4.2.6.1. Hubungan Kegiatan Bisnis Supply Chain
Hubungan kerjasama antara produsen, pedagang pengumpul, distributor, pedagang grosir serta retailer merupakan satu hal yang akan dianalisis dalam penelitian ini. Ada hubungan yang harus dibina selain hubungan profesi untuk tetap menjaga hubungan baik, maka pedagang pengumpul tidak segan-segan untuk memberikan bantuan kepada petani ketika mereka sedang membutuhkan, misalnya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga petani. Begitu pula dengan para distributor, mereka juga tidak segan-segan akan memberikan bantuan kepada para pedagang pengumpul apabila sedang membutuhkan, tambahan transportasi misalnya.
Dari hasil wawancara diketahui bahwa pedagang pengumpul mengetahui dengan pasti karakteristik petani yang sangat sensitif, sehingga memang untuk
menjalin hubungan yang baik dengan petani seperti ini harus dilakukan dengan perlakuan khusus, misalnya dengan memberikan tambahan uang untuk membayar uang sekolah anak atau membantu membeli sembako bagi keluarga tersebut.
Hubungan yang dijalin seperti ini bagi mereka cukup memuaskan kedua pihak, karena dipandang saling menguntungkan. Hal ini juga yang menjadikan saling ketergantungan antara kedua belah pihak. Ketergantungan yang dimaksud adalah kekuatan utama dalam pengembangan solidaritas rantai pasok. Hubungan saling ketergantungan ini adalah apa yang dimotivasi keinginan untuk menegosiasikan transfer fungsional, berbagai informasi kunci, dan berpartisipasi dalam perencanaan operasional bersama.
4.2.6.2 Pola Distribusi
a. Distribusi Produk
Pola distribusi yang dibangun oleh anggota supply chain memiliki pola yang berbeda, pola tersebut dibangun berdasarkan kemudahan aplikasi di lapangan. Pola distribusi ini dibedakan oleh jenis bawang merah, yaitu bawang merah Medan dan Brebes serta bawang merah impor. Sedangkan untuk pola distribusi bawang merah di Kota Medan berdasarkan jenis bawang merah dan daerah produksi dapat dibedakan menjadi 4 alur distribusi (Lihat Gambar 8, 9, 10 dan 11).
b. Distribusi Harga
Dalam sebuah sistem perdagangan, pada umumnya distribusi harga akan mengalami beberapa peningkatan di tiap level. Hal ini juga terjadi di supply chain
bawang merah di Kota Medan. Beberapa tingkatan harga pada jenis bawang merah diidentifikasi dan didapatkan perbedaan seperti pada Tabel 18.
Tabel 18. Perbedaan Harga pada Jenis Bawang Merah di Kota Medan pada Bulan Maret – April 2017
Anggota Supply Chain Harga Jual Bawang Merah (Rp/kg) Medan Brebes Impor
(Illegal) Impor (Legal) Petani 12.000 15.000 - - Pedagang Pengumpul 20.000 21.000 - - Distributor 21.000 22.500 7.000 12.000 Pedagang Grosir 22.500 23.500 8.000 13.000 Retailer 26.000 27.500 9.000 15.000
Sumber: Wawancara dengan stakeholder
Perbedaan harga pada bawang merah lokal jenis bawang merah Medan dimana harga jual petani adalah Rp 12.000/kg dan jenis bawang merah Brebes harga jualnya adalah Rp 15.000/kg. Untuk harga jual tingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 20.000/kg untuk bawang Medan dan Rp 21.000/kg untuk bawang Brebes. Di tingkat distributor, harga jual bawang merah Medan sebesar Rp 21.000/kg dan bawang merah Brebes sebesar Rp 22.500/kg. Pada tingkat pedagang grosir, harga bawang merah Medan sebesar Rp 22.500/kg dan bawang merah Brebes Rp 23.500/kg. Di tingkat retailer, bawang merah Medan dijual sebesar Rp 26.000/kg dan bawang merah Brebes dijual sebesar Rp 27.500/kg.
Berbeda dengan bawang merah impor. Harga bawang merah impor jauh lebih murah daripada bawang merah lokal. Di tingkat distributor, bawang merah impor illegal bisa dijual dengan hanya Rp 7.000/kg. Dan bawang merah impor
legal bisa dijual dengan harga Rp 12.000/kg. Di tingkat pedagang grosir, bawang merah impor illegal dijual dengan harga Rp 8.000/kg dan bawang merah impor
legal dijual dengan harga Rp 13.000/kg. Dan di tingkat retailer, bawang merah impor illegal dijual sebesar Rp 9.000/kg dan bawang merah impor legal dijual
sebesar Rp Rp 15.000/kg
Dengan margin yang cukup tinggi bagi tingkat petani, maka diharapkan pemerintah dapat mengendalikan dan menentukan harga dasar bagi petani agar tidak dirugikan, dan menentukan harga atap di tingkat pedagang. Akan tetapi, keuntugan yang terlihat besar tersebut belum tentu dapat digunakan dalam memuaskan peran mana yang memiliki margin paling besar. Sebab untuk mengetahui margin bersih, harga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dalam jangka waktu relatif lama.
4.2.6.3. Pendukung Anggota Supply Chain
a. Pelatihan
Pelatihan yang diadakan oleh pemerintah selama ini mengenai cara berbudidaya yang baik dan benar, menyusun dan membuat buku panduan SOP bawang merah di Kota Medan khususnya di Kecamatan Medan Marelan. Hingga pendanaan bagi petani bawang merah yang mau berusaha untuk menjadikan kota Medan khususnya kecamatan Medan Marelan adalah sebagai sentra produksi bawang merah.
b. Distribusi informasi pasar
Informasi tentang pasar sangat diperlukan dalam suatu supply chain. Bagi distributor informasi ini sangat penting, karena untuk menentukan harga jual bagi pedagang dan konsumen lainnya.
Informasi pasar seharusnya dapat diteruskan pada level petani, namun sayangnya hal tersebut tidak dilakukan, atau tidak adanya upaya untuk melakukan distribusi informasi pasar karena hal ini dianggap tidak perlu. Apabila sebuah
tentang pasar dapat terdistribusikan secara merata. 4.2.6.4 Perencanaan Kolaboratif
Perencanaan kolaboratif adalah kesatuan kerjasama dan penyelarasan informasi antara satu anggota supply chain dengan anggota lainnya dalam melakukan perencanaan produksi. Salah satu wadah yang memiliki kesaruan visi dan aktivitas kerjasama adalah Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI). ABMI ini merupakan asosiasi yang terdiri dari kelompok-kelompok tani maupun pedagang bawang merah di suatu wilayah. Asosiasi melakukan perencanaan kolaboratif dengan kelompok taninya. Perencanaan kolaboratif tidak dicatat dalam kontrak tertulis namun hanya merupakan komitmen bersama bahwa petani dan pedagang pengumpul berusaha untuk memenuhi permintaan para distributor untuk sesuai dengan perjanjian agar kebutuhan konsumen terpenuhi. Sayangnya, ABMI di Kota Medan belum berjalan dengan baik. Sehinggga masih banyak informasi kurang tersampaikan ke anggota supply chain.
4.2.6.5 Penelitian Kolaboratif
Peranan pemerintah selain memberikan pelatihan kepada petani, pemerintah juga mendukung para petani bawang merah dengan melakukan penelitian-penelitian untuk meningkatkan produktivitas dan pengendalian hama. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga melakukan penelitian untuk menghasilkan teknologi tepat guna, yang dapat dimanfaatkan petani secara baik. Teknologi yang dimanfaatkan oleh petani saat ini adalah penggunaan agen hayati (Trichoderma sp.) untuk mengendalikan penyakit layu. Untuk saat ini dari dinas pertanian dan BPPT menyarankan untuk menggunakan mulsa karena dapat menghambat tumbuhnya gulma dan mengurangi serangan hama dan penyakit.
4.2.6.6. Aspek Resiko
Dalam supply chain bawang merah dihadapkan pada resiko, baik resiko internal maupun resiko eksternal. Resiko internal dibedakan atas resiko operasional dan resiko kerjasama. Sedangkan resiko eksternal dibedakan atas resiko lingkungan dan kebijakan serta resiko pasar.
Resiko operasional merupakan resiko yang dihadapi dalam proses produksi seperti serangan organisme tanaman pengganggu (OPT), benih yang kurang baik ataupun cuaca ekstrim. Resiko inilah yang paling sering dialami oleh petani karena usahatani bawang merah sangat rentan dengan iklim dan serangan OPT. Sedangkan kerjasama yang dibangun oleh sesame anggota rantai pasok tidak hanya memberikan dampak positif tapi juga kerjasama tidak luput dari resiko-resiko. Sifat resiko dalam hubungan kerjasama meliputi pemilihan pemasok dan perencaan.
Dalam supply chain bawang merah, resiko akibat faktor eksternal adalah ketidakpastian. Kenaikan harga BBM menyebabkan biaya transportasi meningkat, kenaikan biaya transportasi menyebabkan kenaikan harga saprodi. Dengan demikian, resiko biaya transportasi ini merupakan resiko yang tidak dapat dikendalikan. Resiko eksternal lain seperti kebijakan lalu lintas perdagangan barang juga turut mempengaruhi kelancaran perdagangan bawang merah.
Sedangkan resiko pasar berkaitan dengan tingkat permintaan bawang merah yang fluktuatif merupaan faktor yang sulit untuk diprediksi. Akibat penanganan pascapanen yang kurang baik sehingga banyak bawang merah yang masih basah sehingga pembusukan bawang merah lebih cepat. Kondisi bawang merah yang tidak baik biasanya tidak akan diterima oleh distributor. Melalu
perencanaan yang matang disertai dengan arus informasi yang baik dari arah konsumen diharapkan dapat mengetahui apa yang diinginkan pasar dan juga penanganan pascapanen yang baik.
4.2.6.7. Proses Trust Building
Proses trust building merupakan proses untuk menumbuhkembangkan saling kepercayaan antara anggota supply chain. Hubungan kepercayaan yang lemah dapat menyebabkan keengganan untuk menjalin kerjasama sehingga transfer informasi menjadi terhambat. Adanya aspek ketidakpercayaan menyebabkan salah satu pihak dalam supply chain berusaha untuk mendapatkan keuntungan sendiri.
Proses trust building di dalam supply chain bawang merah di Kota Medan terjalin tanpa adanya kesepakatan kontraktual yang mengikat. Kepercayaan yang terbangun di antara anggota supply chain bawang merah adalah competence trust. Competence trust yaitu kepercayaan dari masing-masing pihak dalam menjalankan kerja sama. Kepercayaan ini terbangun setelah pihak yang bekerjasama tersebut telah mengenal cukup lama terhadap kompetensinya masing- masing. Tingkatan kepercayaan yang paling baik adalah good will trust yaitu kepercayaan yang dilandasi itikad baik dan berusaha memikirkan untuk mencapai kemajuan bersama. Trust seperti ini merupakan level yang tertinggi, dan merupakan daya saing yang sangat baik di dalam supply chain. Untuk menerapkannya, diperlukan niat yang tulus yang dilandaskan dengan moral yang baik. Kepercayaan yang terbangun diantara anggota rantai pasok mampu mendukung kelancaran aktivitas rantai pasok, seperti kelancaran pada transaksi penjualan, distribusi produk, dan distribusi informasi pasar. Untuk membangun
kepercayaan diantara pihak-pihak yang bekerjasama, dapat dilakukan dengan membuat kesepakatan. Apabila kesepakatan tersebut dijalankan dengan sebaik-baiknya, maka kepercayaan dapat meningkat sehingga pihak-pihak yang bekerjasama tersebut dapat fokus menjalankan tanggung jawabnya masing-masing sesuai dengan spesialisasi/perannya. Dengan demikian, trust building yang terbangun di dalam rantai pasok dapat menciptakan rantai pasok yang efisien.