• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Pembubuhan Afiks

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Teori Yang Digunakan

2.2.4 Proses Pembubuhan Afiks

Menurut Ramlan (1983:47) proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada sesuatu satuan kata, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks untuk membentuk kata. Misalnya pembubuhan afiks ber- pada jalan menjadi berjalan, pada sepeda menjadi bersepeda. Pembubuhan afiks meN- pada tulis menjadi menulis, pada kenai menjadi mengenai.

Satuan yang dilekati afiks atau yang menjadi dasar pembentukan bagi satuan yang lebih besar itu disebut bentuk dasar. Bentuk dasar kata berjalan ialah jalan, bentuk dasar kata bersusah payah ialah susah payah, bentuk dasar berperikemanusiaan ialah perikemanusiaan. Dalam proses pembubuhan afiks, bentuk dasar merupakan salah satu unsur yang bukan afiks.

Proses morfologi mempunyai fungsi gramatik yaitu fungsi yang berhubungan dengan ketatabahasaan. Di samping itu, proses morfologi juga mempunyai fungsi semantik. Misalnya kata sepeda. Kata ini telah memiliki arti leksikal seperti dijelaskan dalam kamus, akibatnya melekatnya afiks ber- pada kata itu, maka berubahlah arti leksikalnya menjadi „mempunyai atau menggunakan sepeda‟. Maka dapat dikatakan bahwa afiks ber- mempunyai fungsi semantik menyatakan makna „mempunyai atau menggunakan‟.

Penulis akan mengambil contoh kata lateh „latih‟ pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

me- + lateh melateh „melatih‟

di- + lateh dilateh „dilatih‟

lateh + /-an/ latehan „latihan‟

lateh + /-ke/ latehke „latihkan‟

pe- + lateh + /-an/ pelatehan „pelatihan‟

Dari pernyataan di atas bahwa melekatnya afiks pada kata dapat menimbulkan perubahan kelas kata, bentuk, serta arti yang dilambangkannya.

Bentuk adalah satuan-satuan yang mengandung arti, baik arti leksis dan gramatis.

misalnya bentuk kata melatih ialah latih. Distribusi adalah kesanggupan afiks melekat pada kelas kata/ kata dasar. Misalnya pada kelas kata kerja melatih kata dasarnya adalah latih . Fungsi adalah kesanggupan afiks merubah kelas kata.

Misalnya pada kata dilatih ialah latih terdapat fungsi kata kerja pasif. Sedangkan nosi adalah arti baru yang ditimbulkan oleh proses afiksasi dan maknanya (setelah melekat pada afiks kata dasar). Misalnya pada kata melatih menyatakan makna

„suatu perbuatan aktif yang dilakukan oleh pelaku yang menduduki fungsi subyek

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan karena penelitian ini berawal pada data dan bermuara pada kesimpulan. Data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diteliti. (Moeliono,2007:6). Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat menggambarkan, melukiskan, atau memaparkan secara sistematis, akurat, dan faktual mengenai data, sifat serta berhubungan dengan fonem yang diteliti.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Langkat dengan memilih satu desa yang ada di Kabupaten Langkat yaitu Desa Secanggang untuk kemudian akan dilakukan berupa observasi yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses afiksasi bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

3.3 Jenis Data dan Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah kualitatif yang berupa kata-kata atau kalimat yang selebihnya adalah data tambahan dari dokumen dan lain-lain.

Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer yang dikumpulkan langsung oleh peneliti melalui sumbernya dengan melakuan penelitian ke objek yang diteliti. (Umar, 2003:56)

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa buku catatan, alat tulis serta alat rekam yang digunakan untuk merekam data dari informan.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut.

A. Observasi

Metode observasi merupakan jenis penelitian dengan mengumpulkan data yang diperoleh berdasarkan pengamatan langsung yang dilakukan dilapangan.

B. Simak

Teknik simak/penyimakan karena memang dalam pengambilan data, peneliti melakukan penyimakan, dilakukan dengan menyimak, yaitu menyimak penggunaan bahasa. (Sudaryanto, 2015:203). Metode simak memiliki teknik-teknik yang dapat digunakan dalam penerapannya, yaitu teknik catat. Peneliti mencatat kalimat yang mengandung afiksasi yang terdapat dalam percakapan dengan informan. Jadi dalam penelitian ini menggunakan metode simak dan teknik catat.

C. Wawancara

Metode penelitian ini memakai metode lapangan, maka peneliti juga menerapkan metode wawancara yaitu cara mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada informan. Teknik yang dipergunakan adalah teknik rekam dan catat. Teknik rekam dengan

merekam seluruh pembicaraan dan teknik catat dengan mencatat semua keterangan yang diperoleh dari informan.

3.6 Metode Analisis Data

Setelah data dikumpulkan, maka diadakan analisis data untuk memecahkan permasalahan. Metode analisis data yang digunakan merupakan kualitatif maka peneliti bersikap netral sehingga tidak mempengaruhi data.

Metode analisis data merupakan suatu langkah kritis dalam penelitian, karena tahap dalam menyelesaikan masalah adalah dengan menganalisis data. Untuk menganalisis data dilakukan prosedur sebagai berikut: (1) data yang diperoleh akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, (2) setelah diterjemahkan kemudian diklasifikasikan sesuai dengan objek pengkajian, (3) setelah diklasifikasikan, data dianalisis sesuai dengan kajian yang telah ditetapkan yaitu afiksasi.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Jenis-jenis Afiks Bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang

Adapun jenis- jenis afiks (imbuhan) pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yang didapat dari penelitian ini terdiri atas prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), dan konfiks (awalan dan akhiran).

4.1.1 Prefiks (awalan)

Prefiks adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan afiks atau imbuhan di depan bentuk dasarnya atau pembentukan kata-kata yang dilakukan dengan membubuhkan atau menambahkan afiks di depan bentuk dasarnya.

Adapun prefiks yang dijumpai dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdiri atas tujuh prefiks yaitu: Prefiks beR- , teR- , peR- , se- , ke- , meN- dan Prefiks peN-.

A. Prefiks beR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: beR- + jumpə → beRjumpə „berjumpa‟

B. Prefiks teR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: teR- + bangon → teRbangon „terbangun‟

C. Prefiks peR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: peR- + halos → peRhalos „perhalus‟

D. Prefiks se- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: se- + duniə → seduniə „sedunia‟

E. Prefiks ke- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: ke- + tuə → ketuə „ketua‟

F. Prefiks meN- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdapat variasi bentuknya yaitu: me-, m-, n-, ny- dan ng-.

a) Variasi bentuk me- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Conntoh: me- + lateh → melateh „melatih‟

b) Variasi bentuk m- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: m- + bungkos → mbungkos „membungkus‟

c) Variasi bentuk n- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: n- + dayong → ndayong „mendayung „

d) Variasi bentuk ny- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: ny- + səmpit → nyəmpit „menyempit‟

e) Variasi bentuk ng- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: ng- + gulong → nggulong „menggulung‟

G. Prefiks peN- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdapat variasi bentuknya yaitu: pe-, pen-, pem-, peng- dan peny.

a) Variasi bentuk pe- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: pe- + lateh → pelateh „pelatih‟

b) Variasi bentuk pen- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: pe- + doRong → pendoRong „pendorong‟

c) Variasi bentuk pem- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: pem- +bawə → pembawə „pembawa‟

d) Variasi bentuk peng- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang

Contoh: peng- + ambek → pengambek „pengambil‟

e) Variasi bentuk peny- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: peny-+ sumpah → penyumpah „penyumpah‟

4.1.2 Infiks (sisipan)

Infiks adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan afiks atau imbuhan di tengah bentuk dasarnya. Adapun infiks yang dijumpai dan masih digunakan dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdiri atas tiga infiks yaitu: infiks –el-, –em- dan –er-.

A. Infiks –el- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang

Contoh: tunjok + /-el-/ → telunjok „telunjuk‟

B. Infiks –em- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: gətaR + /-el-/ → gemətaR „gemetar‟

C. Infiks –er- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: gigi + /-er-/ → geRigi „gerigi‟

4.1.3 Sufiks (akhiran)

Sufiks adalah proses pembentukan kata yang dilakukan dengan cara menambahkan afiks di akhir bentuk dasarnya. Adapun sufiks yang dijumpai dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdiri atas tiga sufiks yaitu:

Sufiks –an ,–ke „dan –nye.

A. Sufiks –an pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: tules + /-an/ → tulesan „tulisan‟

B. Sufiks –ke pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: dudok + /-ke/ → dudokke „dudukkan‟

C. Sufiks –nye pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang

Contoh: luas + /-nye/ → luasnye „luasnya‟

4.1.4 Konfiks (awalan dan akhiran)

Konfiks ialah afiks gabungan yang terbentuk prefiks (awalan) dan sufiks (akhiran) yang pemakainya sekaligus ditempatkan antara kata dasar. Adapun konfiks yang dijumpai dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdiri atas lima konfiks yaitu: Konfiks be-an , di-i , di-ke , ke-an dan pe-an

A. Konfiks be-an pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: be- + gantong + -an → begantongan „bergantungan‟

B. Konfiks di-i pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: di- + minom + -i → diminomi „diminumi‟

C. Konfiks di-ke pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: di- + jalan + ke → dijalanke „dijalankan‟

D. Konfiks ke-an pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: ke- +baek + -an → kebaekan „kebaikan‟

E. Konfiks pe-an pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: pe- + laRi + -an → pelaRian „pelarian‟

4.2 Proses Pembubuhan Afiks pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang

Proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada sesuatu satuan kata, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks untuk membentuk kata. Dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang didapati proses pembubuhan afiks. Berdasarkan hasil penelitian tentang afiksasi bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang, maka peneliti menemukan ada beberapa bentuk afiks yang terdapat pada bahasa Melayu Langkat.

Contoh:

me- + lateh melateh „melatih‟

di- + lateh dilateh „dilatih‟

lateh + /-an/ latehan „latihan‟

lateh + /-ke/ latehke „latihkan‟

pe- + lateh + /-an/ pelatehan „pelatihan‟

Dari pernyataan di atas bahwa melekatnya afiks pada kata dapat menimbulkan perubahan kelas kata, bentuk, serta arti yang dilambangkannya.

Bentuk adalah satuan-satuan yang mengandung arti, baik arti leksis dan gramatis.

misalnya bentuk kata melatih ialah latih. Distribusi adalah kesanggupan afiks melekat pada kelas kata/ kata dasar. Misalnya pada kelas kata kerja melatih kata dasarnya adalah latih . Fungsi adalah kesanggupan afiks merubah kelas kata.

Misalnya pada kata dilatih ialah latih terdapat fungsi kata kerja pasif. Sedangkan nosi adalah arti baru yang ditimbulkan oleh proses afiksasi dan maknanya (setelah melekat pada afiks kata dasar). Misalnya pada kata melatih menyatakan makna

„suatu perbuatan aktif yang dilakukan oleh pelaku yang menduduki fungsi subyek. Berikut ini penulis akan memaparkan analisis proses pembubuhan afiks pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

4.2.1 Prefiks (awalan)

Proses pembentukan kata dengan menambahkan afiks atau imbuhan di depan bentuk dasarnya atau pembentukan kata-kata yang dilakukan dengan membubuhkan atau menambahkan afiks di depan bentuk dasarnya.

Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan, prefiks yang dijumpai dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdiri atas beberapa prefiks yang terdapat pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang, yaitu beR-„ber-‟,

teR-„ter‟, peR-„per‟, se-„se‟, ke-„ke‟, meN-, peN-. Berikut ini akan dipaparkan satu persatu prefiks pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

4.2.1.1 Prefiks beR-

Di bawah ini akan dipaparkan bentuk, distribusi, fungsi dan nosi prefiks beR- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

A. Bentuk

Prefiks beR- „ber-‟ pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang menggunakan pelafalan huruf “R” yang tidak jelas yang merupakan sejenis bunyi konsonan. Prefiks beR- tidak mengalami perubahan ketika bertemu dengan fonem pada bentuk kata dasar. Prefiks ini dapat melekat pada kata dasar yang diawali dengan fonem konsonan maupun fonem vokal.

Contoh:

beR- + təmu „temu‟ → beRtəmu „bertemu‟

beR- + sandaR „sandar‟ → beRsandaR „bersandar‟

beR- + juwang „juang‟ → beRjuwang „berjuang‟

beR- + suə „sua‟ → beRsuə „bersua‟

beR- + jumpə „jumpa → beRjumpə „berjumpa‟

beR- + kəlai „kelahi‟ → beRkəlai „berkelahi‟

beR- + aleh „alih‟ → beRaleh „beralih‟

beR- + maknə „makna‟ → beRmaknə „bermakna‟

beR- + laRi „lari‟ → beRlaRi „berlari‟

beR- + lateh „latih‟ → beRlateh „berlatih‟

beR- + daon „daun‟ → beRdaon „berdaun‟

beR- + bunge „bunga‟ → beRbunge „berbunga‟

B. Distribusi

Prefiks beR- pada bahasa melayu Langkat di Desa Secanggang mampu berdistribusi dengan:

1. Kelas kata sifat (adjektiva)

Contoh:

beR- + gembiRə „gembira‟ → beRgembiRə „bergembira‟

beR- + padu „padu‟ → beRpadu „berpadu‟

beR- + sedeh „sedih‟ → beRsedeh „bersedih‟

beR- + bahagiə „bahagia‟ → beRbahagiə „berbahagia‟

2. Kelas kata bilangan (numerelia)

Contoh:

beR- + duə „dua‟ → beRduə„berdua‟

beR- + tigə „tiga‟ → beRtige „bertiga‟

beR- + empat „empat → beRempat „berempat‟

beR- + limə „lima‟ → beRlimə „berlima‟

3. Kelas kata benda (nomina)

Contoh:

beR- + sepedə „sepeda‟ → beRsepedə „bersepeda‟

beR- + topi „topi‟ → beRtopi „bertopi‟

beR- + wibawə „wibawa‟ → beRwibawə „berwibawa‟

beR- + anggotə „anggota‟ → beRanggotə „beranggota‟

beR- + alasan „alasan‟ → beRalasan „beralasan‟

beR- + kebon „kebun‟ → beRkebon „berkebun‟

Berdasarkan contoh di atas, prefiks beR- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat berdistribusi dengan kelas kata adjektiva, numerelia dan nomina.

C. Fungsi

Kesanggupan prefiks beR- merubah kelas kata dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yaitu:

Contoh: beR- + topi (N) = beRtopi (V)

beR- + bungə (N) = beRbungə (Adj)

beR- + tigə (Num) = beRtigə (Adv)

Berdasarkan contoh di atas, dapat dilihat prefiks beR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat merubah kelas kata dasar menjadi kelas kata nomina menjadi verba, kelas kata nomina menjadi adjektiva dan numerelia menjadi adverbia.

D. Nosi

Prefiks beR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang memiliki nosi sebagai berikut:

1. Apabila bentuk dasarnya pokok kata afiks beR- menyatakan suatu perbuatan yang aktif ialah perbuatan yang dilakukan oleh pelaku yang menduduki fungsi subyek.

Contoh:

beR- + sandaR „sandar‟ → beRsandaR „bersandar‟

beR- + aleh „alih‟ → beRaleh „beralih‟

2. Apabila bentuk dasarnya kata sifat afiks beR- menyatakan makna dalam keadaan.

Contoh:

beR- + gəmbiRə „gembira‟ → beRgəmbiRə „bergembira‟

beR- + sədeh „sedih‟ → beRsədeh „bersedih‟

3. Apabila bentuk dasarnya kata bilangan afiks beR- menyatakan makna kumpulan yang terdiri jumlah yang tersebut pada bentuk dasar.

Contoh:

beR- + duə „dua‟ → beRduə „berdua‟

beR- + tigə „tiga‟ → beRtigə „bertiga‟

4.2.1.2 Prefiks teR-

Di bawah ini akan dipaparkan bentuk, distribusi, fungsi dan nosi prefiks teR- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

A. Bentuk

Prefiks teR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang menggunakan pelafalan huruf “R” yang tidak jelas yang merupakan sejenis bunyi konsonan. Prefiks teR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang tidak mengalami perubahan saat bertemu dengan fonem pada kata dasar. Prefiks teR- mempunyai fungsi membentuk kata kerja pasif. Prefiks ini dapat melekat pada kata dasar yang diawali dengan fonem konsonan maupun fonem vokal.

Contoh:

teR- + bangon „bangun‟ → teRbangon „terbangun‟

teR- + utamə „utama‟ → teRutamə „terutama‟

teR- + baek „baik‟ → teRbaek „terbaik‟

teR- + kəcik „kecil‟ → teRkəcik „terkecil‟

teR- + jəpet „jepit‟ → teRjəpet „terjepit‟

teR- + sentoh „sentuh‟ → teRsentoh „tersentuh‟

teR- + ocap „ucap‟ → teRocap „terucap‟

teR- + laRot „larut‟ → teRlaRot „terlarut‟

teR- + cabot „cabut‟ → teRcabot „tercabut‟

teR- + didek „didik‟ → teRdidek „terdidik‟

teR- + tules „tulis‟ → teRtules „tertulis‟

B. Distribusi

Prefiks teR- pada bahasa melayu Langkat di Desa Secanggang mampu berdistribusi dengan:

1. Kelas kata kerja (verba)

Contoh:

teR- + bawə „bawa → teRbawə „terbawa‟

teR- + dəɳaR „dengar‟ → teRdəɳaR „terdengar‟

teR- + suson „susun‟ → teRsuson „tersusun‟

teR- + doRoɳ „dorong‟ → teRdoRoɳ „terdorong‟

2. Kelas kata sifat (adjektiva)

Contoh:

teR- + kəcik „kecil‟ → teRkəcik „terkecil‟

teR- + ləbaR „lebar‟ → teRləbaR „terlebar‟

teR- + bəsaR „besar‟ → teRbəsaR „terbesar‟

teR- + halos „halus‟ → teRhalos „terhalus‟

Berdasarkan contoh di atas, prefiks teR- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat berdistribusi dengan kelas kata verba dan adjektiva.

C. Fungsi

Kesanggupan prefiks teR- merubah kelas kata dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yaitu:

Contoh: teR- + jatoh (adj) = teRjatoh (V)

teR- + bəsaR (adj) = teRbəsaR (Adj)

Berdasarkan contoh di atas, diketahui prefiks teR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat merubah kelas kata dasar yaitu kata adjektiva menjadi verba.

D. Nosi

Prefiks teR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang memiliki nosi sebagai berikut:

1. Afiks teR- menyatakan makna ketidaksengajaan.

Contoh:

teR- + siRam „siram‟ → teRsiRam „tersiram‟

teR- + coRet „coret‟ → teRcoRet „tercoret‟

2. Afiks teR- menyatakan ketiba-tibaan.

Contoh:

teR- + bangon „bangun‟ → teRbangon „terbangun‟

teR- + jatoh „jatuh‟ → teRjatoh „terjatuh‟

3. Apabila bentuk dasarnya berupa kata sifat afiks teR- menyatakan makna paling.

Contoh:

teR- + tinggi „tinggi‟ → teRtinggi „tertinggi‟

teR- + pandai „pandai‟ → teRpandai „terpandai‟

4.2.1.3 Prefiks peR-

Di bawah ini akan dipaparkan bentuk, distribusi, fungsi dan nosi prefiks peR- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

A. Bentuk

Prefiks peR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang menggunakan pelafalan huruf “R” yang tidak jelas yang merupakan sejenis bunyi konsonan. Prefiks peR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang tidak mengalami perubahan saat bertemu dengan fonem pada kata dasar. Prefiks ini dapat melekat pada kata dasar yang diawali dengan fonem konsonan maupun fonem vokal.

Contoh:

peR- + bəsaR „besar‟ → peRbəsaR „perbesar‟

peR- + halos „halus‟ → peRhalos „perhalus‟

peR- + cantek „cantik‟ → peRcantek „percantik‟

peR- + Rasə „rasa‟ → peRasə „perasa‟

peR- + waRnə „warna‟ → peRwaRnə „perwarna‟

peR- + əmpat „empat‟ → peRəmpat „perempat‟

peR- + tigə „tiga‟ → peRtigə „pertiga‟

B. Distribusi

Prefiks peR- pada bahasa melayu Langkat di Desa Secanggang mampu berdistribusi dengan:

1. Kelas kata benda (nomina)

Contoh:

peR- + istəRi „isteri‟ → peRistəRi „peristeri‟

peR- + kudə „kuda‟ → peRkudə „perkuda‟

peR- + budak „budak‟ → peRbudak „perbudak‟

2. Kelas kata sifat (adjektiva)

Contoh:

peR- + bəsaR „besar‟ → peRbəsaR „perbesar‟

peR- + luas „luas‟ → peRluas „perluas‟

peR- + kəcik „kecil‟ → peRkəcik „perkecil‟

3. Kelas kata bilangan (numerelia)

Contoh:

peR- + duə „dua‟ → peRduə„ perdua‟

peR- + tigə „tiga‟ → peRtigə „pertiga‟

peR- + əmpat „empat‟ → peRəmpat „perempat‟

peR- + limə „lima‟ → peRlimə „perlima‟

Berdasarkan contoh di atas, prefiks peR- dala bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat berdistribusi dengan kelas kata nomina, adjektiva dan numerelia.

C. Fungsi

Kesanggupan prefiks peR- merubah kelas kata dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yaitu:

Contoh: peR- + isteri (N) = peRisteri (v)

peR- + bəsaR (adj) = peRbəsaR (Adj)

Berdasarkan contoh di atas, diketahui prefiks peR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat merubah kelas kata dasar yaitu kata nomina menjadi verba .

D. Nosi

Prefiks peR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang memiliki nosi sebagai berikut:

1. Afiks peR- hanya mempunyai satu makna yaitu menyatakan kausatif.

Apabila bentuk dasarnya berupa kata sifat yaitu:

Contoh:

peR- + bəsaR „besar‟ → peRbəsaR „perbesar‟

peR- + cantek „cantik‟ → peRcantek „percantik‟

2. Afiks peR- hanya mempunyai satu makna yaitu menyatakan kausatif.

Apabila bentuk dasarnya berupa kata bilangan yaitu:

Contoh:

peR- + duə „dua‟ → peRduə „perdua‟

peR- + tigə „tiga‟ → peRtigə „pertiga‟

3. Afiks peR- hanya mempunyai satu makna yaitu menyatakan kausatif.

Apabila bentuk dasarnya berupa kata benda yaitu:

Contoh:

peR- + istəRi „isteri‟ → peRistəRi „peristeri‟

peR- + kudə „kuda‟ → peRkudə „perkuda‟

4.2.1.4 Prefiks se-

Di bawah ini akan dipaparkan bentuk, distribusi, fungsi dan nosi prefiks se- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

A. Bentuk

Prefiks se- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang tidak mengalami perubahan saat bertemu dengan fonem pada kata dasar. Prefiks ini dapat melekat pada kata dasar yang diawali dengan fonem konsonan maupun fonem vokal.

Contoh:

se- + Rumah „rumah‟ → seRumah „serumah‟

se- + duniə „dunia‟ → seduniə „sedunia‟

se- + haRi „hari‟ → sehaRi „sehari‟

se- + təlah „telah‟ → setəlah „setelah‟

se- + mulə „mula‟ → semulə „semula‟

se- + tibə „tiba‟ → setibə „setiba‟

B. Distribusi

Prefiks se- pada bahasa melayu Langkat di Desa Secanggang mampu berdistribusi dengan:

1. kata benda (nomina)

Contoh:

se- + duniə „dunia‟ → seduniə „sedunia‟

se- + haRi „hari‟ → sehaRi „sehari‟

se- + Rombongan „rombongan‟ → seRombongan „serombongan‟

se- + Rumah „rumah‟ → seRumah „serumah‟

2. kata sifat (adjektiva)

Contoh:

se- + tinggi „tinggi‟ → setinggi „setinggi‟

se- + luas „luas‟ → seluas „seluas‟

se- + baek „baik‟ → sebaek „sebaik‟

se- + cəRdas „cerdas‟ → secəRdas „secerdas‟

Berdasarkan contoh di atas, prefiks se- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat berdistribusi dengan kelas kata nomina dan adjektiva.

C. Fungsi

Kesanggupan prefiks se- merubah kelas kata dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yaitu:

Contoh: se- + duniə (N) = seduniə (Adv)

se- + jalan (n ) = sejalan (n) se- + indah (Adj) = seindah (Adv)

Berdasarkan contoh di atas dapat diketahui prefiks se- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat merubah kelas kata dasar kata nomina menjadi adverbia dan adjektiva menjadi adverbia.

D. Nosi

Prefiks se- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang memiliki nosi sebagai berikut:

1. Afiks se- menyatakan makna satu.

Contoh: se- + kaRong „karung‟ sekaRong „sekarung‟

se- + haRi „ hari‟ → sehaRi „sehari‟

2. Afiks se- menyatakan makna seluruh.

Contoh:

se- + kampong „kampung → sekampong „sekampung‟

se- + kampong „kampung → sekampong „sekampung‟

Dokumen terkait