• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAN SUMBER INFORMAS

2. TINJAUAN PUSTAKA

3.3 Prosedur Penelitian

Pengambilan contoh (sampling) larva ikan dilakukan sebanyak 5 kali. Pengambilan contoh ke-1 dan ke-2 memiliki rentan waktu 2 minggu dan kemudian untuk selanjutnya pengambilan contoh dilakukan dalam rentan waktu sebulan sekali. Pada pengambilan contoh ke-1 pada tanggal 19 Maret 2011 sampel larva ikan tidak ditemukan karena bertepatan dengan bulan terang. Oleh karena itu, pengambilan contoh dilakukan pada saat bulan gelap yang jatuh pada sekitar tanggal 29 akhir bulan hingga tanggal 3 pada awal bulan, sehingga pengambilan contoh dilakukan sebulan sekali. Pengambilan contoh larva ikan awalnya yaitu pada pengambilan contoh ke-1 (19 Maret 2011) dan ke-2 (1 April 2011) dilakukan di daerah Cimandiri, Cikeueus, Citepus dan Sukawayana, akan tetapi karena adanya keterbatasan teknis maka pengambilan sampel larva ikan di daerah Cimandiri dan Cikeueus dipindahkan ke daerah Cimaja dan Citiis pada pengambilan contoh ke-3 (30 April 2011), ke-4 (30 Mei 2011) dan ke-5 (3 Juli 2011).

Kegiatan penelitian ini dilakukan di lapang dan di laboratorium. Kegiatan di lapang meliputi penentuan lokasi titik sampling menggunakan GPS, pengambilan contoh larva ikan di laut sekitar muara Sungai Cimaja, Citiis, Citepus, dan Sukawayana menggunakan larva net dengan mesh zise 350-500 μm, diameter 60 cm dan menggunakan waring berbentuk persegi berukuran 1m x 1m dengan mesh size 0.5 cm. Pengambilan contoh larva di lokasi sekitar laut dilakukan pada pagi dini hari dari pukul 03.00-07.00 dengan cara menyisir kolom perairan secara horizontal melawan arus selama 10-15 menit menggunakan perahu fiber yang panjangnya sekitar 8 meter dengan lebar 2 meter dan tinggi 75 cm pada kecepatan ± 3 knot sebanyak tiga hingga lima kali ulangan. Selain itu, sampel larva juga diambil dari

bagan yang beroperasi di laut sekitar muara Sungai Cimaja, Citiis, Citepus dan Sukawayana. Pengambilan sampel larva juga dilakukan di muara Cimaja, Citiis, Citepus dan Sukawayana arah sungai pada sore hari pukul 16.00-18.00 menggunakan alat tangkap sirib berbentuk segitiga sama kaki dengan panjang alas 1 m dan panjang sisi kaki 1.5 m. Selanjutnya dilakukan penyusuran dari muara sungai ke arah hulu dengan jarak ± 5 m dan dengan penangkapan dilakukan pula berdasarkan arus dan gelombang yang datang ke arah muara sungai dengan lama waktu 30 menit. Larva ikan yang ditemukan kemudian dikumpulkan dan diawetkan dalam formalin 4%. Kegiatan dilapang juga meliputi wawancara yang dilakukan kepada nelayan payang dan bagan (16 orang) untuk mengetahui harga ikan pepetek dan biaya operasional selama satu kali trip melaut, serta nelayan yang mengoperasikan alat tangkap pancing ulur dan rawai (8 orang) untuk mengetahui harga ikan layur dan biaya operasional dalam penangkapan ikan layur.

Kegiatan di laboratorium meliputi, pengantian formalin 4% dengan alkohol 70% untuk mengawetkan sampel larva ikan, menghitung jumlah individu larva dan juvenil ikan, kemudian dilakukan identifikasi dengan menggunakan petunjuk buku identifikasi larva ikan (Leis and Ewart 2000, Allen 1999, Fischer and Whitehead 1974) serta dengan bantuan mikroskop binokuler (Olympus CH2O) perbesaran 4 kali yang dilakukan di Laboratorium Biologi Makro II.

Identifikasi larva ikan menggunakan buku karangan Leis and Ewart 2000, dilakukan dengan cara mengukur proporsi tinggi tubuh (body deep = BD) terhadap panjang tubuh (body length = BL) yang kemudian akan dibedakan berdasarkan kategori very elongate, elongate, moderate, deep, dan very deep. Larva ikan yang dimasukkan dalam kategori very elongate jika BD < 10% BL, elongate BD 10-20% BL, moderate BD 20-40% BL, deep BD 40-70% BL dan very deep BD >70% BL. Setelah itu, untuk mengetahui jenis larva ikan tersebut dilakukan dengan bantuan mikroskop untuk melihat pigmentasi yang terdapat pada tubuh, melihat bentuk mulutnya, serta menghitung jumlah siripnya. Identifikasi ikan stadia juvenil dengan cara menyamakan larva ikan dengan gambar pada literatur karangan Allen 1999 dan Fischer and Whitehead 1974 yang dilihat berdasarkan pewarnaan tubuh, kelengkapan sirip, dan bentuk mulut. Larva dan juvenil ikan dibedakan berdasarkan warna tubuh dan kelengkapan sirip-siripnya. Larva ikan memiliki tubuh yang masih

transparan, blok-blok urat daging/myomer terlihat serta siripnya yang belum lengkap, sedangkan juvenil memiliki tubuh yang sudah menyerupai ikan stadia dewasa hanya ukurannya yang masih relatif kecil. Setelah dilakukan identifikasi, contoh larva dan juvenil ikan ditimbang kemudian difoto menggunakan dinolite yang dilakukan di Laboratorium Biologi Mikro 1, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

3.4 Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini meliputi data produksi hasil tangkapan ikan pepetek (Secutor indicius) dan ikan layur (Lepturacanthus savala) yang didaratkan di PPN Palabuhanratu serta upaya penangkapan (jumlah kapal, alat tangkap, dan trip) yang digunakan dalam perhitungan model bioekonomi stok dan potensi sumberdaya ikan tersebut. Ikan pepetek (Secutor indicius) dan ikan layur (Lepturacanthus savala) ditentukan untuk dikaji secara ekonomi menggunakan model bioekonomi Gordon-Schaefer yaitu berdasarkan data kelimpahan larva ikan yang paling dominan ditemukan saat pengambilan contoh berlangsung, memiliki nilai ekonomis penting serta memiliki data statistik yang mendukung. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penelusuran literatur terhadap beberapa data statistik yang relevan dengan penelitian ini. Data-data tersebut diperoleh dari Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPNP).

3.5 Analisis Data

3.5.1 Kekayaan Spesies (Species Richness)

Kekayaan spesies dijelaskan dengan menhinick index, yaitu dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

D : Indeks Kekayaan Jenis

S : Jumlah spesies dalam suatu sampel N : Jumlah sel dari suatu spesies

3.5.2 Kepadatan populasi

Kepadatan populasi menunjukan rataan individu suatu jenis larva ikan per stasiun dari seluruh contoh yang diamati, yaitu menggunakan rumus:

Keterangan:

∑Xi = jumlah total individu jenis larva i n = luas seluruh stasiun contoh (m2)

Kepadatan populasi (Ind/m3) yang didapatkan akan digunakan untuk menganalisis tingkat keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi serta pola penyebaran spesies larva ikan

3.5.3 Kelimpahan Larva Ikan

Kelimpahan larva ikan didefinisikan sebagai banyaknya larva ikan per satuan luas daerah pengambilan contoh dihitung dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

N = Kelimpahan Larva ikan ( ind/m3) n = Jumlah Larva ikan yang tercacah (ind) Vtsr = Volume air tersaring (Vtsr = l x t x v) l : Luas bukaan mulut saringan

t : Lama waktu penarikan saringan (menit) v : Kecepatan tarikan (m/menit)

3.5.4 Struktur Komunitas Larva Ikan

Menurut Basmi (1999) tiga unsur pokok dalam komunitas adalah jumlah macam spesies, jumlah individu masing-masing spesies dan total individu dalam komunitas. Hubungan ketiga komponen ini digambarkan melalui Indeks Keanekaragaman. Indeks Shannon-Weaver merupakan salah satu Indeks Diversitas atau Keanekaragaman dengan rumus :

Kerangan:

H’ : Indeks Diversitas Shannon-Wiener s : Jumlah spesies dalam komunitas larva Pi : Sebagai proporsi jenis ke-i

ni : Jumlah total individu larva i

N : Jumlah seluruh individu dalam total n

Indeks Keseragaman digunakan untuk melihat keseragaman dari suatu komunitas dengan rumus :

Hmax = ln S

Keterangan:

E : Indeks Keseragaman

H’ : Indeks Diversitas atau Keanekaragaman S : Jumlah spesies

Indeks Simspon merupakan salah satu indeks untuk mengetahui jenis larva yang mendominasi di suatu perairan, persamaan Indeks Simpson adalah:

Keterangan:

C : Indeks Dominansi

s : Jumlah spesies dalam komunitas larva Pi : Sebagai proporsi jenis ke-i

ni : Jumlah total individu larva i

N : Jumlah seluruh individu dalam total n

3.5.5 Analisis Bioekonomi

Dalam penelitian ini akan menduga kondisi stok ikan serta pemanfaatannya berdasarkan model bioekonomi. Metode dalam menganalisis bioekonomi terdiri dari analisis fungsi produksi lestari perikanan tangkap dan analisis bioekonomi model statik Gordon Schaefer. Analisis fungsi produksi lestari perikanan tangkap digunakan untuk menentukan tingkat pemanfaatan maksimum, sedangkan analisis bioekonomi model statik Gordon-Schaefer untuk menentukan tingkat pengelolaan maksimum bagi pelaku perikanan.

Ikan pepetek dan ikan layur dipilih untuk dikaji secara bioekonomi karena selama penelitian berlangsung ikan ini banyak tertangkap dalam stadia larva dan juvenil. Selain itu, ikan ini memiliki nilai ekonomis penting serta kedua ikan ini memiliki data statistik yang relevan untuk digunakan dalam pengkajian model bioekonomi. Dengan demikian dapat diketahui kondisi stok ikan pepetek dan layur saat dewasa serta dapat diketahui pula keuntungan ekonomi yang akan didapat yang kemudian akan dikaitkan dengan ekologi larva ikan.

3.5.6.1 Analisis fungsi produksi lestari perikanan tangkap

Perubahan stok ikan merupakan fungsi pertumbuhan stok ikan. Pertumbuhan stok ikan dipengaruhi oleh stok ikan (x), laju pertumbuhan intrinsik (r) dan kapasitas daya dukung (K). Metode ini disebut surplus produksi dengan persamaan sebagai berikut:

... (1)

Keterangan :

= Laju pertumbuhan biomass

f(x) = Fungsi pertumbuhan biomass ikan

x = Biomass dari stok yang diukur dalam berat r = Laju pertumbuhan instrinsik

k = Daya dukung lingkungan

Bila ada upaya penangkapan ikan yang produksinya (H) diasumsikan berhubungan linier dengan koefisien daya tangkap (q), stok ikan (x) dan upaya atau effort (E) yang dinyatakan dengan fungsi berikut :

... (2)

Keterangan :

h = Produksi

q = Koefisien daya tangkap x = Biomass stok ikan E = Upaya penangkapan

dengan adanya intervensi manusia melalui aktifitas penangkapan, maka perubahan stok ikan menjadi :

Pada kondisi keseimbangan ekologi, dimana dx/dt = 0 maka stok ikan (x) dapat ditulis sebagai berikut :

... (4)

sehingga dengan mensubtitusikan persamaan (4) ke dalam persamaan (2), akan diperoleh fungsi upaya produksi (yield effort curve) atau fungsi produksi lestari yang dapat ditulis :

... (5)

dari persamaan (5) dapat diturunkan menjadi kurva CPUE yang linier, yaitu dengan membagi kedua sisi pesamaan dengan E sehingga menghasilkan :

... (6)

atau bila persamaan tersebut diatas disederhanakan menjadi :

... (7)

U = H/E = CPUE

... (8) ... (9)

Melalui teknik regresi antara variable U dan E dari runtun waktu yang tersedia, maka dapat diperoleh nilai-nilai koefisien α dan β. Kemudian dengan mensubtitusikan persamaan (8) dan (9) ke fungsi produksi lestari pada persamaan (5), akan diperoleh fungsi produksi lestari dalam bentuk yang lain, yaitu :

² ... (10)

dari persamaan (7) sampai (10) akan diperoleh laju pertumbuhan intrinsik ikan (r), koefisien daya tangkap (q) dan kapasitas daya dukung (K). Teknik inilah yang disebut dengan model Schaefer.

Nilai MSY diperoleh dengan menggunakan kurva yield effort terhadap E atau dH/dE = 0

dengan demikian produksi ikan pada tingkat MSY diperoleh dengan mensubtitusikan nilai EMSY tersebut ke persamaan (10) :

Hasil subtitusi tesebut menghasilkan persamaan sebagai berikut :

... (12)

sedangakan stok ikan (x) pada tingkat MSY dapat diperoleh dengan mensubtitusikan nilai EMSY = α/2β ke persamaan (4), sehingga stok pada keseimbangan ekologis

(XMSY) :

... (13)

3.5.6.2 Konsep Maximum Economic Yield (MEY) atau optimal statis

Analisis keuntungan ekonomi digunakan melalui pendekatan statis Gordon- Schaefer. Keuntungan ekonomi yang diperoleh dari pemanfaatan sumberdaya perikanan merupakan selisih antara total penerimaan (total revenue) dengan total biaya yang dikeluarkan dalam melakukan usaha penangkapan (total cost). Secara matematis dapat dituliskan :

π = TR – TC

π = pH – cE ... (14) Keterangan :

π = Keuntungan dari upaya pemanfaatan sumberdaya (Rp) TR = Total penerimaan (Rp)

TC = Total biaya (Rp) p = Harga (Rp)

Pada kondisi MEY, stok ikan (x), upaya (E) dan produksi (H) dapat diperoleh dengan memasukan fungsi produksi lestari pada persamaan (5) ke dalam fungsi rente sumberdaya :

π = p ( – cE ... (15) nilai EMEY diperoleh dengan menurunkan persamaan (15) terhadap upaya dπ/dE=0,

sehingga diperoleh :

... (16)

dengan asumsi dalam keseimbangan lestari F(x) = H sehingga stok ikan pada kondisi MEY, xMEY diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan (1), fungsi

pertumbuhan F(x), dan fungsi upaya (H/qx), dari persamaan (2), ke dalam persamaan keuntungan (π), fungsi rente sumberdaya, dan kemudian membuat dπ/dE = 0

... (17)

sehingga HMEY dapat diperoleh dengan mensubtitusikan EMEY dan XMEY ke dalam

persamaan (2) :

Kondisi ini disebut optimal statis Kondisi open access π = 0, sehingga

... (19)

Untuk mencari tingkat produksi pada kondisi open access, HOA adalah dengan

mensubtitusikan persamaan (19) ke persamaan (1) :

... (20)

Dengan demikian tingkat upaya EOA, dapat dicari dari persamaan (2), yaitu :

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Teluk Palabuhanratu merupakan perairan pantai selatan Jawa Barat yang memiliki hubungan dengan Samudera Hindia dan tempat bermuaranya beberapa sungai seperti Sungai Cimandiri, Cikeueus, Citepus, Cimaja, Citiis, Sukawayana, Cidadap, Cipalabuhan dan Cibareno. Daerah muara sungai merupakan daerah yang sangat subur karena mengandung sejumlah besar zat-zat hara yang berasal dari darat, sehingga daerah ini dijadikan sebagai daerah asuhan (nursery ground) dan tempat mencari makan (feeding ground) bagi kehidupan larva dan juvenil ikan.

Pengambilan contoh larva dan juvenil ikan dilakukan di muara arah sungai dan laut sekitar muara sungai Cimaja, Citiis, Citepus dan Sukawayana. Pada awalnya, yaitu pada pengambilan contoh ke-1 (19 Maret 2011) dan pengambilan contoh ke-2 (1 April 2011) lokasi penelitian berada di Cimandiri, Cikeueus, Citepus dan Sukawayana, namun lokasi di Cimandiri dan Cikeueus dipindahkan ke daerah Cimaja dan Citiis pada pengambilan contoh ke-3 (30 April 2011), ke-4 (30 Mei 2011) dan ke-5 (3 Juli 2011). Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan teknis yang tidak mendukung untuk dilakukannya penelitian di daerah tersebut dan adanya pembangunan PLTU serta tidak didapatkannya contoh larva dan juvenil ikan di lokasi Cimandiri dan Cikeueus.

Ada sebuah tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat sekitar Teluk Palabuhanratu. Tradisi ini dikenal dengan sebutan “ngala impun/nyalawean”. Ribuan warga baik anak-anak maupun orang tua membaur di hilir sungai Cimandiri, Citepus, Cimaja, Citiis, Sukawayana hingga sungai Cibareno yang berbatasan dengan Banten untuk melakukan penjaringan impun menggunakan alat tangkap berbentuk segiempat ataupun segitiga yang disebut dengan “sirib”. Impun merupakan sumberdaya hayati perairan yang sangat terkenal oleh masyarakat Palabuhanratu sebagai sumber pangan, dan memiliki rasa yang enak serta menjadi penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar. Tradisi tersebut ternyata bila dikaji lebih dalam dapat menyebabkan putusnya perkembangbiakan beberapa jenis ikan karena “impun” yang ditangkap merupakan sumberdaya ikan dalam stadia larva dan juvenil. Hasil tangkapan dari tradisi ini biasanya dikonsumsi pribadi atau dijual

dengan harga berkisar Rp 25000-45000/kg. Ngala impun/nyalawean biasa dilakukan di daerah muara sungai sekitar Teluk Palabuhanratu tanggal 25 setiap bulan yang mengikuti kalender hijriah dan biasanya melimpah pada bulan Juni- Juli.

Gambar 10. Tradisi ngala impun di muara sungai sekitar Teluk Palabuhanratu

Selain adanya tradisi ngala impun/nyalawean yang menangkap larva dan juvenil ikan, nelayan di Teluk Palabuhanratu juga banyak mengoperasikan alat tangkap yang tidak selektif dengan ukuran mata jaring yang relatif kecil, seperti bagan yang juga memungkinkan tertangkapnya ikan pada stadia larva dan juvenil. Penelitian ini juga meninjau lebih dalam komposisi larva ikan yang tertangkap dalam bagan.

4.1.1 Cimaja

Lokasi muara Sungai Cimaja terletak pada geografis 6˚56’56.90” LS” dan 106˚29’29.20’’BT. Muara Sungai Cimaja terletak di Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak. Muara Sungai Cimaja merupakan tempat bermuaranya aliran sungai Cimaja. Muara sungai ini akan berhulu di perairan Teluk Palabuhanratu yang akhirnya akan mengalir ke Samudera Hindia, karena perairan Teluk Palabuhanratu mempunyai hubungan bebas dengan Samudera Hindia. Lokasi di muara sungai ini didominasi oleh substrat pasir berbatu. Lebar mulut sungai sekitar 3-5 meter dan memiliki debit aliran yang cukup deras. Muara Cimaja arah sungai memiliki air yang cukup jernih dan kekeruhan yang retatif rendah yaitu berkisar 4.05-7.00 NTU dan di muara Cimaja arah laut 0.65-1.02 NTU. Muara Cimaja arah sungai memiliki salinitas 0-8.7‰ dan muara Cimaja arah laut berkisar 29-30‰. Di sekitar muara sungai Cimaja terdapat kegiatan penambangan pasir dan batu kali.

Gambar 11. Lokasi muara Sungai Cimaja

4.1.2 Citiis

Muara Sungai Citiis terletak pada geografis 6˚56’56.30 LS” dan 106˚28’28.50’’BT. Muara Sungai Citiis terletak di Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok. Muara sungai ini akan berhulu di perairan Teluk Palabuhanratu yang akhirnya mengalir ke Samudera Hindia. Lokasi ini memiliki karakter fisik yang hampir sama dengan lokasi yang berada di muara Sungai Cimaja yaitu didominasi oleh substrat pasir berbatu, lebar mulut sungai juga berkisar 3-5 meter dan memiliki debit aliran yang cukup deras. Di sekitar muara Sungai Citiis juga terdapat kegiatan penambangan pasir dan batu kali. Muara Citiis arah sungai memiliki salinitas 0.5- 25‰ dan kekeruhan berkisar 2.55-12.5 NTU. Muara Citiis arah laut memiliki salinitas 30.5-30.65‰ dan kekeruhan berkisar 0.4-0.75 NTU. Muara arah sungai memiliki salinitas yang lebih rendah dan kekeruhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan muara arah laut yang bersalinitas lebih tinggi dan kekeruhan yang rendah.

4.1.3 Citepus

Muara Sungai Citepus terletak pada geografis 6˚57’70.00 LS” dan 106˚32’00.00’’BT. Muara Sungai Citepus terletak di Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu. Wilayah pesisir daerah Citepus yaitu ± 1,351.49 Ha (Hartami 2008). Aktivitas masyarakat di sekitar muara Sungai Citepus cukup tinggi, dimana kawasan ini dijadikan sebagai tempat wisata karena memiliki panorama yang cukup indah dan memiliki pantai yang cukup luas. Dari pantauan terhadap sekeliling di sekitar lokasi ini terdapat perhotelan dan pemukiman warga. Tingginya aktivitas wisata yang dilakukan di lokasi ini menyebabkan banyak terdapat sampah anorganik berupa plastik bungkusan makanan. Lokasi ini didominasi oleh substrat pasir berlumpur. Muara Sungai Citepus memiliki debit aliran yang tenang. Berdasarkan pengamatan muara Sungai Citepus sedikit berwarna kecoklatan dan memiliki tingkat kekeruhan yang cukup tinggi yaitu berkisar 16.5-18 NTU. Salinitas di muara arah sungai berkisar 3.8-5.4‰. Muara arah laut memiliki kekeruhan 0.48-1.7 NTU dan salinitas berkisar 30.5-31.5‰.

Gambar 13. Lokasi muara Sungai Citepus

4.1.4 Sukawayana

Muara Sungai Sukawayana terletak pada geografis 6˚57’48.24 LS” dan 106˚31’00.00’’BT. Muara Sungai Sukawayana terletak di Desa Sukawayana, Kecamatan Cikakak. Muara Sungai Sukawayana di dominasi oleh substrat pasir berbatu dan memiliki debit aliran yang cukup deras. Lebar mulut sungai berkisar 3-5 meter. Di samping muara sungai ini terdapat suatu pemukiman warga dan muara sungai ini dijadikan sebagai sumber air bersih untuk mandi dan mencuci (MCK). Di

sekitar muara Sungai Sukawayana juga terdapat pepohonan. Muara sungai ini memiliki salinitas berkisar 7.3-15.6‰ dan kekeruhan berkisar 3-14 NTU. Muara Sukawayana arah laut memiliki salinitas 30-31.5‰ dan kekeruhan 0.6-1 NTU.

Gambar 14. Lokasi muara Sungai Sukawayana

4.2 Komposisi Hasil Tangkapan

Jumlah hasil tangkapan larva dan juvenil ikan yang diperoleh selama penelitan dari bulan Maret-Juli 2011 yaitu sebanyak 5585 individu yang terdiri atas 130 individu yang ditemukan pada lokasi muara arah laut menggunakan alat tangkap larva net dan waring, 3909 individu yang ditemukan di muara arah sungai menggunakan alat tangkap berupa sirib, dan 1546 individu yang ditemukan dalam sampel bagan (±100-200 gram). Hasil tangkapan selama penelitian berlangsung tidak hanya ikan pada stadia larva dan juvenil saja yang ditemukan, namun ada pula ikan yang sudah mencapai stadia dewasa yaitu ikan teri famili Engraulididae (6856 individu). Ada pula ikan yang ditemukan pada fase pra dewasa yaitu jenis dari Sicyopterus microcephalus (1 individu), S. cyanocephalus (10 individu) dan S. longifilis (1 individu) serta ditemukan pula larva non-ikan berupa udang sebanyak 1152 individu. Komposisi hasil tangkapan selama bulan pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 1.

Spesies larva dan juvenil ikan yang ditemukan pada lokasi muara arah sungai sebanyak 14 jenis, 21 jenis yang ditemukan pada lokasi muara arah laut dan 16 jenis yg ditemukan dalam sampel bagan. Beberapa jenis diantaranya terdapat pada dua lokasi tersebut yaitu, di muara arah sungai, muara arah laut dan bagan yang letaknya lebih jauh ke arah laut, dimana jenis-jenisnya terdiri dari famili Elopidae (Megalops

cyprinoides), Gobiidae (Sicyopterus sp.), Cynoglossidae (Cynoglossus sp.), Microcanthidae (Microcanthus sp.), Carangidae (Caranx sp.), Clupeidae (Sardinella sp.) dan Mugilidae. Jenis larva dan juvenil ikan ini memiliki kisaran toleransi yang luas terhadap salinitas (euryhaline) dilihat berdasakan ditemukannya jenis tersebut pada kedua lokasi yang memiliki perbedaan salinitas. Jadi, total spesies yang ditemukan pada lokasi muara arah sungai, muara arah laut serta bagan berjumlah 36 jenis.

Secara keseluruhan, komposisi hasil tangkapan di muara arah sungai lebih banyak dibandingkan dengan muara arah laut. Begitu pula dengan jenis yang dominan ditemukan selama penelitian pun berbeda antara kedua lokasi tersebut. Hal ini dikarenakan perbedaan dimensi dan karakteristik lingkungan, dimana lokasi di muara arah sungai memiliki salinitas yang berfluktuatif berkisar 0-25‰, dangkal (30-100 cm), luas area yang lebih sempit dan alat tangkap yang lebih terkontrol, sedangkan muara arah laut cenderung memiliki salinitas yang lebih tinggi berkisar 30-31.5‰, lebih dalam (4-5 m), luasan area yang lebih luas dan alat tangkap yang sulit dikontrol. Komposisi hasil tangkapan selama penelitian dari bulan Maret–Juli 2011 spesies yang sering ditemukan di muara arah sungai yaitu Sicyopterus sp. dan Ambassis vachelli, sedangkan komposisi hasil tangkapan yang paling banyak ditemukan di muara arah laut dan bagan yang lebih menjorok ke arah laut adalah Secutor indicius. Secutor indicius merupakan jenis ikan yang berasosiasi dengan laut sedangkan Sicyopterus sp. dan Ambassis vachelli merupakan jenis ikan yang berasosiasi dengan air tawar.

Pada contoh larva ikan yang diambil dari bagan, ikan teri famili Engraulididae juga ditemukan dalam jumlah yang cukup banyak. Hal ini dikarenakan, bagan merupakan alat tangkap dengan ukuran mata jaring yang sangat kecil (0.3 cm) dan ditargetkan untuk menangkap ikan-ikan kecil seperti ikan teri. Namun demikian, alat tangkap ini tidak selektif yang menyebabkan ikan tertangkap dari berbagai ukuran dari ikan-ikan kecil hingga ikan besar, bahkan ikan dalam stadia larva dan juvenil pun ikut tertangkap dalam bagan. Jenis-jenis larva dan juvenil ikan yang tertangkap dalam bagan dapat dilihat pada Lampiran 1.

Selain hasil dari bagan, ikan famili Engraulididae ini juga banyak ditemukan di muara arah laut hasil dari menyisiri kolom perairan menggunakan larva net dan

waring. Menurut Effendi (1997) in Nursid (2002) famili Engraulididae memijah sepanjang tahun, sehingga ikan ini banyak ditemukan selama penelitian berlangsung. Menurut Nontji (2005) meskipun ikan teri dewasa banyak dijumpai di perairan payau namun telurnya tak dapat ditemukan pada salinitas yang kurang dari 17 0/00.

Komposisi ikan famili Engraulididae di tiap bulan pengamatan dapat dilihat pada Lampiran1.

Hasil tangkapan larva dan juvenil ikan bayak ditemukan pada bulan gelap, karena ketika pada pengambilan contoh ke-1 bertepatan pada bulan terang yaitu pada tanggal 19 Maret 2011 tidak ditemukannya larva dan juvenil ikan. Hal ini

Dokumen terkait