• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

B. Prosedur Penelitian

Pengembangan modul ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan langkah 3-D model seperti pada gambar 3.2

Analisis Ujung Depan

Analisis Tugas

Analisis Peserta Didik

Analisis Konsep Spesifikasi Tujuan Pembelajaran

Penyusunan Tes Pemilihan Media Pemilihan Format Rancangan Awal Validasi Pakar/Ahli Draff I valid

Uji Coba Kelas Kecil Revisi

Revisi Modul Kimia Berbasis Inkuiri Terbimbing Terintegrasi

Keterangan :

: Tahap pendefinisian (Define) : Tahap perancangan (Design) : Tahap pengembangan (Develop) 1. Pendefinisian (Define)

Kegiatan pada tahap define ini dilakukan untuk menentukan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran, serta pengumpulan berbagai informasi yang berkaitan dengan produk yang akan dikembangkan. Tahap ini dilakukan analisis untuk menentukan tujuan pembelajaran dan batasan materi untuk sumber belajar yang akan dikembangkan. Tahap define ini mencakup lima langkah pokok, yaitu analisis awal akhir (front-end analysis), analisis siswa

(learner analysis), analisis tugas (task analysis),

analisis konsep (concept analysis) dan perumusan tujuan pembelajaran (specifying instructional objectives).

a. Analisis Ujung Depan (Front-end Analysis)

Menurut Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974) analisis ujung depan digunakan untuk menentukan masalah mendasar yang dihadapi dalam pembelajaran. Langkah yang ditempuh dalam analisis ini yaitu menganalisis masalah yang mendasari pengembangan modul kimia

berbasis inkuiri terintegrasi pendidikan karakter berbantu media MLR.

b. Analisis Peserta Didik (Learner Analysis)

Analisis peserta didik dilakukan untuk mengetahui karakteristik peserta didik yang akan dijadikan sebagai acuan dalam menentukan pendekatan pembelajaran yang digunakan, serta bahan pembelajaran yang sesuai. Analisis peserta didik (yang akan menggunakan modul) sangat penting untuk dilakukan pada awal perencanaan. Analisis peserta didik dilakukan dengan cara mengamati karakteristik peserta didik yang dilakukan dengan penyebaran angket kebutuhan. Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran karakteristik peserta didik, antara lain: (1) kemampuan akademik peserta didik, (2) motivasi terhadap mata pelajaran kimia dan, (3) karakter peserta didik.

c. Analisis Tugas (Task Analysis)

Menurut Trianto (2009) analisis tugas merupakan kumpulan prosedur untuk

menentukan isi dalam satuan pembelajaran, yang dilakukan untuk merinci isi materi ajar dalam bentuk garis besar. Analisis tugas terdiri dari analisis terhadap Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), terkait materi yang akan dikembangkan (hidrolisis garam) melalui modul kimia berbasis inkuiri terbimbing terintegrasi pendidikan karakter berbantu media MLR.

d. Analisis Konsep (Concept Analysis)

Analisis konsep merupakan langkah yang digunakan untuk mengidentifikasi konsep-konsep pokok dari materi yang akan diajarkan dan menyusunnya secara sistematis serta mengaitkan satu konsep dengan konsep lain yang relevan sesuai dengan tujuan pembelajaran (Thiagarajan, Semmel, dan Semmel, 1974). Analisis konsep digunakan sebagai sarana pencapaian kompetensi dalam modul kimia berbasis inkuiri terbimbing terintegrasi pendidikan karakter berbantu media MLR pada materi hidrolisis garam. Langkah ini bertujuan untuk menyusun secara sistematis konsep yang akan diajarkan.

e. Perumusan Tujuan Pembelajaran (Specifying

Perumusan tujuan pembelajaran dilakukan untuk menentukan indikator pencapaian pembelajaran yang didasarkan atas analisis tugas dan analisis konsep. Penulisan tujuan pembelajaran dilakukan agar peneliti dapat mengetahui kajian apa saja yang akan ditampilkan dalam modul kimia berbasis inkuiri terintegrasi pendidikan karakter berbantu media MLR.

Tujuan pembelajaran perlu dirumuskan terlebih dahulu sebelum menyusun sumber belajar, hal ini berguna untuk membatasi peneliti supaya tidak menyimpang dari tujuan semula pada saat menyusun modul.

2. Perancangan (Design)

Setelah mendapatkan permasalahan dari tahap pendefinisian, selanjutnya dilakukan tahap perancangan. Tahap perancangan ini bertujuan untuk merancang prototype berupa modul kimia berbasis inkuiri terbimbing terintegrasi pendidikan karakter berbantu media MLR yang dapat digunakan dalam pembelajaran kimia. Thiagarajan membagi tahap

design dalam empat kegiatan, yaitu: constructing criterion-referenced tests, media selection, format selection, initial design. Kegiatan yang dilakukan pada

tahap tersebut antara lain:

a. Penyusunan Tes Kriteria (Constructing

Criterion-referenced Tests)

Penyusunan tes merupakan langkah yang menghubungkan antara tahap pendefinisian (define) dengan tahap perancangan (design). Pada tahap ini, peneliti menyusun instrumen yang digunakan untuk menilai kelayakan modul dan media yang dikembangkan (instrumen validasi), serta menyusun instrumen untuk menilai keterbacaan modul (instrumen tes).

b. Pemilihan Media (Media Selection)

Menurut Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974) pemilihan media dilakukan untuk mengidentifikasi bahan ajar dalam pembelajaran yang relevan dengan karakteristik materi. Pemilihan bahan ajar menyesuaikan hasil analisis ujung depan, karakteristik peserta didik, analisis konsep, analisis tugas, dan tujuan pembelajaran. Hal ini berguna untuk membantu peserta didik dalam pencapaian kompetensi dasar.

c. Pemilihan Format (Format Selection)

Pemilihan format dalam pengembangan modul berbantu media ini dimaksudkan untuk mendesain atau merancang isi modul kimia berbasis inkuiri terbimbing terintegrasi pendidikan karakter berbantu media MLR. Pemilihan format atau bentuk penyajian dilakukan dengan mengkaji format-format modul yang ada dan disesuaikan dengan modul yang akan diterapkan. Format yang dipilih adalah yang memenuhi kriteria menarik, memudahkan, dan membantu dalam pembelajaran.

d. Membuat Rancangan Awal (Initial Design)

Menurut Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974) kegiatan membuat rancangan awal dilakukan dengan merancang seluruh perangkat pembelajaran yang harus dikerjakan sebelum uji coba dilaksanakan.

Tahap membuat rancangan awal digunakan peneliti untuk membuat produk awal (prototype) berupa modul kimia berbasis inkuiri terbimbing

terintegrasi pendidikan karakter berbantu media MLR yang disesuaikan dengan hasil analisis pada tahap define.

Peneliti dalam tahap ini mengkonsultasikan hasil rancangan awal modul dan media yang telah dikembangkan kepada dosen pembimbing, selanjutnya merevisi produk yang telah dikembangkan sesuai saran perbaikan dari dosen pembimbing, sehingga terbentuk draft I yang nantinya akan dilakukan validasi.

3. Develop (Pengembangan)

Menurut Trianto (2009) tahap pengembangan merupakan tahap untuk menghasilkan produk pengembangan. Tahap ini bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang sudah divalidasi oleh para ahli. Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974) membagi tahap pengembangan dalam dua kegiatan yaitu: expert appraisal dan

developmental testing.

a. Validasi Ahli (Expert Appraisal)

Validasi ahli merupakan teknik untuk menilai kelayakan rancangan produk yang dikembangkan (Thiagarajan, Semmel, dan Semmel, 1974). Validasi ahli ini berfungsi untuk

memvalidasi konten modul kimia berbasis inkuiri terbimbing terintegrasi pendidikan karakter berbantu media MLR pada materi hidrolisis garam. Modul yang telah selesai disusun akan divalidasi oleh pakar/ahli dengan mengisi angket validasi yang telah dibuat berdasarkan standar kelayakan BSNP.

Hasil validasi pakar digunakan sebagai bahan revisi untuk kesempurnaan modul yang dikembangkan. Setelah draf I divalidasi dan direvisi, maka dihasilkan draf II. Hal tersebut dilakukan hingga diperoleh produk yang valid. Produk yang valid selanjutnya diuji coba pada kelas kecil.

b. Uji Coba Produk (Development Testing)

Uji coba produk bertujuan untuk mengetahui kelayakan modul berbantu media yang dikembangkan. Produk yang dikembangkan diujikan pada kelas kecil sebanyak 12 peserta didik. Uji coba produk dilakukan untuk memperoleh data berupa respon peserta didik

terhadap modul berbantu media, serta komentar dan saran dari peserta didik. Hasil uji coba digunakan untuk memperbaiki produk. Menurut Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974), uji coba, revisi dan uji coba kembali terus dilakukan sampai produk yang dikembangkan menghasilkan produk yang konsisten, efisien dan efektif.

Dokumen terkait