FAJAR SYUKRON C3408
DAFTAR LAMPIRAN
2. TINJAUAN PUSTAKA
3.3 Prosedur Penelitian
Penelitian dilakukan dalam tiga tahap yaitu pembuatan tepung ikan, pembuatan pupuk organik bokashi, dan aplikasi pupuk organk bokashi pada tanaman kangkung darat (I. reptana)
3.3.1 Pembuatan tepung ikan
Proses pembuatan tepung ikan diawali dengan pencucian ikan untuk menghilangkan kotoran dan darah yang menempel. Selanjutnya, limbah ikan utuh digiling menggunakan chopper untuk memperkecil ukuran partikel limbah. Selanjutnya, limbah dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari selama +2 hari untuk menurunkan kadar airnya hingga 20%. Selanjutnya, dilakukan proses penepungan. limbah ikan yang telah kering dihaluskan dengan grinder lalu disaring menggunakan ayakan sehingga didapatkan tepung ikan dengan butiran yang homogen. Tepung ikan yang dihasilkan akan dilakukan analisis proksimat dan hara makro (N-Total, P2O5, C-Organik, K2O, dan rasio
C/N). Diagram alir pembuatan tepung ikan disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1 Diagram alir pembuatan tepung limbah ikan
Analisis proksimat, C-organik, N-total, rasio C/N, P2O5, K2O Limbah ikan Pencucian Penggilingan Pengeringan Penepungan
3.3.2 Pembuatan pupuk organik bokashi
Pembuatan pupuk organik bokashi diawali dengan persiapan bahan baku yaitu dedak padi, ampas kelapa dan tepung ikan. Bahan baku terlebih dahulu dijemur untuk mengurangi kadar airnya. Bahan baku dicampurkan dengan komposisi yang divariasikan sebagai perlakuan. Komposisi dari dedak padi, ampas kelapa dan tepung ikan disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Komposisi bahan baku pembuatan pupuk organik bokashi Kode
perlakuan
Komposisi (%)
Dedak padi Ampas kelapa Tepung ikan
P0 0 0 100
P1 50 20 30
P2 40 20 40
P3 30 20 50
P4 20 20 60
Bahan baku dengan komposisi yang telah ditentukan, dicampurkan dalam wadah baskom plastik dan diaduk hingga rata. Selama proses pengadukan, campuran bahan baku ditambahkan larutan EM yang telah diaktivasi dengan campuran air dan molase dengan perbandingan air : molase : EM sebesar 90 : 5 : 5 sebanyak 10% (b/v) dari bobot total pupuk. Larutan secara perlahan dituangkan ke campuran hingga campuran memiliki kadar air berkisar antara 40-50%. Campuran yang memiliki kadar air 40-50% memiliki ciri jika saat campuran diremas, campuran menjadi menyatu. Kadar air dikontrol pada hari ke-10 untuk mengkondisikan kadar air tetap berkisar antara 40-50%. Selanjutnya, campuran ditempatkan di dalam karung plastik untuk melindungi campuran dari debu dan air, serta dikondisikan dalam suasana aerobik untuk menunjang proses pengomposan. Selama campuran dikomposkan dalam kondisi aerobik dan diukur nilai pH dan suhu setiap hari. Selama proses pengomposan, suhu dari campuran diukur secara rutin dan dipertahankan sekitar 35 –45˚C. Campuran harus diaduk jika suhunya mencapai 45˚C agar suhunya kembali turun. Manfaat bokashi akan berkurang apabila suhu bokashi melebihi 50˚C karena energi dalam pembuatan bokashi akan hilang hingga 50% seiring dengan keluarnya panas yang tinggi, serta suhu 50˚C dapat membunuh mikroba pengompos yang terdapat pada EM sehingga proses pengomposan tidak berjalan maksimal. Proses pengomposan
dilakukan selama 18 hari. Setelah proses pengomposan selesai, pupuk bokashi dijemur di tempat yang tidak terkena sinar matahari hingga agak kering lalu dilakukan analisis kadar air dan hara makro mencakup rasio C/N, karbon organik, total nitrogen, kandungan fosfor dan kalium yang dapat dipertukarkan. Diagram alir pembuatan pupuk organik bokhasi disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2 Diagram alir pembuatan pupuk organik bokashi
3.3.3 Aplikasi pupuk organik bokashi pada tanaman kangkung darat (I. reptana) Pupuk yang dihasilkan kemudian diaplikasikan pada tanaman kangkung darat (I. reptana). Tanaman kangkung darat (I. reptana) darat ditanam pada polybag berukuran 35 x 35 cm dan diisi dengan tanah sebanyak 3 kg. Bibit kangkung darat (I. reptana) yang digunakan adalah sebanyak 0,018 g/poyibag. Bibit sebanyak 0,018 g akan menghasilkan anakan kangkung darat (I. reptana) sebanyak 15-20 batang. Bibit tersebut terlebih dahulu disemai selama 2 minggu. Anakan tanaman kangkung darat (I. reptana) selanjutnya dipindahkan ke polybag (dihitung sebagai 0 MST (Minggu Setelah Tanam)) setelah 2 minggu,.
Dedak padi Tepung ikan Ampas kelapa
Pencampuran (Perlakuan P0,P1,P2, P3,P4)
Penambahan larutan EM
Pengomposan (18 hari) Pengukuran pH dan suhu (setiap hari) Penjemuran Pupuk organik bokashi Analisis: - C-organik - N-total - rasio C/N - P2O5 - K2O
Pemupukan dilakukan pada saat penanaman di polybag sebelum anakan kangkung ditanam. Tanaman kangkung darat (I. reptana) kemudian dipanen saat berumur 4 MST (Susila 2006).
Perlakuan aplikasi pupuk organik bokashi pada tanaman kangkung darat (I. reptana) dapat dilihat pada Tabel 3. Aplikasi ini pada setiap perlakuan terdiri
dari 5 kali ulangan sehingga didapatkan 35 unit percobaan. Pengamatan terhadap tanaman kangkung darat (I. reptana) setiap minggu selama 4minggu, berdasarkan umur panen tanaman kangkung darat (I. reptana) yaitu 25-30 hari (4MST) (Susila 2006). Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah cabang dan jumlah daun. Perlakuan dalam penanaman disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Aplikasi pupuk organik bokashi pada tanaman kangkung darat
Kode Perlakuan Dosis/Polybag
KN P0 P1 P2 P3 P4 KP Kontrol Negatif
Pupuk Perlakuan P0 (Tepung ikan (100%)) Pupuk Perlakuan P1 (Dedak padi (50%), ampas kelapa (20%), tepung ikan (30%)) Pupuk Perlakuan P2 (Dedak padi (40%), ampas kelapa (20%), tepung ikan (40%)) Pupuk Perlakuan P3 (Dedak padi (30%), ampas kelapa (20%), tepung ikan (50%)) Pupuk Perlakuan P4 (Dedak padi (20%), ampas kelapa (20%), tepung ikan (60%)) Kontrol positif Tanpa pupuk 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr 100 gr Urea (1,4 gr) + SP36 (2,3 gr) + KC1 (0,8 gr) 3.4 Prosedur Analisis
Analisis yang diamati meliputi pengukuran kadar proksimat, pH, suhu, N-Total, total P, C-Organik, total K, Rasio C/N, pertambahan tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot tanaman kangkung darat (I. reptana).
3.4.1 Analisis kadar air (BSN 1992)
Prinsip analisis kadar air adalah mengetahui kandungan atau jumlah air yang terdapat dalam suatu bahan. Tahap pertama yang dilakukan pada analisis kadar air adalah mengeringkan botol timbang dalam oven pada suhu 105°C
selama 1 jam. Botol timbang tersebut kemudian diletakkan ke dalam desikator (kurang lebih 15 menit) dan dibiarkan sampai dingin kemudian ditimbang. Sampel seberat 1-2 g ditimbang setelah terlebih dahulu digerus. Botol timbang yang telah diisi sampel dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 102-105°C selama 5-6 jam. Botol timbang kemudian dimasukkan ke dalam desikator dan dibiarkan sampai dingin (30 menit) kemudian ditimbang dan ulangi prosedur ini hingga memperoleh bobot yang tetap.
Perhitungan kadar air dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
Keterangan: A = Berat botol timbang kosong (g)
B = Berat botol timbang yang diisi dengan sampel (g) C = Berat botol timbang dengan sampel yang sudah dikeringkan (g)
3.4.2 Analisis kadar abu (BSN 1992)
Prinsip analisis kadar abu yaitu untuk mengetahui jumlah abu yang terdapat pada suatu bahan terkait dengan mineral dari bahan yang dianalisis. Cawan porselen dibersihkan dan dikeringkan di dalam oven bersuhu 105°C selama +30 menit. Cawan porselen kemudian dimasukkan ke dalam desikator (30 menit) dan kemudian ditimbang. Sampel sebanyak 2-3 g ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam cawan porselen. Cawan porselen selanjutnya dibakar di atas kompor listrik sampai tidak berasap dan dimasukkan ke dalam tanur pengabuan dengan suhu 550°C hingga mencapai pengabuan sempurna. Cawan dimasukkan di dalam desikator dibiarkan sampai dingin dan kemudian ditimbang.
Perhitungan kadar abu dapat dilakukan menggunakan rumus:
Keterangan: A = Berat cawan kosong (g)
B = Berat cawan dengan sampel (g)
3.4.3 Analisis kadar protein (BSN 1992)
Prinsip dari analisis kadar protein yaitu untuk mengetahui kandungan protein kasar (crude protein) pada suatu bahan. Tahap-tahap yang dilakukan dalam analisis protein terbagi atas tiga tahapan, yaitu destruksi, destilasi, dan titrasi.
1. Tahap destruksi
Sampel ditimbang sebanyak 0,5 g. Sampel lalu dimasukkan ke dalam labu kjeldahl 100 mL. Tambahkan 2 g selenium dan 25 mL H2SO4 ke dalam
tabung tersebut. Tabung yang berisi larutan tersebut dimasukkan ke dalam alat pemanas dengan suhu 410°C ditambah 10 mL air. Proses destruksi dilakukan sampai larutan menjadi jernih.
2. Tahap destilasi
Larutan yang telah jernih didinginkan dan masukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Larutan diencerkan dengan akuades, tepatkan hingga tanda garis. Pipet 5 mL larutan dan masukkan ke dalam alat penyuling, tambahkan 5 mL NaOH 30% dan beberapa tetes indikator PP lalu didestilasi. Hasil destilasi ditampung dalam erlemeyer 125 mL yang berisi 10 mL asam borat (H3BO3) 2% yang
mengandung indikator bromcherosol green 0,1% dan methyl red 0,1% dengan perbanding 2:1.
3. Tahap titrasi
Titrasi dilakukan dengan menggunakan HCl 0,01 N sampai warna larutan pada erlemeyer berubah warna menjadi merah muda. Volume titrasi dibaca dan dicatat.
Perhitungan kadar protein dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
Keterangan : W = Bobot sampel
V1 = Volume HCl 0,01 N yang dipergunakan penitaran
sampel
V2 = Volume HCl yang dipergunakan penitaran blanko
N = Normalitas HCl fp = Faktor pengenceran
3.4.4 Analisis kadar lemak (BSN 1992)
Sampel sebanyak 1-2 g (W1) dimasukkan ke dalam kertas saring dan
dimasukkan ke dalam selongsong lemak, lalu dimasukkan ke dalam labu lemak yang sudah ditimbang berat tetapnya (W2) dan disambungkan dengan
tabung soxhlet. Selongsong lemak dimasukkan ke dalam ruang ekstraktor tabung soxhlet dan disiram dengan pelarut lemak. Tabung ekstraksi dipasang pada alat destilasi soxhlet lalu dipanaskan dengan menggunakan pemanas listrik selama 6 jam. Pelarut lemak yang ada dalam labu lemak didestilasi hingga semua pelarut lemak menguap. Pada saat destilasi pelarut akan tertampung di ruang ekstraktor, pelarut dikeluarkan sehingga tidak kembali ke dalam labu lemak, selanjutnya labu lemak dikeringkan dalam oven pada suhu 105°C, setelah itu labu didinginkan dalam desikator sampai beratnya konstan (Ws).
Perhitungan kadar lemak dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
Keterangan: W1 = Berat sampel (g)
W2 = Berat labu lemak tanpa lemak (g)
W3 = Berat lebu lemak dengan lemak (g)
3.4.5 Pengukuran suhu
Suhu selama proses pengomposan diukur dan dicatat setiap hari pada pagi hari. Pengukuran suhu dilakukan menggunakan alat ukur termometer ruang yang ditancapkan pada pupuk di beberapa titik.
3.4.6 Pengukuran pH
Nilai pH selama proses pengomposan diukur dan dicatat setiap hari pada pagi hari. Analisis derajat keasaman (pH) dilakukan dengan menggunakan pH tester yang ditancapkan pada pupuk di beberapa titik.
3.4.7 Karbon organik (AOAC 2007)
Pengukuran karbon organik menggunakan metode pengoksidasian dengan kromat dan asam sulfat. Sampel sebanyak 1 g dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Kemudian ditambahkan 20 mL K2Cr2O7 2 N dan 15 mL H2SO4 pekat,
(digoyang setiap 15 menit) sampai semua sampel melarut. Sampel yang sudah larut diencerkan dengan akuades hingga tanda tera. Larutan ini kemudian dipipet sebanyak 10 mL ke dalam erlemeyer dan tambahkan indicator FeSO4 0,2 N
sebanyak 20 mL, encerkan dengan air. Selanjutnya dititrasi dengan larutan KMnO4 0,1 N.
Perhitungan C organik dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
Keterangan : a = ml KMnO4 untuk sampel
b = ml KMnO4 untuk blanko
N = Normalitas KMnO4
fp = Faktor pengenceran
W = Berat sampel (mg) 3.4.8 Nitrogen total (BSN 1992)
Prinsip dari analisis kadar nitrogen yaitu untuk mengetahui kandungan nitrogen pada suatu bahan. Tahap-tahap yang dilakukan dalam analisis nitrogen total terbagi atas tiga tahapan, yaitu destruksi, destilasi, dan titrasi.
1. Tahap destruksi
Sampel ditimbang sebanyak 0,5 g. Sampel dimasukkan ke dalam labu kjeldahl 100 mL. Tambahkan 2 g selenium dan 25 mL H2SO4 ke dalam tabung
tersebut. Tabung yang berisi larutan tersebut dimasukkan ke dalam alat pemanas dengan suhu 410 °C ditambah 10 mL air. Proses destruksi dilakukan sampai larutan menjadi jernih.
2. Tahap destilasi
Larutan yang telah jernih didinginkan dan masukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Larutan diencerkan dengan akuades, tepatkan hingga tanda garis. Pipet 5 mL larutan dan masukkan ke dalam alat penyuling, tambahkan 5 ml NaOH 30% dan beberapa tetes indikator PP lalu didestilasi. Hasil destilasi ditampung dalam erlemeyer 125 mL yang berisi 10 mL asam borat (H3BO3) 2% yang
mengandung indikator bromcherosol green 0,1% dan methyl red 0,1% dengan perbanding 2:1.
3. Tahap titrasi
Titrasi dilakukan dengan menggunakan HCl 0,01 N sampai warna larutan pada erlemeyer berubah warna menjadi merah muda. Volume titrasi dibaca dan dicatat.
Perhitungan nitrogen total dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
Keterangan : W = Bobot sampel
V1 = Volume HCl 0,01 N yang dipergunakan penitaran
sampel
V2 = Volume HCl yang dipergunakan penitaran blanko
N = Normalitas HCl fp = Faktor pengenceran
3.4.9 Total fosfor (AOAC 2007)
Fosfor dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer. Sampel yang berbentuk padat harus dilakukan dulu pengabuan basah. Sampel sebanyak 1 g ditambahkan 5 mL HNO3 didiamkan selama 1 jam pada suhu ruang di ruang
asam, kemudian dipanaskan diatas hot plate dengan temperatur rendah selama 4-6 jam (dalam ruang asam). Sampel dibiarkan semalam dalam keadaan tertutup. Sampel ditambahkan 0.4 mL H2SO4 , lalu dipanaskan di atas hot plate sampai
larutan berkurang (lebih pekat), ±1 jam. Kemudian ditambahkan 2-3 tetes larutan campuran HClO4: HNO3 (2:1). Sampel masih tetap di atas hot plate, karena
pemanasan terus dilanjutkan sampai ada perubahan warna dari coklat menjadi kuning tua sampai akhirnya berwarna kuning muda (±1 jam). Setelah ada perubahan warna, pemanasan masih dilanjutkan selama 10-15 menit. Pindahkan sampel, dinginkan dan tambahkan 2 mL aquades dan 0.6 mL HCl. Sampel dipanaskan kembali agar larut (± 15 menit) kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL. Apabila ada endapan disaring dengan glass wool.
Analisis kandungan fosfor dilakukan menggunakan spektrofotometer, namun sebelumnya dilakukan preparasi sampel dengan faktor pengenceran yang dibutuhkan. Sampel dipipet 0,5 mL dari hasil pengabuan basah, ditambah aquades hingga 3 mL dan Cl3La.7H2O 2 mL lalu dikocok. Kemudian sampel diukur
Perhitungan kandungan P dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
Keterangan : fp = Faktor pengenceran
W = Bobot sampel (g) 3.4.10 Total kalium (AOAC 2007)
Kalium dianalisis menggunakan AAS. Sampel yang berbentuk padat harus dilakukan pengabuan basah terlebih dahulu. Sampel sebanyak 1 g ditambahkan 5 mL HNO3 didiamkan selama 1 jam pada suhu ruang di ruang asam, kemudian
dipanaskan diatas hot plate dengan temperatur rendah selama 4-6 jam (dalam ruang asam). Sampel dibiarkan semalam dalam keadaan tertutup. Sampel ditambahkan 0.4 mL H2SO4 , lalu dipanaskan diatas hot plate sampai larutan
berkurang (lebih pekat), ±1 jam. Kemudian ditambahkan 2-3 tetes larutan campuran HClO4: HNO3 (2:1). Sampel masih tetap diatas hot plate, karena
pemanasan terus dilanjutkan sampai ada perubahan warna dari coklat menjadi kuning tua sampai akhirnya berwarna kuning muda (± 1 jam). Setelah ada perubahan warna, pemanasan masih dilanjutkan selama 10-15 menit. Pindahkan sampel, dinginkan dan tambahkan 2 mL aquades dan 0.6 mL HCl. Sampel dipanaskan kembali agar larut (±15 menit) kemudian masukkan kedalam labu takar 100 mL. Apabila ada endapan disaring dengan glass wool.
Analisis kandungan kalium dilakukan menggunakan AAS, namun sebelumnya dilakukan preparasi sampel dengan faktor pengenceran sesuai dengan yang dibutuhkan. Sampel sebanyak 0,5 mL ditambah aquades hingga 5 mL dan (Cl3La.7H2O) 0,05 ml lalu divorteks. Kemudian sampel diukur dengan
menggunakan AAS.
Perhitungan kandungan K dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
Keterangan : fp = Faktor pengenceran
3.4.11 Tinggi tanaman kangkung darat (I. reptana)
Pengukuran dan pengamatan tinggi kangkung darat dilakukan setiap 1 minggu selama 4 minggu. Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang sampai titik tumbuh dengan menggunakan penggaris. Untuk laju pertambahan tinggi tanaman didapat dari perhitungan berikut:
3.4.12 Jumlah daun tanaman kangkung darat (I. reptana)
Pengukuran dan pengamatan jumlah daun tanaman kangkung darat dilakukan setiap 1 minggu selama 3 minggu. Jumlah daun dihitung berdasarkan jumlah daun yang telah berkembang sempurna.
3.4.13 Bobot basah tanaman kangkung darat (I. reptana)
Penimbangan bobot basah tanaman kangkung darat dilaksanakan setelah tanaman dipanen. Penimbangan bobot basah dilakukan dengan menimbang kangkung yang telah dipanen dan dibersihkan dari tanah dengan menggunakan timbangan digital sehingga didapat bobot basahnya.
3.5 Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu komposisi bahan baku pembuatan pupuk organik bokashi. Dosis bahan baku yang digunakan terdiri atas P0, P1, P2, P3, dan P4. Penelitian ini
digunakan juga kontrol positif menggunakan campuran pupuk urea, SP 36 dan KCl dan kontrol negatif yaitu tanpa pemupukan. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoleh 35 satuan percobaan. Satu satuan percobaan berupa tanaman yang ditanam di polybag. Semua data pengamatan dianalisis dengan analisis sidik ragam. Model rancangan percobaan yang digunakan adalah :
Keterangan :
Yij = Nilai pengamatan dari perlakuan ke-i pada ulangan ke-j
µ = Nilai rataan umum
αi = Pengaruh perlakuan ke-i terhadap respon
εij = Pengaruh acak yang timbul pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut:
H0 : αi= α( perlakuan tidak berpengaruh terhadap respon yang diamati)
H1 : αi≠ α(paling sedikit ada sepasang perlakuan dimana αi≠α).
Selanjutnya hasil sidik ragam yang menunjukkan pengaruh nyata dilakukan uji Duncan pada selang kepercayaan 95 %. Data diolah dengan menggunakan PASW 18 for windows.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Bahan Baku
Karekteristik bahan baku merupakan salah satu informasi yang sangat diperlukan pada awal suatu proses pengolahan, termasuk pembuatan pupuk. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik bokashi adalah tepung ikan, dedak padi dan ampas kelapa. Hasil analisis proksimat dan hara makro pada bahan baku disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Hasil analisis proksimat dan hara makro bahan baku pupuk bokashi
Parameter Bahan baku
Tepung ikan Dedak padi Ampas kelapa
Proksimat Air (%) 7.60±0,04 10.51±0,09 70.52±0,36 Abu (%) 22.34±0,28 11.16±0,64 0.24±0,01 Lemak (%) 16.69±0,02 12.39±0,21 3.75±0,19 Protein (%) 55,62±0,06 29,51±0,56 5,85±0,04 Hara makro C-organik (%) 9,36±0,20 11,68±0,11 7,85±0,14 Total N (%) 9,63±0,01 5,28±0,10 0,93±0,01 Rasio C/N 0,97 2,21 8,44 Total K (%) 0,30 ±0,00 0,54±0,01 0,63±0,01 Total P (%) 3,26±0,08 0,53±0,00 0,03±0,00
Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa tepung ikan yang dihasilkan memiliki kadar air sebesar 7,60%, kadar abu sebesar 22,34%, kadar lemak sebesar 16,69%, kadar protein sebesar 55,52%, C-organik sebesar 9,36%, Total N sebesar 9,63%, nilai rasio C/N sebesar 0,97, total K sebesar 0,30% dan total P sebesar 3,26%. Total nitrogen dan total fosfor tepung ikan yang dihasilkan cukup tinggi yaitu 9,63% dan 3,26% yang menunjukkan bahwa tepung ikan yang dihasilkan cukup potensial sebagai sumber nitrogen dan fosfor untuk pupuk organik bokashi. Kandungan nitrogen yang dianjurkan untuk bahan baku pupuk organik yaitu > 3%, sedangkan untuk fosfor yaitu > 0,5% (Sutanto 2002).
Kadar lemak tepung ikan yang dihasilkan cukup tinggi yaitu 16,69%. Nilai ini melebihi kadar lemak bahan baku pupuk yang baik yaitu 1%-15%. Kandungan kadar lemak yang terlalu tinggi pada bahan baku pupuk organik dapat memperlambat proses pengomposan. Hal ini disebabkan aktivitas mikrob
pengurai bahan organik yang terhambat oleh tingginya kandungan lemak, terutama dari golongan Actinomycetes. Untuk bahan baku yang memiliki kadar lemak tinggi, umumnya dilakukan proses pengeluaran minyak melalui pengepresan sebelum bahan baku digunakan atau dikomposkan (Sutanto 2002).
Dedak padi memiliki kadar C-organik paling tinggi yaitu 11,68% yang potensial digunakan sebagai sumber karbon pada proses pengomposan. Dedak dan sekam padi merupakan bahan baku yang umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik karena memiliki kandungan karbon yang tinggi dan rasio C/N yang baik. Bahan ini umumnya dikombinasikan dengan bahan lain seperti kotoran sapi atau limbah sayuran sebagai sumber nitrogen sehingga dapat dihasilkan pupuk yang mampu memenuhi kebutuhan hara makro dan mikro untuk tanaman (Mustari 2004).
4.2 Pengomposan
Pupuk organik bokashi diproduksi melalui proses pengomposan bahan baku (tepung ikan, dedak padi, ampas kelapa) dengan bioaktifator EM. Proses pengomposan berlangsung selama 18 hari dengan dilakukan pengamatan beberapa parameter untuk menentukan kematangan pupuk. Parameter yang diamati selama proses pengomposan adalah pH dan suhu pupuk yang diamati setiap hari selama proses pengomposan berlangsung.
4.2.1 Perubahan pH
Nilai pH merupakan salah satu parameter yang menentukan kualitas akhir pupuk organik. Pupuk yang baik memiliki pH akhir berkisar antara 6,7-7,0. Perubahan pH selama proses pengomposan dapat menjadi suatu parameter aktivitas mikroba dalam mendekomposisi bahan-bahan organik yang terdapat dalam bahan baku pembuatan pupuk organik. Perubahan pH pupuk selama proses pengomposan disajikan pada Gambar 3.
Perubahan pH selama proses pengomposan yang disajikan pada Gambar 3 memperlihatkan tren yang sama untuk semua perlakuan yaitu penurunan pH pada awal proses pengomposan hingga titik pH terendah pada hari ke-5 lalu pH meningkat hingga mendekati pH normal pada hari ke-18. Hal ini selaras dengan pernyataan Sutanto (2002) yang menyatakan bahwa pada umumnya, pH selama
proses pengomposan akan turun pada awal proses pengomposan karena aktivitas bakteri yang menghasilkan asam. Adanya mikroorganisme lain dari bahan yang didekomposisikan, yaitu bakteri perombak protein, maka pH akan kembali naik setelah beberapa hari dan pH akan berada pada kondisi netral pada akhir proses pengomposan. Kenaikan pH juga dipicu oleh perombakan senyawa nitrogen kompleks menjadi basa nitrogen oleh mikrob.
Gambar 3 Grafik perubahan pH pupuk selama proses pengomposan
Perubahan pH terkecil dicapai oleh perlakuan P0, sedangkan perubahan pH
terbesar dicapai oleh perlakuan P1. Dapat dilihat pada Gambar 3 bahwa semakin
besar komposisi tepung ikan yang digunakan pada pembuatan pupuk, maka perubahan pH semakin kecil. Perbedaan perubahan pH pada tiap perlakuan disebabkan oleh perbedaan ketersediaan karbon karena perbedaan komposisi sumber karbon yang ditambahkan sehingga akan mempengaruhi aktivitas mikroba selama proses pengomposan. Menurut Goyal et al. (2005), senyawa karbon pada proses pengomposan digunakan oleh mikroba pengompos sebagai sumber energi atau bahan bakar untuk merombak senyawa organik komplek menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pada perlakuan P0, ketersediaan karbon
hanya terbatas dari tepung ikan yang memiliki kandungan C-organik yang rendah sehingga aktivitas mikroba pengurai tidak optimal, sedangkan perlakuan P1, P2, P3
dan P4 yang memiliki ketersediaan karbon lebih banyak karena adanya kontribusi
dedak padi sebagai sumber karbon tambahan sehingga memungkinkan mikroba
0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 pH Hari ke-
P0 (Tepung ikan 100%) P1 (Tepung ikan 30%) P2 (Tepung ikan 40%) P3 (Tepung ikan 50%) P4 (Tepung ikan 60%)
P0 P1
P2 P3
untuk memiliki aktivitas yang lebih optimal, terutama untuk perlakuan P1 yang
memiliki komposisi dedak padi lebih banyak yaitu 50%.
Aktivitas mikroba selama proses pengomposan juga dipengaruhi oleh kadar lemak dari tepung ikan yang cukup tinggi. Perlakuan P0 memiliki aktivitas
yang paling rendah yang terlihat dari perubahan pH yang kecil dikarenakan komposisi tepung ikan yang paling besar yaitu 100% sehingga perubahan pH selama proses pengomposan lebih kecil dibandingkan perlakuan lainnya, sedangkan perlakuan P1 memiliki aktivitas yang paling tinggi dikarenakan
komposisi tepung ikan yang paling rendah yaitu 30%. Kandungan lemak yang terlalu tinggi pada bahan baku pupuk dapat memperlambat proses pengomposan. Hal ini disebabkan aktivitas mikroba pengurai bahan organik yang terhambat oleh tingginya kandungan lemak, terutama dari golongan bakteri (Sutanto 2002). 4.2.2 Perubahan suhu
Suhu merupakan salah satu parameter penting dalam proses pengomposan. Selama proses pengomposan, panas dihasilkan dari aktifitas mikroba saat proses pencernaan bahan organik. Perubahan suhu pupuk bokashi selama proses pengomposan disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4 Grafik perubahan suhu pupuk bokashi selama proses pengomposan Gambar 4 menunjukkan perbedaan pola perubahan suhu pada setiap