BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Prosedur Penentuan Tarif Sewa Bis Pariwisata
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung oleh pihak-pihak yang terkait untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Pada teknik ini digunakan untuk mengetahui secara jelas tentang gambaran umum perusahaan.
2. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung pada objek penelitian untuk memperjelas wawancara serta untuk memperoleh gambaran yang nyata mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan perusahaan jasa transportasi Po BIMO.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melihat dan menyalin data atau catatan diperusahaan otobis sehingga dapat dijadikan sebagai pendukung untuk memecahkan permasalahan yang diteliti.
E. Teknik Analisis Data
Dalam proses menganalisis data, prosedur-prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Teknik analisis deskriptif
Analisis deskriptif dilakukan dengan cara menyajikan data hasil penelitian mengenai elemen-elemen yang berkaitan dengan penentuan tarif sewa bis pariwisata.
2. Teknik analisis komparatif
Analisis komparatif dilakukan dengan cara memahami data dan membandingkan antara hasil temuan lapangan dengan teori yang ada. Prosedur-prosedur yang ditempuh, yaitu:
a. Untuk menjawab masalah pertama
1) Mendeskripsikan prosedur-prosedur penentuan tarif sewa bis pariwisata yang telah diterapkan oleh Po BIMO Yogyakarta. 2) Mendeskripsikan prosedur-prosedur penentuan tarif sewa bis
pariwisata menurut teori. Dalam hal ini menggunakan metode
cost plus pricing pendekatan full costing.
3) Melakukan analisis kritis, yaitu melakukan perbandingan antara prosedur-prosedur penentuan tarif sewa bis pariwisata yang telah ditentukan oleh pihak perusahaan dengan prosedur-prosedur penentuan tarif sewa bis pariwisata sesuai dengan teori yang dilakukan oleh penulis kemudian ditarik kesimpulan
apakah dalam prosedur-prosedur penentuan tarif sewa bis pariwisata tersebut sudah tepat atau belum.
b. Untuk menjawab masalah yang kedua.
1) Menyajikan data tarif sewa bis pariwisata berdasarkan perhitungan pihak perusahaan.
2) Menghitung tarif sewa bis pariwisata berdasarkan perhitungan peneliti dengan metode cost plus pricing dengan pendekatan
full costing.
3) Melakukan analisis kritis, yaitu melakukan perbandingan antara penentuan besar tarif sewa bis pariwisata yang berlaku di Po BIMO, dengan penentuan besar tarif sewa bis pariwisata berdasarkan metode cost plus pricing dengan pendekatan full costing, kalau ada selisih maka dinyatakan dengan persentase, dengan rumus:
% selisih tarif =
Keterangan: A = Tarif sewa bis pariwisata menurut teori. B = Tarif sewa bis pariwisata menurut Po BIMO Untuk menilai ketepatan tarif sewa bis pariwisata yang berlaku di perusahaan, peneliti menetapkan kriteria sebagai berikut: a) Kurang tepat, apabila selisih < -5 % atau selisih > 5 % b) Tepat, apabila selisih = -5 % atau selisih = 5 %
Angka-angka tersebut diatas diambil berdasarkan batas-batas penyimpangan yang lazim dapat diterima.
% 100 B B -A ×
30 BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah Perkembangan Perusahaan
Po BIMO adalah salah satu perusahaan bis di Daerah Istimewa Yogyakarta yang bergerak di bidang transportasi yang khusus melayani angkutan pariwisata.
Po BIMO transport didirikan di Yogyakarta pada tanggal 12 Juni 1986 oleh Bapak Subagyo HS dengan NPWP 07.840.453.0-542.000 dengan nama Po BIMO. Dengan berjalannya waktu ada lima kali penggantian kepengurusan di Po BIMO yaitu yang pertama Bapak Masudiono, Ibu Sri, Bapak Sutrisno, Bapak Hanifudin, Ibu Anata, dan terakhir yang menjadi pengurus sekarang adalah Bapak Wibowo sebagai
General Manager.
Perusahaan mulai beroperasi pada tanggal 12 Juni 1986 yang awal mulanya berlokasi di Jl. Wonosari km 7,2 di Banguntapan Bantul Yogyakarta. Pemilihan tempat daerah Banguntapan sebagai tempat pendirian kantor perusahaan sekaligus sebagai garasi kendaraan. Di tempat tersebut menjadi keuntungan bagi pemilik Karena tempatnya strategis dan di pinggir jalan sehingga memudahkan dalam pengawasan. Po BIMO mempunyai visi dan misi, yaitu:
1. Visi
b) Memberikan pelayanan terbaik dalam menggunakan bis dari Po BIMO.
c) Mensejahterakan karyawan. 2. Misi
a) Mempererat hubungan kerjasama antara biro jasa lain.
b) Melaksanakan tugas dalam bidang transportasi untuk menghasilkan perusahaan yang diminati oleh masyarakat.
Pada awal mula pendirian usaha ini adalah angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) yang melayani jurusan Yogyakarta-Wonosari yang mulai dirintis tahun 1986. Tahun 1986 perusahaan memulai usahanya dengan membeli bis non AC sebanyak 5 unit. Pada tahun 1993 perusahaan mulai menekuni angkutan pariwisata yang pada saat itu membeli 2 unit bis AC, karena perkembangannya semakin bagus dari tahun ke tahun maka jumlah bisnya semakin tambah hingga pada akhir tahun 1999 jumlah bisnya adalah non AC 5 unit, bis AC 8 unit bis besar dan 2 unit mikro bis. Pada tahun 2000 karena dinilai tidak efisien bis non AC yang melayani angkutan Antar Kota Dalam Propinsi dijual, hasil penjualannya dibelikan bis AC sebanyak 3 unit. Pada tahun 2001 perusahaan menambah 4 unit bis kemudian pada tahun 2002 menambah lagi 2 unit bis. Pada tahun 2003 perusahaan menambah 10 unit bis sehingga total armada kita sebanyak 27 unit bis terdiri dari 25 bis besar dan 2 unit mikro bis. Untuk tahun 2004 menambah armada lagi sebanyak 5 unit sehingga total bis sampai saat ini sebanyak 30 bis besar dan 2 bis mikro.
B. Lokasi Perusahaan
Sejak berdirinya pada tanggal 12 Juni 1986 sampai tahun 2005 Po BIMO memiliki kantor di Jl. Wonosari km 7,2 Banguntapan Bantul kemudian pindah ke tempat baru pada tanggal 15 April 2005 dengan alamat Jl. Berbah, Kadisono, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Pemilihan lokasi kantor yang baru sudah menjadi pertimbangan karena di lokasi yang baru memiliki tempat yang lebih luas sekitar 3000 m dan tanahnya lebih murah sehingga kantor beserta armada dapat tertampung semua karena di tempat yang lama armada tidak dapat tertampung semua.
C. Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi merupakan perwujudan yang menunjukkan hubungan diantara fungsi- fungsi dalam suatu organisasi serta wewenang dan tugas jabatan setiap anggota organisasi yang menjalankan tugasnya.
Struktur organisasi yang digunakan oleh Po BIMO dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 1 Struktur Organisasi Po BIMO
Adapun tugas dan wewenang masing- masing bagian dalam organisasi Po BIMO sebagai berikut:
1. General Manager
a. Bertanggung jawab penuh atas seluruh kegiatan perusahaan.
b. Mengelola perusahaan dan membuat keputusan serta kebijaksanaan penting lainnya.
c. Bertanggung jawab atas seluruh keuntungan dan kerugian. d. Mengkoordinator perusahaan serta penilaian kinerja karyawan. 2. Marketing
a. Memasarkan dan menjual jasa.
b. Bertanggung jawab atas pemasaran secara total. 3. Administrasi dan keuangan
a. Mencatat semua biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam setiap operasinya. GENERAL MANAGER Operasional Marketing Administrasi dan Keuangan Staff Kepala Bengkel Kepala Transport
Kepala Supir/Kernet
Montir Supir dan
b. Mencatat semua pemasukan perusahaan.
c. Membuat laporan keuangan dan neraca perusahaan. 4. Operasional
Mengawasi kelancaran kegiatan perusahaan dilapangan. 5. Kepala bengkel
Mengatur tugas-tugas dan kewajiban para montir. 6. Kepala Transport
Melakukan pengelolaan dan tata usaha kendaraan serta mengendalikan dan memelihara sarana transportasi yang diperlukan sehingga operasional kendaraan dapat berjalan lancar.
7. Kepala Sopir atau Kernet.
Mengatur tugas-tugas dan kewajiban para pengemudi dan kernet. 8. Montir
Memperbaiki mesin- mesin kendaraan yang rusak. 9. Sopir
a. Menjalankan kendaraan yang dipercayakan kepadanya dengan sebaik-baiknya.
b. Menjaga keselamatan dan ketentraman penumpang serta kondisi kendaraan yang menjadi tanggung jawabnya.
c. Melapor kepada pimpinan bila terjadi kerusakan pada kendaraan. 10.Kernet
a. Bertanggung jawab atas keberhasilan operasional bis baik sebelum dan sesudah pemakaian.
b. Membantu konsumen yang membutuhkan pertolongan atau pelayanan mendadak.
c. Turut membantu sopir sebagai navigator dalam perjalanan. 11.Pembantu montir.
Melaksanakan tugas yang berkaitan dengan perbengkelan untuk menunjang kegiatan operasional kendaraan.
D. Pemasaran
Perusahaan otobis di Yogyakarta sekarang ini semakin banyak, maka setiap perusahaan otobis harus berusaha untuk mengatasi persaingan. Demikian juga ha lnya dengan Po BIMO. Usaha yang dilakukan oleh Po BIMO untuk mengatasi persaingan adalah dengan meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen, menjaga kesepakatan harga, dan melaksanakan promosi.
Promosi yang dilakukan oleh Po BIMO melalui: 1. Yello Page.
2. Televisi. 3. Radio.
4. Menyebarkan brosur di kantor-kantor, Biro perjalanan, kampus, sekolah dan tempat-tempat umum.
5. Memasang spanduk yang besar di depan kantor.
Dalam operasi sehari- hari, Po BIMO melayani berbagai kalangan yang membutuhkan mulai dari perorangan, instansi umum, artis, serta
mahasiswa dan pelajar. Dalam luas jangkauan pasarnya Po BIMO meliputi daerah di pulau Jawa Bali dan Sumatera. Untuk daerah pulau Jawa dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Untuk Pulau Sumatera meliputi Jambi, Lampung dan pulau Bali. Untuk wilayah Jawa Tengah meliputi beberapa kota dari Tegal, Pekalongan, Semarang, Salatiga, Jepara, Rembang, Pati, Surakarta, Klaten, Magelang, Wonosobo, Purwokerto, Majenang, Cilacap dan Purworejo. Untuk wilayah Jawa Timur meliputi beberapa kota dari Surabaya, Malang, Kediri, Madiun, Ngawi dan Ponorogo.
E. Personalia
Bagian personalia dalam perusahaan merupakan bagian yang sangat mutlak, karena bagian inilah yang menjalankan perusahaan.
Po BIMO memiliki banyak karyawan atau pekerja untuk membantu dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya. Jumlah karyawan yang bekerja sampai sekarang sebanyak 21 orang karyawan tetap dan 74 karyawan tidak tetap dengan perincian:
Nama Jabatan Karyawan
General Manager 1 Operasional 1
Marketing 1
Administrasi dan Keuangan 1
Staff Kantor 2
Sopir 36
Mekanik 3
Satpam 9
Officeboy 3
Jumlah 95
Untuk pembayaran gaji dan upah karyawan Po BIMO dipisahkan menjadi 2 bagian:
1. Karyawan tetap seperti General Manager, Operasional, Marketing, Administrasi dan Keuangan, Staff Kantor, mekanik, satpam dan office boy. Karyawan ini digaji secara bulanan yang dibayarkan setiap akhir bulan.
2. Karyawan tidak tetap seperti sopir dan kernet. Pembayaran upah karyawan ini dilaksanakan berdasarkan persentase pendapatan operasi yang diperoleh yaitu untuk sopir 10,5 % dan kernet 4,5 % dari penjualan bersih.
Disamping itu pimpinan perusahaan telah menjalankan beberapa kebijakan tambahan demi terciptanya suasana kerja yang aman dan nyaman serta loyalitas karyawan yang tinggi. Kebijakan tersebut:
1. Mengasuransikan keselamatan jiwa setiap karyawan. 2. Memberikan tunjanga n pada hari raya.
3. Memberikan seragam kerja.
4. Memberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapat bagi para karyawan.
5. Memberikan bantuan kepada karyawan bila ada keperluan keluarga misalnya pernikahan, kematian dan lain- lain.
Adapun jumlah jam kerja yang berlaku di perusahaan ini dibagi menjadi dua kelompok:
1. Bagi karyawan tetap, jam kerja yang berlaku mulai dari jam 08.00 sampai 16.00 WIB.
2. Bagi karyawan tidak tetap, jam kerja yang berlaku berbeda dengan karyawan tetap. Karyawan ini bekerja berdasarkan ada tidaknya pesanan yang masuk. Jika ada pesanan, mereka akan bekerja sesuai dengan lamanya waktu yang telah disepakati antara perusahaan dengan konsumen. Selain itu perusahaan juga memberi keleluasaan bagi karyawan untuk tidak bekerja pada hari libur yaitu hari minggu dan hari libur nasional.
F. Bidang Usaha dan Operasional Perusahaan
Po BIMO adalah suatu perusahaan jasa transportasi yang bergerak di bidang penyewaan bis. Kendaraan yang dimiliki perusahaan adalah Bis dengan seat 40-50 buah, mikro bis dengan seat 16-20 buah.
Perusahaan ini melayani permintaan konsumen meliputi beberapa daerah di pulau Jawa-Bali dan Sumatera, tetapi tidak menutup kemungkinan melayani konsumen yang berniat mengadakan perjalanan keluar wilayah itu. Pengoperasian kendaraan tidak dapat ditetapkan waktunya setiap hari mengingat perusahaan hanya dapat beropersi kalau
ada pesanan yang masuk. Apabila tidak ada pesanan yang masuk, kendaraan tidak beroperasi dan akan ada di bengkel.
Untuk meningkatkan usahanya Po BIMO mengadakan kerjasama dengan biro perjalanan tour dan instansi seperti:
1. Kalangan akademisi meliputi: UGM, UII, UPN, UNY, UMY, ATMAJAYA, SANATA DHARMA, UTY, UST, STIE YKPN, STIE WIWAHA dan masih banyak yang lainnya.
2. Kalangan Perbankan meliputi: Bank BPD DIY, BPD Jateng, BNI 46, BCA dan Danamon.
3. Kalangan sekolah meliputi: Sekolah Menengah Umum, Sekolah Menengah Kejuruan, Sekolah Menengah Pertama di Jawa Tengah, Jawa timur maupun Daerah Istimewa Yogyakarta.
4. Kalangan Rumah Sakit meliputi: Rumah Sakit PKU, Rumah Sakit Sardjito.
5. Kalangan Pemerintahan maliputi PEMDA, Departemen Tenaga Kerja, Departemen Pertanian, PDAM, Departemen Kehutanan, Kejaksaan DPRD.
6. Artis seperti JIKUSTIK.
Mengingat selera konsumen terus meningkat dan persaingan yang ketat diantara sesama perusahaan jasa maka perusahaan dituntut agar dapat menerapkan konsep pemasaran dengan tepat. Keuntungan perusahaan dapat diperoleh hanya dengan memuaskan kebutuhan konsumen. Oleh karena itu, Po BIMO menjalankan beberapa kebijakan, yaitu:
1. Penyediaan kendaraan.
a. Mengoperasikan kendaraan yang masih memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
b. Mengoperasikan kendaraan pada jam yang sesuai dengan permintaan konsumen.
c. Bis AC, TV, DVD, TAPE, dan Karaoke. 2. Pelayanan crew pada konsumen.
a. Pengemudi yang berpengalaman dalam pelayanan seperti menjalankan kendaraan dengan kecepatan yang teratur agar konsumen merasa aman dan nyaman.
b. Memberikan pelayanan dan fasilitas yang baik pada konsumen.
G. Permodalan Perusahaan
Po BIMO Yogyakarta merupakan perusahaan besar dan merupakan perusahaan keluarga. Kepemilikan perusahaan oleh Bapak Subagyo HS dan dalam bentuk perseorangan. Permodalan pada perusahaan ini terdiri atas modal sendiri dan pinjaman dari Bank. Jadi dalam pengembangan usaha Po BIMO tidak mengalami kesulitan keuangan atau dana yang dibutuhkan karena sebagian menggunakan modal sendiri. Modal sendiri menurut (Bambang Riyanto, 1995:240) adalah modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan yang tertanam di dalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu lamanya.
H. Data Biaya
Biaya-biaya yang terjadi di Po BIMO terdiri dari: 1. Biaya Ban.
2. Biaya electrical.
3. Biaya STNK dan Jasa Raharja. 4. Biaya oli mesin.
5. Biaya sparepart mesin. 6. Biaya pemeliharaan AC.
7. Biaya perbaikan interior dan body repair. 8. Biaya pajak KIR.
9. Biaya sparepart understeel dan kampas rem. 10.Biaya air accu.
11.Biaya pemeliharaan mesin. 12.Biaya oli gardan.
13.Biaya Audio. 14.Biaya Solar. 15.Biaya Jasa.
16.Biaya penyusutan kendaraan bis. 17.Biaya penyusutan kendaraan kantor. 18.Biaya administrasi kantor.
19.Biaya telepon, listrik dan air. 20.Biaya gaji pegawai.
22.Biaya penyusutan bangunan. 23.Biaya penyusutan inventaris. 24.Biaya penyusutan peralatan 25.Biaya porsneling.
26.Biaya operasional. 27.Biaya lain- lain.
43 BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Dalam bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dan teknik komparatif. Teknik deskriptif adalah menyajikan data hasil penelitian mengenai elemen-elemen yang berkaitan dengan penentua n tarif sewa bis pariwisata. Sedangkan teknik komparatif digunakan untuk memahami data dan membandingkan antara hasil temuan lapangan di perusahaan jasa transportasi Po BIMO dengan teori yang digunakan yaitu metode cost plus pricing dengan pendekatan full costing.
A. Prosedur Penentuan Tarif Sewa Bis Pariwisata
1. Prosedur-prosedur penentuan tarif sewa bis pariwisata yang telah ditetapkan oleh Po BIMO Yogyakarta.
a. Mempertimbangkan standar tarif sewa bis pariwisata pesaing agar tarif yang ditentukan tidak terlalu tinggi ataupun tidak terlalu rendah.
b. Membuat taksiran biaya-biaya yang akan terjadi dalam satu tahun. c. Memisahkan taksiran biaya ke dalam biaya kantor dan armada. d. Menentukan laba yang diharapkan bagi perusahaan, yaitu sebesar
e. Menentukan besar tarif sewa bis pariwisata dengan cara menjumlahkan seluruh taksiran biaya-biaya untuk setiap jenis bis ditambah laba yang diharapkan.
f. Mempertimbangkan keadaan perekonomian dan kepariwisataan. Apabila daya beli konsumen tinggi maka perusahaan akan menaikkan tarif sewa bis pariwisata dan bila daya beli konsumen rendah maka perusahaan akan menurunkan tarif sewa bis pariwisata.
2. Prosedur-prosedur penentuan tarif sewa bis pariwisata menurut teori dengan menggunakan metode cost plus pricing pendekatan full costing.
a. Mempertimbangkan harga jual atau tarif yang sering dipengaruhi oleh keadaan persaingan yang ada. Perusahaan otobis tidak dapat menentukan harga tanpa melihat harga dari pesaing (Basu Swastha dan Irawan, 2005:244).
b. Membuat taksiran biaya-biaya yang akan terjadi dalam satu tahun. c. Memisahkan taksiran biaya ke dalam biaya produksi dan non
produksi, kemudian menghitung total biaya produksi dan non produksi untuk mendapatkan biaya penuh untuk setiap jenis bis. d. Menentukan mark-up dengan cara:
2) Menghitung persentase mark-up yang diperoleh dari biaya non produksi ditambah dengan laba diharapkan dibagi dengan biaya produksi dan dikali 100%.
Persentase Mark-up:
3) Menghitung mark-up dalam rupiah dapat dihitung dengan mengalikan persentase mark-up dengan total biaya produksi. e. Menentukan besar tarif menurut harga jual normal dengan cara
menambahkan mark-up pada biaya produksi. Harga jual normal menurut pendekatan full costing per unit dirumuskan:
Harga Jual (per unit) = Biaya Produksi (per unit) + mark-up (per unit) f. Mempertimbangkan keadaan perekonomian. Apabila makin besar
daya beli konsumen, semakin besar pula kemungkinan bagi penjual untuk menetapkan tingkat harga yang lebih tinggi (Basu Swastha, 2002:148). % 100 produksi biaya produksi non biaya diharapkan yang Laba × +
sewa bis pariwisata berdasarkan teori yang diajukan adalah: Prosedur-prosedur penentuan tarif sewa bis pariwisata
menurut teori.
Prosedur-prosedur penentuan tarif sewa bis pariwisata
menurut perusahaan. Interpretasi a. Mempertimbangkan harga jual atau tarif yang sering
dipengaruhi oleh keadaan persaingan yang ada. Perusahaan otobis tidak dapat menentukan harga tanpa melihat harga dari pesaing (Basu Swastha dan Irawan, 2005:244).
a. Mempertimbangkan standar tarif sewa bis pariwisata pesaing agar tarif yang ditentukan tidak terlalu tinggi ataupun tidak terlalu rendah.
Tepat
b. Membuat taksiran biaya-biaya yang akan terjadi dalam satu tahun.
b. Membuat taksiran biaya-biaya yang akan terjadi dalam
satu tahun. Tepat
c. Memisahkan taksiran biaya ke dalam biaya produksi dan non produksi, kemudian menghitung total biaya produksi dan non produksi untuk mendapatkan biaya penuh untuk setiap jenis bis.
c. Memisahkan taksiran biaya ke dalam biaya kantor dan armada.
Kurang Tepat
1) Menentukan laba yang diharapkan.
2) Menghitung persentase mark-up yang diperoleh dari biaya non produksi ditambah dengan laba diharapkan dibagi dengan biaya produksi dan dikali 100%.
3) Menghitung mark-up dalam rupiah dapat dihitung dengan mengalikan persentase mark-up dengan total biaya produksi.
sebesar 20 % dari total biaya yang ditaksir. Tepat
e. Menentukan besar tarif menurut harga jual normal dengan cara menambahkan mark-up pada biaya produksi. Harga jual normal menurut pendekatan full costing per unit dirumuskan:
Harga Jual (per unit) =
Biaya Produksi (per unit)+ % mark-up
e. Menentukan besar tarif sewa bis pariwisata menurut harga jual dengan cara menjumlahkan seluruh taksiran biaya-biaya untuk setiap jenis bis ditambah laba yang diharapkan.
makin besar daya beli konsumen, semakin besar pula kemungkinan bagi penjual untuk menetapkan tingkat harga yang lebih tinggi (Basu Swastha, 2002:148).
kepariwisataan. Apabila daya beli konsumen tinggi maka perusahaan akan menaikkan tarif sewa bis pariwisata, dan bila daya beli konsumen rendah maka perusahaan akan menurunkan tarif sewa bis pariwisata.
Berdasarkan data dari hasil penelitian pada Po BIMO dan di analisis menggunakan metode cost plus pricing dengan pendekatan full costing, dapat diambil kesimpulan bahwa prosedur penentuan tarif sewa bis pariwisata Po BIMO dapat diinterpretasikan kurang tepat dan tepat. Interpretasi kurang tepat menurut cost plus pricing dengan pendekatan full costing, karena perusahaan tidak memisahkan taksiran biaya-biaya ke dalam biaya produksi dan non produksi, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi penentuan besar tarif sewa bis pariwisata yang dilakukan oleh perusahaan.
Selain itu terdapat lima pernyataan yang mendukung interpretasi tepat pada prosedur penentuan tarif sewa bis pariwisata yang telah disimpulkan menurut perusahaan dan teori di bawah ini, yaitu:
a. Pada bagian pertama dapat diinterpretasikan tepat dalam mempertimbangkan harga jual, karena dalam hal ini menurut teori dan perusahaan mempertimbangkan harga jual yang dipengaruhi oleh keadaan persaingan yang ada, karena perusahaan otobis tidak bisa menentukan harga tanpa melihat harga pesaing.
b. Pada bagian kedua dapat diinterpretasikan tepat dalam membuat taksiran biaya, karena dalam hal ini menurut teori dan perusahaan membuat taksiran-taksiran biaya yang akan dikeluarkan untuk tarif sewa bis pariwisata dala m satu tahun.
c. Pada bagian ketiga dapat diinterpretasikan tepat dalam menentukan laba, karena dalam hal ini menurut teori dan perusahaan menentukan
laba yang digunakan untuk menghitung tarif sewa bis pariwisata yang diinginkan konsumen.
d. Pada bagian keempat dapat diinterpretasikan tepat dalam menentukan besar tarif, karena dalam hal ini menurut teori dan perusahaan menghitung tarif sewa bis pariwisata. Akan tetapi, terdapat sedikit perbedaan dalam menghitung tarif sewa bis pariwisata jika menurut perusahaan tarif dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh taksiran biaya-biaya untuk setiap jenis bis ditambah laba yang diharapkan namun menurut teori dengan cara menambahkan mark-up pada biaya produksi.
e. Pada bagian kelima dapat diinterpretasikan tepat dalam mempertimbangkan keadaan perekonomian karena dalam hal ini menurut teori dan perusahaan bila daya beli konsumen yang besar menentukan tingkat harga yang lebih tinggi akan berpengaruh pada kenaikan tarif sewa bis pariwisata begitu sebaliknya bila daya beli rendah akan menurunkan tarif sewa bis pariwisata.
Walaupun pada praktiknya perusahaan sudah melakukan pengumpulan, pencatatan serta memisahkan taksiran biaya-biaya tersebut ke dalam biaya kantor dan armada, nyatanya pemisahan biaya tersebut masih belum bisa memberikan keterangan taksiran biaya mana saja yang berpengaruh langsung terhadap biaya produksi dan non produksi.