• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN PENELITIAN

6.2 Proses Peletarian dalam Leksikon

Leksikon Parik

Benteng keliling yang membatasi huta dan lingkungan luar pada umumnya dibangun dari tatanan tanah atau batu yang berasal dari lingkungan sekitarnya. Benteng tanah atau batu merupakan batas luar kampung merupakan salah satu hasil dari adaptasi yang dilakukan masyarakat Batak Toba untuk memperluas areal persawahannya. Batu-batu tersebut merupakan material vulkanis yang dikeluarkan saat erupsi Gunung Toba purba. Batu-batu itu diambil dan dijadikan sebagai benteng huta maka areal pertanian menjadi lebih luas. Selain digunakan sebagai benteng, batu-batu tersebut juga ambil dan disusun menjadi pematang sawah,seperti yang ditemukan di areal persawahan di dekat Tumbak Sulu-sulu, Bakkara dan disekitar Harian Boho hingga Sihotang. Kadang-kadang batu-batu tersebut juga disusundi sisi jalan antar huta.

Keberadaan benteng batu ini dihubungkan dengan faktor keamanan dari serangan musuh maupun serangan binatang buas. Namun, tampaknya bentenghutaini juga dihubungkan dengan kepercayaan sebagaitembok magis penangkal pengaruh buruk yang datang dari luar yang dapat mengganggu huta, baik itu wabah penyakit maupun roh-roh jahat. Selain itu, kemungkinan benteng huta tersebut juga berperan dalam menjaga huta dari pengaruh cuaca yang berubah-ubah, terutama angin, di sekitar Danau Toba.

Leksikon Suha

Suha adalah parit yang mengelilingi hutayang berada di bagian luar dari benteng merupakan saluran drainase huta. Suhaini sangat berperan dalam menjaga kondisi halaman huta tidak becek dan tergenang air saat hujan deras. Selain itu, keberadaan parit ini juga dapat dihubungkan dengan fungsinya sebagai sarana pertahanan huta.Dengan adanya parit keliling tersebut maka akan dapat memperlambat atau seredam serangandari musuh.

Leksikon partangisan

Pada sebuah permukiman tentunya akan mempunyai komponen yang disebut dengan partangisan atau pemakaman/kuburan. Pada permukiman Batak-Toba di sekitar lingkungan DanauToba, kuburan berada pada bagian luar darihuta.Kuburan ini berada pada satu lokasi khusus digunakan sebagai areal pemakaman. Namun kadang-kadang kuburanditemukan di tengah-tengah sawah atau ladang dengan bentuk berupa sarkofagusatautambak. Lokasi kuburan komunal biasanya ditempatkan pada lokasi-lokasi yangberada pada lereng atas sebuah bukit, atau lebih tinggi dari lokasihuta.Penempatan lokasi tersebut merupakan upaya masyarakat untuk tidak mengganggu areal persawahan dan juga dihubungkan dengan kepercayaan masyarakat. Masyarakat Batak-Toba mempunyai pandangan bahwa leluhur harus ditempatkan pada tempatyang berada di atas supaya dapat terus melihat dan membimbing anak dan cucunya.

Leksikon huta

Huta adalah permukiman-permukiman tradisional yang berada di lereng atas sebuah bukitdibangun dengan meratakan bagian lereng. Batas-batas dariHutaadalah sisa darihasil pemangkasan tersebut yang kemudian juga berfungsi sebagai benteng tanah dari huta. Jalan-jalan antar hutadibuat dengan memangkas bagian lereng bukit.Persawahan dari hutaini berada di dasar lembah yang berada masih di sekelilinghuta.

Leksikon Sijagaraon (Batu Parbiusan)

Sijagaraon berasal dari kata jagar. Kata jagar mengandung arti indah atau tertata rapi. Ada beberapa perlakuan dalam diri seseorang yang disebut sijagaron. Seorang pria yang berpakaian ulos lengkap, bila dilengkapi dengan gelang puttu dari gading dan logam,

assesori itu disebut juga sijagaron. Seorang wanita memakai ikat kepala dari emas

sortali termasuk juga disebut sijagaron.

Sijagaron berarti memberi kesan apa yang ada pada dirinya ditunjukkan dalam pakaian pelengkap yang menjadi keindahan dan kebanggaan dirinya. Sijagaron itu dapat menunjukkan dirinya seorang pemimpin, atau seorang kaya raya dan memiliki keturunan yang lengkap dan banyak. Dalam pesta adat bila digunakan alat musik gondang batak, disebut tujuannya pajagarhon ulaon.

Bila seseorang menata kalimat yang santun untuk menghormati orang lain disebut jagar ni hata. Bila seseorang kelihatan rapi dan semua asesori pada dirinya itu adalah “pinjaman” maka dia disebut jagar idaon. Seseorang yang kelihatan beribawa tapi tidak memiliki kemampuan intelektual, termasuk juga jagar idaon. Artinya dari pandangan mata cukup indah dan berwibawa tapi dari segi keberadaan dan intelektual sebenarnya kosong.

Dalam kehidupan batak, memiliki keturunan lengkap dan kehidupan yang cukup dia disebut sudah jagar dihangoluan. Ada anak laki dan perempuan, ada cucu dari semua anaknya, ada bekal hidup yang cukup dan senantiasa dalam kesehatan. Bila orang tua meninggal dunia, maka di hulu kerandanya itu dibuat lambang pencapaian kehidupannya itu yang disebut sijagaron.

Sijagaron pada orang meninggal dunia terdiri dari ranting dan daun hariara, baringin, sanggar, ompu-ompu, silinjuang, sihilap, pilo-pilo. Dilengkapi dengan biji kemiri dan sebutir telor ayam. Semuanya ditempatkan didalam wadah ampang dan jual yang berisi padi. Semua jenis melambangkan pencapaian hidup si orang tua meninggal dunia dan harapan kedepan bagi semua keturunannya.

Leksikon Hariara (Hariara Sidua tali)

Pohon Hariara ini merupakan pohon yang menjadi ciri khas budaya Batak yang diturunkan dari beberapa generasi awal, tepatnya ketika pada saat daerah di sekitar Danau Toba belum dimasuki oleh ajaran-ajaran agama. Oleh karena itu, masyarakat Batak mempercayai tentang keberadaan pohon ini sebagai penentu kehidupan dan pengambilan keputusan.

Pohon Hariara ini digunakan oleh beberapa tetua adat dalam satu desa untuk mengambil keputusan ketika akan membangun sebuah pemukiman atau huta. Bagaimana caranya ? Pertama kali, mereka akan menanam bibit pohon Hariara di suatu tempat yang akan mereka bangun sebagai pemukiman atau huta, kemudian mereka akan memantau perkembangan bibit pohon tersebut dalam waktu 7 har

Leksikon Hariara (Ara) Sebagai lambang bahwa dia memiliki anak laki-laki. Seiring dengan itu para pengetua menguraikan kata pantun dalam pengharapan kiranya keturunannya kelak memiliki anak yang terhormat dan putri yang berada. Pohon ini

memiliki batang besar dan cabang yang besar memiliki daun yang rindang. Hariara disebut juga parjuragatan karena bila berbuah akan datang banyak mahluk mencari kehidupan. Buahnya adalah hidup bagi mahluk lain.

Setelah 7 hari bibit pohon tersebut ditanam dan tumbuh dengan subur, maka masyarakat pun meyakini bahwa tanah di tempat tersebut layak menjadi tempat pemukiman dan diyakini tempat tersebut akan membawa berkah bagi masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Begitu juga sebaliknya, apabila bibit pohon tersebut tidak tumbuh dengan subur atau bahkan layu maka tanah tersebut tidak layak dijadikan tempat pemukiman.

Seperti ditilik dari namanya, Hari ‘hari’ dan Ara ‘tujuh’ maka pohon ini sering disebut sebagai pohon hari ketujuh. Apabila Pohon Hariara ini dapat tumbuh hingga hari ketujuh, artinya tanah di kawasan ini cukup baik untuk dijadikan Huta dan perkembangan masyarakat ke depannya. Tanah yang dapat membuat Pohon Hariara hidup setelah hari ketujuh dipercaya bebas tulah, bebas petaka, dan dipercaya akan membawa kemakmuran pada masyarakat Batak yang tinggal di dalam Huta yang ditumbuhi Pohon Hariara tersebut.

Selain itu, pohon Hariara ini diyakini oleh masyarakat sebagai pelindung suatu desa dari segala marabahaya. Bahkan hingga kini pun pohon hariara ini juga masih digunakan oleh sebagian masyarakat Batak sebagai tempat melaksanakan suatu perjanjian atau sebagai simbolisasi marga.

Pohon ini dinamakan hariara yang mempunyai makna sebagai kehidupan yang sejahtera. Hal tersebut dimaknai dari beberapa filosofi budaya masyarakat Batak dalam bagian yang terdapat di pohon hariara ini. Seperti pada bagian daun yang mempunyai makna perlindungan dari segala marabahaya, bagian batang yang mempunyai makna

pembawa rezeki dan keberkahan, dan kemudian bagian akar yang mempunyai makna persatuan antara manusia dengan manusia serta keselarasan dengan alam di sekitarnya. Sehingga filosofi yang terdapat di pohon ini pun kini menjadi nasihat bagi masyarakat Batak agar dapat hidup seperti halnya pohon hariara yang dapat berguna bagi sesama.

Hariara juga ditanam sebagai tanda pembatas antara satu huta (kampung) dengan huta yang lain, bahkan simbol pengawal desa, sebagai tempat mamele (berdoa pada penghuni alam gaib) atau sebagai tanda kepemilikan satu wilayah atau sebagai lambang bagi satu klan/marga. Atau bahkan sebagai saksi dalam perjanjian antar komunitas, seperti perjanjian antar marga (padan).

Begitu pentingnya posisi Hariara dalam kehidupan masyarakat Batak sehingga dulu (bahkan kini tidak jarang) dia menjadi tempat/benda yang disakralkan, seperti kisah beberapa cerita rakyat yang sudah didekripsikan di awal.

Hariara/ Jabijabi tempat Marappot Bius.

Pohon ini juga memiliki makna filosofis bagi orang Batak. Hariara sering disebut sebagai pohon hidupnnya suku Batak karena pohon ini dapat tumbuh tinggi besar, kokoh dan tahan terhadap berbagai cuaca dengan masa hidup yang lama. Daunnya yang lebat membuat daerah sekitarnya menjadi sejuk sehingga sering orang-orang berteduh dibawah pohon sambil membicarakan banyak hal. Berbagai jenis makhluk hidup juga hidup dan mencari makan dipohon ini.

Pohon ini menjadi semacam ”kerajaan” tanpa raja yang penuh dengan kehidupan tanpa kekacauan. Oleh karena itu, orangtua Batak sangat mengharapkan anak-anaknya sukses

seperti hariara ”tumbuh tinggi, besar dan kuat, membenamkan akar jauh ke perut bumi. Masyarakat Batak menjadikan hariara menjadi falsafah hidup di manapn berada harus tumbuh besar dan kokoh.

Kesatuan ketiga kosmos (banua na tolu) dilambangkan dengan pohon Hariara Sundung di Langit atau Hariara Jambu Barus atau Baringin Tumbur Jati atau Baringin Tumbur Tua. Pohon ini berada di lingkungan ketiga banua, dedaunan serta pucuknya berada di Banua Ginjang batang dan cabang-cabangnya di Banua Tonga , dan akarnyamenembus Banua Toru.

Hariara Sundung di Langit mempunyaicabang delapan yang mengarah ke delapan penjuru mata angin. Kedelapan arah mata angin (Desa na Ualu) yaitu Timur

(Purba/Habinsaran), Tenggara (Anggoni), Selatan (Dangsina), Barat Daya (Nariti), Barat (Pastima/ Hasundutan),

Pohon memiliki makna universal dan pada setiap suku bangsa memiliki arti tersendiri meskipun secara universal kehadiran pohon sebagai pelestari lingkungan. Indonesia berada di daerah tropis maka berbagai jenis pohon-pohonan tumbuh subur, berbagai macam tumbuh-tumbuhan, berbagai jenis binatang-binatang. Flora dan fauna Indonesia sangat kaya dan sumber daya alam berlimpah-limpah. Nyamannya hidup di khatulistiwa.

Kehadiran pohon bagi bangsa Indonesia memiliki arti penting, bukan sekedar untuk melestarikan lingkungan. Hampir di semua daerah di Indonesia, kehadiran pohon memiliki arti tersendiri. Pohon masih dianggap sesuatu yang sakral bahkan banyak masyarakat yang mengkeramatkannya. Artinya pohon keramat yang tidak bisa diganggu begitu saja.

Kepercayaan kepada kekuatan yang dimiliki pohon masih melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Berbeda-beda pada setiap suku bangsa. Suku Baduy misalnya pohon sesuatu yang memiliki kekuatan gaib maka tidak boleh menebang pohon. Suku Dayak di Kepulauan Riau pohon adalah bagian dari alam yang menyatu sehingga tidak boleh ditebang sembarangan.

Leksikon Baringin

Baringin, (Beringin) sebagai lambang bahwa dia memiliki anak perempuan. Seiring dengan itu para pengetua menguraikan kata pantun dalam pengharapan kiranya keturunannya kelak tetap sehat walafiat senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Pohon ini memiliki batang sedang dan memiliki daun yang rindang. Baringin

termasuk juga parjuragatan karena bila berbuah akan datang banyak mahluk mencari kehidupan. Buahnya adalah kehidupan bagi mahluk lain.

Silinjuang/Hatunggal

Silinjuang/Hatunggal. Sejenis tumbuhan berbatang lurus dan daun menempel di batangnya. Bila memiliki cabang, maka akan mengikuti batang induknya lurus keatas. Ini mengartikan bahwa kehormatan seseorang ditempuh dengan perjuangan. Kehormatan orang tua bisa hilang bila keturunannya tidak searah dan sejalan dengan prinsip kebenaranyang dianutnya. Seiring dengan itu para pengetua menguraikan kata pantun dalam pengharapan kiranya keturunannya kelak tetap mendapatkan kehormatan dari keturunannya dari kebenaran yang dilakukan dalam hidupnya. Silinjuang berdaun hijau, hatunggal berdaun merah.

Leksikon Ompu-ompu.

Ompu-ompu. Sejenis tanaman seperti bawang, berdaun seperti pandan. Ada yang menyebutkan sebagai raja ni duhut-duhut. Menandakan bagi orang yang sudah memiliki cucu. Ompu-ompu adalah tumbuhan vegetative berkembang mengelompok. Umbi ompu-ompu dapat digunakan mengobati memar kulit dan sakit tulang dengan merendam dengan air yang panas.

LeksikonSanggar “pimping”

Sanggar “pimping”sejenis tanaman yang tidak memiliki cabang. Tumbuh dengan batang yang lunak namun sangat fleksibel terhadap hembusan angin sehingga tidak mudah patah. Batangnya dilindungi rumpun daunnya sendiri. Memiliki buah bijian yang diminati burung. Seiring dengan itu para pengetua menguraikan kata pantun dalam pengharapan kiranya biji sanggar menjadi pilihan bagi burung agar tidak menghabiskan

biji padi di sawah. Untuk jaminan kehidupan kiranya ada upaya penyelamatan bagi pengganggu harapan hidup manusia.

Leksikon Sihilap

Sihilap, sejenis tumbuhan daun yang merangkai seperti kipas. Diartikan merapatkan yang dekat memanggil yang jauh. Seiring dengan itu para pengetua menguraikan kata pantun dalam pengharapan kiranya keturunannya senantiasa rukun dan saling merapat. Dari namanya juga diartikan untuk kehadiran jodoh bagi keturunnyannya yang belum memiliki jodoh.

Leksikon Pilo-pilo

Pilo-pilo terbuat dari daun enau yang masih muda. Batang daun enau muda biasanya mengarah ke atas dan daunnya segar hijau dan lembut. Mengartikan pengharapan hidup yang senantiasa agresif dan ceria.

Leksikon Gambiri

Gambiri adalah kemiri yang dalam penggunaan dalam upacara adat disebut miak-miak mahasa.

Gambiri sebagai metafora mengandung arti dan pengharapan agar dalam tubuh manusia ada minyak kesuburan. Pengertian yang lebih dalam adalah, manusia yang memiliki benih yang baik. Ini pelambangan orang batak tentang gen yang baik yang mengharapkan bibit, bebet dan bobot.

Leksikon Pira ni manuk

Pira ni manuk. Telor ayam yang masih segar (belum diperam). Telor diartikan adalah paduan dari dua jenis benih, jantan dan betina. Pira ni manuk sebagai metafora merupakan lambang pengharapan bagi keturunannya agar benih dapat bertemu menjadi janin yang bakal manusia. Bila benih yang baik seperti dilambangkan kemiri bertemu

tapi tidak dapat merekat (marrongkap) maka tidak bakal janin. Orang batak sangat menjauhkan nasib yang pupur tidak memiliki keturunan.

Leksikon Eme

Eme adalah padi yang melambangkan bekal hidup yang banyak dan melimpah. Taburan padi dapat diartikan sebagaiharapan kemakmuran bagiketurunannya. Padi ini disebut

sitamba tua, lambang pengharapan agar selalu melimpah rejeki Leksikon Pokki

Pohon yang kayunya keras dan mampu tumbuh dan berkembang dalam kondisi apapun, sehingga pohon ini dijadikan sebagai inspirasi atau saran dari orang tua kepada anaknya untuk tidak mudah putus asa menghadapi kehidupan dimanapun berada :

Pir ma pokki bahul-bahul passalongan, Pir ma tondi sai luju -luju ma nang pangomoan.

Jika kita berusaha dan bekerja keras, akan menghasilkan untung dan keberhasilan

Leksikon marsitalolo

marsitalolo bercocok tanam padi di sawah dengan irigasi. Pada umumnya, panen padi berlangsung setahun sekali. Beberapa tempat lain ada yang melakukan panen sebanyak dua atau tiga kali dalam setahun .

Kearifan lokal sangat berperan pada pengelolaan pertanian disekitar Danau Toba. Secara umum kegiatan pertanian terutama tanaman pangan selalu disertai dengan aturan-aturan yang berhubungan dengan keberlanjutan sistem pertanian yang ada.

Misalnya terdapat aturan-aturan tentang pengolahan lahan, pengairan , pemakaian pupuk, pemakaian bibit, masa turun tanam , masa panen, lumbung desa, dan lain-lain.

Larangan pemerintah penjajah Belanda terhadap beberapa aturan kearifan lokal justru telah melunturkan semua aturan kearifan lokal yang ada. Larangan kontroleur Belanda terhadap acara Mangase Taon karena dianggap melanggar aturan agama Kristen adalah sebagai salah satu contoh padahal Mangase Taon adalah bagian tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian kearifan lokal ladang pertanian disekitar Danau Toba.

Penerapan kearifan lokal bidang pertanian sangat erat tujuannya dengan konservasi sumber daya alam dan keberlanjutan sistem pertanian yang telah diperkirakan para nenek moyang masyarakat sekitar Danau Toba. Tiadanya aturan-aturan dari kearifan lokal pertanian yang diberlakukan pada masa belakangan ini, secara nyata telah mengakibatkan : degradasi kesuburan tanah, kurangnya daya dukung lahan, penurunan hasil produksi alami dan kerentanan terhadap serangan hama. Hal ini juga memberi efek hilangnya plasma nuftah tanaman lokal, tiadanya persediaan bibit tanaman,dan yang paling utama adalah kesulitan dalam pengaturan air atau irigasi.

Seandainya semua kearifan lokal dan aturan – aturannya itu diberlakukan kembali,

dengan cara dimodifikasi seperti bagian acara ritualnya, disesuaikan dengan aturan agama yang dianut oleh masyarakat disekitar Danau Toba , maka diharapkan kesulitan- kesulitan yang timbul dari permasalahan-permasalahan tersebut diatas dapat diatasi.

Perusakan daun di masyarakat Batak dapat dapat diartikan sebagai metafora makian atau sumpah serapah. Sumpah serapah seorang Batak sambil memungut sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarkan sumpah serapahnya: “Sai diripashon Debata ma au songon on molo so

hudege, hubasbas, huripashon ho annon!”. Terjemahannya kira-kira begini “Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak kuinjak, kulibas, kuhabisi !”. Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol kehancuran seterusnya. Perbuatan/karma seperti ini masih diyakini sampai sekarang.

Leksikon solu

Selain bercocok tanam, peternakan merupakan mata pencarian penting bagi orang Batak. Di daerah tepi danau Toba dan pulau Samosir, pekerjaan menangkap ikan dilakukan secara intensif dengan perahu konsep bahasa, pengetahuan, dan teknologi suku bangsa batak.

Leksikon ihan

Kualitas habitat Ikan Batak berbeda dengan ikan mas, lele dan ikan-ikan lainnya. Ikan mas dan lele mampu hidup di air keruh, namun ikan batak hidup di air jernih dan lebih senang di ari jernih dan deras.

Menurut Balai Riset Perikanan Air Tawar, Pusat Riset Perikanan Budidaya, kualitas air yang diinginkan ikan batak adalah sebagai berikut : oksigen terlarut 6,8 – 7,0 mg/lt, pH 6,0, suhu 21 – 24 O C, karbondioksida 2,2 – 4,5 mg/l, kesadahan 12,3 mg/l, debit air 6,0 – 6,35 liter/detik dan kecerahan lebih dari 2,5 m.

Perbandingan silsilah ikan asli Tanah Batak dengan Ikan Mas untuk membuktikan bahwa Ikan Mas yang ada di Tanah Batak adalah asli dari Tanah Batak dan bukan keturunan yang didatangkan dari negeri luar itu:

SILSILAH IHAN (Ikan Batak Asli –

punah?) JURUNG (IKAN BATAK) IKAN MAS – KARPER

Kerajaan Animalia Animalia Animalia

Filum Chordata Chordata Chordata

Kelas Actinopterygii Actinopterygii Actinopterygii

Ordo Cypryniformes Cypryniformes Cypryniformes

Keluarga Cyprinidae Cyprinidae Cyprinidae

Genus Neolissochilus Tor Cyprinus

Spesies Neolissochilus Sumatranus Neolissochilus thienemanni Tor Douronensis Tor Tambra Tor Soro Tor Tambroides

Cyprinus Carpio, Linn. 1758

Oleh karena itu, nenek moyang orang Batak dalam cerita rakyat sadar akan hal ini sehingga di beberapa tempat disakralkan tidak boleh mengotori airnya bahkan meludahpun tidak bisa.

Leksikon Sabaran

Penangkapan ihan di Danau Toba biasanya dilakukan para nelayan dengan menggunakan sabaran berupa susunan batu di tepi danau sehingga ihan masuk dengan tenang. Setelah ikan- ikan masuk, pintu sabaran ditutup lalu dilakukan penangkapan. Dengan cara demikian, tidak terjadi pemburuan ke lubuk pemijahannya. Tradisi penangkapan ihan berbeda jauh dengan cara- cara yang dilakukan nelayan saat ini.

Kelangkaan ihan itu berdampak terhadap pergeseran tatalaksana adat istiadat di kalangan masyarakat Batak. Hal ini berakibat pada posisi ihan banyak digantikan dengan ikan mas untuk acara "upa-upa" (selamatan atau syukuran).

Norma Bebas Penangkapan Ikan (Area No Fishing)

Terdapat aturan kesepakatan bahwa nelayan di Danau Toba tidak boleh menangkap ikan terlalu banyak. Masyarakat hanya boleh menangkap ikan cukup untuk dikonsumsi sendiri. Beberapa lokasi di Danau Toba dinyatakan sebagai area No Fishing. Pelanggaran terhadap aturan ini diberi sanksi oleh raja wilayah atau sanksi magis seperti legenda Sitapigagan dan Gudalap.

Ukuran dan Kondisi Ikan Yang Dapat Ditangkap

Dahulu nelayan dan masyarakat umum harus mengembalikan ikan tangkapan berukuran kecil ke Danau Toba ; Demikian juga ikan betina yang bertelur. Ketiga aturan-aturan tersebut diatas sangat penting diterapkan kembali pada masa sekarang untuk mengurangi tekanan terhadap populasi ikan di Danau Toba.

Beberapa aturan dari kearifan lokal lain yang dianggap perlu untuk diterapkan kembali adalah ...

Penempatan/lokasi alat tangkap ikan.

Dahulu bubu sebagai alat tangkap ikan ditempatkan di sekitar pantai, lokasinya tidak bisa sembarangan harus dengan persetujuan raja dan atau masyarakat lainnya. Pengangkatan ikan (hasil) dari dalam bubu juga pada waktu yang disepakati bersama. (Cerita Simanjorang, Aek Sitapigagan dan Gudalap).

Tala-lata ripe-ripe

Salah satu ciri perikanan rakyat dahulu adalah adanya empang milik komunitas atau

disebut ambar atau tala-lata ripe-ripe . Empang seperti ini adalah sumber bibit ikan

Model seperti ini dapat diterapkan kembali pada masa sekarang ini. Tala-lata ripe-ripe dapat ditempatkan pada muara sungai atau tali air yang mengalir ke Danau Toba. Secara berkala ikan-ikan dengan ukuran tertentu dilepas ke Danau Toba.

Leksikon Bubu

bubu sebagai alat tangkap ikan ditempatkan di sekitar pantai, lokasinya tidak bisa sembarangan harus dengan persetujuan raja dan atau masyarakat lainnya.

Dokumen terkait