• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSEDUR RESMI CERAI TALAK DAN KENYATAAN DI MASYRAKAT DESA PALASARI GIRANG KEC.KALAPANUNGGAL

KAB. SUKABUMI

A. Tata Cara dan Prosedur Resmi Pemeriksaan Perkara Cerai

Pada dasarnya talak adalah ungkapan yang merupakan hak suami untuk menceraikan istrinya. Dahulu laki-laki muslim di Indonesia, dapat saja menceraikan istrinya dengan ungkapan-ungkapan tertentu langsung kepada istrinya di hadapan saksi.1 Tentu saja kesewenang-wenangan tersebut tidak dapat dibiarkan berlanjut demi untuk menertibkan dan mensejahterakan keluarga masyarakat Indonesia. Langkah penetiban itulah salah satunya dengan dikeluarkannya UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan PP No. 9 Tahun 1975 Tentang pelaksanaan Undang-undang tersebut, sejalan dengan asasnya yaitu mempersulit perceraian. Sejak berlakunya UU Parkawinan dan PP tersebut, penggunaan kebolehan lembaga talak diatur dan dibatasi dengan barbagai syarat yang disesuaikan dengan ketentuan hukum islam. Tata cara penggunaan talak mesti melalui campur tangan pengadilan yang diberi kewenangan untuk menilai dan mempertimbangkan apakah yang menjadi dasar pertimbangan suami untuk mentalak istrinya, apakah dapat di benarkan menurut hukum dan nilai moral islam.2

1

Moh. Daud Ali, dan Habibah Daud, Lembaga-Lembaga Islam di Indonesia, (Jakarta, PT Raja Grapindo Persada, 1995) Cet. Ke-1 h.94

2

M. Yahya Harahap, Kedudukan, Kewenangan, dan Acara Pradilan Agama UU No. 7 Tahun 1989, (Jakarta, Pustaka Kartini, 1997) Cet. Ke-3, h.230

Dengan tujuan mempersulit terjadinya perceraian itu, maka ditentukanlah untuk melakukan perceraian, harus ada cukup alasan bahwa antara suamu-istri tersebut tidak dapat hidup rukun lagi. Perceraian itu seperti disebutkan dalam Undang-undang No. 1 tahun 1974 dan KHI bahwa pernikahan dapat putus disebabkan karena (1) Kematian (2) Perceraian (3) Putusan pengadilan.

UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan pasal 39 menjelaskan:

1. Perceraian haya dapat dilakukan di depan pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak

2. Untuk melakukan percerian, harus ada cukup alasan, bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri

3. Tata cara perceraian di depan sidang diatur dalam peraturan perunda-undangan sendiri3

UU Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama pasal 54 mengatakan bahwa Hukum Acara Peradilan Agama selain dari yang dimuat dalam UU tersebut, mempergunakan Hukum Acara Perdata Peradilan Umum. Pengaturan tempat mengajukan gugatan/permohonan yang dimuat dalam UU nomor 7 tahun 1989 Tentang Peradilan Agama hanya terbatas bagi perkara perkawinan cerai talak dan cerai gugatan.4

Oleh karena itu tempat mengajukan gugatan/permohonan dalam perkara selain perkara kawin cerai talak dan perkara perkawinan cerai gugat, berpegang pada aturan tempat mengajukan gugatan/permohonan yang dimuat dalam UU Nomor 1

3

Sayuti Thalib, Hukum Keluarga Indonesia, (Jakarta: UI Press,1986). Cet. 5 h. 98

4

H. Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama,(Jakarta, PT. Rajas Grapindo Persada,1998)h.48

11

tahun 1974 Tentang Perkawinan dan PP Nomor 9 tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang tersebut, sedangkan untuk perkara lain-lainnya berpegang kepada aturan umum tempat mengajukan gugatan/permohonan menurut yang berlaku di Peradilan Umum.5

Tempat mengajukan gugatan/permohonan dalam perkara perkawinan sebagai berikut:

1. Permohonan suami untuk menceraikan istrinya dengan cerai talak, diajukan oleh suami (pemohon) ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat kediaman istri (termohon). Bila termohon dengan sengaja meninggalkan tempat kediaman yang ditentukan bersama tanpa izin pemohon dan atau bila termohon bertempat kediaman di Luar negeri maka permohonan diajukan oleh pemohon ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat kediaman pemohon. Bila suami-istri (pemohon-termohon) bertempat kediaman di Luar negeri, permohonan diajukan ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat perkawinan mereka dahulunya dilangsungkan, atau ke Pengadilan Agama Jakarta Pusat.6

2. Gugatan perceraian diajukan oleh istri (penggugat) atau kuasanya ke Pengdilan Agama yang mewilayahi tempat kediaman istri (penggugat). Bila penggugat dengan sengaja meninggalkan tempat kediaman bersama tanpa izin tergugut (suami), dan atau bila penggugat bertempat kediaman di Luar negeri, gugatan

5 Ibid 6

perceraian diajukan oleh penggugat ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat kediaman tergugat. Jika suami-istri kedua-duanya bertempat kediaman di Luar negeri maka gugatan diajuakan ke Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat perkawinan mereka dahulunya dilangsungkan atau ke Pengadilan Agama Jakarta Pusat.7

Berikut adalah prosedur yang harus dilalui dalam melakukan cerai talak di Pengadilan Agama (PA)

1. Proses Administrasi Perkara

a.Permohonan Cerai

1. Suami membuat surat permohonan talak, yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Agama yang dituju. Format surat permohonan berisi:

a) Identitas

Berisi identitas kedua belah pihak (nama lengkap, usia, agama, pekerjaan dan alamat jelas tempat kediaman yang senyatanya)

b) Posita

Berisi dalil-dalil permohonan, yakni peristiwa atau kejadian senyata-nyatanya yang menjadi penyebab diajukannya Permohonan Talak (Pasal 19(f)PPA/75).8 Dalam pasal 19 PP No. 9 Tahun 1975 Tentang pelaksanaan Undang-undang No.1 Tahun 1974 dan KHI pasal 116:

1) Salah satu pihak berbuat zina atau pemabuk, pemadat, penjudi dan

7 Ibid 8

Prosedur Berperkara di Pengailan Agama, artikel ini di akses pada tanggal 19 juli 2010 dari http://pa-iaksel.net

13

lain sebagainya yang sulit disembuhkan.

2) Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lain tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemauannya.

3) Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

4) Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan terhadap yang lain.

5) Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri.

6) Antara suami istri terus menerus terjadi perselisihan 7) Suami melanggar taklik talak

8) Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.9

Alasan-alasan cerai di atas tidak bersifat komulatif tetapi alternatif. Pemohon dapat memilih salah satu diantanya sesuai dengan fakta yang mengiringinya. Yang terpenting adalah alasan yang dikemukakan dapat dibuktikan sebagai dasar pertimbangan untuk mengabulkan permohonan.10

9

Muhammad Ichwan Ridwan, Kamarusdiana, dan Hotnida Nasution, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta, Fakultas Syariah dan Hukun UIN Syarif Hidayatullah Jakata, 2004), h.188

10 Ibid

c) Petitum

Yakni tuntutan atau permintaan tentang apa yang diinginkan.11 2. Mendaftarkan perkara.

Setelah surat permohonan talak dibuat, pemohon dapat menuju ke meja-1 dengan menyerahkan Surat Permohonan Talak, lalu petugas meja-1 membuatkan Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM), setelah itu menuju kasir untuk membayar Panjar Biaya Perkara. Dengan membawa Bukti Pembayaran. Pemohon kembali ke meja-1 dan menyerahkan Surat PermohonanTalakuntuk diberikan nomor registrasi.

3. Prosedur pendaftaran selesai

Pemohon dapat meninggalkan Kantor Pengadilan Agama dan menunggu panggilan persidangan.12

b.Cerai Gugat

1. Isteri membuat surat gugat cerai. yang ditunjukan kepada Ketua Pengadilan Agama. Adapun format surat gugatan, meliputi:

a) Identitas

Berisi identitas kedua belah pihak (nama lengkap, usia, agama, pekerjaan dan alamat jelas tempat kediaman yang senyata-nyatanya) b) Posita

11

Prosedur Berperkara di Pengailan Agama, artikel ini di akses pada tanggal 19 juli 2010dari http://pa-iaksel.net

12 ibid

15

Berisi dalil-dalil permohonan, yakni peristiwa atau kejadian senyata-nyatanya yang menjadi penyebab diajukannya gugatan talak (Pasal 19 (f) PPA/75).

c) Petitum

Yakni tuntutan atau permintaan tentang apa yang diinginkan.13 2. Mendaftarkan perkara.

Setelah surat permohonan gugat dibuat Penggugat dapat menuju ke meja-1 dengan menyerahkan Surat Gugat, lalu petugas meja-1 membuatkan Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM), setelah itu menuju kasir untuk membayar Panjar Biaya Perkara. Dengan membawa Bukti Pembayaran Penggugat kembali ke meja-1 dan menyerahkan Surat Gugat untuk diberikan Nomor Registrasi.

3. Prosedur pendaftaran selesai

Pemohon dapat meninggalkan Kantor Pengadilan Agama dan menunggu panggilan persidangan.14

Dalam hukum acara perdata di kenal 2 teori tentang cara penyusunan gugatan kepada pengadilan, yaitu:

1. Substantiering theorie

Teori ini menyatakan bahwa, gugatan selain harus menyangkut

13 ibid 14

peristiwa hukum yang menjadi dasar gugatan, juga harus menyebut kejadian-kejadian nyata yang mendahului peristiwa hukum dan menjadi sebab peristiwa hukum tersebut. Bagi penggugat yang menuntut suatu benda miliknya, tidak cukup hanya menyebutkan bahwa ia pemilik benda itu, tetapi juga harus menyebutkan sejarah kepamilikannya, misalnya karena membeli, mewarisi, hadiah dan sebagainya.

2. Individualiserings theorie

Teori ini menyatakan bahwa, dalam gugatan cukup disebut peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang menujukan keadanya hubungan hukum yang menjadi dasar gugatan, tanpa harus menyebutkan kejadian-kejadian nyata yang mendahului dan menjadi sebab timbulnya kejadian-kejadian tersebut. Sejarah terjadinya atau sejarah adanya kepemilikan, hak milik benda itu tidak perlu dimasukan dalam gugatan, karena hal itu dapat ditemukan dalam persidangan dengan disertai bukti-bukti seperlunya15

Pada prinsipnya setiap surat gugatan/permohonan dibuat secara tertulis, namun demikian apabila seseorang tidak bisa membuat surat gugatan/permohonan secara tertulis, dimungkinkan dilakukan dengan cara lisan melalui Ketua Pengadilan Agama.16

Selanjutnya Ketua Pengadilan Agama dapat memerintahkan kepada hakim

15

Abdul Manna, Penerapan Hokum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, (yayasan al-hikmah, 2000) cet.1 h. 17

16

Muhammad Ichwan Ridwan, Kamarusdiana, dan Hotnida Nasution, Hukum Acara Peradilan Agama, h.31

17

untuk membantu penggugat atau pemohon tersebut untuk mengemukakan alasan-alasan hukumnya mengajukan permohonan atau gugatan, selanjutnya ditanda tangani oleh Ketua atau hakim yang menerimanya. Itu berdasarkan ketentua pasal 114 ayat (1) R.Bg atau pasal 120 HIR.17

Dalam prakteknya surat gugatan atau permohonan secara lisan, dibuatkan oleh Panitra atas nama Ketua Pengailan Agama membuat catatan yang diterangkan oleh penggugat atau pemohon kepadanya, yang disebut "catatan gugat atau catatan permohonan".

Dan catatan gugat atau permohonan ini setelah dibuat lalu dibacakan kembali agar penggugat atau pemohon mengerti isinya. Setelah ia paham dan sependapat, maka dibubuhkan cap jempol dengan legalisasi oleh Panitra Pengdilan Agama yang bersangkutan.18

Setelah mempelajari surat tersebut, dalam jangka waktu 30 hari sejak diterima, ketua majlis atau hakim yang di tunjuk menetapkan hari sidang untuk mendengar penjelasan pemohon dan termohon, dalam kesempatan itu diusahakan perdamaian , pihak-pihak harus hadir sendiri, tidak diwakilkan, yang kalau berhasil maka permohonan dicabut. Tetapi kalau gagal, maka pengadilan membuat penetapan mengabulkan permohonan tersebut, namun demikian belum boleh diikrarkan talak,

17 Ibid 18

karena terhadap penetapan tersebut masih terbuka kesempatan untuk minta banding kepada Pengadilan Tinggi Agama, kemudian kasasi ke Mahkamah Agung.19

2. Tahapan Persidangan

a. Tahapan Persidangan Permohonan Talak

Tahap persidangan Sidang I

Proses persidangan pertama memuat: a. Ketua majlis membuka sidang

b. Ketua majlis menanyakan identitas para pihak c. Anjuran damai

d. Pembacaan surat gugatan20

Pada sidang pertama, bila pemohon dan termohon hadir, maka akan ada tiga kemungkinan:

a) Para pihak berdamai dan sidang tidak di laksanakan; atau

b) Pemohon tidak bersedia berdamai sedangkan termohon setuju untuk damai; atau

c) Pemohon bersedia berdamai namun termohon tidak bersedia berdamai. Dalam hal ini hakim dapat menunda sidang dan menyarankan agar kedua belah pihak berdamai, untuk mengingat kebaikan masing-masing. Bila

19

Andi Tahir Hamid, Beberapa Hal Baru Tentang Peradilan Agama dan Bidangnya,(Jakarta, Sinar Grafika, 1996) h. 111

20

19

pemohon tetap ingin bercerai, sidang dilanjutkan, dimulai dengan pembacaan surat permohonan, oleh pemohon atau kuasanya.21

Dalam sidang pertama kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi adalah:

a) Pemohon hadir sedang termohon tidak hadir, sidang ditunda untuk memanggil kembali termohon;

b) Pemohon tidak hadir dan tidak mengirim kuasanya, kemungkinan pemohon tidak jadi mengajukan permohonannya atau, sidang ditunda kembali untuk memanggil pemohon. Bila telah dipanggil sekali lagi, pemohon tetap tidak hadir dalam sidang di muka. hakim dapat menetapkan bahwa gugatan dinyatakan gugur atau net onvankelijk (NO). Atau sidang ditunda lagi untuk memanggil pemohon dengan persetujuan termohon. Hal ini diatur dalam pasal 124 HIR/148 RB.g. bila pemohon ingin mengajukan permohonan lagi, maka ia wajib mendaftar atau mengajukan permohonan baru. Jika pemohon hadir, termohon tidak hadir, hakim dapat:

1) Menunda persidangan untuk memanggil tergugat sekali lagi

2) Menjatuhkan putusan verstek karena termohon dinilai ta'azzuz (ghaib)22

Sidang II Jawaban

21

Sulaikin Lubis, Hukum Perdata Peradilan Agama di Indonesia, (Jakarta, Kencana, 2006) ed.l,Cet.Ke-2.h.l20

22 Ibid

Dalam jawaban, termohon, yaitu istri berhak mempertahankan haknya. Pada kesempatan ini termohon atau kuasanyajuga dapat mengajukan gugatan balik (rekonvensi). Jawaban atau rekonvensi dapat secara tertulis atau lisan (pasal 121 ayat (2) HIR/pasal 145 ayat (2) RB.g. jo pasal 132 ayat (1) HIR/pasal 158 ayat (1) RB.g.)

Bila termohon atau kuasa hukumnya tidak hadir dalam sidang, meskipun mengirimkan surat jawaban, tetap dinilai tidak hadir dan jawaban itu tidak diperhatikan, kecuali jawaban yang berupa eksepsi bahwa pengdilan yang bersangkutan tidak berwenang mengadili perkaraitu.23

Sidang III Replik

Sidang replik, yaitu kesempatan yang diberikan oleh hakim kepada pemohon untuk menanggapi jawaban termohon sesuai dengan pendapatnya, atau tetap mempertahankan permohonannya, mengulangi permohonan, menegaskan dan melengkapi atau menambahkan keterangan yang dianggap perlu untuk memperjelas dalil-dalilnya pada surat permohonannya. Atau dapat juga merubah sikap dengan membenarkan jawaban/bantahan termohon.24

23 Ibid 24

21

Sidang IV Duplik

Sidang duplik merupakan jawaban atau tanggapan dari replik. Termohon mengajukan duplik yang pada pokoknya mengulangi dan menegaskan kembali jawaban serta gugatan rekonvensinya.

Acara replik dan duplik (jawab-menjawab) ini dapat diulangi sampai ada titik temu antara pemohon dengan termohon dan atau dianggap cukup oleh hakim.

Bila acara jawab-menjawab dianggap telah cukup namun masih ada hal-hal yang tidak disepakati oleh pemohon dan termohon sehingga perlu dibuktikan, kemudia acara dilanjutkan ketahap pembuktian.25

Sidang V Pembuktian

Pembuktian di muka Pengadilan adalah merupakan hal yang sangat penting dalam Hukum Acara sebab Pengadilan dalam menegakan hukum dan keadilan tidak lain berdasarkan pembuktian. Hukum pembuktian termasuk bagian dari Hukum Acara sedangkan Peradilan Agama mempergunakan Hukum Acara yang berlaku bagi Peradilan Umum.26

Yang dimaksud dengan pembuktian adalah meyakinkan hakim tentang kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan di muka sidang dalam suatu persengketaan. Jadi membuktikan itu hanyalah dalam hal adanya perselisihan

25 ibid 26

sehingga dalam perkara perdata di muka pengadilan, terdapat hal-hal yang tidak dibantah oleh pihak lawan, tidak memerlukan untuk dibuktilan.27

Pada tahap ini, baik pemohon atau termohon diberi kesempatan yang sama untuk mengajukan bukti-bukti baik berupa saksi-saksi, alat bukti surat maupun alat bukti lainnya secara bergantian yang diatur oleh hakim.28

Sidang VI Kesimpulan

Pada tahap kesimpulan, masing-masing pihak (pemohon dan termohon) diberi kesempatan yang sama untuk mengajukan pendapat akhir tentang hasil pemeriksaan selama sidang berlangsung.29

Sidang VII Penetapan Hakim Contoh kasus:

Pada tanggal 7 januari hakim memberikan penetapan bahwa permohonan suami (pemohon) untuk mengajukan ikrar talak diterima. Sejak penetapan ini terdapat jangka waktu 14 hari (14 hari kerja). Dalam jangka waktu 2 minggu ini, termohon dapat mengajukan permohonan banding.

Bila istri tidak mengajukan banding maka penetapan hakim memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Sejak tanggal tersebut, suami atau pemohon dapat mengajukan permohonan untuk mengucapkan ikrar talak.

Tanggal 25 januari (14 hari kerja setelah penetapan hakim berkekuatan

27

Ibid h. 138

28

Sulaikin Lubis, Hukum Perdata Peradilan Agama di Indonesia,h. 123

29 ibid

23

hukum tetap) talak belum jatuh., istri dapat mengajukan banding. Bila istri (termohon) tidak dapat menyatakan banding, penetapan tersebut dapat memperoleh kekuatan hukum yang tetap(25/l-05). Sejak tanggal tersebut pengadilan menentukan hari sidang untuk menyaksika ikrar talak pemohon atas permohonan pemohon (suami). Misalnya ditetapkan bahwa sidang untuk mengucapkan ikrar talak pada tangga 25 maret 2005, maka suami pada hari yang ditentukan harus datang dan mengucapkan ikrar talak di hadapan Mejelis hakim dan dihadiri oleh istri.

Undang-undang memberi kesempatan atau tenggang waktu bagi suami atau pemohon untuk mengucapkan Ikrar Talak dalam waktu 6 bulan. Bila dalam tenggang waktu tersebut suami tidak datang untuk mengucapkan Ikrar Talak, maka permohonan untuk mengucapkan Ikrar Talak tersebut dapat dinyatakan gugur oleh hakim, (pasal 70 ayat (6) UU Peradilan Agama).30

Pemeriksaan

Pemeriksaan cerai talak pada prinsipnya sama dengan perkara perdata pada umumnya. Namun demikian ada bebrapahal yang tidak bias ditolerir dan dianggap sangat prinsipil dalam pemeriksaan cerai talak.31

a. Pemeriksaan cerai talak mesti dilakukan dengan majlis hakim (pasal 68 ayat 1 UU No. 7 Tahun 1989) dalam siding tertutup

30

Sulaikin Lubis, Hukum Perdata Peradilan Agama di Indonesia,h. 124

31

Muhammad Ichwan Ridwan, Kamarusdiana, dan Hotnida Nasution, Hukum Acara Peradilan Agama, h.31

(pasal 68 ayat 2 dan pasal 80 ayat 2). Ketentuan pemeriksaan ini merupakan pengecualian dari asas umum yang ditentukan dalam pasal 17 Undang-undang No. 14 Tahun 1970 jo. Pasal 59 ayat 1 Undang-undang No.7 Tahun 1989. Menurut asas umum semua perkara harus dilakukan dalam sidang pemeriksaan pengadilan yang terbuka untuk umum. Akan tetapi, dikarnakan hal lain, pemeriksaan perkara perceraian harus dilakukan dalam sidang tertutup dan jika dilanggar, maka putusan dianggap batal dan harus diadaka pemeriksaan ulang dalam sidang tertutup. Namun demikian, sekalipun pemeriksan dilakukan dalam sidang tertutup, tetapi dalam putusan harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.32

b. Pemeriksaan cerai talak meskipun tidak dihadiri oleh pemohon dan termohon, akan tetapi dalam sidang perdamaian, pemohon dan termohon harus datang secara pribadi, tidak bisa diwakili oleh kuasa hukumnya. Upaya perdamaian dalam perkara cerai talak, harus dilakukan hakim dalam setiap sidang sampai dijatuhkannya putusan. Ketentuan ini menyimpang dari ketentuan umum hukum acara perdata, dimana kuasa dapat mewakili

32 Ibid

25

kepentingan pihak pemberi kuasa, meskipun dalam sidang perdamaian.33

c. Dalam proses pemeriksaan cerai talak, istri (termohon) berhak mengajukan gugatan rekonvensi (pasal 132 (a) dan (b) atau pasal 157 dan 158 RB.g) dengan beberapa alasan. Pertama perkara cerai talak (voluntair) sama dengan perkar gugat cerai (cotentiosa). Sebab istri sebagai termohon sama setatusnya sebagai tergugat. Istri bukan sebagai tergugat. Istri bukan objek tetapi subjek yang mempunyai hak untuk membela dan mempertahankan haknya dalam proses pemeriksaan. Masing-masing berhak mengajukan replik duplik dan juga alat penbuktian. Kedua, istri sebagai termohon diberihak untuk mengajukan upaya hukum banding (pasal 70 ayat 2). Ini menunjukan bahwa perkara cerai talak bersifa contentiosa atau sengketa. Artinya istri sebagai termohon mempunyai posisi yang sama dengan pihak-pihak dalam pemeriksaan perkara contentiosa. Tiga, kebolehan menggabungkan gugat cerai talak dengan persoalan pemeriksaan pemeliharaan anak dan pembagian harta bersama, membuka pintu bagi istri untuk menuntut dan

33 Ibid

membela kepentingannya pada saat yang bersamaan dalam pemeriksaan cerai talak.34

b. Tahapan Persidangan Cerai Gugat

Proses pemeriksaan cerai gugat pada dasarnya sama dengan proses pemeriksaan cerai talak. Proses pemeriksaan selambat-lambatnya terhitung 30 hari dari tanggal perkara didaftarkan di Pengadilan yang bersangkutan. Pemeriksaan dilakukan secara Majlis hakim dalam sidang tertutup untuk umum. Persidangan tidak harus dihadiri oleh pihak-pihak yang berperkara. Mereka dapat diwakili oleh kuasa yang telah mendapat surat kuasa khusus untuk itu. Hanya saja jika dalam proses pemeriksaan ternyata perdamaian itu tercapai, maka suami-istri harus datang secara pribadi tidak boleh diwakilkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proses perkara cerai gugat, tidak jauh berbeda dengan proses pemeriksaan cerai talak. Dan kalau kita coba menarik perbedaan, perbedaan hanya ada pada bentuk putusan. Oleh karena perkara gugat cerai bersifat contentiosa maka bentuk putusan akanber sifat condemnatoir.35

Sama halnya dalam permohonan cerai, di mana diajukan pembuktian: 1. Apabil alasan cerai karena mendapat hukuman penjara maka sebagai bukti

cukup dengan salinan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum

34 Ibid 35

27

tetap.

2. Apabila alasan perceraian karena cacat badan atau penyakit yang berakibat tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami, pengadilan dapat memrintahkan agar tergugat memriksakan diri ke dokter.

3. Apabila alasan cerai karena syiqaq, harus didengar saksi-saksi yang berasal dari keluarga atau orang-orang terdekat suami-istri. Dapat pula diangkat hakam seorang atau lebih dari keluarga masing-masing pihak.

4. Apabila alasan cerai karena zina dapat pula tebukti secara sempurna bila li’an telah diucapkan tanpa dilawan dengan li’an pula.36

3. Upaya Hukum

a. Upaya Banding

Banding dalam istilah pengdilan disebut appel (Belanda), yaitu pembatalan, yaitu upaya hukum yang meminta dibatalkan putusan Pengadilan tingkat pertama oleh Pengadilan tingkat banding karena merasa tidak puas atas putusan pengadilan tingkat pertama berasebut.37 Banding adalah upaya yang diajukan oleh salah satu pihak yang terlibat dalam perkara, agar penetapan atau putusan yang dijatuhkan Pengadilan Agama diperiksa ulang dalam pemeriksaan tingkat banding oleh Pengadilan Tinggi Agama. Karena belum

36

Tahir Hamid, Beberapa Hal Baru Tentang Peradilan Agama dan Bidangnya h. 112

37

Roihan A. Rasyid, Upaya Hukum Terhadap Putusan Peradilan Agama, (Jakarta, Pedoman Ilmu Jaya, 1987), h.53

puas oleh putusan Pengadilan tingkat pertama.38Upaya ini bertujuan untuk mengoreksi dan meluruskan segala kesalahan, kekeliruan dalam penerapan hukum, tatacara mengadili, penilaian fakta dan pembuktian.39

Dasar hukum banding adalah:

1. Undang-undang No.14 Tahun 1970 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, Pasal 19

2. Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1975 Tentang Peradilan Agama/Mahkamah Syariah Luar Jawa Madura, Pasal 8 dan 11.40

Tenggang waktu permohonan banding yaitu 14 hari setelah putusan diucapkan, apabila waktu putusan diucapkan pihak pemohon banding hadir sendiri di persidangan., atau 14 hari sejak putusan diberitahukan apabila pemohon banding tidak hadir pada saat putusan diucapkan di persidangan.41

Mengenai proses pemeriksaan tingkat banding sebagai berikut:

Dokumen terkait