• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.6 Prosedur Penelitian

Langkah-langkah yang diambil dalam prosedur penelitian ini, yaitu : 1. Studi Literatur

Studi literatur adalah studi kepustakaan guna mendapatkan dasar-dasar teori serta langkah-langkah penelitian yang berkaitan dengan analisis tanah longsor dan untuk mencari referensi penelitian yang sejenis.

2. Pengumpulan Data

Data yang dibutuhkan sesuai dengan parameter pada penelitian ini yaitu data gempa bumi, peta jenis tanah, peta jenis batuan, peta penggunaan lahan, peta curah hujan, dan peta kemiringan lereng.

3. Analisis dan Pembahasan

Setelah data diperoleh, maka tahap selanjutnya adalah melakukan analisis dan perhitungan yang diperlukan untuk analisis kelongsoran.

Langkah awal yaitu pemberian scoring/pengharkatan pada peta sesuai dengan parameter dan kriterianya. Selanjutnya pemberian bobot sesuai kontribusinya masing-masing. Setelah itu skor dikalikan dengan bobot kemudian dijumlahkan dan akan menghasilkan potensi kerawanan longsor yang nantinya akan di input ke software ArcGIS 10.5 untuk dibuat peta kerawanan longsor berdasarkan desa di Kecamatan Sibolangit. Hasil akhir yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah peta risiko longsor di Kecamatan Sibolangit.

3.3. Metode Penelitian 3.7.1 Pengumpulan Data

Data yang dipakai adalah data sekunder. Data sekunder yang dipakai sesuai dengan parameter pada penelitian ini yaitu data gempa bumi, peta jenis tanah, peta jenis batuan, peta penggunaan lahan, peta curah hujan, dan peta kemiringan lereng.

3.7.2 Penyiapan Data

Penyiapan data yang dilakukan adalah pengolahan data spasial. Data spasial yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu data analog dan data digital. Data analog berupa peta penggunaan lahan, peta curah hujan,.

Data digital berupa peta jenis tanah, peta jenis batuan dan peta kemiringan lereng.

Sedangkan data gempa bumi diolah dan dibuat sehingga menjadi peta digital format vektor.

Dalam pengolahan tahap awal setiap data harus dijadikan peta digital. Data analog berupa peta penggunaan lahan dan peta curah hujan diolah dan masing-masing dijadikan peta digital format vektor. Peta digital format vektor merupakan salah satu jenis data masukan yang disimpan dalam bentuk garis, titik dan poligon. Proses pemasukan data-data dilakukan melalui laptop dengan software ArcGIS 10.5. Data keluaran ini kemudian digunakan sebagai data acuan penelitian.

3.7.3 Analisis Data

Analisis data kerawanan tanah longsor dilakukan setelah peta-peta tematik yaitu peta gempa bumi, peta jenis tanah, peta jenis batuan, peta penggunaan lahan, peta curah hujan, dan peta kemiringan lereng tersebut tersedia dan siap dalam bentuk peta digital. Setiap jenis peta tersebut dilakukan klasifikasi berdasarkan skor serta diberi bobot. Setelah itu skor dikalikan dengan bobot kemudian dijumlahkan dan akan menghasilkan potensi kerawanan longsor yang nantinya akan di input ke software ArcGIS 10.5 untuk dibuat peta kerawanan longsor berdasakan desa di Kecamatan Sibolangit.

Pemberian harkat (scoring) digunakan untuk menentukan atau menilai tingkat kerentanan longsor lahan di daerah penelitian. Pemberian nilai didasarkan pada besar kecilnya pengaruh variabel pendukung tingkat kerentanan longsor lahan di daerah penelitian. Tingkat kerentanan longsor lahan ditunjukan oleh jumlah skor secara keseluruhan dari masing-masing parameter pendukung terjadinya longsor lahan.

Penentuan skor tiap kelas parameter didasarkan pada hasil pengklasifikasian Puslittanak Bogor (2004). Skor dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah sebanding dengan tingkat bahaya yang tanah longsor akan timbulkan. Semakin tinggi skor, maka semakin tinggi pula potensi tanah longsor yang akan terjadi. Berikut adalah pemberian skor pada setiap parameter :

a. Curah Hujan

Curah hujan merupakan faktor yang penting dalam terjadinya tanah longsor. Air hujan yang merembes melalui pori-pori tanah akan menambah massa tanah sehingga tanah menjadi lebih berat dan akan menjadi longsor bila melewati batas ketahanan tanah. Semakin tinggi intensitas curah hujan, maka semakin berpotensi terjadi tanah longsor.

Penentuan skor tiap kelas parameter didasarkan pada hasil pengklasifikasian Puslittanak Bogor (2004). Skor dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah sebanding dengan tingkat bahaya yang tanah longsor akan timbulkan. Semakin tinggi skor, maka semakin tinggi pula potensi tanah longsor yang akan terjadi. Skor dan bobot parameter curah hujan dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Klasifikasi Curah Hujan

Parameter Besaran Bobot Skor

Sangat basah >3000

Kemiringan lereng sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya potensi longsor di suatu wilayah. Semakin miring suatu lahan maka semakin berpotensi untuk terjadi longsor lahan dan sebaliknya. Hal tersebut berkaitan dengan kestabilan lereng, semakin curam lereng maka lereng akan mengalami tekanan beban yang lebih besar sehingga makin

tidak stabil untuk menahan beban di atasnya dari pengaruh garvitasi bumi.

Skor dan bobot parameter kemiringan lahan dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Klasifikasi Kemiringan Lereng

Kondisi penggunaan lahan sebagai faktor penyebab tanah longsor berkaitan dengan kestabilan lahan, kontrol terhadap kejenuhan air serta kekuatan ikatan partikel tanah. Lahan yang ditutupi hutan dan perkebunan relatif lebih bisa menjaga stabilitas lahan karena sistem perakaran yang dalam sehingga bisa menjaga kekompakkan antar partikel tanah serta partikel tanah dengan batuan dasar dan bisa mengatur limpasan dan resapan air ketika hujan. Pemukiman memiliki andil yang lebih kecil karena limpasan air lebih banyak terjadi di banding genangan dan resapan karena sifat permukaan yang kedap air baik kondisi tanah permukaan maupun karena penutup tanah berupa beton atau sejenisnya. Tegalan dan sawah memiliki vegetasi yang tidak bisa menjaga stabilitas permukaan karena bersifat tergenang, serta memiliki sistem perakaran yang dangkal sehingga kurang menjaga kekompakkan partikel tanah.(Rahmat dalam Yunianto, 2011). Skor dan bobot parameter penggunaan lahan dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3. Klasifikasi Penggunaan Lahan

Jenis batuan diklasifikasikan berdasarkan asal bentuknya yaitu batuan vulkanik, batuan sedimen dan karst serta batuan aluvial. Batuan aluvial merupakan batuan hasil endapan proses geodinamika yang terjadi pada batuan di wilayah tersebut. Batuan ini memiliki sifat kepekaan terhadap longsor rendah. Batuan sedimen dan karst merupakan batuan yang terbentuk dari lingkungan laut dan pesisir serta perairan lain seperti sungai dan danau kuno sampai batuan tersebut terangkat menjadi daratan pada masa lalu. Umumnya batuan ini memiliki permeabilitas kecil bahkan kedap air kecuali jika batuan banyak memiliki rekahan atau telah mengalami pelarutan, maka dapat bersifat tahan air sehingga menjadi akuifer (batuan penyimpan air tanah) atau dapat berfungsi sebagai imbuhan air. Batuan ini memiliki sifat kepekaan terhadap longsor sedang.

Sedangkan batuan vulkanik merupakan batuan gunung api yang tidak teruraikan. Jenis ini memiliki sifat kepekaan terhadap longsor tinggi.

Scoring dan pembobotan pada tiap jenis batuan dapat dilihat pada Tabel

e. Jenis Tanah

Penentuan skor jenis tanah dilakukan berdasarkan tingkat kepekaan terhadap longsor jenis tanah tersebut, semakin peka terhadap longsor maka semakin tinggi skor yang diberikan. Tingkat kepekaan terhadap longsor berhubungan dengan tingkat kemampuan tanah menahan dan melepaskan air yang masuk, tanah dengan permeabilitas sangat lambat sangat kuat menahan air yang masuk dan sangat sulit untuk melepaskannya, hal itu akan menyebabkan tanah menahan beban yang lebih besar dan apabila curah hujan semakin tinggi serta tanah tersebut berada pada wilayah yang memiliki topografi yang terjal sampai sangat curam maka longsor kemungkinan besar terjadi. Secara umum tingkat permeabilitas tanah berbanding terbalik dengan kepekaan terhadap erosi, semakin lambat permeabilitasnya maka semakin peka terhadap erosi (Rahmat dalam Yunianto, 2011). Skor dan bobot parameter jenis tanah dapat dilihat pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5. Klasifikasi Jenis Tanah

Parameter Bobot Skor adanya pelepasan energi yang menyebabkan pergeseran pada lapisan atmosfer bumi. Pelepasan energi ini dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti karena adanya aktivitas gunung berapi, aktivitas sesar di permukaan bumi, proses tektonik akibat pergerakan lempeng pada kerak bumi, pergerakan geomorfologi secara lokal, atau juga karena adanya ledakan nuklir. Tetapi umumnya pelepasan energi yang mengakibatkan

gempa bumi ini dihasilkan oleh tekanan akibat kegiatan proses pergerakan lempeng bumi.

Semakin kecil magnitudo gempa maka semakin kecil getaran tanah yang dihasilkan sehingga kepekaan terhadap longsor rendah dan sebaliknya. Skor dan bobot parameter gempa bumi dapat dilihat pada

Model yang digunakan untuk menganalisis kerawanan kongsor adalah model pendugaan yang mengacu pada penelitian Puslittanak tahun 2004 dengan formula:

Skor Total : (0,3xFaktor Curah Hujan) + (0,2xFaktor Kemiringan Lereng) + (0,2xFaktor Penggunaan Lahan) + (0,1xFaktor Jenis Tanah) + (0,1xFaktor Gempabumi) + (0,2xFaktor Jenis Batuan)

Skor hasil akhir, dibagi menjadi 4 kelas kerawanan longsor yaitu rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Interval kelas kerawanan longsor dibuat berdasarkan nilai skor tertinggi dan nilai skor terendah, dengan penentuan nilai skor :

3.7.4 Langkah-langkah Pembuatan Peta Penelitian

Langkah-langkah penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini melalui tahapan-tahapan berikut ini:

1. Persiapan

Tahap persiapan meliputi persiapan alat dan bahan. Persiapan alat meliputi persiapan alat-alat yang dibutuhkan dalam pengolahan data seperti seperangkat komputer, printer, dan lain-lain. Persiapan bahan dilakukan dengan mengumpulkan data yang berupa peta sekunder maupun data lain yang menunjang penelitian. Data tersebut diperoleh dari RTRW dan instansi lain yang terkait.

2. Digitasi Peta

Peta yang diperoleh dari RTRW masih dalam bentuk data mentah.

Untuk dapat diolah maka perlu dilakukan digitasi. Peta yang berbentuk fisik terlebih dahulu di-scan menggunakan scaner agar berbentuk digital.

Setelah berbentuk digital, dengan menggunakan software ArcGIS 10.5.

Proses digitasi melalui tahapan berikut ini:

a. Membuka software ArcGIS 10.5. dan mengatur koordinat

Setelah software ArcGIS 10.5 terbuka maka hal yang pertama dilakukan adalah mengatur koordinatnya, caranya yaitu buka arc catalog dan klik kanan pada foto kemudian pilih properties lalu pada Spatial Reference klik Edit lalu pilih koordinat. Koordinat yang dipakai adalah WGS 1984 UTM zona 47N.

Gambar 3.1. Mengatur Koordinat

Gambar 3.2. Tampilan Arcmap 10.5

Pada Gambar 3.1 Table Of Content (TOC) berisi informasi tentang layer sedangkan window data frame berfungsi untuk menunjukkan tampilan peta.

b. Georeferencing peta

Georeferencing merupakan proses pemberian sistem koordinat pada suatu objek gambar dengan cara menempatkan suatu titik kontrol terhadap suatu persimpangan antara garis lintang dan bujur pada gambar berupa objek tersebut, atau dengan menempatkan titik ikat pada lokasi yang sudah diketahui koordinatnnya.

Caranya yaitu dengan menempatkan titik kontrol pada peta dengan cara klik add control points pada toolbar georeferencing klik pada salah satu perpotongan grid kemudian klik kanan dan pilih input X dan Y. Masukkan nilai koordinat titik-titik kontrol tersebut dapat dilihat pada bingkai peta. Karena koordinat titik acuan berupa koordinat geografis maka di konversikan dulu ke koordinat UTM yaitu dengan konversi online. Titik kontrol yang dibuat sebanyak minimal 4, semakin banyak titik kontrol yang dimasukkan maka semakin akurat rektifikasi data raster tersebut. Setelah selesai memasukkan titik kontrol, selanjutnya klik georeferencing pada toolbar georeferencing lalu pilih update georeferencing.

Table Of Content (TOC)

Window data frame

Gambar 3.3. Proses Georeferencing

c. Buat shapefile

Sebelum melakukan digitasi di arcGIS terlebih dahulu dibuat shapefile atau feature class kosong yang akan menampung data hasil digitasi. Caranya yaitu klik kanan pada folder tempat menyimpan data, pilih new lalu pilih shapefile, kemudian pada dialog create new shapefile, ketikkan nama shapefile di name dan pilih tipe data yang sesuai dengan di feature type. Dan klik edit, lalu select, dan pilih koordinat sistem yaitu WGS 1984 UTM zona 47N lalu klik add. Lalu akan muncul layer baru di TOC. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.4.

Gambar 3.4. Membuat Shapefile Baru

d. Digitasi

Digitasi peta merupakan proses membuat peta dalam format vektor sehingga dapat diolah dengan menggunakan ArcGIS 10.5. Ada beberapa jenis data pada format vektor yaitu titik, garis dan poligon, oleh karena itu proses digitasi disesuaikan dengan jenis datanya.

Untuk data berupa lokasi pasti seperti desa dan ibu kota kecamatan menggunakan titik (point), untuk sungai dan jalan menggunakan garis (line). Sedangkan untuk wilayahnya menggunakan poligon (polygon).

Cara digitasi yaitu klik tombol editor pada toolbar editor lalu pilih start editing. Pastikan create feature target pada penggunaan lahan. Klik tombol polygon untuk memulai digitasi. Zoom salah satu objek penggunaan lahan di Kecamatan Sibolangit hingga cukup jelas untuk di digitasi. Setelah digitasi selesai lalu klik tombol editor lagi, lalu pilih save editing setelah itu pilih stop editing. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.5 dan Gambar 3.6.

Gambar 3.5. Proses Digitasi

Gambar 3.6. Poligon Hasil Digitasi

3. Data Atribut dan Editing

Data atribut merupakan data yang mendeskripsikan karakteristik dari kenampakan di peta. Data atribut memberi keterangan terhadap masing-masing feature pada tema dan digunakan sebagai acuan dalam operasi matematis. Data atribut dibuat dengan memanipulasi tabel pada masing-masing tema.

Caranya yaitu klik kanan pada layer kemiringan lereng kemudian klik open attribute table lalu tampilan tabel akan muncul. Setelah itu klik table option lalu pilih add field. Tipe data disesuakan dengan kebutuhan, jika data berupa angka dan akan dilakukan operasi matematik maka pilih short atau long integer. Kemudian tabel baru akan muncul, untuk memasukkan nilai skor pada tabel tersebut pilih editor lalu klik start editing, nilai skor yang di isi sesuai pada klasifikasi Puslittanak Bogor (2004). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.7.

Gambar 3.7. Pengisian Skor

Selanjutnya cara menampilkan data scoring ke dalam peta yaitu dengan menggunakan symbology. Klik kanan pada layer penggunaan lahan kemudian klik properties lalu pilih symbology, di bagian categories plih unique value lalu pada value field pilih skor, kemudian di bagian bawah pilih add all values untuk memasukkan data scoring ke dalam peta.

Untuk mengganti warnanya pilih warna pada color ramp. Setelah selesai klik ok maka akan terlihat pembagian penggunaan lahan di Kecamatan Sibolangit sesuai dengan peta yang bersumber dari RTRW Deli Serdang.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.8.

Gambar 3.8. Editing Data Atribut a. Membuat keterangan nama desa

Sebelum membuat keterangan nama desa, terlebih dahulu buat batas desa Kecamatan Sibolangit. Cara membuat batas desa sama dengan membuat klasifikasi penggunaan lahan yaitu menggunakan digitasi.

Cara membuat keterangan nama desa yaitu klik kanan pada layer adm_sibolangit, lalu pilih open attribute table kemudian buat tabel baru dengan mengklik add field. Isi nama dengan nama desa lalu type nya menggunakan text karena tabel akan berisi text, kemudian klik ok. Klik start editing agar tabel bisa di edit, kemudian isi nama desa sesuai dengan poligon batas desa tersebut, lalu save dan stop editing.

Setelah itu klik kanan layer adm_sibolangit lalu pilih properties kemudian pada bagian labels pilih nama desa pada label field kemudian klik ok. Untuk menampilkan nama desa pada peta maka klik kanan layer adm_sibolangit lalu pilih label features maka nama desa akan terlihat pada peta. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9. Membuat Keterangan Nama Desa b. Memunculkan koordinat pada frame peta

Sebelum memunculkan koordinat pada peta, terlebih dahulu mengatur halaman layout dengan cara klik file lalu pilih page and

print set up, kemudian atur orientasi halaman ke landscape. Setelah itu klik ikon layout view pada bagian bawah halaman data.

Selanjutnya munculkan koordinat dengan cara klik kanan pada peta kemudian pilih properties lalu pada bagian grid klik new grid untuk membuat grid baru, lalu pilih measured grid dan klik next, setelah itu pilih appearance dan interval koordinat yang kita inginkan kemudian next lalu pilih ok, maka koordinat akan muncul pada frame peta.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.10.

Gambar 3.10. Memunculkan Koordinat pada Peta

c. Membuat keterangan pada peta

Keterangan pada peta berisi arah utara, skala, legenda serta insert peta. Untuk menambahkan keterangan tersebut berada pada tab insert.

Keterangan tersebut di edit sesuai dengan keinginan kita sehingga akan menghasilkan gambar peta sebagus mungkin. Cara menyimpan gambar peta yaitu klik export map pada tab file dan ketik nama file serta pilih folder tempat peta disimpan. Hasil peta dapat dilihat pada Gambar 3.11.

Gambar 3.11. Peta Penggunaan Lahan di Kecamatan Sibolangit

Langkah-langkah pembuatan peta parameter curah hujan, jenis tanah, dan jenis batuan sama hal nya dengan langkah-langkah pembuatan peta parameter penggunaan lahan. Peta kemiringan lereng dibuat berdasarakan data SRTM Sementara data spasial untuk peta gempa bumi dan peta kerawanan longsor ditampilkan berdasarkan desa serta data ditampilkan dengan gradasi warna sesuai dengan kelas klasifikasi.

3.8. Diagram Alir Penelitian

Gambar 3.12. Diagram Alir Penelitian Mulai

Studi literatur

Pengumpulan data sekunder

Scoring dan pembobotan n

Peta kerawanan longsor

Kesimpulan dan hasil

Selesai Curah

hujan Penggunaan lahan

Kemiringan lereng

Jenis batuan

Jenis tanah

Gempa bumi

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Daerah Penelitian

4.1.1. Letak, Luas dan Batas Wilayah

Secara astronomis wilayah administrasi Kecamatan Sibolangit terletak pada 3o24’ LU - 3o37’ LU dan 98o56’ BT - 98o60’ BT. Dengan ketinggian 350 m - 700 m di atas permukaan air laut. Secara georafis Kecamatan Sibolangit terletak di Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara. Secara Administratif batas-batas Kecamatan Sibolangit adalah sebagai berikut:

Utara : Kecamatan Pancur Batu.

Selatan: Kabupaten Karo.

Barat : Kecamatan Kutalimbaru.

Timur : Kecamatan Namorambe, Kecamatan Biru-biru dan Kecamatan STM.

Berdasarkan data Kecamatan Sibolangit dalam Angka 2018, jumlah desa di Kecamatan Sibolangit adalah sebanyak 30 desa dengan jumlah dusun sebanyak 87 dusun. Sedangkan luas wilayah Kecamatan Sibolangit adalah 173,32 km2. Secara rinci luas Kecamatan Sibolangit ditunjukan pada Tabel 4.1 sebagai berikut :

Tabel 4.1. Pembagian Luas Daerah Penelitian Berdasarkan Desa

Sumber : Kecamatan Sibolangit dalam Angka 2018

Berdasarkan letak, luas dan batas Kecamatan Sibolangit dapat disajikan secara spasial pada peta administratif Kecamatan Sibolangit yang disajikan pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Peta Administrasi Kecamatan Sibolangit

4.2. Parameter Pemicu Tanah Longsor di Kecamatan Sibolangit 4.2.1. Iklim dan Curah Hujan

Kondisi iklim memiliki pengaruh langsung terhadap proses geomorfologi yang terjadi pada suatu bentang lahan sehingga iklim merupakan faktor penting yang menyebabkan terjadinya perubahan bentuk permukaan bumi. Proses-proses geomorfologi seperti erosi, gerakan massa, dan pelapukan banyak dipengeruhi oleh karakteristik parameter iklim. Parameter iklim yang utama adalah curah hujan, temperatur, radiasi, dan kelembapan udara. Adapun yang berpengaruh terhadap longsor lahan adalah curah hujan. Curah hujan dapat mempengaruhi kesetabilan lereng, proses erosi dan gerakan massa. Curah hujan yang berlebihan dapat menambah berat massa tanah sehingga memicu terjadinya longsor lahan.

Keadaan daerah Kecamatan Sibolangit berbukit-bukit dan di antara bukit ada beberapa sungai besar, yakni Sungai Belawan, Sungai Petani, Sungai Betimus yang muaranya ke Kecamatan Pancur batu dan Kecamatan Namorambe. Hal ini dapat membuat tanah di daerah ini subur. Iklim di Kecamatan ini pada umumnya berhawa sedang dan terdiri dari 2 musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.

Berikut adalah peta curah hujan tahunan Kecamatan Sibolangit berdasarkan peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara tahun 2017-2037 yang dibuat dengan Arcgis 10.5 menggunakan sistem koordinat WGS 1984 UTM zona 47 N, disajikan pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Peta Curah Hujan Tahunan Kecamatan Sibolangit

Berdasarkan peta Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara tahun 2017-2037, curah hujan tahunan Kecamatan Sibolangit berkisar antara 2001-2500 mm/tahun yang memiliki luasan terbesar (sekitar 152 km2) yaitu meliputi 30 desa kecuali sebagian kecil di bagian Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Karo (luas sekitar 21 km2) dengan curah hujan berkisar antara 1501-2000 mm/tahun. Menurut klasifikasi Puslittanak Bogor (2004), iklim di Kabupaten Sibolangit termasuk iklim sedang (2001-2500 mm/tahun) kecuali sebagian kecil di bagian selatan beriklim kering (1501-2000 mm/tahun).

Berdasarkan pengklasifikasian Puslittanak Bogor (2004), terdapat 28 desa yang memiliki skor 3 dengan curah hujan berkisar antara 2001-2500 mm/tahun dan 2 desa yang memiliki skor 5. Hal ini terjadi karena desa tersebut memiliki 2 parameter curah hujan yaitu yaitu 1501-2000 mm/tahun dan 2001-2500 mm/tahun. Klasifikasi curah hujan di Kecamatan Sibolangit disajikan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Klasifikasi Curah Hujan di Kecamatan Sibolangit

Sumber : Analisis Peta Curah Hujan Tahunan Kecamatan Sibolangit

4.2.2. Kemiringan Lereng

Faktor kemiringan lereng memliki pengaruh terhadap terjadinya longsor lahan. Daerah perbukitan, pegunungan yang lerengnya curam memiliki tingkat kerentanan longsor yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan daerah yang datar maupun berombak. Pada daerah yang memiliki lereng curam, material atau batuan yang lapuk dapat dengan mudah meluncur dikarenakan adanya gaya gravitasi yang menarik material tersebut. Tidak adanya penahan yang menahan material tersebut akan mempercepat terjadinya jatuhnya material akibat gaya gravitasi.

Menurut pengklasifikasian Puslittanak Bogor (2004) kemiringan lereng di Kecamatan Sibolangit memiliki kelandaian lereng dari datar sampai sangat curam.

Hal itu tersebut dipengaruhi oleh ketinggian tempat di Kecamatan Sibolangit yang juga bervariasi berkisar dari 300-700 m dpl. Secara umum wilayah Kecamatan

Hal itu tersebut dipengaruhi oleh ketinggian tempat di Kecamatan Sibolangit yang juga bervariasi berkisar dari 300-700 m dpl. Secara umum wilayah Kecamatan

Dokumen terkait