BAB III ORGANOLOGIS SARUNEI BOLON SIMALUNGUN DAN
3.1 Organologis Sarunei Bolon Simalungun
3.1.4 Proses Pembuatan Sarunei Bolon Simalungun
Dalam proses pembuatan Sarunei bolon ini yang pertama dilakukan dengan mempersiapkan bahan baku yaitu batang Silastom (sejenis tumbuhan perdu, termasuk salah satu dari bulung-bulung simelias gelar) sebagai bahan dasar dalam membuat baluh (badan sarunei). Adapun yang dilakukan dengan memilih kayu silastom yang ukuran diameternya lebih kurang 5cm, hal ini dilakukan agar bisa disesuaikan dengan diameter lingkaran pada sigumbangi.
Bagian pertama yang dikerjakan adalah memotong batang silastom, kayu Silastom tersebut di potong menggunakan gergaji sesuai dengan ukuran yang di inginkan.
Gambar 28: memotong batang silastom
Setelah kayu silastom tersebut selesai di potong maka proses berikutnya adalah merapikan kayu silastom seperti mengikisnya serta menghaluskannya. kemudian melubangi dari pangkal batang silastom untuk di jadikan ruang resonator, dengan menggunakan pukkor.
Pukkor yang di gunakan adalah pukkor besar, dimana dari ujung mata pukkor ukurannya sangat kecil dan tajam dan semakin kearah pegangan pukkor ukurannya semakin besar. Dimana ukuran lubang resonator dari ujung badan sarunei yang di bawah lebih lebar dari pada ukuran lubang badan sarunei yang di atas.
Gambar 29 : melubangi atau memukkor silastom
Setelah kayu silastom selesai dibuat lubang resonatornya, maka di lakukan proses pembentukan atau pengukuran lubang nada pada badan Sarunei, dalam pengerjaan ini sangat di butuhkan kesabaran dan ketelitian. Karena dalam pembentukan kayu silastom tersbut sepenuhnya di kerjakan secara manual dengan tangan dan di bantu degan peralatan sedehana. Pembentukan batang sarunei pertama di lakukan dengan mengunakan parang hingga menghasilakan bentuk kasar dari batang sarunei. Hasil dari potongan parang tersebut kemudian dilanjutkan dengan mengunakan pisau kecil hingga benar benar membentuk bulat. Bagian bagian kikisan pisau yang masih kasar ataupun kurang rata maka di haluskan dengan menngunakan kertas pasir.
Gambar 30 : pembentukan badan Sarunei dengan menggunakan parang
Gambar 31 : pembentukan dan menghaluskan badan Sarunei
Setelah proses pembentukan selesai maka hasil pembentukan tersebut adalah bentuk dari badan sarunei, maka di bawah ini adalah gambar bentuk sarunei bolon Simalungun yang telah jadi.
Gambar 32 : badan Sarunei
Proses selanjutnya membuat lubang-lubang nada pada batang Sarunei, dalam membuat lubang nada, lubang tidak sembarang di lubangi begitu saja. Dalam pembuatan lubang nada ada ukuran jarak yang sudah di tentukan antara lubang satu ke lubang nada berikutnya agar suara yang di hasilkan harmonis.
Dimana batang sarunei di ukur dengan menngunakan daun lalang, pengukuran lubang nada Sarunei dengan cara panjang badan sarunei di ukur dengan panjang daun lalang, dan stelah dapat ukuran dari sarunei tersebut maka lalang di bagi menjadi 9 bagian, hasil dari pebagian tersbut yang akan menjadi jarak antara lubang satu ke luabang berikutnya. Kecuali lubang yang paling atas, jaraknya 2 kali dari ukuran yang telah di bagi 9 sebelumnya. Untuk membuat lubang yang di belakang, posisi lubang tepat di belakang antara lubang 1 dan 2 dari atas.
Gambar 33 : pengukuran awal
Gambar 34 : pengukuran lubang pertama
Setelah ukuran nada sudah di tentukan maka proses selanjutnya adalah melubangi lubang nada dengan menggunakan pukkor kecil.
Gambar 36 : proses melubangi nada
3.1.4.2 Proses Pembuatan Sigumbangi
Setelah diameter atau besar badan ujung sarunei dan lubang nada selesai pengerjaannya, proses selanjutnya adalah membuat sigumbangi. Sigumbangi terbuat dari bambu, dan bambu yang di gunakan untuk membuat sigumbangi adalah buluh parapat (sebutan untuk bambu yang tipis).
Bambu yang di gunakan untuk membuat si gumbangi terlebih dahulu di lakukan memilih lubang bambu yang sesuai dengan diameter ujung bagian bawah sarunei lalu bambu di ukur dengan ukuran panjang sarunei, panjang dari sigumbangi adalah setengah dari panjang badan sarunei. setelah ukuran telah di tentukan, maka pengerjaan selanjutnya adalah memotong bambu dengan menggunakan gergaji, setelah selesai memotong kedua ujung sigumabangi, maka
pengerjaan terkhir dalam proses pembuatan sigumbangi adalah penghalusan sigumbangi dengan menggunakan kertas pasir.
Gambar 37: proses pemotongan bambu yang di jadikan sigumbangi Gambar di bawah ini adalah hasil dari pemotongan bambu yang aka di jadikan sigumbamgi.
Gambar 38: sigumbangi 3.1.4.3 Proses Pembuatan Nalih
Nalih terbuat dari timah, cara membuatnya adalah timah terlebih dahulu di panaskan sampai mencair, kemudian timah tersebut di tuangkan kedalam cetakan yang sudah di bentuk, biarkan timah tersebut sampai mengaras. Setelah timah
mengaras dan sudah membetuk seperti nalih selanjutnya adalah mencocokkan nalih pada lubang pangkal Sarunei. apa bila nalih terlalu besar kita dapat mengikisnya dengaan pisau sampai nalih bisa masuk dan pas terhadap lubang pangkal sarunei atau tempat hembusaan.
3.1.3.4 Proses Pembuatan Anak Sarunei
Anak sarunei adalah bagian terpenting dalam alat musik sarunei bolon Simalungun untuk bisa menghasilkan Suara, oleh sebab itu bahan yang di gunakan harus di pilih dengan cermat dan memilki kualitas yang bagus. Bahan yang di gunakan untuk membuat anak sarunei adalah pelepah kelapa yang sudah tua, bagian pangkal pada buluh ayam dan benang. Cara membuatnya yaitu membersihkan tankai buluh ayam dari buluhnya, lalu memotong sesuai dengan ukuran yang di butuhkan, pengerjaan selanjutnya membetuk daun kelapa menjadi segitiga sebanyak 2 lembar, setelah ukuran dari tangkai buluh ayam selesai dan daun lalang sudah berbentuk segitiga selanjutnya mengikat daun lalang dengan tangkai buluh ayam dangan menggunakan benang, pengikat tersebut harus sangat cermat dan kuat.
Gambar 40 : bentuk pelepah kelapa
Gambar 41 : proses pengikatan tangkai buluh ayam dan pelapah kelapa
3.1.4.5 Proses Pembuatan Tuppak bibir (Penahan Bibir)
Untuk membuat tuppak bibir bahan yang digunakan adalah tempurung kelapa. Cara membuatnya adalah terlebih dahulu kelapa di bentuk seperti lingkaran atau bulat yang berdiameter kurang lebih 10 cm dengan menggunakan pisau yang tajam, untuk pembetukan tersebut di di butuhkan ke telitian, setelah
tempurung berbentuk bulat maka hal selanjutnya adalah mengikis tempurung hingga tipis dan di haluskan dengan menggunakan kertas pasir.