• Tidak ada hasil yang ditemukan

AFIKSASI BAHASA MELAYU LANGKAT DI DESA SECANGGANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AFIKSASI BAHASA MELAYU LANGKAT DI DESA SECANGGANG"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

AFIKSASI BAHASA MELAYU LANGKAT DI DESA SECANGGANG

SKRIPSI

Dikerjakan Oleh : LELY WAHYUNI

160702023

PROGRAM STUDI SASTRA MELAYU FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Lely Wahyuni 160702023: Afiksasi Bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Bahasa Melayu Langkat di Secanggang merupakan bahasa daerah yang masih berkembang dan masih digunakan oleh penuturnya sebagai bahasa pengantar dalam berkomunikasi pada acara resmi maupun tidak resmi. Penggunaan bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang digunakan dalam masyarakat sekitar, baik dalam adat istiadat maupun budaya setempat. Penelitian ini membahas tentang Afiksasi Bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang. Afiksasi ialah pembubuhan afiks pada suatu satuan (bentuk), baik tunggal maupun kompleks untuk membentuk kata. Adapun jenis-jenis afiks dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdiri atas prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran) dan konfiks (awalan dan akhiran).

Kata kunci: Bahasa Melayu Langkat, Afiksasi, Jenis-jenis Afiks.

(7)

كرتسبا

نىيهاو يليل ي

320206061 ايادىب ىمليا ستلىكاف ,عاغعثيس اسيد يد تاكعل ىيلام ساهب يساسكيفا :

ارتامىس ساتيسرفينوا راتوا

.

ًلَا هكاوُغيد ًيسام ناد عابمكرب ًيسام عي يارياد ساٍب هكافَرم عاغعثيس اسيد يد تاكعل ُيلام ساٍب ساٍب نءاوُغعف .يمسر كاديت نُفَام يمسر راثا اداف يساكيوُمؤكرب ملاد راتىعف ساٍب ياغابساثرُتُىف اد هكاوُغيد ي عاغعثيس اسيد يد تاكعل ُيلام ايادُب نُفَام ةادايتسيا ةادا ملاد كياب ,راتيكس تكارايسم مل

ًلايا يساسكيفا .عاغعثيس اسيد يد تاكعل ُيلام ساٍب يساسكيفا عاتىت سٌابمم هيا نايتيلىف .تافمتس .تاك كُتىبمم كُتوَا سكيلفمُك نُفَام لاغعُت كياب ,)كُتىب( ناُتاس ُتاُس داف سكيفا ناٌُبُبمف سيىج نُفادا -

ىج ,)هلاَا( سكيفئرف ساتا يريدرت عاغعثيس اسيد يد تاكعل ُيلام ساٍب ملاد سكيفا سي

.)ناريخا ناد هلاَا ( سكيفوُك ناد )ناريخا( سكيفُس ,)نافيسيس( سكيفىيا سينج ,يساسكيفا ,تاكعل ىيلام ساهب :يثنىك تاك -

.سكيفا سينج

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan pada kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis masih diberikan kesehatan dan keselamatan untuk mengerjakan dan menyelesaikan skripsi yang berjudul “Afiksasi Bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan jenjang pendidikan Strata Satu (S1) guna mendapat gelar Sarjana Sastra (S.S) pada Program Studi Sastra Melayu, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini terdiri atas lima bab yaitu: bab pertama pendahuluan, terdiri atas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian.

Bab kedua berisi kajian pustaka terdiri atas kepustakaan yang relevan dan teori yang digunakan. Bab ketiga berisi metode penelitian terdiri atas metode penelitian, lokasi penelitian, jenis data dan sumber data, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data metode analisis data. Bab keempat berisi hasil dan pembahasan terdiri atas jenis-jenis afiks dan proses pembubuhan afiks. Bab kelima berisi kesimpulan dan saran.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan dan penyusunan, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari masih banyak sekali kekurangan di dalam penulisan skripsi ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun

(9)

untuk demi kesempurnaannya skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga penulisan skripsi ini memberikan pengetahuan dan bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Desember 2020 Penulis

Lely Wahyuni 160702023

(10)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis ucapkan pada kehadirat Allah SWT berkat rahmat baik dan kesehatan, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Afiksasi Bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang”. Skripsi ini penulis susun guna untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan Strata Satu (S1) di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun agar lebih baik lagi demi kesempurnaannya skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan moral maupun materi serta do‟a kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Rozanna Mulyani, M.A, selaku Ketua Program Studi Sastra Melayu Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, serta selaku dosen pembimbing penulis yang senantiasa membimbing, memberikan arahan, meluangkan waktu dan pikiran dalam menyelesaikan skripsi ini.

(11)

3. Dra. Mardiah Mawar Kembaren M.A, Ph.D, selaku Sekretaris Program Studi Sastra Melayu Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. Baharuddin, M. Hum dan bapak Drs.Irwan, M.Si selaku dosen penguji Program Studi Sastra Melayu Fakultas Ilmu Budaya Sumatera Utara.

5. Seluruh dosen dan Staf Pengajar Program Studi Sastra Melayu Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik, membimbing dan memberikan ilmu kepada penulis selama masa perkuliahan.

6. Kepada kak Tri dan bang Yogo selaku administrasi Program Studi Sastra Melayu yang senantiasa membantu kelancaran administrasi selama penulis menempuh pendidikan dan memberikan semangat kepada penulis.

7. Kepada bapak Kepala Desa dan Informan di Desa Secanggang yang telah mengizinkan untuk penelitian dan memberikan informasi serta bantuan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

8. Ayahanda Almahadi, S.pd dan Ibunda Ummi Kalsum, S.pd yang tercinta telah banyak berkorban baik dalam bentuk materi,pikiran dan tenaga untuk pendidikan penulis, memenuhi kebutuhan pendidikan penulis baik dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi, serta telah banyak melimpahkan kasih sayang, do‟a, didikan dan dukungan yang menjadi kekuatan untuk penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi

(12)

ini. Penulis sadar selama ini penulis belum bisa membanggakan ayah dan ibu, penulis akan berusaha semaksimal yang penulis bisa untuk membalas jasa ayah dan ibu.

9. Yang tersayang Kakanda Rika Andriani, S.pd, Abangda Sarijal Sudirja serta Adinda Rini Amalia yang selalu memberikan semangat, masukan dan dukungan serta motivasi yang membangun kepada penulis.

10. Yang terkasih Insanul Husni Nasution yang sama-sama berjuang mengerjakan skripsi, selalu siap mendengar keluh kesah penulis, selalu setia menemani, saling memberikan semangat, memberi perhatian, bantuan dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini. Serta teman seperdopingan Nurul Ulfa yang telah menemani, memberikan semangat dan kebersamaannya dalam penyelesaian skripsi ini.

11. Kakak-kakak teman “Kos Newton” yaitu Desi Ratna Sari Harahap, S.S.i, Ummu Jamilah Hasibuan, S.kep, Sri Wahyuni, S.T, Nova Anggriani Hasibuan, S.S, Sri Intan Ritonga, S.E, Tri Suci Ramadhani S.E, Indah Juriani, S.Si, M.Si dan Ida Budi Ningsih S.AB yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada penulis.

12. Sahabat-sahabat “Muslimah” yaitu Fitri Rahayu, S.S, Syarah, S.S, Tri Ulandari, Adinda Syafirah dan Delvira Hafni yang selalu menyemangati, mengerjakan tugas dan berkumpul bersama dalam keadaan suka maupun duka.

13. Teman-teman seperjuangan penulis di stambuk 2016 Lusi, Amel, Haafiza, Elak, Opi, Ayong, Afifatul, Yani, Sarah, Midah, Tengku,

(13)

Desi, Zura, Purnama, Riski, Sadrak, Putra, Hafis, Zebua, Job dan Boy.

Penulis ucapkan banyak terima kasih kepada kalian yang sudah hadir dihidup penulis yang ada untuk penulis dalam keadaan senang maupun susah. Selalu membantu dan memberikan dukungan serta motivasi selama masa perkuliahan. Terima kasih banyak teman-teman atas waktu dan kebersamaannya selama ini.

14. Adik-adik yang ada di stambuk 2017, 2018, 2019 dan 2020 perjuangan kalian masih sangat panjang jadi tetap semangat.

15. Seluruh mahasiswa yang berada dinaungan yang sama dengan penulis yaitu Ikatan Mahasiswa Sastra Melayu (IMSAM) yang telah memberikan pengalaman dan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga kita semua sukses dan dapat memajukan budaya Melayu khususnya.

Terima kasih kepada semua orang yang sangat berarti dalam hidup penulis yang sudah membantu, dan mohon maaf jika ada yang tidak tersebut.

Semoga Allah SWT membalas dengan segala kebaikan yang berlipat ganda.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Desember 2020 Penulis

Lely Wahyuni 160702023

(14)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

UCAPAN TERIMA KASIH... v

DAFTAR ISI ... ix

LAMPIRAN ... xii

DAFTAR KETERANGAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

1.4.1 Manfaat Praktis ... 5

1.4.2 Manfaat Teoritis ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Kepustakaan Yang Relevan ... 7

2.2.Teori Yang Digunakan ... 8

2.2.1 Morfologi ... 8

2.2.2 Afiks dan Afiksasi ... 9

2.2.3 Jenis-jenis Afiks ... 10

2.2.4 Proses Pembubuhan Afiks ... 12

(15)

BAB III METODE PENELITIAN ... 14

3.1 Metode Penelitian ... 14

3.2 Lokasi Penelitian ... 14

3.3 Jenis Data dan Sumber Data ... 14

3.4 Instrumen Penelitian ... 15

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 15

3.6 Metode Analisis Data ... 16

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 17

4.1 Jenis-jenis Afiks bahasa Melayu Langkat ... 17

4.1.1 Prefiks ... 17

4.1.2 Infiks ... 19

4.1.3 Sufiks ... 20

4.1.4 Konfiks ... 20

4.2 Proses Pembubuhan Afiks ... 22

4.2.1 Prefiks ... 22

4.2.1.1 Prefiks beR- ... 23

4.2.1.2 Prefika teR- ... 27

4.2.1.3 Prefiks peR- ... 30

4.2.1.4 Prefiks se- ... 34

4.2.1.5 Prefiks ke- ... 36

4.2.1.6 Prefiks meN- ... 38

4.2.1.7 Prefiks peN- ... 45

4.2.2 Infiks ... 51

(16)

4.2.2.1 Infiks el- ... 51

4.2.2.2 Infiks em- ... 53

4.2.2.3 Infiks er- ... 56

4.2.3 Sufiks ... 57

4.2.3.1 Sufiks –an ... 58

4.2.3.2 Sufiks –ke ... 61

4.2.3.3 Sufiks –nye ... 64

4.2.4 Konfiks ... 67

4.2.4.1 Konfiks be-an ... 67

4.2.4.2 Konfiks di-i ... 71

4.2.4.3 Konfiks di-ke ... 73

4.2.4.4 Konfiks ke-an ... 76

4.2.4.5 Konfiks pe-an ... 78

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 82

5.1 Simpulan ... 82

5.2 Saran ... 85

DAFTAR PUSTAKA ... 86

(17)

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 ... 88 LAMPIRAN 2 ... 90 LAMPIRAN 3 ... 91

(18)

DAFTAR KETERANGAN

Vokal

/a/ = a seperti pada alih /i/ = i seperti pada didik /u/ = u seperti pada susun /e/ = e seperti pada lebar /ə/ = e seperti pada keras /o/ = o seperti pada coret

Konsonan

/b/ = b seperti pada besar /c/ = c seperti pada coret /d/ = d seperti pada duduk /g/ = g seperti pada tinggi /h/ = h seperti pada halus /j/ = j seperti pada jatuh /k/ = k seperti pada kuda /l/ = l seperti pada luas /m/ = m seperti pada mula /n/ = n seperti pada nanam /p/ = p seperti pada padu /r/ = r seperti pada rumah

(19)

/s/ = s seperti pada sedih /t/ = t seperti pada tiga /w/ = w seperti pada wibawa /ng/ = ng seperti pada anggota /../ = menyatakan fonemis

„..‟= menyatakan makna

→ = menyatakan menjadi

+ = menyatakan hentian sebentar bagi perkataan

(20)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa dan manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan satu sama lain. Hal ini disebabkan dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak mungkin terlepas dari bahasa sebagai alat komunikasi. Tanpa bahasa manusia akan sulit untuk melakukan komunikasi dan berinteraksi dengan yang lainnya. Seiring dengan berjalannya waktu, bahasa mengalami perkembangan mengikuti perkembangan masyarakat penuturnya.

Di Indonesia terdapat banyak bahasa daerah yang menjadi persaingan terhadap bahasa tertentu yang membuat masyarakat menggunakan dua bahasa(bilingual) atau lebih dari dua bahasa (multilingual). Salah satu bahasa yang digunakan oleh penutur adalah bahasa Melayu Langkat di Secanggang yang merupakan bahasa daerah yang luas pemakaiannya dan masih menjadi bahasa yang digunakan sehari hari oleh masyarakat yang ada di Langkat, khususnya Desa Secanggang.

Kedudukan bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang tidak berbeda dengan bahasa yang lain, yaitu berkedudukan sebagai bahasa daerah yang masih berkembang dan masih digunakan oleh penuturnya sebagai bahasa pengantar dakam berkomunikasi.

Bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang umumnya digunakan masyarakat sebagai alat berkomunikasi pada acara resmi maupun tidak resmi.

(21)

Penggunaan bahasa tersebut digunakan dalam masyarakat sekitar, baik dalam adat istiadat maupun budaya setempat.

Secanggang merupakan salah satu Desa yang ada di kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Secanggang salah satu daerah yang masyarakatnya memiliki suku dominan Melayu. Masyarakatnya juga masih bertutur dalam bahasa Melayu dalam kehidupan sehari-hari.

Secanggang adalah Desa yang terletak di Selatan pesisir pantai Sumatera Utara, tepatnya berada di wilayah Kecamatan Secanggang. Penduduknya kebanyakan bekerja sebagai nelayan dan petani.

Dalam penelitian ini, peneliti ingin bepartisipasi dalam upaya pengembangan bahasa dengan cara melakukan suatu penelitian terhadap bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang. Peneliti tertarik untuk meneliti bahasa Melayu dalam bidang Morfologi khususnya pada aspek-aspek yang akan diteliti seperti afiksasi.

Afiksasi merupakan bagian dari morfologi yaitu dalam bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasinya. Afiksasi atau pengimbuhan merupakan proses pembentukan kata dengan membubuhkan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar tunggal ataupun kompleks yang saling berhubungan.

Dalam pembentukan kata dengan proses afiksasi, afikslah yang menjadi dasar untuk membentuk kata. Afiks adalah bentuk linguistik yang pada suatu kata merupakan unsur langsung dan bukan kata atau pokok kata, yang memiliki

(22)

kemampuan melekat pada bentuk-bentuk lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru. ( Ramlan 1983:48)

Setiap afiks adalah bentuk terikat. Artinya, dalam tuturan biasa tidak dapat berdiri sendiri dan secara gramatik selalu melekat pada satuan lain. Misalnya, bentuk di- pada kata dipakai, maka di- adalah afiks. Akan tetapi bentuk di- pada rangkaian kata di rumah, di sekolah, dan di desa tidak tergolong afiks karena bentuk tersebut secara gramatik mempunyai sifat bebas. Hal tersebut juga terjadi pada bentuk ke dan dari pada kata ke sekolah, ke rumah dan ke kebun. Bentuk di, ke dan dari tersebut sudah tergolong kata, yaitu kata depan. Walaupun demikian, ada juga bentuk ke yang tergolong ke dalam afiks. Bentuk tersebut terdapat pada kata kedua, kehendak, dan ketua. ( Ramlan 1983:49)

Afiks dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok. Jenisnya adalah prefiks (awalan), yaitu afiks yang diletakkan di depan bentuk dasar. Contohnya meN-, ber-, ter-, pe-, per-, se-. Infiks (sisipan) yaitu afiks yang diletakkan di dalam bentuk dasar. Contohnya –el-, -er-, -em-, dan –in-. Sufiks (akhiran) yaitu afiks yang diletakkan di belakang bentuk dasar. Contohnya –an, -kan, -i. Konfiks yaitu afiks yang terdiri atas dua unsur, yaitu di depan dan di belakang bentuk dasar. Konfiks berfungsi sebagai satu morfem terbagi. Konfiks harus dibedakan dengan kombinasi afiks (imbuhan gabung). Konfiks adalah satu morfem dengan satu makna gramatikal, sedangkan imbuhan gabung adalah gabungan dari beberapa morfem.

(23)

Proses pembentukan kata dengan membubuhkan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks. Seperti pembubuhan afiks meN- pada bentuk kata dasar jual menjadi menjual, benci menjadi membenci, tari menjadi menari, peluk menjadi memeluk. Pembubuhan afiks ber- pada bentuk dasar main menjadi bermain, sekolah menjadi bersekolah, kerja menjadi bekerja. ( Ramlan 1983:47)

Proses pembentukan kata melalui afiks pada umunya sangat berpotensi mengubah makna dan bentuk kata dasar. Misalnya dapat dilihat pada kata makan, cuci, kerja, dan sebagainya. Jika kata-kata tersebut mendapat imbuhan afiks menjadi memakan, pemakan, dimakan, termakan, dan sebagainya, tidak berbeda dengan kata cuci dan kerja.

Selain bentuk kata yang berubah juga mengakibatkan makna kata tersebut juga berubah. Jadi, proses pembubuhan afiks sangat penting dan memerlukan ketelitian karena jika salah, maka bentuk dan maknanya menjadi sulit untuk dipahami oleh pembaca atau pendengar.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Apa saja jenis-jenis afiks dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang?

2. Bagaimana proses pembubuhan afiks dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang?

(24)

1.3 Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis afiksasi dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

2. Untuk mengetahui bagaimana proses pembubuhan afiksasi dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini diharapkan akan bermanfaat baik secara praktis maupun teoritis. Adapun manfaat tersebut sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Praktis

1. Melalui penelitian ini penulis dapat mengetahui apa saja jenis-jenis afiks dan bagaimana proses pembubuhan afiks pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

2. Melalui penelitian ini dapat memperluas kajian tentang afiksasi dalam kajian Morfologi.

3. Melalui penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan dalam proses afiksasi bagi pembaca.

1.4.2 Manfaat Teoritis

1. Melalui penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan dalam penelitian tentang proses afiksasi pada bahasa Melayu.

2. Dapat menambah wawasan mengenai proses afiksasi pada bahasa Melayu

(25)

3. Dapat mengetahui dan membantu masyarakat lebih dalam tentang proses afiksasi.

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepustakaan yang Relevan

Dalam bab ini terdapat beberapa pendapat yang berkaitan dengan kajian tentang afiksasi yang memberikan pandangan dan wawasan penelitian dari kajian terdahulu yang mengkaji tentang afiksasi yaitu: (1) Zakiya (2010), dalam skripsi yang berjudul Afiksasi Verba Bahasa Melayu Jambi Dialek Bungo di Rantau Embacang, (2) Prayogo (2015), dalam skripsi yang berjudul Morfologi Bahasa Melayu Tamiang, (3) Alawiyah (2019), dalam skripsi yang berjudul Derivasi dan Infleksi Afiks Dalam Bahasa Melayu Dialek Hamparan Perak.

Zakiya (2010), dalam skripsi yang berjudul Afiksasi Verba Bahasa Melayu Jambi Dialek Bungo di Rantau Embacang, menyimpulkan bahwa afiksasi Bahasa Melayu Jambi desa Rantau Embacang dapat dibedakan atas tiga bentuk yaitu prefiks, sufiks, konfiks dan proses yang digunakan untuk menganalisis data yaitu metode kajian dengan menggunakan teknik top down

Prayogo (2015), dalam skripsi yang berjudul Morfologi Bahasa Melayu Tamiang, menyimpulkan bahwa tujuan dari penulisan skripsi ini untuk dapat mengetahui bagaimana proses morfologi pada bahasa Melayu Tamiang. Proses morfologi pada bahasa Melayu Tamiang adalah afiksasi, reduplikasi dan

komposisi.

Alawiyah (2019), dalam skripsi yang berjudul Derivasi dan Infleksi Afiks Dalam Bahasa Melayu Dialek Hamparan Perak, menyimpulkan bahwa penelitian

(27)

ini bertujuan untuk mengetahui bentuk derivasi yang terdapat dalam bahasa Melayu dialek Hamparan Perak, serta bentuk infleksi yang terdapat dalam bahasa Melayu dialek Hamparan Perak.

Walaupun peneliti di atas meneliti tentang afiksasi sama seperti peneliti, tetapi peneliti memilih judul yang berbeda, yaitu “Afiksasi bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang”.

2.2 Teori yang Digunakan

Kondisi sosial kebahasaan tentang bentuk kata pada masyarakat dapat dikaji dengan menggunakan pendekatan ilmu linguistik yaitu ilmu morfologi, dalam kajiannya morfologi yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata sehingga pada penelitian ini dengan judul yang telah diangkat yaitu Afiksasi bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang, maka akan menggunakan teori Ramlan (1983) untuk memecahkan masalah.

2.2.1 Morfologi

Menurut Ramlan (1983:17) morfologi adalah ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan morfologi mempelajari seluk beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.

Soal-soal yang berhubungan dengan bentuk kata yang menjadi obyek daripada suatu ilmu yang lazim disebut morfologi. Misalnya kata perumahan

(28)

terdiri dari dua morfem, yaitu morfem per-an sebagai afiks dan morfem rumah sebagai bentuk dasar. Kata rumah-rumahan terdiri dari tiga morfem, yaitu rumah sebagai bentuk dasar, diikuti morfem rumah sebagai morfem ulang dan morfem – an sebagai afiks. Kata menjalani terdiri dari tiga morfem, yaitu morfem meN- sebagai afiks, morfem jalan sebagai bentuk asal, dan morfem –i sebagai afiks.

Perubahan-perubahan bentuk kata menyebabkan adanya perubahan golongan dan arti kata. Golongan kata sepeda tidak sama dengan golongan bersepeda. Kata sepeda termasuk golongan kata nominal, sedangkan kata bersepeda termasuk golongan kata verbal. Demikian pula golongan kata rumah dan jalan, misalnya dalam kalimat Rumah itu disewakan dan Jalan itu sangat licin berbeda dengan golongan kata berumah dan berjalan. Kata rumah dan jalan termasuk golongan kata nominal, sedangkan kata berumah dan berjalan termasuk golongan kata verbal.

Perbedaan golongan dan arti kata-kata tersebut tidak lain disebabkan oleh perubahan bentuk kata. Karena itu, maka morfologi disamping bidangnya yang utama menyelidiki seluk beluk bentuk kata, juga menyelidiki kemungkinan adanya perubahan golongan dan arti kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk kata.

2.2.2 Afiks dan Afiksasi

Menurut Ramlan (1983:48) afiks ialah suatu satuan gramatikal terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru.

(29)

Menurut Ramlan (1983:47) afiksasi ialah pembubuhan afiks pada suatu satuan (bentuk), baik tunggal maupun kompleks untuk membentuk kata. Misalnya kata minuman. Kata ini terdiri dari dua unsur, ialah minum yang merupakan kata – an yang merupakan satuan terikat. Maka morfem –an diduga merupakan afiks.

Sebelum –an ditetapkan sebagai afiks, harus diteliti lebih jauh, apakah –an itu mampu melekat pada satuan- Dari kata-kata satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru. makanan, timbangan, pikiran, satuan, gambaran, buatan, bungkusan, masukan, dan sebagainya. Dapatlah ditentukan bahwa –an mempunyai kemampuan melekat pada satu-satuan lain, dan dengan demikian, -an dapat ditentukan sebagai afiks.

Setiap afiks tentu berupa satuan terikat, artinya dalam tuturan biasa tidak dapat berdiri sendiri dan secara gramatik selalu melekat pada satuan lain. Morfem di- seperti di rumah, di pekarangan, di ruang , tidak dapat digolongkan afiks sebab sebenarnya morfem itu secara gramatik mempunyai sifat bebeas, tidak seperti halnya morfem di- dalam dipukul, dibaca, dibeli, dikelola, diadakan.

Demikian pula morfem ke dalam ke rumah, ke toko, ke kota,ke desa, tidak merupakan afiks karena sekalipun dalam tuturan biasatidak dapat berdiri sendiri, tetapi secara gramatik mempunyai sifat bebas, tidak seperti halnya morfem ke- dalam ketua, kedua, kehendak, kekasih.

2.2.3 Jenis-Jenis Afiks

Jenis-jenis afiks menurut Ramlan (1983) yaitu:

1. Prefiks (Awalan)

(30)

Proses pembentukan kata dengan menambahkan afiks atau imbuhan di depan bentuk dasarnya atau pembentukan kata-kata yang dilakukan dengan membubuhkan atau menambahkan afiks di depan bentuk dasarnya.

Misalnya ber-, ter-, per-, pe-, se-, ke-, meN- dan peN-.

Contoh: ber- + jalan → berjalan ter- + bawa → terbawa 2. Infiks (Sisipan)

Proses pembentukan kata dengan menambahkan afiks atau imbuhan di tengah bentuk dasarnya. Misalnya –el-, -em- dan –er-

Contoh: tunjuk + /-el-/ → telunjuk getar + /-em- → gemetar 3. Sufiks ( Akhiran)

Proses pembentukan kata yang dilakukan dengan cara menambahkan afiks di akhir bentuk dasarnya. Misalnya –kan, -an, -i dan –nya.

Contoh: besar + /-kan/ → besarkan minum + /-an/ → minuman 4. Konfiks

Konfiks ialah afiks gabungan yang terbentuk prefiks (awalan) dan sufiks (akhiran) yang pemakainya sekaligus ditempatkan antara kata dasar.

Misalnya ke-an, per-an, peN-an, ber-an dan se-nya.

Contoh: /ke-/ + baik + /-an/ → kebaikan /per-/ + minta + /-an/ → permintaan

(31)

2.2.4 Proses Pembubuhan Afiks

Menurut Ramlan (1983:47) proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada sesuatu satuan kata, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks untuk membentuk kata. Misalnya pembubuhan afiks ber- pada jalan menjadi berjalan, pada sepeda menjadi bersepeda. Pembubuhan afiks meN- pada tulis menjadi menulis, pada kenai menjadi mengenai.

Satuan yang dilekati afiks atau yang menjadi dasar pembentukan bagi satuan yang lebih besar itu disebut bentuk dasar. Bentuk dasar kata berjalan ialah jalan, bentuk dasar kata bersusah payah ialah susah payah, bentuk dasar berperikemanusiaan ialah perikemanusiaan. Dalam proses pembubuhan afiks, bentuk dasar merupakan salah satu unsur yang bukan afiks.

Proses morfologi mempunyai fungsi gramatik yaitu fungsi yang berhubungan dengan ketatabahasaan. Di samping itu, proses morfologi juga mempunyai fungsi semantik. Misalnya kata sepeda. Kata ini telah memiliki arti leksikal seperti dijelaskan dalam kamus, akibatnya melekatnya afiks ber- pada kata itu, maka berubahlah arti leksikalnya menjadi „mempunyai atau menggunakan sepeda‟. Maka dapat dikatakan bahwa afiks ber- mempunyai fungsi semantik menyatakan makna „mempunyai atau menggunakan‟.

Penulis akan mengambil contoh kata lateh „latih‟ pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

me- + lateh melateh „melatih‟

di- + lateh dilateh „dilatih‟

(32)

lateh + /-an/ latehan „latihan‟

lateh + /-ke/ latehke „latihkan‟

pe- + lateh + /-an/ pelatehan „pelatihan‟

Dari pernyataan di atas bahwa melekatnya afiks pada kata dapat menimbulkan perubahan kelas kata, bentuk, serta arti yang dilambangkannya.

Bentuk adalah satuan-satuan yang mengandung arti, baik arti leksis dan gramatis.

misalnya bentuk kata melatih ialah latih. Distribusi adalah kesanggupan afiks melekat pada kelas kata/ kata dasar. Misalnya pada kelas kata kerja melatih kata dasarnya adalah latih . Fungsi adalah kesanggupan afiks merubah kelas kata.

Misalnya pada kata dilatih ialah latih terdapat fungsi kata kerja pasif. Sedangkan nosi adalah arti baru yang ditimbulkan oleh proses afiksasi dan maknanya (setelah melekat pada afiks kata dasar). Misalnya pada kata melatih menyatakan makna

„suatu perbuatan aktif yang dilakukan oleh pelaku yang menduduki fungsi subyek

(33)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan karena penelitian ini berawal pada data dan bermuara pada kesimpulan. Data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diteliti. (Moeliono,2007:6). Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat menggambarkan, melukiskan, atau memaparkan secara sistematis, akurat, dan faktual mengenai data, sifat serta berhubungan dengan fonem yang diteliti.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Langkat dengan memilih satu desa yang ada di Kabupaten Langkat yaitu Desa Secanggang untuk kemudian akan dilakukan berupa observasi yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses afiksasi bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

3.3 Jenis Data dan Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah kualitatif yang berupa kata-kata atau kalimat yang selebihnya adalah data tambahan dari dokumen dan lain-lain.

Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer yang dikumpulkan langsung oleh peneliti melalui sumbernya dengan melakuan penelitian ke objek yang diteliti. (Umar, 2003:56)

(34)

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa buku catatan, alat tulis serta alat rekam yang digunakan untuk merekam data dari informan.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut.

A. Observasi

Metode observasi merupakan jenis penelitian dengan mengumpulkan data yang diperoleh berdasarkan pengamatan langsung yang dilakukan dilapangan.

B. Simak

Teknik simak/penyimakan karena memang dalam pengambilan data, peneliti melakukan penyimakan, dilakukan dengan menyimak, yaitu menyimak penggunaan bahasa. (Sudaryanto, 2015:203). Metode simak memiliki teknik-teknik yang dapat digunakan dalam penerapannya, yaitu teknik catat. Peneliti mencatat kalimat yang mengandung afiksasi yang terdapat dalam percakapan dengan informan. Jadi dalam penelitian ini menggunakan metode simak dan teknik catat.

C. Wawancara

Metode penelitian ini memakai metode lapangan, maka peneliti juga menerapkan metode wawancara yaitu cara mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada informan. Teknik yang dipergunakan adalah teknik rekam dan catat. Teknik rekam dengan

(35)

merekam seluruh pembicaraan dan teknik catat dengan mencatat semua keterangan yang diperoleh dari informan.

3.6 Metode Analisis Data

Setelah data dikumpulkan, maka diadakan analisis data untuk memecahkan permasalahan. Metode analisis data yang digunakan merupakan kualitatif maka peneliti bersikap netral sehingga tidak mempengaruhi data.

Metode analisis data merupakan suatu langkah kritis dalam penelitian, karena tahap dalam menyelesaikan masalah adalah dengan menganalisis data. Untuk menganalisis data dilakukan prosedur sebagai berikut: (1) data yang diperoleh akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, (2) setelah diterjemahkan kemudian diklasifikasikan sesuai dengan objek pengkajian, (3) setelah diklasifikasikan, data dianalisis sesuai dengan kajian yang telah ditetapkan yaitu afiksasi.

(36)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Jenis-jenis Afiks Bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang

Adapun jenis- jenis afiks (imbuhan) pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yang didapat dari penelitian ini terdiri atas prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), dan konfiks (awalan dan akhiran).

4.1.1 Prefiks (awalan)

Prefiks adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan afiks atau imbuhan di depan bentuk dasarnya atau pembentukan kata-kata yang dilakukan dengan membubuhkan atau menambahkan afiks di depan bentuk dasarnya.

Adapun prefiks yang dijumpai dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdiri atas tujuh prefiks yaitu: Prefiks beR- , teR- , peR- , se- , ke- , meN- dan Prefiks peN-.

A. Prefiks beR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: beR- + jumpə → beRjumpə „berjumpa‟

B. Prefiks teR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: teR- + bangon → teRbangon „terbangun‟

C. Prefiks peR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: peR- + halos → peRhalos „perhalus‟

(37)

D. Prefiks se- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: se- + duniə → seduniə „sedunia‟

E. Prefiks ke- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: ke- + tuə → ketuə „ketua‟

F. Prefiks meN- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdapat variasi bentuknya yaitu: me-, m-, n-, ny- dan ng-.

a) Variasi bentuk me- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Conntoh: me- + lateh → melateh „melatih‟

b) Variasi bentuk m- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: m- + bungkos → mbungkos „membungkus‟

c) Variasi bentuk n- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: n- + dayong → ndayong „mendayung „

d) Variasi bentuk ny- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: ny- + səmpit → nyəmpit „menyempit‟

e) Variasi bentuk ng- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: ng- + gulong → nggulong „menggulung‟

G. Prefiks peN- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdapat variasi bentuknya yaitu: pe-, pen-, pem-, peng- dan peny.

a) Variasi bentuk pe- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

(38)

Contoh: pe- + lateh → pelateh „pelatih‟

b) Variasi bentuk pen- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: pe- + doRong → pendoRong „pendorong‟

c) Variasi bentuk pem- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: pem- +bawə → pembawə „pembawa‟

d) Variasi bentuk peng- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang

Contoh: peng- + ambek → pengambek „pengambil‟

e) Variasi bentuk peny- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: peny-+ sumpah → penyumpah „penyumpah‟

4.1.2 Infiks (sisipan)

Infiks adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan afiks atau imbuhan di tengah bentuk dasarnya. Adapun infiks yang dijumpai dan masih digunakan dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdiri atas tiga infiks yaitu: infiks –el-, –em- dan –er-.

A. Infiks –el- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang

Contoh: tunjok + /-el-/ → telunjok „telunjuk‟

B. Infiks –em- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: gətaR + /-el-/ → gemətaR „gemetar‟

(39)

C. Infiks –er- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: gigi + /-er-/ → geRigi „gerigi‟

4.1.3 Sufiks (akhiran)

Sufiks adalah proses pembentukan kata yang dilakukan dengan cara menambahkan afiks di akhir bentuk dasarnya. Adapun sufiks yang dijumpai dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdiri atas tiga sufiks yaitu:

Sufiks –an ,–ke „dan –nye.

A. Sufiks –an pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: tules + /-an/ → tulesan „tulisan‟

B. Sufiks –ke pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: dudok + /-ke/ → dudokke „dudukkan‟

C. Sufiks –nye pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang

Contoh: luas + /-nye/ → luasnye „luasnya‟

4.1.4 Konfiks (awalan dan akhiran)

Konfiks ialah afiks gabungan yang terbentuk prefiks (awalan) dan sufiks (akhiran) yang pemakainya sekaligus ditempatkan antara kata dasar. Adapun konfiks yang dijumpai dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdiri atas lima konfiks yaitu: Konfiks be-an , di-i , di-ke , ke-an dan pe-an

A. Konfiks be-an pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: be- + gantong + -an → begantongan „bergantungan‟

(40)

B. Konfiks di-i pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: di- + minom + -i → diminomi „diminumi‟

C. Konfiks di-ke pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: di- + jalan + ke → dijalanke „dijalankan‟

D. Konfiks ke-an pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: ke- +baek + -an → kebaekan „kebaikan‟

E. Konfiks pe-an pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

Contoh: pe- + laRi + -an → pelaRian „pelarian‟

4.2 Proses Pembubuhan Afiks pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang

Proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada sesuatu satuan kata, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks untuk membentuk kata. Dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang didapati proses pembubuhan afiks. Berdasarkan hasil penelitian tentang afiksasi bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang, maka peneliti menemukan ada beberapa bentuk afiks yang terdapat pada bahasa Melayu Langkat.

Contoh:

me- + lateh melateh „melatih‟

di- + lateh dilateh „dilatih‟

lateh + /-an/ latehan „latihan‟

(41)

lateh + /-ke/ latehke „latihkan‟

pe- + lateh + /-an/ pelatehan „pelatihan‟

Dari pernyataan di atas bahwa melekatnya afiks pada kata dapat menimbulkan perubahan kelas kata, bentuk, serta arti yang dilambangkannya.

Bentuk adalah satuan-satuan yang mengandung arti, baik arti leksis dan gramatis.

misalnya bentuk kata melatih ialah latih. Distribusi adalah kesanggupan afiks melekat pada kelas kata/ kata dasar. Misalnya pada kelas kata kerja melatih kata dasarnya adalah latih . Fungsi adalah kesanggupan afiks merubah kelas kata.

Misalnya pada kata dilatih ialah latih terdapat fungsi kata kerja pasif. Sedangkan nosi adalah arti baru yang ditimbulkan oleh proses afiksasi dan maknanya (setelah melekat pada afiks kata dasar). Misalnya pada kata melatih menyatakan makna

„suatu perbuatan aktif yang dilakukan oleh pelaku yang menduduki fungsi subyek. Berikut ini penulis akan memaparkan analisis proses pembubuhan afiks pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

4.2.1 Prefiks (awalan)

Proses pembentukan kata dengan menambahkan afiks atau imbuhan di depan bentuk dasarnya atau pembentukan kata-kata yang dilakukan dengan membubuhkan atau menambahkan afiks di depan bentuk dasarnya.

Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan, prefiks yang dijumpai dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang terdiri atas beberapa prefiks yang terdapat pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang, yaitu beR-„ber-‟, teR-

(42)

„ter‟, peR-„per‟, se-„se‟, ke-„ke‟, meN-, peN-. Berikut ini akan dipaparkan satu persatu prefiks pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

4.2.1.1 Prefiks beR-

Di bawah ini akan dipaparkan bentuk, distribusi, fungsi dan nosi prefiks beR- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

A. Bentuk

Prefiks beR- „ber-‟ pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang menggunakan pelafalan huruf “R” yang tidak jelas yang merupakan sejenis bunyi konsonan. Prefiks beR- tidak mengalami perubahan ketika bertemu dengan fonem pada bentuk kata dasar. Prefiks ini dapat melekat pada kata dasar yang diawali dengan fonem konsonan maupun fonem vokal.

Contoh:

beR- + təmu „temu‟ → beRtəmu „bertemu‟

beR- + sandaR „sandar‟ → beRsandaR „bersandar‟

beR- + juwang „juang‟ → beRjuwang „berjuang‟

beR- + suə „sua‟ → beRsuə „bersua‟

beR- + jumpə „jumpa → beRjumpə „berjumpa‟

beR- + kəlai „kelahi‟ → beRkəlai „berkelahi‟

beR- + aleh „alih‟ → beRaleh „beralih‟

beR- + maknə „makna‟ → beRmaknə „bermakna‟

(43)

beR- + laRi „lari‟ → beRlaRi „berlari‟

beR- + lateh „latih‟ → beRlateh „berlatih‟

beR- + daon „daun‟ → beRdaon „berdaun‟

beR- + bunge „bunga‟ → beRbunge „berbunga‟

B. Distribusi

Prefiks beR- pada bahasa melayu Langkat di Desa Secanggang mampu berdistribusi dengan:

1. Kelas kata sifat (adjektiva)

Contoh:

beR- + gembiRə „gembira‟ → beRgembiRə „bergembira‟

beR- + padu „padu‟ → beRpadu „berpadu‟

beR- + sedeh „sedih‟ → beRsedeh „bersedih‟

beR- + bahagiə „bahagia‟ → beRbahagiə „berbahagia‟

2. Kelas kata bilangan (numerelia)

Contoh:

beR- + duə „dua‟ → beRduə„berdua‟

beR- + tigə „tiga‟ → beRtige „bertiga‟

beR- + empat „empat → beRempat „berempat‟

(44)

beR- + limə „lima‟ → beRlimə „berlima‟

3. Kelas kata benda (nomina)

Contoh:

beR- + sepedə „sepeda‟ → beRsepedə „bersepeda‟

beR- + topi „topi‟ → beRtopi „bertopi‟

beR- + wibawə „wibawa‟ → beRwibawə „berwibawa‟

beR- + anggotə „anggota‟ → beRanggotə „beranggota‟

beR- + alasan „alasan‟ → beRalasan „beralasan‟

beR- + kebon „kebun‟ → beRkebon „berkebun‟

Berdasarkan contoh di atas, prefiks beR- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat berdistribusi dengan kelas kata adjektiva, numerelia dan nomina.

C. Fungsi

Kesanggupan prefiks beR- merubah kelas kata dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yaitu:

Contoh: beR- + topi (N) = beRtopi (V)

beR- + bungə (N) = beRbungə (Adj)

beR- + tigə (Num) = beRtigə (Adv)

(45)

Berdasarkan contoh di atas, dapat dilihat prefiks beR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat merubah kelas kata dasar menjadi kelas kata nomina menjadi verba, kelas kata nomina menjadi adjektiva dan numerelia menjadi adverbia.

D. Nosi

Prefiks beR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang memiliki nosi sebagai berikut:

1. Apabila bentuk dasarnya pokok kata afiks beR- menyatakan suatu perbuatan yang aktif ialah perbuatan yang dilakukan oleh pelaku yang menduduki fungsi subyek.

Contoh:

beR- + sandaR „sandar‟ → beRsandaR „bersandar‟

beR- + aleh „alih‟ → beRaleh „beralih‟

2. Apabila bentuk dasarnya kata sifat afiks beR- menyatakan makna dalam keadaan.

Contoh:

beR- + gəmbiRə „gembira‟ → beRgəmbiRə „bergembira‟

beR- + sədeh „sedih‟ → beRsədeh „bersedih‟

3. Apabila bentuk dasarnya kata bilangan afiks beR- menyatakan makna kumpulan yang terdiri jumlah yang tersebut pada bentuk dasar.

(46)

Contoh:

beR- + duə „dua‟ → beRduə „berdua‟

beR- + tigə „tiga‟ → beRtigə „bertiga‟

4.2.1.2 Prefiks teR-

Di bawah ini akan dipaparkan bentuk, distribusi, fungsi dan nosi prefiks teR- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

A. Bentuk

Prefiks teR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang menggunakan pelafalan huruf “R” yang tidak jelas yang merupakan sejenis bunyi konsonan. Prefiks teR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang tidak mengalami perubahan saat bertemu dengan fonem pada kata dasar. Prefiks teR- mempunyai fungsi membentuk kata kerja pasif. Prefiks ini dapat melekat pada kata dasar yang diawali dengan fonem konsonan maupun fonem vokal.

Contoh:

teR- + bangon „bangun‟ → teRbangon „terbangun‟

teR- + utamə „utama‟ → teRutamə „terutama‟

teR- + baek „baik‟ → teRbaek „terbaik‟

teR- + kəcik „kecil‟ → teRkəcik „terkecil‟

teR- + jəpet „jepit‟ → teRjəpet „terjepit‟

teR- + sentoh „sentuh‟ → teRsentoh „tersentuh‟

(47)

teR- + ocap „ucap‟ → teRocap „terucap‟

teR- + laRot „larut‟ → teRlaRot „terlarut‟

teR- + cabot „cabut‟ → teRcabot „tercabut‟

teR- + didek „didik‟ → teRdidek „terdidik‟

teR- + tules „tulis‟ → teRtules „tertulis‟

B. Distribusi

Prefiks teR- pada bahasa melayu Langkat di Desa Secanggang mampu berdistribusi dengan:

1. Kelas kata kerja (verba)

Contoh:

teR- + bawə „bawa → teRbawə „terbawa‟

teR- + dəɳaR „dengar‟ → teRdəɳaR „terdengar‟

teR- + suson „susun‟ → teRsuson „tersusun‟

teR- + doRoɳ „dorong‟ → teRdoRoɳ „terdorong‟

2. Kelas kata sifat (adjektiva)

Contoh:

teR- + kəcik „kecil‟ → teRkəcik „terkecil‟

teR- + ləbaR „lebar‟ → teRləbaR „terlebar‟

(48)

teR- + bəsaR „besar‟ → teRbəsaR „terbesar‟

teR- + halos „halus‟ → teRhalos „terhalus‟

Berdasarkan contoh di atas, prefiks teR- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat berdistribusi dengan kelas kata verba dan adjektiva.

C. Fungsi

Kesanggupan prefiks teR- merubah kelas kata dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yaitu:

Contoh: teR- + jatoh (adj) = teRjatoh (V)

teR- + bəsaR (adj) = teRbəsaR (Adj)

Berdasarkan contoh di atas, diketahui prefiks teR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat merubah kelas kata dasar yaitu kata adjektiva menjadi verba.

D. Nosi

Prefiks teR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang memiliki nosi sebagai berikut:

1. Afiks teR- menyatakan makna ketidaksengajaan.

Contoh:

teR- + siRam „siram‟ → teRsiRam „tersiram‟

teR- + coRet „coret‟ → teRcoRet „tercoret‟

2. Afiks teR- menyatakan ketiba-tibaan.

(49)

Contoh:

teR- + bangon „bangun‟ → teRbangon „terbangun‟

teR- + jatoh „jatuh‟ → teRjatoh „terjatuh‟

3. Apabila bentuk dasarnya berupa kata sifat afiks teR- menyatakan makna paling.

Contoh:

teR- + tinggi „tinggi‟ → teRtinggi „tertinggi‟

teR- + pandai „pandai‟ → teRpandai „terpandai‟

4.2.1.3 Prefiks peR-

Di bawah ini akan dipaparkan bentuk, distribusi, fungsi dan nosi prefiks peR- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

A. Bentuk

Prefiks peR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang menggunakan pelafalan huruf “R” yang tidak jelas yang merupakan sejenis bunyi konsonan. Prefiks peR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang tidak mengalami perubahan saat bertemu dengan fonem pada kata dasar. Prefiks ini dapat melekat pada kata dasar yang diawali dengan fonem konsonan maupun fonem vokal.

Contoh:

peR- + bəsaR „besar‟ → peRbəsaR „perbesar‟

(50)

peR- + halos „halus‟ → peRhalos „perhalus‟

peR- + cantek „cantik‟ → peRcantek „percantik‟

peR- + Rasə „rasa‟ → peRasə „perasa‟

peR- + waRnə „warna‟ → peRwaRnə „perwarna‟

peR- + əmpat „empat‟ → peRəmpat „perempat‟

peR- + tigə „tiga‟ → peRtigə „pertiga‟

B. Distribusi

Prefiks peR- pada bahasa melayu Langkat di Desa Secanggang mampu berdistribusi dengan:

1. Kelas kata benda (nomina)

Contoh:

peR- + istəRi „isteri‟ → peRistəRi „peristeri‟

peR- + kudə „kuda‟ → peRkudə „perkuda‟

peR- + budak „budak‟ → peRbudak „perbudak‟

2. Kelas kata sifat (adjektiva)

Contoh:

peR- + bəsaR „besar‟ → peRbəsaR „perbesar‟

peR- + luas „luas‟ → peRluas „perluas‟

(51)

peR- + kəcik „kecil‟ → peRkəcik „perkecil‟

3. Kelas kata bilangan (numerelia)

Contoh:

peR- + duə „dua‟ → peRduə„ perdua‟

peR- + tigə „tiga‟ → peRtigə „pertiga‟

peR- + əmpat „empat‟ → peRəmpat „perempat‟

peR- + limə „lima‟ → peRlimə „perlima‟

Berdasarkan contoh di atas, prefiks peR- dala bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat berdistribusi dengan kelas kata nomina, adjektiva dan numerelia.

C. Fungsi

Kesanggupan prefiks peR- merubah kelas kata dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yaitu:

Contoh: peR- + isteri (N) = peRisteri (v)

peR- + bəsaR (adj) = peRbəsaR (Adj)

Berdasarkan contoh di atas, diketahui prefiks peR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat merubah kelas kata dasar yaitu kata nomina menjadi verba .

(52)

D. Nosi

Prefiks peR- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang memiliki nosi sebagai berikut:

1. Afiks peR- hanya mempunyai satu makna yaitu menyatakan kausatif.

Apabila bentuk dasarnya berupa kata sifat yaitu:

Contoh:

peR- + bəsaR „besar‟ → peRbəsaR „perbesar‟

peR- + cantek „cantik‟ → peRcantek „percantik‟

2. Afiks peR- hanya mempunyai satu makna yaitu menyatakan kausatif.

Apabila bentuk dasarnya berupa kata bilangan yaitu:

Contoh:

peR- + duə „dua‟ → peRduə „perdua‟

peR- + tigə „tiga‟ → peRtigə „pertiga‟

3. Afiks peR- hanya mempunyai satu makna yaitu menyatakan kausatif.

Apabila bentuk dasarnya berupa kata benda yaitu:

Contoh:

peR- + istəRi „isteri‟ → peRistəRi „peristeri‟

peR- + kudə „kuda‟ → peRkudə „perkuda‟

(53)

4.2.1.4 Prefiks se-

Di bawah ini akan dipaparkan bentuk, distribusi, fungsi dan nosi prefiks se- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

A. Bentuk

Prefiks se- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang tidak mengalami perubahan saat bertemu dengan fonem pada kata dasar. Prefiks ini dapat melekat pada kata dasar yang diawali dengan fonem konsonan maupun fonem vokal.

Contoh:

se- + Rumah „rumah‟ → seRumah „serumah‟

se- + duniə „dunia‟ → seduniə „sedunia‟

se- + haRi „hari‟ → sehaRi „sehari‟

se- + təlah „telah‟ → setəlah „setelah‟

se- + mulə „mula‟ → semulə „semula‟

se- + tibə „tiba‟ → setibə „setiba‟

B. Distribusi

Prefiks se- pada bahasa melayu Langkat di Desa Secanggang mampu berdistribusi dengan:

1. kata benda (nomina)

Contoh:

se- + duniə „dunia‟ → seduniə „sedunia‟

(54)

se- + haRi „hari‟ → sehaRi „sehari‟

se- + Rombongan „rombongan‟ → seRombongan „serombongan‟

se- + Rumah „rumah‟ → seRumah „serumah‟

2. kata sifat (adjektiva)

Contoh:

se- + tinggi „tinggi‟ → setinggi „setinggi‟

se- + luas „luas‟ → seluas „seluas‟

se- + baek „baik‟ → sebaek „sebaik‟

se- + cəRdas „cerdas‟ → secəRdas „secerdas‟

Berdasarkan contoh di atas, prefiks se- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat berdistribusi dengan kelas kata nomina dan adjektiva.

C. Fungsi

Kesanggupan prefiks se- merubah kelas kata dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yaitu:

Contoh: se- + duniə (N) = seduniə (Adv)

se- + jalan (n ) = sejalan (n) se- + indah (Adj) = seindah (Adv)

(55)

Berdasarkan contoh di atas dapat diketahui prefiks se- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat merubah kelas kata dasar kata nomina menjadi adverbia dan adjektiva menjadi adverbia.

D. Nosi

Prefiks se- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang memiliki nosi sebagai berikut:

1. Afiks se- menyatakan makna satu.

Contoh: se- + kaRong „karung‟ sekaRong „sekarung‟

se- + haRi „ hari‟ → sehaRi „sehari‟

2. Afiks se- menyatakan makna seluruh.

Contoh:

se- + kampong „kampung → sekampong „sekampung‟

se- + Rumah „rumah‟ → seRumah „serumah‟

4.2.1.5 Prefiks ke-

Di bawah ini akan dipaparkan bentuk, distribusi, fungsi dan nosi prefiks ke- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

A. Bentuk

Prefiks ke- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang tidak mengalami perubahan saat bertemu dengan fonem pada kata dasar. Prefiks ini dapat melekat pada kata dasar yang diawali dengan fonem konsonan maupun fonem vokal.

(56)

Contoh:

ke- + duə „dua‟ → keduə „kedua‟

ke- + tigə „tiga‟ → ketigə „ketiga‟

ke- + tuə „tua‟ → ketuə „ketua‟

ke- + kaseh „kasih‟ → kekaseh „kekasih‟

ke- + həndak „hendak‟ → kehəndak „kehendak‟

B. Distribusi

Prefiks ke- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang mampu berdistribusi dengan:

1. Kelas kata benda (nomina)

Contoh:

ke- + həndak „hendak‟ → kehəndak „kehendak‟

ke- + tuə „tua‟ → ketuə „ketua‟

ke- + kaseh „kasih‟ → kekaseh „kekasih‟

2. Kelas kata bilangan (numerelia)

Contoh:

ke- + duə „dua‟ → keduə „kedua‟

ke- + tigə „tiga‟ → ketigə „ketiga‟

(57)

ke- + əmpat „empat‟ → keəmpat „keempat‟

ke- + limə „lima‟ → kelimə „kelima‟

ke- + tujoh „tujuh‟ → ketujoh „ketujuh‟

Berdasarkan contoh di atas, prefiks ke- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat berdistribusi dengan kelas kata nomina dan numerelia.

C. Fungsi

Kesanggupan prefiks ke- merubah kelas kata dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yaitu:

Contoh: ke- + kaseh (n) = kekaseh (n)

ke- + tujoh (num) = ketujoh (adv)

Berdasarkan contoh di atas, dapat diketahui prefiks ke- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat merubah kelas kata dasar dari kata numerelia menjadi adverbia.

D. Nosi

Prefiks ke- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang memiliki nosi sebagai berikut:

1. Afiks ke- menyatakan urutan.

Contoh:

(pegawai) kesatu kesatu „kesatu‟

(bagian) keduə keduə „kedua‟

(58)

4.2.1.6 Prefiks meN-

Prefiks meN- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang mengalami perubahan bentuk sesuai dengan morfem yang mengikutinya.

Terdapat variasi bentuk meN- dalam bahasa Melayu Langkat yaitu: me-, m-, n-, ny-, dan ng-. Di bawah ini akan dipaparkan bentuk, distribusi, fungsi dan nosi prefiks meN- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

A. Bentuk

1. Prefiks meN- berubah bentuk menjadi me- jika melekat pada kata dasar yang bermula fonem /l/, /m/, dan /R/ yaitu:

Contoh:

meN- + lateh „latih‟ → melateh „melatih‟

meN- + lihat „lihat‟ → melihat „melihat‟

meN- + lebaR „lebar‟ → melebaR „melebar‟

meN- + lempaR „lempar‟ → melempaR „melempar‟

meN- + minom „minum‟ → meminom „meminum‟

meN- + masak „masak‟ → memasak „memasak‟

meN-+ mintə „minta‟ → memintə „meminta‟

meN- + Rasə „rasa‟ → merasə „merasa‟

meN- + Rokok „rokok‟ → meRokok „merokok‟

(59)

meN- + Ratə „rata‟ → meratə „merata‟

meN- + Rəda „reda‟ → merəda „mereda‟

2. Prefiks meN- berubah bentuk menjadi m- jika melekat pada kata dasar yang bermula fonem /b/ dan /p/ yaitu:

Contoh:

meN- + bantu „bantu‟ → mbantu „membantu‟

meN- + banting „banting‟ → mbanting „membanting‟

meN- + bacə „baca‟ → mbacə „membaca‟

meN- + bəli „beli‟ → mbəli „membeli‟

meN- + bungkos „bungkus‟ → mbungkos „membungkus‟

meN- + pikeR „pikir‟ → mikeR „memikir‟

meN- + pahat „pahat‟ → mahat „memahat‟

meN- + pancaR „pancar‟ → mancaR „memancar‟

meN- + paRot „parut‟ → maRot „memarut‟

3. Prefiks meN- berubah bentuk menjadi n- jika melekat pada kata dasar yang bermula fonem /d/ dan /t/ yaitu:

Contoh:

meN- + dayong „dayung‟ → ndayong „mendayung‟

(60)

meN- + dengkoR „dengkur‟ → ndengkoR „mendengkur‟

meN- + datang „datang‟ → ndatang „mendatang‟

meN- + tanam „tanam‟ → nanam „menanam‟

meN- + tuRun „turun‟ → nuRun „menurun‟

meN- + təpi „tepi‟ → nəpi „menepi‟

meN- + tukaR „tukar‟ → nukaR „menukar‟

4. Prefiks meN- berubah bentuk menjadi ny- jika melekat pada kata dasar yang bermula fonem /s/ yaitu:

Contoh:

meN- + sambaR „sambar‟ → nyambaR „menyambar‟

meN- + səmpit „sempit‟ → nyəmpit „menyempit‟

meN- + səndiRi „sendiri‟ → nyəndiRi „menyendiri‟

meN- + satu „satu‟ → nyatu „menyatu‟

meN- + sampeng „samping‟ → nyampeng „menyamping‟

meN- + sangkal „sangkal‟ → nyangkal „menyangkal‟

meN- + sumpah „sumpah‟ → nyumpah „menyumpah‟

meN- + sundol „sundul‟ → nyundol „menyundul‟

5. Prefiks meN- berubah bentuk menjadi ng- jika melekat pada kata dasar yang bermula fonem /g/, /h/, dan /k/ yaitu:

Contoh:

(61)

meN- + gulong „gulung‟ → nggulong „menggulung‟

meN- + gunong „gunung‟ → nggunong „menggunung‟

meN- + ganjal „ganjal‟ → ngganjal „mengganjal‟

meN- + hapos „hapus → nghapos „menghapus‟

meN- + hadap „hadap‟ → nghadap „menghadap‟

meN- + hitong „hitung‟ → nghitong „menghitung‟

meN- + kəRoh „keruh‟ → ngəRoh „mengeruh‟

meN- + kəRas „keras‟ → ngəRas „mengeras‟

B. Distribusi

Prefiks meN- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang mampu berdistribusi dengan:

1. Kelas kata kerja (verba)

Contoh:

meN- + mintə „minta ‟ → memintə „meminta‟

meN- + minom „minum‟ → meminom „meminum‟

meN- + bacə „baca‟ → mbacə „membaca‟

meN- + bəli „beli‟ → mbəli „membeli‟

meN- + tanam „tanam‟ → nanam „menanam‟

(62)

2. Kelas kata benda (nomina)

Contoh:

meN- + Rokok „rokok‟ → meRokok „merokok‟

meN- + ekoR „ekor‟ → ngekoR „mengekor‟

meN- + duniə „dunia‟ → nduniə „mendunia‟

3. Kelas kata sifat (adjektiva)

Contoh:

meN- + lebaR „lebar‟ → melebaR „melebar‟

meN- + səmpit „sempit‟ → nyəmpit „menyempit‟

meN- + kəRas „keras‟ → ngəRas „mengeras‟

Berdasarkan contoh di atas, prefiks meN- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang dapat berdistribusi dengan kelas kata verba, nomina dan adjektiva.

C. Fungsi

Kesanggupan prefiks meN- merubah kelas kata dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang yaitu:

Contoh:

meN- + hapos (v) = meminom (v)

(63)

meN- + kəRas (adj) = ngeRas (v)

Berdasarkan contoh di atas, dapat diketahui prefiks meN- dapat membentuk kelas kata dari kata verba menjadi verba dan adjektiva menjadi verba.

D. Nosi

Prefiks meN- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang memiliki nosi sebagai berikut:

1. Apabila bentuk dasarnya kata sifat, afiks meN- menyatakan makna menjadi keadaan yang tersebut pada bentuk dasarnya bermakna proses:

Contoh:

meN- + ləbaR „lebar‟ → meləbaR „melebar‟

meN- + luas „luas‟ → meluas „meluas‟

2. Apabila bentuk dasarnya pokok kata , afiks meN- menyatakan makna suatu perbuatan yang aktif lagi transitif.

Contoh:

meN- + ambek „ambil‟ → ngambek „mengambil‟

meN- + tules „tulis‟ → nules „menulis‟

4.2.1.7 Prefiks peN-

Prefiks peN- pada bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang mengalami perubahan bentuk sesuai dengan morfem yang mengikutinya.

Terdapat variasi bentuk peN- dalam bahasa Melayu Langkat yaitu: pe-, pen-, pem-

(64)

, peng-, dan peny-. Di bawah ini akan dipaparkan bentuk, distribusi, fungsi dan nosi prefiks peN- dalam bahasa Melayu Langkat di Desa Secanggang.

A. Bentuk

1. Prefiks peN- berubah bentuk menjadi pe- jika melekat pada kata dasar yang bermula fonem /l/, /m/, dan /R/ yaitu:

Contoh:

peN- + lateh „latih‟ → pelateh „pelatih‟

peN- + lupə „lupa‟ → pelupə „pelupa‟

peN- + ləkat „lekat‟ → peləkat „pelekat‟

peN- + ləmbab „lembab‟ → peləmbab „pelembab‟

peN- + maRah „marah‟ → pemaRah „pemarah‟

peN- + mudik „mudik‟ → pemudik „pemudik‟

peN- + mintə „minta‟ → pemintə „peminta‟

peN- + manes „manis‟ → pemanes „pemanis‟

peN- + Ragə „raga‟ → peRagə „peraga‟

peN- + Rusak „rusak‟ → peRusak „perusak‟

peN- + Rapat „rapat‟ → peRapat „perapat‟

peN- + Rebos „rebus‟ → peRebos „perebus‟

Referensi

Dokumen terkait

nya, misalnya kata ‘sue ne’ (lamanya), sufiks -ne sama dengan sufiks -nya. Banyaknya variasi bahasa daerah di Indonesia membuat peneliti tertarik untuk mengkaji struktur

Penelitian ini berjudul Nilai-nilai Budaya Masyarakat Melayu Langkat- Secanggang Pada Tradisi Ahoi : Kajian Antropologi Sastra. Ahoi merupakan sebuah lagu yang

Pada tahap sekarang penelitian kata tugas bahasa Melayu Langkat perlu segera diadakan mengingat informasi ten tang hal ini, seperti sudah disebutkan diatas, boleh

Kesusastraan lisan atau disebut juga sastra tradisi masyarakat Melayu,.. khususnya yang berdomisili di Pesisir Timur-langkat juga dipertuturkan untuk

Latar belakang tersebut, penelitian bertujuan untuk menganalisis saluran tataniaga kepiting yang terjadi di Desa Pantai Gading, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, untuk

Penelitian ini berjudul Perkembangan Suku Banjar Di Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat (1989-2000).Pada penelitian ini penulis mengungkapkan mengenai

Penelitian Keanekaragaman Jenis dan Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Di Desa Selotong Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk Kata Bahasa Melayu Sub Dialek Desa Mensanak Kecamatan Senayang Kabupaten Lingga dan perubahan yang terjadi akibatBahasa