• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAK SUAMI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM (Analisis Putusan Perkara Gugat Waris Di Pengadilan Agama Kota Cirebon Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "HAK SUAMI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM (Analisis Putusan Perkara Gugat Waris Di Pengadilan Agama Kota Cirebon Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.)"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

HAK SUAMI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM

(Analisis Putusan Perkara Gugat Waris Di Pengadilan Agama Kota Cirebon

Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.)

Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah Dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu

Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Syari’ah (S. Sy)

Oleh:

Mohamad Apip Firmansyah

NIM : 107044102095

K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

J A K A R T A

(2)

i

Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah Dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Syari’ah (S. Sy)

Oleh

Mohamad Apip Firmansyah NIM : 107044102095

Dibawah bimbingan

Dr. Moh. Ali Wafa, S. Ag, M. Ag. NIP. 197304242002121007

K O N S E N T R A S I P E R A D I L A N A G A M A PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A

(3)

ii

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi berjudul berjudul HAK SUAMI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM (Analisis Putusan Perkara Gugat Waris Di Pengadilan Agama Kota Cirebon Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.). telah diujikan

dalam sidang Munaqasah Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN)

Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2014. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu

syarat memperoleh gelar Sarjana Syari’ah (S. Sy) pada Konsentrasi Peradilan Agama,

Program Studi Hukum Keluarga Islam.

Jakarta, Mengesahkan,

Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum

Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H. M.A. M.M. NIP. 195505051982031012

PANITIA UJIAN .

1. Ketua : Drs. H. A. Basiq Djalil, S.H., M.A (_________________)

NIP. 195003061976031001

2. Sekertaris : Hj. Rosdiana, MA (_________________)

NIP. 196906102003122001

3. Pembimbing : Dr. Moh. Ali Wafa, S. Ag. M. Ag (_________________)

NIP. 197304242002121007

4. Penguji I : Ali Mansur, M. A (_________________)

5. Penguji II : Dr. KH. A. Juaini Syukri, Lcs., MA (_________________)

(4)

iii

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah

satu persyaratan memperoleh gelar sarjana Srata 1 di Universitas Islam Negeri

(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti saya bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya

atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 1 November 2013

(5)

iv ABSTRAK

Mohamad Apip Firmansyah, NIM : 107044102095, HAK SUAMI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM (Analisis Putusan Perkara Gugat Waris Di Pengadilan Agama Kota Cirebon Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.)

Program Studi Hukum Keluarga Islam, Konsentrasi Peradilan Agama, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.

Dalam penelitian ini, penulis mengangkat suatu permasalahan yaitu Bagaimana Deskripsi pada perkara Gugat Waris Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn., Bagaimana prosedur pengajuan gugatan waris, Bagaimana konsep Kompilasi Hukum Islam tentang penyelesaian kewarisan, serta apa yang mendasari pertimbangandan putusan Majelis Hakim dalam memutuskan perkara waris.

Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui deskripsiPerkara Gugat Waris Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn, untuk mengetahui lebih rinci mekanisme pengajuan gugatan waris, untuk mengetahui secara jelas konsep Kompilasi Hukum Islam tentang masalah penyelesaian kewarisan, serta untuk mengetahui dan memahamidasar dari pertimbangandan putusan Majelis Hakim dalam menyelesaikan perkara waris Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.

Dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriftif, dibantu dengan bahan-bahan sekunder berupa hasil karya ilmiah, pendapat para pakar, buku-buku rujukan, dan sebagainya. Bahan-bahan penelitian tersebut kemudian disusun secara sistematis, dikaji, kemudian ditarik kesimpulan dalam hubungannya dalam masalah yang diteliti.

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah Berdasarkan hasil temuan peneliti dilapangan, gugatan yang diajukan tidak memenuhi syarat formil, karena tidak sesuai dengan kriteria-kriteria gugatan sebagai berikut: Jelas, tegas (eminuratif), memiliki dasar hukum yang jelas dan semua tuntutan memiliki keterkaitan keterkaitan yang terdapat di posita, Menunjukan bahwa dalam menentukan bagian-bagian ahli waris, dasar pertimbagan Mjajelis Hakim adalah ayat 11 surat an-Nisa dan pasal 176 Kompilasi Hukum Islam. Namun demikian ada yang kurang dalam dasar hukum yang digunakan oleh Majelis Hakim yaitu bagian untuk suami yang seharusnya mengacu kepada pasal 179 KHI, karena dalam pasal 176 itu hanya mencakup bagian anak laki-laki dan anak perempuan saja.

(6)

v

telah memberikan Rahmat dan Hidayah kepada kita semua khusisnya kepada

penulis. Shalawat beserta salam semoga selalu terlimpah curahkan kepada

junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sebagai teladan bagi kita semua.

Semasa perkuliahan hingga tahap akhir penyusunan skripsi ini banyak

pihak yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis. Sebagai

tanda syukur atas terselesaikannya penulisan skripsi yang berjudul HAK SUAMI SEBAGAI AHLI WARIS DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM (Analisis Putusan Perkara Gugat Waris Di Pengadilan Agama Kota Cirebon Nomor :

753/Pdt.G/2011/PA.Cn.). Maka pnulis ingin mengucapkan terimakasih yang

setinggi-tingginyakepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. M. Amin Suma, SH. MA. MM., Sebagai Dekan Fakultas

Syari’ah dan Hukum Unifersitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Drs. H. A. Basiq Djalil, SH. MA., sebagai Ketua Program Studi Hukum

Keluarga Islam Fakultas Syari’ah dan Hukum Unifersitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Dr. Moh. Ali Wafa, S. Ag, M. Ag., sebagai Dosen Pembimbing yang

selalu sabar membimbing penulis dalam penulisan skripsi.

4. Bapak Ali Mansur, M. A sebagai penguji I, yang sudah memberikan arahan

(7)

vi

5. Bapak Dr. KH. A. Juaini Syukri, Lcs., MA sebagai Pengujui II, yang dengan

sabar memberikan nasihat-nasihat yang sangat berharga untuk menatap masa

depan yang lebih indah.

6. Perpustakaan Utama serta Perpustakaan Fakulas Fakultas Syari’ah dan Hukum

Unifersitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Yang telah memberikan

bantuan berupa bahan-bahan yang menjadi referensi dalam penulisan skripsi.

7. Secara khusus Kepada orang tua penulis (nenek, mamah, bapa) yang selalu

sabar dalam memotivasi serta dukungan moril maupun materil dari awal

masuk kuliah sampai selesainya perkuliahan, serta selalu mendo’akan penulis

agar penulis sukses.

8. Adik-adik tercinta yang selalu memberikan motivasi dan selalu menghibur

disaat penulis sedang jenuh dalam manulis skripsi.

9. Sodara tercinta Wisnu Ahmad Maulana dan Liha Fathiatusholihah yang selalu

memberikan dorongan dan motivasi kepada penulis, semoga kalian bahagia

dan menjadi keluarga sakinah, mawadah warohmah.

10. Fitriah Rospari, S. Ked, yang telah memberikan motivasi, dukungan,

kepercayaan, do’a, dan selalu sabar dalam mengingatkan penulis agar segera

menyelesaikan skripsi. Terimakasih atas bawelnya yang selalu membuat

penulis tertawa dan terhibur.

11.Kepada para senior dan teman-teman seperjuangan Ikatan Pemuda Pelajar dan

Mahasiswa Kuningan, yang telah memberikan masukan-masukan dan selalu

menghibur sehingga penulis dapat berkonsentrasi kembali dalam

(8)

vii

cepat dalam menyelesaikan skripsi. Salam hangat untuk kalian semua semoga

kita bisa sukses dengan keinginan kita masing-masing.

13.Terimakasih juga kepada Edah, Sofiyah, Winda, Dinar, yang selalu membuat

dan mengantar makanan dan minuman ketika penulis sedang mengerjakan

skripsi. Terutama dinar terimakasih kopi buantannya mantap.

14.Tak lupa terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam

kelancaran penulisan skripsi ini yang penulis tidak bisa sebutkan.

Semoga semua kebaikan, dukungan dan motivasi yang diberikan kepada

penulis dibalas oleh Allah SWT dengan kebaikan yang jauh lebih besar.

Kesempurnaan hanya milik Alah SWT, mudah-mudahan semua yang penulis

lakukan diridhoi oleh Allah SWT, dan semoga Skripsi ini dapat bermanfaat.

Amin.

Jakarta, 1 November 2013 Penulis

(9)

viii DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Review Studi... 8

E. Kerangka Teori ... 9

F. Metode Penelitian ... 15

G. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II : KEWARISAN, KHI DAN EKSEPSI A. Pengertian Kewarisan ... 18

B. Tinjauan Teoritis Tentang Kewarisan ... 19

C. Penyelesaian Kewarisan Menurut Kompilasi Hukum Islam ... 28

D. Prosedur Pengajuan Gugatan atau Permohonan Waris ... 32

E. Pengertian Eksepsi ... 38

BAB III : PROFIL PENGADILAN AGAMA CIREBON A. Dasar Hukum Pembentukan Pengadilan Agama Cirebon... 43

B. Sejarah Pembentukan Pengadilan Agama Cirebon ... 43

(10)

ix

BAB IV : GUGATAN, KHI, DAN PUTUSAN MAJELIS HAKIM

A. Prosedur Gugatan Waris... 61 B. KHI dan Kewarisan ... 64 C. Pertimbangan dan Putusan Majelis Hakim ... 66

BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan ... 72 B. Saran-Saran ... 73

DAFTAR PUSAKA ... 75

(11)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat Permohonan Pembimbing

Lampiran 2 : Surat Permpohonan Data / Wawancara

Lampiran 3 : Pedoman Wawancara dan Hasil Wawancara

Lampiran 4 : Putusan Pengadilan Agama Perkara Gugat Waris Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.

(12)

1 A. Latar Belakang Masalah

Segi kehidupan manusia yang diatur Allah tersebut dapat dikelompokan

kepada dua kelompok, pertama, hal-hal penciptaannya. Aturan tentang hal

ini disebut “hukum ibadat”. Tujuannya untuk menjaga hubungan atau tali

antara Allah dengan hamba-Nya yang disebut juga hablun min Allah. Kedua,

berkaitan dengan hubungan antar manusia dengan alam sekitar,aturan ini

disebut juga “hukum muamalat”. Tujuannya menjaga hubungan antar

manusia dan alamnya atau disebut juga “hablun min al-Naas”. Kedua

hubungan ini harus tetap terpelihara agar manusia terlepas dari kehinaan,

kemiskinan, dan kemarahan Allah.1

Dalam hidup, sejak proses bayi, anak-anak, tamyiz, usia baligh dan usia

selanjutnya, manusia sebagai penanggung hak dan kewajiban. Baik selaku

pribadi, anggota keluarga, warga negara, dan pemeluk agama yang harus

tunduk, taat dan patuh pada ketentuan syari’at dalam seluruh totalitas

kehidupannya.Demikian juga kematian seseorang membawa pengaruh dan

akibat hukum kepada dirinya, keluarga, masyarakat dan lingkungan

sekitarnya. Selain itu kematian tersebut, menimbulkan kewajiban orang lain

bagi dirinya (si mayit) yang berhubungan dengan pengurusan jenazah (fardu

(13)

2

kifayah). Dengan kematian itulah timbul pula akibat hukum lain secara

otomatis. Yaitu adanya hubungan ilmu hukum yang menyangkut hak para

keluarganya (ahli waris) terhadap seluruh harta peninggalannya.2

Adanya kematian seseorang mengakibatkan timbulnya cabang ilmu

hukum yang menyangkut bagaimana cara peralihan atau penyelesaian harta

kepada keluarga (ahli waris) – nya, yang dikenal dengan nama : Hukum

Waris. Dalam syari’at islam dikenal dengan : Ilmu Mawaris, Fiqh Mawaris,

atau Faraid. Waris atau pusaka merupakan salah satu masalah dalam

keluarga yang mana apabila dalam pembagiannya tidak ada kemaslahatan

akan berakibat pecahnya keharmonisan keluarga.

Dalam pandangan Islam, pembagian harta peninggalan kepada yang

berhak mewarisi harta tersebut akan mewujudkan hubungan yang harmonis

dan saling tolong-menolong antara sesama keluarga.

Pada masa jahiliyyah (sebelum islam), bangsa Arab telah mengenal

sistem waris yang menjadi sebab berpindahnya hak kepemilikan atas harta

benda atau atas harta benda atau hak-hak material lainnya.3 Matinya muwarits (pewaris) mutlak harus dipenuhi. Seseorang baru disebut muwarits

jika dia telah meninggal dunia. Itu berarti bahwa, jika seseorang memberikan

2 Suparman Usman, Fiqih Mawaris Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Gaya Medika

Pratama cet-II.), h. 1.

3 Komite Fakultas Syari’ah ar-Risalah ad-Dauliyah. “Ahkamaul-mawarits

fil-fiqhil-mawarits-islami”. Mesir. Tahun 2000-2001. Diterjemahkan oleh H. Addys Aldizar, Lc. dan H.

(14)

harta kepada ahli warisnya ketika dia masih hidup, maka itu bukan

waris.Kematian muwaris menurut ulama, dibedakan kedalam 3 macam,

yaitu:4

a. Mati haqiqy (sejati)

b. Mati hukmy (menurut putusan hakim)

c. Mati taqdiry (menurut dugaan)

Bagi ummat Islam melaksanakan hukum – hukum islam, terutama

masalah kewarisan adalah suatu keharusan, selama belum adanya nash-nash

yang menunjukan ketidakwajibannya. Namun, dalam masalah waris, nash –

nash yang berkaitan dengan hukum membagi kewarisan tidak disebut, dan

yang disebut adalah keharusan menerapkan besar kecilnya masing – masing

bagian. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa kewajiban disini adalah

ketika seseorang menyerahkan masalah kewarisan secara (menurut) Faraidh

atau ilmu waris.5

Dalam praktiknya, banyak masyarakat yang masih bingung dalam

masalah waris, bahkan banyak yang menjadi sengketa dalam warisan. Seperti

halnya terjadi di Pengadilan Agama Cirebon, pada putusan Pengadilan

4 H. R Otje Salman dan Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, (Bandung: PT Refika

Aditama cet-II, 2006), h. 5.

5 Ahmad Ferry Firdaus, Status Hukum Ahli Waris Pengganti menurut perspektif KHI dan

(15)

4

Agama Cirebon terdapat sengketa waris dalam putusan Nomor :

753/Pdt.G/2011/PA.Cn.

Dalam hal ini penulis perlu meyampaikan beberapa hal mengenai

hal-hal yang terdapat dalam putusan tersebut.

Dalam putusan tersebut, penggugat mengajukan gugatannya kepada

Pengadilan Agama Cirebon dengan alasan ingkar janji terhadap surat

Keterangan dan pernyataan para ahli waris pada tanggal 1 Januari 2003.

Keterangan dan pernyataan para tergugat yang telah disepakati itu belum ada

pelaksanaan pembagiannya, meskipun penggugat telah sering memintanya.

Maka dari itu penggugat mengajukan gugatanya ke Pengadilan Agama

Cirebon untuk dibaginya harta warisan tersebut disebabkan penggugat ingin

nikah lagi.

Para tergugat menyatakan dalam eksepsinya bahwa, hal tersebut

tidaklah benar justru inisiasi membagikan harta waris itu sebelum penggugat

menikah kembali maka dari itu penggugat dan para tergugat melakukan

kesepakatan bahwa pembagian harta waris itu dilakukan sebelum

pernikahannya dengan istri baru nya seperti yang tertuang dalam surat

keterangan dan pernyataan ahli waris tanggal 1 Januari 2003. Para tergugat

juga menerangkan dalam eksepsinya bahwa prihal pengajuan gugatan itu

adalah gugatan pembagian waris, namun penggugat mendalihkan bahwa

tergugat melakukan perbuatan ingkar janji. Hal ini lah para tergugat

(16)

Petitum bisa juga disebut tuntutan atau permintaan penggugat kepeda

Hakim untuk dikabulkan dan diputuskan.

Rumusan petitum harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 6

a. Jelas dan Tegas (eminuratif); b. Memiliki dasar hukum yang jelas

c. Semua tuntutan memiliki keterkaitan keterkaitan yang terdapat di posita.

Menurut penulis dalam Pertimbangan Majelis Hakim juga terdapat

ketidaktepatan dalam menetapkan landasan hukum acaranya. Dan dalam

putusan tersebut penulis menilai tidak dijalankannya pasal 119 HIR yaitu :

ketua pengadilan negri berkuasa memberikan nasihat dan pertolongan

kepada penggugat atau wakilnya tentang hal memasukan surat gugatan.”7.

sehingga Surat Gugatan tersebut menjadi simpang siur.

Berdasarkan uraian penulis di atas, maka penulis mengangkat

permasalahan dalam skripsi yang berjudul : Hak Suami Sebagai Ahli Waris

Dalam Kompilasi Hukum Islam (Analisis Putusan Perkara Gugat Waris

Di Pengadilan Agama Cirebon Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.)

6 Saifuddin Arief, Notariat Syari’ah Dalam Praktik Jilid 1 Hukum Keluarga Islam,

(Jakarta : Datunnajah Publishing, 2011), h. 265.

7Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelik Wetbook) & RIB/HIR (Citra media

(17)

6

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Agar pembahasan dalam skripsi ini tidak menyimpang dan melebar

jauh dari inti atau pokok kajian masalah yang diangkat, maka penulis disini

akan membatasinya yakni pada persoalan yang berkaitan dengan kewarisan

yang diatur dalam Fiqh dan kewarisan yang diatur dalam Kompilasi Hukum

Islam. Dalam hal ini, penulis akan lebih fokus menyoroti dan menganalisis

putusan Perkara Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn., antara lain:

a. Pembagian waris dibatasi pengertian dan dasar hukum waris, sehingga

pembaca dapat mengerti tentang bagian-bagian yang harus diterima oleh

ahli waris.

b. Pertimbangan Majelis Hakim dibatasi pada dasar hakim dalam

pertimbangan hukumnya sehingga pembaca dapat mengetahui dan

mengerti tentang cara mempertimbangan suatu gugatan.

c. Putusan Majelis hakim dibatasi pada landasan hakim dalam memutus

suatu perkara sehingga pembaca dapat mengerti dan mengetahui tentang

landasan hakim dalam memutus suatu perkara waris.

Dari hasil kajian skripsi ini di harapkan akan dapat menjelaskan

tetang cara hakim menyelesaikan perkara di persidangan.

2. Perumusan Masalah

Dalam Herzien Inlandsch Reglement (HIR) dalam proses pengajuan

surat gugatan, surat gugatan itu harus jelas dan tegas juga mempunyai dasar

(18)

ajukan oleh penggugat bercampur baur atau tidak jelas (Obscuur Libel)

antara gugatan pembagian waris atau gugatan perbuatan ingkar janji.

Dari latar belakang masalah tersebut di atas, perumuan masalah yang

akan diangkat penyusun dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana Deskripsi pada perkara Gugat Waris Nomor :

753/Pdt.G/2011/PA.Cn.?

2. Bagaimana prosedur pengajuan gugatan waris?

3. Bagaimana konsep Kompilasi Hukum Islam tentang penyelesaian

kewarisan?

4. Apayang mendasari pertimbangan dan putusan Majelis Hakim dalam

memutuskan perkara waris?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui deskripsi Perkara Gugat Waris Nomor :

753/Pdt.G/2011/PA.Cn.

2. Untuk mengetahui lebih rinci mekanisme pengajuan gugatan waris.

3. Untuk mengetahui secara jelas konsep Kompilasi Hukum Islam tentang

masalah penyelesaian kewarisan.

4. Untuk mengetahui dan memahami dasar dari pertimbangan dan putusan

Majelis Hakim dalam menyelesaikan perkara waris Nomor :

(19)

8

Adapun manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi penulis menambah wawasan tentang mekanisme pengajuan dan

proses penyelesaian perkawa waris.

2. Bagi akademisi sebagai sumbangsih khasanah keilmuan kewarisan,

mekanisme pengajuan dan proses penyelesaian perkawa waris.

3. Dapat memberikan pengetahuan lebih jauh dalam pembahasan

kewarisan dengan studi putusan Nomor : 753/Pdt.G/2011/PA.Cn.

D. Review Studi

1. Milki Barokah: Disparitas Putusan Perkara Waris (Studi Putus Pengadilan

Agama Nomor. 1397/Pdt. G/2008/PA.JT) dan putusan Pengadilan Ttnggi

Agama Nomor 50/Pdt. G/2009/PTA.JK)

Dalam skripsi ini menguraikan sistem kewarisan secara jelas secara

fiqih dan letak keadilannya. Juga menguraikan secara jelas tentang kewarisan

menurut perspektif undang-undang.

2. Dodi Darwin : Kasus Penetapan Ahli Waris Pengganti Di Pengadilan

Agama Jakarta Timur

Dalam skripsi ini menguraikan pengertian tentang waris dan ahli

waris pengganti yang cukup untuk dipahami. Juga mengerangkan tentang

rukun, syarat, sebab kewarisan dan asa-asas kewarisan.

Perbedaan antara skripsi yang sudah ada di fakultas syari’ah dengan

skripsi yang ditulis oleh penulis adalah:

a. Dalam skripsi terdahulu, tentang Disparitas Putusan Perkara Waris

(20)

putusan Pengadilan Ttnggi Agama Nomor 50/Pdt. G/2009/PTA.JK).

membahas tentang efektifitas penerapan kaidah-kaidah dan dasar-dasar

hukum yang digunakan oleh Hakim.

Persamaannya dengan skripsi yang ditulis oleh penulis adalah

sama-sama membahas tentang putusan hakim terhadap perkara waris.

b. Persamaan dalam skripsi “Kasus Penetapan Ahli Waris Pengganti Di

Pengadilan Agama Jakarta Timur” ini dengan yang ditulis oleh penulis

adalah sama-sama membahas tentang putusan hakim terhadap perkara

waris.

Perbedaannya adalah penulis lebih mengulas bagaimana hakim

menetapkan dan bagaimana cara pengajuan gugatan kepada Pengadilan

Agama. Dan membahas perkara waris dengan adanya gugatan waris

disebabkan adanya perbuatan ingkar janji oleh penerima waris lain.

E. Kerangka Teori

Proses perjalanan kehidupan manusia adalah lahir, hidup, dan mati.

Semua tahap itu mempunyai pengaruh dan akibat hukum dalam setiap fase

nya. Segi kehidupan manusia yang diatur Allah tersebut dapat dikelompokan

kepada dua kelompok, pertama, hal-hal penciptaan nya. Aturan tentang hal

ini disebut “hukum ibadat”. Tujuannya untuk menjaga hubungan atau tali

antara Allah dengan hamba-Nya yang disebut juga hablun min Allah. Kedua,

berkaitan dengan hubungan antar manusia dengan alam sekitar. Aturan ini

disebut juga “hukum muamalat”. Tujuannya menjaga hubungan antar

(21)

10

hubungan ini harus tetap terpelihara agar manusia terlepas dari kehinaan,

kemiskinan, dan kemarahan Allah. 8

Dalam hidup, sejak proses bayi, anak-anak, tamyiz, usia baligh dan

usia selanjutnya, manusia sebagai penanggung hak dan kewajiban. Baik

selaku pribadi, anggota keluarga, warga negara, dan pemeluk agama yang

harus tunduk, taat dan patuh pada ketentuan syari’at dalam seluruh totalitas

kehidupannya.

Demikian juga kematian seseorang membawa pengaruh dan akibat

hukum kepada dirinya, keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Selain itu kematian tersebut, menimbulkan kewajiban orang lain bagi dirinya

(si mayit) yang berhubungan dengan pengurusan jenazah (fardu

kifayah).Dengan kematian itulah timbul pula akibat hukum lain secara

otomatis. Yaitu adanya hubungan ilmu hukum yang menyangkut hak para

keluarganya (ahli waris) terhadap seluruh harta peninggalannya.9

Waris hanya berlangsung karena kematian.10 Adaanya kematian seseorang mengakibatkan timbulnya cabang ilmu hukum yang menyangkut

bagaimana cara peralihan atau penyelesaian harta kepada keluarga (ahli

waris) – nya, yang dikenal dengan nama : Hukum Waris. Dalam syari’at

Islam dikenal dengan : Ilmu Mawaris, Fiqh Mawaris, atau Faraid. Hukum

8 Amir Syarifudin, Hukum Kewarisan Islam, h. 3.

9 Suparman Usman, Fiqih Mawaris Hukum Kewarisan Islam, h. 1.

10 R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, KUHPerdata / Burgelijk Wetboek dengan tambahan:

(22)

kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan

harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak

menjadi ahli waris dan berapa bagian masing-masing.11

Islam sebagai agama samawi mengajarkan hukum kewarisan,

disamping hukum-hukum lainnya untuk menjadi pedoman bagi umat

manusia agar terjamin adanya kerukunan, ketertiban, perlindungan dan

ketentraman dalam kehidupan di bawah naungan dan ridha Allah SWT.12 Hukum yang merupakan bagian dari hukum keluarga, dewasa ini mempunyai

peranan yang sangat penting bahkan menentukan dan mencerminkan sistem

kekeluargaan yang berlaku di masyarakat. Hazairin menyatakan bahwa,

“Dari seluruh hukum, maka hukum perkawinan dan kewarisanlah yang

menentukan dan mencerminkan sistem hukum kekeluargaan yang berlaku di

masyarakat.”13

Hukum kewarisan dan hukum perkawinan masing – masing

mempunyai sub sistem hukum, yaitu hukum keluarga. Oleh karena itu kedua

hukum tersebut mempunyai asas, sifat dan gaya yang sama sehingga dapat

dilaksanakan dengan baik dan selaras dalam tata kehidupan keluarga.

Demikian pula dalam Hukum kewarisan islam sebagai sub sistem hukum

11 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam, (Jakarta : Radar Jaya Ofset, 2007, cet-5), h.

155.

12 Al-‘Utsmain dan syaikh muhamad bin shalih, panduan praktis hukum waris: menurut

al-Qur’an dan sunnah yang sohih, (Bogor: pustaka Ibnu Katsir, 2006), h. 2.

13 Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut al-Qur’an dan Hadist, (Jakarta: Tana

(23)

12

keluarga harus memiliki sifat, asas, dan gaya yang sama dengan hukum

perkawinan. Sebagaimana hak kewarisan berlaku atas dasar hubungan

kekerabatan, dan berlaku atas dasar perkawinan, dengan arti bahwa suami

ahli waris bagi istrinya yang meninggal dan istri ahli waris bagi suaminya

yang meninggal, begitu juga keturunan dan anak-anaknya.

Berlakunya hubungan kewarisan antara suami dengan istri

didasarkan pada ketentuan tertentu. Yaitu antara keduanya telah berlangsung

akad nikah yang sah.14 Tentang akad nikah yang sah ditetapkan dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan pasal 2 ayat 1 yaitu perkawinan sah

apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan

kepercayaannya.15

Menurut undang-undang yang berhak untuk menjadi ahli waris

adalah, para keluarga sedarah, baik sah maupun luar kawin dan si suami atau

istri yang hidup terlama.

Dalam hal ini penulis akan membahas khusus mengenai hak suami

dalam kewarisan menurut fiqh dan KHI. Dalam kitab Bidayatul Mujtahid

disebutkan sebagai berikut:

14 Amir Syarifudin, Hukum Kewarisan Islam, h. 188.

15 R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, KUHPerdata / Burgelijk Wetboek dengan tambahan :

(24)

َأو

َْﲨ

ُﻊ

ْﻟا ُﻌ َﻠ

َﻤ

ِءﺎ

َﻋ َﻠ

َﻣ ﻰ

َِﲑ

ُث

ْﻟا

ِﺮ

َﺟ

ُﻞ

ِﻣ

َﻦ

ِا ْﻣ َﺮ

َأ ِﺗ

ِﻪ

ِا َذ

َْﱂ ا

َـﺗ ْـﺘ

َﺮ ُك

َو َﻟ

ًﺪ

َو ا

َﻻ ْو

َﻟ َﺪ

ِا ْﺑ

ُﻦ

ِﻨﻟا

ْﺼ

ِﻒ

ِا .

َﻻ

َﻣ

ﻊﺑﺮﻟا ﻪﻠﻓ اﺪﻟو ﺖﻛﺮﺗ نا ﺎ أو . ﺪﻫ ﺎﺟ ﻦﻋﺎﻧﺮﻛذ ﺎ

.

16

Artinya : “Fuqaha berpendapat bahwa warisan suami dari istrinya jika istrinya tidak meninggalkan anak dan cucu laki-laki dari anak laki-laki, maka bagiannya separuh harta. Kecuali pendapat yang kami sebut dari mujahid, jika istri tersebut meninggalkan anak, maka bagian suami adalah seperempat.”17

Dalam kitab Bajuri disebutkan:

َﻓ ِﻠ

ﱠﺰﻠ ْو

ِج

ْﻟا

ِﻨ

ْﺼ

ُﻒ

َو

ِﺣا

ًﺪ

ِ ,

َﻷ

ﱠـﻧ َﻬ

ِا ﺎ

ْـﺛ َـﻨ

ِْﲔ

َْﳐ َﺮ

َج

َـﻨﻟا

ْﻔ

ٍﺲ

18

Artinya : “Seorang suami baginya setengah jika sendiri, suami adalah salah satu orang yang mendapat bagian pasti dalam urutan kedua.”

َـﻗ ْﻮ َﻟ

ُﻪ

َا ) :

ﱠﺰﻟ ْو

ُج

َﻣ َﻊ

ْا

َﻮﻟ َﻟ

َأ ﺪ

ْو

َو َﻟ ُﺪ

ْا

ِﻻ ْﺑ

ِﻦ

َا (

ْي

ِﻟ َﻘ

ْﻮ ُﻟ ُﻪ

َـﺗ َﻌ

) : ﻰﻠ

َﻓ ِﺈ

ْن

َﻛ

َنﺎ

َُﳍ

ﱠﻦ

َو َﻟ ٌﺪ

َـﻓ َﻠ

ُﻜ

ْﻢ َا

ﱡﺮﻟ ُﺑ

ْﻊ

(

. 19

Arttinya : “Berkata (syekh khotib) : suami seserta anak atau cucu laki-laki, sesuai dengan firman Allah SWT: seseungguhnya bila ada anak bagi kalian (para suami) maka baginya adalah seperempat.

Dalam syarah Fathul Qarib diterangkan :

َﻓ )

ﱢﻧﺎ

ْﺼ

ُﻒ

َـﻓ ْﺮ

ٌض

َْﲬ

َﺴ ٌﺔ

َا (

َﺣ

ُﺪ َﻫ

ِﺒﻟا) ﺎ

ْﻨ

ُﺖ

َا (

ْﻟ َﻮ

ِﺣا

َﺪ ُة

َو)

َﺛ (

ِﻧﺎ ْـﻴ

َﻬ

ِﺑ) ﺎ

ْﻨ

ُﺖ

ْا

ِﻻ

ْﺑ

ِﻦ

(

َو)

َﺛ (

ِﻟﺎ ُـﺜ

َﻬ

ْا) ﺎ

ُﻷ

ْﺧ

ُﺖ

ِﻣ

َﻦ

ْا َﻻ

ِب

َو

ْا

ُﻻ

ﱢم

َو) (

َر (

ِﺑا ُﻌ

َﻬ

َا) ﺎ

ُﻻ

ْﺧ

ُﺖ

ِﻣ

َﻦ

ْ◌

َﻷ

ِب

َو) (

(

16 Asyahir Abdul Wahid Muhammad bin Achmad bin Muhammad Ibnu Rusyh, Bidayatul

Mujtahid wa Nihayatul Muqtasyid, (Surabaya: Toko Kitab al-Hidayah, tt), h 256.

17 Imam Ghazali Said dan Ahmad Zaidun, Bidayatul Mujtahid Analisa Fiqih Para

Mujtahid, (Jakarta: Pustaka Amani, 2007), Jilid 3, cet III, h.388

18 Ibrohim al-Bajuri, syarahal-Bajuri (Hisyah Fathul Qarib). h. 110

(25)

14

َِﲬ

ُﺴ َﻬ

َا) ﺎ

ْﻟ َﺰ ْو

ُج

ِا َذ

َْﱂا

َﻳ ُﻜ

ْﻦ

(

َﻣ َﻌ

ُﻪ َو

َﻟﺪ

َو)ا ْﻟ

ُﺮ ُﺑﻊ

َـﻓ ْﺮ

ٌض

ِا ْـﺛ

َـﻨ

ِْﲔ

َﻣ (

َﻊ

ْﻟا َﻮ َﻟ

ٍﺪ

َا ْو

َو َﻟ ِﺪ

ِاﻟ

ِْﱭ

20

Artinya :”Yang mendapatkan bagian setenmgah itu ada 5 (lima) kelompok, yaitu : pertama anak perempuan, kedua cucu perempuan, ketiga saudara perempuan seayah seibu, keempat saudara perempuan seayah, dan kelima suami apabila tidak ada anak. Dan bagian kedua, suami dapat seperempat bagian apabila bersama dengan anak atau cucu laki-laki.”

Jika melihat dari pandangan ulama – ulama di atas semua ulama

sepakat bahwa bagian suami adalah setengah bagian apabila pewaris tidak

mempunyai anak atau cucu laki-laki, dan mendapatkan seperempat bagian

apabila pewaris mempunyai anak atau cucu laki-laki.

Dalam putusan tersebut, penggugat mengajukan gugatannya kepada

Pengadilan Agama Cirebon dengan alasan ingkar janji terhadap surat

Keterangan dan pernyataan para ahli waris pada tanggal 1 Januari 2003.

Keterangan dan pernyataan para tergugat yang telah disepakati itu belum ada

pelaksanaan pembagiannya, meskipun penggugat telah sering memintanya.

Maka dari itu penggugat mengajukan gugatannya ke Pengadilan Agama

Cirebon untuk pembagian harta warisan tersebut disebabkan penggugat ingin

nikah lagi. Para tergugat menyatakan dalam eksepsinya bahwa, hal tersebut

tidaklah benar justru inisiasi membagikan harta waris itu sebelum penggugat

menikah kembali itu berasal dari para tergugat. Maka dari itu penggugat dan

para tergugat melakukan kesepakatan bahwa pembagian harta waris itu

dilakukan sebelum melaksanakan pernikahan dengan istri barunya. Seperti

20 Syeik an-Nawawi bin Umar al-Jawi, Tasyeh ‘ala Ibnu Qosim, (Syarah Fathul Qarib),

(26)

yang tertuang dalam surat keterangan dan pernyataan ahli waris tanggal 1

Januari 2003.

F. Metode Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode kualitatif, yaitu

penelitian yang menghasilkan data deskriftif, berupa kata-kata tertulis atau

lisan orang-orang atau prilaku yang diamati.21 Adapun jenis penelitian, sumberdata dan jenis data adalah sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah:

a. Penelitian pustaka (Library research). Dalam penelitian ini penulis

menelaah data tertulis yang berhubungan dengan topik permasalahan

penelitian baik dalam bentuk buku, makalah, brosur, dan lain-lain.

Untuk menemukan kajian teoritis.

b. Penelitian lapangan (Field research). Untuk mendapatkan data-data

secara langsung dari objek penelitian maka, penulis melakukan

wawancara dengan pihak-pihak terkait guna mendapatkan data yang

sesuai dengan kebutuhan penulis.

2. Sumber data

Yang dimaksud sumber data adalah subyek dari mana data dapat

diperoleh.22 Dalam penelitian ini yang menjadikan sumber data adalah sebagai berikut:

21 Lexy J. Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2004), h. 3.

22 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V,

(27)

16

a. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari Pengadilan Agama

Cirebon.

b.Data sekunder adalah data yang diperoleh dari kajian pustaka, jurnal-jurnal

terkait dan wawancara hakim-hakim di Pengadilan Agama Cirebon.

3. Jenis data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini data kualitatif, yaitu

penelitian yang menghasilkan data deskriftif, berupa kata-kata tertulis atau

lisan orang-orang atau prilaku yang diamati. Selain kualitatif penulis juga

menggunakan metode interview/wawancara untuk mendapatkan data, yaitu

proses tanya jawab secara lisan antara dua orang atau lebih, bertatap muka,

mendengarkan secara langsung mengenai informasi atau

keterangan-keterangan.23 Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan yuridis normative yakni dengan kajian perundang-undangan

(statute approach). Dengan pendekatan ini, dilakukan kajian tentang

peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan tema sentral

penelitian ini.24

G. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam menganalisis materi pembahasan

penulis memberikan sitematika penulisan sebagai berikut:

23 Cholid dan Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), h. 83

24 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukuk Normatif, (Jakarta:

(28)

Bab pertama adalah PendahuluanmeliputiLatar Belakang Masalah,

Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian,

Review Studi, Kerangka Teori, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan.

Bab kedua adalah Kewarisan, KHI dan Eksepsi meliputi Pengertian

Kewarisan, Tinjauan Teoritis Tentang Kewarisan, Penyelesaian Kewarisan

Menurut Kompilasi Hukum Islam, Prosedur Pengajuan Gugatan atau

Permohonan Waris, Pengertian Eksepsi.

Bab ketiga adalah Profil Pengadilan Agama Cirebon meliputi Dasar

Hukum Pembentukan Pengadilan Agama Cirebon, Sejarah Pembentukan

Pengadilan Agama Cirebon, Visi Dan Misi, Mekanisme Pengaduan

Masyarakat Pencari Keadilan Di Kantor Pengadilan Agama Cirebon,

Struktur Pengadilan Agama Cirebon, Tugas Pokok Dan Fungsi Peradilan

Agama.

Bab keempat adalah Waris, Gugatan, KHI danPutusan Hakim

meliputi Deskripsi Gugatan Waris, Prosedur Gugatan Waris, KHI dan

Kewarisan, Pertimbangan dan Putusan Majelis Hakim.

Bab Kelima adalah Penutup yang meliputi : kesimpulan dan

(29)

18 BAB II

KEWARISAN, KHI, GUGATAN DAN EKSEPSI

A. Pengertian Kewarisan

Hukum waris merupakan bagian dari hukum perdata, dimana dari dahulu sampai sekarang ini hukum waris di Indonesia sangat beraneka ragam sekali. Adapun garis besarnya terbagi menjadi tiga bagian:

1. Hukum waris yang terdapat pada undang-undang perdata (KUH Perdata/BW) 2. Hukum waris yang terdapat pada Kompilasi Hukum Islam (KHI)

3. Hukum waris yang terdapat pada kitab-kitab fiqh yang tersusun dalam fiqh mawaris atau ilmu Faraidh.

Hukum Waris Islam (HWI) atau dikenal juga ilmu Faraid

dikembangkan berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, dan Ijtihad. HWI di Indonesia berkembang dengan pesat ditandai dengan munculnya ijtihad yang dimunculkan

dengan berbagai peraturan dan pendapat dari berbagai ahli.1

Undang-undang tentang Peradilan Agama yang mengatur kewenangan dan tatacara pemeriksaan perkara orang Islam bertambah ketika keluarnya peraturan Nomor 28 tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, terutama pasal 12 yang berbunyi: “Penyelesaian perselisihan sepanjang yang menyangkut persoalan perwakafan tanah, disalurkan melalui Pengadilan Agama setempat

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Bahkan pada tahun 1989, kewenangan peradilan agama mendapatkan perluasan bukan

(30)

hanya sebatas masalah perkawinan, namun juga masalah, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, dan shadaqah.2 Ketentuan tersebut dinyatakan dalam UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang Mengatur tentang perkawinan, waris dan wakaf. Lembaga perkawinan dan wakaf sudah diangkat menjadi undang-undang, sedangkan waris belum diundang-undangkan. Undang-undang dan INPRES tersebut merupakan hukum positif di Indonesia, artinya HWI adalah undang-undang yang berlaku dan dilaksanakan oleh negara melalui Peradilan Agama. Para Hakim telah mengacu pada KHI dalam menyelesaikannya.

B. Tinjauan Teoritis Tentang Kewarisan

a. Pengertian Hukum Kewarisan Islam

Hukum kewarisan dalam Islam dikenal dengan Fiqh al-Mawaris. Prof. T.M Hasby as-Syiddiqi dalam bukunya Fiqh al-Mawaris telah memberikan pemahaman tentang pengertian hukum waris (fiqh mawaris). Fiqh mawaris ialah:3

ِﻋ ْﻠ

ٌﻢ ُـﻳ

ْﻌ َﺮ

ُف

ِﺑ

ِﻪ

َﻣ ْﻦ

َﻳ ِﺮ

ُث

ُثِﺮَﻳ َﻻ ْﻦَﻣَو

َو ِﻣ

ْﻖ

َد ُرا

ُﻛ

ﱢﻞ

َو ِرا

ٍث

َو َﻛ

ْﻴ ِﻔ َﻴ

ُﺔ َا

ﱠـﺘﻟ ْﻮ

ِز َﻳ ِﻊ

Artinya : “Ilmu yang dengan dia dapat diketahuin orang-orang yang mewarisi, orang-orang yang tidak dapat mewarisi, kadar yang diterima oleh masing-masing ahli waris serta cara pengambilannya.”

2 Jaenal Arifin, Peradilan Islam dalam bingkai reformasi hukum di indonesia, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 429.

(31)

20

Waris berasal dari kata

سرو – سﺮﯾ

dan kata masdarnya

سﺮﻣ

.

Dan dalam pengertian etimologis kata

سراﻮﻣ

adalah bentuk jamak dari kata

سﺮﻣ

yang artinya adalah harta pusaka atau warisan.4 Sedangkan menurut

terminologi warisan adalah adalah pindahnya hak milik orang lain yang meninggal, peninggalan itu berupa benda bergerak maupun tidak bergerak atau berupa hak-hak syara’.5

Namun banyak dalam literatur kitab fiqh yang tidak menggunakan kata

mawaris karena yang digunakan sinonimnya yaitu Faraid. Menurut sejarah

menggunakan kata Faraid lebih dahuli daripada waris. Rasulullah SAW menggunakan kata Faraid dan tidak menggunakan kata mawaris. Hadits riwayat Ibnu Mas’ud berbunyi:

َﻋ

ْﻦ

َا ِْﰊ

ُﻫ َ

ﺮ ْـﻳ َﺮ َة

َﻗ :

َلﺎ

َر

ُﺳ ْﻮ

ُل

ِﷲا

َﺻ

ﱠﻰﻠ

ُﷲا

َﻋ

َﻠ ْﻴ ِﻪ

َو

َﺳ ﱠﻠ

َﻢ

َﻳ :

َأ ﺎ

َﺑ

ُﻫ ﺎ

َﺮ ْـﻳ َﺮ

َة

ُـﺗ َﻌ ﱢﻠ

ُﻤ ْﻮ

ا

َا ْﻟ َﻔ

َﺮ ِﺋا

ُﺾ

َو

َﻋ ﱠﻠ

ُﻤ ْﻮ

َﻫ

َﻓ ﺎ

ِﺎ ﱠﻧ

ُﻪ ِﻧ

ْﺼ

ُﻒ

ْﻟا

ِﻌ ْﻠ

ِﻢ

َو ُﻫ

َﻮ ُـﻳ ْﻨ

َﺴ

َو ﻰ

ُﻫ َﻮ

َا ﱠو

ُل

َﺷ ْﻴ

ٍﺊ

َـﻳ ْﻨ

ِﺰ ُع

ِﻣ

ْﻦ

ُا ﱠﻣ

ِﱴ

Artinya : “Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda : wahai Abu Hurairah pelajarilah Ilmu Faraid dan ajarilah kepada yang lain, sesungguhya ia merupakan sebagian dari Ilmu dan hal yang paling pertama yang akan dilupakan oleh umatku.”6

4 Mahud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/penafsir al-Qur’an cet. Ke-1, 1973), hal. 496.

5 Muhamad Ali ash-Sabuni, Hukum warisan dalam syariat islam (terjemah), (Bandung: CV Diponegoro, 1988), h. 40.

(32)

Kemudian al-Qurtubiy berkata: “Apabila hal ini diakui kebenarannya, maka ketahuilah bahwa Faraid adalah merupakan ilmu yang besar bagi para sahabat dan sangat hebat teori-teori mereka, tetapi sayang banyak orang yang menyia-nyiakan ilmu ini.(tafsir al-Qurtubiy : juz 5 halaman : 56).7

Adapun yang dimaksud dengan Faraid adalah masalah-masalah pembagian harta warisan, yakni :

ِﻋ ْﻠ

ٌﻢ َـﻳ

ْﻌ ِﺮ

ُف

ِﺑ

ِﻪ

َﻛ ْﻴ

ِﻔ َﻴ ِﺔ

ِﻗ

ْﺴ

َﻤ

َا ﺔ

ﱢـﺘﻟ ْﺮ َﻛ

ِﺔ

َﻋ

َﻰﻠ

ُﻣ ْﺴ

َﺘ ِﺤ

ﱢﻘ َﻬ

Artinya: “Ilmu untuk mengetahui cara membagi harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia kepada yang berhak menerimanya.”8

Kata al-Faraid adalah bentuk jamak dari al-Faridhah yang bermakna

al-Mafrudhah atau sesuatu yang diwajibkan. Artinya, pembagian yang telah ditentukan kadarnya.9

Seperti yang dicontohkan dalam surat an-Nisa ayat 12:















































































7 Muhammad Ali ash-Shabuniy, alih bahasa: Sarmin Syukur, Hukum Waris Islam, (Surabaya: al-Ikhlas, 1995) h. 22.

8 Moh. Muhibbin dan Abdul Wahib, Hukum Kewarisan Islam, h. 7.

(33)

22







































































































Artinya : “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)10. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.(Q. S. An-Nisa : 12)

Ayat di atas menunjukan bahwa ilmu Faraid adalah ilmu yang sudah pasti hitungannya dan sudah ditentukan kadarnya. Fiqh Mawaris adalah ilmu yang mempelajari siapa-siapa ahli waris yang berhak menerima, serta bagian-bagian tertentu yang diterimanya.11 Berdasarkan para ahli di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa hukum waris adalah adalah hukum yang mengatur

10 Memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti: a. Mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka. b. Berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. Sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.

(34)

mengenai apa yang harus terjadi terhadap harta kekayaan seseorang yang meninggal dunia, dan menurut hukum Faraidh, bagian waris yang harus diterima itu sudah ditentukan atau tertentu, dan besar atau kecilnya bagian tergantung kepada keberadaan ahli waris lain yang secara bersama-sama mempunyai hak waris sehingga bagian hak waris satu samalain dapat berbeda.

Namun meskipun demikian hak waris adalah hak individu yang tidak boleh diganggu haknya oleh orang lain. Dengan demikian ada beberapa point penting dalam sistem waris Islam, yaitu:

a. Waris adalah pindahnya hak milik orang lain yang meninggal, baik yang ditinggalkannya itu benda bergerak maupun tidak bergerak atau berupa hak-hak syara’

b. Warisan hanya terbatas pada lingkungan keluarga dengan adanya hubungan perkawinan dan hubungan nasab.

c. Hukum waris Islam membagikan harta warisan dengan bagian tertentu kepada ahli warisnya.

Semua penjelasan di atas mengenai pengertian dan dasar-dasar Faraid

menjelaskan bahwa ilmu kewarisan atau Faraid adalah ilmu untuk membagi harta peninggalan yang wajib dibagikan kepada ahli waris. Mengingat pentingnya

Faraidh, maka setiap muslim tidak hanya diperintahkan untuk mempelajari ilmu

Faraidh saja, namun sekaligus diperintahkan untuk mengajarkan ilmu Faraidh

(35)

24

b. Pengertian Hukum Kewarisan Menurut Undang-Undang

Pengaturan mengenai hukum waris tersebut dapat ditemukan dalam pasal 830 sampai dengan pasal 1130 KUH Perdata. Meski demikian, pengertian mengenai hukum waris itu sendiri tidak dapat ditemukan pada bunyi pasal-pasal yang mengatur dalam KUH Perdata tersebut. Untuk mengetahui pengertian mengenai hukum waris selanjutnya kita akan coba melihat beberapa pengertian mengenai hukum waris yang diberikan oleh para ahli, sebagai berikut:

Hukum waris menurut Vollmar merupakan perpindahan harta kekayaan secara utuh, yang berarti peralihan seluruh hak dan kewajiban orang yang memberikan warisan atau yang mewariskan kepada orang yang menerima warisan atau ahli waris. Pengertian hukum kewarisan dalam KUH Perdata menurut Hartono Suryopratikno hukum waris adalah keseluruhan peraturan yang mengatur akibat hukum dari meninggalnya seseorang terhadap harta kekayaannya, perpindahan kepada ahli waris dan hubungannya dengan pihak ketiga. 12

Menurut Mr. B. Ter Haar Bzn Hukum waris adalah aturan-aturan hukum menegnai cara bagaimana penerusan dan peralihan harta kekayaan baik yang berujud maupun yang tidak berujud dari turunan ke keturunan.

Menurut Prof. Mr. A. Pitlo Hukum waris adalah kumpulan peraturan

yang mengatur hukum mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang.13

12 Suparman Usman, Ikhtisat Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW), (Serang: Darul Ulum Press cet. 2, 1993), h. 50.

13https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&ve d=0CDsQFjAC&url=http%3A%2F%2Ffile.upi.edu%2FDirektori%2FFPIPS%2FJUR._PEND._K EWARGANEGARAAN%2FDrs._H._Dadang_Sundawa%2C_M.Pd%2FH.PERDATA%2FHUK

(36)

Menurut Wirjono Prodjodikoro, mantan ketua Mahkamah Agung Indonesia, mengatakan:14 Bahwa hukum waris adalah hukum atau peraturan-peraturan yang mengatur tentang apakah dan bagaimanakah pelbagai hak-hak dan kewajiban tentang kekayaan seseorang pada waktu ia meninggalkan dunia akan beralih kepada orang lain yang masih hidup.

Sedangkan menurut Subekti dalam Pokok-Pokok Hukum Perdata

tidak menyebutkan definisi hukum kewarisan, hanya beliau mengatakan asas hukum waris, menurut Subekti : Dalam hukum waris Kitab Undang-Undang Hukum Perdata berlaku sesuatu asa, bahwa hanyalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam lapangan hukum kekayaan harta benda saja yang dapat diwariskan.

Dengan kata lain hanyalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dapat dinilai dengan uang. Namun menurut Subekti ada juga satu atau dua pengecualian, misalnya hak seorang bapak untuk menyangkal sahnya anaknya dan di pihak lain hak seorang anak untuk menuntut supaya ia dinyatakan sebagai anak yang sah dari bapak dan ibunya.15

Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur pengalihan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah)

14 Mohd. Idris Ramulyo, Beberapa Masalah Pelaksanaan Hukum Kewarisan Perdata Barat (Burgelik Watboek), (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 1996), h. 43.

(37)

26

pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.16

Secara umum dapat dikatakan bahwa hukum waris adalah hukum yang mengatur mengenai kedudukan harta dan kekayaan seseorang setelah meninggal dunia dan mengatur mengenai cara-cara berpindahnya harta kekayaan tersebut kepada orang lain.

Jadi menurut KUH Perdata maupun Hukum Islam pengertian tentang hukum kewarisan hampir sama walaupun tidak persis sama. Namun untuk lebih jelasnya Pokok-pokok hukum kewarisan dalam KHI adalah sebagai berikut: a. Secara garis besar tetap berpedoman pada garis-garis hukum Faraidh.

b. Tetap menempatkan status anak angkat diluar ahli waris dengan modifikasi melalui wasiat wajibah.

c. Porsi anak perempuan bagiannya tetap dan tidak mengalami reaktualisasi, bagian anak laki-laki dua banding satu (2:1) dengan bagian anak perempuan, tetapi melalui perdamaian dapat disepakati oleh para ahli waris jumlah pembagian yag menyimpang dari ketentuan pasal 171 KHI.

c. Rukun dan Syarat Waris

Sebab-sebab terjadinya kewarisan adalah adanya hubungan darah dan

adanya perkawinan.

(38)

Rukun waris ada tiga yakni : 1. Adanya Pewaris

Adalah seorang yang meninggal dunia setelah memastikan wafatnya, dan meninggalkan harta kekayaan.17 Wafatnya seseorang menurut ulama terbagi menjadi tiga bagian yaitu wafat haqiqi (sejati), wafat hukmi (dengan putusan hakim), mati taqdiri (secara dugaan).

2. Ahli waris

Adalah orang yang bernisbah kepada mayit karena mempunyai hubungan perkawinan ataupun hubungan nasab. Yakni orang yang akan mewarisi/menerima harta warisan18.

3. Harta warisan

Adalah sejumlah harta peninggalan serta segala hak dari yang meninggal dunia dalam keadaan bersih (setelah dikurangi oleh hutang-hutang si mayit, pengurusan jenazah, dan keperluan-keperluan lainya yang menyangkut keperluan si mayit).

Kekayaan yang ditinggalkan oleh pewaris itu merupakan suatu kumpulan aktiva dan pasiva, yang dinamakan harta peninggalan atau warisan.19

17 MR. A. Pilto (Alih Bahasa: M. Isa Arief), Hukum Waris menurut Kitab Undang-Undang Perdata Belanda Jilid 1, (Jakarta: PT Intermasa cet-2, 1986), h. 1

18 H. R Otje Salman dan Mustofa Haffas, Hukum Waris Islam, (Bandung: PT Refika Aditama cet-II, 2006), h. 4.

(39)

28

Menurut Prof. Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, SH, memberikan batasan-batasan mengenai kewarisan, antara lain:20

1. Seseorang yang meninggalkan warisan (elflater) pada saat orang tersebut meninggal dunia.

2. Seseorang atau beberapa orang ahli waris (elfenaam), yang mempunyai hak menerima kekayaan yang ditinggalkannya itu.

3. Harta warisan (nalaten schap), yaitu wujud kekayaan yang ditinggalkan dan selalu beralih kepada para ahli waris tersebut.

Syarat – Sayarat waris antara lain:21 1. Meninggalnya seseorang (pewaris)

2. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada saat warisan terbuka (pewaris meninggal)

3. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti dan mengetahui jumlah bagian masing-masing.

C. Penyelesaian Kewarisan Menurut Kompilasi Hukum Islam

Dasar hukum positif pelaksanaan hukum waris Islam di Indonesia adalah dalam intruksi presiden (inpres) No. 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI). INPRES ini salah satu bab nya mengatur masalah kewarisan.

peraturan ini menjadi acuan seluruh Peradilan Agma di Indonesia untuk menangani masalah kewarisan. Selanjutnya dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI)

20 Oemarsalim, Dasar-Dasar Hukum Waris Di Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 4.

(40)

mengenai kewarisan terdapat pada BUKU II HUKUM KEWARISAN Bab 1 Ketentuan Umum, yaitu : 22

Pasal 171 a) hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.

Dalam kewarisan ada yang berhak menerima warisan namun menjadi terhalang haknya dalam menerima warisan dikarenakan perbuatan yang dilakukan oleh ahli waris kepada pewaris. Misal ahli waris membunuh atau percobaan pembunuhan kepada pewaris. Hal ini dijelaskan dalam pasal 173 KHI yang mana dalam huruf a dan b. Kewajiban ahli waris sebelum membagikan harta warisan dalam pasal 175 KHI adalah wajib menyelesaikan hutang-hutang pewaris. a. Menentukan ahli waris

Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam pasal 174 menegaskan bahwa sanya kelompok-kelompok hali waris adalah:

1. Menurut hubungan darah, yaitu : a) golongan laki-laki terdiri dari ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman, kakek. b) golongan perempuan terdiri dari ibu, anak perempuan, sadara perempuan dan nenek.

2. Menurut hubungan perkawinan yaitu: Duda atau Janda.

3. Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapatkan warisan adalah, anak, ayah, ibu, janda atau duda.

(41)

30

b. Menentukan bagian masing-masing ahli waris

Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separuh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan (KHI Pasal 176). Ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada anak, ayah mendapat seperenam bagian (KHI Pasal 177).Ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih. Bila tidak ada anak atau dua orangsaudara atau lebih,maka ia mendapat sepertiga bagian (KHI pasal 178 (1)).Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda atau duda bila bersama-sama dengan ayah (KHI pasal 178 (2)).

(42)

seayah, maka ua mendapat separuh bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian.Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki dua berbanding satu dengan saudara perempuan (KHI pasal 182).

Bagi ahli waris yang belum dewasa atau tidak mampu melaksanakan hak dankewajibannya, maka baginya diangkat wali berdasarkan keputusan Hakim atas usul anggota keluarga (KHI pasal 184). Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling mewaris dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya (KHI pasal 186). Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada sipewaris maka kedudukannya dapat (KHI pasal 185 (1)). Digantikan oleh anaknya, kecuali mereka

yangtersebutdalam Pasal 173. (KHI pasal 185 (2)). Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yangdiganti (KHI pasal 185 (3)).

(43)

32

sekali atau ahli warisnya tidak diketahui ada atau tidaknya, maka harta tersebut atas putusan Pengadilan Agama diserahkan penguasaannya kepada Baitul Mal untuk kepentingan Agama Islam dan kesejahteraan umum (KHI pasal 191).

c. AUL dan RAAD

Apabila dalam pembagian harta warisan di antara para ahli warisnya Dzawilfurud menunjukkan bahwa angka pembilang lebih besar dari angka penyebut, maka angka penyebut dinaikkan sesuai dengan angka pembilang, dan baru sesudah itu harta warisnya dibagi secara aul menurut angka pembilang (KHI pasal 192).

Apabila dalam pembarian harta warisan di antara para ahli waris Dzawilfurud menunjukkan bahwa angka pembilang lebih kecil dari angka penyebut, sedangkan tidak ada ahli waris asabah,maka pembagian harta warisan tersebut dilakukan secara rad, yaitu sesuai dengan hak masing-masing ahli waris sedang sisanya dibagiberimbang diantara mereka (KHI pasal 193)

D. Prosedur Pengajuan Gugatan atau Permohonan

Gugatan adalah suatu hal yang mana dilakukan oleh seseorang atau lebih yang merasa haknya atau hak mereka telah dilanggar. Gugatan dimana terdapat pihak penggugat dan pihak tergugat.23 Gugatan diajukan secara tertulis atau tidak tertulis. Gugatan tertulis terdapat dalam pasal 118 HIR, dalam pasal ini ditentukan

(44)

bahwa gugatan ini harus diajukan secara tertulis dan ditujukan kepada ketua pengadilan yang berwenang dan harus ditandatangani oleh penggugat atau kuasa hukumnya. Adapun yang bertandatangan kuasa hukumnya sesuai yang diatur dalam pasal 123 ayat (1) HIR. Gugatan yang tidak tertulis diatur dalam pasal 120 yang mana bilamana penggugat itu buta huruf, maka gugatannya bisa dimasukan secara lisan kepada ketua pengadilan yang berwenang.

Surat gugatan yang dibuat harus jelas yaitu, bertanggal, nama penggugat dan tergugat jelas dan lengkap, umur, agama, alamat tempat tinggal.24

Surat gugatan atau permohonan yang telah dibuat dan ditandatangani diajukan ke panitera Pengadilan Agama (surat gugatan diajukan kepada sub kepanitraan gugatan sedangkan permohonan diajukan kepada sub panitra permohonan). Sebelum perkara terdaftar, panitera melakukan penelitian terlebih dahulu terhadap kelengkapan berkas perkara (penelitian terhadap bentuk dari isi gugatan atau permohonan). Apabila terjadi kesalahan dalam gugatan atau permohonan, maka tidak boleh didaftarkan sebelum petitum dan posita jelas.25 Jika terjadi kesalahan maka gugatan tersebut harus diperbaiki, panitera sebagai pihak yang mempunyai otoritas dalam meneliti berkas gugatan atau permohonan sebaiknya melakukan penelitian tersebut disertai dengan membuat resume

24 Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama (Jakarta: Kencana, 2005, cet. 3, 2005), h.27

(45)

34

tersebut diarahkan kepada ketua Pengadilan Agama dengan disertai saran, misalnya berbunyi “syarat-syarat cukup siap untuk disidangkan.”26

Setelah semua persyaratan lengkap maka penggugat atau pemohon membayar panjar biaya perkara sesuai yang tertera pada skum kepada kasir. Kemidian kasir menerima panjar biaya perkara dan membukukan, menandatangani, memberi nomor perkara, dan tandatangan lunas dari skum. Surat gugatan atau permohonan yang telah diterima oleh Pengadilan Agama kemudian diberi nomor dan didaftar pada buku register, dalam waktu 3 (tiga) hari kerja, harus diserahkan kepada ketua Pengadilan Agama untuk ditetapkan Majelis Hakimnya yang akan memeriksa dan memutus perkara tersebut.27

Berikut adalah langkah-langkah mengajukan guigatan atau permohonan di Pengadilan Agama:

a. Di tingkat pertama

1. Pihak berperkara datang ke pengadilan agama dengan membawa surat gugatan atau permohononan

2. Pihak berperkara menghadap petugas meja I dan menyerahkan surat gugatan atau permohonan, minimal 2 (dua) rangkap. Untuk surat gugatan ditambah sejumlah Tergugat

3. Petugas meja pertama (dapat) memberikan penjelasan yang dianggap perlu berkenaan dengan perkara yang diajukan dan menaksir panjar biaya perkara

26 Raihan A Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, ed. 2, cet. 8, 2001), h. 129

(46)

kemudian ditulis dalam skum (surat kuasa untuk membayar). Besarnya biaya perkara diperkirakan harus telah mencukupi untuk menyelesaikan perkara teersebut. ( pasal 182 ayat (1) hir. Jo. Psl. 90 undang undang ri no. 3 tahun 2006 tentang perubahan atas undang undang no. 7 tahun 1989 tentang peradilan agama).

4. Petugas meja I menyerahkan kembali surat gugatan atau permohonan kepada pihak berperkara disertai dengan skum (surat kuasa untuk menbayar) dalam rangkap 3 (tiga)

5. Pihak berperkara datang ke loket layanan bank yang ditunjuk dan mengisi slip penyetoran panjar biaya perkara. Pengisian data dalam slip bank tersebut sesuai dengan skum (surat kuasa untuk membayar), seperti nomor urut, dan besarnya biaya penyetoran. Kemudian pihak berperkara menyerahkan slip bank yang telah diisi dan menyetorkan uang sebesar yang tertera dalam slip bank tersebut

6. Setelah pihak berperkara menerima slip bank yang telah divalidsi dari petugas layanan bank, pihak berperkara meyerahkan slip bank tersebut dan menyerahkan (skum) surat kuasa untuk membayar kepada pemegang kas (kasir)

(47)

36

8. Pemegang kas kemudian memberi tanda lunas dalam skum (surat kuasa untuk membayar), dan meyerahkan kembali kepada pihak berperkara asli skum (surat kuasa untuk membayar) serta satu salinan surat gugatan atau permohonan yang telah diberi nomor perkara dan tanggal pendaftaran.

b. Pendaftaran selesai

1. Para pihak berperkara akan dipanggil oleh jurusita/jurusita pengganti untuk menghadap ke persidangan setelah ditetapkan susunan Majelis Hakim dan hari sidang pemeriksaan perkaranya. Hari sidang pertama, paling lambat 30 hari sejak pendaftaran. Pemanggilan pihak pihak dilakukan paling lambat tiga hari sebelum persidangan (hari waktu manggil tidak dihitung).

2. Pihak pihak hadir dipersidangan sesuai dengan panggilan sidang

3. Setelah Majelis Hakim membacakan putusan dalam sidang yang terbuka untuk umum, ketua majelis memberitahukan pada Penggugat atau pemohon untuk menghadap kasir guna mengecek panjar biaya perkara yang bersangkutan (dengan menggunakan instrumen) para pihak meyampaikan bukti bukti yang diperlukan dalam meneguhkan dalil gugatannya atau bantahannya

4. Pemohon atau Penggugat selanjutnya menghadap kepada pemegang kas untuk

menayakan perincian penggunaan panjar biaya yang telah ia bayarkan, dengan memberikan informasi nomor perkaranya.

(48)

Catatan: Apabila terdapat sisa panjar biaya perkaranya, maka pemegang kas membuatkan kwitansi pengembalian sisa panjar biaya perkara dengan menuliskan jumlah uang sesuai dengan sisa yang ada dalam buku jurnal dan diserahkan kepada pemohon atau Penggugat untuk ditanda tangani. Kwitansi pengembalian sisa panjar biaya perkara terdiri dari 3 (tiga) lembar :

a) Lembar pertama untuk pemegang kas

b) Lembar kedua untuk Pemohon dan Penggugat c) Lembar ketiga dimasukkan kedalam berkas perkara

6. Pemohon atau Penggugat setelah menerima kwitansi pengembalian sisa panjar biaya perkara dan menanda tanganinya, kemudian meyerahkan kembali kwitansi tersebut kepada pemegang kas.

7. Pemegang kas menyerahkan uang sejumlah yang tertera dalam kwitansi tersebut beserta tindasan pe

Referensi

Dokumen terkait