• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSEDUR DAN TEKNIS PERUBAHAN PEKERJAAN SETELAH KONTRAK DITANDATANGANI

E. Prosedur dan Teknis Perubahan Pekerjaan Barang/Jasa Kontruksi Setelah Kontrak Ditandatangani

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa setelah penandatanganan kontrak, pengguna barang/jasa segera melakukan pemeriksaan lapangan bersama-sama dengan penyedia barang/jasa dan membuat berita acara keadaan lapangan/serah terima lapangan. Penyedia barang/jasa dapat menerima uang muka dari pengguna barang/jasa. Penyedia barang/jasa dilarang mengalihkan tanggung jawab seluruh pekerjaan utama dengan mensubkontrakkan kepada pihak lain. Penyedia barang/jasa dilarang mengalihkan tanggung jawab sebagian pekerjaan utama dengan mensubkontrakkan kepada pihak lain dengan cara dan alasan apapun, kecuali disub-kontrakkan kepada penyedia barang/jasa spesialis. Terhadap pelanggaran atas larangan tersebut, dikenakan sanksi berupa denda yang bentuk dan besarnya sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam kontrak.

Namun demikian tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan perubahan kontrak yang sudah ditandatangani, karena di dalam ketentuan Pasal 34 Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden Nomor 85 Tahun 1999, dinyatakan perubahan kontrak dapat dilakukan sesuai kesepakatan pengguna barang/jasa dan penyedia barang/jasa (para pihak) apabila terjadi perubahan lingkup pekerjaan, metoda kerja, atau waktu pelaksanaan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam Peraturan Presiden di atas, maupun dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, maupun Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, tidak mengatur ketentuan perubahan pekerjaan, atau juga dikenal dengan pekerjaan tambah/kurang, sebagai salah satu ketentuan minimum yang harus tercantum dalam sebuah perjanjian kontrak konstruksi antara pengguna jasa (owner) dan penyedia jasa (kontraktor). Bahkan, ketentuan perubahan pekerjaan tidak diatur secara rinci dalam undang-undang maupun peraturan pemerintah tentang jasa konstruksi.92

Lainnya halnya dengan Algemene Voorwarden Voor De Uitvoering Bij

Aamneming Van Openbare Wereken (AV) 41,93 di mana terdapat 2 pasal yang

mengatur mengenai pekerjaan tambah/kurang. Pekerjaan tambah/kurang pada AV 41 diatur pada Pasal 50, dan perhitungan atau pekerjaan tambah/kurang diatur pada Pasal 51, yang dikutip oleh Nazarkhan Yasin dari Soekarsono Malangyudo, diuraikan mengenai pengaturan pekerjaan tambah/kurang dalam Pasal 50 Penyimpangan Dari Rencana (Pekerjaan Tambah dan Kurang) sebagai berikut:94

1. Penyimpangan dari rencana (ontwerp) tidak boleh terjadi tanpa izin dari Kepala departemen dinas; perubahaan atau pemerintah daerah, terkecuali jika untuk itu direksi diberi kuasa. Tentang pemberian kuasa ini pemborong harus diberi tahu. Penyimpangan termasuk juga adalah pemakaian bahan-bahan lain dari pada yang disyaratkan (voorgeschreven) 2. Pemborong berkewajiban membiarkan (mengizinkan) setiap perubahan

yang diperintahkan.

92

H. Nazarkhan Yasin, Op. Cit., hal. 206.

93

Syarat-syarat Umum untuk pelaksanaan Bangunan yang dilelangkan, hukum warisan Belanda yang mengatur mengenai kegiatan konstruksi di Indonesia sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.

94

3. Jikalau penerapan ayat-ayat pasal ini mengakibatkan pekerjaan kurang, pemborong harus menerima jika pekerjaan kurang ini diperhitungkan menurut Pasal 51.

4. Jikalau penerapan ayat-ayat dari pasal ii mengakibatkan pekerjaan lebih, dan dalam hal direksi menghendakinya, pemborong harus mengerjakan pekerjaan lebih tersebut, terkecuali jika pekerjaan lebih ini sesudah dipotong dengan pekerjaan kurang dan kemudian diperhitungkan, mengakibatkan kenaikan biaya lebih dari sepuluh persen dari harga borongan.

5. Jikalau penerapan ayat-ayat dari pasal ini membawa serta pekerjaan lebih, baik disertai atau tidak dengan pekerjaan kurang dan sesudah dipotong dengan pekerjaan kurang (jika hal ini juga terjadi) mengakibatkan kenaikan biaya dengan lebih dari sepuluh persen dari harga borongan, dan direksi menganggap perlu, bahwa pekerjaan lebih ini dikerjakan oleh pemborong, maka pemborong harus memberi pernyataan tertulis dalam jangka waktu tertentu apakah dia bersedia untuk mengerjakan pekerjaan lebih yang ada di atasnya 10% dari harga borongan. Syarat-syarat apa yang dikehendaki pemborong juga harus dinyatakan dalam pernyataan tertulis tersebut.

6. Jika pemborong dalam hal tersebut dalam ayat 5 tidak bersedia untuk mengerjakan pekerjaan lebih di atas 10% dari harga borongan atau dalam rangka waktu yang ditentukan dia tidak memberi pernyataan tertulis tentang hal tersebut, maka kepala departemen; dinas; perusahaan atau pemerintah daerah berwenang untuk melengkapi pekerjaan tersebut dengan cara yang dianggap berguna.

7. Jika pemborong membuktikan, bahwa karena penerapan ayat 2 dari Pasal ini timbul kerugian baginya, maka kerugian ini menurut norma keadilan akan diganti sampai jumlah yang ditetapkan oleh kepala departemen; dinas; perusahaan atau pemerintah daerah.

Ketentuan dalam AV 41 Pasal 50 ayat 4 tersebut berlaku untuk diterapkan, karena dalam Bab XI-Ketentuan Peralihan Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi dinyatakan: “ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur kegiatan jasa konstruksi yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini, dinyatakan tetap berlaku sampai diadakan peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-undang ini”.

Pasal 45 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi dinyatakan: “Pada saat berlakunya Undang-undang ini maka ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur hal yang sama dan bertentangan dengan ketentuan Undang-undang dinyatakan tidak berlaku”.

Selanjutnya dalam Bab IX Ketentuan Peralihan Pasal 63 Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi dinyatakan “Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, peraturan perundang-undangan mengenai penyelenggaraan konstruksi yang sudah ada sepanjang tidak bertentangan ataupun belum diganti dengan yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah ini dinyatakan tetap berlaku”.

Berpedoman kepada Pasal 44, Pasal 45 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, dan Pasal 63 Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi sebagaimana yang diuraikan di atas, secara hukum syarat-syarat umum (AV) 41 Pasal 50 ayat 4 seharusnya tetap berlaku. Namun kiranya hal ini tidak mudah untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, perlu dipastikan antara Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa.95

Dalam Bab IX Teknik dan Strategi Negosiasi dapat dimanfaatkan sehingga ketentuan tersebut dalam AV 41 Pasal 50 ayat 4 ini dapat dimasukkan dalam pasal ini. Hal lain yang menarik untuk disimak sehubungan dengan Pekerjaan Tambah/Kurang ini adalah ketentuan tercantum dalam Buku Terjemahan AV 41

95

susunan Soekarsono Mangkujudo, Pasal 51 Perhitungan (Verrekening) Pekerjaan Lebih Atau Pekerjaan Kurang, sebagai berikut:96

1. Dari pekerjaan lebih dan kurang, yang selama pelaksanaan pekerjaan diperintahkan, selain harus dibuat catatan di dalam buku harian, juga dibuat suatu daftar oleh direksi, dalam daftar mana dicantumkan perincian lenkap dari nilai harga pekerjaan tambah dan pekerjaan kurang, yang dihitung berdasarkan harga-harga satuan tersebut dalam bestek atau dalam surat penawaran (inschijvingsbiljet) dan harga-harga satuan yang masih harus ditetapkan menurut ayat 4 dari pasal ini. Harga-harga satuan adalah dari bahan yang didatangkan, di kir baik dan dikerjakan (verwerkt) dan juga dari pekerjaan yang sudah dilaksanakan dan di kir baik, tanpa perhitungan tambahan guna keuntungan pemborong.

2. Perhitungan (verrekening) pekerjaan lebih atau pekerjaan kurang dilakukan atas dasar harga satuan seperati dimaksud dalam ayat terdahulu dan pelaksanaannya pada saat-saat seperti ditunjukkan dalam ayat 4 Pasal 58.

3. Jika ternyata pada perhitungan akhir dari daftar yang dimaksud dalam ayat 1 pasal ini, bahwa pekerjaan lebih melebihi pekerjaan kurang, maka sepuluh per seratus dari selisih akan dibayarkan kepada pemborong di atas harga borongan sebagai keuntungan pemborong, dalam hal kebalikannya pada selisih tidak dikenakan potongan sepuluh per seratus dari selisih itu terhadap harga borongan.

4. Harga satuan yang dibuat dalam bestek atau dalam surat penawaran, ditetapkan atas dasar musyawarah antara direksi dan pemborong.

5. Jikalau sifat dari suatu perubahan menyebabkannya, maka menyimpang dari ketentuan tentang perhitungan (verreekening) atas harga-harga satuan menurut ayat-ayat terdahulu dari pasal ini, bisa ditentukan suatu jumlah harga, dengan mana harga borongan bisa dinaikkan atau diturunkan. Penetapan jumlah harga tersebut dilakukan atas dasar musyawarah antara Kepala departemen, dinas, perusahaan, atau pemerintah daerah yang bersangkutan dengan pemborong.

Pasal 50 dan Pasal 51 AV 41 merupakan satu-satunya lex scripta di Indonesia yang mengatur perubahan pekerjaan konstruksi, tetapi jika melihat pada ayat 3 Pasal 51 AV 41 ini terbilang usang dan non aplikatif di dunia industri konstruksi pada masa ini, karena ayat ini menyimpulkan, bila setelah keseluruhan biaya proyek

96

diperhitungkan dengan pekerjaan kurang/perubahan pekerjaan mengakibatkan pekerjaan lebih, kontraktor mendapatkan keuntungan 10%. Namun sebaliknya, apabila mengakibatkan pekerjaan kurang, tidak dipotong 10%.97 Sehingga bila pekerjaan kontraktor dikurangkan atau bahkan dihapus, sebagai contoh hingga sepertiga dari yang tercantum dari dokumen kontrak, namun kontraktor tetap berhak mendapatkan keuntungan dari pekerjaan yang tidak dilaksanakannya.

Dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 349/KPTS/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kontrak Jasa Pelaksanaan Konstruksi (Pemborongan), yang mana pada tahap awal pelaksanaan kontrak, setelah penerbitan Surat Perintah Kerja (SPMK), direksi teknis bersama-sama dengan panitia peneliti pelaksanaan kontrak dan pengukuran dan pemeriksaan detail kondisi lapangan untuk rencana setiap kegiatan pekerjaan/mata pembayaran guna menetapkan kuantitas awal.98 Hasil pemeriksaan lapangan bersama dituangkan dalam berita acara. Apabila hasil pemeriksaan lapangan bersama mengakibatkan perubahan isi kontrak, misal jenis pekerjaan, maka perubahan tersebut harus dituangkan dalam perintah perubahan kontrak yang ditindaklanjuti dengan pembuatan amandemen kontrak. Selanjutnya pemeriksaan lapangan bersama terhadap setiap kegiatan pekerjaan/mata pembayaran terus dilaksanakan selama periode waktu pelaksanaan pekerjaan untuk menetapkan kuantitas hasil pekerjaan yang akan dibayar setiap bulan/angsuran.

97

H. Nazarkhan Yasian, Ibid., hal. 209-210.

98

Lampiran huruf M. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor: 349/KPTS/M/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kontrak Jasa Pelaksanaan Kontruksi (Pemborongan).

Demikian juga apabila terdapat perbedaan antara kondisi lapangan pada saat pelaksanaan pekerjaan dengan spesifikasi teknis dan gambar yang ditetapkan dalam dokumen kontrak, maka pengguna jasa/kuasa pengguna anggaran bersama penyedia jasa dapat melakukan perubahan kontrak yang meliputi antara lain:99

a. Menambah atau mengurangi kuantitas pekerjaan yang tercantum dalam dokumen kontrak;

b. Menambah atau mengurangi jenis pekerjaan/mata pembayaran;

c. Mengubah spesifikasi teknis dan gambar pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Nilai pekerjaan tambah tidak boleh melebihi 10% (sepuluh persen) dari nilai harga kontrak awal. Dalam hal kuantitas mata pembayaran yang akan dilaksanakan berubah lebih dari 10% (sepuluh persen) dari kuantitas kontrak awal, maka harga satuan perubahan mata pembayaran utama tersebut disesuaikan, dengan negosiasi harga. Dengan diperlukan mata pembayaran baru, maka penyedia jasa harus menyerahkan analisa harga satuannya kepada pengguna jasa dan dilakukan negosiasi teknis dan harga berdasarkan analisa harga satuan dan harga satuan dasar penawaran.

Perintah perubahan pekerjaan harus dibuat secara tertulis oleh pengguna jasa kepada penyedia jasa, ditindaklanjuti dengan negosiasi teknis dan harga dengan tetap mengacu pada ketentuan yang tercantum dalam dokumen kontrak.

99

Lampiran huruf N.1. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor: 349/KPTS/M/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kontrak Jasa Pelaksanaan Kontruksi (Pemborongan).

Adapun pembayaran untuk perubahan ditentukan sebagai berikut:100

a. Apabila diminta oleh pengguna jasa, penyedia jasa wajib mengajukan usulan biaya untuk melaksanakan perintah perubahan.

b. Direksi teknis wajib menilai usulan biaya dan melaporkan kepada direksi pekerjaan tersebut selambat-lambatnya dalam waktu 7 (tujuh) hari.

c. Apabila pekerjaan dalam perintah perubahan harga satuannya terdapat dalam daftar kuantitas pekerjaan tidak melebihi batas sesuai ketentuan dokumen kontrak atau waktu pelaksanaan tidak mengakibatkan perubahan harga, maka harga satuan yang tercantum dalam daftar kualitas dan harga digunakan sebagai dasar untuk menghitung biaya perubahan. d. Apabila harga satuan berubah atau pekerjaan dalam perintah perubahan

tidak ada harga satuannya dalam daftar kuantitas dan harga, jika dinilai wajar, maka usulan biaya dari penyedia jasa merupakan harga satuan baru untuk perubahan pekerjaan yang bersangkutan.

e. Apabila usulan biaya dari penyedia jasa dinilai tidak wajar, maka pengguna jasa mengeluarkan perintah perubahan dengan mengubah harga kontrak berdasarkan harga perkiraan pengguna jasa.

f. Apabila perintah perubahan sedemikian mendesak sehingga pembuatan usulan biaya serta negosiasinya akan menunda pekerjaan, maka perintah perubahan tersebut harus dilaksanakan oleh penyedia jasa dan diberlakukan sebagai peristiwa kopensasi sesuai ketentuan dokumen kontrak.

g. Penyedia jasa tidak berhak menerima pembayaran tambahan untuk biaya-biaya yang sesungguhnya dapat dihindari melalui peringatan dini.

Amandemen kontrak harus dibuat bila terjadi perubahan kontrak karena perubahan kontrak dapat terjadi apabila perubahan pekerjaan yang disebabkan oleh sesuatu hal yang dilakukan oleh para pihak dalam kontrak sehingga mengubah lingkup pekerjaan, perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan akibat adanya perubahan pekerjaan, serta perubahan harga kontrak akibat adanya perubahan pekerjaan.

100

Lampiran huruf O Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor: 349/KPTS/M/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kontrak Jasa Pelaksanaan Kontruksi (Pemborongan).

Adapun prosedur pembuatan amandemen kontrak dilakukan sebagai berikut:101

a. Pengguna jasa segera memberikan perintah tertulis kepada penyedia jasa untuk melaksanakan perubahan kontrak, atau penyedia jasa mengusulkan perubahan kontrak;

b. Penyedia jasa harus memberikan tanggapan atas perintah perubahan dari pengguna jasa dan mengusulkan perubahan harga (bila ada) selambat-lambatnya dalam waktu 7 (tujuh) hari. Pengguna jasa harus memberikan tanggapan atas usulan perubahan kontrak dari penyedia jasa selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari; c. Atas usulan perubahan kontrak dilakukan negosiasi teknis dan harga dan dibuat

berita acara hasil negosiasi;

d. Berdasarkan berita acara hasil negosiasi dibuat amandemen kontrak.

Selanjutnya pelaksanaan perubahan kontrak tersebut dapat dilihat pada Petunjuk Perubahan Kontrak Pekerjaan Tambah/Kurang dan Percepatan Waktu, Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional IV No. Dokumen BBPJN IV/SMM/PP/PELKS/A.0009 Tanggal 02 Januari 2008, tata caranya adalah sebagai berikut:

1. Ka. Satker/Bag. Pelaksanaan (PPK) mempunyai kewenangan, sesuai dengan kontrak untuk melaksanakan perubahan pekerjaan di lapangan antara lain:

a. Menambah atau mengurangi volume pekerjaan yang tecantum di dalam kontrak.

b. Menghapus atau bahkan mengadakan jenis pekerjaan baru.

c. Mengubah spesifikasi pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lapangan. d. Mengubah ketinggian, kedudukan dan ukuran dari bagian-bagian

pekerjaan.

e. Melaksanakan pekerjaan tambahan yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan.

2. Untuk kepentingan pemeriksaan, Ka. Satker/Bag. Pelaksanaan (PPK) dapat membentuk Panitia Peneliti Kontrak.

101

Lampiran huruf P. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor: 349/KPTS/M/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kontrak Jasa Pelaksanaan Kontruksi (Pemborongan).

3. Pekerjaan tambahan dalam rangka penyelesaian pengadaan jasa pemborongan dengan pengimbangan satu kesatuan tanggungjawab teknis dengan nilai tidak lebih dari 10% (sepuluh persen) dari harga yang tercantum dalam Surat Perjanjian/Kontrak asal.

4. Perintah perubahan pekerjaan dibuat oleh Ka. Satker/Bag. Pelaksaan (PPK) secara tertulis kepada penyedia jasa kontruksi, ditindaklanjuti dengan negosiasi teknis dan harga dengan tetap mengacu pada ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam kontrak awal.

5. Hasil negosiasi tersebut dituangkan dalam Berita Acara sebagai dasar penyusunan Adendum Kontrak

6. Untuk menghindari terjadinya perbedaan pendapat kelak kemudian hari antara penyedia jasa konstruksi dan proyek mengenai hal tersebut di atas, maka segala perintah perubahan agar :

a. Dibuat secara tertulis dan ditandatangani ketiga pihak (Ka. Satker/ Bag. Pelaksanaan (PPK), Direksi dan Penyedia Jasa Konstruksi). b. Usul perubahan biasa dan Ka. Satker/Bag. Pelaksanaan (PPK) atau

penyedia jasa konstruksi yang ditindaklanjuti dengan negosiasi atas dasar kewajaran harga pada saat itu.

c. Segala perubahan harus dituangkan dalam dalam Adendum Kontrak. 7. Peristiwa pekerjaan tambah/kurang dibedakan dalam 2 jenis yaitu:

a. Pekerjaan tambah/kurang yang berupa kenaikan atau turunnya volume pada item tertentu yang sudah ada kesepakatan harga satuannya di dalam kontrak.

b. Pekerjaan tambah/kurang akibat Variatif Order atau Change Order yang belum ada kesepakatan harga satuannya di dalam kontrak.

8. Pekerjaan tambah/kurang akibat kenaikan atau penurunan volume dapat diajukan langsung untuk penetapan harga tanpa melalui proses ijin prinsip terlebih dahulu. Pengajuan dapat dilakukan secara bertahap tanpa menunggu seluruh perhitungan volume pekerjaan.

9. Pekerjaan tambah dalam rangka penyelesaian pekerjaan sesuai tujuan proyek secara menyeluruh, dengan pertimbangan satu kesatuan tanggungjawab teknis dengan nilai tidak lebih dan 10% (sepuluh persen) dan harga yang tercantum dalam surat perjanjian kontrak asal.

10. Dalam keadaan mendesak, Ka. Satker/Bag. Pelaksanaan (PPK) dapat memberikan perintah perubahan secara lisan dan penyedia jasa konstruksi harus memenuhi perintah tersebut. Namun demiikian, selambat-lambatnya 3 (tiga) hari semua perintah lisan tersebut harus telah ditindaklanjuti dengan perintah tertulis.

11. Dalam hal melampaui kontrak pekerjaan tambah/kurang agar segera diajukan untuk mendapatkan persetujuan penetapan harga sesuai kebutuhan, dan ditindakianjuti dengan adendum. Pembuatan adendum dapat dilakukan beberapa kali tanpa harus menunggu sampai pekerjaan mendekati selesai.

12. Apabila pada pekerjaan utama (major item) terjadi kenaikan penurunan volume pekerjaan melebihi 20% (dua puluh persen), atau tidak sesuai dokumen kontrak maka Ka. Satker/Bag. Pelaksanaan (PPK) dapat mengusulkan kepada atasan untuk meninjau kembali harga satuan yang telah disepakati bersama di dalam kontrak.

13. Apabila dijumpai tambahan pekerjaan yang berupa kenaikan volume pada pay item tertentu yang sedemikian besar agar dipikirkan kemungkinan perlunya tambahan peralatan dan tambahan waktu. Demikian pula tambahan pekerjaan untuk pay item baru (diluar kontrak), agar dipikirkan kemungkinan perlunya tambahan peralatan dan tambahan waktu.

14. Untuk tambahan pekerjaan yang bernilai lebih dan 20% agar dipertimbangkan adanya tambahan uang muka.

15. Untuk memudahkan Ka. Satker/Bag. Pelaksanaan (PPK) mengevaluasi perubahan volume pekerjaan, perubahan waktu pelaksanaan dan sebagainya, sebaiknya PPK membentuk Panitia Peneliti Pelaksanaan Kontrak yang anggotanya meliputi unsur Ka. Satker/Bag. Pelaksanaan (PPK) dan dibantu oleh penyedia jasa konsultan.

16. Apabila ada percepatan waktu pelaksanaan, baik yang disebabkan perlunya segera pekerjaan selesai karena sesuatu hal, maupun volume yang meningkat sedemikian besar, dengan waktu pelaksanaan tetap, yang menyebabkan kenaikan nilai kontrak, agar segera dilaporkan kepada Atasan Langsung/Atasan untuk mendapatkan penyelesaian.

17. Semua perubahan Kontrak harus dituangkan dalam Adendum Kontrak yang ditandatangani oleh Ka. Satker/Bag. Pelaksanaan (PPK) dan Penyedia Jasa Konstruksi.

BAB IV

TANGGUNG JAWAB KUASA PENGGUNA ANGGARAN ATAS