BAB III METODOLOGI PENELITIAN
H. Prosedur Penelitian
hasil kebudayaan seperti pola perilaku, kepercayaan, dan bahasa yang berkembang dari waktu ke waktu dan dipraktikkan oleh sekelompok berbudaya.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti memilih penelitian dengan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Dalam penelitian ini, peneliti akan memberikan gambaran atau mendeskripsikan hasil penelitian berupa kata-kata, gambar, dan sejenisnya terhadap salah satu hasil kebudayaan di Indonesia yaitu gelang manik-manik khas Dayak Kalimantan.
B. Objek dan Subjek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah unsur-unsur matematika pada gelang manik-manik khas Suku Dayak dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan/atau Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berbasis etnomatematika pada gelang manik-manik khas Suku Dayak. Subjek dalam penelitian ini adalah Ibu Evi Vana sebagai pengrajin manik-manik di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dorit Tunggal yang dikepalai oleh Ibu Yohana Ana asal Kembayan, Sanggau, Kalimantan Barat. Ibu Yohana adalah kepala yang membina beberapa pengrajin asal Kembayan dan sekitarnya. Kerajinan yang dibina oleh Ibu Yohana tidak hanya manik-manik saja, beberapa kerajinan lainnya seperti anyaman akar rotan, seni ukir atau pahat, dan lain sebagainya masuk ke dalam binaan Ibu Yohana. Ibu Yohana sudah bekerja sebagai kepala pengrajin selama satu tahun.
C. Waktu Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan September 2020 sampai April 2021 dengan tahapan kegiatan sebagai berikut.
Tabel 3.01 Waktu pelaksanaan penelitian
Januari Februari Maret April 1 Proposal Penelitian
D. Metode Pengumpulan Data
Berikut adalah metode pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini.
1. Observasi
Menurut Sugiyono (2013), observasi adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat sistematis kejadian-kejadian yang diselidiki. Observasi dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak.
2. Wawancara
Menurut Sugiyono (2013), wawancara adalah metode pengumpulan data yang mengkonstruksikan makna dari suatu informasi yang diperoleh dengan cara tanya jawab secara langsung oleh responden.
Pada penelitian ini wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi
mengenai aktivitas-aktivitas lain dalam gelang manik-manik khas Suku Dayak yang tidak dapat peneliti ketahui dengan hanya melihat gelang manik-manik khas Suku Dayak saja. Contoh aktivitasnya adalah pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak seperti pengukuran waktu pembuatan dan penentuan panjang gelang. Selain itu, melalui wawancara peneliti juga akan menggali informasi mengenai perkembangan dan penggunaan gelang manik-manik khas Suku Dayak saat ini.
3. Dokumen
Menurut Fitrah & Luthfiyah. (2017), dokumen adalah sumber data yang dimanfaatkan oleh peneliti untuk menafsirkan informasi yang disimpan ke dalam bentuk tulisan, gambar, video dan lain sebagainya.
Dokumen utama yang diperlukan oleh peneliti adalah klasifikasi pembelajaran matematika tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dokumen klasifikasi pembelajaran matematika ini membantu peneliti untuk memilih bagian pembelajaran matematika mana yang dapat dijadikan bahan ajar berbasis etnomatematika pada gelang manik-manik Suku Dayak.
E. Instrumen Penelitian
Berdasarkan uraian metode pengumpulan data, maka instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, pedoman wawancara, dan dokumen. Selain itu, karena penelitian ini merupakan penelitian kualitatif,
maka peneliti juga merupakan instrumen penelitian utama. Berikut adalah instrumen yang digunakan peneliti dalam penelitian ini.
1. Peneliti
Menurut Fitrah dan Luthfiyah (2017), instrumen kunci dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri. Penelitian kualitatif menjadikan peneliti sebagai alat pengumpul data utama. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti mengambil peran yang besar dalam penelitian ini.
Peneliti berperan dalam menetapkan rumusan masalah, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, kemudian menafsirkan data yang diperoleh hingga menarik kesimpulan.
2. Lembar Observasi
Lembar observasi digunakan sebagai acuan bagi peneliti untuk mendapatkan informasi mengenai proses pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak. Berdasarkan tujuan peneliti tersebut, maka berikut adalah aspek-aspek yang diamati dalam lembar observasi.
Tabel 3.02 Aspek-aspek dalam lembar observasi
No. Aspek yang diamati Deskripsi Hasil Pengamatan 1 Alat yang digunakan dalam
pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak.
2 Bahan yang digunakan dalam
pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak.
3 Persiapan penentuan motif atau sketsa pada gelang manik-manik khas Suku Dayak.
4 Proses pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak.
5 Proses penyelesaian pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak.
3. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara berisi daftar pertanyaan-pertanyaan yang digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam mengenai perkembangan, kegunaan dan proses pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak. Berdasarkan tujuan peneliti tersebut, maka berikut adalah aspek-aspek dan daftar pertanyaan yang diamati dalam pedoman wawancara.
Tabel 3.03 Aspek-aspek dalam pedoman wawancara
No. Aspek Pertanyaan Jawaban
1 Perkembangan
3 Bagaimana tindakan yang
dilakukan oleh masyarakat manik-manik khas Suku Dayak di zaman sekarang?
Alat apa saja yang digunakan dalam pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak?
6 Bahan apa saja yang digunakan
dalam pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak?
7 Bagaimana persiapan penentuan
motif atau sketsa pada gelang manik-manik khas Suku Dayak?
8 Bagaimana proses pembuatan
gelang manik-manik khas Suku Dayak?
9 Bagaimana proses finishing
pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak?
10 Apakah ada perbedaan anatara
pembuatan gelang manik-manik khas Suku Dayak dengan motif yang berbeda (seperti lama pengerjaan menganyam, menggambar desain motif dan lain sebagainya)?
4. Studi Dokumen
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman kurikulum 2013 yang berisi kompetensi inti dan kompetensi dasar matematika pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain dokumen kurikulum 2013, peneliti juga menggunakan buku paket matematika sekolah kurikulum 2013 pegangan guru dan siswa.
F. Validasi Instrumen
Validasi diperlukan untuk mengukur kelayakan sebuah instrumen yang digunakan dalam sebuah penelitian. Menurut Ary (2010), validasi menjadi alat ukur sejauh mana suatu alat tersebut mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Validasi diperlukan untuk memastikan bahwa instrumen penelitian yang akan digunakan mampu memberikan informasi yang layak untuk
mencapai tujuan penelitian. Validasi akan dilakukan oleh Bapak Adhi Surya Nugraha S.Pd., M.Mat. selaku dosen Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma. Berdasarkan uraian pada instrumen penelitian data, terdapat dua instrumen yang akan diuji kelayakannya yaitu instrumen lembar observasi dan pedoman wawancara. Berikut adalah aspek-aspek yang digunakan untuk mengukur kelayakan sebuah instrumen.
Tabel 3.04 Aspek-aspek validasi dalam lembar observasi dan pedoman wawancara
Instrumen No. Aspek yang diamati Skala Penilaian 1 2 3 4 5
3 Istilah yang digunakan tepat dan mudah 2 Istilah yang digunakan
tepat dan mudah dipahami
3 Kejelasan pertanyaan 4 Pertanyaan sesuai dengan
tujuan untuk
mengidentifikasi adanya praktik matematika
G. Metode Analisis Data
Analisis data akan dilakukan dengan tiga langkah yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Tiga langkah analisis data tersebut dipaparkan oleh Miles dan Huberman (dikutip dalam Fitrah dan Luthfiyah, 2017).
1. Reduksi Data
Reduksi data adalah proses berpikir sensitif yang memerlukan kecerdasan dan keluasan serta kedalaman wawasan yang tinggi. Cara berpikir ini perlu dikembangkan oleh peneliti agar mampu menemukan nilai temuan dan pengembangan teori yang signifikan. Bagi peneliti baru reduksi data dapat dilakukan dengan berdiskusi bersama teman atau orang lain yang lebih ahli. Pada penelitian ini, reduksi data difokuskan untuk mencapai tujuan penelitian yaitu menemukan aktivitas-aktivitas fundamental etnomatematika menurut Bishop pada gelang manik-manik khas Suku Dayak Kalimantan, serta membuat bahan ajar berupa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis etnomatematika pada gelang manik-manik khas Suku Dayak Kalimantan.
2. Penyajian Data
Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Penyajian data penelitian kualitatif dapat dibuat ke dalam bentuk teks bersifat naratif, bagan, grafik, matriks, network, chart, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Penyajian data dibuat dengan tujuan
memudahkan pembaca untuk memahami apa yang sedang diteliti oleh peneliti.
3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Setelah penyajian data, langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah temuan baru yang sebelumnya belum ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran objek yang sebelumnya belum didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten, tetapi setelah diteliti menjadi lebih jelas.
H. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian merupakan langkah-langkah yang dilaksanakan peneliti untuk mengumpulkan data agar tujuan di dalam penelitian ini tercapai.
Berikut adalah langkah-langkah yang digunakan peneliti dalam penelitian ini.
1. Pendahuluan
Pada tahap pendahuluan, peneliti menentukan permasalahan yang akan dijadikan sebagai fokus penelitian. Terdapat dua permasalahan yang diangkat peneliti dalam penelitian ini yaitu menemukan unsur-unsur matematika yang terdapat pada gelang manik-manik khas Suku Dayak dan kemudian dilanjutkan dengan membuat bahan ajar berupa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan/atau Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berbasis etnomatematika pada gelang manik-manik khas Suku Dayak. Selanjutnya peneliti akan memilih narasumber yang dapat membantu peneliti untuk memperoleh
informasi-informasi yang valid mengenai gelang manik-manik khas Suku Dayak.
2. Membuat Instrumen
Pada tahap ini, peneliti akan membuat dua buah instrumen penelitian, yaitu pedoman wawancara dan lembar observasi.
3. Validasi Instrumen
Pada tahap ini, peneliti akan membuat lembar validasi instrumen penelitian dan kemudian peneliti memberikan lembar validasi tersebut kepada validator untuk mengukur kelayakan instrumen penelitian yang telah dibuat oleh peneliti. Jika instrumen sudah selesai divalidasi dan diperoleh hasil validasi belum mencapai kriteria valid, maka peneliti akan memperbaiki instrumen penelitian dan melakukan validasi ulang hingga instrumen tersebut menjadi valid.
4. Mengumpulkan Data
Pada tahap ini, peneliti akan mengumpulkan data dengan menggunakan lembar observasi dan pedoman wawancara yang telah valid.
5. Analisis Data
Pada tahap ini, peneliti akan menganalisis data yang diperoleh peneliti melalui wawancara dan observasi kepada Ibu Evi Vana. Analisis data digunakan untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini.
Analisis tidak hanya sebatas data yang diperoleh peneliti saat melakukan wawancara dan observasi kepada Ibu Evi Vana. Namun, peneliti juga akan mengamati adanya unsur-unsur matematika pada beberapa motif Dayak
pada gelang manik-manik khas Suku Dayak yang telah dipilih, yaitu motif pakis, bunga terong dan akar rotan.
6. Kesimpulan
Pada tahap ini, peneliti akan menarik kesimpulan dari analisis data yang telah dilakukan sebelumnya
7. Menulis Laporan
Pada tahap ini, peneliti akan menulis hasil temuan yang diperoleh peneliti selama proses penelitian yang berkaitan dengan tujuan penelitian.
Gambar 3.01 Diagram prosedur penelitian
68 BAB IV PEMBAHASAN
Pada bab ini peneliti memaparkan perkembangan, kegunaan, dan proses pembuatan gelang manik-manik khas Dayak berdasarkan hasil wawancara dan observasi. Berkaitan dengan tujuan penelitian ini, bab ini juga memberikan pemaparan tentang unsur-unsur matematika yang terdapat dalam gelang manik-manik khas Suku Dayak dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) bagi siswa sekolah menengah yang berbasis etnomatematika pada gelang manik-manik khas Suku Dayak.
A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Sungaijawi Dalam, Kecamatan Pontianak Barat, Pontianak Kalimantan Barat. Subjek dalam penelitian ini adalah Ibu Evi Vana, S.Pd. Ibu Evi adalah salah satu pengrajin manik-manik khas Dayak di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dorit Tunggal.
Penelitian dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui proses pembuatan gelang manik-manik khas Dayak, sedangkan wawancara dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan, kegunaan, dan proses pembuatan gelang manik-manik khas Dayak. Observasi dilaksanakan pada tanggal 8-9 Februari 2021, sedangkan wawancara dilaksanakan pada tanggal 9 Februari 2021.
B. Perkembangan dan kegunaan Manik- Manik Khas Dayak Kalimantan Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi bahwa kekhasan atau keunikan dari manik-manik khas Suku Dayak terletak pada motifnya.
Motif Dayak merupakan gambaran keadaan alam atau kekayaan alam yang ada di sekitar lingkungan masyarakat Dayak. Contoh motif Dayak adalah pakis, rebung, rotan, serat kayu, dan bunga terong. Manik-manik akan dirangkai atau dibentuk menjadi motif-motif Dayak tersebut.
Tabel 4.01 Transkrip wawancara dengan pengrajin manik-manik tentang kekhasan atau keunikan manik-manik khas Dayak
Tanya Bagaimana kekhasan atau keunikan dari manik-manik khas Dayak?
Jawab Kekhasan atau keunikan manik-manik khas Dayak terletak pada motifnya. Motif Dayak lebih menggambarkan keadaan alam atau kekayaan alam yang ada di sekitar, seperti tanaman pakis, rebung, rotan, dan bunga terong. Selain itu, ada juga motif yang saya sebut dengan akar rotan yang mempunyai sebutan lain lagi di daerahnya. Kemudian ada motif serat kayu, motif ini dari daerah Sintang yang modelnya berbentuk belah ketupat. Untuk warna manik-manik dan bahan tidak ada yang berbeda dengan manik-manik modern. Begitu juga dengan cara membuat manik-manik khas Dayak ini sama dengan pembuatan manik-manik modern. Untuk manik-manik modern lebih menggunakan jarum, sebenarnya manik-manik khas Dayak ini juga bisa pakai jarum, tergantung bagaimana efisiennya. Selama pengalaman saya menjadi pengrajin warna manik-manik yang digunakan juga menggambarkan daerah masyarakat Dayak bagian mana. Seperti masyarakat Dayak di daerah Pontianak lebih dominan menggunakan warna merah, kuning dan hitam, masyarakat Dayak di daerah Kapuas Hulu lebih dominan menggunakan warna merah, hitam, putih dan hijau, kemudian suku Iban yang terkenal dengan seninya lebih dominan menggunakan warna merah, kuning, hijau, dan putih.
Proses pembuatan manik-manik khas Dayak tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan manik-manik modern. Pada proses pembuatan manik-manik modern lebih sering menggunakan alat bantu berupa jarum saat menganyam, sedangkan pada proses pembuatan manik-manik khas Dayak lebih memanfaatkan bahan-bahan alam seperti lilin dari madu. Lilin dari
madu akan membuat benang menjadi lebih kaku, sehingga memudahkan manik-manik untuk masuk ke dalam benang.
Manik-manik adalah salah satu bahan utama dalam pembuatan kerajinan manik-manik khas Dayak. Manik-manik yang digunakan memiliki keberagaman warna. Secara umum warna manik-manik yang sering digunakan adalah manik-manik berwarna hijau, hitam, merah, putih, dan kuning. Melalui wawancara diperoleh informasi bahwa adanya perbedaan penggunaan warna manik-manik yang dominan di setiap daerahnya. Misalnya masyarakat Dayak di daerah Pontianak lebih dominan menggunakan manik-manik berwarna merah, kuning, dan hitam, sedangkan masyarakat Dayak di daerah Kapuas Hulu lebih dominan menggunakan manik-manik berwarna merah, hitam, putih, dan hijau. Selain itu, keunikkan penggunaan warna manik-manik ini juga terjadi pada salah satu jenis suku Dayak yaitu suku Iban. Warna manik-manik yang dominan digunakan oleh suku Iban adalah manik-manik berwarna merah, kuning, putih dan hijau. Dalam wawancara juga diperoleh informasi bahwa penggunaan warna manik-manik seperti warna biru, coklat, dan abu-abu adalah kombinasi atau variasi warna manik-manik di zaman modern ini.
Tabel 4.02 Transkrip wawancara dengan pengrajin manik-manik tentang makna dari warna-warna pada manik-manik khas Dayak
Tanya Apakah ada perbedaan makna dari warna-warna manik-manik tersebut bu?
Jawab Mungkin ada makna warna pada manik-manik bagi setiap daerah. Kalau saya melihatnya secara global atau sebagai pengrajin, warna manik-manik dominan tiap daerah itu berbeda-beda. Seperti masyarakat Dayak di daerah Pontianak lebih dominan menggunakan warna merah, kuning dan hitam,
beda dengan Dayak di daerah Kapuas Hulu sana. Di daerah kapuas Hulu yang juga ada pengaruh Iban di sana yang terkenal seninya, uniknya ada manik berwarna hijau. Tetapi untuk manik berwarna biru, coklat, dan abu-abu itu sudah kombinasi modern, sudah bervariasi.
Kerajinan manik-manik khas Dayak berupa aksesoris sering dibeli oleh masyarakat sebagai simbol atau menunjukkan jati dirinya sebagai orang Dayak. Minat pembelian manik-manik khas Dayak terbilang cukup baik, tetapi tidak lebih baik jika dibandingkan dengan minat pembelian manik-manik modern. Selain itu, minat masyarakat untuk mempelajari pembuatan manik-manik masih terbilang kurang terutama untuk kalangan anak muda.
Kebanyakan perajin manik-manik khas Dayak adalah orang-orang yang sudah tua. Pembuatan kerajinan manik-manik khas Dayak membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga menjadi pengrajin manik-manik khas Dayak membutuhkan kesabaran dan konsentrasi yang tinggi. Selain itu, manik-manik susah untuk didapat dan memiliki harga yang mahal. Hal itu membuat jumlah pengrajin manik-manik khas Dayak hanya sedikit terutama di daerah yang jauh dari kota besar seperti Pontianak.
Tabel 4.03 Transkrip wawancara dengan pengrajin manik-manik tentang daya tarik masyarakat dalam membeli atau membuat gelang manik-manik
khas Dayak
Tanya Pandangan ibu, bagaimana daya tarik masyarakat terhadap manik-manik ini, baik itu dari pembelian atau minat untuk belajarnya?
Jawab Kalau dari pembelian, biasanya manik-manik dibeli sebagai jati diri orang Dayak saja. Jika untuk aksesoris, jalan-jalan itu tidak. Biasanya manik-manik dipakai saat event-event tertentu.
Jadi daya pembelinya cukup bagus, tetapi tidak seperti daya tarik manik-manik modern. Untuk minat belajar itu tergantung orangnya, ada yang tertarik untuk belajar karena bagus, cuma
setelah turun mengerjakan banyak yang tidak mampu.
Membuat manik-manik ini agak rumit dan butuh konsentrasi.
Kita enggak bisa nyambi, apalagi bagi pemula ya. Kalau sambil nyambi lebih sering salahnya daripada betulnya akhirnya benangnya kusut dan jadinya malas. Tapi kalau orangnya telaten dan hobi itu bisa. Jadi banyak yang berminat tetapi setelah terjun atau mencoba biasanya mandek.
Tanya Kalau di Pontianak, pengrajin seperti ibu banyak enggak?
Jawab Di Pontianak ya, saya lihat banyak pengrajin orang tua seperti saya, remaja masih kurang. Kalau ditanya berapa jumlahnya itu bisa dihitung enggak sampai 50. Kalau di daerah mungkin lebih kurang ya, karena bahan manik-manik ini yang susah untuk didapat dan mahal.
Terdapat upaya pemerintah untuk melestarikan budaya kerajinan manik-manik khas Dayak ini. Hanya saja jumlah pengrajin manik-manik yang sedikit juga membuat sulitnya pemerintah dalam upaya pelestarian budaya ini terutama di daerah-daerah yang jauh dari kota.
Tabel 4.04 Transkrip wawancara dengan pengrajin manik-manik tentang upaya masyarakat dan pemerintah dalam melestarikan budaya
manik-manik khas Dayak
Tanya Bagaimana upaya masyarakat Dayak atau pemerintah untuk melestarikan budaya ini Bu?
Jawab Kalau masyarakat ya tergantung peminatnya ya, seperti tadi umpamanya peminat hanya untuk identitas atau kenang-kenangan, yah itu sih lumayan ya, jadi enggak sepi pemasarannya. Tapi kalau pemerintah, yah sebenarnya pemerintah sudah berusaha cuma ya ini pengrajinnya yang enggak ada. Dia berusaha-berusaha kalau pengrajinnya terbatas ya enggak bisa juga. Saya-kan mandiri, saya kurang tahu banyak tentang pemerintah. Cuma saya pernah mengisi pameran-pameran pemerintah seperti Dekranasda mereka berminat, kalau ada pameran pasti mereka minta untuk mengisi.
Selain disimpan sebagai kenang-kenangan, manik-manik khas Dayak digunakan sebagai aksesoris dalam pakaian tradisional Suku Dayak.
Manik-manik khas Dayak sering dijumpai atau ditemui saat gawai (pesta adat) Dayak, pameran-pameran tertentu yang berhubungan dengan budaya, penyambutan tamu pemerintah, acara pencarian putri Dayak atau bujang Dayak, dan pernikahan bagi masyarakat Dayak.
Tabel 4.05 Transkrip wawancara dengan pengrajin manik-manik tentang fungsi manik-manik khas Dayak
Tanya Kalau manik-manik seperti ini Bu, terutama gelang ya bu, selain disimpan sebagai kenang-kenangan, biasanya digunakan saat kapan ya Bu?
Jawab Yang sering pemakaian yang rutin saya lihat itu saat acara gawai Dayak, atau ada pameran. Kalau misalnya orang Dayak ada pernikahan, mungkin pagar ayu-nya pakai kostum-kostum Dayak. Ada juga fashion-fashion putri Dayak, bujang Dayak, kemudian untuk terima-terima tamu pemerintah, tamu presiden ke suatu daerah dengan mayoritas orang Dayak. Jadi untuk event-event tertentu menyambut pemerintah yang menampilkan budaya. Tapi kalau untuk jalan-jalan kurang peminatnya.
Seperti pakai kalung atau aksesoris lainnya untuk hari-hari dengan motif Dayak itu kurang. Kalau di daerah saya kurang monitor ya, tapi umumnya di Pontianak seperti itu.
C. Cara Membuat Gelang Manik- Manik Khas Dayak Kalimantan
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi diperoleh informasi bagaimana proses pembuatan gelang manik-manik khas Dayak.
Tabel 4.06 Transkrip wawancara dengan pengrajin manik-manik tentang alat dan bahan dalam pembuatan gelang manik-manik khas Dayak Tanya Bahan dan Alat yang digunakan dalam manik-manik ini-kan
yang pertama manik Sarawak ya Bu?
yang pertama manik Sarawak ya Bu?