BAB II. PROSES PEMBENTUKAN KATA POLIMORFEMIK YANG
2.1 Pengantar
2.1.7 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Diajarkan
Kata diajarkan merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari di- dan
ajarkan. Kata ajarkan itu sendiri terdiri dari unsur langsung, yaitu ajar dan -kan.
Unsur pembentuk kata diajarkan dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
diajarkan
ajarkan
di- ajar -kan
Afiks di- pada morfem diajarkan berfungsi sebagai pembentuk verba pasif. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(21) Lagu itu diajarkan oleh ibu kepada anaknya S P O KET
Secara fungsional kalimat (21) terdiri dari empat fungsi, yaitu Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), dan KET (Keterangan). Fungsi S diisi kata lagu itu yang termasuk kategori N, fungsi P diisi kata diajarkan yang termasuk kategori V, fungsi O diisi kata oleh ibu yang termasuk kategori N, dan fungsi KET diisi kata
kepada anaknya yang termasuk kategori N.
Kata diajarkan pada contoh (21) termasuk verba karena dapat dinegatifkan dengan kata ingkar tidak. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(21a) Lagu itu tidakdiajarkan oleh ibu kepada anaknya.
S P O KET
Kata diajarkan termasuk verba pasif karena apabila digunakan dalam kalimat verba tersebut menghadirkan fungsi S yang diisi oleh peran ‘penderita’ sebagaimana tampak pada contoh (21) S diisi oleh ‘penderita’ lagu itu. Dengan demikian, kata diajarkan merupakan verba yang menyatakan makna ‘tindakan pasif’.
2.1.8 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Mengajari
Kata mengajari merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari
me(N)-dan ajari. Kata ajari itu sendiri terdiri dari unsur langsung, yaitu ajar dan –i.
Unsur me(N)- dalam mengajari mengalami proses morfofonemik, yaitu berubahnya fonem /N/ pada morfem me(N)- menjadi /n/. Hal ini tidak lain sebagai
akibat pertemuan morfem tersebut dengan morfem asal ajar sehingga morfem
me(N)- berubah menjadi meng-. Unsur pembentuk kata mengajari dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
mengajari
ajari
me(N)- ajar -i
Afiks me(N)- pada morfem mengajari berfungsi sebagai pembentuk verba aktif transitif. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(22) Pak Guru mengajari anak-anak dengan sabar.
S P O KET
Secara fungsional kalimat (22) terdiri dari empat fungsi yaitu Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), dan KET (Keterangan). Fungsi S diisi kata Pak Guru
yang termasuk kategori N, fungsi P diisi kata mengajari yang termasuk kategori V, fungsi O diisi kata anak-anak yang termasuk kategori N, dan fungsi KET diisi kata dengan sabar yang termasuk kategori konjungsi.
Kata mengajari pada contoh (22) termasuk verba karena dapat dinegatifkandengan kata ingkar tidak. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(22a) Pak Guru tidakmengajari anak-anak dengan sabar.
S P O KET
Kata mengajari termasuk verba aktif transitif karena apabila digunakan dalam kalimat akan menuntut hadirnya O (objek). Selain itu kata mengajari
termasuk verba aktif transitif karena dapat diubah menjadi verba pasif diajari.
Apabila dipasifkan kata atau frase yang menduduki fungsi O dalam kalimat aktif transitif selalu menduduki fungsi S pada kalimat pasif sebagaimana tampak pada contoh (22b) berikut.
(22b) Anak-anak diajari dengan sabar oleh Pak guru.
S P Pel KET
Frase anak-anak yang mengisi fungsi O dalam kalimat aktif transitif (22) berubah menduduki fungsi S dalam kalimat pasif (22b). Maka pelaku tindakan tidak lagi terdapat pada S, melainkan pada KET, yakni frase oleh Pak Guru. Dengan demikian, kata mengajari merupakan verba yang menyatakan makna ‘tindakan aktif’, yaitu ‘melakukan tindakan pengajaran’.
2.1.9 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Diajari
Kata diajari merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari di- dan
ajari. Kata ajari itu sendiri terdiri dari unsur langsung, yaitu ajar dan –i. Unsur pembentuk kata diajari dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
diajari
ajari
Afiks di- pada morfem diajari berfungsi sebagai pembentuk verba pasif .
Berikut ini contohnya dalam kalimat. (23) Saya diajari menari oleh ibu. S P Pel KET
Secara fungsional kalimat (23) terdiri dari empat fungsi, yaitu Subjek (S), Predikat (P), Pelengkap (Pel), dan KET (Keterangan). Fungsi S diisi kata saya
yang termasuk kategori N, fungsi P diisi kata diajari yang termasuk kategori V, fungsi Pel diisi kata menari yang termasuk kategori N, dan fungsi KET diisi kata
oleh ibu yang termasuk kategori N.
Kata diajari pada contoh (23) termasuk verba karena dapat dinegatifkan dengan kata ingkar tidak. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(23a) Saya tidakdiajari menari oleh ibu. S P Pel KET
Kata diajari termasuk verba pasif karena apabila digunakan dalam kalimat verba tersebut menghadirkan fungsi S yang diisi oleh peran ‘penderita’ sebagaimana tampak pada contoh (23) S diisi oleh ‘penderita’ saya. Dengan demikian, kata diajari merupakan verba yang menyatakan makna ‘tindakan pasif’.
2.1.10 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Pelajari
Kata pelajari merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari
per-dan ajari. Kata ajari itu sendiri terbentuk dari unsur langsung ajar dan –i. Unsur
per- dalam pelajari mengalami proses morfofonemik, yaitu berubahnya fonem /r/ pada morfem per- menjadi fonem /l/. Hal ini tidak lain sebagai akibat pertemuan
morfem tersebut dengan morfem asal ajar sehingga morfem per- berubah menjadi
pel-. Unsur pembentuk kata pelajari dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
pelajari
ajari
per- ajar -i
Afiks per- pada morfem pelajari berfungsi sebagai pembentuk verba pasif imperatif. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(24) Pelajari materi ini dengan baik. P O KET
Secara fungsional kalimat (24) terdiri dari tiga fungsi, yaitu Predikat (P), Objek (O), dan Keterangan (KET). Fungsi P diisi kata pelajari yang termasuk kategori V, fungsi O diisi kata materi ini yang termasuk kategori N, dan fungsi KET diisi kata dengan baik yang termasuk kategori konjungsi. Dengan demikian, kata pelajari merupakan verba yang menyatakan makna ‘tindakan pasif’.
2.1.11 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Mempelajari
Kata mempelajari merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari
mem- dan pelajari. Kata pelajari terbentuk dari per- dan ajari. Kata ajari itu sendiri terbentuk dari unsur langsung ajar dan –i. Unsur per- dalam pelajari
mengalami proses morfofonemik, yaitu fonem /r/ pada morfem per- berubah menjadi fonem /l/. Hal ini tidak lain sebagai akibat pertemuan morfem tersebut
dengan morfem asal ajar sehingga morfem per- berubah menjadi pel-. Unsur pembentuk kata mempelajari dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
mempelajari
pelajari ajari mem- per- ajar -i
Afiks mem- pada morfem mempelajari berfungsi sebagai pembentuk verba aktif transitif. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(25) Para ilmuwan mempelajari struktur lapisan bumi. S P O
Secara fungsional kalimat (25) terdiri dari tiga fungsi, yaitu Subjek (S), Predikat (P), Objek (Objek). Fungsi S diisi kata para ilmuwan yang termasuk kategori N, fungsi P diisi kata mempelajari yang termasuk kategori V, dan fungsi O diisi kata struktur lapisan bumi yang termasuk kategori N.
Kata mempelajari pada contoh (25) termasuk verba karena dapat dinegatifkan dengan kata ingkar tidak. Berikut ini contohnya dalam kalimat. (25a) Para ilmuwan tidakmempelajari struktur lapisan bumi.
S P O
Kata mempelajari termasuk verba aktif transitif karena apabila digunakan dalam kalimat akan menuntut hadirnya O (Objek). Selain itu kata mempelajari
termasuk verba aktif transitif karena dapat diubah menjadi verba pasif dipelajari.
transitif selalu menduduki fungsi S pada kalimat pasif sebagaimana tampak pada contoh (25b) berikut.
(25b) Struktur lapisan bumi dipelajari oleh para ilmuwan. S P KET
Frase struktur lapisan bumi yang mengisi fungsi O dalam kalimat aktif transitif (25) berubah fungsi menjadi S dalam kalimat pasif (25b). Maka pelaku tindakan tidak lagi terdapat pada S melainkan pada KET, ialah oleh para ilmuwan. Dengan demikian, kata mempelajari merupakan verba yang menyatakan makna ‘tindakan aktif ‘ yaitu ‘melakukan perbuatan mempelajari’.
2.1.12 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Dipelajari
Kata dipelajari merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari di- dan
pelajari. Kata pelajari terbentuk dari per- dan ajari. Kata ajari itu sendiri terbentuk dari unsur langsung ajar dan –i. Unsur per- dalam pelajari mengalami proses morfofonemik, yaitu berubahnya fonem /r/ pada morfem per- menjadi fonem /l/. Unsur pembentuk kata dipelajari dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
dipelajari
pelajari ajari di- per- ajar -i
Afiks di- pada morfem dipelajari berfungsi sebagai pembentuk verba pasif. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(26) Materi ini dipelajari dengan teliti. S P KET
Secara fungsional kalimat (26) terdiri dari tiga fungsi, yaitu Subjek (S), Predikat (P), dan KET (Keterangan). Fungsi S diisi kata materi ini yang termasuk kategori N, fungsi Pdiisi kata dipelajari yang termasuk kategori V, dan fungsi KET diisi kata dengan teliti yang termasuk kategori konjungsi.
Kata dipelajari pada contoh (26) termasuk verba karena dapat dinegatifkan dengan kata ingkar tidak. Berikut ini contohnya dalam kalimat. (26a) Materi ini tidak dipelajari dengan teliti.
S P KET
Kata dipelajari termasuk verba pasif karena apabila digunakan dalam kalimat verba tersebut menghadirkan fungsi S yang diisi oleh peran ‘penderita’ sebagaimana tampak pada contoh (26a) S diisi oleh ‘penderita’ materi ini. Dengan demikian, kata dipelajari merupakan verba yang menyatakan makna ‘tindakan pasif’.
2.1.13 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Terajar
Kata terajar merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari ter- dan
ajar. Unsur pembentuk kata terajar dapat di tunjukkan dengan diagram berikut. terajar
Afiks ter- pada morfem terajar berfungsi sebagai pembentuk verba. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(27) Tenaga pendidik di sekolah itu sangat minim maka 75 siswanya S O
tidakterajar dengan baik. P
Secara fungsional kalimat (27) terdiri dari tiga fungsi, yaitu Subjek (S), Objek (O), dan Predikat (P). Fungsi S diisi kata tenaga pendidik di sekolah itu sangat minim yang termasuk kategori N, fungsi O diisi kata maka 75 siswanya
yang termasuk kategori N, dan fungsi P diisi kata tidak terajar dengan baik yang termasuk kategori V.
Kata terajar termasuk verba karena dapat dinegatifkan dengan kata ingkar
tidak, sebagaimana tampak pada contoh (27). Dengan demikian, kata terajar
merupakan verba yang menyatakan makna ‘dapat diajar’.
2.1.14 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Terajari
Kata terajari merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari ter- dan
ajari. Kata ajari itu sendiri terbentuk dari unsur langsung ajar dan –i. Unsur pembentuk kata terajari dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
terajari
ajari
Afiks ter- pada morfem terajari berfungsi sebagai pembentuk verba pasif. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(28) Budi tidakterajari dengan sendirinya sebagi penjudi. S P KET
Secara fungsional kalimat (28) terdiri dari tiga fungsi, yaitu Subjek (S), Predikat (P), dan Keterangan (KET). Fungsi S diisi kata Budi yang termasuk kategori N, fungsi P diisi kata terajari dengan sendirinya yang termasuk kategori V, dan fungsi KET diisi kata sebagaipenjudi yang termasuk kategori N.
Kata terajari termasuk verba karena kata tersebut dapat dinegatifkan dengan kata ingkar tidak, sebagaimana tampak pada contoh (28). Dengan demikian, kata terajari merupakan verba yang menyatakan makna ‘dapat diajari’.
2.1.15 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Terajarkan
Kata terajarkan merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari ter- dan ajarkan. Kata ajarkan itu sendiri terbentuk dari unsur langsung ajar dan –
kan. Unsur pembentuk kata terajarkan dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
Terajarkan
ajarkan
Afiks ter- pada morfem terajarkan berfungsi sebagai pembentuk verba pasif. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(29) Buku sejarah yang disusun menurut kurikulum 2004 akan ditarik sehingga S
kemelut seputar Supersemar tidakterajarkan secara lengkap. KET P
Secara fungsional kalimat (29) terdiri dari tiga fungsi, yaitu Subjek (S), Keterangan (KET), dan Predikat (P). Fungsi S diisi kata Buku sejarah yang disusun menurut kurikulum 2004 akan ditarik yang termasuk kategori N, fungsi KET diisi kata sehingga kemelut seputar Supersemar yang termasuk kategori N, dan fungsi P diisi kata tidak terajarkan secara lengkap yang termasuk kategori V.
Kata terajarkan termasuk dalam verba karena kata tersebut dapat dinegatifkan dengan kata ingkar tidak, sebagaimana tampak pada contoh (29). Dengan demikian, kata terajarkan merupakan verba yang menyatakan makna ‘dapat diajarkan’.
2.1.16 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Ajaran
Kata ajaran merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari ajar dan –an. Unsur pembentuk kata ajaran dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
ajaran
Afiks -an pada morfem ajaran berfungsi sebagai pembentuk nomina. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(30) Ajaran itu mengingatkan aku pada suatu hal. S O KET
Secara fungsional kalimat (30) terdiri dari tiga fungsi, yaitu Subjek (S), Objek (O), dan Keterangan (KET). Fungsi S diisi kata ajaran itu yang termasuk kategori N, fungsi O diisi kata mengingatkan aku yang termasuk kategori N, dan fungsi KET diisi kata pada suatu hal yang termasuk kategori N.
Kata ajaran termasuk dalam nomina karena kata tersebut dapat diikuti kata itu yang bersifat diektik, sebagaimana tampak pada contoh (30). Dengan demikian, kata ajaran merupakan nomina yang menyatakan makna ‘suatu hal yang diajarkan’.
2.1.17 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Pengajar
Kata pengajar merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari pe(N)-dan ajar. Unsur pe(N)- dalam pengajar mengalami proses morfofonemik, yaitu berubahnya fonem /N/ pada morfem pe(N)- menjadi fonem /n/. Hal ini tidak lain sebagai akibat pertemuan morfem tersebut dengan morfem asal ajar sehingga morfem pe(N)- berubah menjadi peng-. Unsur pembentuk kata pengajar dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
pengajar
Afiks pe(N)- pada morfem pengajar berfungsi sebagai pembentuk nomina. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(31) Pengajaritu profesional dalam segala bidang. S KET
Secara fungsional kalimat (31) terdiri dari dua fungsi, yaitu Subjek (S) dan Keterangan (KET). Fungsi S diisi kata pengajar itu yang termasuk kategori N, dan fungsi KET yang diisi kata profesional dalam segala bidang yang termasuk kategori N.
Kata pengajar termasuk dalam nomina karena kata tersebut dapat diikuti kata itu yang bersifat diektik, sebagaimana tampak pada contoh (31). Dengan demikian, kata pengajar merupakan nomina yang menyatakan makna ‘seorang yang mengajar’.
2.1.18 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Pengajaran
Kata pengajaran merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari
pe(N)-/-an dan ajar. Unsur pe(N)- pada konfiks pe(N)-/-an dalam pengajaran
mengalami proses morfofonemik, yaitu berubahnya fonem /N/ pada morfem
pe(N)- menjadi /n/. Hal ini tidak lain sebagai akibat bertemunya morfem tersebut dengan morfem asal ajar sehingga morfem pe(N)- berubah menjadi peng-. Unsur pembentuk kata pengajaran dapat ditunjukkan dengan diagram berikut
pengajaran
Afiks pe(N)-/-an pada morfem pengajaran berfungsi sebagai pembentuk nomina. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(32) Pengajaran itu dilakukan secara bertahap. P KET
Secara fungsional kalimat (32) terdiri dari dua fungsi, yaitu Predikat (P) dan fungsi Keterangan (KET). Fungsi P diisi kata pengajaran itu yang termasuk kategori V, dan fungsi KET diisi kata dilakukan secara bertahap yang termasuk kategori N.
Kata pengajaran termasuk dalam nomina karena kata tersebut dapat diikuti kata itu yang bersifat diektik sebagaimana tampak pada contoh (32). Dengan demikian, kata pengajaran merupakan nomina yang menyatakan makna ‘proses mengajar’.
2.1.19 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Pelajar
Kata pelajar merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari per- dan
ajar. Unsur per- dalam pelajar mengalami proses morfofonemik, yaitu berubahnya fonem /r/ pada morfem per- menjadi fonem /l/. Hal ini tidak lain sebagai akibat pertemuan morfem tersebut dengan morfem asal ajar sehingga morfem per- berubah menjadi pel-. Unsur pembentuk kata pelajar dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
pelajar
Afiks per- pada morfem pelajar berfungsi sebagai pembentuk nomina. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(33) Pelajaritu mendapat penghargaan dari kepala sekolah. S P KET
Secara fungsional kalimat (33) terdiri dari tiga fungsi, yaitu Subjek (S), Predikat (P), dan Keterangan (KET). Fungsi S diisi kata pelajar itu yang termasuk kategori N, fungsi P diisi kata mendapat penghargaan yang termasuk kategori N, dan fungsi KET diisi kata dari Kepala Sekolah yang termasuk kategori N.
Kata pelajar termasuk dalam nomina karena kata tersebut dapat diikuti kata itu yang bersifat diektik, sebagaimana tampak pada contoh (33). Dengan demikian, kata pelajar merupakan nomina yang menyatakan makna ‘orang yang belajar’.
2.1.20 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Pelajaran
Kata pelajaran merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari
per-/-an dan ajar. Unsur per- pada konfiks per-/-an dalam pelajaran mengalami proses morfofonemik, yaitu berubahnya fonem /r/ pada afiks per- menjadi /l/. Hal ini tidak lain sebagai akibat pertemuan morfem tersebut dengan morfem asal ajar
sehingga morfem per- berubah menjadi pel-. Unsur pembentuk kata pelajaran
dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
pelajaran
Afiks per-/-an pada morfem pelajaran berfungsi sebagai pembentuk nomina. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(34) Pelajaran sejarah itu sangat membosankan S P
Secara fungsional kalimat (34) terdiri dari dua fungsi, yaitu Subjek (S) dan Predikat (P). Fungsi S diisi kata pelajaran sejarah itu yang termasuk kategori N, dan fungsi P diisi kata sangat membosankan yang termasuk kategori Adj.
Kata pelajaran termasuk dalam nomina karena kata tersebut dapat diikuti kata itu yang bersifat diektik, sebagaimana tampak pada contoh (34). Dengan demikian, kata pelajaran merupakan nomina yang menyatakan makna ‘suatu hal yang dipelajari’.
2.1.21 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Berpelajaran
Kata berpelajaran merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari
ber- dan pelajaran. Kata pelajaran itu sendiri terbentuk dari unsur langsung
per-/-an dan ajar. Unsur per- pada konfiks per-/-an dalam pelajaran mengalami proses morfofonemik, yaitu terjadinya perubahan fonem /r/ pada afiks per- menjadi /l/. Hal ini terjadi sebagai akibat bertemunya morfem tersebut dengan morfem asal ajar sehingga morfem per- menjadi pel-. Unsur pembentuk kata
berpelajaran
pelajaran
ber- per-/-an ajar
Afiks ber- pada morfem berpelajaran berfungsi sebagai pembentuk verba. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(35) Kelas 6 berpelajaran Bahasa Indonesia S P KET
Secara fungsional kalimat (35) terdiri dari tiga fungsi, yaitu Subjek (S), Predikat (P), dan Keterangan (KET). Fungsi S diisi kata kelas 6 yang termasuk kategori N, fungsi P diisi kata berpelajaran yang termasuk kategori V, dan fungsi KET diisi kata Bahasa Indonesia yang termasuk kategori N.
Kata berpelajaran pada contoh (35) termasuk verba karena dapat dinegatifkan dengan kata ingkar tidak. Berikut ini contohnya dalam kalimat. (35a) Kelas 6 tidakberpelajaran bahasa Indonesia.
S P KET
Kata berpelajaran termasuk verba intransitif karena apabila digunakan dalam kalimat tidak menuntut hadirnya fungsi O, sebagaimana tampak pada contoh (35). Dengan demikian, kata berpelajaran merupakan verba yang menyatakan makna “memiliki pelajaran”.
2.1.22 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Terpelajar
Kata terpelajar merupakan kata kompleks yang terdiri dari ter- dan
pelajar. Kata pelajar itu sendiri terbentuk dari unsur langsung pel- dan ajar. Unsur per- dalam pelajar mengalami proses morfofonemik, yaitu berubahnya fonem /r/ pada morfem per- menjadi fonem /l/. Hal ini tidak lain sebagai akibat bertemunya morfem tersebut dengan morfem asal ajar. Unsur pembentuk kata
terpelajar dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
terpelajar
pelajar
ter- per- ajar
Afiks ter- pada morfem terpelajar berfungsi sebagai pembentuk adjektiva. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(36) Dia pemuda terpelajar di kampung.
S P KET
Secara fungsional kalimat (36) terdiri dari tiga fungsi, yaitu Subjek (S), Predikat (P), dan Keterangan (KET). Fungsi S diisi kata dia yang termasuk kategori N, fungsi P diisi kata pemuda terpelajar yang termasuk kategori Adj, dan fungsi KET diisi kata dikampung yang termasuk kategori N.
Sebagai bentuk Adjektiva kata terpelajar mempunyai ciri sebagai berikut;
Pertama, adjektiva dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang, dan paling. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(36a) Dia pemuda palingterpelajar di kampung. S P KET
Kedua, adjektiva dapat diberi keterangan penguat seperti, amat, sangat, dan sekali. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(36b) Dia pemuda sangatterpelajar di kampung. S P KET
Ketiga, adjektiva dapat diingkari dengan kata ingkar tidak. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(36c) Dia pemuda tidakterpelajar di kampung. S P KET
Kata terpelajar termasuk adjektiva karena, pertama dapat diberi keterangan pembanding, kedua dapat diberi keterangan penguat, dan ketiga dapat diingkari dengan kata ingkar tidak, sebagaimana tampak pada contoh (36a), (36b), dan (36c). Dengan demikian, kata terpelajar merupakan adjektiva yang menyatakan makna ‘orang yang terpelajar’.
2.1.23 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Membelajarkan
Kata membelajarkan merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari
mem- dan belajarkan. Kata belajarkan terbentuk dari ber- dan ajarkan. Kata ajarkan itu sendiri terbentuk dari unsur langsung ajar dan –kan. Unsur ber- dalam
belajarkan mengalami proses morfofonemik, yaitu berubahnya fonem /r/ pada morfem ber- menjadi /l/. Hal ini tidak lain sebagai akibat bertemunya morfem tersebut dengan morfem asal ajar sehingga morfem ber- berubah menjadi bel-. Unsur pembentuk kata membelajarkan dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
membelajarkan
belajarkan ajarkan me(N)- ber- ajar -kan
Afiks me(N)- pada morfem membelajarkan berfungsi sebagai pembentuk verba aktif transitif. Berikut ini contohnya dalam kalimat.
(37) Ibu guru membelajarkan materi baru dengan sempurna. S P O KET
Secara fungsional kalimat (37) terdiri dari empat fungsi, yaitu Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), dan Keterangan (KET). Fungsi S diisi kata Ibu guru yang termasuk kategori N, fungsi P diisi kata membelajarkan yang termasuk kategori V, fungsi O diisi kata materi baru yang termasuk kategori N, dan fungsi KET diisi kata dengan sempurna yang termasuk kategori konjungsi.
Kata membelajarkan pada contoh (37) termasuk verba karena dapat dinegatifkan dengan kata ingkar tidak. Berikut ini contohnya dalam kalimat. (37a) Ibu guru tidakmembelajarkan materi baru dengan sempurna. S P O KET
Kata membelajarkan termasuk verba aktif transitif karena apabila digunakan dalam kalimat verba tersebut akan menuntut hadirnya Objek (O). Selain itu, kata membelajarkan termasuk verba aktif transitif karena dapat diubah menjadi verba pasif dibelajarkan. Apabila dipasifkan kata atau frase yang menduduki fungsi O dalam kalimat aktif transitif selalu menduduki fungsi S dalam kalimat pasif sebagaimana tampak pada contoh (37b) berikut.
(37b) Materi baru dibelajarkan dengan sempurna. oleh Ibu guru. S P Pel KET
Frase materi baru yang mengisi fungsi O dalam kalimat aktif transitif (37) berubah menduduki fungsi S dalam kalimat pasif (37b). Maka pelaku tindakan tidak lagi trdapat pada S melainkan pada KET, ialah oleh Ibu guru. Dengan demikian, kata membelajarkan merupakan verba yang menyatakan makna ‘tindakan aktif’ yaitu ‘melakukan perbuatan membelajarkan’.
2.1.24 Proses Pembentukan Kata Polimorfemik Pembelajar
Kata pembelajar merupakan kata polimorfemik yang terbentuk dari pem-
dan belajar. Kata belajar itu sendiri terbentuk dari unsur langsung ber- dan ajar. Unsur ber- dalam belajar mengalami proses morfofonemik, yaitu berubahnya fonem /r/ pada morfem ber- menjadi /l/. Hal ini tidak lain sebagai akibat bertemunya morfem tersebut dengan morfem asal ajar sehingga morfem be-l
berubah menjadi bel-. Unsur pembentuk kata pembelajar dapat ditunjukkan dengan diagram berikut.
pembelajar
belajar
pem- ber- ajar
Afiks pem- pada morfem pembelajar berfungsi sebagai pembentuk