• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses pelaksanaan perkawinan bajapuik di Pariaman sama dengan proses perkawinan Minangkabau pada umumya yang mana dimulai dari beberapa tahap yaitu dimulai dari tahap :

a. Pinang Meminang

Untuk melaksanakan peminangan sebelumnya dilakukan pemufakatan perkawinan. Dalam pemufakatan ini diundanglah semua karib kerabat dalam kaum serta orang sumando yang ada dalam kaum, dalam pertemuan ini dipimpim oleh

niniak mamak pemufakatan untuk mencarikan jodoh anak kemanakanya yang dikenal istilah dengan “mencari ayam”.109 Dalam proses mancari ayam seluruh anggota yang ada hadir di pemufakatan berhak mengusulkan calon-calon”ayam”

yang ia ketahui seimbang dan pantas untuk diterima.110

107Amir Syrifudin,Op. cithlm 474 108Ibid,

109Mencari Ayam Maksundya disini yaitu mengusulkan calon-laki-laki kepada mamak rumah yang mencarikan jodoh kemanakanya

Meminang mengandung arti permintaan yang menurut hukum adat berlaku dalam bentuk pernyataan kehendak untuk maksuda mengadakan perkawinan.111 Pinang maminang,berasal dari cara dan tata kelakuan masyarakat dalam mengajukan sesuatu permintaan kepada bakal calon pasangan hidup. Berawal dari kata “pinang” yang dibawa beserta sirih dalam cerana pada saat berkunjung ketempat kediaman bakal calon pasangan. Kebiasaan ini kemudian berkembang secara formal dalam mencari jodoh sebagaimana yang kita kenal denganpinang meminang.

Pada daerah Ranah Minang kebiasaan mengajukan pinang meminang, lazimnya diprakarsai oleh kerabat wanita. Begitu juga di dearah Padang Pariaman dimana berlakunya perkawinan adatbajapuikpeminangan dilakukan juga oleh pihak wanita. Proses pinang meminang merupakan hasil –manyalangkan matomaresek,

setelah diperoleh informasi seputar bakal calon pasangan. Proses pinang meminang antar kedua pihak keluarga, dilakukan pula beberapa kali pertemuan, untuk merekam keinginan-keinginan pihak keluarga lelaki atas hal-hal yang menjadi persyaratan yang harus di-isi oleh pihak wanita, agar ketika kesesuaian dalam perjodohan ini tidak mendapat gangguan atau kekecewaan kelak dikemudian hari. Isi, artinya mengisi sesuatu yang diminta dan diinginkan oleh pihak keluarga laki-laki. Misalnya didaerah rantau atau pesisir Padang Pariaman berlaku ketentuan yang akan diisi adalah uang jemputan, uang hilang/uang dapur.

b. Melamar

Apabila telah terdapat persetujuan kedua belah pihak maka ditentukanlah waktu dan hari “mandagogkan” yaitu datangya secara resmi orang tua, niniak

mamakserta karib kerabat dan penghulu pihak perempuan kerumah orang tua pihak laki-laki, yang dinanti olehniniak mamakdan penghulu pihak laki-laki.112

Dalam pertemuan ini nantinya akan dibicarakan masalah-maslah adat yang akan dipenuhi oleh pihak perempuan selaku peminang kepada pihak laki-laki seperti uang jemputan, uang hilang dapua dan uang tungkatan.

Pada hari yang telah ditentukan, pihak keluarga anak gadis yang akan dijodohkan itu dengan dipimpin oleh niniak mamaknya, datang bersama-sama kerumah keluarga calon pemuda yang dituju. Lazimnya untuk acara pertemuan resmi pertama ini, diikuti oleh ibu dan ayah si gadis dan diiringkan oleh beberapa orang wanita yang patut-patut dari keluarganya. Pada waktu itu biasanya rombongan yang datang juga telah membawa seorang juru bicara yang mahir berbasa-basi dan fasih berkata-kata, jika sekiranya Ninik Mamak yang akan melamar itu, bukan orang ahli untuk itu.113

c. BatimbangTando(Pertunangan)

Terjadinya pertunagan dengan hukum adat di pariaman merupakan suatu hubungan hukum yang dilakukan oleh orang tua danniniak mamak pihak perempuan dengan niniak mamak dan keluraga pihak laki-laki, untuk maksud mengikat tali perkawinan anak kamanakan mereka dengan ketentuan-ketentuan adat istiadat yang harus dipenuhi oleh pihak perempuan.114

112

Hasil wawancara dengan sekretaris LKAAM Padang-Pariaman Dt AGA rang Kayo, Abdul Arif Gani Pada tanggal 3 Maret 2015

113Depertemen Pendidikan Dan Kebuadayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Proyek Iventerisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Upacara Perkawinan Minangkabau Di Derah Sumatera Barat, (Padang : DEKDIBUD, 1985/986) hlm 43

Pada saat pertunagan ini disebut juga dengan mandagogkan karena sebelumnya telah ada pemufakatan yang bersifat tidak resmi bagi kedua pihak, maka dalam pertemuan inilah dikuatkan dengan perseujuan kedua belah pihak yang merupakan kekuatan hukum bagi mereka masing-masing pihak.

Pada pertemuan ini juga ditentukan adat istiadat yang harus dipenuhi pihak perempuan waktu akan terjadi pernikahan yaitu mengenai uang jemputan, uang huliang, dan uang tungkatan“mempelai”sebagai suatu terjadinya pertunangan antara anak kamenakan mereka sedangkan pertukaran tando ini juga membawa akibat hukum kepada kedua belah pihak kaum itu antara lain115:

1. Kedua belah pihak orang tua dan niniak mamak membatasi pergaulan anak kamenakanya selama terjadinya pertunangan.

2. Kedua belah pihak bertanggung jawab atas kelangsunganya Perkawinan 3. Apabila terjadi pelanggaran atau pengagalan perkawinan disebabkan salah

atau kesalahan salah satu pihak maka dia harus menembus uang kerugian yang disebut uang kesalahan.

Saat dilakukan pertukaran tando bahwa kedua belah pihak telah berjanji menjodohkan anak kemenakan mereka. Benda yang dijadikan pertukaran pada umumnya adalah cincin emas. bila seorang pertunangan itu putus, pihak yang memutuskan akan mengembalikan tanda yang diterima dahulu. Pihak lain tidak berkewajiban mengembalikannya.

115 Hasil Wawancara dengan Lembaga Kerapatan Adat Alam Miangkabau (LKAAM) V Kampung Dalam. Abdul Halim Dt. Anjah Pahlawan tgl 6 Maret 2015

d. MalamBainai

Acara ini dilaksanakan dirumah anak daro. Diadakan sehari atau beberapa hari sebelum hari pernikahan. Bainai adalah memerahkan kuku pengantin dengan daun inai yang telah dilumatkan.Bainaisemata-mata diihadiri perempuan dari kedua belah pihak.Marapulaidibawa kerabatnya kerumah anak daro.

Ketika acara akan dimulai, anak daro dibawa dari kamarnya keruangan yang telah dipasang pelaminan. Ia didudukan disebelah marapulai. Keduanya memakai pakaian pengantin yang lebih sederhana dari hari pernikahan. Acara dipimpin seorang wanita yang terampil untuk melakukan tugas itu. Anak daro diinai oleh kerabat marapulai sedangkanmarapulai diinaioleh kerabatanak daro.116

e. Pernikahan

Pernikahan dilakukan pada hari yang dianggap paling baik. Acara ini lazim diadakan dirumahanak daro. Dalam acara pernikahanmarapulaidan anak daro tidak dihadirkan berhadap-hadapan., sebab yang mengucapkan akad hanyalah marapulai kepada ayah (wali) anak daro. Anak daro hanyalah menyatakan persetujuan kepada saksi yang datang menanyainya.117 Sebelum peroses pernikahan pihak perempuan datang memjemput marapulai kerumahnnya untuk melaksanakan pernikahan. Pada proses pejemputan marapulai untuk melaksanakan pernikahan ini pada umumnya dilakasankan pemberian uang jemputan dalam perkawinan bajapuik yang tepatnya

116Hasil Wawancara dengan Lembaga Kerapatan Adat Alam Miangkabau (LKAAM) V Kampung Dalam. Abdul Halim Dt. Anjah Pahlawan tgl 6 Maret 2015

117Depertemen Pendidikan Dan Kebuadayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Proyek Iventerisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Upacara Perkawinan Minangkabau Di Derah Sumatera Barat, (Padang : DEKDIBUD, 1985/986) hlm 59

saat proses mau akad nikah. Sebagaimana sesuai dengan hasil tabel penelitian di bawah ini :

Tabel III

Waktu Pemberian Uang Jemputan n=24

Proses Pemberian Jawaban Respoden Persentase 1-6 bulan sebelum

Pernihakahan

2 8 %

Saat Proses Mau Akad Nikah

18 75%

Sesudah Pesta Pernikahan

4 16%

Sumber : Data primer hasil koisioner yang dilakukan pada tanggal 20 Mei 2015 sampai dengan 4 Juni 2015

Dari tabel IV diatas dapat terlihat bahwa waktru pemberian uang jemputan dalam perkawinan bajapuikmerupakan pada umumnya saat proses mau akad nikah atau pada tahap proses pernikahan. Sebagaiman terlihat pada tabel tersebut bahwa diantara 24 pasangan responden, 18 pasangan (75%) responden mengatakan bahwa waktu uang jemputan pada saat akad nikah karena disaat itu pihak perempuan menjemput marapulai datang kerumah laki-laki untuk melakasankan proses akad nikah di rumah perempuan..serta mengatakan sesudah pesta pernikahan sebanyak 4 pasangan (16 %) responden karena uang jemputan yang diberikan pihak perempuan belum mencukupi maka uang jemputan diberi setelah pernikahan berdasarkan kesepakatan disaat proses mau memjemput laki-laki untuk akad nikah di rumah pihak perempuan. Selanjutnya 2 pasangan (8%) responden 1-6 bulan sebelum pesta pernikahan karena uang jemputan dikasih oleh laki-laki untuk mencukupi kebutuhan

pihak perempuan akibat tidak mampu untuk memberikan uang jemputan karena saat proses perundingan telah dibuat kesepakatan dibawah meja.,.

f. Basandiang

Basandiangadalah acara pokok dalam perkawinan menurut adat. Basandiang

yaitu mendudukan kedua pengantin di pelaminan untuk disaksikan tamu-tamu yang hadir pada pesta jamuan. Sebelum basandiang marapulai dijemput kerumah kerabatnya. Waktu itu segala ketentuan adat perkawinan harus dipenuhi sebagaimana yang disepakati sebelumnya. Kerabat anak daro mengirim utusan untuk menjemput

marapulai. Dirumah marapulai sudah siap menanti. Setelah itu acara makan- makanpun dimulai kemudian barulah pihak anak daro menyampaikan maksud kedatangan mereka dengan pidato sambah-manyambah. Selesai pidato itu barulah marapulai dibawa kerumah anak daro. Dirumah anak daro kedua pengantin didudukan basandiang di pelaminan.118

g. Perjamuan

Upacara perjamuan merupakan puncak dari perhelatan. Acara ini dipusatkan dirumah anak daro. Oleh karena itu segala keperluan dan persiapan dilakukan oleh pihak anak daro. Untuk melaksanakan acara ini seluruh kerabat datang membantu. Bantuan ini dapat berupa benda dan tenaga. Para tetangga biasanya membantu dengan tenaga.119

118Hasil Wawancara dengan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) V Kampung Dalam. Abdul Halim Dt. Anjah Pahlawan tgl 6 Maret 2015

h. Manjalang

Meski tidak lagi sekental suasana puluhan tahun lalu, pemandangan tadi yang ini dikenal sebagai tradisi‘manjalang’atau mengantarkan makanan ke rumah sanak keluarga terutama ke tempat mertua, masih merupakan tradisi ‘wajib’. Tradisi ‘manjalang’ di berbagai daerah di Sumbar sangat beragam sebutannya, ada yang menyebutnya dengan “menganta konji” (mengantar penganan kolak), “babuko basamo jo mintuo” (berbuka bersama mertua) dan lain sebagainya.120

Baik manjalang maupun manganta konji tujuannya tetap sama yaitu mendekatkan silaturahmi antara keluarga, anak dengan orang tua, cucu dengan nenek dan isteri dengan mertua. Hal tersebut tentunya, tidak terlepas dari sistem matrilinial di mana garis keturunan justru berasal dari tali darah perempuan, katanya. Karena sang suami menetap bersama keluarga istri, sehingga sulit bisa meluangkan waktu bisa bertemu dengan orang tuanya walaupun terkadang masih berada di kota yang sama. Kerinduan orang tua terhadap putra dan cucunya semakin menjadi apabila mereka tinggal berjauhan dan anaknya juga jarang pulang ke rumah.

Di samping itu, katanya, kesempatan manjalang merupakan saat yang tepat bagi sang menantu mengambil hati mertua, karena keberadaan lelaki di Minang merupakan tonggak penerus tradisi keluarga. Seorang mertua akan merasakan kebahagian dan kebanggaan tersendiri bila menantu, anak dan cucunya tiba di rumah. Ditambah lagi bila rantang dan bungkusan sang menantu penuh makanan dan beragam kue. Kebahagian orang tua itu akan lebih penuh lagi, bila sang menantu

120 Bustamal Arifin, Uang Hilang Dalam Masalahnya Dalam Perkawinan Pariaman (Study

santun pada mertua, pandai melayani suami dan penyayang terhadap anaknya. Tak cukup sampai di situ, sang menantu pun harus rajin membantu mertua dan tidak boleh hanya duduk saja bersama suami dan anaknya. Ia menambahkan, sang ibu mertua biasanya akan berbasa-basi, kalau menantu jangan ikut menyiapkan, menghidangkan makanan dan minuman yang dibawa tadi untuk disantap bersama, padahal itu hanya untuk mencoba sampai di mana rasa hormat dan penghargaan terhadap mertua. Ujian lain yang harus diperhatikan seorang menantu adalah ia harus bersiap mencuci piring dan membersihkan semua bekas makanan bila telah selesai bersantap.121

Dokumen terkait