Friedman (1998) membagi proses pengkajian keperawatan keluarga dalam tahap-tahap meliputi identifikasi data, tahap dan riwayat perkembangan, data lingkungan, sturktur keluarga, fungsi keluarga dan koping keluarga.
a. Identifikasi Data
Daftar nama-nama anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah, alamat tempat tinggal keluarga.
b. Komposisi keluarga
Umur penderita Tuberkulosis Paru, seringkali berasal dari usia produktif (15 – 60 tahun) (Soeparman, Sarwono Waspadji, 1990). Angka tertinggi pada wanita ditemukan pada usia 40 – 50 tahun, sedangkan laki-laki usia lebih dari 65 tahun.
c. Jenis kelamin, pada wanita angka pravelensinya masih lebih rendah dan meningkatnya juga lebih sedikit dibandingkan laki-laki (Crofton, John, 1998).
50 d. Jenis pekerjaan yang berat akan lebih tinggi terjadinya Tuberkulosis
Paru, seperti : tukang batu, kuli, dan buruh bangunan. e. Tipe keluarga
Garis keturunan atau silsilah keluarga dari tiga generasi apakah ada yang menderita penyakit Tuberkulosis Paru.
f. Latar belakang budaya
Adat istiadat di tempat tinggal keluarga, suku bangsa, agama, sosial, budaya, rekreasi, kegiatan pendidikan, kebiasaan makan dan berpakaian. Adanya pengaruh budaya pada peran keluarga dan kekuatan struktur, bentuk rumah, bahasa yang digunakan sehari-hari, komunikasi dalam keluarga, penggunaan tempat pelayanan kesehatan.
g. Pola spiritual
Agama yang dianut dalam keluarga dan kegiatan agama yang aktif diikuti.
h. Status sosial ekonomi budaya 1) Penghasilan keluarga
Dampak keluarga yang berpenghasilan kurang atau kepala keluarga yang tidak mampu bekerja lagi, mudah terserang TBC karena keadaan gizi menurun dan daya tahan tubuh semua anggota keluarga rendah. Sehingga kemungkinan terserang TBC sangat
51 besar. Sedangkan penderita TBC memerlukan perawatan yang lama, rutin, dan biaya untuk pengobatan.
2) Pendidikan
Keadaan ekonomi yang rendah sangat berkaitan dengan masalah pendidikan, ini disebabkan karena ketidakmampuan keluarga dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi dan kurangnya pengetahuan tentang masalah TBC pada salah satu anggota keluarga, sehingga tidak mampu merawat penderita dengan baik yang mengakibatkan kondisi bertambah buruk, dan timbul komplikasi.
3). Aktivitas rekreasi keluarga
Identifikasi aktivitas dalam keluarga, frekuensi aktivitas tiap anggota keluarga dan penggunaan waktu senggang.
2. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
a. Tahap perkembangan setiap anggota keluarga dari yang usia bayi sampai lanjut usia
b. Riwayat keluarga sebelumnya
Riwayat kesehatan dalam keluarga adakah anggota keluarga yang pernah menderita penyakit kronis, penyakit menular atau penyakit yang sifatnya herediter, misalnya DM, hipertensi, jantung, hepatitis,TBC. Dan bagaimana perawatan dari keluarga, pengobatan, serta tindakan medis yang telah didapatkan.
52
3. Pengkajian Rumah
a. Karakteristik rumah
Lingkungan perumahan yang kumuh, berdebu, kurang ventilasi, penerangan yang tidak adekuat, keadaan kamar tidur yang pengab karena sinar matahari tidak dapat masuk, kasur yang tidak pernah dijemur merupakan faktor-faktor yang menyebabkan kuman-kuman Tuberkulosis mudah menyebar dan menular.
b. Macam lingkungan tempat tinggal
Tempat tinggal yang sempit, padat, sanitasi yang tidak terjaga, polusi udara juga menjadi potensi tersebarnya Tuberkulosis Paru.
c. Karakteristik hubungan dengan tetangga dan masyarakat Penderita TBC cenderung merasa rendah diri dalam pergaulan dengan tetangga dan masyarakat, oleh karena itu penderita tidak perlu dikucilkan atau diasingkan. Jika rajin memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan secara berkala dan minum obat secara teratur, maka penderita dapat disembuhkan.
d. Mobilitas geografis keluarga
Status rumah yang dihuni oleh keluarga apakah rumah sendiri atau menyewa, sudah berapa lama tinggal di daerah tersebut, dan pindah dari daerah mana.
53 f. Fasilitas sosial dan kesehatan
Fasilitas kesehatan yang tidak memadai dan tidak terjangkau menjadi kendala dalam kelangsungan pengobatan penderita TBC, karena fasilitas kesehatan seperti puskesmas tempat yang dapat digunakan untuk berobat.
g. Fasilitas transportasi
Transportasi merupakan saran yang penting dan sangat diperlukan agar penderita mendapatkan pelayanan kesehatan dengan segera. Ketiadaan sarana transportasi menjadikan masyarakat enggan berkunjung ke pelayanan kesehatan sehingga kondisi akan semakin memburuk.
h. Sistem pendukung dalam keluarga
Dukungan keluarga untuk penderita dengan memberikan motivasi dan semangat agar penderita tertib minum obat, rajin memeriksakan diri, penyediaan gizi yang sesuai anjuran. Adanya sistem pendukung dalam keluarga diharapkan membantu proses kesembuhan.
4. Struktur Keluarga
a. Pola komunikasi
Bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di dalam keluarga dan waktu yang sering digunakan untuk berkomunikasi.
54 b. Struktur peran
Apakah keluarga sudah menjalankan perannya dalam keluarga dengan baik dan sesuai dengan fungsinya. Seorang penderita TBC akan mengalami perubahan kapasitas fisik dalam melaksanakan peran, karena merasa tidak mampu menjalankan perannya misalnya sebagai seorang kepala keluarga yang tidak bisa bekerja lagi, sehingga penghasilan keluarga menurun.
c. Struktur Kekuatan keluarga
Sejauh mana keluarga mampu mengambil keputusan dengan tepat dalam mengatasi masalah TBC yang ada di keluarga.
d. Nilai dan norma keluarga
Persepsi keluarga terhadap masalah kesehatan yang terjadi di keluarga dalam hal ini TBC.
5. Fungsi Keluarga
a. Fungsi afektif
Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara instuitif, merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga sehingga saling pengertian satu sesama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga terutama anggota keluarga yang menderita TBC (Effendy, Nasrul, 1998).
55 b. Fungsi sosialisasi
Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah bagaimana keluarga mempersiapkan anggota keluarganya menjadi anggota masyarakat yang baik, mampu menyesuaikan diri dan dapat berinteraksi dengan lingkungan (Effendy, Nasrul, 1998).
c. Fungsi perawatan kesehatan
1). Keluarga mampu mengenal masalah kesehatan 2). Keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat
3). Keluarga mampu melakukan perawatn pada anggota keluarga yang sakit
4).Keluarga mampu memodifikasi dan memelihara lingkungan untuk menunjang kesehatan
5). Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas layanan kesehatab yang ada.
6. Koping Keluarga
a. Stressor yang sering muncul dalam keluarga b. Respon keluarga terhadap stressor