• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PROSES PEMERIKSAAN DAN

B. Proses Pemeriksaan

a. Persiapan persidangan adalah proses yang dilakukan oleh kepaniteraan atas Surat Banding atau Surat Gugatan yang diterima.

b. Sebelum persidangan dilaksanakan terdapat dokumen yang dilengkapi para pihak sebagai berikut:

1) Surat Uraian Banding/Surat Tanggapan yang dibuat oleh Terbanding/Tergugat.

Surat Uraian Banding/Surat Tanggapan paling lambat disampaikan ke Pengadilan Pajak dalam jangka waktu:

a) 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim permintaan Surat Uraian Banding; atau

b) 1 (satu) bulan sejak tanggal dikirim permintaan Surat Tanggapan.

2) Surat Bantahan yang dibuat oleh Pemohon Banding/

Penggugat disampaikan ke Pengadilan Pajak dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterima salinan Surat Uraian Banding/Surat Tanggapan.

3) Apabila Terbanding/Tergugat, atau Pemohon Banding/

Penggugat tidak melengkapi dokumen dalam batas waktu sebagaimana dimaksud di atas, Pengadilan Pajak tetap melanjutkan pemeriksaan.

2. Jenis Persidangan Pemeriksaan

Sebelumnya terlebih dahulu diuraikan hukum acara yang ada di Pengadilan Pajak. Ada dua hukum acara yang dikenal di Pengadilan Pajak, yakni acara biasa dan acara cepat.

PRA PERSIDANGAN

(6 Bulan untuk Banding; 3 bulan untuk Gugatan)

BagianASP

PermintaanSuratUraianBanding(SUB)

PermintaanSuratTanggapan(ST) Terbanding/Tergugat

SUB

ST

14hari 3bulan

1bulan BagianASP

BagianASPmengirimkansalinanSUB/STkePemohon

SuratBantahan(SB)dariPemohon

30hari PenetapanKetuaPengadilanPajakuntukpenunjukanMajelis

WakilKetuaI

RencanaAlokasiBerkas MajelisSambilmenunggupenetapan,SekretarisPenggan/PaniteraPenggan(SP/PP)melakukanperencanaan

SekretarisPengganSPmelakukanperencanaan:a.Penghitunganjatuhtempoberkasagardakmelampauiketentuanperundang-undangan;b.Penyusunanrencanasidang;c.Penyelesaiantugas-tugaskepaniteraanuntukberkas-berkassebelumnya. SekretarisPenggan

1.PenjadwalansidangdanmembuatRencanaUmumSidang(RUS);2.Penyiapanrisalahsengketa:a. Penelianpemenuhanketentuanformal;b. Analisispokoksengketaberdasarkandata-datayangdilampirkandanpenelianperaturanperundang-undanganyangberlaku;3.Pembuatansuratundangansidangdan/ataupanggilansidanguntukparapihak;4.Menyiapkanbahan-bahanuntukMajelis. PraPersidangan Tahapan Penanganan Sengketa Pajak (1)

Sumber:PemaparanKetuaPengadilanPajak

Hukum acara biasa di Pengadilan Pajak diatur dalam pasal 49, 50, dan 64 UU Pengadilan Pajak), yang apabila diringkas ada diperoleh hal-hal sebagai berikut:

 Pemeriksaan dilakukan oleh Majelis yang terdiri dari 3 (tiga) orang Hakim

 Majelis Hakim diketuai oleh Hakim Ketua yang tugasnya mengkoordinir jalannya persidangan.

 Pada saat sidang pertama dan seterusnya melalui Hakim Ketua, sidang dinyatakan terbuka untuk umum.

 Persidangan diawali dengan memanggil Terbanding/

Tergugat, dan dapat memanggil Pemohon Banding/

Penggugat.

 Apabila suatu sengketa tidak dapat diselesaikan pada 1 (satu) hari persidangan, pemeriksaan dilanjutkan pada hari persidangan berikutnya dengan diberitahukan kepada Terbanding/Tergugat dan dapat diberitahukan kepada Pemohon Banding/Penggugat.

 Persidangan dapat dilanjutkan tanpa dihadiri oleh Terbanding atau Tergugat

Sedangkan untuk hukum acara cepat diatur dalam pasal 65 dan 66 UU Pengadilan Pajak. Kedua ketentuan ini apabila disimpulkan akan diperoleh hal-hal sebagai berikut:

 Pemeriksaan dilakukan oleh Majelis atau Hakim Tunggal.

 Pemeriksaan tersebut dilakukan terhadap:

- Sengketa pajak tertentu

- Gugatan diputus dalam jangka waktu kurang dari 6 (enam) bulan sejak gugatan diterima di Pengadilan Pajak.

- Tidak dipenuhi salah satu ketentuan pasal 84 ayat (1) atau salah tulis atau hitung dalam putusan.

- Sengketa bukan wewenang/kompetensi absolut Pengadilan Pajak.

Untuk lebih lengkapnya proses kedua jenis pemeriksaan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Pemeriksaan dengan Acara Cepat dilakukan terhadap:

1) Sengketa Pajak tertentu, yaitu sengketa yang Banding atau Gugatannya tidak memenuhi ketentuan:

a) Surat Banding/Gugatan menggunakan Bahasa Indonesia diajukan kepada Pengadilan Pajak.

b) dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

c) 1 (satu) Surat Banding/Gugatan diajukan terhadap 1 (satu) Keputusan atau 1 (satu) pelaksanaan penagihan.

d) telah membayar 50% dari pajak yang terutang dalam hal banding diajukan terhadap besarnya jumlah pajak yang terutang.

e) diajukan oleh Wajib Pajak, ahli, warisnya, seorang pengurus, atau kuasa hukumnya.

2) Tidak dipenuhinya salah satu persyaratan Pasal 84 ayat (1) UU Pengadilan Pajak dalam Putusan Pengadilan Pajak, baik yang diketahui sendiri atau karena permohonan salah satu pihak sebelum melampaui jangka waktu 1 (satu) tahun

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 ayat (2) UU Pengadilan Pajak, yaitu:

a) kepala putusan yang berbunyi "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA".

b) nama, tempat tinggal atau tempat kediaman, dan/atau identitas lainnya dari Pemohon Banding atau Penggugat.

c) nama jabatan dan alamat Terbanding atau Tergugat.

d) hari, tanggal diterimanya Banding atau Gugatan.

e) ringkasan Banding atau Gugatan, dan ringkasan Surat Uraian Banding atau Surat Tanggapan, atau Surat Bantahan, yang jelas.

f) pertimbangan dan penilaian setiap bukti yang diajukan dan hal yang terjadi dalam persidangan selama sengketa itu diperiksa.

g) pokok sengketa.

h) alasan hukum yang menjadi dasar putusan.

i) amar putusan tentang sengketa; dan

j) hari, tanggal putusan, nama Hakim yang memutus, nama Panitera, dan keterangan tentang hadir atau tidak hadirnya para pihak.

3) Kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung, dalam putusan Pengadilan Pajak, termasuk putusan Pengadilan Pajak yang sedang diajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung.

4) Sengketa yang berdasarkan pertimbangan hukum bukan merupakan wewenang Pengadilan Pajak.

b. Pemeriksaan dengan acara cepat terhadap Sengketa Pajak tersebut dilakukan tanpa Surat Uraian Banding atau Surat Tanggapan dan tanpa Surat Bantahan.

c. Yang melakukan persidangan pemeriksaan adalah Majelis atau Hakim Tunggal yang ditunjuk melalui penetapan oleh Ketua Pengadilan Pajak dan sudah mulai bersidang dalam jangka waktu:

1) 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Banding.

2) 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterima Surat Gugatan.

3. Kehadiran Para Pihak

a. Majelis atau Hakim Tunggal yang ditunjuk menentukan hari sidang dan memberitahukan kepada pihak yang bersengketa.

b. Terbanding atau Tergugat wajib hadir dalam persidangan, sedangkan Pemohon Banding atau Penggugat apabila ingin menghadiri persidangan memberitahukan kepada Majelis atau Hakim Tunggal;

c. Apabila Majelis memandang perlu agar Pemohon Banding atau Penggugat memberikan keterangan yang diperlukan maka Hakim Ketua dapat meminta Pemohon Banding atau Penggugat untuk hadir dalam persidangan.

d. Terbanding atau Tergugat dan Pemohon Banding atau Penggugat yang dipanggil oleh Hakim Ketua wajib hadir dalam persidangan.

d. Apabila Majelis memandang perlu dan dalam hal Pemohon Banding atau Penggugat hadir dalampersidangan, Hakim Ketua dapat meminta Pemohon Banding atau Penggugat untuk memberikan keterangan yang diperlukan dalam penyelesaian Sengketa Pajak.

f. Dalam hal Terbanding atau Tergugat tidak hadir pada persidangan tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, sekalipun ia telah diberi tahu secara patut, persidangan dapat dilanjutkantanpa dihadiri oleh Terbanding atau Tergugat.

Catatan :

 Para Pihak adalah Pemohon Banding/Penggugat dan Terbanding/Tergugat yang beracara di Pengadilan Pajak.

 Pemohon Banding adalah Wajib Pajak atau Penanggung Pajak yang mencari keadilan terhadap sengketa pajak dengan mengajukan banding ke Pengadilan Pajak.

 Penggugat adalah Wajib Pajak atau Penanggung Pajak yang mencari keadilan terhadap sengketa pajak dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Pajak.

 Terbanding atau Tergugat adalah Direktur Jenderal Pajak, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Gubernur, dan Bupati/Walikota.

4. Proses/Prosedur Pemeriksaan

a. Untuk keperluan pemeriksaan, Hakim Ketua membuka sidang dan menyatakan sidang terbuka untuk umum.

b. Setelah sidang pemeriksaan selesai dilaksanakan, Hakim Ketua menyatakan sidang ditutup.

c. Sebelum pemeriksaan pokok sengketa dimulai, Majelis melakukan pemeriksaan mengenai kelengkapan dan/atau kejelasan Banding atau Gugatan.

d. Apabila Banding atau Gugatan tidak lengkap dan/atau tidak jelas sepanjang bukan merupakan persyaratan:

1) Banding diajukan dengan Surat Banding dalam Bahasa Indonesia kepada Pengadilan Pajak.

2) Terhadap 1 (satu) Keputusan diajukan 1 (satu) Surat Banding.

3) Dalam hal Banding diajukan terhadap besarnya jumlah Pajak yang terutang, Banding hanya dapat diajukan apabila jumlah yang terutang dimaksud telah dibayar sebesar 50% (lima puluh persen).

4) Gugatan diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia kepada Pengadilan Pajak.

5) Terhadap 1 (satu) pelaksanaan penagihan atau 1 (satu) Keputusan diajukan 1 (satu) Surat Gugatan maka kelengkapan dan/atau kejelasan dimaksud dapat diberikan dalam persidangan.

e. Majelis melakukan pemeriksaan terhadap keputusan pejabat pemerintahan yang menimbulkan sengketa pajak, yang terkait dengan aspek hukum administrasi yang meliputi kewenangan, prosedur, dan substansi.

f. Majelis menanyakan kepada Terbanding atau Tergugat mengenai hal-hal yang dikemukakan Pemohon Banding atau Penggugat dalam Surat Banding atau Surat Gugatan dan dalam Surat Bantahan.

g. Atas permintaan salah satu pihak yang bersengketa, atau karena jabatan, Hakim Ketua dapat memerintahkan saksi untuk hadir dan didengar keterangannya dalam persidangan.

h. Apabila suatu sengketa tidak dapat diselesaikan pada 1 (satu) hari persidangan, pemeriksaan dilanjutkan pada hari persidangan berikutnya yang ditetapkan.

i. Hari persidangan berikutnya diberitahukan kepada Terbanding atau Tergugat dan dapat diberitahukan kepada Pemohon Banding atau Penggugat.

Catatan :

Banding dan gugatan dapat dicabut bedasarkan Pasal 39 UU Pengadilan Pajak, dengan ketentuan sebagai berikut:

 Disampaikan melalui surat pernyataan pencabutan.

 Berkas sengketa tersebut selanjutnya dihapus dari daftar sengketa dengan:

- Penetapan Ketua apabila sengketa tersebut belum disidangkan.

- Putusan Majelis/Hakim Tunggal apabila sudah disidangkan dan atas persetujuan Terbanding.

 Atas banding dan gugatan yang sudah diajukan pencabutan tidak dapat diajukan lagi ke Pengadilan Pajak.

5. Pemeriksaan dalam Rangka Pembetulan Putusan

a. Atas permohonan pembetulan putusan Pengadilan Pajak salah satu pihak yang bersengketa, atau karena jabatan, Ketua Pengadilan dapat memerintahkan Majelis/Hakim Tunggal untuk meneliti putusan Pengadilan Pajak yang dimohonkan pembetulan putusan.

b. Apabila hasil penelitian Majelis/Hakim Tunggal terdapat kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung pada amar putusan yang menyebabkan putusan tersebut tidak dapat dilaksanakan maka Ketua Pengadilan berwenang menetapkan Majelis/Hakim Tunggal untuk melakukan Pemeriksaan dengan Acara Cepat.

c. Apabila hasil penelitian Majelis/Hakim Tunggal terdapat kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung namun tidak menyebabkan amar putusan tersebut tidak dapat dilaksanakan maka Ketua Pengadilan berwenang menerbitkan penetapan sesuai Pasal 82 ayat (2) UU Pengadilan Pajak.

d. Apabila hasil penelitian Majelis/Hakim Tunggal tidak terdapat kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung maka Ketua Pengadilan berwenang memerintahkan Panitera untuk menerbitkan surat pemberitahuan kepada pemohon.

Menurut Peneliti, adanya klausul penormaan dalam UU Pajak mengenai pembetulan putusan merupakan hal yang perlu diapresiasi. Karena sangat manusiawi adanya clerical working atau kesalahan ketik atau kesalahan non teknis lainnya yang mengakibatkan ketidakkonsistenan antara pertimbangan hukum dan amar putusan. Sepanjang dapat dibuktikan hal itu hanya bersifat masalah non teknis dan administratif, tanpa adanya unsur kesengajaan, maka hal itu dapat dibenarkan karena segera diperbaiki dengan mekanisme yang telah diatur dalam undang-undang.

Ketentuan seperti ini seharusnya dapat diadopsi oleh lembaga peradilan lainnya (selain Pengadilan Pajak), karena dalam praktek kerap terjadi kesalahan pengetikan seperti itu.

Bukan malah menjadikan institusi pengadilan atau aparatur yang melakukan kesalahan semacam itu menjadi pesakitan hingga dilaporkan ke badan pengawas atau komisi yudisial. Hal ini tidak ada relevansinya masalah kesalahan ketik yang segera diperbaiki dengan masalah kode etik atau masalah teknis peradilan. UU Pengadilan Pajak sudah menyadari hal itu, sehingga diatur ketentuan yang memberi perlindungan hukum bagi aparaturnya

yang melakukan kesalahan non teknis dan sifatnya dapat segera diperbaiki penulisan ketikan putusan tersebut.

Dokumen terkait