BAB IV ANALISIS DAN EVALUASI
B. Proses Administrasi PBB pada Kantor Pelayanan Pajak
Modernisasi telah dimulai dengan adanya perubahan struktur birokrasi, bisnis proses dan optimalisasi teknologi informasi, serta remunerasi pegawai. Berkaitan dengan teknologi informasi di Direktorat Jenderal Pajak ada sistem yang dikembangkan, yaitu basis data SISMIOP untuk sistem administrasi PBB. Sejak tahun 2006 kegiatan ektensifikasi perpajakan terus digalakan dalam rangka menjaring Wajib Pajak potensial, khususnya Wajib Pajak orang pribadi baik dilakukan melaui tax base property ataupun melalui para pihak pemberi kerja. Hasil kegiatan ekstensifikasi tersebut sudah nampak, dimana sampai dengan saat ini jumlah Wajib Pajak sudah mencapai 3 juta WP. Namun demikian, jumlah itu belum mencapai jumlah Wajib Pajak yang optimal jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 225 juta jiwa (ezar weblog, 2008).
Proses administrasi PBB dimulai dari Wajib Pajak sendiri, karena adanya reformasi dalam administrasi perpajakan dan peleburan dari struktur kantor pajak menjadi berdasarkan fungsi maka Wajib Pajak PBB dituntut untuk memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Setelah memiliki NPWP wajib pajak harus mendaftarkan subjek dan objek PBB yang dimilikinya. Sesuai dengan sistem self assessment maka Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP4)/ Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi perpajakan (KP2KP) yang wilayahnya meliputi tempat tinggal atau kedudukan Wajib Pajak untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Disamping melalui KPP atau KP4/KP2KP, pendaftaran NPWP juga dapat dilakukan melalui e-register, yaitu suatu cara pendaftaran NPWP melalui media elektronik on-line (internet).
Setelah mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Wajib Pajak harus mengikuti proses administrasi lagi yaitu pendaftaran objek pajak. Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) adalah sarana bagi Wajib Pajak untuk mendaftarkan objek pajak yang dipakai sebagai dasar menghitung Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang terutang. Proses pendataannya adalah :
1) Penyampaian dan Pengembalian SPOP :
a. Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas bekerjasama dengan aparat Pemerintah Daerah dan atau instansi lainnya dengan cara menyampaikan SPOP kepada para Wajib Pajak serta memantau dan menerima kembali SPOP yang telah diisi dan ditandatangani oleh para Wajib Pajak untuk digunakan sebagai bahan penetapan besarnya pajak terhutang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. SPOP harus disampaikan kepada KPP Pratama, Kantor Pelayanan PBB (KP PBB), Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP4)/ Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi perpajakan (KP2KP) setempat paling lambat 30 hari setelah formulir SPOP diterima.
b. Kepada Wajib Pajak yang ada di wilayah yang belum memiliki Peta Garis, Peta Foto dan Peta Desa diberikan SPOP Kolektif (KP. PBB) agar diperoleh visualisasi lapangan.
c. Kepada Wajib Pajak yang ada di wilayah yang sudah memiliki Peta Garis, Peta Desa atau Peta Foto akan tetapi telah mengalami banyak perubahan Obyek dan Subyek PBB, diberikan SPOP Perorangan (KP. PBB).
2) Verifikasi Data Obyek dan Subyek PBB :
a. Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas PBB bekerjasama dengan aparat Pemerintah Daerah dan atau instansi lainnya dengan cara mencocokkan data Obyek dan Subyek PBB yang sudah terdaftar pada administrasi PBB dengan keadaan Obyek dan Subyek PBB yang sebenarnya di lapangan, untuk dipergunakan sebagai bahan penetapan besarnya pajak terhutang.
b. Dalam kegiatan verifikasi data Obyek dan Subyek PBB kepada Wajib Pajak diberikan SPOP Perorangan bila ternyata data grafis yang tergambar dalam Peta Desa, Peta Garis maupun Peta Foto tidak banyak mengalami perubahan.
c. Bilamana data grafis pada Peta Desa, Peta Grafis dan Peta Foto mengalami perubahan seperti perubahan batas Desa/Kelurahan, batas persil atau bidang Obyek PBB maka dilakukan pengukuran teristris dan penggambaran kembali pada bagian peta tersebut dengan menggunakan Buku Identifikasi Obyek dan Subyek PBB (KP. PBB).
3) Identifikasi Obyek dan Subyek PBB
Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas PBB bersama aparat Pemerintah Daerah dan atau instansi lainnya atau dilaksanakan oleh pihak ketiga (dikontrakkan) dengan cara mencocokkan informasi grafis yang ada pada Peta Kerja dengan keadaan Obyek PBB di lapangan.
a. Penyusunan data awal adalah semua kegiatan pendataan seluruh Obyek PBB dalam suatu wilayah tertentu.
b. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan PBB atau pihak lain yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak.
c. Dalam melaksanakan penyusunan data awal PBB dicatat keterangan mengenai Obyek dan Subyek PBB termasuk dari nama, alamat, dan dilengkapi dengan pengisian SPOP oleh Wajib Pajak.
5) Kegiatan Pemutakhiran Data PBB
Pemutakhiran data adalah suatu kegiatan memperbaharui atau menyelesaikan data yang ada berdasarkan verifikasi/penilaian Kantor Pelayanan PBB, dan atau Subyek PBB dari pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.
Setelah memperoleh, mengisi/mengisi ulang Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP), maka Wajib Pajak akan diberikan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT). SPPT adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KP PBB) mengenai pajak terutang yang harus dibayar dalam 1 (satu) tahun pajak. Apabila dalam jangka waktu 30 hari Wajib Pajak tidak mengisi dan menyampaikan kembali SPOP akan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) yakni Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang memberitahukan besarnya pajak yang terutang, termasuk denda administrasinya dan harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak SKP diterima oleh Wajib Pajak. Apabila Wajib Pajak tidak melunasi pajak yang terutang sedangkan saat jatuh tempo pembayaran SPPT/SKP telah lewat maka akan dikeluarkan Surat Tagihan Pajak
(STP) yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan PBB untuk melakukan tagihan pajak terutang dalam SPPT atau SKP, dan harus dilunasi selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak tanggal STP diterima oleh Wajib Pajak. Jika tidak tidak dilunasi hingga jatuh tempo maka akan dikeluarkan Surat Paksa, apabila dalam 2x24 jam setelah penerbitan Surat Paksa tidak dilunasi maka akan dikeluarkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP). Setelah lewat 14 (empat belas) hari sejak tanggal pelaksanaan penyitaan tidak dilunasi maka Kepala Kantor Pelayanan PBB mengeluarkan pengumuman lelang, akan tetapi 14 (empat belas) hari setelah pengumuman lelang tidak dilunasi juga akan segera dilaksanakan penjualan barang sita di Kantor Lelang.
Sedangkan proses administrasi di kantor pajak setelah wajib pajak mengembalikan SPOP kepada KPP antara lain :
a. Pemrosesan Pendaftaran Objek Pajak Baru dengan Penelitian Lapangan Dasar hukum :
1. Undang-Undang No. 12 Tahun 1985 tentang PBB- Undang-Undang No.12 Tahun 1994
2. Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-553/PJ/2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran, Pendataan dan Penelitian Objek dan Subjek PBB dalam Rangka Pembentukan dan/atau Pemeliharaan Basis Data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP)-Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-115/PJ/2000
Prosesnya pelaksanaan :
1. Wajib pajak mengajukan pendaftaran objek pajak baru ke KPP melalui Tempat Pelayanan Terpadu (TPT)
2. Petugas TPT menerima permohonan Pendaftaran Objek Pajak Baru dan meneliti kelengkapan persyaratannya. Jika berkas permohonan telah lengkap petugas TPT akan mencetak Bukti Penerimaan Surat (BPS) dan Lembar Pengawasan Arus Dokumen (LPAD). BPS akan diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD akan digabungkan dengan berkas permohonan pendaftaran, kemudian diteruskan kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi. Jika permohonan tidak lengkap, berkas tersebut dikembalikan.
3. Kepala Seksi Ekstensifikasi menugaskan dan memberi disposisi kepada Pelaksana Seksi Ekstensifikasi untuk menyiapkan konsep Surat Tugas Penelitian Lapangan, setelah selesai Kepala Seksi Ekstensifikasi akan memaraf dan meneruskan konsep kepada Kepala Kantor untuk ditandatangani Surat Tugas Penelitian Lapangan dan mengembalikan surat tersebut kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi
4. Kepala Seksi Ekstensifikasi menyerahkan surat tersebut kepada Pejabat Fungsional Penilai untuk melakukan penelitian lapangan, serta memaraf Berita Acara Penelitian Lapangan dan disampaikan kepada Kepala Kantor
5. Kepala Kantor meriview, menetapkan dan menandatangani Berita Acara Penelitian Lapangan kemudian menyampaikan kembali kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi untuk dilakukan pemuktahiran data grafis. Selanjutnya meneruskan berkas permohonan kepada Seksi Pusat Data dan Informasi (PDI) untuk melakukan
perekaman data SPOP/LSPOP, mencetek Daftar Hasil Rekaman (DHR), melakukan pencocokan antara SPOP/LSPOP dan DHR, dan meng-generate produk keluaran (spooling SPPT, DHKP dan STTS) serta meneruskan berkas permohonan pendaftaran kepada Kepala Seksi Pelayanan untuk dicetak.
6. Kepala Seksi Pelayanan menerima berkas permohonan pendaftaran dan menugaskan Pelaksana Seksi pelayanan untuk mencetak konsep produk hokum untuk di sampaikan kepada Kepala Kantor untuk diteliti dan disetujui. Proses keseluruhan ini dilakukan paling lama 3 (tiga) hari kerja.
b. Proses Pendaftaran Objek Pajak Baru dengan Penelitian Kantor Dasar hukum :
1. Undang-Undang No. 12 Tahun 1985 tentang PBB- Undang-Undang No.12 Tahun 1994
2. Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-553/PJ/2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran, Pendataan dan Penelitian Objek dan Subjek PBB dalam Rangka Pembentukan dan/atau Pemeliharaan Basis Data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP)-Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-115/PJ/2000 Prosesnya Pelaksanaan :
1. Wajib Pajak mengajukan permohonan Pendaftaran Objek Pajak Baru melalui petugas TPT.
2. Petugas TPT menerima permohonan Pendaftaran Objek Pajak Baru dan meneliti kelengkapan persyaratannya. Jika berkas permohonan telah lengkap petugas TPT akan mencetak Bukti Penerimaan Surat (BPS) dan Lembar Pengawasan Arus Dokumen
(LPAD). BPS akan diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD akan digabungkan dengan berkas permohonan pendaftaran, kemudian diteruskan kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi. Jika permohonan tidak lengkap, berkas tersebut dikembalikan.
3. Kepala Seksi Ekstensifikasi meneruskan berkas permohonan kepada Pejabat Fungsional Penilai untuk melakukan penelitian kantor, setelah berkas permohonan diterima, melakukan penelitian kantor dan membuat konsep Berita Acara Penelitian Kantor untuk disampaikan kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi untuk di pelajari dan memaraf Berita Acara Penelitian Kantor dan kemudian menyerahkan kepada Kepala Kantor.
4. Kepala Kantor meriview, menetapkan dan menandatangani Berita Acara Penelitian Kantor kemudian menyampaikan kembali kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi untuk dilakukan pemuktahiran data grafis. Selanjutnya meneruskan berkas permohonan kepada Seksi Pusat Data dan Informasi (PDI) untuk melakukan perekaman data SPOP/LSPOP, mencetek Daftar Hasil Rekaman (DHR), melakukan pencocokan antara SPOP/LSPOP dan DHR, dan meng-generate produk keluaran (spooling SPPT, DHKP dan STTS) serta meneruskan berkas permohonan pendaftaran kepada Kepala Seksi Pelayanan untuk dicetak.
5. Kepala Seksi Pelayanan menerima berkas permohonan pendaftaran dan menugaskan Pelaksana Seksi pelayanan untuk mencetak konsep produk hukum untuk di sampaikan kepada Kepala Kantor untuk diteliti dan disetujui. Proses keseluruhan ini dilakukan paling lama 1(satu) hari kerja.
c. Proses Pelaksanaan Penilaian Individu Objek Pajak Bumi dan Bangunan
Dasar hukum : Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-533/PJ/2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran, Pendataan dan Penelitian Objek dan Subjek PBB dalam Rangka Pembentukan dan/atau Pemeliharaan Basis Data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP)-Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-115/PJ/2000
Prosesnya Pelaksanaan :
1. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menugaskan dan member disposisi kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk membuat konsep Surat Tugas Penilaian Individu Objek Pajak Bumi dan Bangunan kepda Pejabat Fungsional Penilai sesuai rencana kerja yang telah disetujui oleh Kepala Kantor Wilayah.
2. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan memerintahkan Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk menyusun konsep Surat Tugas Penilai Individu Objek PBB untuk diteliti dan memaraf konsep tersebut dan menyerahkan kepada Kepala Kantor.
3. Kepala Kantor menyetujui dan menandatangani surat tersebut dan mengembalikan kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi untuk diserahkan kepada Pejabat Fungsional Penilai untuk melakukan penilaian individu objek PBB.
4. Pejabat Fungsional Penilai menerima surat dan menyampaikan Formulir SPOP dan LSPOP kepada Wajib Pajak untuk diisi dan dilengkapi dengan data pendukung yang dibutuhkan Pejabat Fungsional Penilai. Jika tidak diperoleh dokumen legalitas luas tanah dan atau bangunan dari Wajib Pajak maka Pejabat Fungsional Penilai
melakukan pengukuran bidang tanah dan atau bangunan, namun jika dokumen legalitass lengkap maka dilakukan identifikasi fisik objek pajak secara mendetail 5. Pejabat Fungsional Penilai melakukan penghitungan nilai tanah dan atau bangunan
dengan metode penilaian yang ada dan membuat konsep Laporan Penilaian Individu untuk diserahkan kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi untuk diteliti dan memaraf dan disampaikan kepada Kepala Kantor untuk ditandatangani dan diarsipkan Laporan Penilaian Individu oleh Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan. Proses ini dilaksanakan paling lama 1 (satu) bulan.
d. Prosedur Pemeliharaan Data Objek da Subjek PBB
Dasar hukum : Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-533/PJ/2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran, Pendataan dan Penelitian Objek dan Subjek PBB dalam Rangka Pembentukan dan/atau Pemeliharaan Basis Data Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP)-Keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-115/PJ/2000
Prosesnya Pelaksanaan :
1. Kepala Kantor menugaskan dan member disposisi kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk membuat konsep surat tugas pemeliharaan data objek dan subjek PBB sesuai rencana kerja yang telah di setujuia oleh Kepala Kantor wilayah.
2. Kepala Seksi Ekstensifikasi menugaskan Pelaksana Seksi Ekstensifikasi untuk menyusun konsep surat tugas pemeliharaan data objek dan subjek PBB untuk diserahkan kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi untuk diteliti dan diparaf dan
menyerahkannya kepada Kepala Kantor untuk disetujui dan ditandatangani serta mengembalikan kepada Kepala Seksi Ekstensifikassi.
3. Kepala Seksi Ekstensifikasi menyerahkan surat tugas tersebut kepada Pejabat Fungsional Penilai untuk melakukan pemeliharaan subjek dan objek PBB dengan menyampaikan SPOP dan LSPOP kepada Wajib Pajak untuk diisi secara jelas, benar dan lengkap
4. Pejabat Fungsional Penilai meneliti, mencantumkan Zona Nilai Tanah (ZNT), menandatangani, menjilid, dan melakukan pemuktahiran peta garis (konsep peta kelurahan/desa dan peta blok) kemudian membuat konsep Berita Acara Penyerahan Hasil Kegiatan Pemeliharaan Data dan meneruskannya kepada Kepalaa Seksi Ekstensifikasi beserta berkas hasil pemeliharaan data untuk diteliti dan diparaf kemudian menyeraahkan kepada Kepala Kantor untuk disetujui dan ditandatangani dan mengembalikannya kepada Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi untuk dilakukan proses pemeliharaan data
5. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi menerima berkas pemeliharaan dan menugaskan Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi untuk member nomor bundel pada SPOP dan LSPOP serta melakukan proses pemuktahiran basis data dan penatausahaan berkas selanjutnya. Akan dilakukan perekaman SPOP/LSPOP, mencetak DHR, melakukan pencocokan antara SPOP/LSPOP dan DHR, updating peta digital dan men-generate produk keluaran (spooling SPPT, DHKP dan STTS) serta meneruskan berkas pemeliharaan data kepada Kepala Seksi Pelayanan sebagai bahan cetak missal SPPT dan cetak peta kelurahan serta blok.
C. Kefektifan Sosialisasi Modernisasi Administrasi Perpajakan Terhadap Penerimaan PBB pada KPP Pratama Medan Kota
Pengukuran efisiensi dan efektifitas administrasi perpajakan yang lebih akurat adalah berapa besarnya jurang kepatuhan (tax gap), yaitu selisih antara penerimaan yang sesungguhnya dengan pajak potensial dengan tingkat kepatuhan dari masing-masing sektor perpajakan. Kepatuhan Wajib Pajak dapat diidentifikasi dari kepatuhan Wajib Pajak dalam mendaftarkan diri, kepatuhan untuk mengembalikan Surat Pemberitahuan (SPT), kepatuhan dalam penghitungan dan pembayaran pajak terutang, dan kepatuhan dalam pembayaran tunggakan. Pada hakekatnya kondisi sistem administrasi perpajakan berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak, langkah-langkah perbaikan administrasi diharapkan dapat mendorong kepatuhan Wajib Pajak, karena kepatuhan Wajib Pajak dimungkinkan menjadi salah satu variabel yang berperan besar dalam menentukan penerimaan PBB (Marcus Taufan Sofyan,
Pengaruh Penerapan Sistem Administrasi Perpajakan Modern Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Pada
Kantor Pelayanan Pajak Di Lingkungan Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar, 2005:52).
Dilihat dari gencarnya sosialisasi modernisasi administrasi perpajakan yang dilakukan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak khususnya KPP Pratama Medan Kota dapat dikatakan bahwa kegiatan sosialisasi modernisasi administrasi perpajakan efektif dalam penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. Kefektivitasan ini dapat secara nyata dilihat dari besarnya animo Wajib Pajak PBB untuk mencari informasi ke Kantor Pelayanan Pajak tentang sistem administrasi secara online yang menurut Wajib Pajak memudahkan Wajib Pajak dalam hal administrasi pendaftaran diri sebagai Wajib Pajak PBB, pendaftaran objek pajaknya serta
pembayaran utang pajak bumi dan bangunannya. Selain meningkatnya Wajib Pajak yang mendatangi KPP Pratama Medan Kota untuk mencari informasi tentang modernisasi administrasi perpajakan dalam lingkup PBB, kefektifitasan sosialisasi ini juga dapat dilihat dari penerimaan PBB yang terus meningkat setiap tahun setelah adanya modernisasi perpajakan.
Kutipan dari pernyataan Marcus Taufan Sofyan diatas dapat juga dipakai sebagai acuan melihat keefektivitasan sosialisasi modernisasi administrasi perpajakan terhadap penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan di Kantor Pelayanan Pajak Medan Kota. Melalui sosialisasi ini terlihat jelas animo kepatuhan Wajib Pajak dalam mendaftarkan diri, kepatuhan untuk melaporkan objek pajaknya yang tertuang dalam Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) , kepatuhan dalam penghitungan dan pembayaran pajak terutang, dan kepatuhan dalam pembayaran tunggakan yang telah tertuang dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT). Peningkatan jumlah Wajib Pajak dalam pelaksanaan kepatuhan ini setelah dilakukannya sosialisasi sangat jelas menjadi tolak ukur efektifnya kegiatan sosialisasi. Jumlah penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dan jumlah wajib pajak yang telah mengirimkan kembali Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) ke KPP Pratama Medan Kota menjadi acuan pihak KPP Pratama Medan Kota melihat keefektifan dari kegiatan sosialisasi modernisasi administrasi perpajakan terhadap penerimaan PBB.
Diagram 1
Diagram penerimaan PBB pada KPP Pratama Medan Kota
Sumber :
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Kota, 2010
Diagram 2
Diagram jumlah Wajib Pajak yang mengembalikan SPPT 0,00 5.000.000.000,00 10.000.000.000,00 15.000.000.000,00 20.000.000.000,00 25.000.000.000,00 2007 2008 2009
jumlah penerimaan PBB
jumlah penerimaan PBBSumber : Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Kota, 2010 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 90000 2007 2008 2009
jumlah Wajib Pajak
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Dari uraian bab demi bab dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Fiskus menggunakan metode sosialisasi internal dan eksternal untuk memperkenalkan sistem administrasi perpajakan yang modern kepada masyarakat luas khususnya Wajib Pajak yang terdaftar. Media massa baik media cetak dan media elektronik merupakan bentuk realisasi dari kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh fiskus. Hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan sosialisasi modernisasi administrasi perpajakan tidak menjadi penghambat yang besar untuk menarik
b. Wajib Pajak untuk memenuhi kewajibannya melunasi utang Pajak Bumi daan Bangunanya. Wajib Pajak memiliki tanggapan yang baik terhadap penerapan sistem administrasi perpajakan modern. Sistem administrasi perpajakan modern mempunyai pengaruh besar terhadap kepatuhan Wajib Pajak dalam pendaftaran objek PBB dan pelunasan utang Pajak Bumi dan Bangunanya. Sistem administrasi yang lebih modern memudahkan Wajib Pajak untuk mendaftarkan dirinya karena dianggap lebih efisien dan efektif dalam pengerjaannya karena pengembangan Sistem Informasi Perpajakan (SIP) dengan pendekatan fungsi menjadi Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) yang dikendalikan oleh case management system dalam workflow
system memudahkan kegiatan administrasi pelayanan, pengawasan pembayaran dan pelaporan Wajib Pajak Penunjukkan Account Representative yang merupakan
kegiatan utama program pengembangan Pelayanan Prima dimana dalam pelaksanaannya mendapatkan tanggapan positif baik dari Pegawai Pajak maupun Wajib Pajak.
c. Perkembangan Informasi Teknologi (IT) dilingkungan Direktorat Jenderal Pajak terutama di KPP Pratama Medan Kota merupakan hal yang menarik perhatian Wajib Pajak dalam pemenuhan keingintahuan dan kepatuhannya/kewajibannya sebagai Wajib Pajak yang direalisasikan dalam pengunduhan SPOP dan LSPOP secara online serta pengembalian formulir tersebut kepada KPP Pratama Medan Kota serta peningkatan penerimaan PBB dinilai efektif dalam pelaksanaan sosialisasi administrasi perpajakan modern.
B. SARAN
a. Tetap rutin melaksanakan sosialisasi administrasi perpajakan modern melalui seminar dan kampanye sadar pajak produk modernisasi terbaru yang keluar dari pemerintah karena masih banyak masyarakat yang sangat berpotensi sebagai Wajib Pajak tetapi tidak mau mendaftarkan dirinya Wajib Pajak yang kurang memberi perhatian ketika sosialisasi dilaksanakan agar tetap di-follow up agar mengerti tentang hak dan kewajibannya.
b. Sebagai sistem dan sarana, penerapan sistem administrasi perpajakan modern sangat tergantung pelaksanaanya, terutama bidang perpajakan yang sangat rentan akan fraud serta Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Semangat perubahan dalam penerapan sistem administrasi perpajakan modern sebagai wujud reformasi administrasi
perpajakan hendaknya dapat meningkatkan integritas dan moral Pegawai Pajak dan dapat mendorong komitmen Wajib Pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap administrasi perpajakan di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Gunadi, 2006, Reformasi Administrasi Perpajakan dalam rangka kontribusi menuju good governance, Pidato Pengukuhan Guru Besar Perpajakan FISIP UI, Jakarta. Keban, Yeremias T. PhD, 2004, Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik, Konsep, Teori
dan Isu,Penerbit Gava Media, Yogyakarta.
Pandiangan, Liberti, 2008, Modernisasi dan Reformasi Pelayanan Perpajakan Berdasarkan UU Terbaru, Elex Media Komputindo, Jakarta.
---,2004 Pelayanan, Wa,jah Kantor Pajak. Bisnis Indonesia, Jakarta.
Nasucha, Chaizi, Dr, 2004, Reformasi Administrasi Publik: Teori dan Praktik, Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Peraturan Jenderal Pajak No.PER-34/PJ./2008 Peraturan Jenderal Pajak No.PER-59/PJ./2009 Peraturan Jenderal Pajak No.PER-116/PJ./2007 Peraturan Menteri Keuangan No.167/PMK.03/2007 Undang-Undang No. 12 Tahun 1985
Modernisasi Administrasi Perpajakan dalam
Wajah baru pelayanan prima Direktorat Jenderal Pajak dalam .