BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Prosedur Pengembangan Tes
Pada prosedur pengembangan tes hasil belajar matematika, peneliti membahas tentang ketujuh langkah yang digunakan oleh peneliti untuk mengembangkan tes hasil belajar.
Berikut merupakan langkah-langkah pengembangan tes hasil belajar:
a. Potensi dan Masalah
Berdasarkan hasil wawancara, ternyata guru kesulitan membuat soal dan tidak pernah membuat soal pilihan ganda. Guru hanya menggunakan soal yang diambil dari buku dan internet. Sedangkan menurut Sudjana (2009: 50) tentang kaidah penulisan tes hasil belajar yang telah dipaparkan pada bab II, terdapat 9 kaidah penulisan soal pilihan ganda. Selain itu, guru juga tidak pernah melakukan analisis soal, padahal menurut pendapat Arikunto yang telah dipaparkan pada bab II ciri-ciri tes hasil belajar yang baik adalah yang valid, reliabel, objektivitas, praktikabilitas dan ekonomis. Oleh karena itu peneliti melakukan pengembangan terhadap soal tes matematika yang sesuai dengan kaidah penulisan soal pilihan ganda dan memenuhi syarat tes yang baik.
b. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan guru kelas IV SDN Perumnas III, Depok. Selain data hasil wawancara, data lainnya juga diperoleh dari lembar kuesioner yang dibagikan pada para ahli untuk menguji kelayakan produk yang tengah dikembangkan peneliti. Berdasarkan hasil wawancara, guru tersebut membutuhkan soal matematika berbetuk pilihan ganda yang valid, reliabel, memiliki daya beda, tingkat kesukaran dan pengecoh yang baik. Guru tersebut juga menjelaskan langkah-langkah yang seharusnya dilakukan untuk membuat soal tes. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan menentukan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Selanjutnya adalah membuat indikator dan membuat kisi-kisi. Setelah kisi-kisi dibuat, kemudian menyusun soal berdasarkan kisi-kisi yang telah ada.
c. Desain Produk
Produk yang dikembangkan oleh peneliti merupakan bentuk tes pilihan ganda. Tes pilihan ganda dinilai mampu untuk menilai kemampuan siswa pada berbagai tingkat kognitif mulai dari mengingat sampai mencipta serta dapat memberikan jawaban yang objektif. Langkah pertama pengembangan tes pilihan ganda dengan menyusun kisi-kisi yang merupakan deksripsi mengenai kompetensi atau materi yang akan dipakai. Selanjutnya menentukan Kompetensi Dasar (KD) serta membuat indikator. Langkah kedua adalah menentukan taraf tingkat berpikir
berdasarkan taksonomi Bloom yang telah direvisi meliputi mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta.
Tingkat kesukaran soal juga ditentukan dengan persentase 25% untuk kategori mudah (Mengingat dan memahami) ,50% untuk kategori sedang (menerapkan dan menganalisis) dan 25% untuk kategori sulit (mengevaluasi dan mencipta). Penulisan butir soal adalah proses penjabaran indikator menjadi bentuk pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kisi-kisi yang telah ditentukan oleh peneliti. Penulisan butir soal mengacu pada kaidah-kaidah penulisan tes pilihan ganda menurut Sudjana (2009: 50) yang telah dijabarkan pada bab II.
d. Validasi Desain
Hasil yang didapat dari validasi ahli yang menunjukkan bahwa tes hasil belajar layak untuk diujikan dengan catatan harus diperbaiki sesusai saran dari ahli. Hasil dari penilaian validator dapat dikategorikan seperti tabel di bawah ini.
No Validator Rerata Kategori 1 Dosen Ahli Matematika
PGSD
3,88 Sangat Baik 2 Guru Kelas VI SD 3,58 Sangat Baik 3 Guru Kelas IV SD 4,00 Sangat Baik 4 Guru Kelas III SD 3,00 Baik
3.61 Sangat Baik Tabel 4.13 Hasil Analisis Validator
Berdasarkan tabel di atas, hasil validasi desain dari dosen ahli matematika PGSD diperoleh skor 3,88 yang termasuk dalam kategori sangat baik. Hasil validasi desain dari guru kelas VI SD diperoleh skor 3,58 yang termasuk dalam kategori sangat baik. Hasil validasi desain dari guru kelas IV SD diperoleh skor 4,00 yang termasuk dalam kategori sangat baik. Sedangkan hasil validasi desain dari guru kelas III SD diperoleh skor 3,00 yang termasuk dalam kategori baik. Berdasarkan skor yang diperoleh dari keempat validator ahli tersebut, didapatkan rata-rata skor 3,61. Sehingga dapat disimpulkan bahwa desain produk tes hasil belajar matematika yang telah dibuat oleh peneliti termasuk ke dalam kategori sangat baik dengan menggunakan kualifikasi skor validasi ahli Widoyoko pada tabel 3.4.
e. Revisi Desain
Produk tes yang telah divalidasi oleh para ahli kemudian diperbaiki sesuai dengan saran dari para ahli. Beberapa soal yang kalimatnya terlalu panjang dipersingkat dan terdapat juga soal yang butuh penambahan kalimat. Peneliti juga mengubah bentuk kalimat soal yang terlihat monoton.
Peneliti melakukan revisi desain produk tes hasil belajar matematika yang telah divalidasi oleh keempat ahli. Peneliti melakukan revisi berdasarkan komentar atau kritik dari keempat ahli tersebut seperti yang telah dipaparkan pada tabel 4.2. Secara keseluruhan peneliti merevisi hal-hal berikut :
1) Mempersingkat kalimat soal yang terlalu panjang. 2) Mengubah soal nomor 17 dan 18 menjadi yang
diketahui jumlah total dan yang dicari harga buku. 3) Menambahkan kalimat pada soal nomor 15.
Penambahan kalimat dilakukan agar siswa lebih memahami maksud dari soal cerita.
4) Memperbaiki penggunaan bahasa Indonesia agar tidak monoton.
Revisi desain dilakukan berdasarkan teori kaidah penulisan tes pilihan ganda menurut Sudjana (2009: 50) yang telah dijelaskan pada bab II.
f. Uji Coba Produk
Hasil uji coba produk yang dianalisis menggunakan program TAP (Test Analysis Program) versi 14.7.4 diperoleh hasil sebagai berikut :
1) Soal tipe A
Pada soal tipe A diperoleh butir soal valid sebanyak 17 soal dan butir soal yang tidak valid sebanyak 13 soal. Hasil reliabilitas yakni sebesar 0,743 atau dalam kategori tinggi. Daya pembeda didapatkan hasil yaitu 16 butir soal dengan kategori sangat baik, 3 butir soal dengan kategori cukup baik, serta 4 butir soal dengan kategori kurang baik. Tingkat kesukaran diperoleh hasil 3 butir soal dengan kategori mudah, 22 butir soal kategori sedang, dan 5 butir soal kategori sukar. Sedangkan
analisis pengecoh didapatkan bahwa 19 pengecoh tidak berfungsi, sedangkan 71 pengecoh lainnya berfungsi dengan baik. Kategori yang digunakan untuk analisis pengecoh mengacu pada pernyataan Surapranata pada bab III yang menyatakan bahwa pengecoh yang baik apabila minimal dipilih oleh 5% atau 0, 05 peserta tes.
2) Soal tipe B
Pada soal tipe A diperoleh butir soal valid sebanyak 19 soal dan butir soal yang tidak valid sebanyak 11 soal. Hasil reliabilitas yakni sebesar 0,765 atau dalam kategori tinggi. Daya pembeda didapatkan hasil yaitu 17 butir soal dengan kategori sangat baik, 7 butir soal dengan kategori cukup baik, serta 3 butir soal dengan kategori kurang baik tingkat kesukaran diperoleh hasil 2 butir soal dengan kategori mudah, 22 butir soal kategori sedang, dan 6 butir soal kategori sukar. Sedangkan analisis pengecoh didapatkan bahwa 15 pengecoh tidak berfungsi, sedangkan 75 pengecoh lainnya berfungsi dengan baik. Kategori yang digunakan untuk analisis pengecoh mengacu pada pernyataan Surapranata pada bab III yang menyatakan bahwa pengecoh yang baik apabila minimal dipilih oleh 5% atau 0, 05 peserta tes.
g. Revisi Produk
Peneliti melakukan revisi produk dengan cara memperbaiki soal-soal yang pengecohnya tidak berfungsi. Pada tipe A terdapat 4 nomor soal yang pengecohnya harus diperbaiki, yaitu nomor 1, 5, 11, dan 16. Soal nomor 1 pengecoh yang harus diperbaiki adalah
option A dan D, sedangkan soal nomor 5 A, 11 D dan 16 adalah
option C. Pada tipe B, ada 5 nomor soal yang pengecohnya harus
diperbaiki, yaitu nomor 2, 7, 9, 16 dan 29. Pada soal nomor 2 pengecoh yang harus direvisi adalah option A dan D, 7 option A dan B, 9 option A, 16 option B dan D serta 29 option D. Revisi pengecoh dapat dilihat pada tabel berikut.
No Paket Option Tidak Berfungsi Option Setelah Direvisi 1 A a. satuan a. ribuan d. ribuan d. satuan 5 A a. 110 buku a. 103 buku 11 A d. 8,9 meter d. 8,6 meter 16 A c. c c. c
Tabel 4.14 Daftar pengecoh tidak berfungsi tipe A No Paket Tidak Berfungsi Direvisi
2 B a. satuan a. ribuan d. ribuan d. satuan 7 B a. IPA a.IPS b. IPS b. IPA 9 B a. d, c, a, b a. a, c, b, d 16 B b. K b. M d. M d. K 29 B d. d. penghapus dan bolpoin
Tabel 4.15 Daftar pengecoh tidak berfungsi tipe B
Seluruh pengecoh yang telah direvisi pada tabel di atas tidak diujicobakan lagi. Hal ini dikarenakan peneliti hanya
menggunakan 7 langkah pengembangan Borg dan Gall, sehingga pengujian hanya satu kali saja karena peneliti merasa data yang diperoleh sudah cukup memenuhi kebutuhan peneliti.