HUBUN
SOS
NGAN AN
SIAL, DAN
NTAR KEL
N KESEJA
LENTING
AHTERA
GAN KELU
AAN KELU
UARGA, D
UARGA N
DUKUNG
NELAYAN
AN
N
DI DAERA
AH RAWA
AN BENC
CANA
RAHM
MA NUR P
PRAPTIWI
DEPARRTEMEN ILMU KELUAARGA DANN KONSUMEN FAKULTTAS EKOLOOGI MANUSIA
INSITITUUT PERTANIAN BOGGOR 20099
RAHMA NUR PRAPTIWI. The Correlation between Family Resilience, Social
Support, and Fisherman Family Welfare at Disaster Gristle Region. Under Supervised by EUIS SUNARTI and ISTIQLALIYAH MUFLIKHATI
Fisherman family is constitute vulnerable family because living at disaster gristle region as coast. Facing region that disaster gristle, fisherman shall have family robustness that one of part it is family resilience. To strengthen family resilience needed by social support of a variety part as family, neighbour, and government or society institute. Social support of various part will help most composes it family resilience in face crisis so will increase welfare. To the effect of observational it is subject to be elaborate fisherman family robustness especially analyze relationship among family resilience, social support and well-being fisherman family at disaster gristle region. The research methods is cross
sectional study with 80 sample utilize proportional random sampling. Analysis
data that is utilized Independent Sample's difference T-test to see the difference among manager fisherman family and labour, factor analysis, and Pearson's correlation. Key process on family resilience is family belief system, organizational pattern, and communication process. The third key process of family resilience on fisherman family comprises high. It may because of sensory accept or defenseless, easy access and dependable information society which high. In common, fisherman family resilience includes in high category. Have no distinctive on family resilience zoom that significantly among manager fisherman family and labour. According to factor analysis, prescriptive factors family resilience is family belief system, organizational pattern and communication process. Making meaning of diversity, positive outlook, trancendence and spirituality, conectedness, and open emotional sharing are family belief systems factor. Clarity and collaborative problem solving are communication process factor.
RAHMA NUR PRAPTIWI. Hubungan Antar Kelentingan Keluarga, Dukungan
Sosial dan Kesejahteraan Keluarga Nelayan di Wilayah Rawan Bencana Alam. Dibimbing Oleh EUIS SUNARTI dan ISTIQLALIYAH MUFLIKHATI
Keluarga nelayan merupakan keluarga yang rentan karena tinggal di daerah rawan bencana seperti pesisir. Oleh karena itu, nelayan harus memiliki ketahanan keluarga yang salah satu bagiannya adalah kelentingan keluarga. Untuk memperkuat kelentingan keluarga dibutuhkan dukungan sosial dari berbagai pihak seperti keluarga, tetangga, pemerintah atau lembaga masyarakat. Dukungan sosial dari berbagai pihak akan membantu terciptanya daya lenting keluarga dalam menghadapi krisis sehingga akan meningkatkan kesejahteraan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji ketahanan keluarga nelayan terutama menganalisis hubungan antar kelentingan keluarga, dukungan sosial dan kesejahteraan keluarga nelayan di daerah rawan bencana.
Disain penelitian ini adalah cross sectional dan retrospektif. Metode retrospektif digunakan untuk mengetahui data tingkat kelentingan dan dukungan sebelum terjadi bencana alam serta pendapatan nelayan pada musim biasa dan panen. Pengumpulan data dilakukan di Desa Pangandaran Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis pada bulan Febuari-Maret 2009. Desa Pangandaran dipilih karena di desa tersebut memiliki banyak warga yang memiliki profesi sebagai nelayan dan termasuk dalam daerah rawan bencana. Populasi adalah nelayan yang tinggal di Desa Pangandaran. Total nelayan di Desa Pangandaran sebanyak 867 keluarga yang tersebar di 9 RW, tetapi hanya 3 RW yang penduduknya sebagian besar berprofesi nelayan, yaitu RW 3, RW 7, dan RW 9. Total contoh adalah 80 responden yang diambil secara proportional
random sampling dan terdiri dari 53 keluarga nelayan juragan dan 27 keluarga
nelayan buruh.
Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi: (1) karakteristik keluarga (umur, besar keluarga, tingkat pendidikan, lama pendidikan, pendapatan perkapita, jumlah kepemilikan aset, nilai kepemilikan aset, akses informasi, sumber informasi dan jenis informasi), (2) dukungan sosial (dukungan sosial keluarga, dukungan sosial tetangga, dukungan sosial pemerintah atau lembaga masyarakat), (3) kelentingan keluarga (sistem kepercayaan keluarga, pola organisasi, proses komunikasi) Walsh (2002), (4) kesejahteraan keluarga (kesejahteraan keluarga objektif dan kesejahteraan keluarga subjektif). Data sekunder yang dikumpulkan berupa gambaran umum lokasi penelitian.
Analisis data menggunakan komputer program Microsoft Excel 2007 dan SPSS 16. Data diolah melalui proses editing, coding, skoring, entry, cleaning, dan selanjutnya data dianalisis secara deskriptif dan dilakukan uji-uji yaitu: uji beda independent sample T-test untuk melihat adanya perbedaan variabel antara keluarga nelayan juragan dan buruh, analisis faktor untuk melihat faktor-faktor yang menentukan terhadap daya lenting dan analisis korelasi Pearson untuk melihat hubungan antar variabel yang diteliti.
Karakteristik keluarga digambarkan oleh besar keluarga, umur suami dan isteri, tingkat dan lama pendidikan, pendapatan per kapita, kepemilikan aset, akses, sumber, dan jenis informasi. Proporsi terbesar keluarga nelayan juragan (50.94%) dan keluarga nelayan buruh (74.07%) termasuk dalam keluarga kecil (≤ 4 orang). Kategori keluarga kecil banyak terlihat pada nelayan buruh. Proporsi terbesar umur contoh termasuk dalam kategori usia produktif. Umur suami
suami juragan. Lama pendidikan baik isteri maupun suami tidak tamat wajib belajar (≤9 tahun). Rata-rata lama pendidikan isteri juragan sebesar 6.09 tahun, isteri buruh 7.48 tahun, suami juragan 5.89 tahun, dan suami buruh 7.37 tahun. Rata-rata pendapatan perkapita keluarga nelayan juragan (Rp 1 191 015) lebih besar dibandingkan keluarga nelayan buruh (Rp 513 018). Hampir seluruh keluarga nelayan juragan (98.11%) dan sebagian besar nelayan buruh (81.48%) memiliki aset lebih besar dari tiga kali kebutuhan minimum per bulan. Data ini menunjukkan, apabila terjadi kekurangan atau pendapatan, aset keluarga nelayan buruh tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga dalam 3 bulan. Sebagian besar keluarga nelayan juragan (84.90%) dan buruh (77.78%) mudah memperoleh informasi. Sumber informasi sebagian besar keluarga nelayan juragan (81.13%) dan buruh (74.07%) memiliki sumber informasi dari TV. Jenis informasi yang biasa diakses adalah cuaca.
Dukungan sosial digambarkan dari dukungan sosial keluarga luas, tetangga, dan pemerintah atau lembaga masyarakat. Dukungan sosial keluarga besar dan tetangga termasuk dalam kategori tinggi, sedangkan dukungan sosial pemerintah/lembaga masyarakat pada keluarga nelayan juragan termasuk dalam kategori tinggi dan pada keluarga nelayan buruh termasuk dalam kategori rendah dan sedang. Hal ini menunjukkan hubungan antara keluarga luas dan tetangga dengan keluarga contoh di Desa Pangandaran masih erat, sedangkan dukungan pemerintah/lembaga masyarakat sebagian besar diterima oleh keluarga nelayan juragan.
Kelentingan keluarga dilihat dari proses kunci kelentingan keluarga menurut Walsh (2002) yaitu sistem kepercayaan keluarga, pola organisasi, dan proses komunikasi. Semua peubah kelentingan keluarga (sistem kepercayaan keluarga, pola organisasi, dan proses komunikasi) termasuk dalam kategori tinggi. Sistem kepercayaan keluarga terdiri dari pemaknaan terhadap kemalangan, pandangan positif, serta kesadaran dan spiritualitas. Tingginya sistem kepercayaan keluarga menandakan setiap dimensi sistem kepercayaan keluarga termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini mungkin karena perasaan menerima atau pasrah yang tinggi pada keluarga contoh. Pola organisasi terdiri dari fleksibilitas, keterkaitan, dan sumberdaya sosial dan ekonomi. Tingginya pola organisasi mungkin karena mudahnya contoh mendapatkan informasi. Proses komunikasi terdiri dari kejelasan, ekspresi emosi secara terbuka, dan kolaborasi penyelesaian masalah. Tingginya proses komunikasi mungkin karena ketergantungan dan kedekatan masyarakat yang tinggi sehingga proses komunikasi dapat berjalan baik. Berdasarkan analisis faktor, faktor yang menentukan sistem kepercayaan keluarga adalah pemaknaan terhadap kemalangan, pandangan positif, kesadaran dan spiritualitas, keterkaitan dan ekspresi emosi secara terbuka. Faktor yang menentukan pola organisasi adalah fleksibilitas dan sumberdaya sosial ekonomi. Faktor yang menentukan proses komunikasi adalah kejelasan dan kolaborasi penyelesaian masalah.
Kesejahteraan keluarga digambarkan dari kesejahteraan objektif yang diukur berdasarkan pendapatan per kapita per bulan dan kesejahteraan subjektif berdasarkan kepuasan contoh. Kesejahteraan keluarga nelayan tergantung kepada musim. Kesejahteraan objektif pada musim panen baik keluarga nelayan juragan maupun buruh termasuk dalam kategori tidak miskin, pada musim paceklik baik keluarga nelayan juragan termasuk dalam kategori sangat miskin, dan pada musim biasa keluarga nelayan juragan termasuk dalam kategori tidak miskin dan pada keluarga nelayan buruh termasuk dalam kategori sangat miskin.
kapita total per bulan dengan tingkat kelentingan keluarga. Terdapat hubungan yang positif antara dukungan sosial keluarga luas (r=0.222, p<0.05) dan dukungan sosial pemerintah (r=0.398, p<0.01) dengan tingkat kelentingan. Hal ini menunjukkan kelentingan berhubungan erat dengan pendapatan dan dukungan sosial. Terdapat hubungan yang positif antar lama pendidikan isteri dengan kesejahteraan objektif pada musim paceklik (r=0.275, p<0.05) dan biasa (r=0.228, p<0.05). Hal ini menunjukkan pendidikan berhubungan erat dengan kesejahteraan. Terdapat hubungan yang negatif antara tingkat kelentingan, sistem kepercayaan, dan proses komunikasi dengan kesejahteraan objektif pada musim paceklik. Hal ini karena kelentingan muncul saat terjadi krisis berupa pendapatan yang menurun. Terdapat hubungan yang positif antara tingkat kelentingan (r=0.362, p<0.01), sistem kepercayaan (r=0.298, p<0.05), dan proses komunikasi (r=-0.304, p<0.01) dengan kesejahteraan subjektif. Hal ini menunjukkan semakin lenting keluarga semakin tinggi rasa puas keluarga (kesejahteraan subjektif tinggi).
Hubungan yang positif pada variabel kelentingan keluarga menandakan dengan meningkatkan salah satu variabel kelentingan keluarga maka variabel kelentingan keluarga yang lainnya akan meningkat. Terdapat hubungan yang positif pada variabel-variabel dukungan sosial. Hal ini menandakan dengan meningkatkan satu variabel dukungan sosial akan meningkatkan variabel dukungan sosial yang lain. Terdapat hubungan yang negatif (p=-0.280, p<0.05) antara kesejahteraan objektif di setiap musim dengan kesejahteraan subjektif. Adanya perasaan puas (kesejahteraan subjektif tinggi) membuat mereka dapat bertahan dari krisis yang menerpa.
Tingkat kelentingan pada keluarga contoh termasuk tinggi, tetapi ada beberapa yang perlu diperbaiki seperti bagaimana membangun keamanan finansial berupa manajemen keuangan keluarga. Bagi pemerintah desa sebaiknya mengadakan penyuluhan mengenai membangun keamanan finansial, manfaat, dan cara menabung di bank. Untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan, sebaiknya pemerintah Desa Pangandaran memerhatikan kualitas pendidikan terutama pendidikan wajib belajar. Bagi Dinas Perikanan dan Kelautan sebaiknya memberikan penyuluhan, pemantauan, dan pendampingan kepada keluarga nelayan tentang bagaimana memanfaatkan sumberdaya pesisir yang terbaik agar tidak menganggu keseimbangan ekosistem sumberdaya pesisir. Kelentingan keluarga merupakan isu baru di Indonesia, maka sebaiknya diadakan penelitian lebih lanjut dan mendalam mengenai kelentingan diri maupun keluarga di tempat dan karakteristik yang berbeda. Berdasarkan hasil uji analisis faktor, sub peubah kelentingan keluarga belum sesuai dengan teori proses kunci kelentingan keluarga, sehingga untuk penelitian selanjutnya dibutuhkan elaborasi instrumen kelentingan keluarga yang lebih mendalam.
HUBUNGAN ANTAR KELENTINGAN KELUARGA, DUKUNGAN
SOSIAL, DAN KESEJAHTERAAN KELUARGA NELAYAN
DI DAERAH RAWAN BENCANA
RAHMA NUR PRAPTIWI
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Keluarga dan Konsumen pada
Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen
DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSITITUT PERTANIAN BOGOR
2009
Judul : Hubungan Antar Kelentingan Keluarga, Dukungan Sosial dan Kesejahteraan Keluarga Nelayan di Daerah Rawan Bencana
Nama : Rahma Nur Praptiwi
NRP : I24053645
Disetujui
Dr. Ir. Euis Sunarti, MS Ir. Istiqlaliyah Muflikhati, MSi Pembimbing I Pembimbing II
Diketahui
Dr. Ir. Hartoyo, MSc
Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan baik. Penelitian ini berjudul Hubungan Antar Kelentingan Keluarga, Dukungan Sosial dan Kesejahteraan Keluarga Nelayan di Daerah Rawan Bencana.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
− Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si selaku pembimbing skripsi pertama atas bimbingannya selama penulis kuliah dan menyelesaikan skripsi di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen
− Ir. Istiqlaliyah Muflikhati, MSi selaku pembimbing skripsi kedua atas bimbingan arahan dan informasinya dalam pelaksanaan dan penyelesaian skripsi ini
− Dr. Lilik Noor Yuliati, MFSA selaku dosen penguji atas saran-saran yang membangun demi penyempurnaan skripsi ini
− Staf BPS, Kesatuan Bangsa, Departemen Sosial, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Ciamis serta Staf kantor Kecamatan dan Desa Pangandaran yang sudah memberikan banyak bantuan dan informasi sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik
− Sri Rahayu, Bapak dan Ibu Sri, A’ Wanto, A’ Ian, Teh Santi dan segenap warga desa Pangandaran yang telah banyak memberikan bantuan selama penelitian.
− Ayahanda, ibunda, Fauzia, dan almarhum Arkan atas segala perhatian, motivasi, dan kasih sayangnya.
− Fitri, Christin, dan Esti sebagai teman satu penelitian, saudariku Teh Puspa dan Ka Nisa atas dukungan dan semangat yang diberikan.
− Pril, Tias, Ratna, Hani, Wati, Indri, Jantri, dan teman-teman se-kostan yang selalu menemani baik dalam suka dan duka.
− Sri Rahayu, Tante Epil, Dede Chandri, Om Febi, Mas Dayat, Novida, Ina, Nisun, Lusi, Ana, Asroheni, Ibu Endah, Jeng Shely, Jeng Ari, Wulan, Neng Tika, Dini, Anne, Nchi, Eka Wulida, Equ, Indri, Dhina, Vivi, Heni, Vina, Rani, Dinda dan semua yang telah memberikan semangat dalam penyelesaian penelitian ini.
diharapkan. Semoga hasil karya ini bisa bermanfaat luas bagi masyarakat, institusi pendidikan dan dapat memberikan masukan kepada pemerintah. Amin.
Bogor, Agustus 2009
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Sleman, Yogyakarta pada tanggal 13 Januari 1988 dari pasangan Drs Tri Widjatmaka, SE.ME dan Dra Praptilah. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
Penulis memulai pendidikan dari TK Aisyiah 1 Depok pada tahun 1992, setelah itu melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Depok Baru III dari tahun 1993 sampai lulus pada tahun 1999. Setelah itu penulis melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri (SLTPN) 2 Depok dari tahun 1999 sampai lulus pada tahun 2002, kemudian penulis meneruskan ke Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Depok sampai lulus pada tahun 2005.
Selepas lulus dari SMA tahun 2005, penulis berhasil diterima di IPB (Institut Pertanian Bogor) melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di Institut Pertanian Bogor. Setelah mengikuti Tahap Persiapan Bersama (TPB) selama 1 tahun, akhirnya penulis diterima di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten mata kuliah Dasar-Dasar Komunikasi selama 3 semester sejak tahun ajaran 2007/2008 sampai tahun ajaran 2008/2009. Selain itu, penulis pun mendapat beasiswa PPA sejak tahun 2008 sampai 2009. Penulis merupakan bendahara dari klub konsumen, anggota klub bahasa Inggris, anggota klub tumbuh kembang anak, dan tim editing pada Creakkr’z (mading mahasiswa IKK) Himpunan Mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen pada tahun 2007-2008. Pada tahun 2008, peneliti merupakan Dirjen Ekologi Departemen Kebijakan Publik dan Ekologi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia IPB.
DAFTAR TABEL……….. xii
DAFTAR GAMBAR………... xiv
DAFTAR LAMPIRAN……….. xv PENDAHULUAN………. Latar Belakang………... Perumusan Masalah………. Tujuan Penelitian...………... Kegunaan Penelitian...………. 1 1 3 4 4 TINJAUAN PUSTAKA………... Bencana Alam……….. Nelayan...………... Dukungan Sosial...………... Kelentingan...………. Kesejahteraan Keluarga………... Karakteristik Keluarga…...………... 5 5 7 10 13 16 23 KERANGKA PEMIKIRAN……….. 28 METODE PENELITIAN……….. Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian……….. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh……….. Jenis dan Cara Pengumpulan Data……….………... Pengolahan dan Analisis Data………. Definisi Operasional……….. 31 31 31 32 34 38 HASIL DAN PEMBAHASAN... 42
Gambaran Umum Lokasi... 42
Karakteristik Keluarga... 46
Besar Keluarga... 46
Umur... 47
Tingkat dan Lama Pendidikan... 47
Pendapatan Per Kapita... 49
Kepemilikan Aset... 51
Sumber, Jenis, dan Jumlah Informasi... 52
Dukungan Sosial... 53
Tingkat Kelentingan Keluarga Nelayan... 58
xi
Proses Komunikasi... 69
Tingkat Kelentingan Keluarga... 74
Perubahan Tingkat Kelentingan Keluarga... 75
Analisis Faktor Kelentingan Keluarga... 76
Kesejahteraan Keluarga... 77
Kesejahteraan Objektif... 77
Kesejahteraan Subjektif... 79
Hubungan Antar Variabel... 82
Hubungan antara Kelentingan Keluarga dengan Karakteristik Keluarga dan dukungan Sosial... 82 Hubungan antara Karakteristik Keluarga dengan Kelentingan Keluarga... 82 Hubungan antara Kelentingan Keluarga dengan Dukungan Sosial... 84 Hubungan Kesejahteraan Keluarga dengan Karakteristik dan Kelentingan Keluarga... 86 Hubungan karakteristik Keluarga dengan Kesejahteraan Keluarga... 86 Hubungan Kelentingan Keluarga dengan Kesejahteraan Keluarga... 87 Hubungan antar Variabel Kelentingan Keluarga... 88
Hubungan antar Variabel Dukungan Sosial... 89
Hubungan antara Kesejahteraan Objektif dengan Kesejahteraan Subjektif... 90 KESIMPULAN DAN SARAN... 92
Kesimpulan... 92
Saran... 93
DAFTAR PUSTAKA……… 95
1 Peubah, skala, responden, alat dan cara pengukuran ……….. 33
2 Pengkatagorian data penelitian ...………. 35
3 Struktur kuesioner kelentingan keluarga... 41
4 Sebaran contoh menurut kategori besar keluarga... 46
5 Sebaran contoh menurut kategori umur suami-isteri... 47
6 Sebaran contoh menurut kategori tingkat pendidikan suami-isteri... 48 7 Sebaran contoh menurut kategori lama pendidikan suami-isteri... 49 8 Sebaran contoh menurut kategori pendapatan per kapita... 50 9 Sebaran contoh menurut kategori kepemilikan aset dibandingkan dengan pendapatan per kapita... 51 10 Sebaran contoh menurut kategori akses, sumber, dan jenis informasi... 53 11 Sebaran contoh menurut dukungan sosial berdasarkan kategori emosi, instrumen, dan informasi... 55 12 Sebaran contoh menurut kategori dukungan sosial keluarga luas, tetangga, dan lembaga masyarakat/ pemerintah... 56 13 Sebaran contoh menurut perubahan dukungan sosial keluarga luas, tetangga, dan lembaga masyarakat/pemerintah... 57 14 Sebaran contoh menurut pemenuhan komponen sistem kepercayaan keluarga berdasarkan juragan dan buruh... 59 15 Sebaran contoh menurut pemenuhan komponen sistem kepercayaan keluarga berdasarkan keluarga sejahtera dan tidak sejahtera... 62 16 Sebaran contoh menurut kategori sistem kepercayaan keluarga 63 17 Sebaran contoh menurut pemenuhan komponen pola organisasi berdasarkan juragan dan buruh... 65 18 Sebaran contoh menurut pemenuhan komponen pola organisasi berdasarkan keluarga sejahtera dan tidak sejahtera 67 19 Sebaran contoh menurut kategori pola organisasi... 68
20 Sebaran contoh menurut pemenuhan komponen proses komunikasi berdasarkan keluarga juragan dan buruh... 70 21 Sebaran contoh menurut pemenuhan komponen proses komunikasi berdasarkan keluarga sejahtera dan tidak sejahtera 72 22 Sebaran contoh menurut kategori proses komunikasi... 73
23 Sebaran contoh menurut kategori total tingkat kelentingan keluarga... 75 24 Sebaran contoh menurut perubahan kelentingan keluarga... 75 25 Sebaran contoh menurut analisis faktor kelentingan keluarga.... 76 26 Sebaran contoh menurut kategori pendapatan perkapita per
musim dalam 1 tahun terakhir...
78
xiii 29 Sebaran koefisien korelasi karakteristik keluarga dengan tingkat
kelentingan keluarga...
82 30 Sebaran koefisien korelasi kelentingan keluarga dengan
dukungan sosial...
84 31 Sebaran koefisien korelasi karakteristik keluarga dengan
kesejahteraan keluarga...
86 32 Sebaran koefisien korelasi kelentingan keluarga dengan
kesejahteraan keluarga...
88 33 Sebaran contoh menurut koefisien korelasi antar variabel
kelentingan keluarga...
89 34 Sebaran koefisien korelasi antar variabel dukungan sosial... 90
xiv 1 Bagan Kerangka pemikiran……….. 30 2 Bagan Cara penarikan contoh………. 32
xv 1a Gambar Lokasi Penelitian...………... 99 1b Gambar Rumah Nelayan... 99 2 Analisis Faktor Kelentingan Keluarga... 100
Perubahan iklim yang terjadi pada beberapa tahun terakhir merupakan sebab terjadinya bencana alam yang akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara paling rentan di dunia karena kondisi geografis Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa dan berada pada pertemuan tiga lempeng utama dunia yaitu Indo Australia, Eurasia dan Pasifik yang merupakan daerah yang sangat rawan terhadap bencana alam. Bencana alam begitu beruntun menimpa Indonesia, seperti tanah longsor, banjir, gempa bumi hingga tsunami menimpa berbagai daerah dari Indonesia bagian barat sampai timur. Begitu beruntunnya bencana yang terjadi sehingga pemulihan suatu daerah yang terkena bencana alam belum selesai atau bahkan belum tertangani dengan baik sudah disusul adanya bencana di daerah lainnya.
Daerah pesisir pantai merupakan daerah yang rawan bencana. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang 81 000 Km, Indonesia memiliki kawasan pesisir yang sangat luas (Savitri & Khazali 1999). Dari 67 439 desa, kurang lebih 9261 desa dikategorikan sebagai desa pesisir yang sebagian besar penduduknya miskin. Diperkirakan 22% jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 41 juta jiwa tinggal dan hidup di wilayah pesisir yang mata pencahariannya memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di daerah pesisir baik sebagai nelayan ataupun petani tambak (Nurududja, Aminah, & Sukarman 2007).
Letak wilayah pesisir yang secara geografis berada diantara daratan dan lautan, mengakibatkan daerah pesisir sangat dinamis dan rentan terhadap bencana. Bencana alam rutin seperti gelombang pasang bahkan bencana alam yang menghancurkan seperti tsunami, angin puting beliung, dan banjir merupakan risiko bagi penduduk yang tinggal di pesisir pantai. Penduduk yang tinggal di pesisir pantai umumnya nelayan yang sumber pendapatannya tergantung pada kondisi laut. Laut yang serba dinamis itu memiliki risiko yang harus dihadapi nelayan untuk bertahan hidup.
Menghadapi alam yang dinamis tersebut, nelayan harus memiliki ketahanan keluarga. Salah satu bagian dari ketahanan keluarga adalah daya lenting baik dari individu maupun keluarga. Semakin lenting suatu keluarga diharapkan keluarga tersebut semakin tahan terhadap tekanan seperti bencana. Daya lenting keluarga terbentuk dari daya lenting individu yang baik. Untuk memperkuat daya lenting dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak, seperti
keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Dukungan sosial dari berbagai pihak seperti keluarga, masyarakat, dan pemerintah mempunyai pengaruh yang kuat, karena dapat mempengaruhi seseorang dalam menyelesaikan masalah.
Rumah tangga nelayan termasuk dalam kategori miskin, di samping rumah tangga petani sempit, buruh tani, dan pengrajin (Sayogyo 1978;1991 dalam Sitorus 1993). Kemiskinan nelayan disebabkan kurangnya akses modal, teknologi yang tertinggal apalagi melawan nelayan asing yang serba modern, peluang pasar yang terbatas karena produk tak berkualitas, dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya laut. Populasi ikan tangkapan terutama di Laut Jawa semakin menurun, sehingga daerah tangkapan (fishing ground) semakin jauh dari pantai yang menyebabkan biaya operasional dan resiko lebih tinggi, sedang hasil tak memadai (Anonim 2009b).
Menurut Damanhuri (2000) potensi sumberdaya perikanan laut diperkirakan sebesar 6.6 juta ton/tahun yang terdiri dari 4.5 juta ton perairan nusantara, dengan pemanfaatan sekitar 38 persen dan 2.1 juta ton/tahun dari perairan zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) dengan pemanfaatan sekitar 20 persen. Menurut Afifi (2000), pada tahun 1997 kontribusi sumberdaya sektor kelautan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya 12.4 persen (Rp 56 triliun). Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan potensi pembangunan kelautan yang dimiliki. Bila dibandingkan dengan negara seperti Thailand, Korea Selatan, RRC, Jepang, dan Denmark yang luas lautnya lebih kecil dari Indonesia, mereka memiliki kontribusi sektor kelautan di atas 30 persen. Hal tersebut menunjukkan masih rendahnya produktivitas pemanfaatan sumberdaya kelautan yang sebenarnya sangat kaya dan potensial. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kemampuan nelayan memanfaatkan dan mengelola sumberdaya pesisir kurang.
Hasil yang tidak sepadan dengan biaya operasional menyebabkan fenomena kemiskinan pada keluarga nelayan, terutama pada keluarga nelayan buruh yang tidak mempunyai aset berupa perahu dan alat tangkap. Kemiskinan nelayan atau rendahnya kesejahteraan mengakibatkan nelayan tidak dapat memanfaatkan potensi pesisir dengan memperbarui teknologi sehingga tidak dapat bersaing dengan nelayan asing yang memiliki teknologi yang lebih canggih. Dukungan dari masyarakat dan pemerintah berupa program-program pemberdayaan masyarakat seperti perhatian terhadap pendidikan keluarga nelayan akan memperbaiki kesejahteraan keluarga nelayan.
Perumusan Masalah
Sejumlah bencana alam tragis menimpa Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini. Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis (2008) melaporkan bahwa selama tahun 2007 terjadi lima kali bencana alam di Kecamatan Pangandaran, yaitu satu kali kebakaran dan empat kali angin kencang. Angin kencang yang terjadi seringkali berdampak pada aktifitas melaut, berupa berkurangnya jam melaut.
Bencana alam tidak hanya membawa kesedihan karena kehilangan nyawa, kerusakan harta benda dan infrastruktur penting, tetapi juga menyebabkan trauma pada orang-orang yang terkena bencana alam. Masyarakat miskin termasuk penduduk yang tinggal di pesisir seringkali menjadi yang paling menderita akibat bencana alam.
Untuk mengatasi trauma dan bangkit dari tekanan berupa bencana alam dibutuhkan daya lenting yang cukup tinggi. Daya lenting ini baik daya lenting individu maupun keluarga seharusnya dipelajari dan diterapkan di keluarga karena keluarga merupakan wadah pembelajaran pertama dan utama dari seseorang. Menurut Sunarti (2001), keluarga sebagai institusi pertama dalam pembangunan SDM dilandasi oleh teori lingkungan pembelajaran Brofenbrenner. Keluarga sebagai institusi utama dalam pengembangan SDM dilandasi oleh kenyataan bahwa di keluargalah aktivitas utama kehidupan berlangsung. Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka masalah-masalah dapat didentifikasikan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah perbedaan karakteristik, dukungan sosial, kelentingan dan kesejahteraan keluarga nelayan juragan dan buruh di daerah rawan bencana?
2. Bagaimanakah perbedaan perubahan tingkat kelentingan dan dukungan sosial sebelum dan sesudah terjadinya bencana pada keluarga nelayan juragan dan buruh?
3. Apakah dukungan sosial dan karakteristik keluarga berhubungan dengan daya lenting keluarga nelayan di daerah rawan bencana?
4. Adakah hubungan antar karakteristik dan kelentingan keluarga dengan kesejahteraan keluarga nelayan di daerah rawan bencana?
5. Adakah hubungan antar variabel kelentingan keluarga dan dukungan sosial keluarga nelayan di daerah rawan bencana?
6. Apakah kesejahteraan objektif berhubungan dengan kesejahteraan subjektif keluarga nelayan di daerah rawan bencana?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Mengkaji ketahanan keluarga nelayan terutama menganalisis hubungan antar kelentingan keluarga, dukungan sosial dan kesejahteraan keluarga nelayan di daerah rawan bencana.
Tujuan Khusus:
1. Membedakan karakteristik, dukungan sosial, kelentingan dan kesejahteraan keluarga nelayan juragan dan buruh di daerah rawan bencana
2. Membedakan perubahan tingkat kelentingan dan dukungan sosial sebelum dan sesudah terjadinya bencana pada keluarga nelayan juragan dan buruh 3. Menganalisis hubungan dukungan sosial dan karakteristik keluarga dengan
kelentingan keluarga nelayan di daerah rawan bencana
4. Menganalisis hubungan karakteristik dan kelentingan keluarga dengan kesejahteraan keluarga nelayan di daerah rawan bencana
5. Menganalisis hubungan antar variabel kelentingan keluarga dan dukungan sosial keluarga nelayan di daerah rawan bencana
6. Menganalisis hubungan antara kesejahteraan objektif dengan kesejahteraan subjektif keluarga nelayan di daerah rawan bencana
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna untuk:
1. Sarana untuk mengembangkan diri dan memperluas pengetahuan serta wawasan peneliti.
2. Bahan masukan bagi pemerintah dan pihak terkait yang peduli dengan keluarga, sehingga akan bermanfaat bagi pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia.
3. Pengembangan IPTEK di Indonesia terutama yang berkaitan dengan keluarga
4. Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca serta berguna sebagai literatur bagi penelitian selanjutnya.
Bencana Alam
Bencana alam adalah sebuah kejadian atau serangkaian kejadian yang mengancam dan menganggu kehidupan dan penghidupan orang, yang disebabkan baik oleh faktor alam dan non alam atau faktor manusia, mengakibatkan jatuhnya korban, kerusakan ekologi, kerugian harta benda, dan dampak-dampak psikologi (Pasal 1 Undang-Undang bencana alam No 24 tahun 2007, diacu dalam Prakoso 2008)
Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka (Bankoff et al. 2003, diacu dalam Anonim 2009c).
Menurut BPPN (2006) bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan bencana antara lain:
1. Bahaya alam (natural hazards) dan bahaya karena ulah manusia (man-made
hazards) yang menurut United Nations International Strategy for Disaster
reduction (UN-ISDR) dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards), bahaya biologi (biological hazards), bahaya teknologi (technological hazards) dan penurunan kualitas lingkungan (enviromental degradation)
2. Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kawasan berisiko bencana
3. Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat
Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng benua Asia, benua Australia, lempeng samudera Hindia, dan samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari pulau Sumatra – Jawa – Nusa Tenggara - Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan daratan rendah yang sebagian didominasi rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti
letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari sepuluh kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold 1986, diacu dalam BPPN 2006)
Gempa bumi yang disebabkan karena interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan gelombang pasang apabila terjadi di samudra. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi pergerakan lempeng tektonik ini, Indonesia sering mengalami tsunami. Tsunami yang terjadi di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya (Puspito 1994 diacu dalam BPPN 2006). Selama kurun waktu 1600-2000 terdapat 105 kejadian tsunami yang 90 persen diantaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9 persen oleh letusan gunung berapi, dan 1 persen oleh tanah longsor (Latief et al. 2000 diacu dalam, BPPN 2006).
Wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana tsunami terutama pantai barat Sumatera, pantai selatan pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya dan hampir seluruh pantai di Sulawesi. Laut Maluku adalah daerah yang paling rawan tsunami. Dalam kurun waktu tahun 1600-2000, di daerah ini telah terjadi 32 tsunami yang 28 diantaranya dikibatkan oleh gempa bumi dan 4 oleh meletusnya gunung berapi di bawah laut (BPPN 2006).
Kejadian bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Data bencana dari BAKORNAS PB (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana) menyebutkan bahwa antara tahun 2003-2005 telah terjadi 1429 kejadian bencana, dimana bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang paling sering terjadi yaitu 53.3 persen dari total kejadian bencana di Indonesia. Dari total bencana hidrometeorologi, yang paling sering terjadi adalah banjir (34.1 persen dari total kejadian bencana di Indonesia) diikuti oleh tanah longsor (16 persen). Meskipun frekuensi kejadian bencana geologi (gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi) hanya 6.4 persen, bencana ini telah menimbulkan kerusakan dan korban jiwa yang besar (BPPN 2006).
Indonesia memiliki banyak wilayah yang rawan bencana, baik bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. Bencana dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti kondisi geografis, geologis, iklim,
maupun faktor-faktor lain seperti keragaman sosial, budaya, dan politik. (BPPN 2006)
Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar. Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan atau kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster
resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem
dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar apabila diimbangi dengan ketahanan terhadap bencana yang cukup (Anonim 2009c)
Nelayan
Masyarakat pesisir memiliki kehidupan yang khas, yang dihadapkan langsung dengan keadaan ekosistem yang keras, dan sumberdaya kehidupan yang bergantung pada pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut (SDP). Masyarakat pesisir, khususnya nelayan, masih terbelit oleh persoalan kemiskinan, keterbelakangan, dan kesulitan mengakses berbagai layanan publik. Terdapat persoalan tertentu yang terkait dengan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi sehingga masyarakat di kawasan pesisir masih tertinggal (Hanson, 1984, diacu dalam Amanah et al. 2006).
Nelayan sering didefinisikan sebagai orang yang melakukan kegiatan penangkapan ikan di laut (Satria 2002). Nelayan adalah istilah bagi orang-orang yang sehari-harinya bekerja menangkap ikan atau biota lainnya yang hidup di dasar, kolom maupun permukaan perairan. Perairan yang menjadi daerah aktivitas nelayan ini dapat merupakan perairan tawar, payau maupun laut. Di negara-negara berkembang seperti di Asia Tenggara atau di Afrika, masih banyak nelayan yang menggunakan peralatan yang sederhana dalam menangkap ikan. Nelayan di negara-negara maju biasanya menggunakan peralatan modern dan kapal yang besar yang dilengkapi teknologi canggih (Anonim 2009d).
Ditjen Perikanan (2002), diacu dalam Satria (2002) mendefinisikan nelayan sebagai orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi
penangkapan ikan atau binatang air lainnya atau tanaman air. Orang yang hanya melakukan pekerjaan seperti membuat jaring atau mengangkut alat-alat perlengkapan ke dalam perahu atau kapal tidak dikatagorikan sebagai nelayan. Sementara itu, ahli mesin dan juru masak yang bekerja di atas kapal penangkap disebut sebagai nelayan meskipun mereka tidak secara langsung melakukan penangkapan ikan. Sama dengan penangkapan ikan, pada kegiatan pembudidayaan, orang yang disebut sebagai petani ikan adalah orang yang melakukan pekerjaan pemeliharaan ikan sebagai anggota rumah tangga maupun buruh/tenaga kerja.
Selanjutnya Ditjen Perikanan (2002), diacu dalam Satria (2002) mengklasifikasikan nelayan berdasarkan waktu yang digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan/pemeliharaan, yaitu:
i. Nelayan/petani ikan penuh adalah orang yang seluruh waktu kerjanya digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan/pemeliharaan ikan/binatang air lainnya/tanaman air.
ii. Nelayan/petani ikan sambilan utama adalah orang yang sebagian besar waktu kerjanya digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan/pemeliharaan ikan/binatang air lainnya/tanaman air. Disamping melakukan pekerjaan penangkapan/pemeliharaan, nelayan kategori ini dapat mempunyai pekerjaan lain.
iii. Nelayan/petani ikan sambilan tambahan adalah orang yang sebagian kecil waktu kerjanya digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan/pemeliharaan ikan/binatang air lainnya/tanaman air.
Eidman (1991), diacu dalam Anonim (2009d) membagi nelayan ke dalam dua kategori, yaitu nelayan penggarap dan nelayan pemilik atau disebut patron klien. Kuatnya ikatan patron-klien tersebut merupakan konsekuensi dari sifat kegiatan penangkapan ikan yang penuh risiko dan ketidakpastian. Bagi nelayan, menjalin ikatan dengan patron merupakan langkah yang penting untuk menjaga kelangsungan kegiatannya karena pola patron-klien merupakan institusi jaminan sosial ekonomi. Hal ini terjadi karena hingga saat ini nelayan belum menemukan alternatif institusi yang mampu menjamin kepentingan sosial ekonomi mereka (Satria et al. 2002).
Tentang hubungan patron-klien ini, Legg (1983) dalam Masyhuri (1999), diacu dalam (Satria et al. 2002) mengungkapkan bahwa tata hubungan patron-klien umumnya berkaitan dengan:
1. Hubungan diantara pelaku yang menguasai sumberdaya yang tidak sama 2. Hubungan yang bersifat khusus yang merupakan hubungan pribadi yang
mengandung keakraban
3. Hubungan yang didasarkan pada asas saling menguntungkan
Mekanisme tersebut seolah merupakan tata hubungan yang “saling menguntungkan”. Namun berdasarkan hasil-hasil studi, derajat keuntungannya berbeda. Patron lebih banyak mengambil keuntungannya dibandingkan klien. Ini sesuai dengan hasil studi Masyhuri (1999) yang mengungkapkan bahwa mekanisme hubungan tersebut seringkali bersifat eksploitatif dan sengaja dipelihara oleh patron. Ini merupakan sisi negatif dari pola patron klien. Dikatakan pula bahwa pola ini juga bersifat positif karena mampu mendorong mobilitas vertikal nelayan (Satria et al. 2002). Menurut Satria (2001), pola patron-klien terus terjadi dalam komunitas nelayan karena memang belum ada institusi formal yang mampu berperan sebagai patron.
Pada saat ini, setidaknya terdapat 2 juta rumah tangga yang menggantungkan hidupnya dari sektor perikanan. Dengan asumsi, tiap keluarga nelayan beranggotakan 6 orang, maka terhitung 12 juta jiwa keluarga besar kaum nelayan. Kondisi mereka amat memilukan. Pada tahun 2002, partisipasi sekolah anak-anak nelayan untuk tingkat SLTP baru mencapai 60% dan tingkat SLTA 30%. Kesehatan mereka juga buruk, banyak mengalami kekurangan gizi, infeksi saluran pernapasan, dan wabah diare akibat sanitasi buruk dan air bersih yang langka (Anonim 2009b).
Ciri khusus warga nelayan memanfaatkan wilayah pantai dan pesisir sebagai faktor produksi dan bersosialisasi (common property). Padahal saat ini banyak kawasan pantai dan pesisir yang tercemari limbah. Jam kerja nelayan juga mengikuti siklus cuaca, rata-rata hanya bekerja 20 hari dalam sebulan. Selebihnya menganggur. Pekerjaan menangkap ikan di laut tentu penuh resiko, apalagi dalam cuaca buruk, sementara mereka tak punya jaminan sosial sama sekali. Sehingga kelangsungan hidup keluarga selalu terancam bahaya (Anonim 2009b).
Tak heran jika dalam stratifikasi sosial, kaum nelayan menjadi penghuni kelas terbawah dengan kemiskinan dan keterbelakangan yang dihadapinya, meski mereka menjadi penyumbang lebih dari 90 persen produksi perikanan nasional
.
Hingga saat ini, aktivitas ekonomi perikanan yang sangat didominasi oleh nelayan kecil dan tradisional dengan tingkat pendidikan yang rendahsehingga tingkat teknologi, inovasi dan penyerapan informasi menjadi rendah, produktivitasnya kemudian menjadi rendah (Damanhuri 2000).
Kemiskinan nelayan disebabkan kurangnya akses modal, teknologi yang tertinggal, apalagi melawan nelayan asing yang serba modern. Peluang pasar yang terbatas karena produk tak berkualitas, disamping rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya laut. Populasi ikan tangkapan, terutama di Laut Jawa, semakin menurun. Sehingga daerah tangkapan (fishing
ground) semakin jauh dari pantai, menyebabkan biaya operasional dan resiko
lebih tinggi, sedang hasil tak memadai (Anonim 2009b).
Dukungan Sosial
Dukungan sosial adalah pemenuhan dari orang lain pada pemenuhan kebutuhan dasar untuk kesejahteraaan. Untuk teori lain, dukungan sosial adalah pemenuhan pada spesifikasi kebutuhan yang tidak terbatas yang timbul bahwa hasil dari merugikan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi didalam kehidupan atau keadaan. Dukungan sosial diasumsikan bahwa orang harus mempercayai orang lain untuk mendapatkan kebutuhan dasar tertentu. (Cutrona & Carolyn 1996).
Dukungan sosial dibutuhkan untuk bertahan dari sikap negatif dan untukmembentuk komunitas baru. Dukungan sosial menurunkan kecemasan dan pengasingan sosial, mengurangi penghindaran dan rasa malu, mengembalikan kepercayaan pada komunitas dan membangun keluarga yang padu (Armour (2007), diacu dalam Greene (2007).
Manusia sebagai individu dalam kehidupannya dihadapkan dengan berbagai hal yang menyangkut kepentingan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap orang memerlukan bantuan atau pertolongan dari orang lain atau sumber-sumber dukungan sosial. Dukungan sosial tidak selamanya tersedia pada diri sendiri melainkan harus diperoleh dari orang lain yakni keluarga (suami atau isteri), saudara atau masyarakat (tetangga) dimana orang itu berada. Dukungan sosial sangat dibutuhkan oleh setiap orang dalam menjalani kehidupannya, juga bagi keluarga dalam menjalani kehidupan perkawinannya bagi pelaksanaan pengasuhan anak, Gottlieb (1985), diacu dalam Tati (2004) mengatakan bahwa dukungan sosial merupakan tindakan alamiah sebagai sumberdaya lingkungan yang secara erat berkaitan dengan interaksi sosial.
Kendig (1986), diacu dalam Tati (2004) mendefinisikan dukungan sosial sebagai kesenangan, bantuan atau keterangan yang diterima seseorang melalui hubungan formal dan informal dengan yang lain atau kelompok. Djakarsih (1987), diacu dalam Tati (2004) mengartikan dukungan sosial adalah sejumlah orang dengan siapa ia berinteraksi, frekuensi hubungan dengan orang lain atau persepsi individu tentang kecukupan hubungan pribadi, pertukaran informal atau material, tersedianya suatu kepercayaan dan kepuasan kebutuhan dasar. Di dalam ensiklopedi sosiologi dukungan sosial diartikan sebagai pemberian dukungan emosional dan informasi atau dukungan materi oleh orang lain atau lingkungan sosial kepada seseorang individu yang mengalami beberapa kesulitan atau masalah. Sarafino (1996), diacu dalam Tati (2004) mengartikan dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, penghargaan atau bantuan yang diterima individu dari orang lain, baik sebagai individu perorangan atau kelompok. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial keluarga mencakup adanya interaksi di antara anggota dan saling membantu, sehingga tetap terjalin hubungan dan menghasilkan kepuasan batin seseorang. Bentuk dukungaan sosial menurut Sarafino (1996), diacu dalam Tati (2004) adalah
Dukungan Emosi
Dukungan emosi merupakan ekspresi kasih sayang dan rasa cinta dari orang-orang di sekitar individu (Russel et al. 1994) dalam Adam (1998) diacu dalam Tati (2004). Turner (1985), diacu dalam Tati (2004) mengemukakan bahwa dukungan empati ini sangat penting dan dibutuhkan setiap individu dalam setiap periode kehidupan. Curahan perhatian yang mendalam membuat individu dapat mencurahkan perasaannya, hal ini sangat membantu kesehatan mental dan kesejahteraan individu (Mirowsky & Ross 1989, diacu dalam Tati 2004).
Dukungan Instrumen
Bentuk dukungan instrumen melibatkan bantuan langsung, misalnya berupa bantuan finansial atau bantuan dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu (Sarafino 1996, diacu dalam Tati 2004). Dukungan berupa materi atau jasa yang diberikan oleh orang lain kepada individu sebagai penerima dukungan dapat berbentuk uang, barang kebutuhan, sehari-hari atau bantuan praktis, seperti memberikan fasilitas transportasi, memberi pinjaman uang atau barang rumah
tangga lainnya, menyediakan waktu dan tenaga untuk mengasuh anak (Borgatta 1992, diacu dalam Tati 2004).
Dukungan Informasi
Dukungan informasi memungkinkan individu sebagai penerima dukungan dapat memperoleh pengetahuan dari orang lain. Pengetahuan yang diperoleh dapat berupa bimbingan, arahan, diskusi masalah maupun pengajaran suatu keterampilan (Conger 1994, diacu dalam Tati 2004). Dengan adanya informasi ini, maka individu dapat menyelesaikan masalahnya atau menambah pengetahuan baru. Hasil studi Cobb (1976), diacu dalam Tati (2004) mengemukakan bahwa pengalaman menunjukkan dukungan informasi yang menuntun seseorang pada sebuah keyakinan bahwa ia diperhatikan, dihargai, dan dinilai serta memiliki jaringan tugas-tugas yang saling menguntungkan.
Sumber-sumber dukungan sosial
Sumber dukungan sosial adalah segala sesuatu yang berjalan secara kontinu dan dimulai dari unit keluarga, kemudian bergerak secara progresif dari individu-individu anggota keluarga, dimana mereka merupakan anggota kelompok yang dianggap penting dalam memberikan dukungan sosial. Sesuai dengan pendapat Collin et al. (1993), diacu dalam Tati (2004) membagi dukungan dalam tiga elemen yang saling berhubungan, yaitu:
a. The significance other help the individual mobilize his psychological resources and master his emotion boundens
b. They share his tasks; and
c. They provide him with extra topples of money, materials, tools, skills and cognitive guidance to improve the handling of his smation.
Berdasarkan tiga elemen di atas, dapat diartikan bahwa dukungan sosial lainnya yang signifikan membantu individu memobilisasi sumber-sumber psikologisnya dan penguasaan tekanan emosionalnya, mereka membagi tugas-tugasnya dan selanjutnya mereka memberi dia dengan penyediaan uang tambahan, material, peralatan, keterampilan-keterampilan dan petunjuk yang bersifat kognitif untuk mengembangkan pengendalian situasinya. Secara operasional sumber-sumber dukungan sosial dibagi ke dalam dua golongan, yaitu:
a. Sumber dukungan informal antara lain:
1. Sumber dukungan individu seperti suami-isteri, tetangga, saudara, teman. Dukungan yang diperoleh antara lain berupa dukungan emosional, kasih sayang, nasehat, material dan informasi.
2. Sumber dukungan kelompok yaitu dari kelompok-kelompok sosial seperti kelompok PKK, BKB, Karangtaruna
b. Sumber dukungan formal, dapat diperoleh dari bidang:
1. Profesional seperti psikiatri, psikolog, pekerja sosial, atau spesialis lainnya
2. Pusat-pusat pelayanan antara lain: rumah sakit, BP4, panti sosial, atau lembaga-lembaga pelayanan lainnya.
Sumber utama dukungan sosial yang potensial terdapat dalam keluarga, sebab dalam keluarga mempunyai fungsi-fungsi dukungan tertentu yang tidak dapat berubah.
Kelentingan (Resilience)
Kelentingan merupakan salah satu yang menentukan ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga adalah kemampuan keluarga dalam mengelola masalah yang dihadapinya, berdasarkan sumberdaya yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan anggotanya. Peningkatan ketahanan keluarga menjadi penting sehubungan dengan fakta adanya variasi kemampuan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan, pelaksanaan fungsi, melalui pengelolaan sumberdaya yang dimiliki, serta kemampuan keluarga dalam pengelolaan masalah dan stres (Krysan, Moore, & Zill, diacu dalam Sunarti 2001).
Kelentingan adalah kemampuan untuk bertahan dan kembali kepada keadaan semula pada saat terjadi kemalangan. Kelentingan merupakan proses yang dinamis yang mencakup adaptasi yang positif pada saat terjadi kemalangan. (Luthar et al. 2000, diacu dalam Walsh 2002; Fraser 1997, diacu dalam Greene 2007). Penelitian menemukan peningkatan bukti pada kondisi kemalangan yang sama dapat menghasilkan perbedaan respon dan hasil (Kaufman & Ziegler 1987 diacu dalam Walsh 2002).
Kelentingan adalah kemampuan mentolerir transisi hidup dengan kompetensi yang dimiliki (Greene 2002, diacu dalam Greene 2007). Menurut Whitlatch (1996), diacu dalam Greene (2007), kelentingan adalah kemampuan untuk mengelola keadaan yang sulit.
Kelentingan dapat dilihat pada hubungan pengaruh suatu risiko dan proses yang protektif sepanjang waktu, keterlibatan diri, keluarga, dan besarnya pengaruh sosial budaya (Garmezy 1991; Masten, Best, & Garmezy, 1990; Rutter 1987; Werner 1993, diacu dalam Walsh 2002). Menurut Carmin (2005) kelentingan adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dan mengurangi atau mencegah kerugian atau kerusakan. Kelentingan sosial adalah kapasitas dari kelompok dan komunitas sosial sosial untuk sembuh atau merespon positif pada saat krisis. (e.g., Almedom 2005; Landau & Saul 2004; Omand 2005 dalam Maguire & Hagan 2007).
Kelentingan pada saat bencana adalah kemampuan untuk mencegah atau melindungi serangan dan ancaman yang memiliki banyak risiko dan kejadian. Kelentingan termasuk dalam sistem penguatan, membangun pertahanan, dan mengimplementasikan back up system, dan pengurangan kerugian (James et al. 2006). Kelentingan mencerminkan keseriusan mengembangkan kapasitas psikis pada sistem manusia untuk merespon dan kembali dari kejadian yang ekstrim. Sistem kelentingan mengurangi kemungkinan gagal; konsekuensi dari kegagalan, seperti kematian dan luka, kerusakan fisik, dan ekonomi negatif serta efek sosial; dan waktu untuk kembali (Tierniy & Bruneau 2007).
Menurut Sunarti (2007), konsep dari kelentingan keluarga adalah perubahan dari krisis. Konsep kelentingan keluarga muncul dari keadaan keluarga, seperti: campur tangan secara klinis, pencegahan dampak dari keluarga yang rentan, keluarga dengan anak cacat, keluarga dengan penyakit serius, keluarga dengan pendapatan rendah dan PHK. Kelentingan keluarga berhubungan dengan keluarga yang rentan dan bermasalah. Hal itu yang menyebabkan, kata kunci dari kelentingan adalah adanya acara-acara keluarga dan perubahan keluarga. tantangan, konflik, krisis, stress, pemulihan, trauma, terapi, penguatan keluarga dan fungsi keluarga.
Menurut Luthar et al. (2000), diacu dalam Sunarti (2007), ranah dari terapi keluarga adalah kembali memusatkan perhatian dari keluarga yang kurang ke keluarga yang kuat. Sudut pandang pokok kelentingan keluarga mengubah kekurangan, yaitu dari melihat masalah keluarga sebagai bencana dan memperbaikinya menjadi melihat hal tersebut sebagai tantangan hidup berupa kemalangan.
Teori kelentingan membantu keluarga bergerak sejak dari fokus dalam masalah keluarga sampai fokus pada ketahanan keluarga seperti aset keluarga dan sumberdaya masyarakat (Silberberg 2001, diacu dalam Greene 2007). Walsh (1998), diacu dalam Walsh (2002) menyatakan praktisi dapat menggunakan beberapa elemen model dari tiga kunci fungsi keluarga yaitu:
1. Sistem kepercayaan keluarga: keluarga mempelajari apa makna dari keluarga saat krisis. Sistem kepercayaan keluarga terdiri dari pemaknaan terhadap kemalangan, pandangan positif, dan kesadaran serta spiritualitas.
2. Pola organisasi: menelaah struktur dan dukungan keluarga. pola organisasi terdiri dari fleksibilitas, keberlanjutan, dan sumberdaya sosial ekonomi.
3. Proses komunikasi: kemampuan keluarga memecahkan masalah. Proses komunikasi terdiri dari kejelasan, ekspresi emosi secara terbuka, dan kolaborasi penyelesaian masalah.
Palmer (1997), diacu dalam Greene (2007) mendeskripsikan empat tipe kelentingan, yaitu:
1. Anomic survival: orang atau keluarga yang dapat bertahan dari gangguan
2. Regenerative resilience: dapat melengkapi usaha untuk mengembangkan
kompetensi dari mekanisme coping
3. Adaptive resilience: periode yang relatif berlanjut dari pelaksanaan
kompetensi dan strategi coping
4. Flourishing resilience: penerapan yang luas dari perilaku dan strategi coping Michalski & Watson (1999), diacu dalam Greene (2007) keluarga yang lenting dapat mempunyai karakteristik:
1. Kompeten dalam menyelesaikan masalah dan kemampuan mengambil keputusan
2. Adanya pembagian tugas dalam rumah tangga
3. Fleksibilitas dan kemampuan adaptasi untuk mencapai tujuan 4. Kemampuan komunikasi yang baik
5. Mempunyai hubungan yang konsisten dengan teman, rekan, dan sumberdaya komunitas
Konsep dari kelentingan keluarga adalah perubahan dan krisis. Prinsip dasar dari kelentingan keluarga adalah:
1. Kelentingan diri adalah pemahaman utama dan diberi keterangan pada konteks keluarga dan dunia sosial yang lebih luas, seperti saling berinteraksi pada diri, keluarga, sosial budaya, dan pengaruh institusi
2. Krisis dan stres mempengaruhi seluruh anggota keluarga, risiko tidak hanya pada ketidakberfungsian diri, tetapi juga konflik hubungan dan gangguan pada keluarga.
3. Proses mediasi keluarga sebagai dampak stres dari anggota dan dapat mempengaruhi pembelajaran dari berbagai krisis
4. Proses pencegahan dapat membantu perkembangan kelentingan dari menyeimbangkan stres dan adaptasi
5. Ketidakmampuan menyesuaikan diri memperbesar kerentanan dan risiko bagi individu dan hubungan
6. Seluruh individu dan keluarga mempunyai potensi untuk daya lenting yang lebih baik; keluarga mempunyai potensi untuk pulih dan tumbuh dari kemalangan
7. Potensi keluarga dapat memaksimalkan dorongan usaha dan memperkuat proses kunci (Walsh 1996, diacu dalam Burhan 2008; Sunarti 2007)
Kesejahteraan Keluarga
Dalam istilah umum, sejahtera menunjuk ke keadaan yang baik, kondisi manusia di mana orang-orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat dan damai. Dalam ekonomi, sejahtera dihubungkan dengan kepemilikan benda. Dalam kebijakan sosial, kesejahteraan sosial menunjuk ke jangkauan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (Anonim 2009a).
Menurut Soetjipto (1992), kesejahteraan keluarga adalah terciptanya suatu keadaan yang harmonis dan terpenuhinya kebutuhan jasmani serta sosial bagi anggota keluarga, tanpa mengalami hambatan-hambatan yang serius di dalam lingkungan keluarga, dan dalam menghadapi masalah-masalah keluarga akan mudah untuk di atasi secara bersama oleh anggota keluarga, sehingga standar kehidupan keluarga dapat terwujud. Konsep tersebut mengandung arti bahwa, kesejahteraan keluarga adalah suatu kondisi yang harus diciptakan oleh keluarga dalam membentuk keluarga yang sejahtera (Soembodo 2009).
Iskandar (2007) mendefinisikan kesejahteraan keluarga sebagai usaha untuk melepaskan diri dari segala tekanan, kesulitan, kesukaran, dan gangguan, untuk mencapai suatu keadaan yang relatif tercukupi. Kondisi tersebut dapat diraih apabila keluarga memiliki dan mengakses hal-hal seperti: pekerjaan, pendapatan, kebiasaan menggunakan pangan, KB, pendidikan, kepemilikan
aset, kondisi fisiologi, lingkungan tempat tinggal, akses lembaga finansial, dan policy regional.
Kesejahteraan menurut Sawidak (1985) diacu dalam Rambe (2004) merupakan sejumlah kepuasan yang diperoleh seseorang dari mengonsumsi pendapatan yang diterima, namun tingkatan dari kesejahteraan itu sendiri merupakan sesuatu yang bersifat relatif karena tergantung dari besarnya kepuasan yang diperoleh dari hasil mengonsumsi pendapatan tersebut. Kesejahteraan ekonomi dari suatu keluarga biasanya didefinisikan sebagai tingkat kepuasan atau tingkat pemenuhan kebutuhan yang telah diperoleh dari rumah tangga (Park 2002, diacu dalam Rambe 2004).
Sumarti (1999), diacu dalam Iskandar (2007) mendefinisikan kesejahteraan merupakan kondisi relatif yang dibentuk masyarakat melalui interaksi sosial. Lee & Hanna (1990), diacu dalam Iskandar (2007) mendefinisikan kesejahteraan sebagai total dari net worth (manfaat yang benar-benar diperoleh) dan human capital wealth (kesejahteraan sumberdaya manusia). Manfaat yang diperoleh merupakan nilai atas asset yang dimiliki dikurangi pengeluaran (liabilitas). Sedangkan kesejahteraan SDM dapat diduga melalui pendapatan yang dihasilkan oleh SDM (human capital income) yang ada saat ini, atau dihitung dari nilai pendapatan non asset. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan keluarga dipengaruhi oleh usia, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, tempat tinggal, ukuran rumah tangga, dan siklus hidup:
Usia. Kesejahteraan keluarga mempunyai hubungan yang erat dengan
usia. Kekayaan dan human capital income meningkat pada usia 55-59 tahun dan mulai menurun pada usia 59 tahun. Sebelum menikah, orang muda tidak mempunyai pendapatan dan banyak meluangkan waktu tanpa berfikir tentang masa depan. Dua puluh tahun kemudian tabungan mereka tidak cukup, sebab mereka mempunyai anak yang tentu saja memerlukan biaya yang cukup mahal. Setelah usia pertengahan mereka dapat menabung dalam jumlah yang besar setelah melepaskan anak-anak menjadi mandiri dan menurunkan belanja rutin mereka. Setelah pensiun, konsumen menarik asset untuk melengkapi penurunan pendapatan mereka. Human capital akan menurun setelah masa pensiun, sebab pendapatan lebih rendah dari sebelumnya. Oleh karena itu usia merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat kekayaan sejalan dengan persentase
pendapatan yang bisa ditabung terus dari siklus hidup dan akan menunjukkan pola akumulasi kekayaan.
Pendidikan. Kesejahteraan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan.
Terdapat hubungan yang positif antara pendidikan dengan kekayaan pada semua usia. Pada usia 65 tahun, kekayaan yang diramalkan sebesar $224,560 untuk mereka yang tingkat pendidikannya sampai kelas 8, $369,352 untuk mereka yang tingkat pendidikannya sampai kelas 12 dan $514,144 untuk mereka yang selama 16 tahun menempuh pendidikan dan $658,937 untuk mereka yang menempuh pendidikan selama 20 tahun.
Status perkawinan. Pasangan yang menikah memiliki hubungan yang
positif dengan kekayaan. Artinya, pasangan menikah bisa mengakumulasikan kekayaan bersih dan memiliki pendapatan lebih tinggi dibanding dengan orangtua tunggal dalam satu rumah tangga. Pasangan yang bercerai akan memisahkan asset mereka berdua, dan selanjutnya factor peeceraian ini akan menjadi penyebab turunnya pendapatan rumah tangga.
Pekerjaan. Terdapat hubungan yang positif antara pekerjaan dengan
tingkat kesejahteraan. Pekerjaan berpengaruh positif pada akumulasi kekayaan, sebab human capital income menggambarkan pendapatan yang diperoleh.
Tempat tinggal. Orang yang tinggal di pinggiran kota lebih memiliki
kekayaan disbanding yang tinggal di wilayah perkotaan. Orang yang tinggal di wilayah perkotaan memiliki biaya hidup yang lebih mahal dibanding dengan yang tinggal di pinggiran kota.
Jumlah anggota keluarga. Terdapat hubungan negatif antara jumlah
anggota keluarga dengan kekayaan. Ukuran rumah tangga yang besar akan mengakibatkan menurunnya kekayaan. Permintaan konsumen meningkat sejalan dengan ukuran rumah tangga yang besar pula. Jika aspek lain normal, tingkat pendapatan dan asset per kapita menurun sejalan dengan jumlah anggota rumahtangga yang meningkat.
Menurut World Health Organization (WHO) (Santamarina I 2002, diacu dalam Suandi 2007), terdapat enam kategori kesejahteraan (quality of life or
individu well being) yaitu fisik, psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial,
lingkungan, dan spiritual. Secara nasional terdapat dua versi pengukuran kesejahteraan keluarga yaitu pengukuran kesejahteraan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) (Suandi 2007).
Perumusan konsep kesejahteraan dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Hasil rumusan BPS mengemukakan bahwa sebuah keluarga dapat dikatakan sejahtera apabila:
• Seluruh kebutuhan jasmani dan rohani dari keluarga tersebut dapat dipenuhi sesuai dengan tingkat hidup masing-masing keluarga itu sendiri • Mampu menyediakan sarana untuk mengembangkan hidup sejahtera
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Sedangkan rumusan yang dikemukakan oleh BKKBN tentang kesejahteraan keluarga adalah:
• Keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan anggotanya baik kebutuhan sandang, pangan, perumahan, sosial, dan agama.
• Keluarga yang mempunyai keseimbangan antara penghasilan keluarga dengan jumlah anggota keluarga.
• Keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan kesehatan anggota keluarga, kehidupan bersama dengan masyarakat sekitar, beribadah khusuk di samping terpenuhi kebutuhan pokoknya.
Pendekatan yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan keluarga yaitu berdasarkan pendekatan objektif dan subjektif (Raharto & Romdiati 2000, diacu dalam Nuryani 2007). Pendekatan objektif atau disebut dengan istilah kesejahteraan objektif melihat bahwa tingkat kesejahteraan individu atau kelompok masyarakat hanya diukur secara rata-rata dengan patokan tertentu baik ukuran ekonomi, sosial, maupun ukuran lainnya. Dengan kata lain, tingkat kesejahteraan masyarakat diukur dengan pendekatan yang baku (tingkat kesejahteraan masyarakat semuanya dianggap sama). Ukuran yang sering digunakan yaitu terminologi uang, pemilikan akan tanah, pengetahuan, energi, keamanan, dan lain-lain. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan konvensional untuk kepentingan politik karena pengukurannya sangat praktis dan mudah dilakukan, namun sedikit sekali menyentuh kebutuhan masyarakat yang sebenarnya (Santamarina et al. 2002, diacu dalam Suandi 2007).
Kesejahteraan dengan pendekatan subjektif diukur dari tingkat kebahagiaan dan kepuasan yang dirasakan oleh masyarakat sendiri bukan oleh orang lain. Pendekatan subjektif mendefinisikan kesejahteraan pemahaman
penduduk mengenai standar hidup mereka dan bagaimana mereka mengartikannya (Santamarina et al. 2002, diacu dalam Suandi 2007).
Kesejahteraan merupakan harapan dan tujuan hidup setiap orang. Tingkat kesejahteraan setiap orang dapat berbeda-beda dalam arti keadaan kesejahteraan yang dialami seseorang belum tentu sama bagi orang lain. Konsep kesejahteraan merupakan sesuatu yang bersifat subjektif dimana setiap orang mempunyai pedoman, tujuan dan cara hidup yang berbeda-beda sehingga memberikan nilai yang berbeda pula tentang faktor-faktor yang menentukan tingkat kesejahteraan (Sukirno 1985, dalam Sianipar 1997) diacu dalam Rambe 2004).
Persepsi masyarakat pada pendekatan subjektif adalah sebuah pendekatan dengan menggunakan wawancara langsung pada responden, untuk mengetahui ungkapan-ungkapan verbal berdasarkan interpretasi subyektif, yang diharapkan melahirkan definisi sosial tentang kesejahteraan. Persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana mempelajari definisi kesejahteraan ini, dan tentunya menyangkut pertanyaan-pertanyaan mendasar yang dikemukakan ketika dilakukan wawancara dengan tetap berpijak pada pemahaman interpretasi subjektif. Persepsi masyarakat, dapat dipahami sebagai suatu deskripsi interpretatif yang sifatnya sangat subjektif. Interpretasi subjektif tersebut bukan sesuatu yang dibuat-buat, tetapi atas kondisi yang memang mereka rasakan, dan berbeda dengan penafsiran secara kelompok maupun institusi (Iskandar 2007).
Suatu keluarga walau tinggal di bawah garis kemiskinan, mungkin merasa lebih sejahtera, karena mereka merasa lebih bersyukur atas karunia-Nya, merasa keinginannya sudah terpenuhi, merasa telah hidup selaras dengan alam dan alasan lainnya (Syarief & Hartoyo (1993), diacu dalam Rambe (2004). Sebaliknya suatu keluarga mungkin merasa kurang sejahtera, walau sudah berpendapatan di atas garis kemiskinan, karena masih saja ada keinginan ang belum terpenuhi dan merasa selalu ketakutan atau tertekan, merasa selalu stres dan dituntut oleh pekerjaan, serta alasan lainnya.
Syarief dan Hartoyo (1993), diacu dalam Rambe (2004) mengemukakan pengukuran kesejahteraan material relatif lebih mudah dan menyangkut pemenuhan kebutuhan keluarga yang berkaitan dengan materi, baik sandang, pangan, dan papan, serta kebutuhan lainnya yang dapat diukur dengan materi.
Secara umum, pengukuran kesejahteraan material ini dapat dilakukan dengan mengukur tingkat pendapatan keluarga.
Untuk menentukan suatu keluarga sudah digolongkan sejahtera atau belum tentunya diperlukan ukuran pendapatan yang biasa disebut juga garis kemiskinan. Garis kemiskinan diartikan sebagai tingkat pendapatan yang layak untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum. Suatu keluarga yang berpendapatan di bawah garis kemiskinan, tentunya tidak dapat memenuhi semua kebutuhan secara material.
Tingkat kesejahteraan masyarakat juga dapat terlihat dari tingkat kesehatan masyarakat. Penduduk yang mengalami gangguan kesehatan selama sebulan dipandang sebagai salah satu indikasi ketidaksejahteraan masyarakat yang bersangkutan.
Di negara-negara maju persentase pengeluaran untuk makanan terhadap pengeluaran biasanya berada di bawah 50%, sedang di negara-negara berkembang seperti Indonesia, pengeluaran untuk pangan masih merupakan bagian terbesar di atas 50% (Soekirman 1991 diacu dalam Iskandar 2007). Bagi Indonesia nampaknya masih berada di atas angka tersebut
Tingkat pendidikan masyarakat juga sebagai salah satu indikator kesejahteraan rakyat. Ukuran yang sangat mendasar adalah kemampuan baca tulis penduduk dewasa. Selain itu rata-rata lama sekolah penduduk juga menjadi indikator kesejahteraan rakyat. Tingkat partisipasi angkatan kerja (usia 15-64 tahun) adalah proporsi penduduk usia kerja yang termasuk ke dalam angkatan kerja, yakni mereka yang bekerja dan mencari pekerjaan. Pekerjaan merupakan salah satu aspek penting dalam mencapai kepuasan individu dan memenuhi perekonomian rumah tangga dan kesejahteraan keluarga. taraf dan pola konsumsi masyarakat juga dijadikan indikasi untuk melihat tingkat kemiskinan keluarga.
Berbagai indikator yang digunakan untuk mengetahui taraf dan pola konsumsi adalah: 1) tingkat pendapatan; 2) pengeluaran pangan dan non pangan. Penduduk miskin ditafsirkan sebagai penduduk yang pendapatannya (didekati dengan pengeluaran) lebih kecil dari pendapatan yang dibutuhkan untuk hidup secara layak. Kebutuhan tersebut diterjemahkan sebagai jumlah rupiah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi makanan setara 2100 kalori sehari, perumahan, pakaian, kesehatan, dan pendidikan. Menurut BPS (2006) rumah tangga dikelompokkan miskin menurut tingkat kemiskinan yaitu: sangat
miskin, miskin, dan mendekati miskin. Batas garis kemiskinan rumah tangga adalah :
1. Rumahtangga dikatakan sangat miskin apabila tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sebesar Rp 120.000,00 per orang per bulan.
2. Rumahtangga dikatakan miskin apabila kemampuan memenuhi kebutuhan dasarnya hanya mencapai Rp 150.000,00 per orang per bulan. 3. Rumah tangga dikatakan mendekati miskin apabila kemampuan
memenuhi kebutuhan dasarnya hanya mencapai Rp 175.000,00 per orang per bulan.
BPS (2001), diacu dalam Rambe (2004) mengemukakan bahwa dimensi kesejahteraan rakyat disadari sangat luas dan kompleks sehingga suatu taraf kesejahteraan rakyat hanya dapat terlihat jika dilihat dari aspek tertentu. Aspek spesifik yang dapat dijadikan indikator untuk mengamati kesejahteraan rakyat yaitu:
1. Kependudukan, meliputi jumlah dan laju pertumbuhan penduduk, sebaran dan kepadatan penduduk, fertilisasi dan migrasi.
2. Kesehatan, meliputi derajat kesehatan masyarakat (angka kematian bayi, angka harapan hidup dan angka kesakitan), ketersediaan fasilitas kesehatan, serta status kesehatan ibu dan balita.
3. Pendidikan, meliputi kemampuan baca tulis, tingkat partisipasi sekolah, dan fasilitas pendidikan.
4. Ketenagakerjaan, meliputi tingkat partisipasi angkatan kerja dan kesempatan kerja, lapangan pekerjaan dan status pekerjaan, jam kerja serta pekerjaan anak.
5. Taraf dan pola konsumsi, meliputi distribusi pendapatan dan pengeluaran rumah tangga (makanan dan non makanan).
6. Perumahan dan lingkungan, meliputi kualitas rumah tinggal, fasilitas lingkungan perumahan dan kebersihan lingkungan. Semakin baik fasilitas yang dimiliki, dapat diasumsikan semakin sejahtera rumahtangga yang menempati rumah tersebut. Berbagai fasilitas yang dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan tersebut antara laindapat dilihat dari luas lantai rumah sumber air minum, fasilitas tempat buang air besar rumahtangga dan juga tempat penampungan kotoran akhir.
7. Sosial budaya meliputi akses pada informasi dan hiburan serta kegiatan sosial budaya. Semakin banyak seseorang memanfaatkan waktu luang