• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELTIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Proses acara lamaran adat masyarakat Bastem

Upacara pernikahan masyarakat di Bastem terjadi secara turun temurun yang merupakan kewajiban bagi masyarakat Bastem saat ini, hal ini merupakan budaya peninggalan masyarakat terdahulu hingga sekarang. Bagi masyarakat Bastem melaksanakan segala tahapan adat istiadat upacara pernikahan merupakan keharusan, jika tahapan adat istiadat ini tidak dilaksanakan maka masyarakat mengganggap pernikahan tidak bermakna dan menjadi hal yang dihindari sehingga setiap masyarakat yang merencanakan pernikahan dan yang akan melaksanakan pernikahan tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti upacara adat tersebut.

Berikut ini interaksi pihak perempuan dan pihak laki-laki pada saat acara lamaran masyarakat di Bastem dengan tindak tutur sesuai dengan budaya dan adat istiadat yang telah disesuaikan dengan makna yang sebenarnya dan dikategorikan berdasarkan kerangka konseptual.

Tabel 4.1 Tindak Tutur Acara Lamaran

No Tindak Tutur Acara Aamaran Makna Kategori

1 Pihak Perempuan :

Lempang kaurangan, lempang kabongingkungraka

Artinya : Singga karena kehujanankah?

Singga karena kemalamankah lendu tang kadongingan kan sangadinna rampo I sule jomai Bastem bawa

Artinya : Singga bukan karena kehujanan juga bukan karena kemalaman kecuali kami datang mempewa pesan dari siaparaka nadirompo kalosi bulawan te’

manuk lundara (sigadi) ma’ bandang bulu barokona.

Artinya : Saya mau bertanya secara jentel kepada kita rumpun keluarga bahwa belum adakah yang memagari pinang emas ini kumua yatu’ mitungkanan mi pikutanan”

Kumua yaitu’ manuk lundara ma’

bandangan bulu barokona, manda’pa bujunna.

Artinya : Terima kasih, terima kasih kembali bahwa kedatanganta dibuka’kan telapak tangan bahwa yang kalin datangi dan tanyakan bahwa ayam yangmasih mudah dan memiliki bulu indah dilehernya masih keras di rumahnya.

Ucapan terimakasih atas kedatangan pihak laki-laki untuk datang melamar anak kami dan menyatakan kalau anak kami yang cantik belum ada yang melamar.

Ekspresif

6 Pihak Laki-laki : Kurre sumanga pale lako kita solangasang larampomokangigi, laki parampomo sitarru’na karampoangki’

kumua larampokeng ma’ tumpu anda’

untue lumpa-lumpa ba’ba’.

Artinya : Terima kasih kepada kita semua kami datang menyampaikan terusan dri kedatangan kami bahwa kedatangan kami untuk menginjak tangga, memegang pintu rumah. lamikutanakan, umbara nasulei te’ tau milingkanan.

Artinya : Kalau begitu kembali berterima kasih, tapi kami mau bertanya dari

Terima kasih (berterima kasih) tetapi ingin

manakah orang yang kau perjalankan.

8 Pihak Laki-laki : Yato’ kilingkanan yamo tu’

sundi kalena, rapu tallangna ………….

Artinya : Itu yang kami datangkan kemari saka’ aluk diamanangki, sangka ladipingkilalai kumua kedenni tau mamase rampo ma’tumpu endak yarika maleki kumua yaitu’ kipirampoan ranunna yamo tu to sundi kalena ………… papunna ……….

ta’bi bulawanna, daun rara’na ….. lammai padang …….. jadi kikua ma’kada laki kurre sumanga kitimang pole paraja te’

karampoan ta den o’ upa’ na rining pala’ ki puang ma’ kulambang tarunoki’ te’ joo to’

unisseng kapuanganna joo tondok to batara anta masakke maru dinding sola ngasang. Sitarruna kikua ma’kada yate’ pia tudi kombangan kada jiong ballaran ampa digarangan kada si turu’ jiong rantean tuju, manassa kumua to sule langgan banua, ada orang kasian datang menginjak tangga atau pergi menginjak tangga di lihat dulu bahwa bagaimana sikap dan prilaku ini orang yang di jalankan atau di datangi yang mau ditempati menginjak tangga, tapi sudah keluar di bibir kita tersentak di lidah bahwa yang kami bawakan harapannya yaitu orang yang lahir dari rumpun keluarga yaitu pucok bunga emas dari kampung ……… jadi kami berkata, terima kasih, dan kami bersyukur kami tadah dengan tangan terbuka atas kedatangan kita, siapa tau ada atau semoga tuhan perbuatannya di tengah masyarakat atas kedua belah pihak tapi sudah terucap bahwa yang di bawakan harapannya yaitu seorang dari rumpun keluarga yang baik-baik dan marga bangsawan dari daerah

………. Kami bersyukur atas kedatangan kita semoga Tuhan selalu keluarga baik-baik dan masih keluarga.

Ekspresif

memagari tangan dan di apit oleh jari orang yang diatas, sehat walafiat dan seterusnya kami berkata bahwa ini anak yang kita kumpulkan dibawah hamparan tikar dibuatkan kata-kata setujuh di bawah hamparan tikar tuju (nama tikar). Jelas bahwa kembali keatas kerumah, baku lempar seperti mangga terpental seperti amawangg (nama buah).

10 Pihak Laki-laki : Laki kua duka ma’kada kurre semanga timang pole paraja laki rande pala, laki tandere pinjan tu’ kada buluwannna sundi pudukta ulelean ma’

daun rara ti ku’ bi di lilata kumua yatu’

karampoangki ditarima mana’pomo. Anta mengkamoyamo sia mangando langan todi pangke mala’bi tu sanganna yomotu puanggalla taa’la den a’ upa napasitaranakki allo masakke napasi saladangki kulla marudinding unnoloi tu’

allona aluk rampanan kapa’na te’ …… sola dua.

Angki memboko’mo sule lambalik lokkon lalanki laumparampoi tu’ kada mangka di rampanni billa ma’ tete aluk rampanan kapa’ masitarruna’ lamikutanakan kumua ummabara susi tu si tarruna si tetena tu’

aluk rampanan kapa’.

Artinya : Kami juga mau berkata terima kasih, kami membuka tangan, manyangga piring atas kata emasnya keluar di mulut cerita daun rara (nama pohon) tersentak di lidah bahwa atas kedatangan kami diterima dengan baik, kita berdoa dan bermohon kepada Tuhan yang maha kuasa semoga najagaki hari dingin, dan sejuk hadapi hari pelepasan kapas (hari pernikahan) anak ini dua.

Anak kami kembali pulang melipat jalanan kami menyampaikan kata yang sudah di putuskan dengan sungguh-sungguh dan penuh ketegasan dan diakui kedua belah pihak mengenai acara pelepasan kepas (acara pernikahan) dan seterusnya kami mau bertanya bagaimanakah seterusnya

Kami juga sangat berterima kasih dengan penuh rasa hormat atas kedatangan kami diterima dengan baik semoga Allah selalu menjaga kita dengan hari yang indah dan sejuk menghadapi hari pernikahan anak kita ini.

Kami akan kembali pulang menyampaikan hasil musyawarah yang telah di sepakati

ini acara pelepasan kapas (acara oernikahan)

11 Pihak perempuan: Kurre sumanga tu’

pekutananta’ sitetena aluk “Rampanan Kapa” yamo tu’ ladi pukada lan tanggato solo nasang yamo tu’ mapenpissan :

1. Somba 2. Tana’

3. Merambunna (Nakandena api) 4. Allo kasirampunan

Penjelasan :

1. Somba / Maskawin : yatu’ somba dipasitende’ disesuaikan tana (janji) sia kainno’ Koran tau lan tondok.

2. Tana’ (perjanjian) yatu tana’ apa’

rupanna yamo tu :

a. Tana’ bulawan untuk datu anunna datu b. Tana’ gallang anunna parengge

c. Tana’ bassi jalan tatanan pelepasan kapas itulah yang hendak di bicarakan di tengah-tengah semua orang yang hadir disini yaitu kedudukan seseorang dalam kampung tersebut.

2. Tana (perjanjian) apa jenisnya yaitu : a. Tana’ atau perjanjian emas dipakai

orang biasa-biasa bicarakan di bawah hamparan tikar ini jelas artinya.

Mengenai acara perkawinan yang sudah di musyawarakan jelas dipahami.

Representatif

13 Pihak perempuan:

a. Kurre sumanga, somba battuananna passorongan batang kalena baene ba’tu di kua angga’na baene.

Artinya : Terimakasih, mahar artinya penyerahan diri perempuan atau harga perempuan.

mai to’ mamali lako to’ messuruk tama aluk rampanan kapa’ na den tu’ kada kumua, bua’ raka na ladenki ma’ papa sangpiak.

Artinya : Sudah di katakana bahwa orang yang akan disempurnakan pelepasan kapasnya kembali keatas rumah saling melemparkan mangga, dan terpental seperti mangga pula. Harusnya dihadirkan tanda kanan tanda kiri kedua duanya yang sempat disampai sentakan lidah dan sempat di lisankan bibir itulah yang kita pikirkan harusnya memang ada yang namanya pemberian rokok sodoran tas kepada orang yang rindu kepada menunduk sambil melewati masuk pelepasan kapas kemudian ada kata

sebelah.

c. Allo Kasirampunan : yatu’ Allo matanna ladisorong lako penggadaran sola to’ ma’

parenta na pegawai sara’

Artinya : Itu hari Ha’nya hendak di serahkan kepada adat dan orang yang memerintah dan pegawai sara’.

14 Pihak Laki-laki : Rampo randanna mote’

kasirampunanta lamikatabe’ mosia la missimangmokang te’ batang kaleki lamintengka mekang lammai te’ angan banua lasumekan lammai lesunna tarampak angki sule amparampoi to’ kada mangka ti sedan sepu’ di batang kaleki lako tanda kanan tanda kaerinna lako te’

kilingkanan.

Kurre sumanga pale pole paraja.

Artinya : Datang pinggir ini perkumpulan kami mau pamit ini batang tubuh kami mau melangkah keluar dari lindungan rumah, kami mau keluar dari halaman rumah, kembali menyampaikan kata yang digantung di dalam tas dibatang tubuh kami, kepada tanda kanan tanda kiri kepada yang dijalankan yang dibawakan amanah.

Terima kasih atas semua ini.

Telah sampai di kesepakatan kita antara kedua belah pihak

Tindak tutur yang dituturkan pada saat upacara pernikahan “acara lamaran” ini diawali tindak tutur untuk mempertanyakan maksud kedatangan dari pihak laki-laki, setelah diketahui maksud dan tujuan kedatangan, kemudian pihak laki-laki memastikan bahwa perempuan yang akan dinikahi belum memiliki pasangan begitu juga dengan pihak perempuan yang menanyakan mengenai asal dari laki-laki yang akan dinikahi apakah dari keluarga baik, sangat jelah bahwa masyarakat Bastem sangat selektif dalam memilih dan menerima orang yang akan

menjadi calon keluarga, tindak tutur yang digunakan lebih menekankan pada prinsip kesopanan baik keputusan untuk menerima maupun menolak tawaran pernikahan, ini ditandai dengan saling membalas ucapan terima kasih, ucapan terima kasih merupakan salah satu tindak tutur yang menunjukan seseorang memiliki sifat rendah hati.

Menurut pengamatan penulis dari ekspresi wajah dan tindak tutur pada saat proses acara lamaran kedua pihak baik dari perempuan maupun laki-laki terlihat saling menghargai dan tidak saling ketersinggungan, ini terlihat dengan pemilihan kata yang diucapkan bermakna baik dan saling memberikan responce baik meskipun terkesan hati-hati dalam penegasan sikap menerima.

Dari hasil interaksi komunikasi yang terjadi antara pihak perempuan dan laki-laki terdapat 14 kali interaksi secara bergantian yang didahului oleh pihak perempuan, inti dari percakapan ini yaitu niat baik dari pihak laki-laki untuk menikahi anak mereka dengan anak dari pihak perempuan.

acara ini dibahas segala aspek mengenai hak dan kewajiban dari kedua pihak.

Interaksi yang terjadi pada acara lamaran menunjukkan masyarakat Bastem masih menggunakan bahasa daerah mereka, pada proses acara lamaran ini antara kedua pihak saling tanya jawab, pihak perempuan memepertanyakan tujuan kedatangan dari pihak laki-laki, disini terjadi saling menjelaskan tentang kondisi yang sebenarnya baik

dari pihak perempuan maupun laki-laki, baik berupa penjelasan asal muasal keluarga sampai hak dan kewajiban yang akan dibahas.

Setelah semua sesuai dengan kesepakatan maka dari pihak laki-laki berpamitan untuk menyampaikan hasil kesepakatan kepada keluarga, secara tidak langsung acara lamaran telah selesai yang bisa diartikan bahwa lamaran mereka diterima oleh pihak perempuan dan akan melanjutkan ke acara selanjutnya.

2. Proses Acara Hari Ha-nya/Penjemputan (Manggosong) Penjemputan Sahut-Menyahut.

Tabel 4.2 Tindak Tutur Kata Sambutan Perempuan

No Tindak Tutur Kata Sambutan Makna Kategori

1 E ……….. kurre sumanga pole paraja tiladung mo’te’tama tarampak butu’mo tama te’ ongan banua, inde anak di kaboro’ sola rapu tallanna to lan pasundung aluk rampanan kapa’na mintama te’ tarampakna siuluta parenge ….. la ma’ tete garagai rampanan kappa sisola loloi rara’yamo tu

…. tarampamo sola nasang

mintengkamotama te banua anta mingka moya langgang te’ to misorong tama te’ lino den na’ upa’ inde to’ malolo passole’ na ….

rampo inde te’ inan di pakaraja inan dib ala susuk di rinding tabang umpaka la’ bia rara buku lam mai tongkonan kaparenggesan

…………

Laditimang kurre sumanga ladirande pole paraya inde pia patomalinna taissangngasang moraka massolanasang kumua inde kallolona …. rampo tama te’

tarampak manassa kumua to sule rekke te’

banua to si reba’ pada pao to su lanta’ pada ambawang to mesa’ kada dianna to yang telah disediakan dengan hiasan yang indah serta memohon

doa, atas

terlaksananya acara

Ekspresif

pakaraja to’ di pangke to’ makadai kadanna metundan to mamma ampe-ampena mapalelean mata.

Artinya : Terima kasih telah datang masuk kehalaman sudah datang kelindungan rumah, ini anak yang disayang bersama rumpun keluarga melengkapi tatanan pelepasan kapasnya sudah masuk halaman rumahnya teman kita bangsawan ………

hendak meniti membuat pelepasan kapas bersama keindahan oleh karena itu marilah kita rapat bersama melangka masuk rumah hendak memohon do’a keadatas yang memasukan masuk kedunia semoga ini anak mudah tukang jalanya ……… datang ke tempat dimana dia dijadikan raja tempat dipagar dengan hiasan dipagar tabang (nama kayu) menghormati keturunan dari tongkonan kebangsawanan …………..

Hendak ditadah dengan penuh rasa terimakasih ini anak kedua-duanya apakah kita sudah ketahui bahwa ini anak mudahnya ……… datang kehalaman rumah jelas bahwa orang kembali kerumah kalau baku lempar seperti magga baku pental maka seperti mangga pula, satu kata pun orang dihargai perkataannya membangunkan orang tidur tingkah lakunya tauladan mata serta sifatnya seperti membangunkan orang mati (contoh dan tauladan bagi semua orang).

Tindak tutur kata sambutan pihak perempuan dimaksudkan untuk mengucapkan selamat datang kepada pihak laki-laki dan mempersilakan untuk mengambil tempat, pihak perempuan juga mengucapkan dengan penuh rasa terima kasih karena sang lelaki masih merupakan rumpun keluarga, dan dia orang yang dihargai perkataannya serta sifatnya seperti membangunkan orang mati (contoh dan teladan bagi semua orang).

Tabel 4.3 Tindak Tutur Balasan Sambutan dari Laki-laki No Tindak Tutur Balasan Sambutan dari

Laki-laki

patarru aluk rampanan kapa’ den o na’ upa’

naminjadi rambu lu tuka’, den na’ upa anna marinating pantaranakna na dadi’ mana’ pa to sundi’kaboro’I, jadi to’ temo ki kua ma’

kada mitarimakan mintengka tama te’

tarampak ongan dib ala pusuk, inang dirinding, tabang laung garagai rampanan kapa’ latanai butu’ kaparannuanta’ sola nasang.

Artinya :Terima kasih kami ini orang datang dari …… kami datang dikampung hendak membuat rumah tangga baru ingin membuat, ingin menanam dapur terusan tataran pelepasan kapas semoga menjadi suka cita, semoga baik-baik penjagaannya dan lahir keturunan anak yang di harapkan, disayangi, jadi sekarang kami berkata kalian terima kasi melangkah masuk kehalaman terlindung dipagar hias tempat dipagar tabang hendak membuat pelepasan kapas, tempat kami datang harapan kita bersama.

Ucapan terima kasih

Tindak tutur balasan sambutan juga disampaikan oleh pihak laki-laki, dari pihak laki-laki berterima kasih karena disambut dengan sangat baik oleh pihak perempuan, tindak tutur balasan ini ditujukan kepada tuhan yaitu berupa bentuk rasa syukur dan doa agar pernikahan ini berjalan dengan baik dan memiliki keturunan yang menjadi harapan kedua puhak, balasan ini juga sebagai satu bentuk tanda bahwa kedua pihak saling menghargai dan bersuka cita.

Tabel 4.4 Tindak Tutur Balasan Sambutan Pihak Perempuan No Tindak Tutur Balasan Sambutan dari

Laki-laki

Makna Kategori

1 Tamamukun mai mintengkamukun mai mintama ammi ala inan, amini tarru rekke to’

inan pura di pasadia.

Artinya : Masuklah kemari, melangkalah kemari dan mengambiln tempat dan terus ketempat yang sudah disediakan.

Memprsilahkan tamu

Tindak tutur balasan sambutan pihak perempuan ini ditujukan kepada tamu yang hadir untuk mempersilakan mengambil tempat, hal ini salah satu bentuk penghargaan kepada tamu yang menyempatkan hadir di acara mereka

Tabel 4.5 Tindak Tutur Ucapan Pewara Akad Nikah No Tindak Tutur Balasan Sambutan dari

Laki-laki peranggi tu’ apa sia si tetena to’ apa ladi pu gau yami tu :

1. sa’ buran kadanna pewara 2. Pembacaan korang

3. Sorongan tole / tadoan panggan jomai pihak muane lako pihak baine 4. Sorongan wli lako pegawai sara’

5. Ijab Kabul, yamo tu bacaan ijab kabu ya tu nakua:

Kamu sola dua pa tananni ammi pe ranggi tu’ ra’ tasan kampanan kappa mi kumua Allo tote’ mo missuruk mukun I tamo rampanan

tananan dapo’ mi anna pa’ parampoi dale nabangki dale to mesorong tama te’ lino nabura’ ki tamande marakke puang nabengki to’ sanda napipik’kiki tanda morending.

Pewara = Tau mainawa

Artinya : Maaf kepada semua hadirin yang rindu terhadap tatanan pelepasan kapas, bahwa ini perkumpuan bahwa laki-laki dengan perempuan ini sudah sampai waktunya hendak dinikahkan olehnya tenangkanlah hati kita semuanya kita mendengar apa saja alur yang ingin

Kalian berdua pasang telinganya untuk mendengar putusan pelepasan kapas kawan bahwa hari ini menunduklah masuk kepelepasan kapas, berdirilah membuat tanaman dapur, semoga kuat tanaman dapurnya supaya di datangi rezeki dan diberi reski oleh Allah dan panjang umur.

5. Ijab qabul yang

Tindak tutur ucapan pewara akad nikah merupakan pembukaan acara puncak pernikahan yang akan segera dilaksanakan pewara akan menuntun acara sesuai tata cara pernikahan masyarakat Bastem, dalam acara ini dimulai dari sambutan pewara, kemudian dilanjutkan membaca ayat suci Al-quran, setelah itu dilanjutkan penyerahan sirih dari pihak laki-laki kemudian penyerahan wali dan terakhir Ijab qabul, adapun bunyi dari ijab kabul yaitu : Wahai kedua belah pihak mempelai pengantin ucapan ijab qabul kalian bahwa pada hari ini kalian dinikahkan, maka pada hari ini

kalian telah membentuk keluarga baru semoga keluarganya zakinah mawahda, warahma, dan diberiketurunan yang baik-baik.

Tabel 4.6 Tindak Tutur Sipaluanggi Sambu (Saling Memasangkan Sarung)

No Tindak Tutur Balasan Sambutan dari Laki-laki

Makna Kategori

1 Totemo tanda anunna kumua resmiwo minjadi si pabaene si pumuane.

Artinya : Simbol resminya pernikahan.

Saat ini sudah dinyatakan bahwa sudah resmi menjadi suami istri.

Deklaratif

Tindak tutur Sipaluanggi Sambu (Saling Memasangkan Sambu) merupakan deklarasi yang menyatakan bahwa kedua pasangan secara resmi telah menjadi suami istri, hal ini sekaligus merupakan langkah awal dari kedua pasangan menjalani hidup sebagai keluarga kecil.

Tabel 4.7 Tindak Tutur Situka Tau Matua (Bertukar Orang Tua) No Tindak Tutur Balasan Sambutan Dari

Laki-laki

Makna Kategori

1 To’temo lanmukun te’ aluk rampanan kapa’

mangka mukung si paluangngi sambu’ jadi si tuka’ tau matua duka mukunmi. tau ma tuanna baene minjadi tau matuanna muane.

to matuanna muane minjadi tau matuanna bene. selanjutnya.

Artinya :Saat ini anda telah memasuki tatan pelepasan kapas kalian sudah dipasangkan sarung. Jadi bertukar orang tualah kalian pasangan suami istri, maka dari itu kalian akan bertukar orang tua dimana saat ini orang tua perempuan akan menjadi orang tua laki-laki demikian sebaliknya dan selanjutnya.

Dekralatif

Tindak tutur Situka Tau Matua (Bertukar Orang Tua) merupakan kegiatan simbolik bahwa dengan adanya ikatan pernikahan maka orang tua dari laki-laki menjadi orang tua perempuan begitu juga sebaliknya sehingga status orang tua baik dari pihak laki-laki maupun perempuan sama kedudukannya. Hal ini akan lebih memberi makna tentang arti pernikahan.

.Tabel 4.8 Tindak Tutur Pesan Rampanan Kapa (Pesan Pernikahan) No Tindak Tutur Balasan Sambutan dari

Laki-laki

Makna Kategori

1 Jadi masiang duan bongi batu kedenni angin mangiri, ba’tu kedenni karangan titodo lako lalan da’mi sarroanni da’ mitibianni tapi alai mi palelei jio di pukanna raka dip o kirinna raka allamitiro kuma apara maksudna te’.

Artinya :

Jadi besok atau lusa jika angin bertiup, kalau ada kerikil tajam di jalan jangan mengeluh. Jangan dibuang tapi ambil pindahkan di kanan atau dikiri maka kamu

Tindak tutur Pesan Rampanan Kapa (Pesan Pernikahan) adalah pesan penutup kepada kedua pasangan agar permasalahan yang akan dihadapi bisa diselesaikan secara baik, hal ini disampaikan karena masalah pasti akan terjadi pada rumah tangga sehingga sebelum masalah terjadi mereka diingatkan agar menyelesaikannya secara dewasa.

.

.Tabel 4.9 Tindak Tutur Kada To Minawa (Do’a Pernikahan) No Tindak Tutur Balasan Sambutan dari

Laki-laki

Makna Kategori

1 Anak di kaboro’ patomalingmu mintama moko te’ aluk rampanan kapa’ garagaimoko tananan dapo’ tallu lalu kanna, garagamoko lembang sura’ lopi di maya-maya munai rokko sola dua umpammesa’ penawa kedenni anging manggiri bara’ ti liu-liu manda’ko sitoe lima si jekeng lengo-lengo, alloniko batu pirri batu tappolo-polo, polo rika batu anna la polo I nawa.

Artinya : Kamu anak disayang keduanya sudah masuk acara pelepasan kapas, membikin tanaman dapur tiga tungku, bikinlah perahu hias, perahu terpelihara, kamu turuni berdua menyatukan hati. Kalian ada udara bertiup angin kencang saling berpengangan kuat-kuat tangan dan lengan, bersandar kepada batu padat, batu yang

keputusan yang tidak bisa di gugat oleh menyelesaikan masalah secara bersama-sama tanpa adanya campur tangan dari pihak lain. Doa pernikahan ini menjadi satu kekuatan secara rohaniah untuk menciptakan ilusi positif tentang masa depan yang diberikan kepada kedua mempelai.

Tabel 4.10 Tindak Tutur Ucapan Menuju Pelaminan No Tindak Tutur Balasan Sambutan dari

Tabel 4.10 Tindak Tutur Ucapan Menuju Pelaminan No Tindak Tutur Balasan Sambutan dari

Dokumen terkait