• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan pendekatan media melalui jurnalisme warga dan siaran talk show radio tersebut terdiri dalam beberapa tahapan proses, yaitu:

1. Pendekatan jurnalisme warga untuk advokasi perbaikan pelayanan kesehatan

Beberapa tahapan pelaksanaan ini telah dilakukan untuk memastikan para jurnalis warga di Jayawijaya dapat aktif dalam menginformasikan peristiwa atau hal-hal lainnya terkait isu pelayanan kesehatan dan hak-hak kesehatan masyarakat di kabupaten ini.

a. Identifikasi dan penyaringan calon jurnalis warga

Program jurnalisme warga perlu komitmen jangka panjang. Oleh karena itu, seleksi calon jurnalis warga perlu dilakukan secara berhati-hati. Setiap calon jurnalis warga harus memenuhi salah satu dari syarat berikut:

1. Warga yang mendalami, memiliki perhatian, atau setidaknya mempunyai pengetahuan yang cukup dan kepedulian mengenai isu-isu di bidang pelayanan publik, khususnya kesehatan. Dengan latar belakang ini, mereka diharapkan dapat membuat berbagai liputan seputar isu tersebut dengan pemahaman yang benar dan diharapkan dapat mengurangi tingkat kesalahan dalam penulisan berita nantinya.

2. Anggota masyarakat yang mewakili kelompok/ komunitas tertentu dan berpengalaman dalam melakukan advokasi, seperti anggota forum multi-stakeholder (MSF), dan staff SKPD yang bekerja di bidang pelayanan kesehatan. Dengan latar belakang ini, para calon jurnalis warga diharapkan mudah mengakses berbagai isu terkait pelayanan kesehatan dan hak kesehatan masyarakat di lingkungan mereka.

3. Warga terbiasa menggunakan teknologi komunikasi sederhana, seperti computer dan telepon genggam serta mengganakan internet/ media sosial/ e-mail.

4. Warga tinggal di wilayah yang mempunyai akses yang baik terhadap jaringan telepon seluler dan koneksi internet, sehingga mereka dapat mengakses informasi dan mengirimkan hasil liputan mereka ke media sosial.

5. Warga tinggal di dekat stasiun radio sehingga diharapkan hasil tulisan mereka dapat diberikan atau dibacakan oleh stasiun radio masing-masing, bergantung pada kebijakan dari stasiun radio masing-masing.

6. Warga yang gemar atau setidaknya mempunyai minat terhadap dunia jurnalistik dengan medium apapun, seperti tulisan/ radio.

7. Warga yang berdomisili di daerah asal atau tempat kelahiran mereka sendiri atau warga yang tinggal di daerah lain tetapi berasal dari daerah tersebut. Dengan kriteria ini, mereka diharapkan sudah menguasai atau setidaknya memahami berbagai isu lokal, budaya dan karakteristik lokal lainnya di daerah mereka itu.

8. Jumlah jurnalis warga laki-laki dan perempuan juga perlu seimbang.

b. Pelatihan untuk jurnalis warga

Setelah proses identifikasi dan seleksi dilakukan, para calon jurnalis warga terpilih mengikuti pelatihan jurnalisme. Pelatihan tiga hari tersebut membahas beberapa materi tentang ketrampilan teknis dan teori jurnalistik sederhana dan cara mendapatkan informasi tentang pelayanan kesehatan. Pelatihan ini juga melibatkan media lokal yang dapat bekerjasama denga jurnalis warga. Setelah pelatihan dan menyatakan komitmennya, para jurnalis warga dapat mulai berperan aktif sebagai jurnalis warga di daerah masing-masing.

c. Pendampingan Jurnalis Warga

Pendampingan intensif bagi jurnalis warga sangat diperlukan karena masih banyak jurnalis warga yang masih kesulitas menulis atau membuat produk jurnalistik lainnya dengan baik. Banyak jurnalis warga merasa belum berani menulis, ragu-ragu tentang isu yang akan diangkat, dan takut bahwa karya mereka akan menyinggung pihak tertentu.

Pendampingan jurnalis warga difasilitasi oleh fasilitator media PPMN melalui tiga cara: (i) pertemuan rutin minimal sebulan sekali, (ii) diskusi melalui media sosial, seperti Facebook group discussion, dan (iii) tatap muka ketika menyunting karya jurnalis warga.

Selain membahas aspek teknis, pendampingan juga bertujuan memotivasi jurnalis warga untuk aktif berkontribusi dan membahas perkembangan program jurnalis warga. Proses pendampingan ini dilakukan melalui pertemuan dan diskusi yang difasilitasi oleh staff program lapangan PPMN. Dalam pertemuan ini, para jurnalis warga berbagi pengalaman dan memecahkan kendala yang terjadi.

Dengan semangat volunterisme para jurnalis warga ini akan dikoordinasi dan didorong oleh staff lokal PPMN untuk melaporkan kasus dan kondisi layanan kesehatan di daerah

masing-masing melalui radio, TV, dan media sosial, jika tersedia layanan internet. Staff PPMN juga aktif memonitor hasil laporan yang dibuat oleh para jurnalis warga dan melakukan evaluasi.

d. Kerjasama penulisan/ produksi dengan jurnalis profesional

Kerjasama penulisan/ produksi dengan jurnalis dari media arus utama sangat diperlukan untuk memperkaya tulisan jurnalis warga. Umumnya, tulisan jurnalis warga masih sederhana, sekedar menyampaikan fakta tentang apa yang dialami seseorang atau kelompok masyarakat tanpa observasi mendalam. Hal ini dapat dimaklumi karena jurnalis warga tidak berkewajiban melakukannnya.

Kerjasama dengan jurnalis media arus utama di Jayawijaya dilakukan dengan dua metode: i. Jurnalis warga menulis berdasar fakta di lapangan. Kemudian, tulisan

tersebut diserahkan kepada redaksi media arus utama untuk dipertajam oleh kontributor media lokal dan nasional. Hasil kolaborasi ini dipublikasikan di media arus utama dan dapat dibagikan ke media lain, seperti blog, Facebook, dan twitter.

ii. Jurnalis warga mendiskusikan ide penulisan dengan jurnalis media arus utama. Kemudian, mereka membagi peran kerja jurnalistik. Kerjasama ini dapat melibatkan lebih dari satu jurnalis warga dan satu jurnalis professional atau lebih asalkan mereka berasal dari media yang sama.

e. Kerjasama publikasi karya jurnalis warga dengan RRI Wamena

Kerjasama ini dilakukan melalui dua cara, yaitu (i) jurnalis warga menyerahkan tulisannya kepada redaksi RRI untuk diedit, dibaca, dan disiarkan oleh penyiar, (ii) jurnalis warga datang ke RRI untuk membacakan langsung tulisan mereka dan disiarkan di program Lintas Berita Pegunungan Tengah pada keesokan harinya. Cara kedua ini dilakukan ketika jurnalis warga telah memiliki kepercayaan diri yang baik dan ketrampilan bersiaran mereka meningkat.

2. Melakukan Talk Show di Radio untuk Advokasi Perbaikan Pelayanan Kesehatan

Program dialog publik ini membahas berbagai isu kesehatan dan dihadiri oleh pemerintah/ dinas, LSM, masyarakat, dsb. Acara ini disiarkan secara langsung di dalam dan di luar stasiun radio dan melibatkan seluas mungkin partisipasi pendengar. Untuk membantu radio

memperkaya isi talk show, setiap radio dilengkapi dengan materi pendukung, seperti majalah atau artikel kesehatan, sesuai dengan tema. Untuk menjangkau pendengar yang tidak memiliki radio, talk show juga direkam dan diperdengarkan di puskesmas mitra Kinerja.

Pelaksanaan program ini masih mengalami kendala teknis dan keterbatasan kemampuan stasiun radio lokal untuk mengelola program. Untuk itu, PPMN melakukan pendekatan sebagai berikut:

a. Asistensi dan Konsultasi

Alat stasiun radio lokal banyak yang rusak karena sering listrik mati atau tersambar petir. Untuk mengatasi hal ini, PPMN telah membantu menyediakan cadangan dana perbaikan alat.

b. Pelatihan bagi Staf dan Manajemen RRI Wamena

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman manajemen RRI Wamena tentang tugas dan target masing-masing. Pelatihan ini fokus pada pengelolaan program termasuk mengukur keberhasilannya dan cara membuat pelaporan yang bermutu dari sisi program dan administrasi.

Mentor PPMN datang ke RRI Wamena untuk memberikan pelatihan tentang cara mengelola talk show, mulai dari perencanaan tema, rancangan kegiatan , penentuan narasumber dan membuat daftar pertanyaan utama. Selain pelatihan, staf lokal PPMN juga akan melakukan pendampingan dan monitoring agar RRI dapat mengelola programnya dengan baik.

Untuk memastikan pelatihan sesuai dengan tujuan program talkshow RRI Wamena, diperlukan pendekatan personal dan kelembagaan sebaik mungkin. Tujuannya adalah memahami kondisi dan situasi di RRI dan membuat mereka merasa dilibatkan sejak awal sehingga mereka mau berkomitmen mendukung program advokasi peningkatan pelayanan kesehatan melalui media.

Anggaran yang diperlukan

Pada prinsipnya program media dan jurnalisme warga dapat disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Misal, pelatihan jurnalis warga dapat dilakukan di dinas kesehatan, dan Gambar 2. Talkshow radio menghadirkan dokter puskesmas dan tokoh masyarakat sebagai narasumber.

pendampingan dapat dilakukan di rumah fasilitator PPMN atau salah satu jurnalis warga.

1. Pelatihan dan pendampingan jurnalisme warga dan talkshow radio.

Berdasarkan pengalaman di Jayawijaya, biaya yang diperlukan untuk satu kali pelatihan adalah empat juta rupiah. Sedangkan, satu kali pendampingan yang melibatkan lima hingga sepuluh jurnalis warga perlu sekitar lima ratus ribu untuk biaya konsumsi.

2. Siaran talkshow radio

Biaya untuk melakukan satu edisi talkshow radio sekitar satu hingga dua juta rupiah yang digunakan untuk membantu dana operasional radio.

Hasil dan dampak program

Tiga tahun setelah program jurnalisme warga dan talkshow radio dilkaksanakan di Jayawijaya, program ini mulai menunjukkan hasil nyata dan manfaat. Hal ini dirasakan oleh jurnalis warga, puskesmas/ dinas kesehatan, media arus utama termasuk radio, dan masyarakat.

Berikut adalah hasil dan dampak bagi para jurnalis warga:

a. Kemampuan jurnalistik para jurnalis warga meningkat pesat. Berbagai kegiatan pendampingan/ mentoring dan kerjasama dengan jurnalis professional mengasah kemampuan jurnalis warga untuk menulis dan bersiaran serta memahami isu pelayanan kesehatan. Hingga saat ini, banyak tulisan jurnalis warga yang dimuat di media lokal, dan website mitra Kinerja. Hal ini dapat memacu jurnalis warga untuk terus berkarya.

b. Terbentuk komunitas jurnalis warga. Para jurnalis warga yang telah terlatih membuat Facebook group bernama Komunitas JW Noken Jayawijaya. Media ini menjadi sarana bagi jurnalis warga untuk berbagi berita. Hingga Agustus 2015, anggota Facebook group ini mencapai 234 orang termasuk staf pemerintah dan mereka tersebar di kabupaten lain di Papua dan provinsi lainnya.

c. Kemampuan komunikasi jurnalis warga meningkat. Bagi petugas puskesmas dan MSF yang menjadi jurnalis warga, pelatihan jurnalistik membantu mereka melakukan Gambar 3. Salah satu tulisan jurnalis warga

Bagi media arus utama, jurnalis warga membantu mereka untuk:

a. Menyediakan informasi sebanyak-banyaknya bagi masyarakat yang tinggal di pelosok Jayawijaya.

b. Memberikan informasi dari distrik dan kampung asal jurnalis warga karena media arus utama memiliki keterbatasan tim liputan dan dana untuk meliput berbagai peristiwa di seluruh Jayawijaya.

c. Pelatihan bagi RRI Wamena membantu tim produksi untuk memahami isu pelayanan kesehatan, dan merencanakan talkshow dengan matang.

Bagi puskesmas/ dinas kesehatan, program jurnalisme warga dan talkshow radio membantu: a. Mendorong inisiatif dan kemauan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan

sesuai kebutuhan masyarakat. Berbagai liputan yang dilakukan jurnalis warga membuat petugas dinas kesehatan dan puskesmas sadar bahwa masyarakat aktif mengawasi proses pelaksanaan kesehatan. Di tiga puskesmas mitra Kinerja, karya jurnalis warga memacu puskesmas untuk menambah jam pelayanannya untuk memperbaiki layanan yang lambat, dan menjaga kebersihan lingkungan.

b. Media arus utama, seperti RRI, mendukung dinas kesehatan untuk menyebarluaskan informasi untuk mempercepat perubahan perilaku masyarakat. Contoh, masyarakat di sekitar Puskesmas Hom-Hom sekarang lebih peduli terhadap pelayanan puskesmas, bahkan mereka ikut memperbaiki toilet puskesmas.

Bagi masyarakat, program ini memberi manfaat berikut:

a. Masyarakat pegunungan Jayawijaya yang tinggal jauh dari kota sekarang lebih mudah mendapatkan informasi kesehatan melalui tulisan jurnalis warga yang dipasang di dinding puskesmas, media lokal, talkshow, dan kampanye yang dilakukan oleh RRI Wamena dan media massa lainnya. Akses informasi yang lebih banyak ini dapat membantu masyarakat menyadari hak kesehatannya. Selain itu, program ini mendorong masyarakat untuk lebih aktif dan bekerjasama dengan media arus utama untuk melakukan advokasi peningkatan pelayanan publik.

b. Anggota MSF yang juga merupakan jurnalis warga merasa lebih percaya diri karena dapat berdiskusi dengan Bupati dan pejabat lainnya tentang isu pelayanan kesehatan.

c. Masyarakat pegunungan Jayawijaya yang jauh dari kota dapat mengetahui

informasi yang diberitakan JW melalui RRI. Selain itu, masyarakat yang sedang

berobat di puskesmas terdekat juga dapat membaca informasi yang ditempel di dinding puskemas atau juga dapat terlibat melalui kegiatan talkshow yang difasilitasi KINERJA dan RRI di puskemas.