• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Pembuatan Gerabah A. Pengolahan Tanah Liat

Dalam dokumen 11 Universita s Kristen Petra (Halaman 45-57)

Pada hasil penggalian suatu lahan, tanah liat yang di dapatkan pada umumnya jarang ada yang dalam keadaan murni. Tanah liat biasanya masih mengandung kotoran-kotoran yang mengganggu kehalusan tanah liat. Seperti adanya kerikil, batu-batu kecil atau besar, bahkan sisa-sisa tanaman dan akar. Kotoran-kotoran tersebut harus dipisahkan terlebih dahulu.

Untuk mencapai sifat plastis yang maksimum, diperlukan air dalam jumlah tertentu. Banyaknya air yang diperlukan mencapai batas-batas keplastisan tertentu tadi disebut sebagai air pembentukan. Air pembentukan ada dua tingkat pembatasannya, yaitu air pembentukan maksimum dan air pembentukan minimum.

Keplastisan suatu tanah liat dapat ditingkatkan dengan cara pengolahan tahap demi tahap.

a. Pengolahan Tanah Liat dalam Keadaan Basah

Jika bahan baku sudah dalam keadaan basah dan sudah cukup plastis, maka tanah liat semacam ini hanya memerlukan penambahan air sedikit saja, yaitu dengan cara menyiramkan air pada tanah yang dihamparkan. Kemudian tanah liat diinjak-injak sambil dibolak-balikkan dengan sebuah cangkul. Pasir halus (lolos ayakan 0,5mm/saringan nyamuk) sebagai bahan campurannya ditaburkan di atas hamparan tanah yang sudah diinjak- injak kembali sambil dibolak-balikkan. […]. Proses penginjakan dihentikan apabila campuran tanah liat dan pasir sudah homogen.

Setelah proses penginjakan, untuk lebih meningkatkan kualitas dan keplastisan tanah liat, gundukan tanah liat kemudian ditutupi dengan kain basah, bisa menggunakan karung bekas goni hingga beberapa lapis, kemudian dibiarkan semalaman agar adonan tanah betul-betul homogen dan tidak terjadi penguapan/pengeringan.

Setelah mengalami pengeraman selama semalam, tanah liat masih harus melalui tahap pemotongan (disiksrik/dipotong tipis-tipis) dengan mempergunakan suatu alat dari kawat baja (bisa juga kawat biasa) sebagai alat pemotongnya. Dengan cara ini, selain sebagai cara untuk mengambil masa dari tumpukan tanah liat, juga sebagai cara untuk melihat apakah di dalam tanah liat masih ditemukan

butiran-56 Universita s Kri sten Petra

butiran kasar. Jika ada, segera diambil dan dibuang. Selanjutnya potongan tanah liat tadi dikumpulkan untuk diaduk dengan mempergunakan tangan di atas meja kerja dan siap dibentuk.

b. Pengolahan Tanah dalam Keadaan Kering

Apabila tanah dari hasil galian dalam keadaan kering, maka agar dapat diinjak- injak, terlebih dahulu tanah direndam dalam sebuah bak sela ma semalam atau lebih. Air yang dipakai untuk merendam tanah liat kering jumlahnya tidak boleh terlalu banyak, secukupnya saja sehingga setelah perendaman selesai, tanah liat tidak seperti bubur atau lumpur. Akan tetapi cukup plastis dan bisa diinjak- injak.

Selanjutnya pengolahan dilakukan seperti pada pengolahan tanah liat dalam keadaan basah (Murniati 8-11).

B. Teknik Membuat Adonan Gips 1. Pembuatan adonan Gips

 Periksa kemasan tepung gips apakah masih tertutup rapat atau sudah ada sebagian terbuka, jika ada yang terbuka biasanya pada bagian tersebut sering ditemukan gumpalan yang mengeras, sehingga perlu dipisahkan atau gips sebagaian sudah tidak aktif.

 Bila kemasan telah dibuka, rasakan dengan jari tangan apakah tepung gips sudah cukup halus, jika terasa kasar terlebih dahulu perlu disaring dengan saringan 100 mesh. Kemudian timbang tepung gips dengan timbangan kodok sebanyak gips yang diperlukan menurut perhitungan.

 Sediakan air pada ember sebanyak 60-80% dari jumlah berat tepung gips.

 Kemudian masukkan tepung gips sedikit demi sedikit hingga seluruh tepung terendam air, biarkan selama 1 menit. Usahakan adonan telah merata dan tidak ada yang menggumpal.

 Adonan di atas siap dipergunakan untuk mengecor cetakan atau model.

57 Universita s Kri sten Petra

2. Teknik Membuat Bahan Pemisah

 Iris satu batang sabun cuci (kira-kira 250 gram) tipis-tipis, masukkan ke dalam bejana kaleng yang berisi air 0,5 liter. Selanjutnya masukkan pula 0,5 kg minyak kacang atau kelapa.

 Panaskan dengan api kecil sampai semua sabun melarut.

 Biarkan satu malam, ambil cairan bagian atas dan selanjutnya gunakan sebagai bahan separator, sedangkan bagian yang mengendap, panaskan kembali seperti yang di atas dan dapat dipergunakan sebagai bahan separator.

3 Perhitungan Adonan Gips yang diperlukan

 Hitunglah atau ukurlah volume model (a cm3)

 Hitunglah volume cetakan pejal dengan jalan mengukur sisi-sisi atau diameternya (b cm)

 Hitunglah volume cetakan yang sebenarnya (Vcs) Vcs = b – a

Vcs = v air yang harus ditambahkan dalam pembuatan adonan gips (Murniati 11-12).

Bila dalam pembuatan gips dan air 1 : 0, maka gips yang harus ditimbang : 1 × V air

0,7

C. Pembuatan Model

 Pembuatan Model Tradisional 1. Teknik Pijit (pinching)

Teknik pijit merupakan teknik yang paling tua dengan hanya tanah dan alat pemukul. Caranya adalah mula- mula tanah liat dibentuk bulat seperti bola, kemudian dilubangi oleh ibu jari sambil diputar. Bentuk benda gerabah yang dihasilkan olleh teknik pijit ini sifatnya sangat bebas meskipun bentuknya bulat tapi tidak simetris.

Bentuk yang dihasilkan seperti terlihat pada gambar.

a. Bahan : masa plastis siap dipakai

58 Universita s Kri sten Petra

b. Tata cara kerja :

 Ambil segumpal tanah plastis yang sudah diulet, lalu di pijit-pijit membentuk sebuah benda menurut kehendak pembuat.

 Teknik ini dapat menghasilkan macam- macam barang, baik benda pakai maupun benda hias tetapi hasilnya tidak simetris dan permukaannya tidak rata.

Gambar 2.2 Teknik Pijit Sumber : Murniati (2006, p.13)

2. Teknik Pelintir atau Pilin (coiling)

Teknik pelintir merupakan teknik kuno karena proses pembentukannya untuk membuat benda gerabah dalam ukuran besar. Caranya adalah tanah liat dipelintir, kemudian disusun sesuai dengan bentuk yang dikehendaki. Benda yang dihasilkan menggunakan teknik ini berbentuk bulat tidak simetris dan bebas. Contoh proses bentuk teknik pelintir dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.3 Teknik Pilin Sumber : Murniati (2006, p.14)

59 Universita s Kri sten Petra

a. Peralatan : putaran tangan, alat-alat pembentuk, dan penghalus b. Bahan : masa plastis siap pakai

c. Tata cara kerja :

 Perhatikan rangkaian proses pembentukan pada gambar sebelumnya sampai dengan gambar di atas

 Buat alas benda (bagian dasar) dari lempengan tanah di atas putaran

 Tanah diplintir sebesar ibu jari, lalu disusun di atas dasar tersebut dengan cara melingkar membentuk spiral, sesuai ukuran yang dikehendaki

 Plintiran tanah tersebut disambung terus hingga terbentuk benda yang diinginkan

 Permukaan benda bagian luar maupun dalam dapat diratakan kalau dikehendaki.

Susunan plintiran sendiri bisa merupakan dekorasi yang unik

3. Teknik Lempengan

Teknik lempengan diperkenalkan untuk membuat benda-benda yang sifatnya tidak bundar tetapi persegi. Caranya dengan membuat lempengan setebal ½ cm dipotong sesuai dengan bentuk yang dikehendaki, misalnya kotak persegi dengan penutupnya.

a. Peralatan : dua buah papan kayu yang tebalnya sama (± 1 cm) b. Bahan : masa plastis siap pakai

c. Tata cara kerja :

 Letakkan dua bilah papan

 Ambil segumpal tanah dan letakkan di antara kedua papan tersebut, tekan da n ratakan dengan pangkal tangan sampai seluruh permukaan papan terisi penuh

 Ratakan tanah dengan rol kayu sampai ketebalannya rata dan halus

 Buatlah pola dari bagian-bagian benda yang akan dibuat (misal untuk membuat sebuah kotak, buatlah pola untuk dinding, dasar, dan tutupnya), lalu dipotong

 Bagian-bagian lempengan ditegakkan satu persatu di atas dasarnya, dinding yang membentuk sudut ditekan terlebih dahulu. Bagian yang akan disambung diberi slip

60 Universita s Kri sten Petra

(bubur tanah) agar melekat dengan baik. Setelah tersambung, benda dihaluskan dengan kain atau spons basah (Murniati 13-15).

Gambar 2.4 Teknik Lempengan Sumber : Murniati (2006, p.16)

4 . Teknik Lapis atau nerikomi

Nerikomi termasuk tekstur yang terjadi karena perbedaan warna dari beberapa macam tanah yang disusun secara teratur maupun tidak teratur, sebagai dekorasi benda gerabah/keramik. Orang Jepang mengakui teknik ini sebagai suatu teknik dekorasi khas Jepang. Jadi, nerikomi adalah suatu teknik dan sekaligus merupakan dekorasi yang berasal dari Jepang. Teknik nerikomi kelanjutan dari atau cara lempengan, hanya saja dalam nerikomi lempengan- lempengan dari berbagai warna disusun menjadi semacam kue lapis, berselang-seling antara warna yang muda dan warna yang gelap (Murniati 17).

Beberapa macam efek yang dapat dicapai dengan teknik nerikomi, antara lain:

a. Efek papan catur

Lempengan-lempengan tanah liat dengan corak kue lapis, disusun kembali dengan jalur searah, tetapi berlawanan warna.

61 Universita s Kri sten Petra

b. Efek komposisi vertical dan horizontal

Lempengan-lempengan tanah liat dengan corak kue lapis, disusun kembali dengan jalur berlawanan arah.

c. Efek geometris

Satu lempengan tanah liat berwarna ditumpuk di atas sebuah lempengan tanah putih tanpa warna, kemudian digulungkan. Buatlah sebuah balok segiempat sama sisi.

Pada bagian dalam segiempat tadi terbentuklah sebuah motif geometris.

d. Efek seperti pualam

Dua gumpal tanah putih yang segumpal dibubuhi oksida pewarna besi, sedangkan yang segumpal dibiarkan tanpa pewarna. Kedua gumpalan tanah tadi diaduk menjadi satu. Diusahakan pengadukan tidak sampai homogen, kemudian dipotong dengan kawat setebal yang dikehendaki. Kemudian disusun hasilnya sesuai dengan desain yang direncanakan (Murniati 18-19).

Gambar 2.5 Teknik Lapis Sumber : Murniati (2006, p.19)

62 Universita s Kri sten Petra

D. Pembuatan Model dengan Cetakan

Pembuatan model dengan cetakan dilakukan apabila akan membuat bentuk gerabah yang seragam dan dalam jumlah yang banyak. Hal itu karena jika dibentuk satu persatu akan memakan waktu yang lama dan bentuknya pun tidak akan bisa sama/seragam.

Pembuatan model barang gerabah dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain, 1. Model dibuat dengan alat putar (alat bubut vertikal)

2. Model dibuat dengan bubut mendatar 3. Model dibuat secara bebas (Murniati 20).

a. Teknik Pembentukan

1. Pembentukan dengan Teknik Putar

Sebelum ditemukan peralatan, maka orang pada jaman dulu membuat putaran tangan, bermacam- macam alat yang terbuat dari kayu atau batu dengan bagian tengah menggunakan as (sumbu) yang diberi rolager agar dapat berputar dengan mulus (lancar). Sementara kedua tangan bekerja, sesekali tangan kiri menggerakkan atau memutar, tangan kanan dibantu tangan kiri membentuk benda sesuai dengan keinginan.

Setelah ditemukan mesin, mulailah dibuat putaran kaki. Sekarang telah banyak ditemukan alat putar yang mempergunakan listrik, sehingga meringankan kerja si pengerajin, dan hasilnya pun akan lebih sempurna.

Benda yang diperoleh dengan cara putaran tangan dan kaki berbentuk bola tabung dengan berbagai variasi. Berikut persiapan dan cara pembentukan dengan teknik putar.

a. Peralatan yang diperlukan :

 Alat putar kaki

 Meja untuk penguletan

 Alat-alat pembentuk

 Kawat pemotong tanah

 Spons

 Tempat air (baskom plastik kecil)

63 Universita s Kri sten Petra

 Pisau pemotong

 Sepatu karet

b. Bahan : masa plastis siap pakai c. Tata cara kerja :

 Penyiapan alat putar

 Sebaiknya menggunakan alat putaran kaki yang kepalanya terbuat dari logam besi atau kuningan yang telah ada titik putarnya dan lingkaran- lingkaran kecil atau besar yang mengelilingi titik tersebut.

 Apabila kepala putaran terbuat dari gips, gunakan papan berbentuk bundar dengan garis tengah sama dengan kepala putaran yang diletakkan di atas gips tersebut.

Gunakan tanah basah untuk perekat.

 Untuk meyakinkan titik pusat papan, sambil diputar permukaan papan digores dengan pensil persegi membentuk lingkaran- lingkaran kecil dan besar.

d. Cara pembentukan :

 Ambil segumpal tanah liat (masa plastis yang telah mengalami pengolahan), diaduk di atas meja pengadukan.

 Letakkan gumpalan tanah tersebut di tengah-tengah putaran, tekan agar melekat dan putar sambil ditegakkan sehingga tanah tepat tegak lurus di atas bidang putaran dan tidak digoyang.

 Sambil terus diputar, tekanlah ibu jari yang basah di tengah-tengah gumpalan tanah membentuk lubang sampai kira-kira 1 cm dari dasar. Tarik ke atas dan tanah akan naik mengikuti tangan.

 Dengan cara tersebut bentuklah benda yang dikehendaki. Bila penarikan arahnya tegak lurus maka akan membentuk silinder. Bila penarikan digerakkan ke arah luar maka akan membentuk benda lain pula.

 Haluskan bagian bibirnya dengan secarik kain atau spons basah lalu dasarnya diratakan dan dipotong dengan kawat. Jika benda yang dibuat masih terlalu lembek, tunggu agar agak keras sehingga mudah diangkat dan tidak berubah bentuk.

64 Universita s Kri sten Petra

 Keesokan harinya setelah barang mulai agak kering, dilakukan penghalusan (finishing) pada bagian bawahnya. Letakkan barang tersebut di atas putaran dalam keadaan terbalik dan usahakan agar letaknya sentris. Agar letak benda tidak berubah atau jatuh, bagian bawahnya dikokohkan dengan tanah liat basah.

 Lakukan penghalusan dengan cara pengerukan untuk membuat kakinya.

 Barang yang telah selesai dibentuk dikeringkan selama kira-kira 1 minggu sebelum didekorasi (sebelum diglasir dan sebelum dibakar).

Gambar 2.6 Teknik Putar Pertama Sumber : Murniati (2006, p.32)

Gambar 2.7 Teknik Putar Penyempurnaan Sumber : Murniati (2006, p.33)

65 Universita s Kri sten Petra

2. Pembentukan dengan Teknik Cetak Tuang

a. Peralatan yang digunakan : cetakan gips, pisau, atau kawat pemotong b. Bahan : masa coro (masa cetak tuang)

c. Tata cara penyiapan masak cetak tuang :

 Timbang sejumlah masa plastis (berkadar air 21 – 25 %) potong-potong dengan kawat, lalu masukkan ke dalam blunger (tong kayu)

 Tambahkan sejumlah air (dihitung dulu) sehingga kadar airnya menjadi 25 – 30 %

 Tambahkan larutan waterglass dengan perbandingan 1:1 untuk deflokulan (menurunkan kadar air), sehingga tidak lebih dari 0,2 %

 Aduk dengan mesin pengaduk listrik sampai diperoleh masa yang jika dituangkan tidak terputus-putus

 Ukur kekentalannya dengan viskometer (alat pengukur kekentalan) dan atur (dengan penambahan air) agar kekentalan 5 poise (sudah dalam keadaan stabil, diam).

Pindahkan masa ke dalam ember-ember besar (50 liter)

Gambar 2.8 Pembentukan Teknik Cetak Tuang Sumber : Murniati (2006, p.34)

66 Universita s Kri sten Petra

Tabel 2.3 Daftar penambahan air dan larutan waterglass untuk 50 kg masa plastis.

No.

1. Bedaki permukaan dalam dari potongan-potongan cetakan dengan bedak badan (bedak tabur), lalu susun dan ikat dengan pita-pita karet agar kuat.

5. Bila permukaan masa dalam cetakan turun, tambahkan lagi masa tuangnya sampai penuh.

6. Kemudian cetakan diletakkan terbalik di atas rak khusus agar semua kelebihan masa mengalir keluar dan dapat dikembalikan ke dalam blunger.

7. Setelah tak ada lagi aliran (tetesan) kelebihan, masa cetakan dibalik lagi ke posisi tegak di atas meja seperti semula. Biarkan selama kira-kira 3 menit.

8. Lepaskan cetakan, mula- mula bagian atasnya, lalu bagian dindingnya satu persatu.

Biarkan dulu beberapa saat agar benar-benar kuat untuk dipegang. Kemudian barang diangkat dari dasar cetakan.

9. Selanjutnya, kelebihan masa pada bagian mulut dipotong dengan menggunakan pisau khusus. Permukaan barang dan bekas potongan dihaluskan dengan spons basah

67 Universita s Kri sten Petra

dan bekas sambungan pada cetakan dirapikan, lalu barang mentah ini dikeringkan di atas rak pada suhu kamar (kira-kira 1 minggu).

10. Kelebihan masa tuang yang dialirkan kembali ke dalam blunger harus diaduk lagi sebelum dipakai (Murniati 30-36).

Gambar 2.9 Teknik Cetak Tuang Sumber : Murniati (2006, p.36)

Dalam dokumen 11 Universita s Kristen Petra (Halaman 45-57)

Dokumen terkait