BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISA TERHADAP PERAN BPD
3.4 Proses BPD Desa Suka Dame Dalam Pembentukan Dan
Dalam negara demokrasi pembentukan peraturan perundang-undangan memiliki unsur yang sangat penting dalam pembentukannya. Dalam merumuskan dan menetapkan Peraturan desa, BPD berpedoman pada peraturan daerah kabupaten Karo tentang Pemerintahan Desa. Dimana Perda tersebut dalam pembuatannya berpedoman pada perundang-undangan yang diatasnya yaitu undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan. Fungsi BPD dalam bidang legislasi adalah merumuskan dan menetapkan Peraturan desa bersama-sama dengan pemerintah Desa. Fungsi legislasi ini nampak pelaksanaannya oleh DPD dalam beberapa hal sebagai berikut:
1. Merumuskan peraturan desa bersama-sama dengan pemerintah Desa.
Proses yang dilakukan oleh BPD dan kepala desa di dalam merumuskan peraturan Desa antara lain sebagai berikut:
a. Pemerintah Desa kepala desa dan perangkat desa mengundang anggota BPD untuk menyampaikan maksudnya Membentuk peraturan desa dengan menyampaikan pokok-pokok peraturan desa yang diajukan.
b. BPD terlebih dahulu mengajukan rancangan peraturan Desa demikian halnya dengan pemerintah Desa yang juga mengajukan rancangan peraturan Desa.
c. BPD memberikan masukan atau usul untuk melengkapi atau menyempurnakan Rancangan peraturan Desa.
d. Ketua BPD menyampaikan usulan tersebut kepada pemerintah Desa untuk diagendakan.
e. BPD mengadakan rapat dalam pemerintah Desa kurang lebih 1 sampai 2 kali untuk memperoleh kesepakatan bersama.
2. Menetapkan Peraturan desa bersama-sama dengan pemerintah Desa
Setelah BPD dan kepala desa mengajukan rancangan peraturan kemudian dibahas bersama-sama di dalam rapat BPD dan setelah mengalami penambahan dan perubahan kemudian Rancangan peraturan desa tersebut disahkan dan disetujui serta ditetapkan sebagai peraturan Desa.
Dalam menetapkan Peraturan Desa, antara BPD dan kepala desa sama-sama memiliki peran yang sangat penting antara lain sebagai berikut:
a. BPD menyetujui dikeluarkannya peraturan Desa;
b. Kepala desa menandatangani peraturan desa tersebut;
c. BPD membuat berita acara tentang peraturan desa yang baru ditetapkan dan d. Mensosialisasikan peraturan desa yang telah disetujui pada masyarakat melalui ketua Rukun Tetangga RT untuk diketahui dan dipatuhi serta ditentukan pula tanggal mulai pelaksanaannya.
Namun dalam proses pembentukan Peraturan Desa setiap anggota BPD Suka Dame perlu mengetahui persoalan yang terjadi dalam masyarakat yang mana peraturan dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini cara anggota BPD dalam menggali, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat ke dalam peraturan desa yang dibentuk sesuai pasal 20 peraturan daerah Kabupaten Karo. setiap anggota BPD Suka Dame seyogyanya melakukan dengan cara:
a. Melakukan kunjungan ke masyarakat
b. Menampung aspirasi dari masyarakat dengan cara tetap muka baik secara perorangan maupun bersama-sama.
c.Menerima usulan baik secara lisan maupun tertulis selamaa usulan tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau secara adat istiadat.
d. Aspirasi masyarakat yang telah terkumpul perlu dimusyawarahkan oleh anggota untuk menjadi masukan dalam pembangunan masyarakat desa.
Namun dalam pelaksanaan di lapangan yang penyusun teliti dari wawancara dengan anggota DPD di desa Suka Dame bahwasannyaa ketua Badan Permusyawaratan Desa atau BPD yang menjalankan perannya yaitu melakukan kunjungan kepada masyarakat untuk menampung aspirasi itu pun hanya dengan tetap muka. Jadi dapat disimpulkan bahwa penampungan aspirasi masyarakat tidak matang sehingga penyaluran sifat-sifat yang akan dituangkan dalam peraturan Desa tidak sepenuhnya menjadi representasi kebutuhan masyarakat menyeluruh. Sedangkan di dalam peraturan daerah Kabupaten Karo, permusyawaratan desa BPD memiliki wewenang menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat.
Di dalam pemerintah Desa, BPD berkedudukan sejajar dan menjadi mitra kerja pemerintah Desa. Pengertian sejajar di sini adalah bahwa kedudukan BPD tidak lebih rendah dan tidak lebih tinggi dan bukan merupakan bagian Pemerintah desa. Dari hasil penelitian yang penyusun lakukan dalam fungsi badan permusyawaratan desa atau BPD di desa Suka Dame, dari data atau hasil wawancara di atas bahwa, fungsi BPD belum positif dengan jabatan yang
diduduki atau pemberi solusi yang dapat dijalankan suatu kebijakan oleh badan permusyawaratan desa (BPD). Dengan demikian yang disampaikan oleh informan memang jelas untuk saat ini bahwa fungsi BPD juga, selain kedudukan atau jabatan dengan kapasitas bisa menjadi faktor pendorong suatu keuntungan untuk kelancarannya
Seperti yang penyusun teliti di desa Suka Dame dalam melaksanakan perannya dalam fungsi legislasi bahwa, dalam pembentukan peraturan Desa tentang anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) dan rancangan pembangunan jangka menengah desa (RJMDes) merupakan bagian dalam tugas pelaksana Pemerintah desa dalam hal ini Kepala Desa dan anggota Badan Permusyawaratan Desa atau BPD dalam menyelenggarakan pembangunan desa.
Dari hasil wawancara yang penyusun lakukan dengan bapak Marlen Sitepu selaku kepala desa Suka Dame mengatakan bahwa berkaitan dengan BPD sebagai mitra kerja Pemerintah desa adalah dalam melaksanakan tugasnya, BPD dan Pemerintah Desa wajib saling menghormati, bantu-membantu, saling mengisi guna tercapainya penyelenggaraan pemerintah desa yang efisien, efektif serta tercapainya kemakmuran desa, walaupun sampai saat ini tidak ada peraturan desa yang dibuat selain anggaran pendapatan dan belanja daerah atau APBD serta rencana pembangunan jangka menengah desa atau RPJMDes.
Namun dari hasil wawancara tersebut penulis melihat kesadaran dan wawasan Pejabat Desa dalam pelaksanaan tugas Pemerintahan Desa. Dalam pelaksanaan setahun jabatan Kepala Desa, Kepala Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) harus mengimplementasikan perannya sebagai Badan Legislasi Desa. Sehubungan dengan peraturan desa yang telah dibuat
bahwa optimalnya peran BPD sebagai fungsi kontrol kinerja kepala desa dan legislasi belum memberikan kinerja yang baik. Pasalnya hanya ada dua peraturan desa yang menjadi acuan kepala desa dalam melaksanakan penyelenggara pemerintahan pada dasarnya seperti yang dijelaskan dalam pasal 123 peraturan daerah Kabupaten Karo nomor 2 tahun 2011 tentang pemerintah Desa bahwa pemerintahan desa yang dipimpin oleh Kepala Desa yang melaksanakan tugas dan kewajibannya bertanggung jawab kepada Bupati melalui Camat dan menyampaikan keterangan pertanggungjawaban kepada BPD serta menginformasikan kepada masyarakat.
Sesuai peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 66 tahun 2007 tentang perencanaan pembangunan Desa Permendagri Nomor 66 tahun 2007 telah ditetapkan prosedur standar dan mekanisme perencanaan pembangunan desa serta materi muatan yang menjadi acuan dalam program pembangunan desa yang disusun dalam periode 5 tahun yang merupakan rencana pembangunan jangka menengah desa atau RPJM desa yang membuat arah kebijakan keuangan Desa ,strategi pembangunan desa, dan program kerja Desa pasal 2 yang ditetapkan dengan peraturan Desa pasal 4 ayat 1 dan penyusunannya dilakukan dalam forum musyawarah perencanaan pembangunan desa atau musrembang Desa sesuai pasal 8 ayat 2 pasal 1 ayat 10 yang terdiri dari pasal 8 ayat 3:
a. Lembaga pemberdayaan masyarakat desa atau LPM Desa membantu Pemerintah desa dalam menyusun RPJM desa dan rkp desa;
b. Tokoh masyarakat dan tokoh agama sebagai narasumber;
c. Rukun Warga, Rukun Tetangga, Kepala Dusun, Kepala Kampung dan lain-lain sebagai anggota; dan
d. warga masyarakat sebagai anggota.
Penulis melihat terdapat kejanggalan dalam pelaksanaan pemerintahan desa oleh Kepala Desa juga peran Badan Permusyawaratan Desa atau BPD desa Suka Dame yang kurang optimal dalam menjalankan fungsinya yaitu tidak membuat keputusan pertanggungjawaban Kepala Desa rencana kerja pembangunan atau RKP Desa, dengan demikian fungsi badan permusyawaratan desa atau BPD di desa Suka Dame dalam pembentukan Perdes bersama pemerintah Desa tidak mengacu pada peraturan perundang-undangan dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa.
Menurut Bapak Jani selaku ketua BPD desa Suka Dame menyatakan bahwa BPD selalu bersama-sama dengan pemerintah Desa dalam membuat dan menetapkan Peraturan Desa. Walaupun tidak dapat dipungkiri hasil penelitian yang penyusun lakukan bahwa dalam tahap pembentukan Peraturan Desa juga belum terlalu baik dalam pelaksanaan yang tidak terlepas dari peran badan permusyawaratan desa sebagai mitra kepala desa. Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa hal ini memiliki kendala-kendala yang dialami Badan Permusyawaratan desa atau BPD di desa Suka Dame dalam prosesnya.
3.5 Kendala-Kendala yang Terjadi Dalam Proses Pembuatan dan Penetapan Peraturan Desa (PERDES)
Dalam kurun waktu kurang lebih 2 tahun BPD desa Suka Dame sudah dua kali mengajukan rancangan peraturan desa yang pada akhirnya rancangan peraturan desa tersebut dijadikan peraturan desa yang terlebih dahulu ditetapkan BPD bersama-sama dengan Pemerintah Desa, dalam hal ini adalah Kepala Desa.
Salah satu Rancangan peraturan desa yang pada akhirnya menjadi peraturan desa
adalah Rancangan peraturan Desa mengenai alasan ABPD Desa Suka Dame.
Pemerintah Desa mengajukan rancangan Peraturan Desa mengenai anggaran dikarenakan untuk kelancaran jalannya pemerintahan desa dan pembangunan desa serta dijadikan pedoman dalam mengatur pemasukan dan pengeluaran keuangan desa. Hasil kerja BPD dalam pelaksanaan fungsi legislasi adalah beberapa peraturan desa yang telah ditetapkan desa Suka Dame tahun 2018. Ada dua (2) Peraturan Desa ditetapkan yaitu Anggaran Pendapatan Belanja Desa, dan Pembangunan Jangka Menengah Desa atau RJMDes.
Proses pembuatan Peraturan Desa mulai dari merumuskan peraturan Desa sampai pada menetapkan Peraturan desa yang dilakukan bersama-sama dengan pemerintah Desa, tidak ada kendala atau hambatan yang dihadapi. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Marlen Sitepu selaku ketua Kepala Desa Suka Dame dan Bapak Jani selaku sebagai ketua BPD desa Suka Dame dalam proses pembuatan Peraturan Desa yang kami lakukan bersama-sama dengan Pemerintah Desa.
Walaupun ada sedikit hambatan baik dari dalam yaitu persoalan intelektual anggota DPD yang lain dalam membentuk Perda serta memahami perannya sebagai anggota BPD mengenai perbedaan pendapat dalam menetapkan Peraturan desa tersebut itu sudah hal yang biasa.
Dalam penelitian ini penulis meninjau dari empat variabel yang menjadi kendala badan permusyawaratan desa Sukadame dalam mengimplementasikan fungsinya. 4 variabel tersebut adalah komunikasi, sumberdaya, disposisi dan struktur birokrasi.
1. Komunikasi
Menurut ketua BPD desa Sukadame Bapak Jani menyatakan bahwa kami dalam internal BPD sendiri sudah dikomunikasikan antara satu dengan yang lainnya mengenai pembentukan peraturan desa untuk lebih jauhnya belum dilaksanakan dengan baik, demikian halnya BPD dengan pemerintah Desa untuk pertemuan yang lebih intens membicarakan terkait dengan pembentukan peraturan Desa juga komunikasi yang terbangun belum terlalu baik.
2. Sumber Daya
Dalam penyelenggaraan pemerintahan desa ada 2 sumber daya yang perlu diperhatikan yaitu:
a. Finansial yang merupakan faktor pendukung dalam menjalankan program atau suksesnya program yang telah diprogramkan dalam pasal 14 peraturan daerah bahwa satu untuk kegiatan BPD disediakan biaya operasional sesuai kemampuan keuangan desa yang dikelola oleh sekretaris BPD kedua biaya sebagai media maksud pada ayat 1 ditetapkan setiap tahun dalam APBD Desa.
b. Sumber daya manusia yang merupakan faktor pendukung dalam merancang program yang akan dilaksanakan yaitu kecukupan baik kualitas maupun kuantitas implementor.
Menurut wakil ketua BPD bapak itu ada juga menyatakan bahwa Jujur saja untuk anggaran belum memadai bahkan belum terlalu Intens dalam membicarakan Bagaimana sesuai dengan porsi anggarannya untuk pembentukan peraturan Desa sedangkan terkait dengan sumber daya manusia yang ada di PBB sendiri sangat kurang dalam kualitas maupun kapasitas sebagai legislator.
Dari hasil wawancara tersebut maka penulis mengetahui bahwa dalam hal peran BPD sebagai penampung dan penyalur aspirasi masyarakat belum mencapai kesedaran yang maksimal, dari kapasitas dan kemampuan BPD dalam memahami fungsi mereka dan kapasitasnya sebagai tangan aspirasi masyarakat desa.
Terlebih lagi dengan faktor anggaran yang menjadi kendala anggota BPD enggan melaksanakan tugas dan perannya dalam asumsi mereka yang tidak rapat atau musyawarah harus menghasilkan pundi-pundi rupiah, seperti yang dinyatakan dan salah satu anggota BPD Suka Dame yaitu menyatakan bahwa bagaimana rapat dan pembentukan Peraturan Desa mau berjalan efektif, anggaran konsumsi rapat juga tidak ada sedangkan kita mengadakan rapat menyia-nyiakan waktu kerja kami yang seharusnya kami pulang kerumah membawa hasil untuk keluarga.
3. Disposisi
Disposisi juga merupakan salah satu kendala dalam anggota BPD Suka Dame dalam pembentukan Peraturan Desa yaitu komitmen yang rendah dalam BPD itu sendiri sehingga tidak bisa bertahan lama dalam menjalankan program-program ketika ada hambatan yang ditemui.
Program atau kepentingan desa misalnya membicarakan porsi porsi anggaran lebih intens, aspirasi masyarakat dan termasuk merumuskan peraturan desa lainnya. Hal senada yang disampaikan oleh anggota BPD Suka Dame yaitu Ibu Ratnawati menyampaikan bahwa BPD selalu duduk dan membicarakan segala program atau kepentingan desa, bahkan sudah pada tingkatan pembicara terkait dengan pembentukan peraturan desa. Untuk sejauh ini belum dilaksanakan dengan baik dan komprehensif. Dalam persoalan ini penulis melihat faktor kendala yang memungkinkan terjadinya yaitu kurangnya komitmen dan tanggung jawab yang
membuat anggota BPD inkonsisten dalam melaksanakan proses pembentukan Peraturan Desa maupun menjalankan fungsi lainnya.
4. Struktur Birokrasi
Struktur birokrasi juga menjadi salah satu yang menjadi kendala BPD Suka Dame dalam implementasi kebijakan yaitu proses mekanisme nya tidak ada yang dicantumkan dalam kerangka kerja program BPD. Hal ini juga terjadi karena tingkat pemahaman dan wawasan BPD yang masih minim sehingga semua tidak tersusun secara sistematis, pada hal ini merupakan acuan setiap anggota BPD dalam melaksanakan program-program BPD. Sedangkan terkait dengan struktur pelaksana dan tidak memberikan jaminan atas terlaksananya program dalam hal ini peran BPD dalam pembentukan Peraturan Desa, baik dalam merumuskan dalam Rancangan Peraturan Desa serta lemahnya sumber daya manusia aparatur pemerintahan desa yang menguasai peraturan perundang-undangan dan teknik legal drafting. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu anggota BPD Sukadame Bapak Sima Tarigan selaku sekretaris menyatakan kalau untuk mekanisme dan struktur terlaksana dalam menjalankan fungsi kami sebagai BPD tidak mempunyai suatu panduan dalam kerangka kerja, sedangkan untuk pembentukan peraturan Desa mengukur dari pemahaman dan wawasan setiap anggota dalam internal BPD yang masih rendah atau katakanlah belum terlalu optimal. Inilah kendala kami di BPD. Bukan hanya personal sumber daya manusia yang kurang kompeten, penulis melihat bahwa lembaga atau badan dari penyelenggaraan Pemerintah Desa tidak memiliki acuan dalam menjalankan program maupun teknis kerjanya sehingga Peraturan Desa yang diciptakan oleh Badan Permusyawaratan Desa di Desa Suka Dame tidak mencerminkan
kebutuhan masyarakat dan kurang optimalnya peran BPD dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Berdasarkan Perda Kabupaten Karo bahwa wewenang BPD menyusun tata tertib BPD, faktanya yang penulis dapat dari wawancara tersebut bahwa BPD di Desa Sukadame tidak memiliki acuan dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai mitra Kepala Desa.
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan oleh penyusun maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Peran Badan Permusyawaratan Desa Suka Dame dalam menjalankan fungsinya, Peraturan Desa masih belum dilaksanakan dengan optimal, hal ini terlihat dari hasil penelitian ditemukan kendala seperti kurangnya fasilitas dan sosialisasi, serta pedoman teknis yang seharusnya diberikan oleh pemerintah Kabupaten Karo. Faktor-faktor penghambat yang paling besar dalam pelaksanaan BPD terhadap pemerintahan desa Suka Dame adalah: Tunjangan dari anggota BPD, fasilitas, dan pemahaman tentang tugas dan fungsi BPD dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, serta faktor-faktor lainnya, seperti sikap mental, dan faktor adat atau kekeluargaan yang ada.
2. Upaya yang dilakukan pemerintah Desa untuk mengatasi faktor penghambat tersebut antara lain: Diadakannya pertemuan rutin atau konsolidasi antar perangkat desa dengan BPD serta masyarakat; Kepala Desa mendatangkan staf atau pegawai Kecamatan guna memberi pengetahuan tentang Legal Drafting pemerintah; Pemerintah Desa selalu mensosialisasikan dan menghimbau kepada masyarakat tentang peranan BPD. Perwujudan peranan BPD Desa Suka Dame Kecamatan Tiga Panah dalam mendukung tata penyelenggaraan pemerintah Desa, ialah: Fungsi penyerapan aspirasi oleh BPD sejauh ini di masyarakat mendapatkan ruang untuk menyampaikan masukan dan pendapat kepada pemerintah Desa Sukadame Kecamatan tigapanah melalui BPD: Fungsi legislasi, BPD bersama
pemerintah Desa Sukadame Kecamatan tigapanah menetapkan Peraturan Desa:
Fungsi pengawasan dan kontrol, BPD melakukan fungsi pengawasan terhadap jalannya program pemerintah, fungsi pemerintahan, peraturan desa dan keputusan desa yang telah ditetapkan bersama dengan pemerintah Desa, yang dapat berjalan dengan baik.
Faktor pendukung BPD dalam melaksanakan fungsi dan perannya serta mendukung tata penyelenggaraan pemerintah Desa, yaitu: Kondisi sosial budaya masyarakat yang menjunjung nilai-nilai sosial diantaranya musyawarah mufakat dalam menyelesaikan setiap persoalan sehingga menunjang fungsi BPD dalam melakukan fungsi pengayoman: Partisipasi masyarakat yang cukup tinggi dalam menghasilkan kebijakan pembangunan.
Faktor yang menjadi kendala BPD dalam melaksanakan fungsi dan perannya dan mendukung tata penyelenggaraan pemerintah Desa yaitu: Sumber dana yang belum mencukupi dalam mendukung kinerja BPD secara optimal; Sumber daya manusia pada anggota BPD, belum cukup baik dikarenakan pengaruh organisasi yang basi baru dan latar belakang pendidikan yang masih rendah.
4.2. Saran
Dari hasil skripsi ini penyusun menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
1. Penyusun menyarankan perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah daerah dan diadakannya pelatihan cara menyusun dan merancang peraturan desa bagi pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa, agar bisa menjadi suatu produk hukum tersebut berguna sebagai kebutuhan masyarakat ditinjau baik secara yuridis, politis, maupun sosiologis.
2. Penyusun menyarankan bahwa dalam pembahasan, penyusunan, dan penetapan Peraturan Desa agar aspirasi benar-benar diperhatikan dan partisipasi masyarakat dilibatkan dalam pembahasan, sehingga kelak peraturan desa yang dibuat benar-benar berguna bagi masyarakat desa Suka Dame.
3. Penyusun menyarankan bahwasannya masyarakat perlu ikut serta dalam mengawasi kinerja BPD dan Kepala Desa, mengingat BPD adalah unsur pemerintahan paling bawah yang mendasari untuk penyelenggaraan pemerintahan yang baik sehingga pelayanan pada masyarakat dapat ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA
HAW.Widjaja.2003.Otonomi Desa Merupakan Otonomi Yang Asli,Bulat Dan Utuh.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada
Penjelasan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa,Fokusmedia Bandung
Ali Fauzan,”Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa Terkait Dengan Badan Permusyawaratan Desa Dalam Penyusunan Dan Penetapan Peraturan Desa”,Semarang,Ilmu Hukum Program Pascasarjana UNDIP
Sadu Wasistiono, MS. M.Irawan Tahir, Si., Prospek Pengembangan Desa, (Bandung, CV Fokus Media, 2007)
Muhadam Labolo. Memahami ilmu pemerintahan: suatu kajian,teori,konsep dan pengembangannya. (Jakarta : PT.Raja Grafindo). 2007
Amin Suprihatini. Pemerintahan Desa dan Kelurahan.(Klaten : Cempaka Putih).
2007
Azumardi Azra, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani (Jakarta:Prenada Media, 2005)
Zakaria Bangun, Demokrasi dan Kehidupan Demokrasi di Indonesia, (Medan:
BinaMedia Perintis, 2008)
Munir Fuady, Konsep Negara Demokrasi, (Bandung: Revita aditama, 2010) Ni’matul Huda, Ilmu Negara, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2010) Ndraha, Taliziduhu, “Pembangunan Desa dan Administrasi Pemerintahan Desa”,
Yayasan Karya Dharma, Jakarta, 1985yumardi Azra, Demokrasi, Hak Asasi Manusia