• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Komunikasi

Dalam dokumen SOSIAL, DAN DI DAERAH RAWAN BENCANA (Halaman 46-117)

7. Kejelasan

8. Ekspresi emosi secara terbuka 9. Kolaborasi penyelesaian masalah Kesejahteraan Keluarga 1. Kesejahteraan objektif 2. Kesejahteraan subjektif

Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian dengan topik “Kajian Ketahanan Keluarga Nelayan”. Disain penelitian ini adalah cross sectional study dan retrospektif. Cross Sectional study yaitu data yang terkumpul pada suatu waktu tertentu untuk memberikan gambaran perkembangan keadaan pada waktu itu (Hasan 2003). Metode retrospektif digunakan untuk mengetahui data tingkat kelentingan dan dukungan sebelum terjadi bencana alam serta pendapatan nelayan pada musim biasa dan panen. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pangandaran. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja dengan pertimbangan bahwa Desa Pangandaran adalah salah satu daerah pesisir yang rawan bencana. Penelitian ini dilakukan saat musim paceklik dan berlangsung selama 6 bulan (Febuari hingga Agustus 2009) mulai dari persiapan hingga pelaporan hasil penelitian.

Jumlah dan Cara Penarikan Contoh

Contoh adalah keluarga nelayan di daerah rawan bencana yaitu di Desa Pangandaran Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis. Contoh merupakan keluarga yang mempunyai kriteria: 1) merupakan keluarga dengan mata pencaharian nelayan, 2) keluarga tinggal di daerah rawan bencana, dan 3) bersedia untuk dijadikan contoh penelitian. Responden adalah isteri dari suami yang bermatapencaharian sebagai nelayan.

Desa yang dipilih untuk penelitian yaitu Desa Pangandaran karena di desa tersebut memiliki banyak warga yang memiliki profesi sebagai nelayan dan termasuk dalam daerah yang rawan bencana. Populasi adalah keluarga nelayan yang tinggal di Desa Pangandaran. Total nelayan di Desa Pangandaran sebanyak 867 keluarga yang tersebar di 9 RW, tetapi hanya 3 RW yang penduduknya sebagian besar berprofesi nelayan, yaitu RW 3, RW 7, dan RW 9, sehingga ketiga Rw tersebut dipilih secara purposive sebagai daerah yang diambil datanya karena dianggap telah mewakili nelayan di Desa Pangandaran secara keseluruhan. Populasi di RW 3 ada 118 keluarga, RW 7 sebanyak 153 keluarga dan RW 9 sebanyak 167 keluarga. Pengambilan jumlah contoh diambil secara acak proporsional (proportional random sampling) sehingga di RW 3 diambil 22 responden, RW 7 sebanyak 28 responden, dan RW 9 diambil sebanyak 30 responden. Jumlah contoh yang diambil adalah 80 contoh.

Buruh Nb=27 Juragan na= 53 RW 3 n1=22 RW 7 n2=28 RW 9 n3=30 RW 3 N1= 118 RW 3 N2= 153 RW 9 N3= 167 Total n=80

Nelayan di Desa Pangandaran N= 867

Kecamatan Pangandaran Purposive

Purposive

Purposive

Proportional

Random Sampling

Gambar 2 Metode penarikan contoh

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari kuesioner yang ditanyakan kepada keluarga nelayan daerah rawan bencana. Data primer yang akan diperoleh dengan bantuan kuesioner kuesioner meliputi:

1. Karakteristik keluarga (umur, besar keluarga, tingkat pendidikan, lama pendidikan, pendapatan perkapita, jumlah kepemilikan aset, nilai kepemilikan aset, akses informasi, sumber informasi dan jenis informasi)

2. Dukungan sosial (dukungan sosial keluarga, dukungan sosial tetangga, dukungan sosial pemerintah atau lembaga masyarakat). Kuesioner dukungan sosial merupakan modifikasi dari Tati (2004)

3. Kelentingan keluarga (sistem kepercayaan keluarga, pola organisasi, proses komunikasi). Kuesioner kelentingan keluarga ini berdasarkan proses kunci kelentingan keluarga menurut Walsh (2002).

4. Kesejahteraan keluarga (kesejahteraan keluarga objektif dan kesejahteraan keluarga subjektif). Kuesioner kesejahteraan keluarga berdasarkan kuesioner dari Suandi (2007).

Data sekunder yang dikumpulkan berupa gambaran umum lokasi penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei melalui wawancara secara langsung, dengan menggunakan kuisioner yang terstruktur (Nazir 1999). Secara rinci peubah, skala, responden, alat dan cara pengukuran penelitian disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Peubah, skala, responden, alat dan cara pengukuran

No. Peubah Skala Responden Alat dan Cara

Pengukuran Reliabilitas 1. Karakteristik Keluarga

1. Umur

2. Besar keluarga

3. Tingkat dan lama pendidikan 4. Pendapatan perkapita 5. Jumlah dan nilai kepemilikan

asset

6. Akses Informasi, sumber informasi, jenis informasi

Rasio Rasio Rasio Rasio Rasio Ordinal Isteri Kuesioner/ wawancara - 2. Dukungan sosial

1. Dukungan sosial keluarga 2. Dukungan sosial tetangga 3. Dukungan sosial pemerintah

atau lembaga masyarakat

Ordinal Ordinal Ordinal Isteri Kuesioner/ wawancara 0.893 3. Kelentingan keluarga A. Sistem Kepercayaan Keluarga 1. Pemaknaan terhadap kemalangan 2. Pandangan positif

3. Kesadaran dan Spiritualitas B. Pola Organisasi

1. Fleksibilitas 2. Keterkaitan

3. Sumberdaya sosial dan ekonomi

C. Proses Komunikasi 1. Kejelasan

2. Ekspresi emosi secara terbuka

3. Kolaborasi penyelesaian masalah

Ordinal Isteri wawancara Kuesioner/ 0.711

4. Kesejahteraan Keluarga: 1. Kesejahteraan objektif 2. Kesejahteraan subjektif

Rasio

Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer program Microsoft Excel 2007 for windows, SPSS 16, dan Minitab 14. Tahapan-tahapan pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini mencakup:

1. Editing, coding, skoring, dan entry

2. Setelah data dientri, kemudian dilakukan cleaning data untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam memasukkan data. Analisis deskriptif dan tabulasi silang

3. Dilakukan uji beda Mann-Whitney dan independent sample T-test, analisis faktor, dan analisis korelasi Pearson.

Pendapatan perkapita total per bulan diperoleh dari total pendapatan keluarga dalam setahun dibagi jumlah anggota keluarga disajikan dalam per bulan. Pendapatan keluarga diperoleh dari total pendapatan saat ini ditambah dengan pendapatan anggota keluarga yang lain.

Nilai aset yang dimaksudkan berupa aset yang telah diuangkan menurut harga pembelian. Kemudahan akses informasi diperoleh berdasarkan skor. Apabila terdapat kesulitan mengakses informasi diberi skor 0 dan apabila mudah mengakses informasi diberi skor 1. Jenis informasi seperti pekerjaan, pengasuhan, pendidikan, kesehatan, cuaca, harga, lainnya diilihat berdasarkan akses sumber informasi seperti televisi, radio, surat kabar, teman, dan lainnya.

Menurut Slamet (1993), pembuatan interval kelas menggunakan rumus berikut:

Interval kelas (I) = Nilai tertinggi (NT)-Nilai terendah (NR) Jumlah kelas

Pengkatagorian yang menggunakan rumus Slamet (1993) adalah dukungan sosial dan kelentingan keluarga.

Tabel 2 Pengkatagorian data penelitian

Variabel Penelitian Jenis (Pertanyaan) Kategori Skor Data Besar Keluarga Besar keluarga (1) Berdasarkan BKKBN (1998)

Kecil : ≤ 4 orang Sedang : 5–6 orang Besar : ≥7 orang

Umur Umur (1) Berdasarkan Hurlock

Dewasa awal : 18-40 tahun Dewasa madya : 41-60 tahun Dewasa lanjut : > 60 tahun

Pendidikan

Jenjang pendidikan (1) Berdasarkan jenjang pendidikan 1. Tidak tamat SD

2. Tamat SD 3. Tamat SLTP 4.Tamat SMU 5. Perguruan Tinggi Lama pendidikan yang telah

diselesaikan (1)

Lama pendidikan berdasarkan wajib belajar 9 tahun (Depdiknas) <9 tahun

≥9 tahun Pendapatan per

kapita

Pendapatan kepala keluarga (1) Pendapatan anggota keluarga (3) Berdasarkan BPS (2006) Sangat miskin: < Rp 120.000,00 Miskin: Rp 120.000,00-Rp 150.000,00 Mendekati miskin: Rp Rp 175.000,00 Tidak miskin: > Rp 175.000,00 Kepemilikan aset Perahu, alat tangkap,

barang elektronik,

kendaraan, barang berharga, tabungan keluarga, ternak (6)

Berdasarkan perbandingan dengan kebutuhan bulanan

< 3 kali kebutuhan minimum/bulan ≥ 3 kali kebutuhan minimum/bulan Akses informasi,

sumber informasi, jenis informasi

Mudah aatau tidak

memperoleh informasi, jenis informasi, sumber informasi (3)

Berdasarkan sebaran data

Dukungan sosial Keluarga luas (12) Tetangga (17) Pemerintah/lembaga masyarakat (10)

Berdasarkan sebaran interval Rendah : 0-33,33

Sedang : 33,4-66,7 Tinggi : 66,8-100 Kelentingan

keluarga Sistem kepercayaan keluarga (13) Pola organisasi (14) Proses komunikasi (12)

Berdasarkan sebaran interval Rendah : 0-33,33

Sedang : 33,4-66,7 Tinggi : 66,8-100 Kesejahteraan

Objektif Pendapatan per kapita Berdasarkan BPS (2006) Sangat miskin: Rp 120.000,00 Miskin: Rp 120.000,00-Rp 150.000,00 Mendekati miskin: Rp Rp 175.000,00 Tidak miskin: > Rp 175.000,00 Kesejahteraan

ekonomi subjektif kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan, pakaian, kualitas rumah, kualitas pendidikan anak, kesehatan keluarga, kemudahan akses, dan pemenuhan kebutuhan sosial di dalam masyarakat (12)

Berdasarkan total skor (0-36) dan hasil transformasi (Nuryani 2007),

Tidak sejahtera: skor 0-18 (< 50%) Sejahtera: skor 19-36 (≥ 50%)

Dukungan sosial yang terdiri dari dukungan emosi, instrumen, dan informasi dinilai berdasarkan sumber dukungan sosial seperti keluarga besar, tetangga, dan lembaga masyarakat atau pemerintah. Data dukungan sosial diberi skor 0 jika jawabannya tidak, dan skor 1 jika jawabannya ya. Langkah selanjutnya skor dijumlahkan berdasarkan sumber dukungan sosial dan dibuat penggolongan interval berdasarkan Slamet (1993), sehingga diperoleh tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi.

Data kelentingan keluarga terdiri dari tiga variabel yaitu sistem kepercayaan, pola organisasi, dan proses komunikasi. Data dukungan sosial diberi skor 0 jika jawabannya tidak dan skor 1 jika jawabannya ya. Langkah selanjutnya skor dijumlahkan dan dibuat penggolongan interval berdasarkan Slamet (1993), sehingga diperoleh tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi.

Data kesejahteraan diukur berdasarkan dua dimensi kesejahteraan, yaitu kesejahteraan objektif dan kesejahteraan subjektif. Kesejahteraan objektif diukur berdasarkan pendapatan perkapita baik berdasarkan musim ataupun secara keseluruhan. Pendekatan pendapatan yang digunakan berdasarkan garis kemiskinan Kabupaten Ciamis. Rumah tangga dikelompokkan miskin menurut tingkat kemiskinan yaitu: sangat miskin, miskin, dan mendekati miskin. Menurut BPS (2006) rumah tangga miskin adalah :

1. Rumahtangga dikatakan sangat miskin apabila tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sebesar Rp 120.000,00 per orang per bulan.

2. Rumahtangga dikatakan miskin apabila kemampuan memenuhi kebutuhan dasarnya hanya mencapai Rp 150.000,00 per orang per bulan. 3. Rumah tangga dikatakan mendekati miskin apabila kemampuan

memenuhi kebutuhan dasarnya hanya mencapai Rp 175.000,00 per orang per bulan.

Rumah tangga yang dapat memenuhi kebutuhan dasarnya melebihi Rp 175 000 dapat dikatagorikan tidak miskin. Rumah tangga dikatakan sejahtera apabila termasuk dalam kategori rumah tangga mendekati miskin dan tidak miskin, sedangkan tidak sejahtera apabila termasuk dalam kategori sangat miskin dan miskin.

Kesejahteraan subjektif diukur berdasarkan 12 butir pertanyaan tentang kepuasan responden. Masing-masing pertanyaan diberi skor berdasarkan skala likert, yaitu skor 0= tidak puas, 1=kurang puas, 2=puas, 3=sangat puas. Selanjutnya, skor yang diperoleh dari masing-masing pertanyaan dijumlahkan.

Analisis deskriptif yang digunakan antara lain sebaran frekuensi dan tabulasi silang, sedangkan uji yang digunakan yaitu uji korelasi Pearson, uji beda

independent sample T-test, dan analisis faktor. Berikut adalah rumus uji korelasi Pearson:

Uji korelasi Pearson (Nugroho 2005)

rs= n ∑xy-∑x.∑y √n∑x2-(∑x)2 . n∑y2-(∑y)2

Keterangan:

r: koefisien korelasi Pearson xi: ranking xi

yi: ranking yi

n: banyaknya pasangan data

Analisis faktor adalah teknik untuk menganalisis struktur internal dalam satu keseluruhan variabel untuk mengidentifikasi sesuatu yang mendasari konstrak yang disebut faktor. Walaupun keseluruhan variabel telah diukur dengan berbagai macam benda, bagian dari keseluruhan variabel tersebut, atau kesemuanya secara bersamaan, mungkin semuanya dapat mengukur prinsip-prinsip umum (Walsh 1990). Menurut Nugroho (2005), analisis faktor merupakan analisis statistik yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengelompokkan, dan meringkas faktor-faktor yang merupakan dimensi suatu variabel, definisi, dan sebuah fenomena tertentu.

Uji analisis faktor menurut Walsh (1990): n

n-1 1- 1_ λ1

θ=

Keterangan:

n= jumlah butir pada skala

λ1= nilai pertama (terbesar) dari nilai eigen

Pengolahan dan analisis data-data di atas dilakukan secara deskriptif dan uji-uji statistik. Pengolahan dan analisis tersebut berdasarkan tujuan penelitian, seperti:

1. Analisis deskriptif digunakan berdasarkan tujuan mengetahui dukungan sosial, karakteristik keluarga, tingkat kelentingan, perubahan dukungan

sosial dan tingka kelentingan sebelum dan sesudah terjadinya bencana, serta tingkat kesejahteraan keluarga nelayan.

2. Analisis korelasi Pearson digunakan berdasarkan tujuan yaitu menganalisis hubungan dukungan sosial dan karakteristik keluarga dengan daya lenting keluarga; menganalisis hubungan karakteristik dan kelentingan keluarga dengan kesejahteraan keluarga di daerah rawan bencana; menganalisis hubungan antar variabel dukungan sosial dan kelentingan keluarga; dan menganalisis hubungan antar kesejahteraan objektif dengan kesejahteraan subjektif keluarga nelayan di daerah rawan bencana.

3. Analisis faktor digunakan untuk mengetahui apa sajakah yang menentukan tingkat kelentingan keluarga di daerah rawan bencana.

Definisi Operasional

Nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan atau binatang air lainnya atau tanaman air.

Keluarga nelayan adalah sekelompok orang yang terdiri dari suami, isteri, dan anak yang salah satu anggota keluarganya bermata pencaharian sebagai nelayan dan atau melakukan pekerjaan sampingan selain nelayan.

Keluarga nelayan juragan adalah keluarga nelayan yang sekurang-kurangnya memiliki perahu.

Keluarga nelayan buruh adalah keluarga nelayan yang tidak memiliki perahu maupun alat tangkap.

Daerah Rawan Bencana adalah tempat yang memiliki kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, serta geografis untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.

Keluarga nelayan yang rawan bencana adalah sekelompok orang yang terdiri dari suami, isteri, dan anak yang salah satu anggota keluarganya bermata pencaharian sebagai nelayan ataupun melakukan pekerjaan sampingan selain menjadi nelayan yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana.

Bencana alam adalah kejadian atau serangkaian kejadian yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan orang, yang disebabkan baik oleh faktor alam dan non alam atau faktor manusia.

Karakteristik keluarga nelayan adalah ciri-ciri keluarga yang meliputi umur, besar keluarga, tingkat pendidikan, lama pendidikan, pendapatan perkapita, jumlah kepemilikan aset, nilai kepemilikan aset, akses informasi, sumber informasi dan jenis informasi

Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang masih tinggal dalam satu rumah atau tidak yang masih menjadi tanggungan orangtua dalam memenuhi kebutuhan hidup. Besar keluarga digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu keluarga kecil (≤4 orang), keluarga sedang (5-6 orang), dan keluarga besar (≥ 7 orang).

Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang ditempuh oleh suami atau isteri yaitu tidak tamat SD, tamat SD, tamat SMP, tamat SMA, dan perguruan tinggi atau akademi.

Lama pendidikan adalah lama pendidikan formal terakhir yang ditempuh oleh anggota keluarga. Lama pendidikan dikelompokkan berdasarkan wajib belajar sembilan tahun menjadi dua kelompok yaitu < 9 tahun dan ≥ 9 tahun.

Pendapatan per kapita adalah pendapatan total dalam setahun yang diperoleh keluarga dari pendapatan seluruh anggota keluarga baik dari pekerjaan utama maupun pekerjaan tambahan dibagi jumlah anggota keluarga yang dinyatakan dalam rupiah per kapita per bulan.

Jumlah kepemilikan aset keluarga adalah jumlah dari seluruh kekayaan yang dimiliki keluarga berupa barang elektronik, kendaraan, barang berharga, tabungan, ternak, kepemilikan lahan, rumah, perahu atau kapal, dan alat tangkap.

Nilai kepemilikan aset keluarga adalah nilai saat pembelian dari seluruh kekayaan yang dimiliki keluarga berupa barang elektronik, kendaraan, barang berharga, tabungan, ternak, kepemilikan lahan, rumah, perahu atau kapal, dan alat tangkap. Nilai kepemilikan aset keluarga dinyatakan dalam rupiah.

Akses informasi, sumber informasi, dan jenis informasi adalah kemampuan seseorang untuk memperoleh jenis informasi dari sumber informasi yang tersedia.

Dukungan sosial adalah bantuan yang diperoleh dan diupayakan dalam mengatasi masalah ekonomi, pengasuhan, kesehatan, dan konflik dalam keluarga yang berupa emosi, instrumental (finansial), dan informasi yang berasal dari keluarga besar, tetangga, dan lembaga masyarakat atau pemerintah.

Kelentingan keluarga kemampuan untuk bertahan dari kemalangan atau bencana. Proses kuncinya adalah sistem kepercayaan keluarga (pemaknaan terhadap kemalangan, pandangan positif, kesadaran dan spiritualitas), pola organisasi (fleksibilitas, keterkaitan, dan sumberdaya sosial ekonomi), dan proses komunikasi (kejelasan, ekspresi emosi secara terbuka, dan kolaborasi penyelesaian masalah).

Kesejahteraan keluarga adalah kepuasan, kemakmuran, dan kualitas hidup kelompok keluarga nelayan yang rawan bencana alam. Dalam hal ini diukur berdasarkan dimensi kesejahteraan objektif dan kesejahteraan subjektif.

Kesejahteraan objektif adalah tingkat kesejahteraan yang diukur melalui pendapatan perkapita. Tingkat kesejahteraan objektif dibandingkan dengan garis kemiskinan kabupaten Ciamis

Kesejahteraan subjektif adalah kesejahteraan yang diukur berdasarkan kepuasan responden terhadap pemenuhan kebutuhan pangan, pakaian, kualitas rumah, kualitas pendidikan anak, kesehatan keluarga, kemudahan akses, dan pemenuhan kebutuhan sosial di dalam masyarakat.

Tabel 3 Struktur kuesioner kelentingan keluarga

Peubah Indikator Item Sub item

Sistem Kepercayaan Keluarga

Pemaknaan terhadap kemalangan

Tingkat kelentingan merupakan dasar dari hubungan

1

Pemaknaan kemalangan 1

Krisis sebagai sesuatu yang

bermakna 1

Pandangan Positif

Optimis menghadapi tantangan 1

Fokus pada potensi diri 1

Inisiatif, gigih menghadapi

tantangan 2

Menerima sesuatu yang tidak

dapat diubah 1

Kesadaran dan Spiritualitas

Mempunyai tujuan hidup 1

Keagamaan 1 Sikap kreatif dalam

memecahkan masalah 1

Belajar dan tumbuh dari

kemalangan 2

Pola Organisasi

Fleksibilitas Kemampuan untuk berubah Keberlanjutan hidup 1 1

Keterkaitan

Hubungan pasangan, keseteraan pasangan

2 Dukungan timbal balik antar

suami-isteri

1 Menghormati kebutuhan dan

perbedaan

2 Mengasuh anak dengan baik 1 Kerjasama dalam mengasuh

anak 1

Membangun hubungan dan mendamaikan hubungan yang bermasalah

2

Sumberdaya Sosial dan Ekonomi

Membangun kekerabatan yang luas

1 Membangun jejaring komunitas 1 Membangun keamanan finansial 1

Proses Komunikasi

Kejelasan

Kejelasan pesan yang disampaikan

1 Mengklarifikasi informasi yang

ambigu 1 Ekspresi Emosi Secara Terbuka Berbagi perasaan 2 Saling berempati 1

Tanggung jawab terhadap perasaan sendiri

1 Interaksi yang menyenangkan,

humoris 1 Kolaborasi Penyelesaian Masalah Berdiskusi memecahkan masalah 1

Berbagi pengambilan keputusan 1 Bertindak konkrit dalam

memecahkan masalah

1 Mencegah timbulnya masalah,

bersiap-siap menghadapi tantangan masa depan

2

3 peubah 9 indikator 32 item 39

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat. Secara geografis Kabupaten Ciamis berada pada koordinat 1080 20’ – 1080 40’ Bujur Timur dan 070 40’20’’ – 070

41’20’’ Lintang Selatan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah utara : Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan; b. Sebelah selatan : Samudera Hindia;

c. Sebelah timur : Provinsi Jawa Tengah dan Kota Banjar;

d. Sebelah barat : Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya. Kabupaten Ciamis mempunyai luas wilayah sebesar 244 479 Ha (6.24% dari luas Provinsi Jawa Barat) dengan ketinggian antara 0-1000 meter di atas permukaan laut. Secara garis besar, struktur wilayah Kabupaten Ciamis terdiri dari dataran tinggi, dataran rendah, dan pantai. Bagian utara Kabupaten Ciamis merupakan pegunungan dengan ketinggian 500-1000 meter di atas permukaan laut, bagian tengah ke arah barat merupakan perbukian dengan ketinggian 100-500 meter di atas permukaan laut, sedangkan bagian tengah ke timur merupakan daerah dataran rendah dan rawa dengan ketinggian 20-100 meter di atas permukaan laut serta bagian selatan merupakan daerah rawa dan pantai dengan ketinggian 0-25 meter di atas permukaan laut.

Panjang garis pantai wilayah pesisir dan laut di Kabupaten Ciamis adalah 91 Km dengan luas laut mencapai 67 340 Ha yang meliputi enam wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Kalipucang, Kecamatan Pangandaran, Kecamatan Sidamulih, Kecamatan Parigi, Kecamatan Cijulang, dan Kecamatan Cimerak.

Kecamatan Pangandaran secara geografis berada pada koordinat 1080

41’ – 108.400 Bujur Timur dan 070 41’ – 070 50’ Lintang Selatan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah utara : Kecamatan Padaherang; b. Sebelah selatan : Samudera Hindia; c. Sebelah timur : Kecamatan Kalipucang; d. Sebelah barat : Kecamatan Sidamulih.

Luas wilayah Kecamatan Pangandaran mencapai 61 Km2 dengan luas laut mencapai 13 320 Ha yang merupakan 19.78% dari luas laut pada Kabupaten Ciamis. Kecamatan ini terdiri dari delapan desa yang terbagi menjadi

desa bukan pesisir dan desa pesisir. Desa bukan pesisir diantaranya Desa Sukahurip, Desa Purbahayu, Desa Pagergunung, dan Desa Sidomulyo, sedangkan desa yang merupakan desa pesisir yaitu Desa Babakan, Desa Pangandaran, Desa Pananjung, dan Desa Wonoharjo.

Tanggal 17 Juli 2006 di Kabupaten Ciamis terjadi gempa berkekuatan 5.9 skala Richter dengan pusat gempa di laut selatan pulau Jawa yang Mengakibatkan Tsunami di beberapa kecamatan di Ciamis, antara lain di Kecamatan Pangandaran, Kalipucang, Parigi, Cijulang, Cimerak. Daerah yang paling banyak mengalami kerusakan adalah di Kecamatan Pangandaran. Peristiwa ini menimbulkan korban yaitu korban meninggal dunia 227 orang dan luka-luka 464 orang (Sudomo 2006). Tanggal 2 September 2009, terjadi gempa bumi di Samudera Hindia selatan Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan informasi BMKG, pusat gempabumi berada pada koordinat 8.24° LS dan 107.32°BT, dengan magnituda 7.3 SR (Skala Richter) pada kedalaman 30 Km. Goncangan gempa bumi tersebut terasa di wilayah pantai selatan Provinsi Jawa Barat, sebagian besar kota Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung dan Jakarta (Anonim 2009e). Berdasarkan data tersebut, Desa pangandaran merupakan desa yang rawan bencana.

Secara umum Pangandaran beriklim tropis dengan dua musim yaitu musim kemarau (musim timur) dan musim hujan (musim barat) dengan curah hujan rata-rata per tahun sekitar 1 647 mm, kelembaban udara antara 85-89% dengan suhu berkisar antara 20-30 (0C). Musim timur dan musim barat secara langsung akan mempengaruhi musim penangkapan ikan di perairan Pangandaran. Pada musim barat biasanya nelayan enggan melaut karena gelombang yang tinggi dan angin yang kencang. Pada musim barat ini biasanya yang termasuk dalam kategori rawan bencana.

Musim berdasarkan jumlah tangkapan menurut nelayan di Desa Pangandaran ada tiga yaitu musim paceklik (Januari-Juni), musim biasa (Juli-September), dan musim panen (Oktober-Desember). Pada saat musim paceklik, hasil tangkapan nelayan sangat sedikit, bahkan beberapa nelayan tidak melaut. Saat musim biasa, hasil tangkapan sedang dan pada musim panen, hasil tangkapan sangat melimpah. Isteri dari nelayan biasanya membuat dan menjual ikan asin. Hasil dari penjualan ikan asin tergantung kepada musim karena ketersediaan bahan baku (ikan) pun berdasarkan musim.

Nelayan juragan mempunyai perahu antara satu sampai tiga buah perahu. Tidak ada nelayan yang mempunyai kapal. Sedangkan untuk jumlah alat tangkap berkisar antara 1 sampai 500 buah. Alat tangkap yang dimiliki contoh ada delapan jenis yaitu jaring ciker untuk menangkap udang berukuran kecil, jaring jogol untuk menangkap udang berukuran besar, jaring brenong untuk menangkap lobster, jaring sirang 2 inch untuk menangkap ikan layur, jaring sirang 5 inch untuk menangkap ikan bawal, kakap, dan tuna, alat tangkap pancing atau rawe untuk menangkap semua ikan, jaring arat berupa jaring yang sangat rapat untuk menangkap semua ikan, dan alat tangkap cedok untuk menangkap kerang. Jenis jaring yang dimiliki oleh sebagian besar contoh adalah jaring ciker, jogol, brenong, sirang 2 inch, dan sirang 4 inch. Jenis jaring yang jarang dimiliki oleh contoh adalah pancing (rawe), arat, dan cedok.

Desa Pangandaran

Desa Pangandaran merupakan salah satu desa di pesisir yang memiliki luas wilayah 667.87 Ha dengan luas daratan 137.87 Ha dan luas pegunungan 530 Ha. Adapun batas-batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah utara : Desa Babakan/ Sungai Cikidang; b. Sebelah selatan : Samudera Hindia;

c. Sebelah timur : Samudera Hindia; d. Sebelah barat : Desa Pananjung.

Sarana dan Prasarana

Dalam dokumen SOSIAL, DAN DI DAERAH RAWAN BENCANA (Halaman 46-117)

Dokumen terkait