Proses pembuatan alat musik doal-doal bulu langkah pertama diawali dengan mengambil bambu dari rimbunan pohon bambu dan memilih jenis bambu yang besar dan lebih matang dan kemudian mengangin-anginkan bambu tersebu selama 7 hari (tidak dengan terpaan terik matahari). Kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan atau memotong bambu yang sudah diangin-anginkan dengan gergaji sehingga terbentuk sebuah ruas potongan bambu dan memilih potongan ruas bambu yang besar dan ruas yang panjang, potongan bambu yang paling sering digunakan adalah potongan ruas bambu yang ke lima (yang memiliki diameter rata-rata kurang lebih 7-8 sentimeter)
Gambar 3.7. Proses pemotongan bambu
Tahap berikutnya dilanjutkan dengan mengukur letak masing masing senar dan lubang resonator pada bagian kulit luar potongan ruas bambu tersebut guna untuk mengetahui letak-letak senar baik itu senar Doal, Panggora, Ihutan, Oloan, dan lubang resonator, dengan member garis atau menggores kulit bambu tersebut sebagai penanda untuk di kerjakan di tahapan berikutnya.
Gambar 3.8. Mengukur letak senar dan hesek pada ruas bambu doal-doal bulu
Setelah itu dilanjutkan dengan mencungkil bagian kulit dari bambu, yaitu bagian doal-doal bulu yang berfungsi sebagai pembawa gong (ogung). Pada bagian ini kulit bambu dan sebagian dagingnya dikupas dan dibuang selebar telapak tangan si pembuat atau berkisar sepuluh sentimeter dari pangkal bambu
doal-doal bulu, dan dalamnya sekitar satu sentimeter, sedangkan panjangnya
Pada umumnya bambu yang dipergunakan untuk membuat alat musik ini mempunyai ukuran yang sama diameternya pada kedua ujungnya. Jadi berdasarkan tradisi pembuatan alat musik, doal-doal bulu ini bahwa ujung dan pangkalnya dilihat dari ujung dan pangkal dari bambu pada waktu pertumbuhannya, yaitu dengan memperhatikan bekas tempat melekatnya pelepah bambu dan melihat tempat tumbuhnya cabang-cabang bambu di sekitar buku bambu tersebut.
Tahapan berikutnya dari pembuatan alat musik doal-doal bulu ini adalah mengerjakan senar-senar dengan cara mencungkil kulit bambu. Senar-senar ini merupakan bagian kelompok “Ogung” atau gong. Senar-senar ini terletak mengelilingi badan bambu doal-doal bulu tersebut.
Senar yang pertama adalah kelompok Ogung Oloan, yang kedua adalah Ogung Panggora, yang ketiga adalah Ogung Doal serta yang terakhir adalah Ogung Ihutan. Bunyi senar hasil cungkilan bambu tersebut mewakili karakteristik bunyi dari gong (Ogung) yang terdapat pada permainan ansambel Gondang Sabangunan karakteristik bunyi dari Ogung (Gong) yang terbuat dari besi plat seng diwakili karakteristik bunyi dari alat musik doal-doal bulu tersebut.
Satu lagi bunyi yang dihasilkan adalah bunyi Hesek yang juga merupakan kelompok ansambel Gondang Sabangunan sebagai alat musik tradisional masyarakat Batak Toba.
Senar-senar tersebut dicungkil selebar jari telunjuk sipembuat atau pemain alat musik tersebut atau sekitar satu sentimeter dan dalam sekitar 1/2
sentimeter dan senar dibuat setipis mungkin (sekitar dua millimeter). Hal ini dibuat untuk memperoleh getaran yang lama bila senar-senar ini dimainkan atau dipukul. Jarak antara senar yang satu dengan senar yang lain yang berada disebelahnya, dibuat selebar tiga jari, yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis atau sekitar tiga sampai empat setengah sentimeter atau lebih oleh sipembuat alat musik maupun sipemain alat musik doal-doal bulu tersebut. Panjang senar-senar dibuat berdasarkan ukuran dari panjang bambu yang dipergunakan.
Gambar 3.9. Proses pembuatan senar atau dawai
Proses akhir dari pembuatan doal-doal bulu ini adalah pembuatan lubang resonatornya. Lubang ini terletak di sebelah kanan senar panggora,senar tergantung selera si pembuat alat musik ini dan disesuaikan dengan bentuk bambu. Lubang resonator biasanya tidak terlalu besar, yaitu sekitar setengah sentimeter atau kurang dari itu. Lubang ini dicungkil menembus daging bambu hingga kelihatan rongga di dalamnya. Proses pembuatan alat musik doal-doal
bulu ini memakai waktu sekitar satu hari , selain dari masa mengangin-anginkan bambu tersebut. Alat-alat yang dipakai untuk pembuatan doal-doal bulu ini adalah pisau pangarik, gergaji, palu, pahat, pisau pangukir.
Gambar 3.10. Alat-alat Yang Dipergunakan Untuk Membuat Alat Musik Doal-Doal Bulu (Ki-Ka: Pisau Pangarik, Gergaji, Palu, Pahat, Pisau
Pangukir)
Selesai proses pengerjaan doal-doal bulu secara keseluruhan sebelum dimainkan terlebih dahulu setiap senar-senarnya diberi pengganjal yang dinamakan dengan hatik-hatik. Hatik-hatik ini diletakkan di setiap ujung dari dawai/senarnya. Hatik-hatik ini di letakkan di kedua ujung senar doal-doal bulu, guna untuk mengangkat senar lebih tinggi dari badan alat music doal-doal bulu.
Hal ini untuk memperoleh agar senarnya dapat menghasilkan ketegangan yang berbeda. Kemudian untuk hatik-hatik pada senar lainnya ukurannya tidak harus sama yang penting dijaga supaya setip dawai/senar tidak menyentuh badan doal-doal bulu tersebut ketika di petik atau dimainkan.
Gambar 3.11. Hatik-hatik dan letaknya
Dari keterangan dan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa materi yang dipakai untuk pembuatan alat musik doal-doal bulu ini adalah terdiri dari bambu (yang berfungsi sebagai tabung resonator dan senar) dan hatik-hatik yang terbuat dari kulit bambu juga,yang berfungsi sebagai pengganjal senar-senar.
Gambar 3.12. Alat Musik Doal-Doal Bulu
Ukuran alat musik doal-doal bulu ini adalah mempunyai diameter pangkal luar 8 cm, panjang bambu 54 cm, jarak anta ra senar panggora dan ihutan adalah 3,5 cm, jarak antara ihutan dan oloan adalah 3,7 cm kemudian jarak antara ihutan dengan doal adalah 3,7 cm jarak doal ke resonator adalah 3 cm, jarak panggora ke resonator adalah 3,2 cm, kemudian lebar resonator adalah 4 cm. Jarak dari pangkal ke resonator adalah 13,3 cm, diameter ujung 7,5 cm, diameter dalam pangkal adalah 6,5 cm, diameter dalam ujung 6 cm, keliling pangkal 26 cm, dan keliling ujung 25,8 cm.
BAB IV
TEKNIK PERMAINAN ALAT MUSIK DOAL-DOAL BULU
4.1. Kegunaan dan Fungsi Alat Musik Doal-Doal Bulu Pada Masyarakat Batak Toba
4.1.1. Arti Gondang
Pengertian Gondang dalam tradisi Batak Toba adalah sebagai perangkat alat musik, yakni Gondang Batak. Gondang Batak sering diidentikkan dergan Gondang Sabangunan atau Ogung Sabangunan dan kadang-kadang juga diidentikkan dengan Taganing (salah satu alat musik yang terdapat di dalam Gondang Sabangunan). Hal ini berarti memberi kesan kepada kita seolah-olah yang termasuk ke dalam Gondang Batak itu hanyalah Gondang Sabangunan, sedangkan perangkat alat musik Batak yang lain, yaitu: Gondang Hasapi tidak termasuk Gondang Batak. Padahal sebenarnya Gondang Hasapi juga adalah Gondang Batak, akantetapi istilah Gondang Hasapi lebih dikenal dengan istilah Uning-uningan daripada Gondang Batak.
Gondang dalam pengertian ensambel musik terbagi atas dua bagian, yakni Gondang Sabangunan (Gondang Bolon) dan Gondang Hasapi (Uning-uningan).
Gondang Sabangunan yang terdapat pada tradisi musik Batak Toba. Secara umum fungsi kedua jenis ensambel ini hampir tidak memiliki perbedaan keduanya selalu digunakan di dalam upacara yang berkaitan dengan religi, adat maupun upacara-upacara seremonial lainnya. Namur demikian kalau diteliti lebih
lanjut, kita akan menemukan perbedaan yang cukup mendasar dari kedua ensambel ini.
Sebutan Gondang dalam pengertian komposisi menunjukkan arti sebagai sebuah komposisi dari lagu atau judul lagu secara individu atau menunjukkan kumpulan dari beberapa lagu/reportoar, yang masing-masing ini bisa dimainkan pada upacara yang berbeda tergantung permintaan kelompok orang yang terlibat dalam upacara untuk menari, termasuk di dalam upacara kematian saur matua.
misalnya: Gondang si Bunga Jambu, Gondang si Boru Mauliate dan sebagainya.
Kata si Bunga Jambu, si Boru Mauliate dan Malim menunjukkan sebuah komposisi lagu, sekaligus juga merupakan judul dari lagu (komposisi) itu sendiri.
Berbeda dengan Gondang Somba, Gondang Didang-Didang dan Gondang Elekelek (lae-lae). Meskipun kata Gondang di sini juga memiliki pengertian komposisi, namun kata somba, didang-didang dan elek-elek memiliki pengertian yang menunjukkan sifat dari Gondang tersebut, yang artinya ada beberapa komposisi yang bisa dikategorikan di dalam Gondang-Gondang yang disebut di atas, yang merupakan “satu keluarga Gondang”. Komposisi dalam “satu keluarga Gondang”, memberi pengertian ada beberapa komposisi yang memiliki sifat dan fungsi yang sama, yang dalam pelaksanaannya tergantung kepada jenis upacara dan permintaan kelompok orang yang terlibat dalam upacara. Misalnya: Gondang Debata (termasuk di dalamnya komposisi Gondang Debata Guru, Debata sori, Bana Bulan, dan Mulajadi); Gondang Sahala dan Gondang Habonaran.
Gondang dalam pengertian repertoar contohnya si pitu Gondang. Si pitu Gondang atau kadang-kadang disebut juga Gondang pargonsi (baca pargocci)
atau panjujuran Gondang adalah reportoar/kumpulan lagu yang dimainkan pada bagian awal dari semua jenis upacara yang melibatkan aktivitas musik sebagai salah satu sarana dari upacara masyarakat Batak Toba. Semua jenis lagu yang terdapat pada si pitu Gondang merupakan “inti” dari keseluruhan Gondang yang ada. Namun, untuk dapat mengetahui lebih lanjut jenis bagian apa saja yang terdapat pada si pitu Gondang tampaknya cukup rumit juga umumnya hanya diketahui oleh pargonsi saja. Lagu-lagu yang terdapat pada si pitu Gondang dapat dimainkan secara menyeluruh tanpa berhenti, atau dimainkan secara terpisah (berhenti pada saat pergantian Gondang). Repertoar ini tidak boleh ditarikan.
Jumlah Gondang (komposisi lagu yang dimainkan harus di dalam jumlah bilangan ganjil, misalnya: satu, tiga, lima, tujuh).
Kata Gondang dapat dipakai dalam pengertian suatu upacara misalnya Gondang Mandudu (“upacara memanggil roh”) dan upacara Saem (“upacara ritual”). Gondang dapat juga menunjukkan satu bagian dari upacara di mana kelompok kekerabatan atau satu kelompok dari tingkatan usia dan status sosial tertentu yang sedang menari, pada saat upacara tertentu misalnya: Gondang Suhut, Gondang Boru, Gondang Datu, Gondang Naposo dan sebagainya. Jika dikatakan Gondang Suhut, artinya pada saat itu Suhut yang mengambil bagian untuk meminta Gondang dan menyampaikan setiap keinginannya untuk dapat menari bersama kelompok kekerabatan lain yang diinginkannya. Demikian juga Boru, artinya yang mendapat kesempatan untuk menari adalah pihak boru, Gondang datu, artinya yang meminta Gondang dan menari dilakukan seorang
datu (dukun) dan Gondang naposo, artinya muda-mudi yang mendapat kesempatan untuk menari.
Selain kelima pengertian kata Gondang tersebut, ada juga pengertian yang lain yaitu yang dipakai untuk pembagian waktu dalam upacara, misalnya Gondang Sadari Saborngin yaitu upacara yang di dalamnya menyertakan aktivitas margondang dan dilaksanakan selama satu hari satu malam. Dengan demikian, pengertian Gondang secara keseluruhan dalam satu upacara dapat meliputi beberapa pengertian seperti yang tertera di atas. Pengertian Gondang sebagai suatu ensambel musik tradisional khususnya, maksudnya untuk mengiringi jalannya upacara.
Dalam bab ini pernah menggunakan gondang sebagai acuan untuk menganalisis struktur musikal dan ritmis yang terdapat pada bunyi yang dihasilkan alat musik doal-doal bulu. Doal-doal bulu menghasilkan bunyi atau suara yang mewakili bunyi gong (ogung) yang terdiri dari ogung doal, ogung panggora, ogung ihutan dan ogung oloan. Yang menjadi ritmis stabil diwakili bunyi hesek yang ada pada alat musik doal-doal bulu.
Doal-doal bulu merupakan penyebutan untuk bunyi yang lebih dominan diwakili suara ogung doal yang bunyi atau suara ogung doal muncul di setiap bunyi lagu yang dimainkan sebagai ritmis pembawa pedoman memainkan lagu dari setiap permainan doal-doal bulu tersebut.
4.1.2. Doal-Doal Bulu Sebagai Bunyi Ogung Dalam Ensambel Gondang Sabangunan
Bunyi alat musik yang sumber penghasil bunyi berasal dari alat musik yang dipukul atau disebut juga dengan alat musik pukul atau disebut juga dengan alat musik perkusi dapat digantikan atau dialihkan ke alat musik doal-doal bulu.
Berbeda dengan alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup seperti sarune bolon. Bunyi keempat Ogung (doal, oloan, ihutan, panggora) dapat digantikan ke senar alat musik doal-doal bulu yang suara atau bunyinya sudah mewakili ogung yang terdapat pada ensambel gondang sabangunan. Bunyi ogung pada gondang sabangunan berasal dari plat besi atau botol yang dipukul menghasilkan ritmis yang tetap atau stabil sebagai pedoman untuk stabilitas permainan ensambel gondang sabangunan, sama halnya dalam permainan alat musik doal-doal bulu ini, bahwa alat musik yang dimainkan dengan cara memukul-mukul (mangalotak-lotak) menggunakan tangan kanan pada bulu (bambu) menghasilkan suara yang sama dengan ogung pada permainan ensambel gondang sabangunan yang fungsinya juga sebagai ritmis untuk mengatur stabilitas permainan alat musik doal-doal bulu.
Lagu-lagu atau reportoar yang dimainkan pada ensambel gondang sabangunan dapat dibawakan atau dimainkan juga pada alat musik doal-doal bulu, yaitu untuk permainan alat musik ogung. Hal ini berarti bahwa yang diadaptasi itu merupakan bentuk bunyi ritmis saja, bukan bunyi melodi seperti pada alat musik sarue bolon/alat musik melodi yang dimainkan dengan cara ditiup.
Alat musik doal-doal bulu ini membawakan reportoar sesuai dengan lagu yang akan dimainkan. Yang biasa dimainkan adalah lagu-lagu dari bunyi gondang sabangunan maupun lagu-lagu dari opera Batak.
Meskipun alat musik doal-doal bulu dimainkan menyesuaikan suara ogung dalam gondang sabangunan, tetapi karena bentuk dan bahan alat musik ini berbeda dengan ogung yang dipakai dalam gondang sabangunan senantiasa alat musik doal-doal bulu ini memiliki atau memberikan warna yang tersendiri. Hal ini juga dapat disebabkan karena kualitas warna bunyi dari setiap senar/dawai yang tidak sama antara satu dengan yang lain. Sampai saat ini penulis belum mengetahui apakah alat musik doal-doal bulu ini dibuat sesudah adanya gondang sabangunan atau sebaliknya, atau apakah keduanya diciptakan secara bersamaan.
Penulis akan menggali kesejarahan dari alat musik doal-doal bulu yang sudah lama dimiliki masyarakat Batak Toba.
Berdasarkan hasil penelitian penulis bahwa alat musik doal-doal bulu merupakan alat musik yang sudah sangat tua. Akan tetapi melihat aktivitas budaya tradisi masyarakat Batak Toba yang senantiasa menggunakan ensambel gondang sabangunan maupun ensambel gondang hasapi dalam setiap upacara-upacara adat ataupun kegiatan-kegiatan adat maupun hiburan pada kehidupan masyarakatnya, dapatlah dikatakan bahwa alat musik doal-doal bulu ini mengacu kepada bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh ogung dalam ensambel gondang sabangunan.
4.2. Teknik Memainkan Doal-Doal Bulu
Teknik memainkan alat musik doal-doal bulu ini berhubungan dengan pendeskripsian tentang hal-hal yang berkaitan dalam konteks penyajian musik.
Hal ini sangat penting dalam penelitian Etnomusikologi. Deskripsi ini merupakan mekanisme kerja dalam memperoleh bunyi dari permainan sebuah instrumen oleh seorang pemain musik, misalnya apakah alat musik itu dimainkan dengan tangan, dipukul, ditabuh, digesek, dipetik, ditiup dan lain sebagainya. Kemudian yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara pemain dengan alat musiknya. (Hood, 1982: 133). Dengan melihat hubungan ini ada dua hal yang perlu diperhatikan di dalam teknik memainkan alat musik doal-doal bulu ini yaitu, hubungan pemain dengan alat musiknya (posisi alat musik ketika dimainkan) dan teknik memproduksi bunyi alat musik oleh pemain.
Alat musik doal-doal bulu dimainkan dengan posisi duduk di lantai. Posisi seperti menjulurkan kedua kaki dan sedikit menekuk ke arah bagian dalam tubuh pemain musik doal-doal bulu. Memainkan alat musik doal-doal bulu ini dengan cara menjulurkan kedua kaki ke depan kemudian sedikit ditekuk, sehingga tumit kedua kaki bersentuhan dan pangkal doal-doal bulu ditekankan ke arah perut, untuk mencegah alat musik doal-doal bulu ini melorot ke bawah pada saat dimainkan.
Senar-senar akan diarahkan ke atas dengan posisi lurus ke depan, karena dawai atau senar akan dimainkan kedua belah tangan. Kedua belah tangan terlihat seperti hampir menggenggam alat musik doal-doal bulu ini.
4.2.1. Posisi dan Peranan Tangan Kanan
Peranan tangan kanan dalam permainan alat musik doal-doal bulu adalah untuk memainkan senar atau dawai yang berperan sebagai gong (ogung panggora) yang di mainkan dengan cara memukul dan memetik senar atau dawai,
Untuk jari jempol pada tangan kana berperan untuk memainkan senar gong (ogung panggora) dan kemudian untuk telapak tangan kanan berperan untuk memainkan hesek dengan memukul tepat di bagian lubang resonator dengan rileks dan santai dan stabil pada alat musik doal-doal bulu tersebut.
Gambar 4.1. Posisi tangan kanan sebelum memetik senar (ogung panggora)
Gambar 4.2. Posisi tangan kanan memetik senar (ogung panggora)
Gambar 4.3. Posisi tangan kanan setelah memetik senar (ogung panggora)
Gambar 4.4. Posisi tangan kanan sebelum dan sesudah memukul hesek pada lubang resonator
Gambar 4.5. Posisi tangan kanan saat memukul hesek pada lubang resonator
4.2.2. Posisi dan Peranan Tangan Kiri
Peranan tangan kiri dalam permaianan alat musik doal-doal bulu adalah untuk memainkan senar atau dawai yang berperan sebagai gong ( ogung ihutan, oloan, dan doal). Jempol pada tangan kiri berperan memainkan senar ihutan dan oloan yang di petik satu persatu dengan jempol tersebut berpindah pindah memainkan ihutan dan oloan, dan berbarengan dengan senar panggora yang di mainkan jempol pada tangan kanan.
Kemudian untuk jari telunjuk pada tangan kiri berperan memainkan dong (ogung doal) atau yang di sebut dengan pandoal-doali. Yang di mainkan dengan cara memetik dengan jari telunjuk yang kemudian jari tengah, manis, dan kelingking menangkap senar doal tersebut tiap kali setelah jari telunjuk memetik senar doal tersebut,guna untuk mematikan susten senar pada senar doal tersbut supaya suara yang dihasilkan oleh doal tersebut terputus putus.
Gambar 4.6. Posisi jempol sebelum memetik senar (ogung ihutan)
Gambar 4.7. Posisi jempol memetik senar (ogung ihutan)
Gambar 4.8. Posisi jempol setelah memetik senar (ogung ihutan)
Gambar 4.9. Posisi jempol sebelum memetik senar (ogung oloan)
Gambar 4.10. Posisi jempol saat memetik senar (ogung oloan)
Gambar 4.11. Posisi jempol setelah memetik senar (ogung oloan)
Gambar 4.12. Posisi jari telunjuk sebelum memetik senar doal (ogung doal)
Gambar 4.13. Posisi jari telunjuk saat memetik senar doal (ogung doal)
Gambar 4.14. Posisi jari telunjuk setelah memetik senar doal (ogung doal)
4.2.3. Teknik Memproduksi Bunyi Atau Suara Doal-Doal Bulu
Alat musik doal-doal bulu memproduksi suara atau bunyi dengan cara memukul-mukul senar atau dawai dengan tangan kanan (jari-jari tangan kanan) dan tangan kiri (jari-jari kiri), tanpa bantuan alat pemukul.
4.2.3.1Teknik Memukul Senar Atau Dawai
Dalam memproduksi bunyi atau suara dari senar atau dawai yang berfungsi sebagai atau mewakili bunyi gong atau ogung pada alat musik doal-doal bulu, hanya menggunakan jari-jari tangan maupun telapak tangan mulai dari jempol, jari telunjuk, jari tengah, jari manis maupun kelingking. Tangan kanan yang digunakan memukul alat musik doal-doal bulu ini digunakan atau dimainkan secara rileks tidak kaku untuk menghasilkan bungi atau suara yang lebih baik.
Kecepatan maupun tenaga untuk melakukan pukulan ini dihasilkan dari hasil kerja tangan khususnya siku, pergelangan tangan dan jari-jari tangan.
Yang merupakan bagian yang dipukul adalah bagian permukan pada bagian tengah atau sampai ke bagian pinggir yang berdekatan dengan hatik-hatik yang dibuat sebagai pengganjal setiap senar pada doal-doal bulu tersebut. Senar yang dipukul pada bagian tengahnya menghasilkan bunyi yang relatif lebih lambat apabila dibandingkan dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh senar yang dipukul pada bagian pinggirnya atau yang berdekatan dengan hatik-hatik. Pada umumnya bagian yang paling sering dimainkan oleh pemain alat musik doal-doal bulu ini adalah bagian tengahnya.
4.2.3.2. Teknik Memukul Hesek
Memukul atau memainkan hesek dilakukan dengan memukul-mukulkan dengan menggunakan telapak dan jari-jari tangan kiri. Teknik memukul ini disebut juga dengan mangalotak-lotak. Pukulan yang paling sering digunakan adalah menggunakan jari telunjuk jari tengah dan jari manis yang dirapatkan.
Pukulan dengan menggunakan telapak dan jari-jari tangan ini memberikan efek bunyi atau suara yang lebih keras.
Dalam menghasilkan bunyi maupun volume suara yang lembut digunakan ujung jari yang dilengkungkan ke arah dalam, dengan menggunakan jari tengah dan jari manis. Variasi ritem yang memerlukan kecepatan dalam pukulan dibantu oleh gerakan pergelangan tangan. Hampir seluruh pukulan pada hesek dilakukan dengan ayunan tangan yang berpangkal dari gerakan pergelangan tangan, karena lengan dan siku tangan sebelah atas dipakai untuk menjepit doal-doal bulu ke arah perut pemain alat musik ini.
4.2.4. Pola atau Style permainan Doal-doal bulu
Di dalam bermain alat musik Doal-doal bulu ada tiga jenis pola permainan yang kita dapati antara lain.
4.2.4.1. Pola Permainan Cepat ( Nahojot )
Dalam permaian Nahojot ini, kita memainkan pola ritem permainan gong atau ogung dalam ansambel gondang sabangunan dengan tempo yang cepat dengan tempo hesek yang stabil.
Hesek
Doal Panggora Ihutan
Oloan
Player: Turman Sagala Transkrip: Akim Sagala
4.2.4.2. Pola Permainan Lambat ( Nalambat )
Dalam permainan Nalambat, kita memainkan pola ritem permainan gong atau ogung dalam ansambel gondang sabangunan dengan tempo yang lambat
Dalam permainan Nalambat, kita memainkan pola ritem permainan gong atau ogung dalam ansambel gondang sabangunan dengan tempo yang lambat