• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

D. Kerangka Pikir

Penelitian ini dikembangkan sesuai dengan teori sosiopragmatik yang menyorot pada tindak tutur yang digunakan dalam upacara adat pernikahan masyarakat Bastem. Aspek-aspek yang akan diteliti adalah ragam tindak tutur menurut Searle yang meliputi tindak tutur representative, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif. Di samping itu,

juga diteliti mengenai cara tindak tutur digunakan serta fungsinya. Hasil temuan dideskripsikan dan dianalisis secara integral. Untuk lebih jelasnya, kerangka pikir penelitian ini digambarkan lewat bagan kerangka pikir sebagai berikut.

Upacara Adat Pernikahan Masyarakat Bastem

Kabupaten Luwu

Kajian Sosiopragmatik

Wujud Tindak dalam Upacara Adat Pernikahan

Masyarakat Bastem Tindak

Tutur

Ragam Tindak Tutur

Fungsi Tindak Tutur

Representatif

Direktif Ekspresif

Fungsi Lokusi Komisif

Deklaratif

Fungsi Ilokuso

Fungsi Perlokusi

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini berjenis penelitian deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penggunaan metode kualitatif karena permasalahan dapat lebih cepat diperoleh dan data yang ditemukan dapat berkembang. Oleh karena itu, dengan metode ini dapat diperoleh deskripsi yang luas, mendalam, tuntas, dan memiliki kredibilitas yang tinggi.Penelitian deskriptif ini dipilih untuk menganalisis, mengungkap, dan memberi gambaran secara menyeluruh mengenai penggunaan tindak tutur dalam upacara adat pernikahan masyarakat Bastem Kabupaten Luwu.

Beberapa karakteristik penelitian kualitatif: (1) dilakukan dalam kondisi yang alamiah; langsung ke sumber dan peneliti adalah instrumen utama, (2) data bersifat deskriptif; berupa kata-kata atau gambar, (3) penekanan pada proses bukan pada produk, (4) analisis data secara induktif, dan (5) menekankan makna ( data di balik yang teramati).

Mencermati karakteristik penelitian kualitatif tersebut, sehingga sosiolinguistik menjadi grand theory dalam membedah karakteristik penggunaan tindak tutur dalam penelitian ini.

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini adalah penggunaan tindak tutur dalam upacara adat pernikahan masyarakat Bastem Kabupaten Luwu. Dalam hal ini, data yang dikumpulkan berupa ragam dan fungsi tindak tutur digunakan.Penggunaan tindak tutur ini dideskripsikan dan dipetakan secara kualitatif.

C. Definisi Istilah

Definisi istilah penelitian diuraikan sebagai berikut:

1. Tindak tutur adalah tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan.

2. Upacara adat pernikahan adalah upacara yang berfungsi untuk menyatukan hubungan sah antara laki-laki dan perempuan dengan mengikuti aturan adat yang dimiliki oleh suatu masyarakat.

D. Desain Penelitian

Penelitian ini didesain secara deskriptif kualitatif. Metode kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu tindak interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri. Ciri penelitian deskriptif kualitatif adalah sumber data yang berupa natural setting. Data dikumpulkan secara langsung dari lingkungan nyata (natural setting) dalam situasi sebagaimana adanya, yang dilakukan oleh

subjek dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan pendapat Sugiyono (2009:8), metode penelitian kualitatif disebut juga metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setitng).

E. Data dan Sumber Data

Data penelitian ini adalah ujaran berupa tindak tutur yang digunakan di dalam upacara adat pernikahan masyarakat Bastem Kabupaten Luwu.

Sumber data dalam penelitian ini adalah orang-orang yang terlibat langsung dan menjadi pelaksana upacara adat tersebut, seperti kedua mempelai, indobotting, sandro, dan penghulu pernikahan.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan cara mengadakan perekaman, pencatatan, pengumpulan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kebutuhan data. Peneliti melakukan klasifikasi tindak tutur yang memenuhi kriteria sebagai data penelitian. Adapun instrumen penunjang adalah panduan wawancara.

G. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik rekam, catat, dan studi dokumen, serta ditunjang dengan wawancara. Peneliti melakukan perekaman pada saat melakukan tindak tutur selama proses upacara adat pernikahan berlangsung. Studi dokumentasi digunakan untuk pengumpulan data seputar subjek dan lokasi penelitian. Teknik pengumpulan data yang lainnya dilakukan dengan wawancara. Wawancara bertujuan untuk melengkapi data rekaman dan catatan.

H. Pengecekan Keabsahan Data

Menurut Moleong (2008:327), ada empat kriteria keabsahan data, yakni derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability). Penelitian ini hanya menggunakan kriteria derajat kepercayaan (credebility). Derajat kepercayaan antara lain meliputi: ketekunan pengamatan, pemeriksaan dan diskusi teman sejawat, serta trianggulasi (Moleong,2008:327).

Ketekunan dan keajegan pengamatan berarti mencari secara konsisten dengan berbagai cara dalam hubungannya dengan proses analisis yang konstan atau tentatif. Pemeriksaan sejawat melalui diskusi dilakukan dengan memajankan hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh

dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat. Teknik ini mengandung maksud agar peneliti tetap memertahankan sikap terbuka dan kejujuran. Di samping itu, dari hasil diskusi akan tersingkap kekurangan dalam penelitian sehingga dapat dijadikan bahan untuk memperbaiki penafsiran yang telah dilakukan. Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan mengumpulkan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang ada. Dalam penelitian ini digunakan model triangulasi data. Penggunaan model triangulasi ini karena relevan dengan objek penelitian yaitu data tertulis hasil transkip data rekaman. Data yang diperoleh selanjutnya diajukan kepada triangulator untuk diperiksa dan mencocokkan data yang sesuai dengan objek kajian.

I. Analisis Data

Menurut Sugiyono (2009:244), analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Secara kualitatif, data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data model interaktif yang diperkenalkan oleh Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2009:246). Analisis data diawali dengan indentifikasi data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi

1. Tahap identifikasi data sebagai tahap penelusuran awal untuk memperoleh gambaran secara umum yang diikuti dengan tahap merinci data pada bagian berikutnya.

2. Tahap reduksi data, semua data yang terkumpul diidentifikasi ciri-cirinya. Data yang dianggap tidak penting dipisahkan dengan data utama.

3. Tahap penyajian data; mencakup langkah penyajian kembali hasil klasifikasi data untuk dijadikan dasar penarikan kesimpulan.

4. Penyimpulan data/verifikasi, yaitu penarikan simpulan sementara sesuai dengan penyajian data.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, yakni berupa observasi, wawancara dengan informan, serta kajian literatur yang berkaitan dengan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka didapat langkah-langkah proses pernikahan secara umum yaitu terbagi menjadi dua tahap, tahap pertama yaitu acara lamaran dimulai dengan pihak perempuan mempertanyakan kedatangan pihak laki-laki kemudian pihak laki-laki menjawab begitu juga sebaliknya, kemudian kedua pihak saling menjelaskan dan terakhir tahap pengambilan keputusan yang dilakukan secara musyawarah mufakat dari kedua belah pihak.

Selanjutnya acara hari H-nya yang dimulai dari kata sambutan dari perempuan, kemudian balasan sambutan dari laki-laki, lalu balasan sambutan lagi dari perempuan selanjutnya ucapan pewara akad nikah,lalu saling memasangkan sambu, bertukar orang tua, pesan pernikahan, doa pernikahan, ucapan menuju pelaminan dan terakhir mempersilakan makan kepada tamu. Berikut pemaparan hasil penelitian.penjelasan lebih lanjut tentang proses pernikahan masyarakat Bastem,

1. Proses Acara Lamaran Adat Masyarakat Bastem (Upacara Pernikahan)

Upacara pernikahan masyarakat di Bastem terjadi secara turun temurun yang merupakan kewajiban bagi masyarakat Bastem saat ini, hal ini merupakan budaya peninggalan masyarakat terdahulu hingga sekarang. Bagi masyarakat Bastem melaksanakan segala tahapan adat istiadat upacara pernikahan merupakan keharusan, jika tahapan adat istiadat ini tidak dilaksanakan maka masyarakat mengganggap pernikahan tidak bermakna dan menjadi hal yang dihindari sehingga setiap masyarakat yang merencanakan pernikahan dan yang akan melaksanakan pernikahan tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti upacara adat tersebut.

Berikut ini interaksi pihak perempuan dan pihak laki-laki pada saat acara lamaran masyarakat di Bastem dengan tindak tutur sesuai dengan budaya dan adat istiadat yang telah disesuaikan dengan makna yang sebenarnya dan dikategorikan berdasarkan kerangka konseptual.

Tabel 4.1 Tindak Tutur Acara Lamaran

No Tindak Tutur Acara Aamaran Makna Kategori

1 Pihak Perempuan :

Lempang kaurangan, lempang kabongingkungraka

Artinya : Singga karena kehujanankah?

Singga karena kemalamankah lendu tang kadongingan kan sangadinna rampo I sule jomai Bastem bawa

Artinya : Singga bukan karena kehujanan juga bukan karena kemalaman kecuali kami datang mempewa pesan dari siaparaka nadirompo kalosi bulawan te’

manuk lundara (sigadi) ma’ bandang bulu barokona.

Artinya : Saya mau bertanya secara jentel kepada kita rumpun keluarga bahwa belum adakah yang memagari pinang emas ini kumua yatu’ mitungkanan mi pikutanan”

Kumua yaitu’ manuk lundara ma’

bandangan bulu barokona, manda’pa bujunna.

Artinya : Terima kasih, terima kasih kembali bahwa kedatanganta dibuka’kan telapak tangan bahwa yang kalin datangi dan tanyakan bahwa ayam yangmasih mudah dan memiliki bulu indah dilehernya masih keras di rumahnya.

Ucapan terimakasih atas kedatangan pihak laki-laki untuk datang melamar anak kami dan menyatakan kalau anak kami yang cantik belum ada yang melamar.

Ekspresif

6 Pihak Laki-laki : Kurre sumanga pale lako kita solangasang larampomokangigi, laki parampomo sitarru’na karampoangki’

kumua larampokeng ma’ tumpu anda’

untue lumpa-lumpa ba’ba’.

Artinya : Terima kasih kepada kita semua kami datang menyampaikan terusan dri kedatangan kami bahwa kedatangan kami untuk menginjak tangga, memegang pintu rumah. lamikutanakan, umbara nasulei te’ tau milingkanan.

Artinya : Kalau begitu kembali berterima kasih, tapi kami mau bertanya dari

Terima kasih (berterima kasih) tetapi ingin

manakah orang yang kau perjalankan.

8 Pihak Laki-laki : Yato’ kilingkanan yamo tu’

sundi kalena, rapu tallangna ………….

Artinya : Itu yang kami datangkan kemari saka’ aluk diamanangki, sangka ladipingkilalai kumua kedenni tau mamase rampo ma’tumpu endak yarika maleki kumua yaitu’ kipirampoan ranunna yamo tu to sundi kalena ………… papunna ……….

ta’bi bulawanna, daun rara’na ….. lammai padang …….. jadi kikua ma’kada laki kurre sumanga kitimang pole paraja te’

karampoan ta den o’ upa’ na rining pala’ ki puang ma’ kulambang tarunoki’ te’ joo to’

unisseng kapuanganna joo tondok to batara anta masakke maru dinding sola ngasang. Sitarruna kikua ma’kada yate’ pia tudi kombangan kada jiong ballaran ampa digarangan kada si turu’ jiong rantean tuju, manassa kumua to sule langgan banua, ada orang kasian datang menginjak tangga atau pergi menginjak tangga di lihat dulu bahwa bagaimana sikap dan prilaku ini orang yang di jalankan atau di datangi yang mau ditempati menginjak tangga, tapi sudah keluar di bibir kita tersentak di lidah bahwa yang kami bawakan harapannya yaitu orang yang lahir dari rumpun keluarga yaitu pucok bunga emas dari kampung ……… jadi kami berkata, terima kasih, dan kami bersyukur kami tadah dengan tangan terbuka atas kedatangan kita, siapa tau ada atau semoga tuhan perbuatannya di tengah masyarakat atas kedua belah pihak tapi sudah terucap bahwa yang di bawakan harapannya yaitu seorang dari rumpun keluarga yang baik-baik dan marga bangsawan dari daerah

………. Kami bersyukur atas kedatangan kita semoga Tuhan selalu keluarga baik-baik dan masih keluarga.

Ekspresif

memagari tangan dan di apit oleh jari orang yang diatas, sehat walafiat dan seterusnya kami berkata bahwa ini anak yang kita kumpulkan dibawah hamparan tikar dibuatkan kata-kata setujuh di bawah hamparan tikar tuju (nama tikar). Jelas bahwa kembali keatas kerumah, baku lempar seperti mangga terpental seperti amawangg (nama buah).

10 Pihak Laki-laki : Laki kua duka ma’kada kurre semanga timang pole paraja laki rande pala, laki tandere pinjan tu’ kada buluwannna sundi pudukta ulelean ma’

daun rara ti ku’ bi di lilata kumua yatu’

karampoangki ditarima mana’pomo. Anta mengkamoyamo sia mangando langan todi pangke mala’bi tu sanganna yomotu puanggalla taa’la den a’ upa napasitaranakki allo masakke napasi saladangki kulla marudinding unnoloi tu’

allona aluk rampanan kapa’na te’ …… sola dua.

Angki memboko’mo sule lambalik lokkon lalanki laumparampoi tu’ kada mangka di rampanni billa ma’ tete aluk rampanan kapa’ masitarruna’ lamikutanakan kumua ummabara susi tu si tarruna si tetena tu’

aluk rampanan kapa’.

Artinya : Kami juga mau berkata terima kasih, kami membuka tangan, manyangga piring atas kata emasnya keluar di mulut cerita daun rara (nama pohon) tersentak di lidah bahwa atas kedatangan kami diterima dengan baik, kita berdoa dan bermohon kepada Tuhan yang maha kuasa semoga najagaki hari dingin, dan sejuk hadapi hari pelepasan kapas (hari pernikahan) anak ini dua.

Anak kami kembali pulang melipat jalanan kami menyampaikan kata yang sudah di putuskan dengan sungguh-sungguh dan penuh ketegasan dan diakui kedua belah pihak mengenai acara pelepasan kepas (acara pernikahan) dan seterusnya kami mau bertanya bagaimanakah seterusnya

Kami juga sangat berterima kasih dengan penuh rasa hormat atas kedatangan kami diterima dengan baik semoga Allah selalu menjaga kita dengan hari yang indah dan sejuk menghadapi hari pernikahan anak kita ini.

Kami akan kembali pulang menyampaikan hasil musyawarah yang telah di sepakati

ini acara pelepasan kapas (acara oernikahan)

11 Pihak perempuan: Kurre sumanga tu’

pekutananta’ sitetena aluk “Rampanan Kapa” yamo tu’ ladi pukada lan tanggato solo nasang yamo tu’ mapenpissan :

1. Somba 2. Tana’

3. Merambunna (Nakandena api) 4. Allo kasirampunan

Penjelasan :

1. Somba / Maskawin : yatu’ somba dipasitende’ disesuaikan tana (janji) sia kainno’ Koran tau lan tondok.

2. Tana’ (perjanjian) yatu tana’ apa’

rupanna yamo tu :

a. Tana’ bulawan untuk datu anunna datu b. Tana’ gallang anunna parengge

c. Tana’ bassi jalan tatanan pelepasan kapas itulah yang hendak di bicarakan di tengah-tengah semua orang yang hadir disini yaitu kedudukan seseorang dalam kampung tersebut.

2. Tana (perjanjian) apa jenisnya yaitu : a. Tana’ atau perjanjian emas dipakai

orang biasa-biasa bicarakan di bawah hamparan tikar ini jelas artinya.

Mengenai acara perkawinan yang sudah di musyawarakan jelas dipahami.

Representatif

13 Pihak perempuan:

a. Kurre sumanga, somba battuananna passorongan batang kalena baene ba’tu di kua angga’na baene.

Artinya : Terimakasih, mahar artinya penyerahan diri perempuan atau harga perempuan.

mai to’ mamali lako to’ messuruk tama aluk rampanan kapa’ na den tu’ kada kumua, bua’ raka na ladenki ma’ papa sangpiak.

Artinya : Sudah di katakana bahwa orang yang akan disempurnakan pelepasan kapasnya kembali keatas rumah saling melemparkan mangga, dan terpental seperti mangga pula. Harusnya dihadirkan tanda kanan tanda kiri kedua duanya yang sempat disampai sentakan lidah dan sempat di lisankan bibir itulah yang kita pikirkan harusnya memang ada yang namanya pemberian rokok sodoran tas kepada orang yang rindu kepada menunduk sambil melewati masuk pelepasan kapas kemudian ada kata

sebelah.

c. Allo Kasirampunan : yatu’ Allo matanna ladisorong lako penggadaran sola to’ ma’

parenta na pegawai sara’

Artinya : Itu hari Ha’nya hendak di serahkan kepada adat dan orang yang memerintah dan pegawai sara’.

14 Pihak Laki-laki : Rampo randanna mote’

kasirampunanta lamikatabe’ mosia la missimangmokang te’ batang kaleki lamintengka mekang lammai te’ angan banua lasumekan lammai lesunna tarampak angki sule amparampoi to’ kada mangka ti sedan sepu’ di batang kaleki lako tanda kanan tanda kaerinna lako te’

kilingkanan.

Kurre sumanga pale pole paraja.

Artinya : Datang pinggir ini perkumpulan kami mau pamit ini batang tubuh kami mau melangkah keluar dari lindungan rumah, kami mau keluar dari halaman rumah, kembali menyampaikan kata yang digantung di dalam tas dibatang tubuh kami, kepada tanda kanan tanda kiri kepada yang dijalankan yang dibawakan amanah.

Terima kasih atas semua ini.

Telah sampai di kesepakatan kita antara kedua belah pihak

Tindak tutur yang dituturkan pada saat upacara pernikahan “acara lamaran” ini diawali tindak tutur untuk mempertanyakan maksud kedatangan dari pihak laki-laki, setelah diketahui maksud dan tujuan kedatangan, kemudian pihak laki-laki memastikan bahwa perempuan yang akan dinikahi belum memiliki pasangan begitu juga dengan pihak perempuan yang menanyakan mengenai asal dari laki-laki yang akan dinikahi apakah dari keluarga baik, sangat jelah bahwa masyarakat Bastem sangat selektif dalam memilih dan menerima orang yang akan

menjadi calon keluarga, tindak tutur yang digunakan lebih menekankan pada prinsip kesopanan baik keputusan untuk menerima maupun menolak tawaran pernikahan, ini ditandai dengan saling membalas ucapan terima kasih, ucapan terima kasih merupakan salah satu tindak tutur yang menunjukan seseorang memiliki sifat rendah hati.

Menurut pengamatan penulis dari ekspresi wajah dan tindak tutur pada saat proses acara lamaran kedua pihak baik dari perempuan maupun laki-laki terlihat saling menghargai dan tidak saling ketersinggungan, ini terlihat dengan pemilihan kata yang diucapkan bermakna baik dan saling memberikan responce baik meskipun terkesan hati-hati dalam penegasan sikap menerima.

Dari hasil interaksi komunikasi yang terjadi antara pihak perempuan dan laki-laki terdapat 14 kali interaksi secara bergantian yang didahului oleh pihak perempuan, inti dari percakapan ini yaitu niat baik dari pihak laki-laki untuk menikahi anak mereka dengan anak dari pihak perempuan.

acara ini dibahas segala aspek mengenai hak dan kewajiban dari kedua pihak.

Interaksi yang terjadi pada acara lamaran menunjukkan masyarakat Bastem masih menggunakan bahasa daerah mereka, pada proses acara lamaran ini antara kedua pihak saling tanya jawab, pihak perempuan memepertanyakan tujuan kedatangan dari pihak laki-laki, disini terjadi saling menjelaskan tentang kondisi yang sebenarnya baik

dari pihak perempuan maupun laki-laki, baik berupa penjelasan asal muasal keluarga sampai hak dan kewajiban yang akan dibahas.

Setelah semua sesuai dengan kesepakatan maka dari pihak laki-laki berpamitan untuk menyampaikan hasil kesepakatan kepada keluarga, secara tidak langsung acara lamaran telah selesai yang bisa diartikan bahwa lamaran mereka diterima oleh pihak perempuan dan akan melanjutkan ke acara selanjutnya.

2. Proses Acara Hari Ha-nya/Penjemputan (Manggosong) Penjemputan Sahut-Menyahut.

Tabel 4.2 Tindak Tutur Kata Sambutan Perempuan

No Tindak Tutur Kata Sambutan Makna Kategori

1 E ……….. kurre sumanga pole paraja tiladung mo’te’tama tarampak butu’mo tama te’ ongan banua, inde anak di kaboro’ sola rapu tallanna to lan pasundung aluk rampanan kapa’na mintama te’ tarampakna siuluta parenge ….. la ma’ tete garagai rampanan kappa sisola loloi rara’yamo tu

…. tarampamo sola nasang

mintengkamotama te banua anta mingka moya langgang te’ to misorong tama te’ lino den na’ upa’ inde to’ malolo passole’ na ….

rampo inde te’ inan di pakaraja inan dib ala susuk di rinding tabang umpaka la’ bia rara buku lam mai tongkonan kaparenggesan

…………

Laditimang kurre sumanga ladirande pole paraya inde pia patomalinna taissangngasang moraka massolanasang kumua inde kallolona …. rampo tama te’

tarampak manassa kumua to sule rekke te’

banua to si reba’ pada pao to su lanta’ pada ambawang to mesa’ kada dianna to yang telah disediakan dengan hiasan yang indah serta memohon

doa, atas

terlaksananya acara

Ekspresif

pakaraja to’ di pangke to’ makadai kadanna metundan to mamma ampe-ampena mapalelean mata.

Artinya : Terima kasih telah datang masuk kehalaman sudah datang kelindungan rumah, ini anak yang disayang bersama rumpun keluarga melengkapi tatanan pelepasan kapasnya sudah masuk halaman rumahnya teman kita bangsawan ………

hendak meniti membuat pelepasan kapas bersama keindahan oleh karena itu marilah kita rapat bersama melangka masuk rumah hendak memohon do’a keadatas yang memasukan masuk kedunia semoga ini anak mudah tukang jalanya ……… datang ke tempat dimana dia dijadikan raja tempat dipagar dengan hiasan dipagar tabang (nama kayu) menghormati keturunan dari tongkonan kebangsawanan …………..

Hendak ditadah dengan penuh rasa terimakasih ini anak kedua-duanya apakah kita sudah ketahui bahwa ini anak mudahnya ……… datang kehalaman rumah jelas bahwa orang kembali kerumah kalau baku lempar seperti magga baku pental maka seperti mangga pula, satu kata pun orang dihargai perkataannya membangunkan orang tidur tingkah lakunya tauladan mata serta sifatnya seperti membangunkan orang mati (contoh dan tauladan bagi semua orang).

Tindak tutur kata sambutan pihak perempuan dimaksudkan untuk mengucapkan selamat datang kepada pihak laki-laki dan mempersilakan untuk mengambil tempat, pihak perempuan juga mengucapkan dengan penuh rasa terima kasih karena sang lelaki masih merupakan rumpun keluarga, dan dia orang yang dihargai perkataannya serta sifatnya seperti membangunkan orang mati (contoh dan teladan bagi semua orang).

Tabel 4.3 Tindak Tutur Balasan Sambutan dari Laki-laki No Tindak Tutur Balasan Sambutan dari

Laki-laki

patarru aluk rampanan kapa’ den o na’ upa’

naminjadi rambu lu tuka’, den na’ upa anna marinating pantaranakna na dadi’ mana’ pa to sundi’kaboro’I, jadi to’ temo ki kua ma’

kada mitarimakan mintengka tama te’

tarampak ongan dib ala pusuk, inang

tarampak ongan dib ala pusuk, inang

Dokumen terkait