• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Yuridis Prosedur kesepakatan pemanfaatan lahan

2. Penetapan Areal Kerja Hutan Desa

selaku Kepala Bidang Pemanfaatan dan Pemulihan lahan (Tanggal 29 Maret 2018) mengatakan bahwa:

“Selama Proses Pengusulan, Gubernur atau Bupati / Walikota memfasilitasi pembentukan dan penguatan lembaga desa, dan semua dokumen tersebut menjadi dokumen pengajuan usulan penetapan areal kerja hutan kepada Menteri Kehutanan”.

Setelah mendapatkan izin penetapan areal kerja dari Menteri Kehutanan, pemohon dapat memperoleh Izin Usaha - Hak Pengelolaan Hutan Desa (IU-HPHD) dari Gubernur setempat selama minimal 5 tahun.

Selanjutnya, Menurut Bapak Sirajuddin selaku Tim Verifikasi dari Kementerian Kehutanan (Tanggal 29 Maret 2018) mengatakan bahwa:

“Untuk Pemanfaatan Kayu dan Non Kayu dapat dilakukan pada Hutan Desa yang berfungsi sebagai Hutan Produksi melalui Izin Usaha Pengelolahan Hutan Hasil Kayu (IUPHHK), Izin Usaha Pengelolaan Hutan Hasil Non Kayu (IUPHHNK) dan Jasa Lingkungan yang diberikan oleh Menteri Kehutanan, dapat dilimpahkan kepada Gubernur untuk “Hutan Alam” dan Bupati untuk “Hutan Tanaman”.”

Namun untuk mendapatkan izin pemanfaatan tersebut, dilakukan melalui verifikasi dan evaluasi monitoring dari Kementerian Kehutanan serta Pemerintah Daerah setempat.

Pasal 7

1) Usulan Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, dilakukan verifikasi oleh tim verifikasi yang dibentuk oleh Menteri.

2) Tim verifikasi beranggotakan unsur-unsur esalon I terkait lingkup Departemen Kehutanan yang dikoordinasikan oleh Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, dan bertanggung jawab kepada Menteri.

3) Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial sebagai koordinator Tim Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menugaskan UPT Departemen Kehutanan terkait untuk melakukan verifikasi ke lapangan.

4) UPT Departemen Kehutanan terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat.

5) Hasil verifikasi UPT Departemen Kehutanan terkait dilaporkan kepada Tim Verifikasi, sebagai bahan pertimbangan.

6) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi : kepastian hak atau izin yang telah ada serta kesesuaian dengan fungsi kawasan.

7) Ketentuan lebih lanjut tentang verifikasi diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial.

Pasal 8

1) Berdasarkan hasil verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (5), Tim Verifikasi dapat menolak atau menerima seluruh atau sebagian usulan penetapan areal kerja hutan desa.

2) Terhadap usulan penetapan areal kerja hutan desa yang ditolak, Tim Verifikasi atas nama Menteri menyampaikan pemberitahuan kepada Bupati/Walikota dengan tembusan kepada Gubernur setempat.

3) Terhadap usulan penetapan areal kerja hutan desa yang diterima, Menteri menetapkan areal kerja hutan desa.

a. Penetapan areal kerja hutan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada Gubernur dan Bupati/Walikota setempat.

Dalam hasil wawancara menurut bapak Ahmad selaku yang mewakili Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Makassar (Tanggal 4 April 2018) mengatakan bahwa:

“Dengan turunnya UPT ke lapangan akan mencocokkan data yan diusulkan dan meneliti untuk menetukan apakah usulan tersebut sudah layak dijadikan sebagai penetapan areal kerja hutan desa atau tidak”.

Hasil pengamatan penulis mengatakan dengan turunnya UPT ke lapangan dengan mencocokkan data yang diusulkan oleh masyarakat kelurahan Campaga dan meneliti untuk menetukan apakah usulan tersebut sudah layak dijadikan sebagai penetapan areal kerja hutan desa atau tidak”.

Terhadap usulan penetapan areal kerja hutan desa yang ditolak, Tim Verifikasi atas nama Menteri menyampaikan pemberitahuan kepada Bupati/Walikota dengan tembusan kepada Gubernur setempat terhadap usulan penetapan areal kerja hutan desa yang diterima, Menteri menetapkan areal kerja hutan desa yang disampaikan kepada Gubernur dan Bupati/Walikota setempat, melalui Keputusan Menteri yang dapat dilihat dalam (Lampiran 5), Proses pengajuan dari bupati selanjutnya diusulkan ke pemerintah pusat memerlukan waktu yang cukup lama sekitar 11 bulan.

b. Fasilitasi

Setelah berkas yang diajukan sudah diterima selanjutnya Pemerintah, Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota melakukan fasilitasi.

Kegiatan Fasilitasi diatur dalam Pasal 9 Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia (Permenhut) Nomor:

P.49/Menhut-II/2008 tentang Hutan Desa yaitu :

Pasal 9

1) Fasilitasi dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas lembaga desa dalam pengelolaan hutan.

2) Jenis fasilitasi meliputi:

a. Pendidikan dan Latihan;

b. Pengembangan Kelembagaan;

c. Bimbingan penyusunan rencana kerja hutan desa;

d. Bimbingan Teknologi;

e. Pemberian Informasi Pasar dan Modal; dan f. Pengembangan Usaha.

3) Fasilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.

Berdasarkan uraian diatas kita lihat bahwa dalam kegiatan bantuan fasilitasi yang dapat diberikan kepada masyarakat pemegang hak pengelolaan Hutan Desa, agar kapasitas masyarakat meningkat khususnya dalam pengembangan kelembagaan. Masyarakat desa Campaga difasilitasi dalam menyusun rencana kerja, diberikan bimbingan dan pelatihan dalam membentuk kelembagaan dan pengembangannya. Dan berbagai kegiatan lain yang diberikan oleh instansi baik dari pemerintah maupun non pemerintah.

Dalam hasil wawancara bapak Mahfud Sulaiman selaku yang mewakili LSM (Tanggal 29 Maret 2018) mengatakan bahwa:

“Pelaksanaan fasilitasi sebagaimana dimaksud adalah pihak-pihak dalam membangun hutan desa dibantu oleh:

Perguruan Tinggi/Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga Keuangan, Koperasi atau BUMN/BUMD/BUMS. dan kegiatan fasilitasi tersebut dapat dilakukan sepanjang medapatkan persetujuan dari pemerintah, pemerintah

provinsi atau pemerintah kabupaten/kota sesuai kewenangannya.”

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat kita ketahui bahwa berbagai pihak sangat mendukung kegiatan pembangunan untuk masyarakat khususnya dalam kawasan hutan dalam rangka mewujudkan impian pembangunan hutan desa Campaga menuju masyarakat yang sejahtera yang taat hukum.

Dalam Hasil wawancara Bapak Abdul Rahman selaku salah satu ketua kelompok kerja/tani (Tanggal 4 April 2018) mengatakan bahwa:

“Kegiatan fasilitasi pada waktu itu, dilakukan mulai dari tahap pengusulan penetapan areal hutan desa sampai dengan pengelolaan hutan desa.”

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa dalam melakukan fasilitasi tersebut dimulai dari tahap awal pengusulan penetapan areal hutan desa sampai pengelolaan hutan desa, adapun kegiatan yang dimaksud dapat dilihat pada halaman Lampiran (Lampiran 1 sampai 4).

Dalam Hasil wawancara Bapak Adam Kurniawan selaku Direktur Lembaga Pendamping Balang (Tanggal 29 Maret 2018) mengatakan bahwa:

“Terhadap areal kerja hutan desa yang telah ditetapkan oleh Menteri Kehutanan, Bupati/Walikota mensosialisasikan kepada Kepala Desa dan selanjutnya menyampaikan kepada masyarakat desa tentang penetapan areal kerja hutan desa. Kemudian disosialisasi juga untuk segera membentuk Lembaga Desa yang mengelola hutan desa yang dituangkan dalam Peraturan Desa.”

Dari Hasil wawancara tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa setelah ditetapkannya areal kerja hutan desa oleh Menteri kehutanan, Bupati/Walikota mensosialisasikan kepada Kepala Desa. Dan Selanjutnya Kepala Desa mensosialisasikan kembali ke masyarakat sekaligus membentuk Lembaga Desa yang mengelola Hutan Desa yang dituangkan dalam bentuk Peraturan Desa

Dalam Hasil wawancara Bapak Muhammad Hero selaku Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bantaeng (Tanggal 4 April 2018), mengatakan bahwa:

“Dalam permohonan Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) kepada Gubernur melalui Bupati/Walikota dengan melampirkan persyaratan sebagaimana dijelaskan dalam (Pasal 13 Permenhut nomor P.49/Menhut-II/2008) yaitu: 1.

Melampirkan Peraturan Desa tentang Penetapan Lembaga Desa, 2. Surat Pernyataan dari Kepala Desa yang menyatakan wilayah administrasi desa yang bersangkutan yang diketahui Camat, 3. Luas Areal Kerja yang Dimohon dan, 4. Rencana Kegiatan dan bidang usaha Lembaga Desa.”

Dari hasil wawancara tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa Setelah dilakukannya sosialisasi dan Lembaga Desa sudah terbentuk dalam bentuk Peraturan Desa (PerDes) selanjutnya lembaga desa diminta melengkapi persyaratan permohonan hak pengelolaan hutan desa. Dalam melakukan permohonan Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) Lembaga Desa yang sudah dibentuk, diajukan kepada Gubernur melalui

Bupati/Walikota dengan melampirkan berkas-berkas sesuai yang dijelaskan dalam pasal 13 tersebut.

Lanjutan diatas dalam Hasil wawancara Bapak Muhammad Hero selaku Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bantaeng (Tanggal 4 April 2018), mengatakan:

“Setelah melampirkan berkas-berkas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 selanjutnya akan diadakan verifikasi dan setelah hasil verifikasi yang memenuhi syarat, Gubernur akan memberikan Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD).

Dari hasil wawancara tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa setelah dilakukannya verifikasi dan dalam verifikasi tersebut dinyatakan memenuhi syarat selanjutnya Gubernur akan memberikan Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) kepada Lembaga Desa, yang dapat dilihat dalam (Lampiran 6).

Dalam Hasil wawancara Bapak Muhammad Hero selaku Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bantaeng (Tanggal 4 April 2018), mengatakan:

“Bupati/Walikota meneruskan permohonan Hak Pengelolaan Hutan Desa kepada Gubernur dengan melampirkan surat rekomendasi yang menerangkan bahwa Lembaga Desa telah: 1. Mendapatkan fasilitasi; 2. Siap mengelola hutan desa; dan 3. Ditetapkan areal kerja oleh Menteri.

Selanjutnya Menteri Kehutanan menerbitkan Surat Keputusan penetapan areal kerja Hutan Desa (terlampir).

Adapun muatan dalam Surat Keputusan diatur dalam pasal 15 ayat (2), antara lain:

a. Luas Hutan Desa;

b. Wilayah Administrasi Hutan Desa;

c. Fungsi Hutan;

d. Lembaga Pengelola Hutan Desa;

e. Jenis Kegiatan Pemanfaatan Kawasan;

f. Hak dan kewajiban; dan

g. Jangka Waktu Hak Pengelolaan.

Dalam Hasil wawancara Bapak Irawan Majid selaku Kepala Bidang Pemanfaatan dan Pemulihan Lahan (Tanggal 29 Maret 2018), mengatakan:

“Gubernur dapat melimpahkan kewenangan pemberian hak pengelolaan hutan desa kepada Bupati/Walikota dan Surat Keputusan Pemberian Hak Pengelolaan Hutan Desa disampaikan oleh Gubernur kepada Lembaga Desa dengan tembusan kepada Menteri dan Bupati/Walikota.

Dari hasil wawancara diatas penulis menyimpulkan bahwa Surat Keputusan (HPHD) akan disampaikan oleh Gubernur kepada Lembaga Desa dengan tembusan kepada Menteri dan Bupati/Walikota.”

Adapun jangka waktu dari penetapan areal kerja ke pemberian hak pengelolaan huan desa, dari hasil wawancara bapak Abdul Rahman selaku salah satu ketua Kelompok Tani di desa Campaga (Tanggal 4 April 2018) mengatakan:

“Jangka atau selang waktu dari penetapan kawasan hutan sebagai areal kerja oleh Menteri Kehutanan ke

pemberian hak pengelolaan hutan desa (HPHD) oleh Gubernur itu sekitar 10 bulan.”

Dalam rencana pengelolaan hutan desa diatur yang disebut rencana kerja adapun rencana kerja dari hasil wawancara Bapak Mustafa, selaku mewakili kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan (Tanggal 4 April 2018) mengatakan bahwa:

“Rencana Kerja adalah hak pengelolaan hutan desa adalah acuan bagi pemegang hak dalam pengelolaan hutan desa dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan dan alat pengendalian bagi Pemerintah, provinsi, dan kabupaten / kota.”

Dari hasil wawancara penulis dapat menyimpulkan bahwa rencana kerja hak pengelolaan hutan desa adalah acuan bagi pemegang hak dalam pengelolaan hutan desa dan sebagai pengendalian bagi pemerintah, provinsi, dan kabupaten/kota.

Rencana Kerja Hak Pengelolaan Hutan Desa sebagaimana dimaksud diatas menurut hasil wawancara bapak Mustafa, selaku mewakili kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan (Tanggal 4 April 2018) mengatakan bahwa:

“Rencana Kerja Hak Pengelolaan Hutan Desa terdiri dari 1) Rencana Kerja Hutan Desa, dan 2) Rencana Kerja Tahunan Hutan Desa.”

Dari hasil wawancara penulis dapat menyimpulkan bahwa Rencana Kerja Hutan Desa terdiri dari Rencana Kerja Hutan Desa (RKHD) dan Rencana Tahunan Hutan Desa (RTHD).

Adapun perbedaan pengertian sebagaimana dimaksud di atas ialah menurut Mustafa, selaku mewakili Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan (Tanggal 4 April 2018) megatakan bahwa:

“Rencana Kerja Hutan Desa (RKHD) merupakan Rencana Pengelolaan Hutan Desa selama jangka waktu pemberian hak 35 tahun yang menjamin berlangsungnya kelestarian fungsi hutan secara ekonomi, ekologi, sosial dan budaya setempat. Sedangkan Rencana Tahunan Hutan Desa (RTHD) merupakan penjabaran lebih rinci dari RKHD yang memuat kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dan target-target yang akan dicapai dalam jangka waktu 1 (satu) tahun ke depan.”

Dari Hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwa (RKHD) merupakan rencana pengelolaan hutan desa selama jangka waktu pemberian hak 35, sedangkan (RTHD) merupakan merupakan penjabaran lebih rinci dari RKHD yang memuat kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dan target-target yang akan dicapai dalam jangka waktu satu tahun ke depan.

Rencana kerja dibentuk oleh Lembaga yang disetujui oleh Menteri dan Lembaga tersebut akan mengadakan rapat yang nantinya setelah hasil rapat tersebut disusun dalam bentuk rencana kerja hutan desa, dapat dilihat dalam, (Lampiran 10).

Dalam pelimpahan wewenang dari hasil wawancara menurut bapak Muhammad Hero selaku mewakili kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bantaeng (4 April 2018) mengatakan bahwa:

“Menteri dapat melimpahkan wewenang penerbitan Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam (IUPHHK-HA) dalam Hutan Desa kepada Gubernur. Dan

Menteri dapat melimpahkan wewenang penerbitan Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) Dalam Hutan Desa kepada Bupati/Walikota.”

Dari wawancara penulis menyimpulkan bahwa Menteri dapat melimpahkan wewenang penerbitan (IUPHHK-HA) kepada Gubernur dan Menteri dapat melimpahkan wewenang penerbitan (IUPHHK-HT) kepada Bupati/Walikota yang selanjutnya dari wewenang yang diberikan, segala tugas dilaksanakan dan bertanggungjawab sepenuhnya oleh dari pemberi wewenang tersebut.

Untuk mencapai pengelolaan yang sesuai dengan tujuan bersama atara masyarakat dan pemerintah, maka dilakukan pembinaan dan pengendalian dalam mengelola hutan desa.

Masyarakat membutuhkan pembinaan yang berkesinambungan, agar arah dari Rencana Kerja Usaha dapar terkontrol dengan baik.

Dari hasil wawancara oleh bapak Mahfud Sulaiman, selaku mewakili LSM (Tanggal 4 April 2018) mengatakan bahwa:

“Pembinaan dan Pengendalian dimaksudkan untuk menjamin terselenggaranya Pengelolaaan Hutan Desa yang efektif sesuai tujuan, Pembinaan dimaksud yaitu 1.

Pedoman, 2. Bimbingan, 3. Pelatihan, 4. Arahan, dan/atau, 5. Supervisi, dan pengendalian sebagaiman dimaksud ialah 1. Monitoring, dan 2. Evaluasi, adapun pembinaan dilakukan oleh Menteri, gubernur, dan/Walikota.

Dari hasil wawancara penulis menyimpulkan bahwa pembinaan dan pengendalian dimaksudkan untuk menjamin

terselenggaranya pengelolaan hutan desa yang baik, maka diperlukan Pembinaan dan Pengendalian dilakukan oleh Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota.

Adapun wewenang dari Pembinaan dan Pengendalian diatur dalam pasal 45 ayat (2) dan (3) Permenhut No.

P.49/Menhut-ii/2008 tentang Hutan Desa yang berbunyi:

Pasal 45

2. Pembinaan dan Pengendalian oleh Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1):

a. Menteri, berwenang membina dan mengendalikan kebijakan hutan desa yang dilaksanakan Gubernur, dan/atau Bupati/Walikota;

b. Gubernur, berwenang membina dan mengendalikan kebijakan hutan desa yang dilaksanakan oleh Bupati/Walikota.

3. Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota sesuai kewenangannya melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan hutan desa yang dilaksanakan oleh pemegang hak atau izin: a. Menteri, menyusun pedoman pengelolaan hutan desa, monitoring, dan evaluasi; b. Gubernur, memberikan bimbingan, arahan dan supervisi, monitoring, dan evaluasi; c. Bupati/Walikota, melakukan pelatihan, monitoring, dan evaluasi.

Dari penjelasan diatas penulis menyimpulkan bahwa Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota memiliki kewenangan masing-masing dalam pembinaan dan pengendalian hutan desa tersebut.

Pembinaan dan Pengendalian hutan desa berpedoman pada ketentuan perundangan-undangan dan dari hasil pembinaan dan pengandalian tersebut nantinya akan

digunakan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan perencaaan terhadap kebijakan hutan desa.

Adapun masalah pembiayaan Fasilitasi diatur dalam pasal 47 ayat (2) yang berbunyi:

a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);

dan/atau

c. Sumber-sumber lain yang tidak mengikat.

Tabel 12

Pandangan Responden terhadap proses Kesepakatan Pengelolaan Hutan Desa Campaga

Jawaban Responden

Orang Presentase (%) (Masyarakat)

Berjalan Baik / Sesuai

Prosedur 18 80%

Tidak Berjalan Baik 2 10%

Jumlah 20 100%

Sumber : Hasil Pengolahan Data Angket 2018

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa proses kesepakatan menurut responden berjalan sesuai dengan prosedur yang berlaku (80%), karena setiap tahap dalam memperoleh hasil kesepakatan masyarakat diundang untuk disampaikan isi rencana kerja yang merupakan acuan atau pedoman masyarakat dalam mengelola hutan desa.

Sedangkan yang berpendapat tidak berjalan baik disebabkan penentuan waktu pertemuan “tidak terjadwal baik” sehingga

ada masyarakat yang mempu nyai kepentingan lain pada saat pertemuan dilaksanakan (20%).

C. Keterlibatan Masyarakat dalam Kesepakatan Pemanfaatan lahan dalam kawasan tata kelola hutan desa di kelurahan Campaga kecamatan Tompobulu kabupaten Bantaeng.

Hutan Desa adalah salah satu wujud kebijakan untuk pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan serta mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan lestari. Kebijakan ini perlu disosialisasikan pada masyarakat dan institusi terkait agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai. Selain itu, Hutan Desa diharapkan memberikan akses kepada masyarakat setempat melalui lembaga desa, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat secara berkelanjutan.

Mengacu pada penjelasan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, khususnya pada penjelasan pasal (5), Hutan desa adalah hutan negara yang berada di dalam wilayah suatu desa, dimanfaatkan oleh desa, untuk kesejahteraan masyarakat desa tersebut.

Selanjutnya di dalam Peraturan Pemerintah 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, hutan desa didefinisikan sebagai hutan negara yang belum dibebani izin atau hak yang dikelola oleh desa dan untuk untuk kesejahteraan

masyarakat desa. Prinsip dasar dari hutan desa adalah untuk membuka akses bagi desa-desa tertentu, tepatnya desa terhadap hutan-hutan negara yang masuk dalam wilayahnya. Sebagaimana diketahui, tak sedikit desa-desa berada di dalam atau sekitar kawasan hutan. Sudah selayaknya desa-desa semacam ini mendapatkan akses terhadap sumberdaya hutan yang ada di wilayahnya, demi kesejahteraan masyarakat desa tersebut.

Hak akses desa terhadap hutan negara yang ada di dalam wilayahnya inilah yang kemudian diterjemahkan sebagai hutan desa.

Pemberian akses ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.49/Menhut-II/2008, tentang Hutan Desa, yang ditetapkan pada tanggal 28 Agustus 2008.

Dalam membuat draft (BumMas) mengakomodir semua kepentingan masyarakat dalam pengelolaan hutan tersebut, sehingga tidak ada masyarakat merasa dirugikan. Dan selama proses membuat (BumMas) semua masukan yang berasal dari pihak masyarakat dan pihak pemerintah akan ditampung atau diakomodir guna menjadi acuan dalam pelaksanaan pembangunan hutan desa di Campaga.

Dalam melakukan suatu kesepakatan, pemerintah memberikan fasilitasi untuk memudahkan melakukan kesepakatan pemanfaatan lahan hutan desa yang diatur dalam pasal 9 Permenhut P.49/Menhut-II/2008 tentang Hutan Desa, sosialisasi ini dilakukan agar masyarakat dapat mengetahui, diberi pengarahan dan pelatihan agar masyarakat

dapat mengatahui apa yang ia sepakati dan mengimplementasikan kesepakatan tersebut secara tepat.

Namum sebelum itu masyarakat yang diwakili oleh kepala desa harus mengurus berkas-berkas yang harus dilengkapi diantaranya diatur dalam pasal 6 yaitu :

Pasal 6

1. Bupati/Walikota mengusulkan penetapan areal kerja Hutan Desa kepada Menteri berdasarkan permohonan Kepala Desa, dengan dilampiri:

a. Peta dengan skala paling kecil 1 : 50.000; dan

b. Kondisi kawasan Hutan antara lain Fungsi Hutan, Topografi, Potensi;

2. Usulan Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditembuskan kepada Gubernur setempat.

Dari persyaratan-persyaratan yang dikemukaan diatas, menurut bapak Irawan Majid, selaku Kepala bidang pemanfaatan dan pemulihan lahan, membenarkan persyaratan tersebut, namun masih banyak kasus wanprestasi yang terjadi dikalangan masyarakat salah satunya pada pasal 1 ayat (2) pada poin potensi, masyarakat tidak memasukkan secara detail potensi-potensi apa saja yang ada di desa, yang nantinya menjadi acuan untuk mengelola hutan desa tersebut.

Para responden seharusnya mengatahui substansi dari persyaratan yang tercantum pada pasal 6 tersebut, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan akibat perjanjian yang diajukan serta mengetahui apa-apa saja yang ia diperjanjikan, maka dalam beberapa-apa hasil penelitian penulis mengsurvey masyarakat dari (20 orang) per (100% persen) presentasi statistic, untuk melihat apakah masyarakat mengatahui

kesepatan yang dibuat dalam rencana kerja hutan desa (RKHD) yang menjadi landasan atau acuan masyarakat untuk mengelola hutan:

Tabel 13

Keterlibatan Responden dalam Kesepakatan Pemanfaatan Lahan Hutan Desa Campaga

Jawaban Responden

Orang Presentase (%) (Masyarakat)

Terlibat 18 90%

Tidak Terlibat 2 10%

Jumlah 20 100%

Sumber : Hasil Pengolahan Data Angket 2018

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa, pada dasarnya sebagian besar masyarakat terlibat dalam proses kesepakatan atau 90%, sedangkan hanya sebagian kecil masyarakat atau 10% merasa tidak dilibatkan dalam proses kesepakatan karena saat pertemuan yang bersangkutan tidak menghadiri pertemuan dalam proses Kesepakatan pemanfaatan lahan di desa Campaga.

Sedangkan dalam Pasal 1320 KUHPerdata tentang syarat objektif sahnya suatu perjanjian yaitu, “Adanya objek yang diperjanjikan” artinya, Objeknya yang diperjanjikan harus jelas.

Masyarakat seharusnya mengetahui sepenuhnya mengenai kesepakatan tersebut yang menjadi acuan masyarakat untuk mengelola hutan desa agar tidak terjadi wanprestasi di kemudian hari. Namun dilain hal, masyarakat juga menuntut pemerintah karena kurangnya

penyampaian yang dilakukan pihak pemerintah sehingga sebahagian masyarakat ada yang tidak tahu.

Tabel 14

Pandangan Responden terhadap Kendala dalam proses Kesepakatan Pengelolaan Hutan Desa Campaga

Jawaban Responden

Orang Presentase (%) (Masyarakat)

Menerima Hasil

Kesepakatan 18 90%

Kurang Menerima 2 10%

Tidak Menerima 0 0%

Jumlah 20 100%

Sumber : Hasil Pengolahan Data Angket 2018

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya masyarakat menerima hasil kesepakatan atau 80% namun hanya ada 10% masyarakat merasa kurang menerima hasil kesepakatan pengelolaan lahan tersebut dikarenakan mereka tidak sedang ditempat pada saat pertemuan berangsung hanya mewakili/menunjuk seseorang untuk mengikuti pertemuan tersebut dan juga tidak ada masyarakat yang tidak menerima hasil keputusan kesepakatan pengelolaan hutan desa.

Tabel 15

Pandangan Responden terkait yang Mengikuti Program Fasilitasi dalam Proses Kesepakatan Pengelolaan Hutan Desa

Campaga Jawaban Responden

Orang Presentase (%) (Masyarakat)

Mengikuti 17 85%

Tidak Mengikuti 3 15%

Jumlah 20 100%

Sumber : Hasil Pengolahan Data Angket 2018

Berdasarkan tabel di atas, sebanyak 17 orang yang mengikuti Fasilitasi yang dilakukan oleh pemerintah dan 3 orangnya lagi tidak mengikuti Fasilitasi tersebut dikarenakan selain karena waktu pertemuan “tidak terjadwal baik” dan juga keterbatasan informasi yang didapatkan oleh masyarakat, dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti menurut salah masyarakat yaitu bapak yani (Tanggal 13 April 2018) mengatakan bahwa:

Kami hanya diberitahu mengenai informasi akan diadakan fasilitasi ini melalui penyampaian secara lisan dari kepala desa, itupun hanya sebagian orang saja yang tahu.

Dari hasil wawancara, penulis menyimpulkan bahwa hanya sebahagian masyarakat saja yang mengetahui mengenai fasilitasi yang dilakukan oleh pemerintah tersebut.

Adapun fasilitasi yang dilakukan oleh pemerintah antara lain:

a. Pendidikan dan Latihan;

b. Pengembangan Kelembagaan;

c. Bimbingan penyusunan rencana kerja hutan desa;

d. Bimbingan Teknologi;

e. Pemberian Informasi Pasar dan Modal; dan f. Pengembangan Usaha.

Menurut salah satu masyarakat yang mengikuti pendidikan dan latihan fasilitasi bapak Karaeng H. Nongko (Tanggal 13 April 2018) mengatakan bahwa:

1. Dalam pelaksanaan Pendidikan dan Latihan ini untuk menigkatkan pengatahuan kami para pemegang izin dan hak terhadap aturan dan kebijakan pengelolaan hutan desa, 2.

Mendorong kami para pemegang izin dan hak untuk

melaksanakan kewajibannya dalam penyelenggaraan hutan desa, 3. Agar kami para pemegang izin dapat bekerja secara mandiri dan hak dalam proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan 4. Dengan adanya wadah atau sarana pembelajaran bersama agar kami bisa tahu bagaimana tata cara pelaksanaan dalam pengelolaan hutan desa yang baik dan benar.

Adapun dalam proses pendidikan dan latihan ini menurut salah satu masyarakat yang mengikuti bapak yujeng (Tanggal 13 April 2018) mengatakan bahwa:

Dalam proses pendidikan dan latihan ini kami dibimbing bagaimana 1. Mengalami atau bagaimana Melakukan kondisi lapangan pada areal kerja, 2. Mengungkapkan atau Menggambarkan potensi yang ada pada areal kerja, 3.

Menganalisa kondisi lapangan pada areal kerja hutan desa 4.

Bagaimana Menyimpulkan atau memutuskan tindakan yang perlu dilakukan ketika suatu saat terjadi masalah, dan 5 Menerapkan ilmu yang diperoleh dilahan dan areal kerja hutan desa.

Menganai pengembangan kelembangan menurut salah satu masyarakat, bapak sukardi bontang (Tanggal 13 April 2018) mengatakan bahwa:

Dalam program pengembangan kelembagaan ini kami dibimbing oleh LSM dan penyuluh dengan tujuan untuk menciptakan hubungan kerja yang baik, efektif dan efisien baik antar individu maupun antar suatu kelompok kerja hutan desa, agar terciptanya kesejahteraan dan kekompakan baik dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat maupun dalam upaya menjaga ekosistem hutan itu sendiri.

Mengenai Bimbingan penyusunan rencana kerja hutan desa menurut bapak Abdul Rahman selaku salah satu ketua kelompok tani (Tanggal 4 April 2018) mengatakan bahwa:

Dalam program penyusunan rencana kerja hutan desa ini kami dibimbing bagaimana tata cara menyusun rencana kerja, dimulai dengan tata cara penulisannya, perencanaan, penetapan sampai pelaporan atau mengevaluasi kembali rencana kerja tersebut.

Dokumen terkait