• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Peradilan Pajak di Negara Perancis

BAB I PENDAHULUAN

NOMOR 14 TAHUN 2002

D. Sistem Peradilan Pajak di Negara Perancis

Perbandingan sistem peradilan pajak dipakai dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji dan mengetahui sistem penyelesaian sengketa pajak yang berlaku di negara lain sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menemukan konsep mengenai sistem penyelesaian sengketa pajak yang tepat. Sebagai peradilan yang menganut sistem civil law, peneliti akan menguraikan secara singkat sistem peradilan pajak di Prancis.

Di Perancis, sistem peradilan pajak di bawah naungan atau satu atap Conseil d’Etat. Sebagai lembaga peradilan administrasi tertinggi (Conseil d’Etat), peradilan ini mempunyai yurisdiksi atau kewenangan menyelesaikan seluruh sengketa administrasi, termasuk pajak dan administrasi militer.

Dinyatakan oleh Patrck Frydman :

“The administrative courts have jurisdiction over all disputes related to decisions or actions of public authorities, from tiny decisions made by any local authority to decrees issued by the President of the Republic, whether the complainant seeks the annulment of an act or financial compensation for damage, and this applies in all fields of public administration. The most common kinds of administrative cases include, for example, those related to the application of economic or social regulations, taxation, town-planning, building permits, public works, public service procurement, environmental projects, hospital liability, immigration permits, civil servants' career and pensions, European and local government elections, and so on.16

Berdasar pendapat itu, maka keberadaan peradilan administrasi di Perancis mempunyai kewenangan untuk menyelesaikan semua sengketa antara warga negara dengan pemerintah terkait dengan keputusan dan/atau tindakan yang dikeluarkan dan/atau dilakukan pemerintah dalam menjalankan kewenangannya, salah satu kasus yang dapat diselesaian melalui peradilan ini adalah sengketa pajak dan bea cukai.

16 Patrck Frydman , Administrative Justice In France, Administrative Appeal Tribunal Publication, www.aat.gov.au / Publication, 2 Januari 2015, hlm 1

Khusus sengketa pajak, maka menjadi kewenangan lembaga peradilan di bawah Conseil d’Etat, yaitu Tribunaux Administratifs.

Pengadilan ini berasal dari Conseil de Prefecture di daerah-daerah pada masa Napoleon Bonaparte. Dahulunya Conseil de Prefecture merupakan penasihat Prefect dan dipimpin oleh seorang ketua Prefect. Akan tetapi, sejak dikeluarkannya Dekrit 30 September 1953, Conseil de Prefecture diubah menjadi Tribunaux Administratifs.17

Pada saat ini, Tribunaux Administratifs disamping melaksanakan fungsi peradilan, juga sebagai penasihat administrasi (Prefect). Ada 42 lembaga Tribunaux Administratifs di seluruh Perancis. Aturan dasar pelaksanaan tugasnya bedasarkan Code de Justice Administrative (CJA) tanggal 1 Januari 2001 yang sebelumnya berdasarkan Undang-Undang Reformasi Legislatif tahun 1987 serta Undang-Undang Prosedur sejak tahun 1953. Masing-masing di lembaga ini terdiri dari sedikitnya seorang Presiden (kalau di Indonesia semacam Ketua Pengadilan) dan 3 atau 4 orang hakim.

Hakim untuk mengisi post conseller administratifs pada salah satu Tribunaux administratifs biasanya diambil dari The National School Of Admininistration (Ecole Nationale d’Administration atau ENA), namun tidak disyaratkan lulusan yang terbaik, karena lulusan terbaik atau mempunyai nilai yang sangat bagus yang dipilih menjadi auditerus tingkatan dalam Conseil d’Etat, atau juga orang di luar pemerintahan. Proses biayanya, dari pendaftaran, pengajuan

17 Laporan Penelitian, Kedudukan Pengadilan Pajak Dalam Sistem Peradilan

permohonan atau gugatan para pihak, pemeriksaan perkara sampai pada putusan dan pemberitahuannya menjadi tanggung jawab Negara.

Upaya hukum banding terhadap putusan Tribunaux Administratifs diajukan ke Cour Administrative d’Appel yang diadakan pada tahun 1987. Ada 8 Cour Administrative d’Appel di Perancis (diantaranya berkedudukan di Bordeaux, Lyon, Nantes, Paris, Mareseilles, dan Nancy). Jumlah hakim dan komposisinya sama dengan yang ada di Tribunaux Administratifs, perbedaannya diketuai oleh salah seorang anggota dari Conseil d’Etat. Upaya hukum dari putusan Cour Administrative d’Appel ini adalah ke Conseil d’Etat.18

Pembinaan organisasi, fungsi, dan keuangan berada di bawah Conseil d’Etat, karena di Perancis sangat menjunjung tinggi independensi hakim. Bahkan pengawasan pun juga berada di bawah Conseil d’Etat.

Disamping sistem civil law sebagai perbandingan, perlu juga diurai sistem peradilan pajak Amerika Serikat termasuk sistem yang sangat menarik untuk dikaji sebagai salah satu yang berlaku di sistem common law atau anglo saxon. Penyelesaian sengketa pajak melalui jalur pengadilan di Amerika Serikat disebut sebagai “Court of Original Jurisdiction”, atau disebut dengan “Trial Court”. Trial Court adalah merupakan lembaga yudikatif tingkat pertama yang mengadili sengketa pajak antara wajib pajak dan otoritas pajak.19

18 John Bell, Principles of French Law, Oxford University Press, 1981, hlm.

41

19 Darussalam, Kedudukan Pengadilan Pajak Di Berbagai Negara, makalah dalam diskusi panel , Jakarta, 28 Juli 2009, hlm.2

Ada tiga bentuk pengadilan pajak tingkat pertama (trial court) di Amerika yaitu; Tax Court, U.S District Court dan U.S Court of Federal Claims. Wajib pajak dapat memilih salah satu (hanya satu) dari tiga pengadilan tingkat pertama tersebut untuk menyidangkan perkara perpajakan yang disengketakan. Jika wajib pajak atau pemerintah tidak setuju dengan keputusan trial court, maka dapat mengajukan upaya hukum banding ke peradilan tingkat selanjutnya (tingkat banding) yaitu U.S Court of Appeals atau ke U.S Of Appeals for The Federal Circuit. Apabila para pihak masih belum puas atas keputusan pengadilan pajak tingkat banding maka dimintakan review (kasasi) ke Supreme Court (Mahkamah Agung).20

Hal di atas sebagaimana dinyatakan oleh James W Pratt and William N Kulsrud, yaitu :

“There are three trial court: (1) the Tax Court, (2) the U.S District Court and U.S Court Of Federal Claim. The tax payer may select any one (and only one) of these three court to hear the case. If tax payer or goverment disagrees with the decision by trial court, it has the right to appeal to either the U.S Court of Appeals or U.S Court for the Federal Circuit. If a litigating party is dissatisfied with the decision by the appellate court, it may ask for review by the Supreme Court.21

20 Nabitatus Sa’adah, Membangun Sistem Peradilan Pajak Berdasarkan Asas dan Sistem Penyelenggaraan Peradilan Dalam Upaya Memberikan Perlindungan Hukum Terhadap Para Pihak, Disertasi Universitas Diponegoro, 2015, hlm. 235., dan Laporan Penelitian, Op. Cit., hlm. 125

21 James W Pratt and William N Kulsrud, Federal Taxation, Dame Publication,

Apabila ada ketidaksepakatan antara wajib pajak dengan Comisissioner Of Internal Revenue dalam menetapkan jumlah pajak, maka forum penyelesai sengketa yang digunakan adalah Pengadilan Pajak. Pengadilan Pajak di Amerika Serikat mempunyai kompetensi absolut sebagai berikut :

a. Sengketa atas ketetapan kekurangan pajak (tax disputes concerning notices of deficiency);

b. Ketetapan tentang kewajiban pembayaran pajak (notices of transferee liability);

c. Penentuan sanksi (certain types of declaratory judgment);

d. Pencocokan alat bukti (readjustment and adjustment of partnership items);

e. Melihat ulang penetapan bunga (review of the failure to abate interest);

f. Penetapan biaya administrasi (administrative costs).22

Untuk lebih memahami kedudukan dan proses penyelesaian sengketa pajak di Pengadilan Pajak Amerika Serikat, maka perlu diuraikan masing-masing pengadilan sebagai berikut :23

Pengadilan Pajak Tingkat Pertama Amerika Serikat 1. US Tax Court

Pengadilan ini adalah pengadilan yang hanya menangani sengketa perpajakan di Amerika Serikat. Para hakimnya merupakan

22 en. wikipedia. Org /wiki/United State Tax Court., dan Nabitatus Sa’adah, Op. Cit

23 Lihat James W Pratt and William N Kulsrud, Op.Cit, hlm 2-17., Nabitatus Sa’adah, Op. Cit, hlm. 232-235., dan Laporan Penelitian, Op. Cit., hlm.125-127

orang yang mempunyai keahlian dalam bidang perpajakan yang diangkat oleh presiden dan biasanya berlatar belakang praktisi atau pegawai IRS (Internal Revenue service). Internal Revenue Service adalah lembaga pemerintah Amerika Serikat yang bertugas menetapkan pajak, menafsirkan pajak dan menerapkan hukum pajak.

Pengadilan Pajak ini hanya satu-satunya di seluruh wilayah Amerika Serikat. Hakim Pengadilan pajak terdiri dari 19 (sembilan belas) orang, kadangkala dalam satu kasus ditangani oleh semua hakim, tetapi yang paling sering adalah dalam satu kasus hanya didengar oleh satu hakim dan nantinya pandangan hakim ini disampaikan pada semua hakim untuk kemudian baru diputus.

Oleh karena hanya ada satu pengadilan, maka untuk melayani sengketa pajak, para hakimnya melakukan perjalanan ke seluruh negara bagian untuk mendengarkan kasus yang disengketakan. Ketika mengajukan gugatan, wajib pajak tidak harus membayar terlebih dahulu jumlah pajak yang disengketakan. Pengadilan ini juga tidak mengenal adanya juri.

2. US District Court

Pengadilan ini adalah pengadilan pajak tingkat pertama yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan peradilan dalam sistem pemerintahan federal . Wajib pajak dapat menyelesaikan sengketa pajaknya ke District Court di wilayah tempat tinggal atau domisilinya.

Berbeda dengan US Tax Court, penyelesaian sengketa pajak mewajibkan wajib pajak untuk membayar kekurangan pajaknya terlebih dahulu. Pengadilan ini juga satu-satunya pengadilan pajak

yang menyediakan juri, dimana juri memiliki tugas dan kewenangan terbatas pada penentuan bukti, bukan mengenai hukum. Namun dalam praktek, hakim jarang mengambil putusannya berdasarkan juri.

3. United State Court Of Federal Claims

Pengadilan ini adalah pengadilan yang menyelesaikan sengketa atas gugatan melawan pemerintah federal termasuk didalamnya pengembalian pajak. Ada 16 hakim anggota dan tersebar di seluruh negeri, akan tetapi biasanya bertemu di Washington DC. Dalam penyelesaian sengketa melalui peradilan ini wajib pajak diharuskan untuk membayar terlebih dahulu jumlah pajak yang disengketakan.

Pada pengadilan ini tidak ada juri. Terhadap hasil putusan pengadilan ini dapat diajukan kasasi pada U.S Supreme Court.

4. Small Tax Division Of The Tax Court

Pengadilan ini khusus menangani sengketa pajak yang jumlah sengketanya tidak lebih dari $ 50.000 dalam satu tahun penghitungan pajak. Pengadilan ini merupakan pilihan bagi wajib pajak.

Penyelesaian sengketa pajak melalui jalur ini merupakan penyelesaian yang kurang formal dan menggunakan prosedur penyelesaian sengketa yang sederhana. Penyelesaian sengketa melalui jalur ini mempunyai keunggulan dan kekurangan. Keunggulannya, penyelesaian sengketanya dapat diselesaikan dengan cepat, sedangkan kelemahannya, putusan ini tidak dapat diajukan banding dan tidak dapat dijadikan dijadikan sebagai preseden.

Pengadilan Pajak Tingkat Banding Amerika Serikat

Ada dua pengadilan banding di Amerika yaitu U.S Courts Of Appeals dan U.S. Court of Appeals for Fderal Circuit. Kedudukan pengadilan ini sebagai upaya lanjutan dari peradilan tingkat pertama (U.S Tax Court, US District Court, dan US Court of Federal Claims).

Perbedaannya, atas putusan District Court, wajib pajak maupun pemerintah dapat mengajukan banding pada U.S Courts Of Appeals sedangkan atas putusan U.S Court Of Federal Claims, para pihak dapat mengajukan upaya hukum banding ke U.S. Court of Appeals for Federal Circuit. Terhadap putusan kedua lembaga peradilan banding pajak ini dapat diajukan upaya hukum kasasi ke US Supreme Court.

BAB III

POLA UPAYA HUKUM PEMERIKSAAN DAN PENYELESAIAN SENGKETA PAJAK

A. Pola Pemeriksaan dan Penyelesaian Sengketa Pajak melalui Upaya Hukum Keberatan

1. Upaya Hukum Keberatan menurut UU Pengadilan Pajak, UU KUP, dan Peraturan Perundang-undangan Terkait

Hubungan pemerintah dengan warga negara dalam pelaksanaan pemungutan pajak dalam kenyataannya juga sering diwarnai adanya sengketa. Sebagaimana telah diuraikan, sengketa pajak dapat terjadi jika wajib pajak atau penanggung pajak tidak menerima besarnya hutang pajak yang ditetapkan oleh fiskus sebagaimana yang tertuang dalam Surat ketetapan Pajak.

Surat Ketetapan Pajak (SKP) dalam sistem self assesment lahir sebagai output dari adanya pemeriksaan pajak yang nota bene merupakan kewenangan fiskus dalam mengawasi pelaksanaan self assesment system. Pelaksanaan self assessment system meskipun kepercayaannya penuh kepada wajib pajak untuk menghitung sendiri jumlah pajak yang harus dibayarkan kepada negara tetapi ada kemungkinan kepercayaan penuh yang diberikan undang-undang tidak dilaksanakan dengan benar oleh

wajib pajak maka pemerintah berhak untuk melakukan pemeriksaan sesuai dengan perintah undang-undang.24

Pengertian pemeriksaan pajak itu sendiri menurut pasal 1 angka 25 UU KUP adalah, “Kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan atau bukti yang dilaksanakan secara obyektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajkaan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan”.

Berdasarkan pasal 1 angka 25 UU KUP diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan diadakannya pemeriksaan pajak adalah :

1. Untuk menguji kepatuhan wajib pajak dalam melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan;

2. Untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan perundang-undangan perpajakan.

Kedua tujuan diatas diperjelas dalam Bab II Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

17/PMK.03/2013 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak (selanjutnya disebut PMK No. 17/PMK.03/2013). Pasal 4 ayat (2) PMK No. 17/PMK.03/2013 menyatakan bahwa pemeriksaan pajak yang ditujukan untuk menguji kepatuhan wajib pajak.

24 Wirawan B Ilyas dan Richard Buton, Manajemen Sengketa Pajak Dalam Pemungutan Pajak (Analisis Yuridis Terhadap Teori Dan Kasus), Jakarta, Mitra Wacana Media, 2012, hlm. 25

Hasil pemeriksaan pajak harus diberitahukan kepada wajib pajak melalui Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan yang dilampiri daftar temuan pemeriksaan. Wajib pajak wajib memberikan tanggapan atas Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan diterima oleh wajib pajak pasal 42 ayat (2) PMK No. 17/PMK.03/2013. Apabila wajib pajak menyetujui hasil pemeriksaan, wajib pajak menyampaikan tanggapan tertulis melalui lembar pernyataan persetujuan hasil pemeriksaan, tetapi jika wajib pajak tidak menyetujui sebagian atau seluruhnya hasil pemeriksaan maka wajib pajak dapat membrrikan tanggapan tertulis yang dituangkan dalam surat sanggahan.

Terhadap surat tanggapan dari wajib pajak atas Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan, dalam jangka waktu paling lambat tiga hari kerja sejak diterimanya surat tanggapan, wajib pajak diundang dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan (closing conference). Pasal 1 angka 17 PMK No.

17/PMK.03/2013 menerangkan bahwa Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan (closing conference) adalah pembahasan antara wajib pajak dan pemeriksa pajak atas temuan pemeriksaan. Hasil pembahasan akhir hasil pemeriksaan (closing conference) dituangkan dalam Berita Acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak yang berisi koreksi baik yang disetujui maupun yang tidak disetujui.

Apabila masih terdapat perbedaan dalam risalah pembahasan, wajib pajak dapat mengajukan Surat Permohonan Pembahasan dengan tim Quality Assurance Pemeriksaan (Pasal 45 ayat (1) PMK No. 17/PMK.03/2013). Tim Quality Assurance Pemeriksaan adalah tim yang dibentuk oleh Direktur Pemeriksaan dan Penagihan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas nama Direktur Jenderal Pajak dalam rangka membahas hasil pemeriksaan yang belum disepakati oleh wajib pajak dan pemeriksa pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Susunan Tim Quality Assurance terdiri dari seorang ketua, sekretaris dan 3 (tiga) orang anggota.

Pembahasan dengan tim Quality Assurance Pemeriksaan dilakukan oleh Tim Quality Assurance Pemeriksaan dengan mengundang wajib pajak dan tim pemeriksa pajak. Setelah melakukan pembahasan akhir dengan wajib pajak, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan produk hukum yang berupa:25

1. Surat ketetapan Pajak yang berupa SKPKB, SKPKBT, SKPN, SKPLB;

2. Surat Tagihan Pajak, biasanya merupakan produk yang lahir dari pemeriksaan untuk tujuan menguji kepatuhan wajib pajak.

Surat Tagihan Pajak juga dapat terbit dari hasil penelitian yang

25 Anang Mury Kurniawan, Upaya Hukum Terkait dengan Pemeriksaan, Penyidikan, Dan Penagihan Pajak, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011, hlm 86

dilakukan oleh petugas Account Reprensentative, jika ada kewajiban perpajakan yang belum dipenuhi wajib pajak;

3. Rekomendasi tindakan penyidikan jika ada indikasi wajib pajak melakukan tindak pidana perpajakan.

Lahirnya Surat Ketetapan Pajak (SKP) inilah yang dapat menjadi salah satu obyek sengketa pajak jika wajib pajak tidak menyepakati apa yang tertuang dalam SKP dan merasa dirugikan atas SKP tersebut. Dengan kata lain, tidak semua SKP jadi obyek sengketa pajak, terutama apabila ada kesepakatan antara fiskus dengan wajib pajak. Sebaliknya, SKP dapat jadi obyek sengketa pajak ketika timbul perselisihan penetapan jumlah pajak yang dilakukan oleh fiskus yang tidak sesuai dengan perhitungan wajib pajak.

Selain terjadi karena adanya ketidaksepakatan SKP, sengketa pajak juga dapat terjadi apabila wajib pajak merasa dirugikan atas pemotongan dan pemungutan pajak oleh pihak ketiga. Sebagaiamana kita ketahui salah satu sistem pemungutan pajak yang kita gunakan adalah with holding system. Sistem with holding tax, negara menggunakan pihak ketiga (pemotong/pemungut) untuk melakukan pemotongan dan pemungutan pajak.26 Sengketa pajak dalam hal ini timbul ketika wajib pajak tidak menyetujui besarnya pemotongan/pemungutan pajak oleh pihak ketiga. Pelaksanaan penagihan juga dapat

menjadi objek sengketa jika wajib pajak merasa dirugikan pelaksanaan penagihan pajak. Bahkan sering terjadi perselisihan itu terjadi karena adanya jumlah hutang pajak yang ditambah dengan denda-denda atau tambahan-tambahan lain yang disebabkan adanya kewajiban-kewajiban yang ditentukan undang-undang yang tidak dipenuhi wajib pajak, misalnya tidak memasukkan SPT atau terlambat memasukkan SPT.

Adanya suatu sengketa khususnya sengketa atas sikap tindak administrasi negara, dalam konsep negara hukum modern menghendaki bahwa warga negara berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum terhadap sikap tindak dari pemerintah termasuk di bidang perpajakan. Ada beberapa alasan diberikannya perlindungan hukum terhadap warga negara maupun wajib pajak, antara lain, bahwa warga negara maupun wajib pajak sangat sering bergantung pada keputusan-keputusan dan ketetapan-ketetapan pemerintah, sehingga warga negara maupun wajib pajak berhak mendapat jaminan perlindungan hukum berkaitan dengan kepastian hukum dan jaminan keamanan.27 Selain itu, dalam konteks hukum perpajakan, hubungan antara pemerintah dengan wajib pajak tidak berjalan dalam posisi yang sejajar, wajib pajak merupakan pihak yang lemah dibandingkan dengan pemerintah. Alasan lain adalah perselisihan yang terjadi antara wajib pajak dengan pemerintah

27 HD Van Wijk/Willem Koninjnenbelt sebagaimana yang dikutip Ridwan HR, Ibid, hlm. 293

sering terjadi berkenaan dengan keputusan di bidang perpajakan, sementara keputusan itu adalah instrumen yang dikeluarkan sepihak oleh pemerintah hal ini membuka peluang akan terjadinya pelanggaran hak-hak wajib pajak.

Prinsip perlindungan hukum tidak semata-mata hanya ditujukan bagi wajib pajak, tetapi juga dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum bagi pemerintah (pejabat administrasi di bidang pajak). Perlindungan hukum terhadap wajib pajak diberikan jika sikap tindak pemerintah menimbulkan kerugian terhadapnya, sedangkan perlindungan hukum terhadap pemerintah itu sendiri dilakukan terhadap sikap tindaknya yang baik dan benar menurut hukum baik tertulis maupun tidak tertulis.28

Salah satu bentuk perlindungan hukum terhadap wajib pajak atas sikap tindak pemerintah adalah perlindungan hukum yang bersifat represif yaitu perlindungan hukum yang bertujuan untuk menyelesaikan sengketa. Wajib pajak berhak mendapatkan kemudahan dalam mencari keadilan jika terjadi adanya suatu sengketa, termasuk sengketa dengan pejabat administrasi di bidang pajak.

Perlidungan hukum yang bersifat represif ini berupa penyelesaian sengketa pajak melalui lembaga internal Direktorat Jenderal Pajak itu sendiri dan/atau melalui litigasi lembaga

peradilan pajak. Penyelesaian sengketa pajak merupakan salah satu contoh penyelesaian sengketa administrasi yang mengenal adanya penyelesaian sengketa melalui upaya administrasi. Ada jenis sengketa pajak yang langsung dapat diajukan gugatan ke Pengadilan Pajak, ada juga jenis sengketa pajak yang penyelesaiannya terlebih dahulu diselesaikan melalui upaya administratif. Sengketa pajak yang diselesaiikan melalui upaya administrative terlebih dahulu adalah sengketa atas Surat Ketetapan Pajak dan sengketa atas pemotongan dan pemungutan oleh pihak ketiga hal demikian sebagaimana yang diatur dalam Pasal 25 ayat (1) UU KUP dan Pasal 1 angka 6 UU Pengadilan Pajak, sedangkan sengketa atas pelaksanaan penagihan pajak adalah sengketa yang penyelesaiannya langsung diajukan ke Pengadilan Pajak (Pasal 31 UU Pengadilan Pajak). Hal demikian sebagaimana terlihat dalam bagan sebagai berikut :

Bagan 2 :

Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pajak Existing

Sengketa

Sebagaimana terlihat bagan diatas upaya administratif yang dikenal dalam penyelesaian sengketa pajak adalah upaya keberatan. Sebagaimana diketahui bahwa penyelesaian sengketa administrasi yang berupa upaya keberatan adalah penyelesaian sengketa yang diajukan ke pihak yang mengeluarkan ketetapan yang berarti pemutus dalam upaya keberatan ini adalah pihak yang notabene mengeluarkan keputusan yang disengketakan.

Berkaitan dengan hal tersebut, dalam hal terjadi sengketa pajak, khususnya apabila wajib pajak, khususnya apabila wajib pajak merasa dirugikan atas suatu ketetapan pajak dan atas pemotongan dan pemungutan oleh pihak ketiga maka wajib pajak dapat mengajukan upaya keberatan yang ditujukan kepada Direktorat Jendral Pajak. Hal demikian sebagaimana yang diatur dalam pasal 25 Ayat (1) UU KUP jo Pasal 2 Ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 9/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pengajuan dan Penyelesaian Keberatan (selanjutnya ditulis PMK No. 9/PMK.03/2013), yang menyatakan bahwa wajib pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu :

a. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar;

b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan;

c. Surat Ketetapan Pajak Nihil;

d. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar;

e. Pemotongan atau Pemungutan Pajak oleh Pihak Ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Berdasarkan ketentuan diatas dapat dikatakan bahwa upaya keberatan dapat dilakukan wajib pajak jika merasa dirugikan atas keluarnya Surat Ketetapan Pajak baik atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN), maupun Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB).

Disamping atas surat ketetapan pajak, wajib pajak dapat mengajukan keberatan atas pemotongan dan pemungutan pihak ketiga. Sebagaimana kita ketahui salah satu sistem pemungutan pajak yang kita gunakan adalah with holding system.

Surat keberatan dalam pengajuannya juga harus memenuhi beberapa persyaratan sebagaimana yang tercantum Pasal 25 UU KUP yaitu antara lain :

1. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia;

2. Diajukan dengan disertai alasan yang jelas dan mengemukakan jumlah pajak yang terutang, jumlah pajak yang dipotong dan dipungut, atau jumlah rugi menurut

2. Diajukan dengan disertai alasan yang jelas dan mengemukakan jumlah pajak yang terutang, jumlah pajak yang dipotong dan dipungut, atau jumlah rugi menurut

Dokumen terkait