HAK SUAMI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM
(Analisis Putusan Perkara Gugat Waris Di Pengadilan Agama Kota Cirebon
Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.)
Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah Dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Syari’ah (S. Sy)
Oleh:
Mohamad Apip Firmansyah
NIM : 107044102095
K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
J A K A R T A
i
Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah Dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Syari’ah (S. Sy)
Oleh
Mohamad Apip Firmansyah NIM : 107044102095
Dibawah bimbingan
Dr. Moh. Ali Wafa, S. Ag, M. Ag. NIP. 197304242002121007
K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A
ii
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi berjudul berjudul HAK SUAMI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM (Analisis Putusan Perkara Gugat Waris Di Pengadilan Agama Kota Cirebon Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.). telah diujikan
dalam sidang Munaqasah Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2014. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu
syarat memperoleh gelar Sarjana Syari’ah (S. Sy) pada Konsentrasi Peradilan Agama,
Program Studi Hukum Keluarga Islam.
Jakarta, Mengesahkan,
Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum
Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H. M.A. M.M. NIP. 195505051982031012
PANITIA UJIAN .
1. Ketua : Drs. H. A. Basiq Djalil, S.H., M.A (_________________)
NIP. 195003061976031001
2. Sekertaris : Hj. Rosdiana, MA (_________________)
NIP. 196906102003122001
3. Pembimbing : Dr. Moh. Ali Wafa, S. Ag. M. Ag (_________________)
NIP. 197304242002121007
4. Penguji I : Ali Mansur, M. A (_________________)
5. Penguji II : Dr. KH. A. Juaini Syukri, Lcs., MA (_________________)
iii
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah
satu persyaratan memperoleh gelar sarjana Srata 1 di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti saya bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 1 November 2013
iv ABSTRAK
Mohamad Apip Firmansyah, NIM : 107044102095, HAK SUAMI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM (Analisis Putusan Perkara Gugat Waris Di Pengadilan Agama Kota Cirebon Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.)
Program Studi Hukum Keluarga Islam, Konsentrasi Peradilan Agama, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.
Dalam penelitian ini, penulis mengangkat suatu permasalahan yaitu Bagaimana Deskripsi pada perkara Gugat Waris Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn., Bagaimana prosedur pengajuan gugatan waris, Bagaimana konsep Kompilasi Hukum Islam tentang penyelesaian kewarisan, serta apa yang mendasari pertimbangandan putusan Majelis Hakim dalam memutuskan perkara waris.
Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui deskripsiPerkara Gugat Waris Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn, untuk mengetahui lebih rinci mekanisme pengajuan gugatan waris, untuk mengetahui secara jelas konsep Kompilasi Hukum Islam tentang masalah penyelesaian kewarisan, serta untuk mengetahui dan memahamidasar dari pertimbangandan putusan Majelis Hakim dalam menyelesaikan perkara waris Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.
Dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriftif, dibantu dengan bahan-bahan sekunder berupa hasil karya ilmiah, pendapat para pakar, buku-buku rujukan, dan sebagainya. Bahan-bahan penelitian tersebut kemudian disusun secara sistematis, dikaji, kemudian ditarik kesimpulan dalam hubungannya dalam masalah yang diteliti.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah Berdasarkan hasil temuan peneliti dilapangan, gugatan yang diajukan tidak memenuhi syarat formil, karena tidak sesuai dengan kriteria-kriteria gugatan sebagai berikut: Jelas, tegas (eminuratif), memiliki dasar hukum yang jelas dan semua tuntutan memiliki keterkaitan keterkaitan yang terdapat di posita, Menunjukan bahwa dalam menentukan bagian-bagian ahli waris, dasar pertimbagan Mjajelis Hakim adalah ayat 11 surat an-Nisa dan pasal 176 Kompilasi Hukum Islam. Namun demikian ada yang kurang dalam dasar hukum yang digunakan oleh Majelis Hakim yaitu bagian untuk suami yang seharusnya mengacu kepada pasal 179 KHI, karena dalam pasal 176 itu hanya mencakup bagian anak laki-laki dan anak perempuan saja.
v
telah memberikan Rahmat dan Hidayah kepada kita semua khusisnya kepada
penulis. Shalawat beserta salam semoga selalu terlimpah curahkan kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sebagai teladan bagi kita semua.
Semasa perkuliahan hingga tahap akhir penyusunan skripsi ini banyak
pihak yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis. Sebagai
tanda syukur atas terselesaikannya penulisan skripsi yang berjudul HAK SUAMI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM (Analisis Putusan Perkara Gugat Waris Di Pengadilan Agama Kota Cirebon Nomor :
753/Pdt.G/2011/PA.Cn.). Maka pnulis ingin mengucapkan terimakasih yang
setinggi-tingginyakepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. M. Amin Suma, SH. MA. MM., Sebagai Dekan Fakultas
Syari’ah dan Hukum Unifersitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Drs. H. A. Basiq Djalil, SH. MA., sebagai Ketua Program Studi Hukum
Keluarga Islam Fakultas Syari’ah dan Hukum Unifersitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Dr. Moh. Ali Wafa, S. Ag, M. Ag., sebagai Dosen Pembimbing yang
selalu sabar membimbing penulis dalam penulisan skripsi.
4. Bapak Ali Mansur, M. A sebagai penguji I, yang sudah memberikan arahan
vi
5. Bapak Dr. KH. A. Juaini Syukri, Lcs., MA sebagai Pengujui II, yang dengan
sabar memberikan nasihat-nasihat yang sangat berharga untuk menatap masa
depan yang lebih indah.
6. Perpustakaan Utama serta Perpustakaan Fakulas Fakultas Syari’ah dan Hukum
Unifersitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Yang telah memberikan
bantuan berupa bahan-bahan yang menjadi referensi dalam penulisan skripsi.
7. Secara khusus Kepada orang tua penulis (nenek, mamah, bapa) yang selalu
sabar dalam memotivasi serta dukungan moril maupun materil dari awal
masuk kuliah sampai selesainya perkuliahan, serta selalu mendo’akan penulis
agar penulis sukses.
8. Adik-adik tercinta yang selalu memberikan motivasi dan selalu menghibur
disaat penulis sedang jenuh dalam manulis skripsi.
9. Sodara tercinta Wisnu Ahmad Maulana dan Liha Fathiatusholihah yang selalu
memberikan dorongan dan motivasi kepada penulis, semoga kalian bahagia
dan menjadi keluarga sakinah, mawadah warohmah.
10. Fitriah Rospari, S. Ked, yang telah memberikan motivasi, dukungan,
kepercayaan, do’a, dan selalu sabar dalam mengingatkan penulis agar segera
menyelesaikan skripsi. Terimakasih atas bawelnya yang selalu membuat
penulis tertawa dan terhibur.
11.Kepada para senior dan teman-teman seperjuangan Ikatan Pemuda Pelajar dan
Mahasiswa Kuningan, yang telah memberikan masukan-masukan dan selalu
menghibur sehingga penulis dapat berkonsentrasi kembali dalam
vii
cepat dalam menyelesaikan skripsi. Salam hangat untuk kalian semua semoga
kita bisa sukses dengan keinginan kita masing-masing.
13.Terimakasih juga kepada Edah, Sofiyah, Winda, Dinar, yang selalu membuat
dan mengantar makanan dan minuman ketika penulis sedang mengerjakan
skripsi. Terutama dinar terimakasih kopi buantannya mantap.
14.Tak lupa terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam
kelancaran penulisan skripsi ini yang penulis tidak bisa sebutkan.
Semoga semua kebaikan, dukungan dan motivasi yang diberikan kepada
penulis dibalas oleh Allah SWT dengan kebaikan yang jauh lebih besar.
Kesempurnaan hanya milik Alah SWT, mudah-mudahan semua yang penulis
lakukan diridhoi oleh Allah SWT, dan semoga Skripsi ini dapat bermanfaat.
Amin.
Jakarta, 1 November 2013 Penulis
viii DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ... iii
ABSRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
D. Review Studi... 8
E. Kerangka Teori ... 9
F. Metode Penelitian ... 15
G. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II : KEWARISAN, KHI DAN EKSEPSI A. Pengertian Kewarisan ... 18
B. Tinjauan Teoritis Tentang Kewarisan ... 19
C. Penyelesaian Kewarisan Menurut Kompilasi Hukum Islam ... 28
D. Prosedur Pengajuan Gugatan atau Permohonan Waris ... 32
E. Pengertian Eksepsi ... 38
BAB III : PROFIL PENGADILAN AGAMA CIREBON A. Dasar Hukum Pembentukan Pengadilan Agama Cirebon... 43
B. Sejarah Pembentukan Pengadilan Agama Cirebon ... 43
ix
BAB IV : GUGATAN, KHI, DAN PUTUSAN MAJELIS HAKIM
A. Prosedur Gugatan Waris... 61 B. KHI dan Kewarisan ... 64 C. Pertimbangan dan Putusan Majelis Hakim ... 66
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan ... 72 B. Saran-Saran ... 73
DAFTAR PUSAKA ... 75
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Surat Permohonan Pembimbing
Lampiran 2 : Surat Permpohonan Data / Wawancara
Lampiran 3 : Pedoman Wawancara dan Hasil Wawancara
Lampiran 4 : Putusan Pengadilan Agama Perkara Gugat Waris Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.
1 A. Latar Belakang Masalah
Segi kehidupan manusia yang diatur Allah tersebut dapat dikelompokan
kepada dua kelompok, pertama, hal-hal penciptaannya. Aturan tentang hal
ini disebut “hukum ibadat”. Tujuannya untuk menjaga hubungan atau tali
antara Allah dengan hamba-Nya yang disebut juga hablun min Allah. Kedua,
berkaitan dengan hubungan antar manusia dengan alam sekitar,aturan ini
disebut juga “hukum muamalat”. Tujuannya menjaga hubungan antar
manusia dan alamnya atau disebut juga “hablun min al-Naas”. Kedua
hubungan ini harus tetap terpelihara agar manusia terlepas dari kehinaan,
kemiskinan, dan kemarahan Allah.1
Dalam hidup, sejak proses bayi, anak-anak, tamyiz, usia baligh dan usia
selanjutnya, manusia sebagai penanggung hak dan kewajiban. Baik selaku
pribadi, anggota keluarga, warga negara, dan pemeluk agama yang harus
tunduk, taat dan patuh pada ketentuan syari’at dalam seluruh totalitas
kehidupannya.Demikian juga kematian seseorang membawa pengaruh dan
akibat hukum kepada dirinya, keluarga, masyarakat dan lingkungan
sekitarnya. Selain itu kematian tersebut, menimbulkan kewajiban orang lain
bagi dirinya (si mayit) yang berhubungan dengan pengurusan jenazah (fardu
2
kifayah). Dengan kematian itulah timbul pula akibat hukum lain secara
otomatis. Yaitu adanya hubungan ilmu hukum yang menyangkut hak para
keluarganya (ahli waris) terhadap seluruh harta peninggalannya.2
Adanya kematian seseorang mengakibatkan timbulnya cabang ilmu
hukum yang menyangkut bagaimana cara peralihan atau penyelesaian harta
kepada keluarga (ahli waris) – nya, yang dikenal dengan nama : Hukum
Waris. Dalam syari’at islam dikenal dengan : Ilmu Mawaris, Fiqh Mawaris,
atau Faraid. Waris atau pusaka merupakan salah satu masalah dalam
keluarga yang mana apabila dalam pembagiannya tidak ada kemaslahatan
akan berakibat pecahnya keharmonisan keluarga.
Dalam pandangan Islam, pembagian harta peninggalan kepada yang
berhak mewarisi harta tersebut akan mewujudkan hubungan yang harmonis
dan saling tolong-menolong antara sesama keluarga.
Pada masa jahiliyyah (sebelum islam), bangsa Arab telah mengenal
sistem waris yang menjadi sebab berpindahnya hak kepemilikan atas harta
benda atau atas harta benda atau hak-hak material lainnya.3 Matinya muwarits (pewaris) mutlak harus dipenuhi. Seseorang baru disebut muwarits
jika dia telah meninggal dunia. Itu berarti bahwa, jika seseorang memberikan
2 Suparman Usman, Fiqih Mawaris Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Gaya Medika
Pratama cet-II.), h. 1.
3 Komite Fakultas Syari’ah ar-Risalah ad-Dauliyah. “Ahkamaul-mawarits
fil-fiqhil-mawarits-islami”. Mesir. Tahun 2000-2001. Diterjemahkan oleh H. Addys Aldizar, Lc. dan H.
harta kepada ahli warisnya ketika dia masih hidup, maka itu bukan
waris.Kematian muwaris menurut ulama, dibedakan kedalam 3 macam,
yaitu:4
a. Mati haqiqy (sejati)
b. Mati hukmy (menurut putusan hakim)
c. Mati taqdiry (menurut dugaan)
Bagi ummat Islam melaksanakan hukum – hukum islam, terutama
masalah kewarisan adalah suatu keharusan, selama belum adanya nash-nash
yang menunjukan ketidakwajibannya. Namun, dalam masalah waris, nash –
nash yang berkaitan dengan hukum membagi kewarisan tidak disebut, dan
yang disebut adalah keharusan menerapkan besar kecilnya masing – masing
bagian. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa kewajiban disini adalah
ketika seseorang menyerahkan masalah kewarisan secara (menurut) Faraidh
atau ilmu waris.5
Dalam praktiknya, banyak masyarakat yang masih bingung dalam
masalah waris, bahkan banyak yang menjadi sengketa dalam warisan. Seperti
halnya terjadi di Pengadilan Agama Cirebon, pada putusan Pengadilan
4 H. R Otje Salman dan Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, (Bandung: PT Refika
Aditama cet-II, 2006), h. 5.
5 Ahmad Ferry Firdaus, Status Hukum Ahli Waris Pengganti menurut perspektif KHI dan
4
Agama Cirebon terdapat sengketa waris dalam putusan Nomor :
753/Pdt.G/2011/PA.Cn.
Dalam hal ini penulis perlu meyampaikan beberapa hal mengenai
hal-hal yang terdapat dalam putusan tersebut.
Dalam putusan tersebut, penggugat mengajukan gugatannya kepada
Pengadilan Agama Cirebon dengan alasan ingkar janji terhadap surat
Keterangan dan pernyataan para ahli waris pada tanggal 1 Januari 2003.
Keterangan dan pernyataan para tergugat yang telah disepakati itu belum ada
pelaksanaan pembagiannya, meskipun penggugat telah sering memintanya.
Maka dari itu penggugat mengajukan gugatanya ke Pengadilan Agama
Cirebon untuk dibaginya harta warisan tersebut disebabkan penggugat ingin
nikah lagi.
Para tergugat menyatakan dalam eksepsinya bahwa, hal tersebut
tidaklah benar justru inisiasi membagikan harta waris itu sebelum penggugat
menikah kembali maka dari itu penggugat dan para tergugat melakukan
kesepakatan bahwa pembagian harta waris itu dilakukan sebelum
pernikahannya dengan istri baru nya seperti yang tertuang dalam surat
keterangan dan pernyataan ahli waris tanggal 1 Januari 2003. Para tergugat
juga menerangkan dalam eksepsinya bahwa prihal pengajuan gugatan itu
adalah gugatan pembagian waris, namun penggugat mendalihkan bahwa
tergugat melakukan perbuatan ingkar janji. Hal ini lah para tergugat
Petitum bisa juga disebut tuntutan atau permintaan penggugat kepeda
Hakim untuk dikabulkan dan diputuskan.
Rumusan petitum harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 6
a. Jelas dan Tegas (eminuratif); b. Memiliki dasar hukum yang jelas
c. Semua tuntutan memiliki keterkaitan keterkaitan yang terdapat di posita.
Menurut penulis dalam Pertimbangan Majelis Hakim juga terdapat
ketidaktepatan dalam menetapkan landasan hukum acaranya. Dan dalam
putusan tersebut penulis menilai tidak dijalankannya pasal 119 HIR yaitu :
ketua pengadilan negri berkuasa memberikan nasihat dan pertolongan
kepada penggugat atau wakilnya tentang hal memasukan surat gugatan.”7.
sehingga Surat Gugatan tersebut menjadi simpang siur.
Berdasarkan uraian penulis di atas, maka penulis mengangkat
permasalahan dalam skripsi yang berjudul : Hak Suami Sebagai Ahli Waris
Dalam Kompilasi Hukum Islam (Analisis Putusan Perkara Gugat Waris
Di Pengadilan Agama Cirebon Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.)
6 Saifuddin Arief, Notariat Syari’ah Dalam Praktik Jilid 1 Hukum Keluarga Islam,
(Jakarta : Datunnajah Publishing, 2011), h. 265.
7Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelik Wetbook) & RIB/HIR (Citra media
6
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan dalam skripsi ini tidak menyimpang dan melebar
jauh dari inti atau pokok kajian masalah yang diangkat, maka penulis disini
akan membatasinya yakni pada persoalan yang berkaitan dengan kewarisan
yang diatur dalam Fiqh dan kewarisan yang diatur dalam Kompilasi Hukum
Islam. Dalam hal ini, penulis akan lebih fokus menyoroti dan menganalisis
putusan Perkara Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn., antara lain:
a. Pembagian waris dibatasi pengertian dan dasar hukum waris, sehingga
pembaca dapat mengerti tentang bagian-bagian yang harus diterima oleh
ahli waris.
b. Pertimbangan Majelis Hakim dibatasi pada dasar hakim dalam
pertimbangan hukumnya sehingga pembaca dapat mengetahui dan
mengerti tentang cara mempertimbangan suatu gugatan.
c. Putusan Majelis hakim dibatasi pada landasan hakim dalam memutus
suatu perkara sehingga pembaca dapat mengerti dan mengetahui tentang
landasan hakim dalam memutus suatu perkara waris.
Dari hasil kajian skripsi ini di harapkan akan dapat menjelaskan
tetang cara hakim menyelesaikan perkara di persidangan.
2. Perumusan Masalah
Dalam Herzien Inlandsch Reglement (HIR) dalam proses pengajuan
surat gugatan, surat gugatan itu harus jelas dan tegas juga mempunyai dasar
ajukan oleh penggugat bercampur baur atau tidak jelas (Obscuur Libel)
antara gugatan pembagian waris atau gugatan perbuatan ingkar janji.
Dari latar belakang masalah tersebut di atas, perumuan masalah yang
akan diangkat penyusun dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Deskripsi pada perkara Gugat Waris Nomor :
753/Pdt.G/2011/PA.Cn.?
2. Bagaimana prosedur pengajuan gugatan waris?
3. Bagaimana konsep Kompilasi Hukum Islam tentang penyelesaian
kewarisan?
4. Apayang mendasari pertimbangan dan putusan Majelis Hakim dalam
memutuskan perkara waris?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui deskripsi Perkara Gugat Waris Nomor :
753/Pdt.G/2011/PA.Cn.
2. Untuk mengetahui lebih rinci mekanisme pengajuan gugatan waris.
3. Untuk mengetahui secara jelas konsep Kompilasi Hukum Islam tentang
masalah penyelesaian kewarisan.
4. Untuk mengetahui dan memahami dasar dari pertimbangan dan putusan
Majelis Hakim dalam menyelesaikan perkara waris Nomor :
8
Adapun manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi penulis menambah wawasan tentang mekanisme pengajuan dan
proses penyelesaian perkawa waris.
2. Bagi akademisi sebagai sumbangsih khasanah keilmuan kewarisan,
mekanisme pengajuan dan proses penyelesaian perkawa waris.
3. Dapat memberikan pengetahuan lebih jauh dalam pembahasan
kewarisan dengan studi putusan Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.
D. Review Studi
1. Milki Barokah: Disparitas Putusan Perkara Waris (Studi Putus Pengadilan
Agama Nomor. 1397/Pdt. G/2008/PA.JT) dan putusan Pengadilan Ttnggi
Agama Nomor 50/Pdt. G/2009/PTA.JK)
Dalam skripsi ini menguraikan sistem kewarisan secara jelas secara
fiqih dan letak keadilannya. Juga menguraikan secara jelas tentang kewarisan
menurut perspektif undang-undang.
2. Dodi Darwin : Kasus Penetapan Ahli Waris Pengganti Di Pengadilan
Agama Jakarta Timur
Dalam skripsi ini menguraikan pengertian tentang waris dan ahli
waris pengganti yang cukup untuk dipahami. Juga mengerangkan tentang
rukun, syarat, sebab kewarisan dan asa-asas kewarisan.
Perbedaan antara skripsi yang sudah ada di fakultas syari’ah dengan
skripsi yang ditulis oleh penulis adalah:
a. Dalam skripsi terdahulu, tentang Disparitas Putusan Perkara Waris
putusan Pengadilan Ttnggi Agama Nomor 50/Pdt. G/2009/PTA.JK).
membahas tentang efektifitas penerapan kaidah-kaidah dan dasar-dasar
hukum yang digunakan oleh Hakim.
Persamaannya dengan skripsi yang ditulis oleh penulis adalah
sama-sama membahas tentang putusan hakim terhadap perkara waris.
b. Persamaan dalam skripsi “Kasus Penetapan Ahli Waris Pengganti Di
Pengadilan Agama Jakarta Timur” ini dengan yang ditulis oleh penulis
adalah sama-sama membahas tentang putusan hakim terhadap perkara
waris.
Perbedaannya adalah penulis lebih mengulas bagaimana hakim
menetapkan dan bagaimana cara pengajuan gugatan kepada Pengadilan
Agama. Dan membahas perkara waris dengan adanya gugatan waris
disebabkan adanya perbuatan ingkar janji oleh penerima waris lain.
E. Kerangka Teori
Proses perjalanan kehidupan manusia adalah lahir, hidup, dan mati.
Semua tahap itu mempunyai pengaruh dan akibat hukum dalam setiap fase
nya. Segi kehidupan manusia yang diatur Allah tersebut dapat dikelompokan
kepada dua kelompok, pertama, hal-hal penciptaan nya. Aturan tentang hal
ini disebut “hukum ibadat”. Tujuannya untuk menjaga hubungan atau tali
antara Allah dengan hamba-Nya yang disebut juga hablun min Allah. Kedua,
berkaitan dengan hubungan antar manusia dengan alam sekitar. Aturan ini
disebut juga “hukum muamalat”. Tujuannya menjaga hubungan antar
10
hubungan ini harus tetap terpelihara agar manusia terlepas dari kehinaan,
kemiskinan, dan kemarahan Allah. 8
Dalam hidup, sejak proses bayi, anak-anak, tamyiz, usia baligh dan
usia selanjutnya, manusia sebagai penanggung hak dan kewajiban. Baik
selaku pribadi, anggota keluarga, warga negara, dan pemeluk agama yang
harus tunduk, taat dan patuh pada ketentuan syari’at dalam seluruh totalitas
kehidupannya.
Demikian juga kematian seseorang membawa pengaruh dan akibat
hukum kepada dirinya, keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Selain itu kematian tersebut, menimbulkan kewajiban orang lain bagi dirinya
(si mayit) yang berhubungan dengan pengurusan jenazah (fardu
kifayah).Dengan kematian itulah timbul pula akibat hukum lain secara
otomatis. Yaitu adanya hubungan ilmu hukum yang menyangkut hak para
keluarganya (ahli waris) terhadap seluruh harta peninggalannya.9
Waris hanya berlangsung karena kematian.10 Adaanya kematian seseorang mengakibatkan timbulnya cabang ilmu hukum yang menyangkut
bagaimana cara peralihan atau penyelesaian harta kepada keluarga (ahli
waris) – nya, yang dikenal dengan nama : Hukum Waris. Dalam syari’at
Islam dikenal dengan : Ilmu Mawaris, Fiqh Mawaris, atau Faraid. Hukum
8 Amir Syarifudin, Hukum Kewarisan Islam, h. 3.
9 Suparman Usman, Fiqih Mawaris Hukum Kewarisan Islam, h. 1.
10 R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, KUHPerdata / Burgelijk Wetboek dengan tambahan:
kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan
harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak
menjadi ahli waris dan berapa bagian masing-masing.11
Islam sebagai agama samawi mengajarkan hukum kewarisan,
disamping hukum-hukum lainnya untuk menjadi pedoman bagi umat
manusia agar terjamin adanya kerukunan, ketertiban, perlindungan dan
ketentraman dalam kehidupan di bawah naungan dan ridha Allah SWT.12 Hukum yang merupakan bagian dari hukum keluarga, dewasa ini mempunyai
peranan yang sangat penting bahkan menentukan dan mencerminkan sistem
kekeluargaan yang berlaku di masyarakat. Hazairin menyatakan bahwa,
“Dari seluruh hukum, maka hukum perkawinan dan kewarisanlah yang
menentukan dan mencerminkan sistem hukum kekeluargaan yang berlaku di
masyarakat.”13
Hukum kewarisan dan hukum perkawinan masing – masing
mempunyai sub sistem hukum, yaitu hukum keluarga. Oleh karena itu kedua
hukum tersebut mempunyai asas, sifat dan gaya yang sama sehingga dapat
dilaksanakan dengan baik dan selaras dalam tata kehidupan keluarga.
Demikian pula dalam Hukum kewarisan islam sebagai sub sistem hukum
11 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam, (Jakarta : Radar Jaya Ofset, 2007, cet-5), h.
155.
12 Al-‘Utsmain dan syaikh muhamad bin shalih, panduan praktis hukum waris: menurut
al-Qur’an dan sunnah yang sohih, (Bogor: pustaka Ibnu Katsir, 2006), h. 2.
13 Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut al-Qur’an dan Hadist, (Jakarta: Tana
12
keluarga harus memiliki sifat, asas, dan gaya yang sama dengan hukum
perkawinan. Sebagaimana hak kewarisan berlaku atas dasar hubungan
kekerabatan, dan berlaku atas dasar perkawinan, dengan arti bahwa suami
ahli waris bagi istrinya yang meninggal dan istri ahli waris bagi suaminya
yang meninggal, begitu juga keturunan dan anak-anaknya.
Berlakunya hubungan kewarisan antara suami dengan istri
didasarkan pada ketentuan tertentu. Yaitu antara keduanya telah berlangsung
akad nikah yang sah.14 Tentang akad nikah yang sah ditetapkan dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan pasal 2 ayat 1 yaitu perkawinan sah
apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya.15
Menurut undang-undang yang berhak untuk menjadi ahli waris
adalah, para keluarga sedarah, baik sah maupun luar kawin dan si suami atau
istri yang hidup terlama.
Dalam hal ini penulis akan membahas khusus mengenai hak suami
dalam kewarisan menurut fiqh dan KHI. Dalam kitab Bidayatul Mujtahid
disebutkan sebagai berikut:
14 Amir Syarifudin, Hukum Kewarisan Islam, h. 188.
15 R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, KUHPerdata / Burgelijk Wetboek dengan tambahan :
َأو
َْﲨ
ُﻊ
ْﻟا ُﻌ َﻠ
َﻤ
ِءﺎ
َﻋ َﻠ
َﻣ ﻰ
َِﲑ
ُث
ْﻟا
ِﺮ
َﺟ
ُﻞ
ِﻣ
َﻦ
ِا ْﻣ َﺮ
َأ ِﺗ
ِﻪ
ِا َذ
َْﱂ ا
َـﺗ ْـﺘ
َﺮ ُك
َو َﻟ
ًﺪ
َو ا
َﻻ ْو
َﻟ َﺪ
ِا ْﺑ
ُﻦ
ِﻨﻟا
ْﺼ
ِﻒ
ِا .
َﻻ
َﻣ
ﻊﺑﺮﻟا ﻪﻠﻓ اﺪﻟو ﺖﻛﺮﺗ نا ﺎ أو . ﺪﻫ ﺎﺟ ﻦﻋﺎﻧﺮﻛذ ﺎ
.
16Artinya : “Fuqaha berpendapat bahwa warisan suami dari istrinya jika istrinya tidak meninggalkan anak dan cucu laki-laki dari anak laki-laki, maka bagiannya separuh harta. Kecuali pendapat yang kami sebut dari mujahid, jika istri tersebut meninggalkan anak, maka bagian suami adalah seperempat.”17
Dalam kitab Bajuri disebutkan:
َﻓ ِﻠ
ﱠﺰﻠ ْو
ِج
ْﻟا
ِﻨ
ْﺼ
ُﻒ
َو
ِﺣا
ًﺪ
ِ ,
َﻷ
ﱠـﻧ َﻬ
ِا ﺎ
ْـﺛ َـﻨ
ِْﲔ
َْﳐ َﺮ
َج
َـﻨﻟا
ْﻔ
ٍﺲ
18Artinya : “Seorang suami baginya setengah jika sendiri, suami adalah salah satu orang yang mendapat bagian pasti dalam urutan kedua.”
َـﻗ ْﻮ َﻟ
ُﻪ
َا ) :
ﱠﺰﻟ ْو
ُج
َﻣ َﻊ
ْا
َﻮﻟ َﻟ
َأ ﺪ
ْو
َو َﻟ ُﺪ
ْا
ِﻻ ْﺑ
ِﻦ
َا (
ْي
ِﻟ َﻘ
ْﻮ ُﻟ ُﻪ
َـﺗ َﻌ
) : ﻰﻠ
َﻓ ِﺈ
ْن
َﻛ
َنﺎ
َُﳍ
ﱠﻦ
َو َﻟ ٌﺪ
َـﻓ َﻠ
ُﻜ
ْﻢ َا
ﱡﺮﻟ ُﺑ
ْﻊ
(
. 19Arttinya : “Berkata (syekh khotib) : suami seserta anak atau cucu laki-laki, sesuai dengan firman Allah SWT: seseungguhnya bila ada anak bagi kalian (para suami) maka baginya adalah seperempat.
Dalam syarah Fathul Qarib diterangkan :
َﻓ )
ﱢﻧﺎ
ْﺼ
ُﻒ
َـﻓ ْﺮ
ٌض
َْﲬ
َﺴ ٌﺔ
َا (
َﺣ
ُﺪ َﻫ
ِﺒﻟا) ﺎ
ْﻨ
ُﺖ
َا (
ْﻟ َﻮ
ِﺣا
َﺪ ُة
َو)
َﺛ (
ِﻧﺎ ْـﻴ
َﻬ
ِﺑ) ﺎ
ْﻨ
ُﺖ
ْا
ِﻻ
ْﺑ
ِﻦ
(
َو)
َﺛ (
ِﻟﺎ ُـﺜ
َﻬ
ْا) ﺎ
ُﻷ
ْﺧ
ُﺖ
ِﻣ
َﻦ
ْا َﻻ
ِب
َو
ْا
ُﻻ
ﱢم
َو) (
َر (
ِﺑا ُﻌ
َﻬ
َا) ﺎ
ُﻻ
ْﺧ
ُﺖ
ِﻣ
َﻦ
ْ◌
َﻷ
ِب
َو) (
(
16 Asyahir Abdul Wahid Muhammad bin Achmad bin Muhammad Ibnu Rusyh, Bidayatul
Mujtahid wa Nihayatul Muqtasyid, (Surabaya: Toko Kitab al-Hidayah, tt), h 256.
17 Imam Ghazali Said dan Ahmad Zaidun, Bidayatul Mujtahid Analisa Fiqih Para
Mujtahid, (Jakarta: Pustaka Amani, 2007), Jilid 3, cet III, h.388
18 Ibrohim al-Bajuri, syarahal-Bajuri (Hisyah Fathul Qarib). h. 110
14
َِﲬ
ُﺴ َﻬ
َا) ﺎ
ْﻟ َﺰ ْو
ُج
ِا َذ
َْﱂا
َﻳ ُﻜ
ْﻦ
(
َﻣ َﻌ
ُﻪ َو
َﻟﺪ
َو)ا ْﻟ
ُﺮ ُﺑﻊ
َـﻓ ْﺮ
ٌض
ِا ْـﺛ
َـﻨ
ِْﲔ
َﻣ (
َﻊ
ْﻟا َﻮ َﻟ
ٍﺪ
َا ْو
َو َﻟ ِﺪ
ِاﻟ
ِْﱭ
20Artinya :”Yang mendapatkan bagian setenmgah itu ada 5 (lima) kelompok, yaitu : pertama anak perempuan, kedua cucu perempuan, ketiga saudara perempuan seayah seibu, keempat saudara perempuan seayah, dan kelima suami apabila tidak ada anak. Dan bagian kedua, suami dapat seperempat bagian apabila bersama dengan anak atau cucu laki-laki.”
Jika melihat dari pandangan ulama – ulama di atas semua ulama
sepakat bahwa bagian suami adalah setengah bagian apabila pewaris tidak
mempunyai anak atau cucu laki-laki, dan mendapatkan seperempat bagian
apabila pewaris mempunyai anak atau cucu laki-laki.
Dalam putusan tersebut, penggugat mengajukan gugatannya kepada
Pengadilan Agama Cirebon dengan alasan ingkar janji terhadap surat
Keterangan dan pernyataan para ahli waris pada tanggal 1 Januari 2003.
Keterangan dan pernyataan para tergugat yang telah disepakati itu belum ada
pelaksanaan pembagiannya, meskipun penggugat telah sering memintanya.
Maka dari itu penggugat mengajukan gugatannya ke Pengadilan Agama
Cirebon untuk pembagian harta warisan tersebut disebabkan penggugat ingin
nikah lagi. Para tergugat menyatakan dalam eksepsinya bahwa, hal tersebut
tidaklah benar justru inisiasi membagikan harta waris itu sebelum penggugat
menikah kembali itu berasal dari para tergugat. Maka dari itu penggugat dan
para tergugat melakukan kesepakatan bahwa pembagian harta waris itu
dilakukan sebelum melaksanakan pernikahan dengan istri barunya. Seperti
20 Syeik an-Nawawi bin Umar al-Jawi, Tasyeh ‘ala Ibnu Qosim, (Syarah Fathul Qarib),
yang tertuang dalam surat keterangan dan pernyataan ahli waris tanggal 1
Januari 2003.
F. Metode Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode kualitatif, yaitu
penelitian yang menghasilkan data deskriftif, berupa kata-kata tertulis atau
lisan orang-orang atau prilaku yang diamati.21 Adapun jenis penelitian, sumberdata dan jenis data adalah sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah:
a. Penelitian pustaka (Library research). Dalam penelitian ini penulis
menelaah data tertulis yang berhubungan dengan topik permasalahan
penelitian baik dalam bentuk buku, makalah, brosur, dan lain-lain.
Untuk menemukan kajian teoritis.
b. Penelitian lapangan (Field research). Untuk mendapatkan data-data
secara langsung dari objek penelitian maka, penulis melakukan
wawancara dengan pihak-pihak terkait guna mendapatkan data yang
sesuai dengan kebutuhan penulis.
2. Sumber data
Yang dimaksud sumber data adalah subyek dari mana data dapat
diperoleh.22 Dalam penelitian ini yang menjadikan sumber data adalah sebagai berikut:
21 Lexy J. Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2004), h. 3.
22 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V,
16
a. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari Pengadilan Agama
Cirebon.
b.Data sekunder adalah data yang diperoleh dari kajian pustaka, jurnal-jurnal
terkait dan wawancara hakim-hakim di Pengadilan Agama Cirebon.
3. Jenis data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini data kualitatif, yaitu
penelitian yang menghasilkan data deskriftif, berupa kata-kata tertulis atau
lisan orang-orang atau prilaku yang diamati. Selain kualitatif penulis juga
menggunakan metode interview/wawancara untuk mendapatkan data, yaitu
proses tanya jawab secara lisan antara dua orang atau lebih, bertatap muka,
mendengarkan secara langsung mengenai informasi atau
keterangan-keterangan.23 Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan yuridis normative yakni dengan kajian perundang-undangan
(statute approach). Dengan pendekatan ini, dilakukan kajian tentang
peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan tema sentral
penelitian ini.24
G. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam menganalisis materi pembahasan
penulis memberikan sitematika penulisan sebagai berikut:
23 Cholid dan Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), h. 83
24 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukuk Normatif, (Jakarta:
Bab pertama adalah PendahuluanmeliputiLatar Belakang Masalah,
Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian,
Review Studi, Kerangka Teori, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan.
Bab kedua adalah Kewarisan, KHI dan Eksepsi meliputi Pengertian
Kewarisan, Tinjauan Teoritis Tentang Kewarisan, Penyelesaian Kewarisan
Menurut Kompilasi Hukum Islam, Prosedur Pengajuan Gugatan atau
Permohonan Waris, Pengertian Eksepsi.
Bab ketiga adalah Profil Pengadilan Agama Cirebon meliputi Dasar
Hukum Pembentukan Pengadilan Agama Cirebon, Sejarah Pembentukan
Pengadilan Agama Cirebon, Visi Dan Misi, Mekanisme Pengaduan
Masyarakat Pencari Keadilan Di Kantor Pengadilan Agama Cirebon,
Struktur Pengadilan Agama Cirebon, Tugas Pokok Dan Fungsi Peradilan
Agama.
Bab keempat adalah Waris, Gugatan, KHI danPutusan Hakim
meliputi Deskripsi Gugatan Waris, Prosedur Gugatan Waris, KHI dan
Kewarisan, Pertimbangan dan Putusan Majelis Hakim.
Bab Kelima adalah Penutup yang meliputi : kesimpulan dan
18 BAB II
KEWARISAN, KHI, GUGATAN DAN EKSEPSI
A. Pengertian Kewarisan
Hukum waris merupakan bagian dari hukum perdata, dimana dari dahulu sampai sekarang ini hukum waris di Indonesia sangat beraneka ragam sekali. Adapun garis besarnya terbagi menjadi tiga bagian:
1. Hukum waris yang terdapat pada undang-undang perdata (KUH Perdata/BW) 2. Hukum waris yang terdapat pada Kompilasi Hukum Islam (KHI)
3. Hukum waris yang terdapat pada kitab-kitab fiqh yang tersusun dalam fiqh mawaris atau ilmu Faraidh.
Hukum Waris Islam (HWI) atau dikenal juga ilmu Faraid
dikembangkan berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, dan Ijtihad. HWI di Indonesia berkembang dengan pesat ditandai dengan munculnya ijtihad yang dimunculkan
dengan berbagai peraturan dan pendapat dari berbagai ahli.1
Undang-undang tentang Peradilan Agama yang mengatur kewenangan dan tatacara pemeriksaan perkara orang Islam bertambah ketika keluarnya peraturan Nomor 28 tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, terutama pasal 12 yang berbunyi: “Penyelesaian perselisihan sepanjang yang menyangkut persoalan perwakafan tanah, disalurkan melalui Pengadilan Agama setempat
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Bahkan pada tahun 1989, kewenangan peradilan agama mendapatkan perluasan bukan
hanya sebatas masalah perkawinan, namun juga masalah, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, dan shadaqah.2 Ketentuan tersebut dinyatakan dalam UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang Mengatur tentang perkawinan, waris dan wakaf. Lembaga perkawinan dan wakaf sudah diangkat menjadi undang-undang, sedangkan waris belum diundang-undangkan. Undang-undang dan INPRES tersebut merupakan hukum positif di Indonesia, artinya HWI adalah undang-undang yang berlaku dan dilaksanakan oleh negara melalui Peradilan Agama. Para Hakim telah mengacu pada KHI dalam menyelesaikannya.
B. Tinjauan Teoritis Tentang Kewarisan
a. Pengertian Hukum Kewarisan Islam
Hukum kewarisan dalam Islam dikenal dengan Fiqh al-Mawaris. Prof. T.M Hasby as-Syiddiqi dalam bukunya Fiqh al-Mawaris telah memberikan pemahaman tentang pengertian hukum waris (fiqh mawaris). Fiqh mawaris ialah:3
ِﻋ ْﻠ
ٌﻢ ُـﻳ
ْﻌ َﺮ
ُف
ِﺑ
ِﻪ
َﻣ ْﻦ
َﻳ ِﺮ
ُث
ُثِﺮَﻳ َﻻ ْﻦَﻣَو
َو ِﻣ
ْﻖ
َد ُرا
ُﻛ
ﱢﻞ
َو ِرا
ٍث
َو َﻛ
ْﻴ ِﻔ َﻴ
ُﺔ َا
ﱠـﺘﻟ ْﻮ
ِز َﻳ ِﻊ
Artinya : “Ilmu yang dengan dia dapat diketahuin orang-orang yang mewarisi, orang-orang yang tidak dapat mewarisi, kadar yang diterima oleh masing-masing ahli waris serta cara pengambilannya.”
2 Jaenal Arifin, Peradilan Islam dalam bingkai reformasi hukum di indonesia, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 429.
20
Waris berasal dari kata
سرو – سﺮﯾ
dan kata masdarnyaسﺮﻣ
.Dan dalam pengertian etimologis kata
سراﻮﻣ
adalah bentuk jamak dari kataسﺮﻣ
yang artinya adalah harta pusaka atau warisan.4 Sedangkan menurutterminologi warisan adalah adalah pindahnya hak milik orang lain yang meninggal, peninggalan itu berupa benda bergerak maupun tidak bergerak atau berupa hak-hak syara’.5
Namun banyak dalam literatur kitab fiqh yang tidak menggunakan kata
mawaris karena yang digunakan sinonimnya yaitu Faraid. Menurut sejarah
menggunakan kata Faraid lebih dahuli daripada waris. Rasulullah SAW menggunakan kata Faraid dan tidak menggunakan kata mawaris. Hadits riwayat Ibnu Mas’ud berbunyi:
َﻋ
ْﻦ
َا ِْﰊ
ُﻫ َ
ﺮ ْـﻳ َﺮ َة
َﻗ :
َلﺎ
َر
ُﺳ ْﻮ
ُل
ِﷲا
َﺻ
ﱠﻰﻠ
ُﷲا
َﻋ
َﻠ ْﻴ ِﻪ
َو
َﺳ ﱠﻠ
َﻢ
َﻳ :
َأ ﺎ
َﺑ
ُﻫ ﺎ
َﺮ ْـﻳ َﺮ
َة
ُـﺗ َﻌ ﱢﻠ
ُﻤ ْﻮ
ا
َا ْﻟ َﻔ
َﺮ ِﺋا
ُﺾ
َو
َﻋ ﱠﻠ
ُﻤ ْﻮ
َﻫ
َﻓ ﺎ
ِﺎ ﱠﻧ
ُﻪ ِﻧ
ْﺼ
ُﻒ
ْﻟا
ِﻌ ْﻠ
ِﻢ
َو ُﻫ
َﻮ ُـﻳ ْﻨ
َﺴ
َو ﻰ
ُﻫ َﻮ
َا ﱠو
ُل
َﺷ ْﻴ
ٍﺊ
َـﻳ ْﻨ
ِﺰ ُع
ِﻣ
ْﻦ
ُا ﱠﻣ
ِﱴ
Artinya : “Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda : wahai Abu Hurairah pelajarilah Ilmu Faraid dan ajarilah kepada yang lain, sesungguhya ia merupakan sebagian dari Ilmu dan hal yang paling pertama yang akan dilupakan oleh umatku.”6
4 Mahud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/penafsir al-Qur’an cet. Ke-1, 1973), hal. 496.
5 Muhamad Ali ash-Sabuni, Hukum warisan dalam syariat islam (terjemah), (Bandung: CV Diponegoro, 1988), h. 40.
Kemudian al-Qurtubiy berkata: “Apabila hal ini diakui kebenarannya, maka ketahuilah bahwa Faraid adalah merupakan ilmu yang besar bagi para sahabat dan sangat hebat teori-teori mereka, tetapi sayang banyak orang yang menyia-nyiakan ilmu ini.(tafsir al-Qurtubiy : juz 5 halaman : 56).7
Adapun yang dimaksud dengan Faraid adalah masalah-masalah pembagian harta warisan, yakni :
ِﻋ ْﻠ
ٌﻢ َـﻳ
ْﻌ ِﺮ
ُف
ِﺑ
ِﻪ
َﻛ ْﻴ
ِﻔ َﻴ ِﺔ
ِﻗ
ْﺴ
َﻤ
َا ﺔ
ﱢـﺘﻟ ْﺮ َﻛ
ِﺔ
َﻋ
َﻰﻠ
ُﻣ ْﺴ
َﺘ ِﺤ
ﱢﻘ َﻬ
ﺎ
Artinya: “Ilmu untuk mengetahui cara membagi harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia kepada yang berhak menerimanya.”8
Kata al-Faraid adalah bentuk jamak dari al-Faridhah yang bermakna
al-Mafrudhah atau sesuatu yang diwajibkan. Artinya, pembagian yang telah ditentukan kadarnya.9
Seperti yang dicontohkan dalam surat an-Nisa ayat 12:
7 Muhammad Ali ash-Shabuniy, alih bahasa: Sarmin Syukur, Hukum Waris Islam, (Surabaya: al-Ikhlas, 1995) h. 22.
8 Moh. Muhibbin dan Abdul Wahib, Hukum Kewarisan Islam, h. 7.
22
Artinya : “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)10. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.(Q. S. An-Nisa : 12)
Ayat di atas menunjukan bahwa ilmu Faraid adalah ilmu yang sudah pasti hitungannya dan sudah ditentukan kadarnya. Fiqh Mawaris adalah ilmu yang mempelajari siapa-siapa ahli waris yang berhak menerima, serta bagian-bagian tertentu yang diterimanya.11 Berdasarkan para ahli di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa hukum waris adalah adalah hukum yang mengatur
10 Memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti: a. Mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka. b. Berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. Sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.
mengenai apa yang harus terjadi terhadap harta kekayaan seseorang yang meninggal dunia, dan menurut hukum Faraidh, bagian waris yang harus diterima itu sudah ditentukan atau tertentu, dan besar atau kecilnya bagian tergantung kepada keberadaan ahli waris lain yang secara bersama-sama mempunyai hak waris sehingga bagian hak waris satu samalain dapat berbeda.
Namun meskipun demikian hak waris adalah hak individu yang tidak boleh diganggu haknya oleh orang lain. Dengan demikian ada beberapa point penting dalam sistem waris Islam, yaitu:
a. Waris adalah pindahnya hak milik orang lain yang meninggal, baik yang ditinggalkannya itu benda bergerak maupun tidak bergerak atau berupa hak-hak syara’
b. Warisan hanya terbatas pada lingkungan keluarga dengan adanya hubungan perkawinan dan hubungan nasab.
c. Hukum waris Islam membagikan harta warisan dengan bagian tertentu kepada ahli warisnya.
Semua penjelasan di atas mengenai pengertian dan dasar-dasar Faraid
menjelaskan bahwa ilmu kewarisan atau Faraid adalah ilmu untuk membagi harta peninggalan yang wajib dibagikan kepada ahli waris. Mengingat pentingnya
Faraidh, maka setiap muslim tidak hanya diperintahkan untuk mempelajari ilmu
Faraidh saja, namun sekaligus diperintahkan untuk mengajarkan ilmu Faraidh
24
b. Pengertian Hukum Kewarisan Menurut Undang-Undang
Pengaturan mengenai hukum waris tersebut dapat ditemukan dalam pasal 830 sampai dengan pasal 1130 KUH Perdata. Meski demikian, pengertian mengenai hukum waris itu sendiri tidak dapat ditemukan pada bunyi pasal-pasal yang mengatur dalam KUH Perdata tersebut. Untuk mengetahui pengertian mengenai hukum waris selanjutnya kita akan coba melihat beberapa pengertian mengenai hukum waris yang diberikan oleh para ahli, sebagai berikut:
Hukum waris menurut Vollmar merupakan perpindahan harta kekayaan secara utuh, yang berarti peralihan seluruh hak dan kewajiban orang yang memberikan warisan atau yang mewariskan kepada orang yang menerima warisan atau ahli waris. Pengertian hukum kewarisan dalam KUH Perdata menurut Hartono Suryopratikno hukum waris adalah keseluruhan peraturan yang mengatur akibat hukum dari meninggalnya seseorang terhadap harta kekayaannya, perpindahan kepada ahli waris dan hubungannya dengan pihak ketiga. 12
Menurut Mr. B. Ter Haar Bzn Hukum waris adalah aturan-aturan hukum menegnai cara bagaimana penerusan dan peralihan harta kekayaan baik yang berujud maupun yang tidak berujud dari turunan ke keturunan.
Menurut Prof. Mr. A. Pitlo Hukum waris adalah kumpulan peraturan
yang mengatur hukum mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang.13
12 Suparman Usman, Ikhtisat Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW), (Serang: Darul Ulum Press cet. 2, 1993), h. 50.
13https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&ve d=0CDsQFjAC&url=http%3A%2F%2Ffile.upi.edu%2FDirektori%2FFPIPS%2FJUR._PEND._K EWARGANEGARAAN%2FDrs._H._Dadang_Sundawa%2C_M.Pd%2FH.PERDATA%2FHUK
Menurut Wirjono Prodjodikoro, mantan ketua Mahkamah Agung Indonesia, mengatakan:14 Bahwa hukum waris adalah hukum atau peraturan-peraturan yang mengatur tentang apakah dan bagaimanakah pelbagai hak-hak dan kewajiban tentang kekayaan seseorang pada waktu ia meninggalkan dunia akan beralih kepada orang lain yang masih hidup.
Sedangkan menurut Subekti dalam Pokok-Pokok Hukum Perdata
tidak menyebutkan definisi hukum kewarisan, hanya beliau mengatakan asas hukum waris, menurut Subekti : Dalam hukum waris Kitab Undang-Undang Hukum Perdata berlaku sesuatu asa, bahwa hanyalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam lapangan hukum kekayaan harta benda saja yang dapat diwariskan.
Dengan kata lain hanyalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat dinilai dengan uang. Namun menurut Subekti ada juga satu atau dua pengecualian, misalnya hak seorang bapak untuk menyangkal sahnya anaknya dan di pihak lain hak seorang anak untuk menuntut supaya ia dinyatakan sebagai anak yang sah dari bapak dan ibunya.15
Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur pengalihan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah)
14 Mohd. Idris Ramulyo, Beberapa Masalah Pelaksanaan Hukum Kewarisan Perdata Barat (Burgelik Watboek), (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 1996), h. 43.
26
pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.16
Secara umum dapat dikatakan bahwa hukum waris adalah hukum yang mengatur mengenai kedudukan harta dan kekayaan seseorang setelah meninggal dunia dan mengatur mengenai cara-cara berpindahnya harta kekayaan tersebut kepada orang lain.
Jadi menurut KUH Perdata maupun Hukum Islam pengertian tentang hukum kewarisan hampir sama walaupun tidak persis sama. Namun untuk lebih jelasnya Pokok-pokok hukum kewarisan dalam KHI adalah sebagai berikut: a. Secara garis besar tetap berpedoman pada garis-garis hukum Faraidh.
b. Tetap menempatkan status anak angkat diluar ahli waris dengan modifikasi melalui wasiat wajibah.
c. Porsi anak perempuan bagiannya tetap dan tidak mengalami reaktualisasi, bagian anak laki-laki dua banding satu (2:1) dengan bagian anak perempuan, tetapi melalui perdamaian dapat disepakati oleh para ahli waris jumlah pembagian yag menyimpang dari ketentuan pasal 171 KHI.
c. Rukun dan Syarat Waris
Sebab-sebab terjadinya kewarisan adalah adanya hubungan darah dan
adanya perkawinan.
Rukun waris ada tiga yakni : 1. Adanya Pewaris
Adalah seorang yang meninggal dunia setelah memastikan wafatnya, dan meninggalkan harta kekayaan.17 Wafatnya seseorang menurut ulama terbagi menjadi tiga bagian yaitu wafat haqiqi (sejati), wafat hukmi (dengan putusan hakim), mati taqdiri (secara dugaan).
2. Ahli waris
Adalah orang yang bernisbah kepada mayit karena mempunyai hubungan perkawinan ataupun hubungan nasab. Yakni orang yang akan mewarisi/menerima harta warisan18.
3. Harta warisan
Adalah sejumlah harta peninggalan serta segala hak dari yang meninggal dunia dalam keadaan bersih (setelah dikurangi oleh hutang-hutang si mayit, pengurusan jenazah, dan keperluan-keperluan lainya yang menyangkut keperluan si mayit).
Kekayaan yang ditinggalkan oleh pewaris itu merupakan suatu kumpulan aktiva dan pasiva, yang dinamakan harta peninggalan atau warisan.19
17 MR. A. Pilto (Alih Bahasa: M. Isa Arief), Hukum Waris menurut Kitab Undang-Undang Perdata Belanda Jilid 1, (Jakarta: PT Intermasa cet-2, 1986), h. 1
18 H. R Otje Salman dan Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, (Bandung: PT Refika Aditama cet-II, 2006), h. 4.
28
Menurut Prof. Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, SH, memberikan batasan-batasan mengenai kewarisan, antara lain:20
1. Seseorang yang meninggalkan warisan (elflater) pada saat orang tersebut meninggal dunia.
2. Seseorang atau beberapa orang ahli waris (elfenaam), yang mempunyai hak menerima kekayaan yang ditinggalkannya itu.
3. Harta warisan (nalaten schap), yaitu wujud kekayaan yang ditinggalkan dan selalu beralih kepada para ahli waris tersebut.
Syarat – Sayarat waris antara lain:21 1. Meninggalnya seseorang (pewaris)
2. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada saat warisan terbuka (pewaris meninggal)
3. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti dan mengetahui jumlah bagian masing-masing.
C. Penyelesaian Kewarisan Menurut Kompilasi Hukum Islam
Dasar hukum positif pelaksanaan hukum waris Islam di Indonesia adalah dalam intruksi presiden (inpres) No. 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI). INPRES ini salah satu bab nya mengatur masalah kewarisan.
peraturan ini menjadi acuan seluruh Peradilan Agma di Indonesia untuk menangani masalah kewarisan. Selanjutnya dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI)
20 Oemarsalim, Dasar-Dasar Hukum Waris Di Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 4.
mengenai kewarisan terdapat pada BUKU II HUKUM KEWARISAN Bab 1 Ketentuan Umum, yaitu : 22
Pasal 171 a) hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.
Dalam kewarisan ada yang berhak menerima warisan namun menjadi terhalang haknya dalam menerima warisan dikarenakan perbuatan yang dilakukan oleh ahli waris kepada pewaris. Misal ahli waris membunuh atau percobaan pembunuhan kepada pewaris. Hal ini dijelaskan dalam pasal 173 KHI yang mana dalam huruf a dan b. Kewajiban ahli waris sebelum membagikan harta warisan dalam pasal 175 KHI adalah wajib menyelesaikan hutang-hutang pewaris. a. Menentukan ahli waris
Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam pasal 174 menegaskan bahwa sanya kelompok-kelompok hali waris adalah:
1. Menurut hubungan darah, yaitu : a) golongan laki-laki terdiri dari ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman, kakek. b) golongan perempuan terdiri dari ibu, anak perempuan, sadara perempuan dan nenek.
2. Menurut hubungan perkawinan yaitu: Duda atau Janda.
3. Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapatkan warisan adalah, anak, ayah, ibu, janda atau duda.
30
b. Menentukan bagian masing-masing ahli waris
Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separuh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan (KHI Pasal 176). Ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada anak, ayah mendapat seperenam bagian (KHI Pasal 177).Ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih. Bila tidak ada anak atau dua orangsaudara atau lebih,maka ia mendapat sepertiga bagian (KHI pasal 178 (1)).Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda atau duda bila bersama-sama dengan ayah (KHI pasal 178 (2)).
seayah, maka ua mendapat separuh bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian.Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki dua berbanding satu dengan saudara perempuan (KHI pasal 182).
Bagi ahli waris yang belum dewasa atau tidak mampu melaksanakan hak dankewajibannya, maka baginya diangkat wali berdasarkan keputusan Hakim atas usul anggota keluarga (KHI pasal 184). Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling mewaris dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya (KHI pasal 186). Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada sipewaris maka kedudukannya dapat (KHI pasal 185 (1)). Digantikan oleh anaknya, kecuali mereka
yangtersebutdalam Pasal 173. (KHI pasal 185 (2)). Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yangdiganti (KHI pasal 185 (3)).
32
sekali atau ahli warisnya tidak diketahui ada atau tidaknya, maka harta tersebut atas putusan Pengadilan Agama diserahkan penguasaannya kepada Baitul Mal untuk kepentingan Agama Islam dan kesejahteraan umum (KHI pasal 191).
c. AUL dan RAAD
Apabila dalam pembagian harta warisan di antara para ahli warisnya Dzawilfurud menunjukkan bahwa angka pembilang lebih besar dari angka penyebut, maka angka penyebut dinaikkan sesuai dengan angka pembilang, dan baru sesudah itu harta warisnya dibagi secara aul menurut angka pembilang (KHI pasal 192).
Apabila dalam pembarian harta warisan di antara para ahli waris Dzawilfurud menunjukkan bahwa angka pembilang lebih kecil dari angka penyebut, sedangkan tidak ada ahli waris asabah,maka pembagian harta warisan tersebut dilakukan secara rad, yaitu sesuai dengan hak masing-masing ahli waris sedang sisanya dibagiberimbang diantara mereka (KHI pasal 193)
D. Prosedur Pengajuan Gugatan atau Permohonan
Gugatan adalah suatu hal yang mana dilakukan oleh seseorang atau lebih yang merasa haknya atau hak mereka telah dilanggar. Gugatan dimana terdapat pihak penggugat dan pihak tergugat.23 Gugatan diajukan secara tertulis atau tidak tertulis. Gugatan tertulis terdapat dalam pasal 118 HIR, dalam pasal ini ditentukan
bahwa gugatan ini harus diajukan secara tertulis dan ditujukan kepada ketua pengadilan yang berwenang dan harus ditandatangani oleh penggugat atau kuasa hukumnya. Adapun yang bertandatangan kuasa hukumnya sesuai yang diatur dalam pasal 123 ayat (1) HIR. Gugatan yang tidak tertulis diatur dalam pasal 120 yang mana bilamana penggugat itu buta huruf, maka gugatannya bisa dimasukan secara lisan kepada ketua pengadilan yang berwenang.
Surat gugatan yang dibuat harus jelas yaitu, bertanggal, nama penggugat dan tergugat jelas dan lengkap, umur, agama, alamat tempat tinggal.24
Surat gugatan atau permohonan yang telah dibuat dan ditandatangani diajukan ke panitera Pengadilan Agama (surat gugatan diajukan kepada sub kepanitraan gugatan sedangkan permohonan diajukan kepada sub panitra permohonan). Sebelum perkara terdaftar, panitera melakukan penelitian terlebih dahulu terhadap kelengkapan berkas perkara (penelitian terhadap bentuk dari isi gugatan atau permohonan). Apabila terjadi kesalahan dalam gugatan atau permohonan, maka tidak boleh didaftarkan sebelum petitum dan posita jelas.25 Jika terjadi kesalahan maka gugatan tersebut harus diperbaiki, panitera sebagai pihak yang mempunyai otoritas dalam meneliti berkas gugatan atau permohonan sebaiknya melakukan penelitian tersebut disertai dengan membuat resume
24 Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama (Jakarta: Kencana, 2005, cet. 3, 2005), h.27
34
tersebut diarahkan kepada ketua Pengadilan Agama dengan disertai saran, misalnya berbunyi “syarat-syarat cukup siap untuk disidangkan.”26
Setelah semua persyaratan lengkap maka penggugat atau pemohon membayar panjar biaya perkara sesuai yang tertera pada skum kepada kasir. Kemidian kasir menerima panjar biaya perkara dan membukukan, menandatangani, memberi nomor perkara, dan tandatangan lunas dari skum. Surat gugatan atau permohonan yang telah diterima oleh Pengadilan Agama kemudian diberi nomor dan didaftar pada buku register, dalam waktu 3 (tiga) hari kerja, harus diserahkan kepada ketua Pengadilan Agama untuk ditetapkan Majelis Hakimnya yang akan memeriksa dan memutus perkara tersebut.27
Berikut adalah langkah-langkah mengajukan guigatan atau permohonan di Pengadilan Agama:
a. Di tingkat pertama
1. Pihak berperkara datang ke pengadilan agama dengan membawa surat gugatan atau permohononan
2. Pihak berperkara menghadap petugas meja I dan menyerahkan surat gugatan atau permohonan, minimal 2 (dua) rangkap. Untuk surat gugatan ditambah sejumlah Tergugat
3. Petugas meja pertama (dapat) memberikan penjelasan yang dianggap perlu berkenaan dengan perkara yang diajukan dan menaksir panjar biaya perkara
26 Raihan A Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, ed. 2, cet. 8, 2001), h. 129
kemudian ditulis dalam skum (surat kuasa untuk membayar). Besarnya biaya perkara diperkirakan harus telah mencukupi untuk menyelesaikan perkara teersebut. ( pasal 182 ayat (1) hir. Jo. Psl. 90 undang undang ri no. 3 tahun 2006 tentang perubahan atas undang undang no. 7 tahun 1989 tentang peradilan agama).
4. Petugas meja I menyerahkan kembali surat gugatan atau permohonan kepada pihak berperkara disertai dengan skum (surat kuasa untuk menbayar) dalam rangkap 3 (tiga)
5. Pihak berperkara datang ke loket layanan bank yang ditunjuk dan mengisi slip penyetoran panjar biaya perkara. Pengisian data dalam slip bank tersebut sesuai dengan skum (surat kuasa untuk membayar), seperti nomor urut, dan besarnya biaya penyetoran. Kemudian pihak berperkara menyerahkan slip bank yang telah diisi dan menyetorkan uang sebesar yang tertera dalam slip bank tersebut
6. Setelah pihak berperkara menerima slip bank yang telah divalidsi dari petugas layanan bank, pihak berperkara meyerahkan slip bank tersebut dan menyerahkan (skum) surat kuasa untuk membayar kepada pemegang kas (kasir)
36
8. Pemegang kas kemudian memberi tanda lunas dalam skum (surat kuasa untuk membayar), dan meyerahkan kembali kepada pihak berperkara asli skum (surat kuasa untuk membayar) serta satu salinan surat gugatan atau permohonan yang telah diberi nomor perkara dan tanggal pendaftaran.
b. Pendaftaran selesai
1. Para pihak berperkara akan dipanggil oleh jurusita/jurusita pengganti untuk menghadap ke persidangan setelah ditetapkan susunan Majelis Hakim dan hari sidang pemeriksaan perkaranya. Hari sidang pertama, paling lambat 30 hari sejak pendaftaran. Pemanggilan pihak pihak dilakukan paling lambat tiga hari sebelum persidangan (hari waktu manggil tidak dihitung).
2. Pihak pihak hadir dipersidangan sesuai dengan panggilan sidang
3. Setelah Majelis Hakim membacakan putusan dalam sidang yang terbuka untuk umum, ketua majelis memberitahukan pada Penggugat atau pemohon untuk menghadap kasir guna mengecek panjar biaya perkara yang bersangkutan (dengan menggunakan instrumen) para pihak meyampaikan bukti bukti yang diperlukan dalam meneguhkan dalil gugatannya atau bantahannya
4. Pemohon atau Penggugat selanjutnya menghadap kepada pemegang kas untuk
menayakan perincian penggunaan panjar biaya yang telah ia bayarkan, dengan memberikan informasi nomor perkaranya.
Catatan: Apabila terdapat sisa panjar biaya perkaranya, maka pemegang kas membuatkan kwitansi pengembalian sisa panjar biaya perkara dengan menuliskan jumlah uang sesuai dengan sisa yang ada dalam buku jurnal dan diserahkan kepada pemohon atau Penggugat untuk ditanda tangani. Kwitansi pengembalian sisa panjar biaya perkara terdiri dari 3 (tiga) lembar :
a) Lembar pertama untuk pemegang kas
b) Lembar kedua untuk Pemohon dan Penggugat c) Lembar ketiga dimasukkan kedalam berkas perkara
6. Pemohon atau Penggugat setelah menerima kwitansi pengembalian sisa panjar biaya perkara dan menanda tanganinya, kemudian meyerahkan kembali kwitansi tersebut kepada pemegang kas.
7. Pemegang kas menyerahkan uang sejumlah yang tertera dalam kwitansi tersebut beserta tindasan pe