BAB III PEMBAHASAN
3.2 Prosedur Penerimaan Bahan Bakar Minyak ( BBM ) Pada Pertamina
3.2.1 Prosedur Penerimaan Bahan Bakar Minyak
Operasi penerimaan BBM dilakukan melalui Kapal Tanker/Tongkang perhitungan volume BBM tersebut berdasarkan hasil sounding yang telah dilakukan sehingga diketahui kapasitas BBM yang ada. Setelah didapatkan hasil perhitungannya, dilakukan pembongkaran ke tangki timbun yang disalurkan melalui pipa-pipa penyaluran. Tangki timbun yang dipilih untuk dilakukan pengisian adalah tangki yang ullagenya cukup untuk menampung BBM sesuai kapasitas yang ada di kapal dengan jenis produk bahan bakar yang sama pula. Jika salah satu tangki timbun sudah penuh, maka lakukan pengisian pada tangki lain yang masih memiliki ullage. Sebelumnya, pada tangki-tangki timbun ini juga sudah dilakukan sounding untuk mengetahui berapa besar ullage yang ada serta mengecek keberadaan air di dalam tangki. Jika keberadaan air di dalam tangki melewati batas minimal, maka air harus dibuang melalui drainase agar tidak tersalurkan saat akan dilakukan pengisian ke mobil tanker.
Pada pembongkaran ke tangki timbun, juga harus dilakukan pengecekan kualitas berdasarkan warna, bau, suhu dan densitas tiap satu jam sekali pada pipa penyaluran. Hal ini penting untuk mengecek dan menghindari terjadinya kesalahan pengisian pada tangki dan menghindari kerugian besar. Sounding sendiri dilakukan dengan memasukkan/mencelupkan meteran dengan bandulan pemberat sepanjang 150 mm pada ujungnya melalui lubang sounding yang berada di atas tangki timbun. Dalam proses sounding, saat meteran dimasukkan sebelumnya telah diusapkan pasta minyak dan air untuk mengetahui berapa tinggi minyak sebenarnya di dalam tangki dan memudahkan pembacaan pada meteran. Pasta air yang terkena fluida air, akan berubah warna menjadi berwarna merah. Sedangkan pasta minyak yang terkena minyak akan terlihat garis batasnya. Posisi peletakan pasta minyak pada meteran tersebut diketahui melaui ATG (Automatic Tank Gauging), alat pengukur tinggi minyak di dalam tangki secara otomatis. Kemudian
22
melaluipengukuran manual (sounding) dapat diketahui angka pasti dari tinggi minyak tersebut. pengukuran manual (sounding) dapat diketahui angka pasti dari tinggi minyak tersebut.
3.2.2 Penyimpanan (Storage)
Penyimpanan bahan bakar yang telah dilakukan pembongkaran dari kapal tanker dilakukan pada tangki timbun. Tangki timbun (storage tank) ini merupakan tangki yang berfungsi untuk menyimpan minyak mentah atau minyak hasil dari proses kilang, gas, chemical dan lain-lain. Sedangkan untuk tangki timbun yang terdapat di area depot pertamina ini merupakan tangki untuk menyimpan bahan bakar jadi hasil olahan. Tangki timbun dirancang untuk beroperasi dengan kemampuan terhadap tekanan tertentu, sistem insulasi tertentu, dan menampung fluida/gas serta distribusi tertentu.
Tangki ini memiliki bagian-bagian yang memiliki fungsinya masing-masing seperti manhole, grounding cable, drainase, tangga spiral, inlet dan outlet valve, level indicator, pagar pegangan dan lainnya. Manhole merupakan lubang masuk orang sebagai perlengkapan untuk pemeliharaan atau perbaikan tangki. Grounding cable merupakan penyalur muatan listrik statis ke dalam tanah. Drainase digunakan apabila air yang terdapat di dalam tangki berada diatas batas minimal. Tangga spiral merupakan tangga yang digunakan untuk mempermudah naik ke atas tangki untuk dilakukan sounding, perbaikan, dan lain-lain. Inlet dan outlet valve merupakan alat untuk membuka dan menutup masuk atau keluarnya BBM ke dalam atau dari tangki timbun. Level indicator merupakan alat ukur otomatis yang digunakan sebagai pembanding untuk mengetahui ketinggian atau level cairan di dalam tangki. Pagar pegangan sebagai pagar di sekeliling atap tangki dan menuju pusat atap tangki.
Setelah didapatkan hasil perhitungannya, dilakukan pembongkaran ke tangki timbun yang disalurkan melalui pipa-pipa penyaluran. Tangki timbun yang dipilih untuk dilakukan pengisian adalah tangki yang ullagenya cukup untuk menampung BBM sesuai kapasitas yang ada di kapal dengan jenis produk bahan bakar yang sama pula. Jika salah satu tangki timbun sudah penuh, maka lakukan pengisian pada tangki lain yang masih memiliki ullage. Sebelumnya, pada tangki-tangki timbun ini juga sudah dilakukan sounding
23
untuk mengetahui berapa besar ullage yang ada serta mengecek keberadaan air di dalam tangki. Jika keberadaan air di dalam tangki melewati batas minimal, maka air harus dibuang melalui drainase agar tidak tersalurkan saat akan dilakukan pengisian ke mobil tanker.
Saat pembongkaran ke tangki timbun, juga harus dilakukan pengecekan kualitas berdasarkan warna, bau, suhu dan densitas tiap satu jam sekali pada pipa penyaluran. Hal ini penting untuk mengecek dan menghindari terjadinya kesalahan pengisian pada tangki dan menghindari kerugian besar. Sounding sendiri dilakukan dengan memasukkan/mencelupkan meteran dengan bandulan pemberat sepanjang 150 mm pada ujungnya melalui lubang sounding yang berada di atas tangki timbun. Dalam proses sounding, saat meteran dimasukkan sebelumnya telah diusapkan pasta minyak dan air untuk mengetahui berapa tinggi minyak sebenarnya di dalam tangki dan memudahkan pembacaan pada meteran. Pasta air yang terkena fluida air, akan berubah warna menjadi berwarna merah. Sedangkan pasta minyak yang terkena minyak akan terlihat garis batasnya. Posisi peletakan pasta minyak pada meteran tersebut diketahui melaui ATG (Automatic Tank Gauging), alat pengukur tinggi minyak di dalam tangki secara otomatis. Kemudian melalui pengukuran manual (sounding) dapat diketahui angka pasti dari tinggi minyak tersebut.
Gambar 3.2.3 Tangki Timbun PT. Pertamina ( Persero )
Sumber : Google,
Gambar menunjukkan besar dan volume tangki timbun yang ada di PT. Pertamina dan jarak antar tangki timbun
24
Tabel 3.2.3 Kapasitas Tangki PT. Pertamina ( Persero ) Jenis Produk Tangki Kapasitas Tangki (KL)
Premium 11 3000 6 1500 4 855 Pertamax 7 1500 2 1000 10 500 1 1000 Bio Solar 3 1000 5 1500 8 2000 12 5000 Pertamax Turbo 9 536 Sumber : PT. Pertamina, 2020
Dapat disimpulkan bahwa table diatas untuk pengisian kapasitas tangki pada PT. Pertamina mempunyai kapasitaas tangki sebanyak seperti yang diatas.
Tabel 3.2.3 Data Tinggi Ukur dan Safe Capacity Tangki di Depot Pertamina Jambi
Jenis Produk Tank Tinggi Ukur (mm) Safety Capacity (kl)
Premium 11 12080 3229 Premium 06 10190 1520 Premium 04 8473 823 Pertamax 07 10286 1483 Pertamax 02 10230 1046 Pertamax 11 7243 547 - 01 Tank Cleaning Biosolar (B30) 03 9550 1036 Biosolar (B30) 05 9315 1510 Biosolar (B30) 08 9410 2052 Sumber : PT. Pertamina, 2020
25
Dapat disimpulkan bahwa table diatas untuk mengetahui tinggi ukuran dan Safe Capacity tangki pada PT. Pertamina mempunyai tinggi ukuran dan Safe Capacity sebanyak seperti yang diatas.
3.3.2 Ikhtisar Kebijakan Akuntansi Pada PT. Pertamina a. Dasar penyusunan laporan keuangan konsolidasian
Kebijakan akuntansi dan pelaporan keuangan yang diterapkan oleh Grup sesuai dengan standar akuntasi keuangan di Indonesia, yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (“PSAK”). Kebijakan akuntansi diterapkan secara konsisten dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasian untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2018 dan 2017 oleh Grup. Laporan keuangan konsolidasian, kecuali laporan arus kas konsolidasian, disusun berdasarkan konsep akrual dan dasar pengukuran dengan menggunakan harga historis, kecuali beberapa akun tertentu yang dicatat berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi akun tersebut.
b. Transaksi-transaksi pihak berelasi
Perusahaan melakukan transaksi dengan pihak berelasi sesuai PSAK 7 (Revisi 2015): Pengungkapan Pihak-Pihak Berelasi. Seluruh transaksi dan saldo yang material dengan pihak berelasi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasian.
c. Kas dan setara kas
Kas dan setara kas termasuk kas, bank dan semua deposito berjangka yang jatuh tempo dalam tiga bulan atau kurang sejak tanggal penempatan dan tidak digunakan sebagai jaminan atau tidak dibatasi penggunaannya. Untuk tujuan penyusunan laporan arus kas, kas dan setara kas disajikan setelah dikurangi cerukan. Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya yang akan digunakan untuk membayar liabilitas yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun disajikan sebagai Kas yang dibatasi penggunaannya dan disajikan sebagai bagian dari Aset Lancar. Kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya untuk membayar liabilitas yang akan jatuh tempo dalam waktu lebih dari satu tahun dari tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian disajikan dalam Aset tidak lancar lainnya.
26
d. Piutang
Piutang usaha dan piutang lain-lain pada awalnya diakui sebesar nilai wajar dan kemudian diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif, dikurangi dengan penyisihan untuk penurunan nilai. Jika piutang diharapkan tertagih dalam satu tahun atau kurang (atau dalam siklus normal operasi dari bisnis jika lebih lama), piutang tersebut dikelompokkan sebagai aset lancar. Jika lebih, piutang tersebut disajikan sebagai aset tidak lancar.
e. Persediaan
Persediaan minyak mentah dan persediaan produk minyak dinilai berdasarkan nilai terendah antara biaya perolehan atau nilai realisasi neto. Biaya perolehan ditentukan berdasarkan metode rata-rata dan termasuk semua biaya pembelian, biaya konversi dan biaya lain yang terjadi untuk membawa persediaan ke tempat dan kondisi saat ini. Nilai realisasi neto untuk produk BBM bersubsidi adalah berdasarkan nilai terendah antara harga ketetapan dan harga formula untuk bulan berikutnya.