• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

4. Studi Kepustakaan

4.3 Deskripsi Hasil Penelitian

4.4.3 Proses Manajemen

Dalam pembahasan ini peneliti menggunakan teori fungsi-fungsi manajemen menurut Luther Gullick menurut Handoko (2003:11) yang meliputi 1) Planning, 2) Organizing, 3) Staffing, 4) Directing, 5) Coordinating dan 6) Reporting, 7) Budgeting.

1. Planning

Perencanaan merupakan langkah awal dalam suatu pengelolaan dimana perencanaan ini sangat menentukan keberhasilan dalam suatu pengelolaan. Pengelolaan program rehabilitasi sosial ini sebagaimana yang tertuliskan di peraturan daerah nomor 2 tahun 2010 yaitu Dinas Sosial Kota Serang.

Langkah pertama dalam perencanaan ini adalah hal yang melatarbelakangi adanya program rehabilitasi sosial tersebut. Yang melatarbelakangi adanya program tersebut sebagai mana yang diungkapkan oleh I1dan I2 adalah adanya peraturan daerah Kota Serang nomor 2 tahun 2010 tentang pencegahan, penanggulangan dan pemberantasan penyakit masyarakat dimana dalam perda tersebut di tuliskan tentang salah satu bentuk penanganan yaitu dengan rehabilitasi sosial. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam program rehabilitasi sosial seperti yang diungkapkan oleh I1 dan I2 yaitu mengurangi jumlah pengemis di Kota Serang, serta mengembalikan mereka untuk berprilaku yang semestinya di masyarakat dengan mengubah mindset mereka dan memberikan pendidikan kepada mereka. Rehabilitasi sosial yang dimaksud dilakukan dengan memberikan

pendidikan baik pendidikan jasmani maupun rohani agar mereka penyandang masalah kesejahteraan sosial akan berubah dan berkurang sedikit demi sedikit.

Dalam perencanaan membuat tindakan atau kegiatan harus dirumuskan dengan seksama agar tercapainya tujuan yang sudah ditetapkan, berdasarkan hasil wawancara dengan I1dan I2 kegiatan yang sudah dilakukan adalah bahwa dinas Sosial sudah melakukan pembinaan dan pelatihan yang bekerjasama dengan Kementrian Sosial dan Dinas Sosial Provinsi Banten. Dimana pembinaan dan pelatihan tersebut dilakukan di dua lokasi yaitu PSBK yang diusung oleh Kementrian Sosial yang berlokasi di bekasi dan BP2S yang diusung oleh Dinas Sosial Provinsi Banten dan Dinas Sosial. Kuota yang diberikan oleh Kementrian Sosial di panti PSBK kepada kabupaten/kota tidak terbatas, sedangkan di BP2S hanya 10 orang pertahun.

2. Organizing

Di dalam manajemen juga terdapat adanya pengorganisasian yang dimana pengorganisasian ini merupakan menetapkan struktur formal daripada kewenangan dimana pekerjaan dibagi-bagi sedemikian rupa, ditentukan dan dikoordinasikan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Pengorganisasian ini sangat berkaitan erat dengan perencanaan, karena dengan adanya organisasi inilah perencanaan tersebut bisa berjalan dan bisa mencapai tujuannya sesuai dengan keinginan. Dalam program rehabilitasi sosial ini yang terlibat dalam kepengurusannya seperti yang diungkapkan oleh I1 dan I2 yaitu yaitu kepala bidang pelayanan rehabilitasi sosial dibantu dengan 3 seksi yaitu seksi pelayanan perlindungan anak dan lansia, kepala seksi rehabilitasi sosial

gepeng, WTS, Eks. Napza, dan kepala seksi Pelayanan Rehabilitasi Sosial dan Penyandang Cacat.

Namun sampai saat ini program rehabilitasi belum berjalan dengan maksimal dan masih terdapat beberapa kendala yang membuat tidak berjalan dengan maksimal hal ini seperti yang dipaparkan oleh I1 dan I2 bahwa Program tersebut sudah berjalan dari tahun 2010 namun sampai saat ini program tersebut sudah berjalan namun belum 100%, namun semua yang terlibat kepengurusan rehabilitasi sosial sudah mengupayakan berbagai cara untuk melakukan pencegahan termasuk dengan sosialisasi. ada kendala lain yang membuat belum berjalan maksimal.

3. Staffing

Penyusunan pegawai juga sangat berkaitan denga perencanaan dan pengorganisasian dalam pengelolaan situs batu goong dan komplek makam Syekh Mansyur. Penyusunan pegawai menjelaskan mengenai keseluruhan fungsi daripada kepegawaian sebagai usaha pelaksanaannya, melatih para staf dan memelihara situasi pekerjaan yang menyenangkan. Dalam penyusunan pegawai ini, memiliki indikator yaitu penempatan pegawai sesuai dengan ahlinya yang artinya melengkapkan fungsi pekerjaan dengan pegawai yang mempunyai ahli di bidangnya.

Penyusunan pegawai di Dinas Sosial Kota Serang dinilai buruk karena hanya beberapa orang saja yang sesuai bidangnya yaitu sosial sebagaimana diungkapkan oleh I1 dan I2 bahwa pegawai Dinas Sosial masih belum sesuai dengan bidangnya tapi pekerjaan nya tetap sesuai dengan tugas pokok dan fungsi

dan SOP, terhitung lulusan sarjana sosial hanya 3 orang saja yang ada di Dinas Sosial Kota Serang dan sarjana pendidikan yang lebih banyak. Jika dilihat dari basic nya Dinas Sosial seharusnya banyak lulusan sosial. Hal itu diperparah dengan jumlah tenaga kerja lapangan yang kurang dimana tenaga observer atau monitoring minim sehingga harus kepala seksi sendiri yang harus turun kelapangan.

4. Directing

Dimensi manajemen selanjutnya yaitu pembinaan kerja yang masih berkaitan dengan perencanaan, pengorganisasian dan juga dengan penempatan pegawai. Pembinaan kerja yaitu tugas yang terus menerus di dalam pengambilan keputusan yang berwujud suatu perintah khusus/umum dan instruksi-instruksi dan bertindak sebagai pemimpin dalam suatu badan usaha/organisasi.

Pembinaan kerja dinilai menjadi aspek yang sangat penting dalam terwujudnya tujuan dari program karena Agar tugas yang dikerjakan oleh seluruh pegawai yang berada di Bidang pelayanan rehabilitasi sosial dapat berjalan sesuai dengan fungsi dan uraian tugasnya, pembinaan yang diberikan juga harus pembinaan yang menjurus kearah program sehingga pegawai yang terlibat didalam program tersebut paham dan mengerti akan tugas pokok dan fungsinya tidak adanya pembinaan kerja di Dinas Sosial sebagai mana dipaparkan oleh I1 dan I2 yaitu bahwa Pembinaan mengenai rehabilitasi sosial di Dinas Sosial Kota Serang sampai saat ini belum ada pembinaan khusus. Yang seharusnya ada pembinaan guna membuat kita semakin paham akan program yang akan kita lakukan serta kita juga bisa lebih paham tentang tugas pokok dan fungsinya.

pelatihan pegawai yaitu suatu hal untuk melatih kemampuan yang dimiliki pegawai dan menjadi salah satu penentu bagi program, yang ada hanya studi banding ke luar daerah yang dirasa penanganan pengemisnya lebih baik dari Kota Serang.

5. Coordinating

Selanjutnya dalam manajemen ini terdapat pengkoordinasian yang dimana memiliki arti kewajiban yang penting untuk menghubungkan berbagai kegiatan daripada pekerjaan. Selain itu, koordinasi juga merupakan suatu usaha yang singkron dan teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan.

Koordinasi juga merupakan komponen yang sangat penting bagi Dinas Sosial dalam program rehabilitasi sosial, baik itu kordinasi antar lembaga dan kordinasi antar bagian atau bidang. Dalam program rehabilitasi sosial, Dinas Sosial bekerjasama dengan Satpol PP, Dinas Pendidikan dan MUI seperti yang di jelaskan I1dan I2bahwa Dinas Sosial Kota Serang yang bertanggung jawab untuk membina penyandang masalah kesejahteraan sosial bekerjasama dengan Satpol PP selaku perazia atau pengeksekutor selain dengan Satpol PP, Dinas Sosial juga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan MUI untuk memberikan pendidikan jasmani dan rohani. Kurangnya pertisipasi dari masyarakat atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terhadap program rehabilitasi sosial yang dikarenakan mindset LSM yang hanya mengambil keuntungan dengan adanya kerjasama. Sehingga Dinas Sosial enggan untuk bekerjasama dengan LSM.

Selain kordinasi antar lembaga, Dinas Sosial berkordinasi antar bidang atau bagiannya dalam program rehabilitasi sosial kepala bagian Pelayanan Rehabilitasi Sosial bekerjsama dengan bidang pemberdayaan sosial dan bidang jaminan sosial.

6. Reporting

Dalam fungsi manajemen dimensi pelaporan berkaitan dengan pengkoordinasian. Reporting merupakan merupakan manajemen yang berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian demean tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi, baik secara lisan maupun tulisan sehingga dalam menerima laporan dapat memperoleh gambaran tentang pelaksanaan tugas orang yang memberi laporan.

Laporan ini diberikan setiap bulannya apa saja yang sudah dilakukan melalui kepala seksi ke kepala bidang, hal ini seperti yang diungkapkan oleh I1 dan I2 laporan tiap bulannya di laporkan ke tiap bidang apa saja yang dilakukan tiap bulannya hanya saja tidak formal hanya sebatas lisan dan tulisan. laporan ke Dinas Sosial Provinsi Banten dan BAPPEDA Kota Serang melalui bagian PEP namun persemester yang sebelumnya di kumpulkan tiap-tiap bagian dan diberikan ke PEP untuk dilaporkaan ke Pemerintah daerah yaitu Dinas Sosial Provinsi Banten dan BAPPEDA

7. Budgeting

Selanjutnya yang terakhir dalam fungsi manajemen yaitu adanya penganggaran. Dimana penganggaran ini merupakan suatu rencana yang

menggambarkan penerimaan dan pengeluaran yang akan dilakukan pada setiap bidang. Dalam anggaran ini hendaknya tercantum besarnya biaya dan hasil yang akan diperoleh. Dalam penganggaran ada rencana anggaran yang berarti suatu anggaran atau dana yang disesuaikan dengan kegiatan. Untuk mengajukan rencana anggaran khusus harus melalui kepala Dinas apakah program rehabilitasi sosial layak untuk diberikan anggaran khusus atau tidak, jika tidak diperlukan maka pengajuan rencana anggaran khusus ditolak.

Dalam penganggaran ini juga terdapat indikator mengenai pengawasan anggaran yang merupakan lembaga atau bidang yang mengawasi pengeluaran yang dibutuhkan oleh kegiatan yang sedang berjalan, adanya pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Serang dalam mengawasi dana dan perkembangan modal yang diberikan kepada para penyandang masalah kesjahteraan sosial yang sebelumnya mereka mengikuti proses pembinaan di yayasan PSBK selama 8 bulan, dana yang diberikan langsung dikirm ke rekening para penyandang. Tugas Dinas Sosial memonitoring apakah dana tersebut digunakan untuk keperluan usaha atau tidak dengan mengeceknya perbulannya.

122

5.1 Kesimpulan

Pengemis merupakan salah satu jenis penyakit masyarakat dan pengemis juga termasuk salah satu jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), dalam peraturan daerah Kota Serang nomor 2 tahun 2010 tentang pencegahan, pemberantasan, dan penanggulangan penyakit masyarakat mengemis merupakan penyakit masyarakat, mengemis dilarang di Kota Serang, siapapun dilarang untuk menjadi pengemis serta semua orang dilarang memberikan santunan apapun kepada pengemis.

1. Pengemis Kota Serang merupakan pengemis yang mempunyai latar belakang yang mendukung mereka untuk mengemis, mulai dari latar belakang pendidikan, lingkungan masyarakat, ekonomi sampai lingkungan keluarga. Menjelang hari raya idul fitri, jumlah pengemis akan bertambah karna mereka beranggapan bahwa dibulan tersebut orang lebih ringan tangan untuk bersedekah sehingga orang yang tidak biasa mengemis akan ikut tertarik untuk mengemis juga. Bagi sebagian pengemis Kota Serang mengemis merupakan pekerjaan tetap untuk mereka, mereka hanya bergantung hidup dengan mengemis meminta mengharapkan belas kasihan dari orang lain.

2. Model rehabilitasi di Dinas Sosial Kota Serang sama dengan yang dituliskan dalam Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2010 tentang

pencegahan, pemberantasan dan penanggulangan penyakit masyarakat. Dimana pembinaannya tidak di Kota Serang mengingat Dinas Sosial Kota Serang masih belum mempunyai panti rehabilitasi sosial sehingga Dinas Sosial bekerja sama dengan Kementrian Sosial untuk memberikan pembinaan dan lokasi pembinaannya terletak di Bekasi Provinsi Jawa Barat di panti PSBK (Panti Sosial Bina Karya) dimana disana diberi pendidikan baik rohani dan jasmani serta diberikan pelatihan dan keterampilan agar mereka mempunyai keahlian, proses pembinaannya selama 8 bulan sesudahnya mereka diberi modal dan diberi peralatan. Para penyandang masalah kesjahteraan sosial seperti pengemis yang mengikuti pembinaan rehabilitasi sosial di yayasan PSBK(Panti Sosial Bina Karya) mendapat pendidikan dan kehidupan mereka selam 8 bulan akan dijamin dan bisa membawa anggota keluarganya. Setelah mendapatkan pembinaan selama 8 bulan mereka diberi dana modal untuk usaha mereka dan diberikan alat untuk melakukan usaha.

3. Peneliti menggunakan teori fungsi manajemen dari Luther Gullick menurut Handoko (2003:11) yang meliputi 1) Planning, 2) Organizing, 3) Staffing, 4) Directing, 5) Coordinating dan 6) Reporting, 7) Budgeting untuk menjawab permasalahan dalam penelitian. Dalam ketujuh indikator tersebut masih terdapat permasalahan terjadi pada planning (perencanaan), directing (pembinaan kerja), coordinating (pengkordinasian) dan budgeting (penganggaran). Dalam planning (perencanaan) terdapat hal yang melatar belakangi program, tujuan program, rencana baru yang akan

dilakukan. Permasalahan yang terjadi yaitu, tidak adanya rencana baru yang akan dilakukan untuk memaksimalkan program rehabilitasi sosial hal tersebut karna minimnya anggaran. Directing (pembinaan kerja) terdiri dari pelatihan kerja dan pembinaan kerja, permasalahan yang terjadi yaitu tidak adanya pelatihan dan pembinaan khusus yang dilakukan oleh pihak Dinas untuk meningkatkan mutu pegawai dalam melakukan dan menjalankan program rehabilitasi sosial. coordinating (pengkordinasian) terdiri dari kordinasi antar lembaga, kordinasi dengan masyarakat dan kordinasi antar bidang. Masalah yang terjadi yaitu, tidak adanya kordinasi dengan masyarakat baik itu LSM, masyarakat biasa dan civitas akademika. Kordinasi tersebut pernah dilakukan dengan LSM namun mereka hanya memanfaatkan dan kontribusinya sangat kurang sehingga Dinas Sosial enggan untuk menjalin kerjasama kembali dengan pihak masyarakat. budgeting (penganggaran) terdiri dari rencana anggaran baru dan pengawasan anggaran. Permasalahan yang terjadi yaitu sulitnya mengajukan rencana anggran baru, dimana setiap mengajukan rencana anggaran baru selalu ditolak karena kepala Dinas berfikir bahwa hasil dari program rehabilitasi sosial tidak terlihat sehingga rencana anggaran baru sulit untuk dikabulkan dan selain itu permasalah yeng terjadi yaitu kurangnya pengawasan secara langsung terhadap pengemis yang menerima bantuan dana modal dan peralatan dagang yang diberikan langsung oleh Kementrian Sosial sehingga tidak banyak dana dan peralatan tersebut dijual untuk kebutuhan sehari-hari.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka saran yang menjadi rekomendasi peneliti sebagai berikut :

1. Dinas Sosial Kota Serang perlu membuat rencana baru untuk mengurangi jumlah pengemis bukan hanya dengan mengandalkan rehabilitasi sosial tetapi juga membuat perencanaan yang matang dan lebih segar atau baru. Dengan memberikan pembinaan bukan hanya kepada pengemis nya saja melainkan sampai keluarga dan anak-anak mereka agar tidak terjadi regenerasi pengemis.

2. Dinas sosial perlu melakukan pengawasan terhadap para penyandang yang dikirim ke PSBK (Panti Sosial Bina Karya) agar ketika sudah dikembalikan ke Kota Serang bisa ditindak lanjuti oleh Dinas Sosial. 3. Dinas Sosial perlu mengganti program yang dirasa tidak perlu dilakukan

dan membuat program baru, seperti melakukan dan mengadakan pembinaan kerja dan pelatihan kerja dalam program rehabilitasi sosial, agar semua yang sudah direncanakan akan berjalan maksimal dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

4. Pemerintah Kota Serang harus membentuk kelompok kerja dalam mengentaskan perdaran pengemis dengan didalamnya Dinas Sosial Kota Serang, Satuan Polisi Pamong Praja Kota Serang, Lembaga Swadaya Masyarakat, Dinas Pendidikan, Dinas Perindustrian Perdagangan Dan Koperasi, serta Civitas Akademika baik mahasiswa dan dosen yang saling berkordinasi dan perlu adanya rencana anggaran baru untuk pemenuhan

program, rehabilitasi sosial seperti mengadakan Unit Pelayanan Terpadu Rehabilitasi Sosial dengan sarana dan prasarana yang lengkap sehingga Dinas Sosial Kota Serang tidak perlu jauh-jauh untuk mengirim para pengemis yang akan dibina ke yayasan PSBK, tetapi harus tetap berkordinasi dengan Kementrian Sosial dan Dinas Sosial Provinsi Banten

Handayaningrat, Suwarno. 1990. Pengantar Studi Ilmu Administrasi Dan Manajemen. Jakarta: Gunung Agung

Handoko, T. Hani. 2003.Manajemen. Yogyakarta: BFEE-Yogyakarta

Hasibuan, Malayu. 2011. Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah. Jakarta: Bumi Aksara

Irawan, Prasetya. 2006. Metodologi Penelitian Administrasi. Jakarta: Universitas Terbuka

Kuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi: Metode penelitian komunikasi. Bandung: Widya Padjadjaran

Moleong, Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosa Karya

Prastowo, Andi. 2011.Metode Penelitian Kualitatif Dalam Prespektif Rancangan Penelitian.Yogyakarta. Ar-Ruzz Media

Ratminto & Atik Septi. W. 2005. Manajemen Pelayanan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Rusadi, Ruslan. 1998. Manajemen Publik Reletion Dan Media Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persadi

Siagian, P. Sondang. 2008.Filsafat Administrasi. Jakarta: Bumi Aksara Siswanto. 2009.Pengantar Manajemen.Jakarta: Bumi Aksara

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Bumi Aksara

Terry, George dan Lesile W. Rue. 2007.Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara

Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 2 Tahun 2010 Tentang Pencegahan, Pemberantasan Dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat.

Sumber lainnya:

Hendra Ramadhan, 2012. Skripsi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa FISIP. Analisis Implementasi Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 2 Tahun 2010 Tentang pencegahan, Pemberantasan Dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat (Studi Kasus Pengemis Di Kota Serang).

Nitha Chitrasari, 2012. Skripsi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa FISIP. Kinerja Dinas Sosial Kota Cilegon Dalam Penanganan Gelandangan Dan Pengemis Di Kota Cilegon.

Wawancara dengan Ibu Hendri Sudiarni selaku kepala seksi perlindungan sosial anak dan lansia di kantor Dinas Sosial Kota Serang

Dokumentasi kegiatan rehabilitasi sosial di Panti Sosial Bina Karya (PSBK) Pangudi Luhur

Tampak depan PSBK Pangudi Luhur

Pelatihan Salon

Q

Planning : a. Tujuan

Q1 : Apa tujuan yang melatarbelakangi adanya program rehabilitasi sosial?

I1 : Yang melatar belakangi adanya program tersebut adalah adanya peraturan daerah Kota Serang nomor 2 tahun 2010 tentang pencegahan, pemberantasan dan penanggulangan penyakit masyarakat. Dimana dalam perda tersebut dituliskan bahwa adanya pembinaan terhadap para penyandang kesejahteraan sosial, salah satunya dengan rehabilitasi sosial.

I2 : Yang melatar belakangi adanya program tersebut adalah adanya peraturan daerah Kota Serang nomor 2 tahun 2010 tentang pencegahan, pemberantasan dan penanggulangan penyakit masyarakat. Karna di perda tersebut sudah jelas

Yang melatarbelakangi adanya program tersebut adalah adanya peraturan daerah Kota Serang nomor 2 tahun 2010 tentang pencegahan, pemberantasan dan penanggulangan penyakit masyarakat yang di dalam perda tersebut tertulis bahwa mengemis itu dilarang dan di dalam perda tersbut juga di tuliskan bahwa cara penanggulanginya dengan melakukan pembinaan seperti rehabilitasi sosial. Tujuan yang dicapai dalam program rehabilitasi sosial yaitu mengurangi jumlah pengemis di Kota Serang, serta mengembalikan mereka untuk berprilaku yang semestinya di masyarakat dengan mengubah mindset mereka dan memberikan pendidikan kepada mereka. Rehabilitasi sosial yang dimaksud dilakukan dengan memberikan

dan berkurang sedikit demi sedikit. Q2 :Apa yang ingin dicapai dengan adanya

program rehabilitasi sosial?

I1 : Tujuan adanya program rehabilitasi sosial adalah merubah mindset mereka dan mengembalikan mereka agar berprilaku seperti masyarakat seperti biasanya. Hanya saja yang jadi masalah adalah mereka para penyandang nya yang susah untuk dirubahnya sehingga untuk bina pun mereka susah sekali, sampai ada yang kabur padahal belum waktunya untuk pulang. I2 : Tentunya ingin merubah para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) kembali kemasyarakat dengan seperti seharusnya. Seperti pengemis juga, kita berharap mereka kembali ke masyarakat dengan seperti seharusnya dan tidak lagi mengemis.

dan pendidikan yang dilakukan bisa merubah pola pikir mereka agar para penyandang kesenjangan sosial bisa berkurang tiap tahunnya. Walaupun tidak sekaligus tetapi sedikit demi sedikit bisa berkurang

I2: Kita harus melakukan pendidikan mulai dari perilaku mereka sampai ke pengetahuan mereka agar mindset mereka berubah dan yang terpenting mereka mau berubah.

b. Program

Q4 : Apa saja yang sudah dilakukan dalam program rehabilitasi sosial?

I1 : kita sudah melakukan pembinaan dan pelatihan dimana kita bekerja sama dengan pemerintah pusat yaitu kementrian sosial, dengan mengirim orang-orang yang akan di berikan pembinaan dan boleh membawa keluarganya kesana di yayasan PSBK di

Dinas Sosial sudah melakukan pembinaan dan pelatihan yang bekerjasama dengan Kementrian Sosial dan Dinas Sosial Provinsi Banten. Dimana pembinaan dan pelatihan tersebut dilakukan di dua lokasi yaitu PSBK yang diusung oleh Kementrian Sosial yang berlokasi di bekasi dan BP2S yang diusung oleh Dinas Sosial Provinsi Banten dan Dinas Sosial. Kuota yang

I2 : Kita sudah melakukan pembinaan, dimana kita bekerjasama dengan pemerintah daerah baik provinsi maupun pemerintah pusat yaitu kementrian sosial. Mereka dikirim dan ditampung di panti PSBK yang bekerja sama dengan kementrian sosial dan balai pemulihan pembinaan sosial (BP2S) yang bekerjasama dengan pemerintah provinsi Banten. Di panti PSBK menerima cukuip banyak yaitu sekitar 500 orang dan bisa mengajak keluarga mereka hal ini dikarenakan cukup lama yaitu 6 bulan. Sedangkan jika di BP2S hanya mampu menampung 10 orang saja dan masa pembinaannya pun 1 bulan.

orang pertahun. untuk program baru, sampai saat ini belum ada rencana untuk membuat rencana baru hal ini dikarenakan anggaran yang minim sehingga untuk membuat rencana baru harus mempertimbangkan terlebih dahulu.

I1 : rencana baru belum ada karena disini kita melihat juga anggarannya.

I2 : Untuk sampai saat ini belum ada rencana baru tetapi kita masih fokus pada rencana-rencana dari tahun lalu, hal ini juga dikarenakan kita menyesuaikan anggaran yang ada. Jadi buat yang baru kita banyak pertimbangan.

Organizing :

a. Pengelompokkan tugas-tugas pegawai Q6 : Siapa saja yang terlibat dalam kepengurusan program rehabilitasi sosial tersebut?

I1 : Yang terkait yaitu kepala bidang pelayanan rehabilitasi sosial, dimana dibantu oleh ketua seksi rehabilitasi sosial diasbilitas, ketua seksi rehabilitasi sosial pelayanan perlindungan anak dan lansia, dan ketua seksi rehabilitasi sosial gepeng, WTS, Eks NAPI & Napza. Dan dibantu

Yang terlibat dalam kepengurusan program rehabilitasi sosial yaitu ketua bidang pelayanan rehabilitasi sosial, kepala seksi rehabilitasi sosial pelayanan perlindungan anak dan lansia, dan ketua seksi rehabilitasi sosial gepeng, WTS, Eks NAPI & Napza. Dan dibantu juga oleh orang lapangan. Program tersebut sudah berjalan dari tahun 2010 namun sampai saat ini program tersebut sudah berjalan namun belum 100%, namun semua yang terlibat kepengurusan rehabilitasi sosial

dibantu oleh ketua seksi rehabilitasi sosial diasbilitas, ketua seksi rehabilitasi sosial pelayanan perlindungan anak dan lansia, dan ketua seksi rehabilitasi sosial gepeng, WTS, Eks NAPI & Napza.

Dokumen terkait