaya untuk mengangkat negara itu menuju standar pemerintahan internasional. (Kompas, Rabu, 7 Februari 2007 hal 11) Pada contoh kalimat (26) terdapat istilah politik kata koalisi yang berasal dari bahasa Latin. Asal kata tersebut dalam bahasa Latin ‘coalescere’ (Encarta Webster’s College Dictionary (EWCD), 2005 : 273). Dalam Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia mempunyai arti ‘kerja sama antar beberapa partai politik agar terdapat kelebihan suara dalam parlemen sehingga beroleh kesempatan membentuk kabinet’ (KKKSADBI, 2005 : 181). Dalam ranah politik, istilah koalisi diartikan sebagai sistem kerja sama antara beberapa partai politik di Indonesia untuk memperoleh suara mayoritas di parlemen dalam membentuk suatu kabinet atau pemerintah. Biasanya koalisi ini dibentuk antara partai-partai yang memiliki suara yang hampir sama, bukan partai yang memiliki suara mayoritas.
Pada contoh kalimat (27) terdapat istilah politik oligarki yang merupakan peminjaman kata dari bahasa Yunani. Asal kata tersebut dalam bahasa Yunani ‘oligarkhia’ (Encarta Webster’s College Dictionary (EWCD), 2005 : 1011). Menurut
24
istilah oligarki mempunyai arti ‘bentuk pemerintahan di mana kekuasaan berada di tangan beberapa orang; tipe pemerintahan yang dikuasai oleh golongan kecil warga negara’. Dalam ranah politik, istilah oligarki disrtikan sebagai sistem pemerintahan ynag dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan tertentu, yang berusaha untuk mewujudkan kepentingan atau kesejahteraan kelompok sendiri bukan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat.
Pada contoh (28) terdapat istilah politik kata ratifikasi yang merupakan peminjaman kata dari bahasa Latin. Asal kata tersebut dalam bahasa Latin ‘ratus’ (Encarta Webster’s College Dictionary (EWCD), 2005 : 1202). Dalam (KKKSADBI, 2005 : 296) istilah ratifikasi mempunyai arti ‘pengesahan suatu dokumen negara oleh parlemen khususnya pengesahan undang-undang, perjanjian antarnegara, dan persetujuan hukum internasional’ Dalam ranah politik, istilah kata meratifikasi lebih mengarah pada suatu tindakan resmi presiden untuk mempengaruhi atau menyetujui rancangan perjanjian atau fakta yang diajukan oleh senat (majelis tinggi/menteri).
1.6.3.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data
Hasil analisis yang telah dilakukan oleh peneliti disajikan dengan menggunakan metode informal. Metode informal adalah metode penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa, artinya penyajian hasil analisis tidak menggunakan rumus, lambang-lambang atau diagram (Sudaryanto, 1993 : 45).