• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

G. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap analisis data. Ketiga tahapan tersebut diuraikan sebagai berikut.

1. Tahap Persiapan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:

a. Merancang perangkat pembelajaran dan instrument penelitian serta meminta penilaian ahli.

b. Menganalisis hasil validasi perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian dengan tujuan memperbaiki perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian sebelum dilaksanakan ujicoba lapangan.

c. Mensosialisasikan rancangan pembelajaran dengan pendekatan open ended kepada guru dan observer yang akan terlibat dalam penelitian. d. Melaksanakan ujicoba lapangan dan mengamati situasi didaktis dan

pedagogis selama proses ujicoba pembelajaran berlangsung.

e. Menganalisis hasil ujicoba perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian dengan tujuan untuk memperbaiki perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian sebelum eksperimen dilakukan.

f. Melaksanakan tes kemampuan awal matematis. Tes ini bertujuan untuk memilah siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Penentuan kemampuan siswa tersebut, selain sebagai salah satu variabel dalam penelitian ini, juga dijadikan sebagai pedoman dalam membentuk kelompok belajar selama berlangsung proses belajar di kelas.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Memberikan pretes. Tes ini untuk mengukur kemampuan berpikir reflektif dan pemecahan masalah matematis siswa sebelum pembelajaran dilakukan.

b. Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan open ended (selama kegiatan ini berlangsung dilakukan pengamatan tentang situasi pedagogis yang terjadi).

c. Memberikan postes. Tes ini untuk mengukur kemampuan berpikir reflektif matematis dan pemecahan masalah matematis siswa setelah pembelajaran dilakukan.

d. Memberikan skala adversity quotient siswa dalam matematika kepada siswa. Pemberian skala ini untuk mengukur kualitas adversity quotient siswa dalam matematika setelah pembelajaran dilakukan.

3. Tahap Analisis Data

Kegiatan pada tahap ini adalah sebagai berikut. a. Melakukan analisis data dan menguji hipotesis.

b. Melakukan pembahasan yang berkaitan dengan analisis data, uji hipotesis, hasil temuan penelitian, dan kajian studi literatur.

c. Menyimpulkan hasil penelitian. Berikut ini disajikan bagan prosedur penelitian

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis, temuan, dan pembahasan yang telah disajikan pada bab sebelumnya, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

1. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan open ended dengan siswa yang memperoleh pembelajaran biasa bila ditinjau dari:

a) Secara keseluruhan siswa penigkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan open ended lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran biasa, dan

b) Dilihat dari kategori kemampuan awal matematis tinggi dan sedang tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan open ended dan siswa yang mempeorleh pembelajaran biasa. Sedangkan untuk kategori kemampuan awal matematis rendah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan open ended dan siswa yang memperoleh pembelajaran biasa.

2. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran (open ended dan biasa) dengan kemampuan awal matematis (tinggi, sedang, rendah) siswa terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

3. Peningkatan kemampuan berpikir reflektif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan open ended dengan siswa yang memperoleh pembelajaran biasa bila ditinjau dari:

a) Secara keseluruhan siswa penigkatan kemampuan berpikir reflektif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan open ended lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran biasa, dan

b) Dilihat dari setiap kategori kemampuan awal matematis (tinggi, sedang dan rendah) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir reflektif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan open ended dan siswa yang mempeorleh pembelajaran biasa. 4. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran (open ended dan

biasa) dengan kemampuan awal matematis (tinggi, sedang, rendah) siswa terhadap peningkatan kemampuan berpikir reflektif matematis siswa.

5. Adversity quotient siswa dalam matematik yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan open ended lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran biasa.

6. Terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran (open ended dan biasa) dengan kemampuan awal matematis (tinggi, sedang, rendah) terhadap adversity quotient siswa dalam matematika

B. Implikasi

Berdasarkan kesimpulan penelitian, peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan open ended sama dengan siswa yang memperoleh pembelajaran biasa. Sedangkan peningkatan kemampuan berpikir reflektif matematis dan adversity quotient siswa yang memperoleh pembelajaran dengan open ended lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran biasa. Oleh karena itu implikasi dari kesimpulan penelitian ini adalah

1. Pembelajaran dengan pendekatan open ended dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis namun hanya pada kategori kemampuan awal matematis rendah saja. Sedangkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis untuk kategori kemampuan awal matematis tinggi dan sedang tidak signifikan antara siswa yang memperoleh pembelajaran open ended dengan siswa yang memeproleh pembelajaran biasa. 2. Pembelajaran dengan pendekatan open ended dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir reflektif matematis pada setiap kategori kemampuan awal matematis siswa (tinggi, sedang, rendah)

3. Proses pembelajaran dengan pendekatan open ended, yang dimulai dengan menyajikan masalah terbuka, dapat melatih siswa untuk menggunakan berlatih berpikir reflektif matematis dalam menyelesaikan masalah matematis. Penggunaan masalah terbuka, juga dapat melatih siswa dalam memecahkan masalah sesuai dengan cara atau metode yang mereka kuasai.

4. Pembelajaran dengan pendekatan open ended dapat diterapkan untuk meningkatkan adversity quotient siswa dalam matematis.

C. Rekomendasi

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi dari penelitian ini, selanjutnya dikemukakan rekomendasi sebagai berikut:

1. Pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan open-ended sebaiknya perlu memperhatikan penyusunan bahan ajar yang akan dipakai dengan menambahkan lebih banyak soal tidak rutin dan terbuka. Melalui pemberian soal-soal yang bersifat terbuka, siswa dapat mengembangkan kemampuan menghasilkan jawaban atau cara penyelesaian beragam dalam menyelesaikan masalah. Kondisi pembelajaran demikian dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematik. Dalam penyusunan bahan ajar dengan memberikan lebih banyak soal terbuka mengakibatkan tersitanya waktu yang lebih panjang, sebaiknya guru tidak terlalu mematok waktu seperti yang penulis buat karena akan bedampak kurang efektifnya pembelajaran dan diskusi seakan siswa dibatasi waktu dan pemikiran padahal dalam pelaksanaan open ended dibutuhkan waktu yang cukup lama.

2. Masalah terbuka yang disajikan di awal dari pembelajaran dengan pendekatan open ended, harus dapat mendorong siswa berpikir dalam berbagai pandangan yang berbeda, sehingga masalah tersebut harus kaya akan konsep-konsep matematika yang dapat dipecahkan dengan berbagai

strategi yang sesuai/cocok untuk siswa berkemampuan tinggi, sedang, maupun rendah. Tingkat kesulitan masalah juga harus cocok dengan kemampuan siswa. Jika masalah terbuka itu relatif mudah itu mungkin memberikan semangat kepada siswa yang kategori rendah untuk menjawab sedangkan untuk kategori siswa yang tinggi mungkin akan merasa kurang tertantang. Tetapi jika soal terbuka itu terlalu sukar mungkin akan memberi semangat tantangan yang tinggi bagi siswa dalam kategori tinggi tetapi berdampak kurang semangat bahkan putus asa kepada siswa yang kategori rendah atau sedang.

3. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dengan pendekatan open-ended membutuhkan pengaturan waktu yang efektif. Hal ini karena dalam proses pembelajarannya siswa dituntut untuk selalu menyelesaikan masalah tanpa terlebih dahulu diberikan konsepnya. Bagi siswa yang terbiasa dengan pembelajaran biasa hal ini akan membutuhkan penyesuaian yang membutuhkan waktu dan kadang membutuhkan usaha ekstra guru dalam mendorong siswa agar terlibat aktif.

4. Dalam proses pembelajaran dengan pendekatan open-ended, sebaiknya dibangun suasana diskusi dan tanya jawab dalam kelas. Suasana kelas yang demikian dapat membantu membiasakan siswa untuk ikut terlibat aktif dalam kelas serta dapat menumbuhkan keberanian siswa untuk memberikan pendapatnya. Dengan demikian selain dapat melibatkan siswa dalam proses berpikir, pembelajaran ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri siswa.

5. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan open ended secara baik, guru perlu memikirkan prediksi respons siswa atas situasi masalah terbuka serta antisipasinya. Berbagai prediksi dan antisipasi yang telah dipersiapkan dalam skenario pembelajaran secara baik, akan mempermudah guru melalukan tindakan yang tepat ketika siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah terbuka, sehingga akan memperlancar jalannya proses pembelajaran dengan pendekatan open ended. 6. Untuk peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dilanjutkan dengan

meneliti pengaruh pembelajaran dengan pendekatan open ended terhadap kemampuan daya matematis lainnya, seperti kemampuan koneksi matematis, komunikasi matematis, dan penalaran matematis. Penelitian ini juga dapat dilanjutkan dengan meneliti pada masing-masing indikator dari kemampuan pemecahan masalah maupun berpikir reflektif, agar diperoleh hasil yang lebih akurat tentang indikator-indikator apa saja yang dapat ditingkatkan melalui pembelajaran dengan pendekatan open ended.

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Aswandi. (2008). Adversity Quotient mengubah hambatan menjadi peluang. [onliine]. http://id.shvoong.com/books/1855052-adversity-quotient-mengubah-hambatan-menjadi/#ixzz1c6Ompo1n [10 Desember 2011]

Atun, I. (2006). Pembelajaran matematika dengan strategi kooperatif tipe student teams achievement divisions untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi siswa SMA. Tesis pada PPS UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Azhar, A. (2008). John Dewey & Berpikir Reflektif. [Online]. Tersedia: http://www.candilaras.co.cc/2008/05/john-dewey-berpikir-reflektif.html. [21 Maret 2010]

Baba, S. (2006). Berfikir Cara Reflektif. [Online]. Tersedia: http://rakan.jkr.gov.my/ckub/a_main/q_rampaisaridtl.asp?fid=97 [24 Maret 2011]

Choy, N.K. (2001). Pemikiran Reflektif oleh Dewey. [Online]. Tersedia:http://www.teachersrock.net/Dewey%20Pemikiran%20Refleksi.ht m [10 Juni 2012]

Dahar, R.W. (1989). Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Dahlan, J.A. (2004). Meningkatkan Kemampuan Penalaran dan Pemahaman Matematika Siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Melalui Pendekatan Open-ended, Studi Eksperimen pada Siswa SLTP Negeri di Kota Bandung. Disertasi Doktor pada SPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan

Depdiknas, (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

---(2003). Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (SMP). Jakarta: Depdiknas.

Dindyal, J. (2005). Emphasis on Problem Solving in Mathematics Textbooks from Two Different Reform Movements. Johor Baru Malaysia: The Mathematics Education into the 21st Century Project Universiti Teknologi Malaysia, Reform, Revolution and Paradigm Shifts in Mathematics Education, Johor Baru, Malaysia, Nov 25th – Dec 1st 2005.

Dwijanto (2007). Pengaruh pembelajaran berbasis masalah berbantuan komputer terhadap pencapaian kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kreatif matematik mahasiswa. Disertasi pada SPS UPI. Bandung: Tidak diterbitkan. Fisher, A. (2001). Critical Thinking: An Introduction. [Online]. Tersedia: http://catdir.loc.gov/catdir/samples/cam031/2002265188.pdf (10 Juni 2012] Hadad. (2010). Peningkatan Kemampuan Representasi Multipel Matematis,

Dengan Pendekatan Open Ended .Disertasi pada PPS UPI. Bandung: tidak dipublikasikan

Hake, R. (1999). Analizing Change/Gain Scores. [on-line]. Tersedia: http://www.physics.indiana.edu/-sdi/AnalyzingChange-Gain.pdf.

[7Februari 2011]

Hudojo, H. (1998). Pembelajaran Matematika Menurut Pandangan Konstruktivistik. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Upaya-upaya Meningkatkan Peran Pendidikan dalam Era Globalisasi PPS IKIP MALANG. Malang, 4 April.

--- (2002). Representasi Belajar Berbasis Masalah. Jurnal Matematika atau Pembelajarannya. ISSN: 085-7792. Tahun VIII, edisi khusus.

Hulu, P. (2009). Menigkatkan Kemampuan Penalaran Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama Menggunakan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah. Tesis UPI: Tidak diterbitkan

Kurnia, I. (2006). Pengembangan Model Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Reflektif Mahasiswa 1-PGSD pada Matakuliah Penelitian Tindakan Kelas. Disertasi UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Kusumah, Y.S. (2008). Konsep, Pengembangan, dan Implementasi Computer-Based Learning dalam Peningkatan Kemampuan High-Order Mathematical Thinking. Pidato Pengukuhan Guru Besar [22 oktober 2008] Bandung: UPI.

Meier, D. (2002). The Accelerated Learning Hand Book Panduan Kreatif dan Efektif Merancang Program Pendidikan dan Pelatian. Bandung: Kaifa Meltzer, D.E. (2002). Addendum to : “The Relationship between Mathematics

Preparation and Conceptual Learning Gain in Physics: A Possible“Hidden Variable” in Diagnostics Pretest Score”. [on-line]. Tersedia: http://www.physics. iastate.edu/per/docs/Addendum on_normalized_gain. [7 Februari 2011]

Mina, E. (2006). Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open-Ended terhadap Kemampuan Kreatif Matematika Siswa SMA Bandung. Tesis PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan

Montague, M. (2007). Math Problem Solving for Middle School Students with Disabilities. [on-line]. Avaliable: http://www.k8accesscenter.org/training_ resources/MathProblemSolving.asp. [26 Mei 2011].

Mustapha, G. (2000). UNIT 1 Definisi dan Konsep Kemahiran Berpikir. Dalam Kemahiran Berpikir [Online]: Fakulti Pengajian Pendidikan, Universiti Putra Malaysia. Tersedia: http://www.educ.upm.edu.my/~gm /berfikir.htm [24Maret 2011]

NCTM.

Nohda, N. (1999). A Study Of "Open-Approach" Method In School Mathematics Teaching - Focusing On Mathematical Problem Solving Activities. [on-line]. Avaliable: http://www.nku.edu/~sheffield/nohda.html. [31 Maret 2008].

--- (2000). Teaching by open-approach method in Japanes mathematics classroooms, in T. Nakahara & M. Koyama (Eds). Proceedings of the 24th conference of the international group for the psycholofy of mathematics education vol.1 (pp. 39-53). Hirosima: Hirosima University.

Noer, H. S. (2007). Pembelajaran open-ended untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematik dan kemampuan berpikir kreatif. Tesis pada PPS UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

--- (2010). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis, Kreatif dan Reflektif (K2R) Matematis Siswa SMP melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Disertasi pada PPS UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Phan, H.P. (2008). Achievement Goals, The Classroom Environment, And Reflective Thinking: A Conceptual Framework.Dalam Electronic Journal Of Research in Educational Psychology No 16 [Online], Vol 6 (3), 32 Hal. Tersedia: http://www.investigacion-psicopedagogica.org/revista /articulos/16 /english/Art_16_269.pdf [21 Maret 2011]

--- (2006). Examination Of Student Learning Approaches, Reflective Thinking, And Epitomological Belief : A Latent Variables Approach.Dalam Electronic Journal Of Research in Educational Psychology No 10 [Online], Vol 4 (3), 34 Hal. Tersedia: http://www.investigacionpsicopedagogica.org/revista/articulos/10/english/A rt_10_141.pdf [21 Maret 2011]

PISA. (2006). First Result. [on-line]. Tersedia: http://www.mine.edu/export/ default/OPM?Koulutus/artikelit/pisa-tutkimus/ PISA 2006/liitect/PISA 2006 en.pdf. [22 Oktober 2011]

Polya, G. (1985). How to solve it. Princeton: Princeton University Press

Ruseffendi, E.T. (1993). Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: Depdikbud Dikjen Dikti.

--- (1991). Pengantarkepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

--- (1998). Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan Dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Semarang : IKIP Semarang Press.

_______________. (2005). Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksakta Lainnya. Bandung: Tarsito.

Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Edisi ke 3 revisi. Bandung: Tarsito.

Sabandar, J. (2009). Berpikir Reflektif. [Online]. Tersedia: http://math.sps.upi.edu/wp-content/uploads/2009/11/Berpikir-eflektif.pdf [7 Maret 2010]

Shermis, S. S. (1999). Reflective Thought, Critical Thinking. [Online]. Tersedia: http://www.indiana.edu/~eric_rec/ieo/digests/d143.html

Shimada, S. (1997). The Significance of an Open-ended Approach. Dalam Jerry Backer dan Shigeru Shimada. The open-ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Virginia: NCTM.

Silver, E. A. (1997). Fostering Creativity through Instruction Rich in Mathematical Problem Solving and Problem Posing. [on-line]. Tersedia:http://www. fizkarlsruhe.de/fiz/publications/zdm/2dm97343.pdf. [19 Mei2011]

Sudjana. (1995). Metode Statistika. Bandung: Tarsito

Suherman, E & Winataputra, U. (1993). Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta: Depdikbud.

Suherman, E. (2001). Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka.

---(2003). Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: UPI Bandung. Surapranata, S. (2009). Analisis, Validitas, Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes

Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Surbeck, E., Park Han, E. & Moyer, J. (1991). Assessing Reflective Responses in Journals. Educational Leadership, March, 25-27.

Sumarmo, U. (2000). Kecendrungan Pembelajaran Matematika pada Abad 21. Makalah pada Seminar di UNSWAGATI Tanggal 10 September 2000. Cirebon.

Syukur, M. (2005). Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMU melalui Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open-Ended. Tesis PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan

Weast, D. (1996). Alternative teaching strategies: The case for critical thinking. Teaching Sociology,24, 189-194.

Wismayana,N.P. (2007). Pengaruh Model Belajar Berbasis Masalah dan Adversity Quotient siswa terhadap Prestasi Belajar Matematika dan Konsep Diri Siswa SMAN 4 Singaraja.Jurnal Ganesha Volume 2 Tahun 2009 PPs. Universitas Pendidikan Ganesha, Bali

Zaenudin. (2011). Pentingnya Adversity Quotient dalam Meraih Prestasi Belajar. Jurnal Pendidikan IKIP Untan Pontianak Vol 26. No.2.

Dokumen terkait