I II III IV V • Selalu berhubungan
3.3 Prosedur Penelitian
3.3.4 Prosedur pengujian ketahanan contoh uji terhadap rayap
Setelah didiamkan selama empat minggu dari proses pengasapan berakhir, contoh uji yang telah diawetkan dan kontrol diumpankan kepada rayap tanah dan rayap kayu kering. Jumlah contoh yang diamati sesuai dengan kayu uji yang disiapkan yaitu 5 contoh uji untuk masing-masing jenis kayu pada setiap jenis yang telah diawetkan dan kontrol.
Prosedur pengujian rayap tanah dilakukan berdasarkan metode yang dilakukan oleh Sumarni dan Roliadi (2002). Sebanyak 200 gram pasir kering berukuran 60 mesh dimasukan ke dalam jampot. Kemudian air ditambahkan ke dalam jampot yang berisi pasir tersebut sehingga kadar air pasir 7% di bawah kapasitas menahan air (water holding capacity). Water holding capacity adalah persentase air yang dibutuhkan untuk menjenuhkan pasir. Untuk mengetahui besarnya water holding capacity dapat dihitung melalui persamaan:
WHC = ×100% BP
BA
Sumber : Bureau (2005) Keterangan:
WHC = Water holding capacity (%)
BA = Berat air untuk menjenuhkan pasir (g) BP = Berat pasir (g)
Jadi jumlah air yang diperlukan untuk melembabkan pasir dapat dihitung melalui persamaan: JA = WHC 200g 100 7 × − Sumber : Bureau (2005) Keterangan:
JA = Jumlah air yang ditambahkan untuk mencapai kadar air pasir 7% di bawah kapasitas menahan air (g)
WHC = Water holding capacity (%)
Setelah air dimasukan kedalam jampot, campuran pasir dan air diaduk sehingga kelembabannya merata. Setelah kelembabannya rata, contoh uji
dimasukan ke dalam jampot yang telah berisi pasir lembab tersebut dengan posisi bagian contoh uji paling lebar menempel pada dinding jampot. Kemudian sebanyak 200 ekor rayap tanah pekerja yang sehat dan aktif dimasukan ke dalam jampot. Jampot ditimbang dan dimasukan ke dalam wadah plastik, lalu ditutup dengan kantong keresek hitam untuk mengurangi penguapan air. Wadah disimpan dalam ruangan gelap pada suhu kamar selama 4 minggu. Setiap minggu aktivitas rayap dalam jampot diamati dan masing-masing jampot ditimbang. Jika kadar air pasir turun dua persen atau lebih, air ditambahkan secukupnya pada jampot tersebut sehingga kadar airnya kembali seperti semula. Pengujian rayap tanah dapat dilihat dalam Gambar 4.
Jampot
Rayap tanah Pasir
Contoh uji
Gambar 4. Pengujian rayap tanah.
Proses pengujian rayap kayu kering mengacu pada Sumarni et al. (2003). Pada salah satu sisi yang terlebar pada contoh uji dipasang semprong kaca berdiameter 18 mm dan tingggi 35 mm yang direkatkan menggunakan lilin agar menempel pada kayu. Ke dalam semprong kaca tersebut dimasukkan rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus Ligth sebanyak 50 ekor rayap pekerja yang sehat dan aktif, kemudian semprong ditutup dengan kapas. Contoh uji tersebut disimpan di tempat gelap selama 12 minggu. Pengujian rayap kayu kering dapat dilihat dalam Gambar 5.
18 mm Kapas 35 mm Semprong/Gelas kaca Rayap 8 mm 20 mm
Sampel uji kayu
50 mm
Gambar 5. Pengujian rayap kayu kering. 3.3.5 Pegamatan
Pengamatan dilakukan pada contoh uji setelah mencapai waktu akhir pengujian, untuk rayap kayu kering setelah 12 minggu dan rayap tanah setelah 4 minggu. Pada akhir pengujian ditetapkan derajat serangan, mortalitas (persen kematian rayap), dan kehilangan berat (weight loss).
Respon utama yang diukur dalam pengujian ini adalah derajat serangan setiap kayu uji. Derajat serangan rayap dilakukan dengan menggunkan skala yang mengacu kepada Padlinurjaji et al. (1988). Penentuan derajat serangan dilakuakan secara manual menggunakan pengamatan langsung terhadap tingkat kerusakan kayu. Tingkat derajat serangan dapat dilihat dalam Tabel 2.
Tabel 2. Derajat serangan rayap Tingkat
(level) Kondisi contoh uji (Sample condition)
Nila (Score)
A Utuh, tidak ada serangan (no damage on surface area) 0 B Ada bekas gigitan rayap (slightly attaced) 0 - 20
C Serangan ringan berupa saluran yang tidak dalam dan lebar
(moderatly attacked) 21 - 40
D Serangan verat, berupa saluran yang dalam dan lebar
(heavily attacked) 41 - 60
E Kayu hancur, kurang lebih 50% kayu habis dimakan rayap
(very heavily attacked) 61 - 80
Sumber : Padlinurjaji et al. (1988).
Data mortalitas dan kehilangan berat ditetapkan untuk menentukan klasifikasi kelas keawetan kayu. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap serangan
rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren dapat dilihat dalam Tabel 3. Sedangkan klasifikasi ketahan kayu terhadap serangan kayu kering Cryptotermes cynocephalus Light dapat dilihat dalam Tabel 4.
Tabel 3. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap serangan rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren
Kelas Jumlah Kematian (Mortalitas), % Penurunan Berat (Weight loss), % Ketahanan (resistance)
I > 63,300 <3,52 Sangat tahan (very resistance)
II 50,600 – 63,300 3,52 – 7,5 Tahan (resistance) III 33,100 – 50,600 7,5 - 10,96 Sedang (moderate) IV 20,818 – 33,100 10,96 - 18,94 Buruk (poor)
V <20,818 18,94 – 31,89 Sangat buruk (very poor)
Sumber : Sumarni dan Roliadi (2002)
Tabel 4. Klasifikasi ketahan kayu terhadap serangan kayu kering Cryptotermes cynocephalus Light
Kelas Jumlah Kematian (Mortalitas), %
Penurunan Berat
(Weight loss), % Ketahanan (Resistance)
I >89,24 <2,303 Sangat tahan (very resistance)
II 89,24-76,64 2,303-4,406 Tahan (resistance)
III 76,64-64,48 4,406-8,158 Sedang (moderate)
IV 64,48-50,40 8,158-28,096 Buruk (poor)
V <50,40 >28,096 Sangat buruk (very poor)
Sumber: Sumarni et al. (2003)
Mortalitas rayap kayu kering, dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : % 100 x N Mij Kij= Sumber: Kompes Deptan (1995)
Keterangan :
Kij = Persentase mortalitas rayap pada kayu uji ke-j dan perlakuan ke-i Mij = Jumlah rayap yang mati pada kayu uji ke-j dan perlakuan ke-i
N = Jumlah rayap yang diberikan (50 untuk uji rayap kayu kering; 200 untuk uji rayap tanah)
Penurunan berat (weight loss) dapat dihitung mengggunakan persamaan sebagai berikut:
Sumber: Kompes Deptan (1995) Keterangan :
Pij = Persentase penurunan berat (%) pada kayu uji dengan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
(W1)ij = Berat kayu sebelum diumpankan (g) pada kayu uji dengan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
(W2)ij = Berat kayu setelah diumpankan (g) pada kayu uji dengan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
3.4 Metode Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan dalam menganalisis penambahan berat contoh uji yang diawetkan dengan metode pengasapan adalah analisis faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yaitu jenis kayu (pulai, sengon, mindi). Setiap perlakuan terdiri dari lima kali ulangan.
Model persamaan yang digunakan sebagai berikut:
Yij = µ + τi + Eij
Keterangan :
Yij = Pengamatan pada perlakuan ke-i ulangan ke-j µ = Nilai rata-rata pengamatan
i = Taraf faktor perlakuan pengawetan
j = Jenis kayu
τi = Pengaruh sebenarnya taraf ke-i faktor jenis kayu Eij = Pengaruh acak pada perlakuan ke-i ulangan ke-j
Sedangkan analis data untuk pengujian keawetan kayu pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor yaitu jenis kayu (pulai sengon, mindi), dan perlakuan (kontrol dan pengasapan selama tiga minggu). Setiap contoh uji terdiri dari lima kali ulangan.
Model persamaan yang digunakan sebagai berikut :
Yijk = µ + Ai + Bj + (AB)ij + Eijk
Keterangan:
Yijk : Respon percobaan pada unit percobaan yang dikenai perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
i : Taraf faktor perlakuan pengawetan j : Jenis kayu
k : Ulangan
µ : Nilai rata-rata pengamatan
Ai : Pengaruh sebenarnya taraf ke-i faktor pengawetan Bj : Pengaruh sebenarnya taraf ke-j faktor jenis kayu
(AB)ij : Pengaruh interaksi dari unit percobaan yang mendapatkan kombinasi
perlakuan sebenarnya taraf ke-1 faktor pengawetan dan taraf ke-j faktor jenis kayu
Eijk : Kesalahan (galat) percobaan pada taraf ke-i faktor pengawetan dan taraf
ke-j faktor jenis kayu.
Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan program M.S. Excel dan analisis statistika menggunakan program SAS 6.12. Untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan, jenis kayu serta interaksi antara perlakuan dan jenis kayu maka dilakukan analisis keragaman dengan menggunakan uji F pada tingkat kepercayaan 95% (nyata) dan 99% (sangat nyata).
Adapun hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut : Pengaruh utama faktor perlakuan (faktor A) :
H0 : α1 = … = αa = 0 (faktor A tidak berpengaruh)
H1 : paling sedikit ada satu i dimana αi≠ 0
Pengaruh utama faktor jenis kayu (faktor B) :
H0 : β1 = … = βb = 0 (faktor B tidak berpengaruh)
H1 : paling sedikit ada satu i dimana βi≠ 0
Pengaruh sederhana (interaksi) faktor A dengan faktor B :
H0 : (αβ)11 = … = (αβ)ab = 0 (interaksi faktor A - faktor B tidak berpengaruh)
Kriteria uji yang digunakan adalah jika Fhitung lebih kecil atau sama dengan
Ftabel maka perlakuan tidak berpengaruh nyata pada suatu tingkat kepercayaan
tertentu dan jika Fhitung lebih besar dari Ftabel maka perlakuan berpengaruh nyata
pada tingkat kepercayaan tertentu. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh nyata dan sangat nyata dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji beda Duncan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keberhasilan usaha pengendalian rayap tergantung kepada kemampuan mengendalikan hubungan antara serangan hama (pest insect), inang (host), dan lingkungan (environment). Aktivitas hidup rayap dapat dihambat dengan mengubah lingkungan hidupnya, dari keadaan yang menguntungkan menjadi keadaan yang tidak menguntungkan. Cara lain adalah dengan mengubah kondisi inang, dalam hal ini mengubah kondisi kayu yang menjadi makanan rayap. Kayu yang semula dimakan rayap diubah menjadi tidak dapat dimakan atau beracun bagi rayap. Usaha ini dikenal sebagai pengawetan kayu.
4.1Proses Pengasapan
Dalam penelitian ini, proses pengasapan menggunakan ruang pengasapan dan dua buah drum. Ruang pengasapan berfungsi sebagai tempat menyimpan contoh uji dan menampung asap yang dihasilkan dari proses pengarangan kayu. Drum yang pertama berfungsi sebagai tungku (drum kiln), yaitu sebagai tempat pengarangan kayu. Sedangkan drum kedua berfungsi sebagai peredam panas untuk mengkondensasi asap dan uap panas.
Asap dari proses pengarangan kayu menjadikan warna permukaan kayu yang diawetkan berwarna hitam. Partikel asap dapat menempel pada permukaan kayu dan masuk ke dalam lumen karena ukuran partikel asap lebih kecil dari pada diameter pori-pori kayu. Menurut Knight (2009), partikel asap berukuran lebih kecil dari 2,5 µ. Sedangkan ukuran diameter pori pada penampang melintang kayu berukuran 20-400 µ (Martawijaya et al. 1989).
Proses pengasapan selama tiga minggu menggunakan bahan kayu sebanyak 602 kg. Limbah yang dihasilkan sebanyak 46 kg arang serta 135 liter cuka kayu. Arang dihasilkan selama proses pirolisis pada suhu 100-300oC. Sedangkan cuka kayu dihasilkan dari proses kondensasi uap panas.
Arang yang dihasilkan dari proses pengasapan dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Arang kayu merupakan salah satu komoditas ekspor yang dapat memberikan sumbangan devisa negara (Dephut 2007). Di Jepang, arang
digunakan sebagai kondisioner tanah untuk mempercepat pertumbuhan tanaman (Ogawa 1994, diacu dalam Iskandar & Santoso 2005). Para peneliti juga melaporkan bahwa penambahan arang ke tanah dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, daya simpan, dan ketersediaan hara yang lebih tinggi. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya kapasitas tukar kation, luasan permukaan, serta penambahan unsur hara secara langsung oleh arang (Glaser et. al. 2002, diacu dalam Iskandar & Santoso 2005). Selain itu, arang juga dilaporkan mampu meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan kesuburan tanah (Kishimoto et al. 1985; Siregar 2002, diacu dalam Iskandar & Santoso 2005).
Cuka kayu yang merupakan hasil sampingan proses pengarangan juga memilki berbagai manfaat. Cuka kayu digunakan dalam beberapa tujuan seperti untuk produk industri, peternakan, rumah tangga, dan pertanian. Cuka kayu juga dapat meningkatkan kualitas tanah, membunuh tikus, serta dapat mempercepat, mengatur, atau memperlambat pertumbuhan tanaman. Selain itu, cuka kayu dapat mempercepat pertumbuhan akar, tangkai, bunga, dan buah. Penelitian menunjukan bahwa setelah mengaplikasikan cuka kayu pada perkebunan buah, pohon buah menghasilkan buah yang terus meningkat (Pangnakorn 2008). Cuka kayu juga dapat dipakai sebagai insektisida serta herbisida (Dephut 2007). Cuka kayu yang sudah dinetralisasi sehingga memilikai Ph 7 dapat dijadikan sebagai bahan pengawet kayu yang ramah lingkungan (Velmurugan et al. 2008).
4.1.1 Kondisi suhu pengasapan
Pengukuran suhu asap dilakukan setiap 3 jam sekali mulai pukul 8.00 s.d 16.00 WIB menggunakan termometer. Pengukuran dilakukan pada bagian lubang yang telah disiapkan sebelumnya yaitu pada drum 1, drum 2, dan ruang pengasapan. Pengukuran suhu pengasapan dilakukan untuk mengetahui suhu asap yang dihasilkan selama proses pengarangan berlangsung pada masing-masing tempat.
Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa selama tiga minggu, suhu pada masing-masing drum 1, drum 2, dan ruang pengasapan relatif stabil. Nilai rata- rata suhu asap pada drum 1 adalah 108oC sedangkan setelah melewati drum kedua,
suhu asap mulai menurun menjadi 61oC dan suhu asap pada ruang pengasapan
pirolisis untuk menghasilkan arang yang memerlukan suhu yang sangat tinggi sekitar 150-300oC. Suhu pada drum 2 lebih rendah dari pada suhu pada drum 1 karena pada drum 2 terjadi kondensasi untuk menurunkan suhu asap dan uap panas serta dapat menghasilkan cuka kayu. Suhu pada ruang pengasapan hampir sama dengan suhu lingkungan sekitarnya dengan tujuan agar tidak merusak sifat fisik kayu yang diawetkan.
Gambar 6. Kondisi suhu asap selama proses pengasapan.
4.1.3 Penambahan berat contoh uji setelah proses pengasapan
Setelah melalui proses pengasapan, contoh uji mengalami penambahan berat. Penambahan berat terjadi karena adanya partikel asap yang menempel pada permukaan kayu dan masuk ke dalam lumen melalui pori-pori kayu. Hal tersebut mungkin terjadi karena ukuran asap lebih kecil dari pada diameter pori-pori kayu. Menurut Knight (2009), partikel asap berukuran lebih kecil dari 2,5 µ. Sedangkan ukuran diameter pori pada penampang melintang kayu berukuran 20-400 µ (Martawijaya et al. 1989). Partikel asap yang menempel pada permukaan kayu dan mengisi lumen dapat menyebabkan penambahan berat.
Dari Gambar 7 dapat dilihat bahwa semua contoh uji mengalami penambahan berat akibat proses pengasapan. Penambahan berat terbesar terjadi pada kayu sengon dan terkecil pada kayu mindi. Untuk mengetahui pengaruh jenis kayu terhadap nilai penambahan berat dilakukan analisis ragam yang hasilnya disajikan dalam Tabel 5.
16.45 18.65 7.99 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 20.00
Pulai Sengon Mindi Jenis Kayu P en am b ah an B er at ( %)
Gambar 7. Penambahan berat contoh uji setelah melalui proses pengasapan selama tiga minggu.
Tabel 5. Analisis ragam penambahan berat contoh uji setelah pengasapan tiga minggu Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Fhit Ftabel 0,05 0,01 jenis kayu Galat Total 2 12 24 587.536 592.599 1180.135 293.768 49.383 5.95 4.75* 6.93
Keterangan : * = nyata pada tingkat kepercayaan 95%
Hasil analisis ragam dalam Tabel di atas menunjukan bahwa jenis kayu memberikan pengaruh nyata terhadap penambahan berat. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai Fhit(5,95)>Ftabel(4,75) pada tingkat kepercayaan 95%. Karena
jenis kayu menunjukan pengaruh yang nyata terhadap penambahan berat pada tingkat kepercayaan 95%, maka dilakukan uji lanjut Duncan.
Tabel 6. Uji Duncan penambahan berat contoh uji setelah pengasapan tiga minggu Duncan Grouping Penambahan berat rata-rata (%) Jenis
A A B 20,7 19,6 6,9 Pulai Sengon Mindi
Hasil uji lanjut Duncan dalam Tabel 6 menunjukan bahwa jenis kayu pulai dan kayu sengon memiliki nilai rata-rata penambahan berat yang tidak berbeda nyata. Sedangkan jenis kayu mindi memiliki nilai rata-rata penambahan berat yang nyata jika dibandingkan kayu pulai dan sengon. Hal tersebut terjadi karena kayu mindi memiliki berat jenis (0,53) lebih besar dari pada berat jenis kayu pulai
(0,3) dan sengon (0,33). Semakin tinggi berat jenis, maka semakin kecil rongga sel. Rongga sel yang kecil menyebabkan partikel asap yang masuk akan sedikit pula.
4.2 Sifat Anti Rayap TanahCoptotermes curvignathus Holmgren
Parameter yang digunakan untuk menentukan sifat anti rayap tanah adalah derajat serangan, mortalitas, dan kehilangan berat. Derajat serangan ditentukan untuk mengetahui tingkat kerusakan kayu akibat serangan rayap. Sedangkan nilai mortalitas dan kehilangan berat ditentukan untuk mengetahui kelas keawetan kayu.
Penentuan nilai derajat serangan dilakukan melalui pengamatan langasung dan hasilnya dimasukan dalam skala yang mengacu kepada Padlinurjaji et al. (1988) yang disajikan dalam Tabel 2. Kelas keawetan kayu ditentukan berdasarkan nilai mortalitas dan kehilangan berat akibat serangan rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren yang mengacu pada Sumarni dan Roliadi (2002) yang disajikan dalam Tabel 3.
4.2.1 Derajat serangan
Gambar 8 menunjukan adanya perbedaan tingkat derajat serangan antara contoh uji kontrol dan contoh uji yang diasapi selama 3 minggu. Nilai rata-rata derajat serangan rayap tanah untuk contoh uji kontrol yang tidak diawetkan berkisar antara 49 hingga 78 sedangkan untuk contoh uji dengan pengasapan selama 3 minggu nilai derajat serangan rata-rata berkisar antara 2 hingga 4. Derajat serangan terbesar untuk contoh uji kontrol terjadi pada kayu pulai yaitu 78 dan yang terkecil pada kayu mindi yaitu 49.
Derajat serangan contoh uji yang melalui proses pengasapan semuanya berada pada pada level B, artinya serangan rayap hanya berupa ada bekas gigitan rayap (slightly attacked). Sedangkan untuk contoh uji kontrol, kayu pulai dan sengon memiliki derajat serangan pada level E, artinya serangan rayap ditandai dengan kayu hancur; kurang lebih 50% kayu habis dimakan rayap (very heavily attacked). Sedangkan kayu mindi kontrol memiliki tingkat derajat serangan pada level D, artinya serangan rayap merupakan serangan berat; berupa saluran yang dalam dan lebar (heavily attacked).
78 73 49 4 2 4 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Pulai Sengon Mindi
Jenis kayu Deraj a t S e ran g a n Kontrol
Pengasapan tiga minggu
Gambar 8. Derajat serangan rayap tanah C. curvignathus Holmgren terhadap kayu pulai, sengon, dan mindi.
Serangan rayap tanah terhadap contoh uji kontrol dapat dilihat dalam Gambar 9.
Gambar 9. Kerusakan akibat serangan rayap tanah pada pengujian kontrol terhadap kayu pulai (1), sengon (2), dan mindi (3).
Untuk mengetahui pengaruh antara perlakuan, jenis kayu, dan interaksi antara perlakuan dan jenis kayu terhadap nilai derajat serangan rayap tanah, dilakukan analisis ragam yang hasilnya disajikan dalam Tabel 7.
Tabel 7. Analisis ragam derajat serangan rayap tanah Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Fhit Ftabel 0,05 0,01 Perlakuan Jenis Perlakuan¤Jenis Galat Total 1 2 2 24 29 30083.333 1145.000 1271.667 500.000 33000.000 30083.333 572.500 635.833 20.833 1444 27.48 30.52 4.26 3.4 3.4 7.82** 5.61** 5.61**
Hasil analisis ragam dalam Tabel di atas menunjukan bahwa perlakuan pengasapan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap nilai derajat serangan rayap tanah dikarenakan Fhit(1444)>Ftabel(7,82) pada tingkat kepercayaan
99%. Pengaruh jenis kayu serta interaksi antara perlakuan dan jenis kayu juga memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap nilai derajat serangan rayap tanah. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai Fhit(27,48)>Ftabel(5,61) untuk faktor jenis kayu
dan Fhit(30,52)>Ftabel(5,61) untuk faktor interaksi antara perlakuan dan jenis kayu
pada tingkat kepercayaan 99%. Karena ketiga sumber keragaman menunjukan pengaruh yang sangat nyata, maka selanjutnya dilakukan uji lanjut Duncan pada tingkat kepercayaan 99%.
Hasil uji lanjut Duncan dalam Tabel 8 menunjukan bahwa untuk kayu kontrol, derajat serangan kayu pulai dan sengon tidak berbeda nyata, namun berbeda nyata dengan kayu mindi. Hal tersebut terjadi karena kayu mindi memiliki zat berwarna coklat sampai hitam dalam pori-porinya. Zat tersebut diduga menjadi penghambat serangan rayap tanah pada kayu mindi sehingga nilai derajat serangannya lebih kecil dari pada kayu sengon dan pulai. Setelah melalui pengasapan selama tiga minggu, nilai derajat serangan ketiga kayu tidak berbeda nyata. Jenis kayu tidak berpengaruh terhadap nilai derajat serangan pada kayu yang diasapi selama tiga minggu.
Tabel 8. Uji Duncan derajat serangan rayap tanah
Duncan Grouping Derajat serangan rata-rata Interaksi A A B C C C 78 73 49 4 4 2 kontrol ¤ pulai kontrol ¤ sengon kontrol ¤ mindi asap ¤ mindi asap ¤ pulai asap ¤ sengon 4.2.2 Mortalitas
Nilai mortalitas ditentukan berdasarkan jumlah rayap yang mati selama proses pengumpanan contoh uji. Semakin banyak rayap yang mati, maka semakin tinggi mortalitas. Gambar 10 menunjukan adanya perbedaan mortalitas antara contoh uji kontrol dan contoh uji yang diasapi selama 3 minggu. Nilai rata-rata mortalitas rayap tanah contoh uji kontrol berkisar antara 18,8% (pulai) hingga
61,3% (mindi). Untuk contoh uji yang diawetkan dengan pengasapan selama 3 minggu, nilai rata-rata mortalitasnya sebesar100%. Artinya semua rayap mati pada saat proses pengujian selesai dilakukan selama 4 minggu.
18.80 24.20 61.30 100 100 100 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00
Pulai Sengon Mindi
Jenis Kayu M o rt al it as ( % ) Kontrol
Pengasapan tiga minggu
Gambar 10. Mortalitas rayap tanah C. curvignathus Holmgren pada pengujian keawetan kayu pulai, sengon, dan mindi.
Dari nilai mortalitas, maka dapat ditentukan kelas keawetan kayu yang dikelompokan berdasarkan kriteria Sumarni dan Roliadi (2002) yang disajikan dalam Tabel 3. Kayu yang diawetkan dengan metode pengasapan, semuanya masuk dalam kelas awet I, artinya memiliki ketahanan sangat tahan (very resistance). Sedangkan kayu yang tidak diawetkan memiliki kelas keawetan V (sangat buruk) untuk kayu pulai, kelas awet IV (buruk) untuk kayu sengon, dan kelas awet II (tahan) untuk kayu mindi.
Kematian rayap tanah pada kayu yang diasapi sebagian besar terjadi karena kelaparan dan sebagian kecil karena keracunan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai derajat serangan dan kehilangan berat (Lampiran 5). Nilai derajat serangan menunjukan bahwa hanya sedikit contoh uji yang diserang rayap tanah dan tingkat serangannya pun sangat rendah. Diduga, rayap lebih memilih mati atau makan sesama rayap dari pada makan kayu yang diasapi. Sedangkan berdasarkan nilai kehilangan berat yang sangat kecil, maka dapat diduga bahwa hanya sebagian kecil rayap yang makan kayu. Rayap yang makan asap pada permukaan kayu akan mati keracunan karena zat yang terkandung dalam butiran asap bersifat racun terhadap rayap tanah.
Untuk mengetahui pengaruh antara perlakuan, jenis kayu, dan interaksi antara perlakuan dan jenis kayu terhadap nilai mortalitas rayap tanah, dilakukan analisis ragam yang hasilnya disajikan dalam Tabel 9.
Tabel 9. Analisis ragam mortalitas rayap tanah Sumber Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Fhit Ftabel 0,05 0,01 Perlakuan Jenis Perlakuan¤Jenis Galat Total 1 2 2 24 29 31980.675 2650.050 2650.050 328.800 37609.575 31980.675 1325.025 1325.025 13.700 2334.36 96.72 96.72 4.26 3.4 3.4 7.82** 5.61** 5.61**
Keterangan : ** = sangat nyata pada tingkat kepercayaan 99%
Hasil analisis ragam dalam Tabel di atas menunjukan bahwa perlakuan pengasapan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap nilai mortalitas rayap tanah dikarenakan Fhit (2334,36)>Ftabel(7,82) pada tingkat kepercayaan 99%.
Pengaruh jenis kayu serta interaksi antara faktor perlakuan dan jenis kayu juga memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap nilai mortalitas rayap tanah. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai Fhit(96,72)>Ftabel(5,61) untuk faktor jenis kayu dan
Fhit(96,72)>Ftabel(5,61) untuk faktor interaksi antara perlakuan dan jenis kayu pada
tingkat kepercayaan 99%. Karena ketiga sumber keragaman menunjukan pengaruh yang sangat nyata, maka selanjutnya dilakukan uji lanjut Duncan pada tingkat kepercayaan 99%.
Tabel 10. Uji Duncan mortalitas rayap tanah
Duncan Grouping Mortalitas rata-rata (%) Interaksi A A A B C D 100,0 100,0 100,0 61,1 24,2 18,8 asap ¤ mindi asap ¤ pulai asap ¤ sengon kontrol ¤ mindi kontrol ¤ sengon kontrol ¤ pulai
Hasil uji lanjut Duncan dalam Tebel 10 menunjukan bahwa mortalitas rayap tanah pada kayu yang diasapai tidak berbeda nyata. Sedangkan mortalitas rayap tanah pada kayu yang tidak diasapi berbeda nyata. Jenis kayu hanya memberikan pengaruh nyata terhadap nilai mortalitas pada kayu kontrol. Namun setelah melalui pengasapan selama tiga minggu, jenis kayu tidak berpengaruh