BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1. Prosedur Penyusunan Prototipe Buku Cerita Anak
Prototipe buku cerita berjudul “Tradisi Ruwatan” peneliti kembangkan
dengan mengadopsi enam langkah dari sepuluh langkah penelitian pengembangan menurut Sugiyono. Adapun langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Potensi dan Masalah
Potensi yang peneliti soroti adalah dalam tradisi ruwatan, terdapat perilaku masyarakat yang melakukan kebiasaan-kebiasaan baik seperti gotong royong, kebersamaan, bekerjasama, berdoa, mengucap syukur, dan meminta doa restu kepada orangtua (best practice). Menurut Herawati, (2010: 3) ruwatan adalah tradisi ritual Jawa yang digunakan sebagai sarana pembebasan dan penyucian atas kesalahan dan dosa manusia yang bisa membawa malapetaka (celaka) dalam hidupnya.
Ruwatan memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, nilai-nilai yang mengacu terbinanya kebahagiaan semua orang (Bratasiswara, 2000: 636). Nilai-nilai tersebut adalah nilai Ketuhanan dan nilai sosial. Nilai ketuhanan erat kaitannya dengan membersihkan (menyucikan) diri dari segala malatepaka yang mengancamnya. Hal tersebut dilakukan dengan cara berdoa pada Tuhan agar terhindar dari marabahaya dan malapetaka (celaka) yang mengancamnya. Selain nilai Ketuhanan terdapat juga nilai sosial. Nilai sosial erat kaitannya dengan kebersamaan masyarakat Jawa yang tercermin dalam gotong royong untuk menyiapkan segala keperluan dalam pelaksanaan upacara tradisional ruwatan (Yana, 2012: 244).
Masalah yang peneliti dapatkan berdasarkan hasil wawancara yang telah peneliti lakukan adalah bahwa anak-anak jaman sekarang khususnya usia 9-10 tahun sangat memperihatinkan, ini dikarenakan mereka tidak memahami tradisi ruwatan sebagai salah satu tradisi Jawa yang dimilikinya. Selain hasil wawancara permasalahan juga peneliti dapatkan dari hasil pembagian kuesioner analisis kebutuhan yang menunjukkan bahwa anak-anak usia 9-10 tahun tidak memahami tradisi ruwatan dan membutuhkan buku cerita tentang tradisi ruwatan.
Permasalahan ini jika dibiarkan terus-menerus akan mengakibatkan dampak buruk bagi masyarakat khususnya bagi masyarakat Jawa karena semakin jauh dengan budaya Jawa, terutama anak-anak usia 9-10 tahun yang akan menjadi penerus bangsa. Hal inilah yang mendorong peneliti sebagai calon seorang guru SD yang tertarik untuk melakukan penelitian dengan membuat buku cerita tentang tradisi ruwatan,
dengan tujuan untuk mengenalkan salah satu tradisi Jawa dan membentuk karakter kebangsaan anak sejak usia dini agar menghargai kebudayaannya.
2. Pengumpulan Data
Hasil pengamatan yang telah peneliti lakukan, peneliti perkuat dengan menyusun kuesioner analisis kebutuhan anak. Kuesioner analisis kebutuhan tersebut menyangkut beberapa aspek diantaranya: (1) definisi ruwatan, (2) tujuan ruwatan pada umumnya, (3) kegiatan-kegiatan pada tradisi ruwatan, (4) upaya mengenalkan budaya jawa menggunakan buku cerita. Kuesioner yang telah peneliti susun diberikan kepada 29 anak usia 9-10 tahun di SDN Nanggulan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 27 November 2015.
Tabel 7. Data Kuesioner analisis kebutuhan anak
Kode Anak No soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jumlah 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 9 2 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 5 3 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 7 4 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 0 6 5 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 8 6 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 8 7 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 8 8 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 6 9 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 9 10 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 10 11 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 8 12 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 6 13 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 1 6 14 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 10 15 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 9 16 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 6 17 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 8 18 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 7
19 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 8 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 22 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 23 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 24 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 25 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 10 26 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 7 27 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 8 28 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 7 29 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 1 7 Jumlah 13 19 23 25 22 12 19 23 22 22 22 21 % 44,8 65,5 79,3 86,2 75,8 41,3 65,5 79,3 75,8 75,8 75,8 72,4
Rekapitulasi kuesioner analisis kebutuhan anak dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 8 rekapitulasi kuesioner analisis kebutuhan anak
aitem Pertanyaan Jumlah
responden
Presentase Ya Tidak Ya Tidak 1. Ruwatan adalah tradisi ritual Jawa
sebagai sarana pembebasan dan penyucian atas kesalahan dan dosa manusia yang bisa membawa bahaya, kesialan, dan pengaruh jahat di dalam hidupnya.
13 16 44,8 % 55,1 %
2. Ruwatan adalah salah satu upacara tradisional khususnya di wilayah Yogyakarta yang dilakukan sebagai upaya pembebasan diri seseorang
dari “sukerta” (bahaya, kesialan,
pengaruh jahat) yang dianggap mengganggu keselamatan hidup seseorang.
19 10 65,5 % 34,5 %
3. Tradisi ruwatan bertujuan untuk membebaskan diri dari segala bahaya, kesialan, dan pengaruh jahat yang mengancamnya.
4. Ketika seseorang terbebas dari sakit atau bahaya, kesialan, pengaruh jahat, seseorang kembali sehat dan ceria
25 4 86,2 % 13,8 %
5. Dalam menyelenggarakan upacara ruwatan membutuhkan bantuan yang melibatkan banyak orang/gotong royong.
22 7 75,8 % 21,2 %
6. Orang yang akan diruwat
melakukan siraman yang disertai pembacaan doa oleh dalang
12 17 41,3 % 58,6 %
7. Orang-orang yang menghadiri upacara ruwatan dapat
merefleksikan cerita yang ada dalam pertunjukkan wayang.
19 10 65,5 % 34,5 %
8. Pada saat upacara srah-srahan, potongan rambut diserahkan pada dalang sebagai simbol pembebasan dari bahaya, kesialan, dan pengaruh jahat.
23 6 79,3 % 20,7 %
9. Orang tua mengucapkan rasa terimakasih kepada dalang karena telah mengruwat anaknya.
22 7 75,8 % 21,2 %
10. Ketika pertunjukan wayang selesai secara bersama-sama menikmati hidangan yang telah disediakan oleh pihak keluarga.
22 7 75,8 % 21,2 %
11. Saya memerlukan buku yang berisi penjelasan tentang ruwatan.
22 7 75,8 % 21,2 %
12. Buku tentang ruwatan sebaiknya berupa buku cerita bergambar.
21 8 72,4 % 27,6 %
Dari hasil kuesioner yang telah dibagikan terdapat empat permasalah, diantaranya (1) sebanyak 55,1% anak tidak mengerti atau mengetahui pengertian dari ruwatan, (2) sebanyak 58,6% anak tidak mengerti tata cara ruwatan, (3) sebanyak 75,8% anak membutuhkan buku yang berisi tentang penjelasan ruwatan, dan (4)
sebanyak 72,4% anak menjawab bahwa buku berisi penjelasan ruwatan sebaiknya berupa buku cerita bergambar.
Data tersebut menjadi acuan bagi peneliti untuk melakukan penelitian dan pengembangan dalam menyusun buku cerita anak tentang ruwatan. Buku cerita tersebut nantinya dapat diggunakan untuk memfasilitasi anak-anak usia 9-10 tahun, khususnya di Yogyakarta untuk memahami tradisi ruwatan.
3. Desain Produk
Peneliti menyusun prototipe buku cerita anak dengan judul “Tradisi Ruwatan”. Langkah awal yang peneliti lakukan adalah membuat cerita dengan bahasa yang sederhana yang mudah dipahami oleh anak usia 9-10 tahun. Nama-nama dalam tokoh cerita mengambil nama-nama orang Jawa diantaranya bu Nanik, Pak Tomo, dan Joko tujuannya agar anak-anak memahami bahwa nama-nama yang sering mereka dengar merupakan nama-nama orang Jawa yang memiliki ciri tersendiri. Dalam cerita tersebut tentunya peneliti menonjolkan nilai-nilai karakter yang terdapat dalam tradisi ruwatan seperti kerjasama, gotong royong, berdoa kepada Tuhan, menghormati orangtua (meminta doa restu).
Setelah selesai membuat cerita, peneliti melanjutkan dengan membuat sketsa yang disesuaikan dengan cerita yang sudah peneliti buat sebelumnya seperti wayangan, siraman, srah-srahan dan pemotongan rambut, gotong royong mendirikan panggung, sungkeman atau meminta doa restu dan tirakatan. Setelah sketsa yang dibuat sesuai dengan cerita selesai, peneliti dibantu seorang desain grafis melakukan tahap finishing untuk melakukan perbaikan gambar dengan pemberian warna-warna.
Tahap ini bertujuan agar menarik minat anak-anak untuk membaca buku dan menambah imajinasi anak yang diwakili gambar-gambar, sehingga anak-anak dapat memahami isi buku cerita tentang tradisi ruwatan dengan mudah. Desain produk ini terdiri dari cover atau sampul, daftar isi, kata pengantar, isi yang berupa cerita dan gambar-gambar tentang tradisi ruwatan, dan daftar pustaka. Berikut merupakan hasil sketsa yang telah dibuat oleh peneliti:
Gambar 1. sketsa awal
Gambar a Gambar b
Berikut ini merupakan hasil perbaikan dari sketsa gambar awal a, b, c, dan d yang telah diperbaiki oleh desain grafis.
Gambar 2 Perbaikan sketsa oleh desain grafis
Sedangkan untuk gambar-gambar di halaman berikutnya karena peneliti tidak bisa membuat sketsa dengan bagus maka peneliti langsung meminta bantuan ahli grafis untuk membuatkan gambar-gambar sesuai dengan cerita yang telah peneliti buat. Berikut ini merupakan hasil gambar yang telah dibantu oleh desain grafis:
4. Validasi Desain
Validasi desain dilakukan peneliti sebelum melakukan uji coba produk. Validasi desain dilakukan dengan seorang ahli bahasa dan sastra Universitas Sanata Dharma. Cara penilaian yang dilakukan adalah dengan memberi nilai 1-4 sesuai dengan pendapat ahli. Adapun hasil validasi dari ahli bahasa dan sastra sebagai berikut:
Tabel 9. Hasil Validasi desain
No Item yang dinilai Skor
1-4
Saran
1. Bahasa a. Bahasa sesuai dengan kaidah penulisan (EYD)
3 Kesalahan tanda baca dan pengetikan. b. Bahasa mudah dipahami untuk
anak usia 9-10 tahun
4
2. Format penulisan
prototipe
a. Format sesuai dengan kaidah penulisan buku cerita.
3 Jenis font pada cover dibuat lebih menarik b. Buku mengandung sumber
kepustakaan tentang ruwatan yang diintegrasikan dengan pendidikan karakter kebangsaan.
2 Sumber tentang karakter masih belum nampak
3. Isi Buku a. Buku memuat 13 gambar yang berkaitan dengan tradisi ruwatan.
4
b. Buku tersebut memuat gambar yang menarik bagi anak usia 9-10 tahun
4
c. Buku memuat nilai (spiritual dan sosial) pendidikan karakter yang terdapat dalam cerita tentang ruwatan
4
d. Memuat refleksi berkaitan dengan tradisi ruwatan
e. Setiap gambar terdapat cerita/keterangan.
4 Jumlah/ Skor 29
Saran lain validator:
1. Ukuran font dalam cerita disamakan
2. Kalimat diperbaiki agar lebih mudah dipahami anak
3. Kalau bisa buku dibuat lebih tebal, agar anak terbiasa membaca buku tebal.
4. Cover disesuaikan, karena jika cover gambar wayang pembaca akan berpikir bahwa buku cerita tidak bercerita tentang ruwatan melainkan wayang
Selanjutnya untuk mengetahui kategori kelayakan produk yang akan diujicobakan adalah dengan menjumlahkan total skor yang diperoleh dengan membaginya dengan jumlah keseluruhan aitem yang dinilai.
Jumlah skor = 29 Jumlah aitem = 9
Jumlah = 29/9 = 3,2
Tabel 10. Pedoman Kelayakan Prototipe
Rentang Skor Klasifikasi Kelayakan Keterangan
>3,25 s/d 4.0 Sangat Baik Prototipe Buku Sudah Layak Digunakan >2,5 s/d 3,25 Baik
Prototipe Buku Sudah Layak Digunakan dengan Perbaikan
>1,75 s/d 2,5 Tidak Baik Prototipe Buku Belum Layak Digunakan 1,0 s/d 1,75 Sangat Tidak Baik Prototipe Buku Tidak Layak Digunakan
Hasil skor yang diperoleh dari validator setelah dikonverensikan adalah 3,2 berdasarkan tabel kelayakan pada tabel 10, maka prototipe yang akan digunakan uji coba dikatakan layak dan harus dilakukan perbaikan sebelum uji coba. Dengan
menggunaan saran dan komentar dari ahli dapat digunakan untuk memperbaiki produk agar lebih baik dan mudah dipahami oleh anak.
5. Revisi Desain
Peneliti melakukan revisi desain sesuai dengan komentar validator, yaitu: (1) memperbaiki kalimat-kalimat agar mudah dipahami anak, (2) memperbaiki kesalahan pengetikan dan tanda baca, (3) memperbaiki font pada cover agar lebih menarik seperti isi buku dan mengganti gambar cover sesuai dengan saran validator, (4) menambahkan tempat untuk menuliskan refleksi. Revisi desain yang telah peneliti lakukan dapat dilihat berikut ini:
Sampul sebelum direvisi Sampul setelah direvisi
6. Uji Coba produk
Uji coba produk dilakukan pada tanggal 28-29 Desember 2015 di Kauman, Ngrundul, Kebonarum, Klaten, Jawa Tengah. Prototipe tersebut peneliti ujikan kepada 11 anak usia 9-10 tahun. Tujuannya agar anak-anak memahami tradisi ruwatan. Singkatnya, buku tersebut menjadi sarana untuk membantu anak memahami tradisi ruwatan dan membentuk karakter kebangsaan anak yang dalam cerita yang tanpa kita sadari nilai-nilai karakter tersebut berhubungan dengan kehidupan sehari-hari seperti gotong royong, saling membantu, mengucap syukur, berdoa, meminta doa restu pada orang tua, menjaga kebersihan dan kebersamaan.
Peneliti melakukan uji coba produk di pedesaan tujuannya untuk menggali seberapa besar pemahaman anak terhadap tradisi ruwatan, karena secara tidak langsung jika dilihat dari perkembangan jaman, anak-anak yang berada di pedesaan masih sangat dekat dengan tradisi dan budaya Jawa salah satunya yaitu ruwatan. Selain itu anak-anak yang saya uji coba produk mempunyai nilai lebih tersendiri hal ini terlihat dari semangat mereka dalam mengikuti uji coba produk yang sudah datang lebih awal sebelum waktu uji coba dilakukan.
Pada hari pertama, proses uji coba produk dilakukan di halaman rumah. Sebelum uji coba produk peneliti mengajak anak-anak untuk bermain, bernyanyi dan berkenalan secara bergantian. Setelah berkenalan saya mencoba untuk melakukan tanya jawab kepada anak-anak untuk menggali pemahaman anak mengenai tradisi ruwatan. Setelah melakukan tanya jawab peneliti mulai dengan membagikan produk untuk dibaca oleh setiap anak.
Selama proses uji coba produk peneliti mendampingi anak-anak saat membaca cerita tentang tradisi ruwatan, setelah anak-anak selesai membaca cerita peneliti membagikan lembaran refleksi yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman anak setelah membaca buku cerita. Setelah selesai peneliti mengajak anak-anak bermain, tujuannya agar anak-anak tidak merasa bosan menunggu temannya yang belum selesai mengisi refleksi.
Gambar 6 kegiatan uji coba produk hari pertama
Pada hari kedua uji coba produk, peneliti melakukan tanya jawab kepada beberapa anak-anak untuk mengetahui pemahaman anak setelah membaca buku cerita yang sudah peneliti berikan. Pada saat peneliti bertanya anak-anak sudah mulai mengetahui ruwatan, namun ada juga anak yang masih belum memahami secara mendalam mengenai tradisi ruwatan. Setelah melakukan tanya jawab peneliti mengajak anak-anak untuk bermain dan bernyanyi. Setelah selesai sebagai penutup uji coba produk peneliti melanjutkan kegiatan dengan pembagian hadiah dan ucapan terimakasih.
Gambar 7 Kegiatan uji coba produk hari ke dua