• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KETENTUAN HUKUM PENGGUNAAN BILYET GIRO DI

C. Prosedur Penggunaan Bilyet Giro di Indonesia

Bilyet giro merupakan salah satu produk yang ditawarkan oleh setiap bank kepada nasabahnya. Bank memberikan penawaran untuk pembukaan rekening giro kepada nasabahnya dengan melakukan perjanjian. Bilyet giro yang dianggap lebih aman dan juga mudah untuk digunakan tentunya akan menarik minat dari nasabah untuk bisa menggunakannya. Hal ini dikarenakan, nasabah akan merasakan hal yang lebih mudah dalam melakukan transaksi dengan rekannya.

Nantinya nasabah yang memiliki rekening giro hanya perlu memberikan warkat giro kepada rekannya untuk kemudian ditukarkan di bank tanpa harus diikuti oleh nasabah pemilik rekening.

45

Sehubungan dengan ini timbul pertanyaan tentang apakah persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang itu menjadi pemegang rekening giro? Untuk membuka rekening giro, seseorang pada umumnya harus melalui mekanisme atau prosedur tertentu. Prosedur yang berhubungan dengan rekening giro itu sendiri harus lebih dahulu calon nasabah mengajukan suatu permohonan kepada Direksi Pemerintah Daerah.

Dengan persetujuan Direksi, di sana permohonana calon nasabah diproses, apakah calon nasabah yang bersangkutan termasuk atau tidak dalam daftar hitam atau kredit macet yang diberikan oleh Bank Indonesia. Lalu setelah diteliti, bahwa calon nasabah yang bersangkutan ternyata tidak terdapat dalam daftar hitam atau kredit macet maka selanjutnya diberikan formulir pembukaan rekening giro yaitu formulir A-1. Langkah lebih lanjut dalam proses pembukaan rekening giro itu ialah, bahwa calon nasabah harus mengisi, melengkapi formulir yang telah disediakan oleh bank tadi (formulir A-1) kemudian diserahkan kepada bagian kas dan giro. Di dalam formulir inilah disebutkan suatu permohonan dari calon nasabah kepada bank untuk membuka suatu rekening giro bagi kepentingan sewaktu-waktu. Di dalam formulir itulah disebabkan semua persyaratan-persyaratan yang dikehendaki dalam pembukaan rekening giro, misalnya mengenai nama, alamat, jabatan dalam badan hukum, nama-nama pejabat yang berhak menandatangani cek atau bilyet giro dan sebagainya.

Mengenai persyaratan apa yang harus diisi dalam suatu pembukaan-pembukaan giro formulir permohonan, ini biasanya walaupun agak berbeda antara bank yang satu dengan bank yang lainnya, pada umumnya dalam garis besarnya adalah mengandung hal-hal yang sama. Pertama-tama syarat yang paling penting

disebut ialah adanya referensi untuk mendapatkan jaminan ini, calon nasabah dapat memperolehnya melalui Direksi atau Staf dari bank atau nasabah-nasabah bank yang masih aktif dan baik dimana ia akan minta menjadi nasabah pemegang rekening giro.

Kemudian terdapat syarat lain yang juga sangat penting yaitu pernyataan bahwa akan menaati segala ketentuan perbankan bagi pemegang rekening giro baik peraturan umum maupun peraturan khusus antara lain akan menerbitkan cek kosong atau bilyet kosong dan tidak akan melakukan cross clearing.

Surat pernyataan di atas ditulis diatas kertas bermeterai Rp. 25,- (formulir A-2). Setelah formulir A-2, di isi, maka dilakukannya setoran pertama sebagai simpanan giro sebesar sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh bank tersebut. Giro adalah simpanan pada bank umum dan pembangunan yang dapat diambil setiap waktu dengan menggunakan cek, bilyet giro atau alat pembayaran lainnya.21

Langkah lebih lanjut setelah formulir A-2. Diisi dan diserahkan kepada bagian kas dan giro yang kemudian calon nasabah tadi mengisi kartu tanda tangan (formulir A-3). Setelah menyetujui formulir A-3, bagian kas dan giro menyiapkan formulir A-4, dan bersama-sama dengan contoh tanda tangan berikut lampiran-lampiran yang diperlukan dan mengirimkannya kepada Direksi untuk dimintakan tanda tangan. Apabila Direksi telah menerima dana menandatangani formulir A-4 itu, maka langkah selanjutnya adalah menjadi kewajiban bagian kas dan giro untuk memberikan nomor rekening kepada nasabah yang bersangkutan.

21Faried Wijaya, Mekanisme dan struktur kebijaksanaan kredit perbankan, dalam untaian

47

Nomor ini berfungsi sebagai tanda menjadi nasabah giro dan selanjutnya nasabah mengisi formulir A-5. Calon nasabah yang sudah diterima menjadi nasabah dibukukan dalam register giro, kemudian ia lalu mendapat eksemplar buku penyetoran simpanan giro (sebagai dana yang disediakan khusus untuk pengambilan dengan cek dan bilyet giro) serta satu eksemplar buku formulir cek dan warkat bilyet giro.22

Selanjutnya pada saat akan menggunakan warkat bilyet giro, Penarik cukup mengisi dengan syarat formal dan juga menyediakan dana yang diperlukan untuk dipidahbukukan kepada pihak Penerima Bilyet Giro.

D. Peredaran dan Pemanfaatan Bilyet Giro di Indonesia Perkembangan Penggunaan Bilyet Giro Dalam Praktek

Penggunaan sistem uang giral khususnya bilyet giro di Indonesia sangat diperlukan sekali berhubung Indonesia sekarang ini sedang dalam taraf pembangunan di bidang ekonomi, sehingga untuk menambah gairah perdagangan dalam masyarakatmaka perlu diadakan pembimbingan kearah giral mainded, karena memang dengan uang giral itu adalah merupakan suatu alat untuk memermudah sistem pembayaran dalam dunia perdagangan, sehingga dengan berkembangnya perekonomian negara maka harus dibarengi pula dengan perkembangan sistem pergiralan. Salah satu alat pembayaran giral yang dikenal adalah bilyet giro, dimana oleh Pemerintah mulai dianjurkan penggunaannya sejak tahun 1964 melalui Surat Edaran Menteri Urusan Penerbitan Bank dan Modal Swasta yaitu S.E No. 158/UPP/BMS/64 tanggal 1 September 1964 serta S.E No. 261/UPP/BMS/64 tanggal 24 Desember 1964.

22 Imam Prayogo dan Djoko Prakoso, Op. Cit, hal. 313-315.

Tetapi anjuran dari pemerintah tersebut, pada waktu ini belum mendapat tanggapan baik oleh masyarakat maupun dunia perbankan, khususnya masyarakat dagang belum mendapat atau menerima bilyet giro sebagai alat pembayaran giral, di samping itu memang situasi dan kondisi daripada perekonomian dan politik negara pada waktu itu belum stabil. Lebih-lebih di kalangan para pedagang sendiri banyak melakukan praktek manipulasi dengan cara menerbitkan cek tanpa didukung dana yang cukup (cek kosong).

Akibat semakin meningkatnya manipulasi penggunaan cek sebagai alat pembayaran, maka pemerintah mempunyai kepentingan yang sangat besar terhadap usaha pemberantasan dan penanggulangan manipulasi cek tersebut.

Kemudian Pemerintah mengeluarkan tindakan yang berupa kebijaksanaan-kebijaksanaan uang giral guna mengembalikan kepercayaan uang giral cek sebagai alat pembayaran. Yakni dengan mengeluarkan Undang-undang cek kosong No. 17 tahun 1964 LN. No. 101 tahun 1964 yang isinya sebagai berikut:

1) Siapa yang menarik cek sedangkan ia mengetahui atau patut harus menduga bahwa sejak saat ditariknya untuk cek tersebut tidak tersedia dana yang cukup pada Bank atas nama cek tersebut ditarik, dipidana dengan pidana mati, pidana seumur hidup atau pidana sementara selama-lamanya 20 tahun. Dan dipidana denda sebanyak-banyaknya 4 kali jumlah yang tertulis dalam cek kosong tersebut.

2) Bila penerbit cek kosong adalah Perserikatan, Badan Hukum atau Perseroan atau Yayasan, maka dipidana dijatuhkan kepada perseroan, badan hukum, yayasan maupun terhadap mereka yang melakukan penarikan cek kosong itu.

3) Tindak pidana penarikan cek kosong adalah kejahatan.

49

4) Undang-undang ini mulai berlaku tanggal 26 September 1964.

Dengan semakin berkembangnya perdagangan, berkembang pula segala keadaan sosial dan kebudayaan baik yang positif maupun negatif. Kejahatan berkembang pula baik bentuk maupun pola operasinya, dalam hal perdagangan banyak cara dan teknik yang di dalam atau yang dipergunakan untuk manipulasi penggunaan cek. Usaha pemerintah dengan mengeluarkan Undang-undang cek kosong dianggap tidak membawa hasil yang baik, kemudian pemerintah mengambil kebijaksanaan baru dengan mencabut Undang-undang cek kosong dengan Undang-undang Nomor 1 tahun 1971 LN. Nomor 55 tahun 1971 dengan pertimbangan bahwa undang-undang cek kosong sudah tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi baik politik maupun ekonomi saat itu. Dan penyerahan tugas pengawasan terhadap peredaran uang giral dalam masyarakat kepada Bank Sentral dengan memberikan hak untuk mengambil kebijaksanaan, bagaimana keadaan peredaran uang giral itu dapat stabil, maka bank sentral mengambil tindakan sebagai berikut:

1) SE. No. 12/405/UPB/SU tanggal 15 Desember 1965 yang mewajibkan kepada semua bank umum untuk dalam jangka waktu satu bulan memperbarui perjanjian tertulisnya dengan para pemegang rekening yang tercatat dalam administrasinya dan mengambil tindakan terhadap pihak-pihak yang menarik cek kosong.

2) SE. No. 12/406/UPB/SU tanggal 16 Januari 1965 yang menetapkan pedoman-pedoman pelaksanaan pendaftar hitaman pada penarik cek kosong.

Meskipun dari pihak Bank Sentral sudah dilakukan usaha-usaha preventif dengan mengeluarkan surat edaran termaksud di atas, di kalangan para pedagang masih saja melakukan usaha manipulasi dengan berbagai cara yang mana mengakibatkan terus merosotnya kepercayaan cek sebagai alat pembayaran giral.

Salah satu usaha pemerintah untuk menggairahkan dan mengembalikan kepercayaan agar menjadi Bank mainded, pemerintah menganjurkan kembali agar masyarakat menggunakan alat pembayaran giral lain yang sudah dikenal yaitu bilyet giro. Untuk memberikan kepastian kepada masyarakat luas bilyet giro sebagai alat pembayaran giral oleh pemerintah cq Bank Indonesia, bilyet giro distandardisir bentuknya yang mana tertuang dalam S.E.B.I. No.

4/670/UPPB/PbB/tanggal 24 Januari 1972.

Bagaimanakah perkembangan selanjutnya di masyarakat dengan dianjurkannya kembali pemakaian bilyet giro? Memang pada awal mulanya bilyet giro yang belum begitu dikenal kurang disenangi oleh para pedagang, tetapi setapak demi setapak perekonomian semakin stabil, orang semakin maka mempergunakan uang giral (khususnya bilyet giro). Hal ini di kalangan para nasabah sendiri menyatakan, bahwa penggunaan bilyet giro sekarang jauh lebih baik antara lain tanggal bisa mundur, ada alasannya untuk menolak, tidak bisa diambil tunai, (harus diclearingkan) dan sanksi hukumnya tidak seberat kalau membuka cek kosong. Di samping itu banyak yang suka dengan mempergunakan bilyet giro, oleh karena adanya beberapa faktor pendorong, sebagaimana yang telah diuraikan sebelum ini.

51 BAB III

PERLINDUNGAN HUKUM DALAM PENGGUNAAN BILYET GIRO KOSONG

A. Pengertian Perlindungan Hukum

Kita semua mengakui bahwa negara Indonesia merupakan negara hukum.

Segala sesuatu yang terjadi di Indonesia tetap hukum yang menjadi dasarnya.

Itulah mengapa setiap perbuatan yang dilakukan tidak sesuai dengan hukum akan mendapatkan hukuman sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Menurut Sudikno Mertokusumo, hukum itu bertujuan agar tercapai ketertiban dalam masyarakat sehingga diharapkan kepentingan manusia akan terlindungi untuk mencapai tujuannya dan bertugas membagi hak dan kewajiban antar perorangan dalam masyarakat, membagi wewenang dan mengutamakan pemecahan masalah hukum serta memelihara kepastian. 23

Untuk tetap menjaga agar segala hak yang menjadi hak asasi setiap manusia terpenuhi, tentunya hukum juga harus dibentuk sesuai dengan tujuannya.

Adapun yang menjadi tujuan hukum adalah nilai kegunaan atau kemanfaatan, nilai keadilan dan nilai kepastian hukum. Dengan terciptanya ketiga tujuan hukum itu, maka diharapkan masyarakat dapat menikmati hak asasinya dengan baik. Di sinilah hukum menjadi sesuatu hal yang dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat. Perlindungan diartikan sebagai hal atau perbuatan memperlindungi, menjaga, memastikan agar semuanya berjalan sesuai dengan kodratnya.

23 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), (Yogyakarta: PT. Liberty, 1991), hal. 19.

Adapun Usman mengemukakan pendapatnya mengenai perlindungan hukum yaitu, “segala sesuatu upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada pihak-pihak terkait, selain itu perlindungan hukum merupakan suatu perlindungan yang diberikan pemerintah guna melindungi dan menjamin hak-hak dan kepentingan-kepentingan para pihak, sehingga akan timbul hak dan kewajiban dari masing-masing pihak”. 24

Philipus M. Hadjon menyatakan bahwa sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila, maka sistem perlindungan hukum di Indonesia harus memberikan perlindungan hukum kepada warga negaranya berdasarkan Pancasila.

Sebagai dasar ideologi dan dasar falsafah negara Pancasila merupakan landasan dalam merumuskan prinsip-prinsip perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, prinsip perlindungan hukum yang dianut di Indonesia adalah prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia yang bersumber pada Pancasila dan prinsip negara hukum yang berdasarkan kepada Pancasila. 25

Selanjutnya Sudikno Mertokusumo berpendapat dalam bukunya bahwa, hukum pada umumnya merupakan kumpulan peraturan-peraturan atau kaedah-kaedah dalam suatu kehidupan bersama yaitu keseluruhan peraturan tentang tingkah laku yang berlaku dalam suatu kehidupan bersama, yang dapat dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi.Hukum merupakan sarana atau alat untuk mencapai suatu tujuan yang sifatnya non yuridis dan berkembang

24Azhar Usman, Perlindungan Hukum Dalam Penempatan Tenaga Kerja Indonesia, (Jakarta: Jurnal Mimbar Hukum Universitas Islam, 2007), hal. 77.

25 Philipus M. Hadjon,Perlindungan Hukum bagi Rakyat Indonesia, (Surabaya: PT. Bina

53

karena adanya faktor-faktor dari luar hukum sehingga membuat hukum menjadi dinamis.26

Dalam buku Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, Sebuah studi Tentang Prinsip-Prinsipnya, Penanganannya oleh Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi Negara,Philipus M.

Hadjon27, disebutkan bahwa perlindungan hukum di bedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu :

a. Perlindungan Hukum yang Preventif

Perlindungan ini memberikan kesempatan kepada rakyat untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum pemerintah membuat bentuk definitif.Perlindungan hukum ini bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa.

Perlindungan prefentif ini sangat besar artinya bagi tindak pemerintah yang didasarkan kepada kebebasan bertindak karena dengan adanya perlindungan hukum ini pemerintah akan bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan.

b. Perlindungan Hukum yang Represif

Berupa tuntutan hak kepada pihak yang dianggap merugikan, hal ini dapat terjadi jika salah satu pihak merasa dirugikan kepentingannya. Jadi sifatnya bertujuan untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi dengan mengembalikan pada situasi sebelum terjadinya pelanggaran norma-norma hukum.Konsepsi perlindungan hukum bagi rakyat di Barat bersumber pada konsep-konsep pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan konsep-konsep rechtsstaat dan ‘the rule of law’. Prinsip perlindungan hukum bertumpu dan

26 Sudikno Mertokusumo,Op.Cit, hal. 17

27 Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia. Sebuah studi Tentang Prinsip-Prinsipnya. Penanganannya oleh Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi Negara, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1987), hal. 2-5.

bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia karena menurut sejarahnya di Barat, lahirnya konsep-konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dan peletakan kewajiban pada masyarakat dan pemerintah.28 Oleh karena itu, perlindungan hukum merupakan hak setiap warganegara, terutama pada negara hukum yang mengakui supremasi hukum.

Berdasarkan konsep rechtstaat dan the rule of law sebagai kerangka pikir dan Pancasila sebagai landasan pijak, prinsip perlindungan hukum bagi rakyat di Indonesia adalah prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia yang bersumber pada Pancasila dan prinsip negara hukum yang berdasarkan Pancasila.29

Hukum diharapkan dapat memberikan kepastian setiap warga negara yang hidup di Indonesia. Hukum tidak bisa bersifat tumpul ke atas namun tajam ke atas. Penegakan dan perlindungan hukum bagi masyarakat harus diadakan secara adil yang seadil-adilnya dengan mengacu kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945. Itulah tujuan hukum dibuat yaitu untuk dapat memberikan kepastian kepada masyarakat.

B. Kedudukan Hukum Penarik dan Penerima Bilyet Giro 1. Para Pihak yang Terlibat Dalam Penggunaan Bilyet Giro

Apabila kita mengamati sepucuk surat bilyet giro dalam bentuk yang sederhana, maka di situ kita akan mengenal beberapa personal bilyet giro yakni

28Ibid., hal. 38.

55

orang atau pihak-pihak yang terlibat dalam lalu lintas pembayaran dengan bilyet giro, yang terdiri atas :30

a. Bank, yaitu pihak yang melaksanakan perintah atau amanat, kepada siapa ia menguasai dana untuk kepentingan si penerima.

b. Penerbit, yaitu pihak atau orang yang menerbitkan atau mengeluarkan bilyet giro.

c. Penerima, yaitu pihak atau orang yang menerima pemindahbukuan (booking transfer) dari penerbit, yang dilaksanakan oleh bank tertarik (tersangkut).

2. Hubungan hukum Antara Penerbit atau Penarik Dengan Bank

Penarik bilyet giro juga berdasarkan kepada latar belakang tertentu yaitu karena adanya suatu perikatan dasar antara penerbit dan pemegang bilyet giro itu.

Di dalam perikatan dasar itu pihak pemegang atau penerima bilyet giro adalah berfungsi sebagai kreditur. Penerbit sebagai debitur juga mempunyai perikatan dasar dengan bank tertarik pada siapa ia mempunyai dana. Tertarik ini dalam kamus hukum surat berharga harus merupakan banker. Pada kenyataannya dalam praktek bankir itu adalah suatu bank tertentu. Menurut pasal 229a KUHD, bahwa yang dimaksud dengan bankir adalah setiap orang atau badan yang dalam pekerjaannya segera oleh orang-orang lain.

Adapun perjanjian yang menjadi dasar daripada hubungan hukum antara penerbit dengan bank yang oleh Prof. Emmy Pangaribuan, SH.31 dipandang sebagai pemberian kuasa (last giving) dengan pemberian upah.

30 Imam Prayogo dan Djoko Prakoso, Op. Cit, hal. 312

31 Emmy Pangaribuan, Pembukuan Kredit Berdokumen, (Yogyakarta : Seksi Hukum Dagang Fakultas Hukum UGM, 1979) hal. 16

Akan tetapi menurut Mollengraaff hubungan hukum itu lebih tepat dipandang timbul dari suatu perjanjian yang mempunyai unsur-unsur campuran antara perjanjian pemberian kuasa atau last giving dan perjanjian melakukan beberapa pekerjaan.

Di dalam kedua hubungan hukum yang demikianlah terdapat hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak yang bersangkutan antara penerbit dan bank terdapat hubungan hukum, dalam mana penerbit menyimpan dana atau menyediakan dana untuk kepentingannya. Karena tertarik itu biasanya adalah suatu banker, maka jelaslah penerbit mempunyai rekening giro, pada bank yang bersangkutan, dalam rekening mana tersedia dana yang sewaktu-waktu diperlukan dapat diambil dengan menerbitkan sepucuk surat bilyet giro.

Formulir cek dan bilyet giro yang dipergunakan oleh nasabah giro untuk menarik dana dari rekening giro yang ada di bank, menurut usance (kebiasaan) perbankan yang ada selalu dibuat atau dicetak oleh bank yang bersangkutan sebagai bank tertarik, walaupun di dalam KUHD tidak ada ketentuan yang menyatakan bahwa buku cek atau bilyet giro harus dibuat atau dicetak oleh bank tertarik. Pemindahbukuan dana dari satu rekening koran giro ke rekening koran giro yang lain, hanya dapat dilakukan atas dasar perintah nasabah giro yang bersangkutan.

Bank tidak dapat dengan seenaknya lebih dahulu dari nasabah yang bersangkutan. Adapun sebab musababnya anatara lain: Dana nasabah yang ada di bank itu mendapatkan perlindungan hukum tentang keamanan dan kerahasiaannya, sehingga hanya nasabah yang bersangkutanlah yang bisa

57

mengetahui posisi saldo giro maupun membebani, mengurangi dana yang tersimpan dalam bank.

Walaupun demikian terdapat perkecualian untuk itu antara lain:

a. Bahwa pembebanan pada rekening koran giro itu dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan tertulis dari nasabah yang bersangkutan.

b. Bahwa pembebanan itu dapat dilakukan oleh bank setelah nasabah menyetujui segala sesuatu yang telah ditetapkan di dalam perjanjian pembukaan rekening koran giro, misalnya dalam hal pembebanan ongkos administrasi bank. Untuk melaksanakan tugas pemindah-bukuan dalam arti fisik melainkan hanya berupa pencabutan administratif saja itu bank menerbitkan suatu pemberitahuan yang disebut nota. Dunia perbankan mengenal jenis-jenis nota antara lain nota debet dan nota kredit.

Dalam rekening koran bank, pihak bank membukukan perhitungan harian tentang pengambilan dan setoran dari pemegang rekening koran ke dalam buku tertentu. Rekening didebetkan bagi pengambilan sedangkan dikreditkan bagi setoran. Akibat hubungan rekening koran tersebut saldo yang dapat ditagih yang berarti saldo debet merupakan tagihan untuk keuntungan bank, sedangkan saldo kredit merupakan tagihan untuk keuntungan pemegang rekening koran.32

Di atas telah dijelaskan, bahwa penerbitan bilyet giro membawa serta kewajiban menyediakan dana dalam bentuk rekening koran giro bagi penerbitannya, atas dasar rekening koran yang tersedia itulah banker sebagai pihak yang diperintahkan membayar dengan jalan booking transfer, berkewajiban perintah pemindahbukuan dari rekening penerbit ke rekening penerima bilyet giro

32Badrulzaman, Mariam, Perjanjian Kredit Bank, (Bandung: Alumni, 1978), hal. .

yang jumlahnya disesuaikan dengan keadaan dana yang tersedia. Apabila dana penerbit tidak ada, atau tidak mencukupi atau kurang, sudah barang tentu bankir yang bersangkutan tidak akan melakukan perintah pemindahbukuan, melainkan merupakan alasan bagi bank untuk menolak bilyet giro yang bersangkutan atau paling tidak akan menegur pada pemilik rekening giro tersebut.

Karena itu ketentuan peraturan mewajibkan kepada pemilik rekening supaya menyediakan dana yang cukup guna pembayaran melalui bilyet giro yang diterbitkannya. Mengenai hal ini terdapat ketentuan di dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 4/670/UPPB/PbB tanggal 24 Januari 1972 angka 6, sebagai berikut:

“Suatu amanat pemindahbukuan dana hanya dapat dilakukan jika rekening yang bersangkutan memiliki saldo efektif yang cukup ini timbul pada saat amanat termaksud dalam bilyet giro yang diajukan kepada Bank sebelum tanggal efektif ditolak tanpa memperhatikan dana cukup atau tidak.”

Dari ketentuan ini jelaslah, bahwa kewajiban pokok penerbit harus menyediakan dana yang cukup pada saat tanggal efektifnya tiba guna membayar bilyet giro yang diterbitkannya. Penerbit dengan dalih apapun juga tidak boleh meniadakan kewajiban pokok tersebut.33

3. Hubungan Hukum Antara Bank Dengan Penerima Bilyet Giro

Suatu pernyataan yang harus kita hubungkan dengan hubungan hukum antara bank dengan penerima bilyet giro (penerima pemindahbukuan dana) ialah :

“Apakah yang menjadi dasar hukum dari terikatnya bank terhadap penerima pemindahbukuan dana itu? Bagaimana seandainya apabila bank yang

59

bersangkutan itu tidak mau melaksanakan amanat pemindahbukuan (bokking transfer) ketika bilyet giro itu ditunjukkan padanya?”

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa antara penerbit bilyet giro

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa antara penerbit bilyet giro

Dokumen terkait