BAB II : KEWARISAN, KHI DAN EKSEPSI
D. Prosedur Pengajuan Gugatan atau Permohonan Waris
Gugatan adalah suatu hal yang mana dilakukan oleh seseorang atau lebih yang merasa haknya atau hak mereka telah dilanggar. Gugatan dimana terdapat pihak penggugat dan pihak tergugat.23 Gugatan diajukan secara tertulis atau tidak tertulis. Gugatan tertulis terdapat dalam pasal 118 HIR, dalam pasal ini ditentukan
23 Retno Wulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata Dalam Teori Dan Prektek, (Bandung: CV. Mandar Maju, Cet 5, 2009), h. 10
bahwa gugatan ini harus diajukan secara tertulis dan ditujukan kepada ketua pengadilan yang berwenang dan harus ditandatangani oleh penggugat atau kuasa hukumnya. Adapun yang bertandatangan kuasa hukumnya sesuai yang diatur dalam pasal 123 ayat (1) HIR. Gugatan yang tidak tertulis diatur dalam pasal 120 yang mana bilamana penggugat itu buta huruf, maka gugatannya bisa dimasukan secara lisan kepada ketua pengadilan yang berwenang.
Surat gugatan yang dibuat harus jelas yaitu, bertanggal, nama penggugat dan tergugat jelas dan lengkap, umur, agama, alamat tempat tinggal.24
Surat gugatan atau permohonan yang telah dibuat dan ditandatangani diajukan ke panitera Pengadilan Agama (surat gugatan diajukan kepada sub kepanitraan gugatan sedangkan permohonan diajukan kepada sub panitra permohonan). Sebelum perkara terdaftar, panitera melakukan penelitian terlebih dahulu terhadap kelengkapan berkas perkara (penelitian terhadap bentuk dari isi gugatan atau permohonan). Apabila terjadi kesalahan dalam gugatan atau permohonan, maka tidak boleh didaftarkan sebelum petitum dan posita jelas.25 Jika terjadi kesalahan maka gugatan tersebut harus diperbaiki, panitera sebagai pihak yang mempunyai otoritas dalam meneliti berkas gugatan atau permohonan sebaiknya melakukan penelitian tersebut disertai dengan membuat resume
24 Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama (Jakarta: Kencana, 2005, cet. 3, 2005), h.27
25 Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, (Jakarta: Pustaka Pelajar, cet. 4, 2003), h. 76
34
tersebut diarahkan kepada ketua Pengadilan Agama dengan disertai saran, misalnya berbunyi “syarat-syarat cukup siap untuk disidangkan.”26
Setelah semua persyaratan lengkap maka penggugat atau pemohon membayar panjar biaya perkara sesuai yang tertera pada skum kepada kasir. Kemidian kasir menerima panjar biaya perkara dan membukukan, menandatangani, memberi nomor perkara, dan tandatangan lunas dari skum. Surat gugatan atau permohonan yang telah diterima oleh Pengadilan Agama kemudian diberi nomor dan didaftar pada buku register, dalam waktu 3 (tiga) hari kerja, harus diserahkan kepada ketua Pengadilan Agama untuk ditetapkan Majelis Hakimnya yang akan memeriksa dan memutus perkara tersebut.27
Berikut adalah langkah-langkah mengajukan guigatan atau permohonan di Pengadilan Agama:
a. Di tingkat pertama
1. Pihak berperkara datang ke pengadilan agama dengan membawa surat gugatan atau permohononan
2. Pihak berperkara menghadap petugas meja I dan menyerahkan surat gugatan atau permohonan, minimal 2 (dua) rangkap. Untuk surat gugatan ditambah sejumlah Tergugat
3. Petugas meja pertama (dapat) memberikan penjelasan yang dianggap perlu berkenaan dengan perkara yang diajukan dan menaksir panjar biaya perkara
26 Raihan A Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, ed. 2, cet. 8, 2001), h. 129
27Mardani, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Dan Mahkamah Syari’ah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010, cet. 2, 2010), h. 83
kemudian ditulis dalam skum (surat kuasa untuk membayar). Besarnya biaya perkara diperkirakan harus telah mencukupi untuk menyelesaikan perkara teersebut. ( pasal 182 ayat (1) hir. Jo. Psl. 90 undang undang ri no. 3 tahun 2006 tentang perubahan atas undang undang no. 7 tahun 1989 tentang peradilan agama).
4. Petugas meja I menyerahkan kembali surat gugatan atau permohonan kepada pihak berperkara disertai dengan skum (surat kuasa untuk menbayar) dalam rangkap 3 (tiga)
5. Pihak berperkara datang ke loket layanan bank yang ditunjuk dan mengisi slip penyetoran panjar biaya perkara. Pengisian data dalam slip bank tersebut sesuai dengan skum (surat kuasa untuk membayar), seperti nomor urut, dan besarnya biaya penyetoran. Kemudian pihak berperkara menyerahkan slip bank yang telah diisi dan menyetorkan uang sebesar yang tertera dalam slip bank tersebut
6. Setelah pihak berperkara menerima slip bank yang telah divalidsi dari petugas layanan bank, pihak berperkara meyerahkan slip bank tersebut dan menyerahkan (skum) surat kuasa untuk membayar kepada pemegang kas (kasir)
7. Pemegang kas (kasir) mencatat panjar biaya tersebut kedalam jurnal keuangan perkara serta menandatangani skum (surat kuasa untuk membayar), membubuhkan nomor perkara dan tanggal penerimaan perkara dalam skum (surat kusasa untuk membayar) dan dalam surat gugatan / permohonan sesuai dengan nomor dan tanggal saat pencatatan dalam jurnal keuangan perkara.
36
8. Pemegang kas kemudian memberi tanda lunas dalam skum (surat kuasa untuk membayar), dan meyerahkan kembali kepada pihak berperkara asli skum (surat kuasa untuk membayar) serta satu salinan surat gugatan atau permohonan yang telah diberi nomor perkara dan tanggal pendaftaran.
b. Pendaftaran selesai
1. Para pihak berperkara akan dipanggil oleh jurusita/jurusita pengganti untuk menghadap ke persidangan setelah ditetapkan susunan Majelis Hakim dan hari sidang pemeriksaan perkaranya. Hari sidang pertama, paling lambat 30 hari sejak pendaftaran. Pemanggilan pihak pihak dilakukan paling lambat tiga hari sebelum persidangan (hari waktu manggil tidak dihitung).
2. Pihak pihak hadir dipersidangan sesuai dengan panggilan sidang
3. Setelah Majelis Hakim membacakan putusan dalam sidang yang terbuka untuk umum, ketua majelis memberitahukan pada Penggugat atau pemohon untuk menghadap kasir guna mengecek panjar biaya perkara yang bersangkutan (dengan menggunakan instrumen) para pihak meyampaikan bukti bukti yang diperlukan dalam meneguhkan dalil gugatannya atau bantahannya
4. Pemohon atau Penggugat selanjutnya menghadap kepada pemegang kas untuk menayakan perincian penggunaan panjar biaya yang telah ia bayarkan, dengan memberikan informasi nomor perkaranya.
5. Pemegang kas berdasarkan buku jurnal keuangan perkara memberi penjelasan mengenai rincia penggunaan biaya perkara kepada pemohon atau Penggugat
Catatan: Apabila terdapat sisa panjar biaya perkaranya, maka pemegang kas membuatkan kwitansi pengembalian sisa panjar biaya perkara dengan menuliskan jumlah uang sesuai dengan sisa yang ada dalam buku jurnal dan diserahkan kepada pemohon atau Penggugat untuk ditanda tangani. Kwitansi pengembalian sisa panjar biaya perkara terdiri dari 3 (tiga) lembar :
a) Lembar pertama untuk pemegang kas
b) Lembar kedua untuk Pemohon dan Penggugat c) Lembar ketiga dimasukkan kedalam berkas perkara
6. Pemohon atau Penggugat setelah menerima kwitansi pengembalian sisa panjar biaya perkara dan menanda tanganinya, kemudian meyerahkan kembali kwitansi tersebut kepada pemegang kas.
7. Pemegang kas menyerahkan uang sejumlah yang tertera dalam kwitansi tersebut beserta tindasan pertama kwitansi kepada pihak pemohon/Penggugat.
Catatan: Apabila pemohon/Penggugat tidak hadir dalam sidang pembacaan putusan atau tidak mengambil sisa panjarnya pada hari itu, maka oleh panitera melalui surat akan diberitahukan adanya sisa panjar biaya perkara yang belum ia ambil. Dalam pemberitahuan tersebut diterangkan bahwa apabila Pemohon Penggugat tidak mengambil dalam waktu 6 (enam) bulan, maka uang sisa panjar biaya perkara tersebut akan dikeluarkan dari buku jurnal keuangan yang bersangkutan dan dicatat dalam buku tersendiri sebagai uang tak bertuan (psl. 1948 kuhp), yang selanjutnya uang tak bertuan tersebut akan disetorkan ke kas negara
38
8. Para pihak dapat mengajukan banding dalam tempo 14 hari setelah putusan dijatuhkan atau 14 hari setelah pemberitahuan amar putusan apabila pihak tidak hadir saat putusan diucapkan. Para pihak dapat meminta salinan putusan/penetapan pada panitera.