BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Proses Identifikasi
telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Hasil – hasil penelitian tersebut akan diidentifikasi dengan melakukan studi terhadap literatur – literatur terkait dan studi terhadap undang – undang mengenai keselamatan kerja yang digunakan dalam proyek kontruksi di indonesia sebagai dasar atau landasan untuk melakukan identifikasi melalui pengamatan langsung dilapangan (survei) nantinya.
Proses identifikasi ini merupakan salah satu proses yang sangat penting karena keakruatan dalam proses selanjutnya bergantung dari seberapa baik pengidentifikasikan faktor – faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan kerja dalam pelaksanaan pekerjaan kontruksi. Adapun proses pengindentifikasi dilakukan secara mendalam dan hanya dibatasi pada faktor – faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja.
Dan berdasarkan studi dari literatur, kecelakaan kerja yang terjadi didalam proyek kontruksi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
3. Peralatan dan material 4. Area pekerjaan
2.3.1 Faktor Manusia 1. Skill dan pengalaman
Skil menurut defenisinya adalah faktor kompetensi dari pekerja secara umum, berkaitan dengan pengetahuan tentang cara kerja (metode) dan pelaksanaannya serta pengenalan aspek – aspek pekerjaan secara terperinci sampai hal – hal kecil termasuk aspek keselamatan kerja. Skill atau keahlian seorang pekerja, merupakan salah satu hal diperlukan didalam pelaksanaan pekerjaan kontruksi. Skill seseorang akan menentukan tingkat pekerjaan yang dilakukan seseorang pekerja didalam pekerjaan kontruksi.
Pengalaman pekerja dalam melakukan suatu kegiatan pekerjaan kontruksi pada prinsipnya, berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Semakin banyak pengalaman seseorang dalam bekerja pada pekerjaan kontruksi, maka akan semakin efektif hasil pekerjaan yang akan dicapai. Begitu pula dalam hal menjaga keselamatan jiwanya didalam bekerja. Seorang pekerja yang berpengalaman akan selalu melaksanakan pekerjaan sesuai dengan standar prosedur pekerjaan yang aman, dikarenakan oleh banyaknya pengetahuan yang telah dimiliki semenjak bekerja dalam pekerjaan kontruksi.
Dalam pelaksanaan pekerjaan kontruksi, diperlukan sertifikat kahlian yang berkaitan dengan suatu pekerjaan khususnya contohnya seperti operator crane yang memerlukan keahlian tertentu didalam mengoperasikan crane. Selain pekerjaan yang dilaksanakan berjalan dengan baik, sesuai dengan prosedur, maka
hal tersebut sudah merupakan langkah – langkah didalam pencegahan kecelakaan kerja.
Adapun defenisi dari sertifikasi dan sertifikat adalah yaitu : a. Sertifikasi adalah
1) Proses penilaian untuk mendapatkan pengakuan terhadap klasifikasi dan kualifikasi atas kompetensi dan kemampuan usaha di bidang jasa konstruksi yang berbentuk usaha orang perseorangan atau badan usaha atau
2) Proses penilaian kompetensi dan kemampuan profesi keterampilan kerja dan keahlian kerja seseorang dibidang jasa kontruksi menurut disiplin keilmuan dan atau keterampilan tertentu dan atau kefungsian dan atau kehalian tertentu. b. Sertifikat adalah
1) Tanda bukti pengakuan dalam penetapan klasifikasi dan kualifikasi atas kompetensi dan kemampuan usaha dibidang jasa kontruksi baik yang berbentuk orang perseorangan atau badan usah
2) Tanda bukti pengakuan atas kompetensi dan kemampuan profesi keterampilan kerja dan keahlian kerja orang perseorangan di bidang jasa kontruksi menurut disiplin keilmuan dan atau keterampilan tertentu dan atau kefungsian dan atau keahlian tertentu.
Dari hasil penelitian, menempatkan orang yang memiliki keahlian tertentu pada pekerjaan yang tepat (right person on the right job) berarti seseorang yang mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan dengan pengetahuan, pengalaman, serta skill yang memadai.
2. Human Error
Secara umum human error berkaitan dengan kepatuhan seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Human error pada umumnya terjadi akibat kelalaian dari pekerja dalam melakukan pekerjaan. Factor human error didalam pelaksanaan pekerjaan kontruksi, dan membawa dampak yang fatal terhadap keselamatan kerja. Untuk itu, dalam pelaksanaan pekerjaan kontruksi sebaiknya dilakukan tingkat pengawasan yang ketat terhadap para pekerja agar resiko terjadinya kecelakaan bisa diminimalisasi.
Human error adalah tindakan seseorang didalam bekerja yang tidak aman sehingga tidak dapat mengetahui akar permasalahan dari penyebab kecelakaan kerja.
Perilaku tidak aman pekerja dibagi tiga tingkatan :
a. Skill-based-error : kesalahan yang berhubungan dengan keahlian dan kebiasaan kerja.
b. Rule-based-error : kesalahan dalam memenuhi standart dan prosedur yang berlaku.
c. Knowledge-based-error : kesalahan dalam mengambil keputusan karena kurangnya pengetahuan
3. Komunikasi
Keampuhan suatu system sampai tingkat tertentu tergantung kepada kualitas komunikasi yang terjadi diantara pihak – pihak yang terlibat, dalam hal ini hubungan pekerja dan pihak manajemen dalam perhatian mereka untuk mengetahui kondisi yang tidak aman (unsafe condition) maupun lingkungan yang berbahaya. Program
keselamatan kerja hendaknya didukung oleh sitem manajemen informasi yang baik dalam hal pengumpulan atau penyampaian informasi, yang meliputi adanya jalur komunikasi yang baik dari pihak manajemen kepada para pekerja maupun sebaliknya dari pekerja tentang kondisi yang tidak aman kepada pihak manajemen. Informasi terbaru sangatlah penting, terutama yang berhubungan dengan peraturan dan prosedur keselamatan kerja yang terbaru, dan keadaan bahaya di lingkungan proyek.
4. Faktor Usia
Menurut Suma’mur (1981) kewaspadaan kecelakaan bertambah baik sesuai dengan usia, masa kerja di perusahaan dan lamanya bekerja ditempat yang bersangkutan. Tenaga kerja yang baru biasanya belum mengetahui secara mendalam seluk beluk pekerjaan dan keselamatanya. Selain itu mereka sering mementingkan dahulu selesainya jumlah pekerjaan tertentu yang diberikan kepada mereka, sehingga keselamatan tidak cukup mendapatkana perhatian.
Pada umumnya tenaga kerja yang berusia muda memiliki kelebihan akan memiliki otot tubuh, penglihatan dan pendengaran yang berkembang dengan baik. Akan tetapi belum memiliki pengendalian emosi dan kemampuan berpikir yang baik. Akan tetapi belum memiliki pengendalian emosi dan kemampuan berpikir yang baik. Tenaga kerja muda memiliki pikiran dengan tingkat ego yang masih tinggi dan emosional yang masih labil.
5. Perilaku Buruk (bad behaviour)
Perilaku buruk pada dasarnya adalah perilaku dasar dari perilaku yang tidak peduli terhadap keselamatan dirinya. Dalam hal ini berkaitan dengan perilaku buruk pekerja dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Contoh dari perilaku buruk misalnya
pekerja merokok pada saat melakukan pekerjaan atas, sehingga berisiko terhadap keselamatan diri dari pekerja tersebut. Untuk mendidik para perilaku buruk dari pekerja sebaiknya diberikan arahan pada saat sebelum memulai satu pekerjaan dan pemberiaan efek jera yaitu sanksi terhadap perilaku pekerja yang dilakukan pada saat bekerja.
Tabel 2.1 Sub Faktor untuk Skill dan pengalaman
No Deskripsi Sub Faktor Mean
Impact Weight 1.1 1.1.1 1.1.2 1.1.3
Skill Dan Pengalaman
Tingkat keahlian/kemampuan dari pekerja
Kurangnya pengalaman yang dimiliki oleh pekerja Sertifikasi keahlian yang dimiliki oleh pekerja
3.23 3.6 3.5 2.6 0.37 0.36 0.27 1.2 1.2.1 1.2.2 Human Error
Pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan standar/prosedur pekerjaan yang diterapkan
Pekerja yang tidak menggunakan/melengkapi alat – alat keselamatan kerja dengan sempurna (Helm Safety dll) 3.55 3.6 3.5 0.51 0.49 1.3 1.3.1 1.3.2 Komunikasi
Pekerja belum mampu menerima perintah kerja dengan baik.
Koordinasi pelaksanaan pekerjaan dengan berbagai pihak. 3.80 3.7 3.9 0.49 0.51
1.4 1.4.1 1.4.2
Aspek Usia
Pekerja yang mengalami kecelakaan berusia kurang dari 30 tahun
Pekerja yang lebih muda kurang teliti dalam bekerja 2.85 2.8 2.9 0.49 0.51 1.5 1.5.1 1.5.2 Perilaku Buruk
Pekerja menyalakan api pada tempat berbahaya (merokok)
Pekerja melakukan pekerjaan secara tidak serius (bermain, bercanda, mengobrol dll)
3.85 3.7 4.0 0.48 0.52 2.3.2 Sistem Manejemen
1. Komitmen Perusahaan Mengenai Keselamatan Kerja
Pengurus harus menunjukkan kepemimpinan dan komitmen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja dengan menyediakan sumber daya yang memadai. Pengusaha dan pengurus perusahaan harus menunjukkan komitmen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja yang diwujudkan dalam :
a. Menempatkan orgnisasi keselamatan kerja pada posisi yang dapat menentukan keputusan perusahaan.
b. Menyediakan anggaran, tenaga kerja yang berkualitas dan sarana – sarana lain yang diperlukan dibidang keselamatan kerja.
c. Menetapkan personel yang mempunyai tanggung jawab,wewenang dan kewajiban yang jelas dalam penanganan keselamatan kerja
d. Perencanaan keselamatan kerja yang terkoordinasi
e. Melakukan penilaian kerja dan tindak lanjut pelaksanaan keselamatan kerja.
Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa faktor komitmen merupakan salah satu faktor utama budaya keselamatan kerja, dimana tanpa dukungan dari pihak manajemen sangatlah sulit untuk mencapai keberhasilan dalam menjalankan program keselamatan kerja.
Aspek komitmen perusahaan ditinjau berdasarkan hal – hal berikut ini :
a. Kebijakan perusahaan tentang pelaksanaan keselamatan kerja di proyek kontruksi.
Ukuran dari kebijakan perusahaan contohnya yaitu dengan adanya prosedur keselamatan kerja secara umum, menjamin seluruh pekerjaannya dengan pemberian asuransi keselamatan kerja, mengadakan hubungan kerjasama antara perusahaan dengan rumah sakit terdekat. Perusahaan yang kurang memiliki komitmen akan keselamatan pekerjaannya biasanya hanya mementingkan pekerjaan dapat selesai dengan baik, tidak memperhatikan pekerja dalam melaksanakan pekerjaan.
b. Pembatasan Finansial
Ukuran penilaiannya berdasarkan atas alokasi biaya yang digunakan untuk penyediaan alat pelindung keselamatan kerja ataupun penyediaan sarana kesehatan seperti adanya kotak P3K.
c. Pembuatan Aturan – Aturan Tentang Keselamatan Kerja
Ukurannya penilainnya berdasarkan ketaatan perusahaan didalam melaksanakan undang – undang yang menjamin keselamatan kerja para pekerja dan keberlangsungan dan berkesinambungan dari pelaksanaan program kerja K3 yang dilaksanakan pada proyek kontruksi.
Berdasarkan persyaratan, perusahaan harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk inventarisasi, identifikasi dan pemahaman peraturan perundangan dan persyaratan lainnya yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan kegiatan perusahaan yang bersangkutan. Pengurus harus menjelaskan peraturan perundangan dan persyaratan lainnya kepada setiap tenaga kerja. Keberhasilan program keselamatan kerja berkaitan dengan komitmen perusahaan tentang penyediaan sumber daya yang cukup untuk program keselamatan kerja. Hal – hal yang diperlukan antara lain kebijakan dan regulasi, kebutuhan sumber daya manusia, aspek financial, metoda, dll.
d. Pelaksanaan Pekerjaan
Sebelum proyek konstruksi dilaksanakan pengerjannya, manajemen perusahaan perlu untuk membuat perencanaan secara bertahap dan sistematis. Semua itu bertujuan supaya proses pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan. Adapun hal – hal yang dikaji adalah hal – hal yang berkaitan dengan :
1. Pelaksanaan pekerjaan yang tidak terstruktur dengan baik. 2. Karakteristik pekerjaan konstruksi.
3. Jadwal yang ketat.
Tujuan dari pengkajian hal – hal diatas, bertujuan untuk menilai sejauh mana aplikasi penerapan keselamatan kerja dari perusahaan kontruksi terhadap pelaksanaan pekerjaan didalam proyek kontruksi.
Berdasarkan persyaratan, penerapan awal system manejemen keselamatan kerja yang berhasil memerlukan rencana yang dapat dikembangkan secara
berkelanjutan, dan secara jelas menetapkan tujuan serta sasaran system manajemen keselamatan kerja yang dapat dicapai:
- Menetapkan sistem pertanggungjawaban dalam pencapaian tujuan dan sasaran sesuai dengan fungsi atau tingkat manajemen perusahaan yang bersangkutan.
- Menetapkan sarana dan jangka waktu untuk pencapaian tujuan dan sasaran.
e. Pelatihan Keselamatan Kerja
Penerapan dan pengembangan sistem manajemen keselamatan kerja yang efektif ditentukan oleh kompetensi kerja dan pelatihan dari setiap Tenaga kerja diperusahaan. Pelatihan merupakan salah satu alat penting untuk menjamin kompetensi kerja yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan keselamatan kerja.
Hal – hal yang ditinjau meliputi aspek dari pelatihan keselamatan kerja dan menjadi acuan didalam penilaian penerapan program keselamatan kerja perusahaan kontruksi, antara lain yaitu :
- Kepedulian perusahaan dalam melakukan pelatihan keselamatan kerja - Training sesuai dengan standar yang berlaku
- Intensitas pelaksanaan training.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa kesuksesan safety program dapat diperoleh apabila semua pihak – pihak yang terkait diberikan pengetahuan dan training tentang keselamatan kerja untuk meningkatkan pengetahuan dan skill tentang keselamatan.
Pada prinsipnya aspek penjaminan mutu adalah suatu hal yang berkaitan dengan pelaksanaan program keselamatan kerja yang sesuai dengan kualitas yang ada. Untuk mengetahui sejauh mana penerapan aspek pejaminan mutu dari program keselamatan kerja di lapangan, maka hal – hal yang menjadi acuan dalam penilaian didalam penelitian yaitu :
1. Permasalahan pengawasan pekerjaan yang dilakukan pekerja
Hal ini secara umum menjelaskan tentang aktivitas pihak safety didalam melakukan pengawasan secara intensif yang pada intinya bertujuan untuk memantau kesalahan – kesalahan prosedur yang dilakukan oleh pekerja. Adapun hal – hal yang menjadi parameter penting yang perlu ditinjau, antara lain :
- Jumlah petugas safety yang mengawasi pelaksanaan pekerjaan.
- Intensitas pengawasan yang dilakukan dan daerah area pengawasan petugas safety.
Kesuksesan pengawasan pekerjaan yang berkaitan dengan supervisor yang berkompeten dalam melakukan pengawasan, komunikasi dua arah (listening and speaking) dan memberikan contoh yang baik dalam pelaksanaan program keselamatan kerja.
2. Evaluasi dari penerapan keselamatan kerja
Penerapan kinerja keselamatan kerja harus dilakukan secara periodic untuk mengetahui keberhasilannya terhadap pelaksanaan kegiatan pekerjaan kontruksi. Apabila implementasi program keselamatan kerja tersebut gagal untuk mengurangi tingkat kecelakaan maka evaluasi yang dilakukan bertujuan untuk melakukan perbaikan terhadap suatu kejadian dimasa lalu,
seperti perubahan metoda kerja, ataupun pemasangan rambu keselamatan kerja.
Tabel 2.2 Sub Faktor Untuk Sistem Manajemen
No Deskripsi Sub Faktor Mean
Impact Weight 2.1 2.1.1 2.1.2 2.1.3 Komitmen Perusahaan
Kebijakan keselamatan kerja Perusahaan
Pembatasan financial terhadap program Keselamatan Kerja
Pembuatan aturan – aturan tentang Keselamatan Kerja 2.40 2.5 2.0 2.7 0.35 0.28 0.38 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3 Pelaksanaan Pekerjaan
Program – program kegiatan kerja tidak terstruktur dengan baik
Karakteristik pekerjaan konstruksi Jadwal pelaksanaan yang ketat
3.03 2.9 2.7 3.5 0.32 0.30 0.38 2.3 2.3.1 2.3.2 2.3.3
Pelatihan Keselamatan Kerja
Perusahaan tidak melakukan pelatihan keselamatan kerja terhadap pekerja
Pelatihan keselamatan kerja tidak memenuhi standar.
Kurangnya intensitas pelaksanaan pelatihan keselamatan kerja 2.73 2.5 2.7 3.0 0.31 0.33 0.37
2.4 2.4.1
2.4.2
Penjaminan Mutu
Kurangnya pengawasan pekerjaan yang dilakukan pekerja
Evaluasi dari penerapan kinerja keselamatan kerja 3.10 2.9
3.3
0.47
0.53
2.3.3 Peralatan Dan Material
Penggunan peralatan dan material merupakan salah satu aspek yang perlu ditinjau dalam pelaksanaan pekerjaan kontruksi. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi resiko bahaya yang muncul akibat operaasional alat dan penggunaan bahan material yang dipergunakan.
1. Identifikasi Peralatan Dan Material
Didalam sistem pembelian barang dan jasa termasuknya didalam prosedur pemeliharan barang dan jasa harus terintegrasi dalam strategi penanganan pencegahan resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Sistem pembelian harus menjamin agar produk barang dan jasa serta mitra kerja memenuhi persyaratan keselamatan kerja. Pada saat barang dan jasa diterima dan ditempat kerja, perusahaan harus menjelaskan kepada semua pihak yang akan menjelaskan kepada semua pihak yang akan menggunakan barang dan jasa tersebut mengenai identifikasi, penilaian dan pengendalian resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Adapun hal – hal yang menjadi parameter penting yang perlu untuk ditinjau, antara lain :
a. Spesifikasi peralatan dan material dengan standar keselamatan kecelakaan. b. Identifikasi peralatan dan material oleh petugas.
2. Operasi alat – alat dan material
Dalam penggunaan alat dan material untuk pelaksanaan pekerjaan kontruksi, diperlukan suatu prosedur yang tepat agar resiko bahaya kecelakaan bisa dihindari atau diminimalisasi. Hal tersebut menjadi kerangka pemikiran penelitian ini dalam menilai kisaran pengaruh penggunaan peralatan dan material terhadap terjadinya kecelakaan kerja.
Hal – hal yang menjadi parameter penting yang perlu ditinjau, antara lain : a. Penggunanan peralatan oleh operator yang kompeten
b. Identifikasi peralatan dan material oleh petugas
c. Prosedur penyimpanan dan pemindahan peralatan dan material. Tabel 2.3 Sub Factor Untuk Peralatan Dan Material
No Deskripsi Sub Faktor Mean
Impact Weight 3.1 3.1.1 3.1.2 3.1.3
Identifikasi peralatan dan material
Spesifikasi peralatan, jasa dan material kurang sesuai dengan standar keselamatan kerja yang berlaku.
Indentifikasi dan penilaian peralatan dan material dilaksanakan petugas yang kurang berkompeten.
Tidak terdapat prosedur yang baik dalam penyimpanan dan pemindahan material dan peralatan. 3.23 3.3 3.2 3.2 0.34 0.33 0.33
3.2 3.2.1
3.2.2
3.2.3
Pelaksanaan Pekerjaan
Penggunaan peralatan tidak dioperasikan oleh operator yang ditetapkan
Proses penggunaan peralatan yang melebihi kemampuan maksimal yang ditetapkan.
Proses perawatan dan perbaikan alat – alat berat / alat – alat tertentu tidak dilakukan secara berkala. 3.20 3.2 2.8 3.6 0.33 0.29 0.38 2.3.4 Area Pekerjaan
Lokasi atau area proyek kontruksi merupakan salah satu hal yang potensial untuk membentuk kondisi tidak aman (unsafe condition) bagi pekerja. Untuk itu diperlukan penataan yang baik, sebagai langkah pencegahan munculnya resiko bahaya yang akan menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja.
1. Site Layout
Terjadinya kecelakaan juga disebabkan oleh pengaruh buruknya keadaan atau kondisi dari lokasi proyek (poor site condition). Menurut komentar haslam bahwa kondisi proyek itu timbul dikarenakan oleh resiko budaya dalam manajemen tersebut dan lemahnya system keselamatan kerja dari perusahaan kontruksi.
Adapun hal – hal yang terjadi parameter penting yang perlu ditinjau, antara lain : - Penataan site layout pada lokasi kontruksi
2. Lingkungan Kerja
Penataan lingkungan kerja yang kondusif, bersih, sehat dan aman menjamin keselamatan kerja para pekerja. Lingkungan kerja yang buruk akan berakibat munculnya kondisi yang tidak aman (unsafe condition). Untuk itu diperlukan pengkajian mengenai aspek tersebut.
Hal – hal yang menjadi parameter penting yang perlu ditinjau antara lain : - Ventilasi udara
System ventilasi udara perlu perencanaan yang tepat, hal ini terutama perlu bagi pekerjaan yang dilakukan pada ruangan tertutup. Ventilasi udara ini digunakan untuk menjaga kesehatan bagi para pekerja. Dalam hal ini dapat dicontohkan pekerjaan pengelasan yang berada didalam ruangan membutuhkan arus keluar masuk udara yang terkendali agar tidak terjadi pengurangan oksigen.
- Pencahayaan yang kurang baik
Penerangan merupakan suatu aspek lingkungan fisik penting bagi keselamatan kerja. Beberapa penelitian membuktikan bahwa penerangan yang tepat dan disesuaikan dengan pekerjaan berakibat produksi yang maksimal dan ketidak efesienan yang minimal, dan dengan begitu secara tidak langsung membantu mengurangi terjadinya kecelakaan kerja (Suma’mur 1981)
- Terjadinya cuaca yang buruk
Cuaca yang buruk seperti hujan pada dasarnya akan membentuk suatu kondisi tidak aman (unsafe condition) untuk melaksanakan pekerjaan kontruksi. Kecelakan yang kemungkinan terjadi adalah pekerja jatuh dari
ketinggian tergelincir ataupun kecelakaan akibat pengoperasian alat – alat berat.
Tabel 2.4 Sub Faktor untuk aspek area pekerjaan
No Deskripsi Sub Faktor Mean
Impact Weight 4.1 4.1.1 4.1.2 Site Layout
Penataan site layout pada lokasi kontruksi (gudang, site management, tempat penyimpanan peralatan, dll).
Akses untuk transportasi material dan peralatan. 3.45 3.7 3.2 0.54 0.46 4.2 4.2.1 4.2.2 4.2.3 Lingkungan Kerja
Ventilasi udara yang tidak baik pada pekerjaan ruang tertutup.
Pencahayaan yang tidak baik pada ruang tertutup.
Terjadinya cuaca yang buruk pada lokasi proyek 3.83 4.1 3.9 3.5 0.36 0.34 0.30