SRI WAHYUNI C3407
DAFTAR LAMPIRAN
1. Proses penanganan sampel tuna di PT Z
Penerimaan ikan tuna dilakukan di dalam ruang penerimaan bahan baku. Ikan satu per satu diturunkan dari mobil, diukur suhunya, dan dimasukkan dalam ruang melalui sebuah loket yang dilengkapi dengan plastik curtain. Daging ikan yang diterima adalah daging yang memiliki warna merah cerah. Suhu ikan yang diterima umumnya kurang dari 0 ºC. bila mencapai suhu 3 ºC, biasanya ikan akan ditolak oleh perusahaan.
Ikan yang telah diterima di ruang penerimaan dicuci dengan menggunakan air dingin bersuhu ± 2 ºC. Air yang digunakan adalah potable water. Ikan yang telah
dicuci, kemudian dimasukkan ke dalam bak penampungan ikan selama 30 menit. Bak penampungan tersebut berisi air dan es curai yang bersuhu ≤ 3 ºC. Proses ini bertujuan untuk menjaga suhu ikan agar ≤ 3 ºC saat menunggu proses selanjutnya. Ikan yang telah ditampung dalam bak penampung, kemudian ditimbang. Ikan yang teelah ditimbang dilanjutkan ke proses filleting dengan pemotongan kepala dan
pembentukan loin. Pembuatan loin dilakukan dengan memotong tubuh ikan menjadi empat bagian dan membuang duri atau tulang yang masih menempel pada daging. Proses selanjutnya adalah pembuangan kulit dari loin, dilanjutkan dengan pembuangan daging gelap dan perapihan. Pada tahap ini dilakukan pengambilan sampel berupa daging perut (belly) dan ekor.
2. Profil PT Z
PT Z berlokasi di komplek Pelabuhan Perikanan Samudra Nizam Zachman, Jakarta. Lokasi perusahaan berdekatan dengan pelabuhan dan tempat pelelangan ikan, sehingga memudahkan proses produksi serta mendapatkan bahan baku. PT Z memiliki visi menjadi perusahaan pengolahan ikan tuna yang paling berkualitas dengan selalu memuaskan kepentingan pelanggan, karyawan, dan lingkungan sekitar, dengan misi mewujudkan pertumbuhan dan keuntungan yang berkesinambungan melalui proses pengolahan ikan tuna yang berprinsip pada zero waste atau cleaner
50
production, yaitu memanfaatkan ikan secara optimal sehingga tidak ada bagian yang
terbuang.
PT Z memfokuskan produksi produk ekspor beku, seperti loin, stick, cubes, chunk, saku dan produk sampingan, yaitu scrab dalam jumah besar. Negara tujuan
ekspor perusahaan ini adalah USA, UE, Jepang, Cina, Taiwan, dan Asia Tenggara. Data ekspor produk tuna PT Z dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Data ekspor produk tuna PT Z
Tahun Volume (kg)
Lainnya UE USA Total (kg)
2003 63.475 244.621 227.509 535.605 2004 257.431 495.799 245.107 998.337 2005 131.409 394.625 201.698 727.732 2006 85.053 242.625 172.253 499.931 2007 67.100 - 238.851 305.951 2008 126.062 - 310.684 436.746 2009 61.050 - 365.363 426.413 2010 15.490 - 288.873 304.363 807.070 1.377.670 2.050.338 4.235.078
Pemilihan PT Z sebagai sumber penyedia sampel disebabkan oleh selama 10 tahun beroperasi, hampir tidak terjadi keluhan pelanggan mengenai produk tuna yang dihasilkan. Hal ini akan mempengaruhi tingkat kepercayaan pelanggan terhadap PT Z. Pelanggan merasa puas terhadap kualitas produk tuna, terlebih lagi kualitas pelayanan perusahaan menjadi prioritas utama dalam menghargai setiap pembeli yang datang. Selain itu, PT Z merupakan satu-satunya perusahaan tuna Indonesia yang tidak terkena aturan CD 235 tahun 2006 yang dikeluarkan oleh UE, sehingga produk tuna PT Z dapat dipercaya memiliki kualitas yang baik.
52
Lampiran 4 Data uji statistik hasil analisis histamin The GLM Procedure Variabel terikat (dependent variable): respon1
Sumber (source) Derajat
bebas (DF) Jumlah kuadrat (sum of squares) Nilai tengah kuadrat (mean square) Nilai F (F Value) Pr > F Model 13 17317,84897 1332,14223 4999,64 <,0001 Kesalahan (error) 22 5,86184 0,26645 Total koreksi (corrected total) 35 17323,71082 Koef determinasi (R- Square)
Koef. keragaman (Coeff Var) Root MSE Respon1 Mean 0,999662 4,669907 0,516185 11,05344 Sumber (source) DF Jumlah kuadrat (Type I SS) Nilai tengah kuadrat (mean square) Nilai F (F value) Pr > F fak1 1 240,852103 240,852103 903,94 <,0001 fak2 1 3732,510574 3732,510574 14008,4 <,0001 fak1*fak2 1 268,712654 268,712654 1008,50 <,0001 fak3 2 6281,641318 3140,820659 11787,8 <,0001 fak1*fak3 2 241,578858 120,789429 453,33 <,0001 fak2*fak3 2 6256,864743 3128,432371 11741,3 <,0001 fak1*fak2*fak3 2 295,052007 147,526003 553,68 <,0001 Keterangan:
Fak1 : Lokasi daging Fak2 : Suhu penyimpanan Fak3 : Lama penyimpanan * : Interaksi
Bila nilai Pr > F lebih kecil dari 0,05, menunjukkan perlakuan memberikan hasil yang berbeda nyata, sehingga perlu dilakukan uji lanjut. Jika sebaliknya, maka tidak menunjukkan perlakuan memberikan hasil yang berbeda nyata, sehingga tidak perlu dilakukan uji lanjut.
54
Means with the same letter are not significantly different, Duncan Grouping Mean N fak1
A 71,3474 3 PT1H3 B 45,6645 3 ET1H3 C 7,3427 3 PT1H2 D 1,4266 3 ET2H3 D E D 1,2909 3 ET1H2 E D E D 1,2843 3 PT2H2 E D E D 1,1748 3 ET2H2 E D E D 0,9732 3 PT1H1 E D E D 0,7962 3 ET1H1 E D E D 0,5479 3 PT2H1 E D E D 0,4483 3 ET2H1 E 0,3445 3 PT2H3 Keterangan: P : perut E : ekor T1 : suhu 4-5 ºC T2 : suhu -2-1 º C H1 : penyimpanan 0 hari H2 : penyimpanan 2 hari H3 : penyimpanan 7 hari
Lampiran 5 Data uji statistik hasil analisis TVB The GLM Procedure
Dependent Variable: respon1
Sumber (source) Derajat
bebas (DF) Jumlah kuadrat (sum of squares) Nilai tengah kuadrat (mean square) Nilai F (F Value) Pr > F Model 13 6,59820641 0,50755434 31,79 <,0001 Kesalahan (error) 22 0,35121038 0,01596411 Total koreksi (corrected total) 35 6,94941679 Koef determinasi (R- Square)
Koef. keragaman (Coeff Var) Root MSE Respon1 Mean 0,949462 4,206785 0,126349 3,003461 Sumber (source)
DF Jumlah kuadrat (Type I SS) Nilai tengah kuadrat (mean square) Nilai F (F value) Pr > F fak1 1 0,00682426 0,00682426 0,43 0,5200 fak2 1 0,88082027 0,88082027 55,18 <,0001 fak1*fak2 1 0,08790073 0,08790073 5,51 0,0284 fak3 2 4,24360235 2,12180117 132,91 <,0001 fak1*fak3 2 0,01866004 0,00933002 0,58 0,5658 fak2*fak3 2 1,22396300 0,61198150 38,33 <,0001 fak1*fak2*fak3 2 0,09570304 0,04785152 3,00 0,0706 Keterangan:
Fak1 : Lokasi daging Fak2 : Suhu penyimpanan Fak3 : Lama penyimpanan * : Interaksi
Bila nilai Pr > F lebih kecil dari 0,05, menunjukkan perlakuan memberikan hasil yang berbeda nyata, sehingga perlu dilakukan uji lanjut. Jika sebaliknya, maka tidak menunjukkan perlakuan memberikan hasil yang berbeda nyata, sehingga tidak perlu dilakukan uji lanjut.
56
Lampiran 6 Data uji statistik hasil analisis ALT The GLM Procedure
Dependent Variable: respon1
Sumber (source) Derajat
bebas (DF) Jumlah kuadrat (sum of squares) Nilai tengah kuadrat (mean square) Nilai F (F Value) Pr > F Model 13 220,6291423 16,9714725 274,94 <,0001 Kesalahan (error) 22 1,3580016 0,0617273 Total koreksi (corrected total) 35 221,9871439 Koef determinasi (R- Square)
Koef, keragaman (Coeff Var) Root MSE Respon1 Mean 0,993883 2,281439 0,248450 10,89005 Sumber (source)
DF Jumlah kuadrat (Type I SS) Nilai tengah kuadrat (mean square) Nilai F (F value) Pr > F fak1 1 1,0270972 1,0270972 16,64 0,0005 fak2 1 16,2380602 16,2380602 263,06 <,0001 fak1*fak2 1 8,5355740 8,5355740 138,28 <,0001 fak3 2 156,6173834 78,3086917 1268,62 <,0001 fak1*fak3 2 3,5393598 1,7696799 28,67 <,0001 fak2*fak3 2 34,1868212 17,0934106 276,92 <,0001 fak1*fak2*fak3 2 0,3505811 0,1752905 2,84 0,0800 Keterangan:
Fak1 : Lokasi daging Fak2 : Suhu penyimpanan Fak3 : Lama penyimpanan * : Interaksi
Bila nilai Pr > F lebih kecil dari 0,05, menunjukkan perlakuan memberikan hasil yang berbeda nyata, sehingga perlu dilakukan uji lanjut. Jika sebaliknya, maka tidak menunjukkan perlakuan memberikan hasil yang berbeda nyata, sehingga tidak perlu dilakukan uji lanjut.
Lampiran7 Data uji statistik hasil analisis BPH The GLM Procedure
Dependent Variable: respon1
Sumber (source) Derajat
bebas (DF) Jumlah kuadrat (sum of squares) Nilai tengah kuadrat (mean square) Nilai F (F Value) Pr > F Model 13 11,33352 0,871809 6,32 <,0001 kesalahan (error) 22 3,057375 0,138972 Total koreksi (corrected total) 35 14,39089 Koef determinasi (R- Square)
Koef keragaman (Coeff Var) Root MSE respon1 Mean 0,992420 2,14260 100039,7 432275,0 Sumber (source)
DF Jumlah kuadrat (Type I SS) Nilai tengah kuadrat (mean square) Nilai F (F value) Pr > F fak1 1 10,01406025 10,01406025 10,01 0,0045 fak2 1 15,437369 5,437369 243,31 <,0001 fak1*fak2 1 2,4550373 2,4550373 24,53 <,0001 fak3 2 12,2226192 6,113096 610,83 <,0001 fak1*fak3 2 12,759365 6,879682 6,87 0,0048 fak2*fak3 2 25,026902 5,1345099 113,04 <,0001 fak1*fak2*fak3 2 3,7852559 1,8926279 8,91 0,0100 Keterangan:
Fak1 : Lokasi daging Fak2 : Suhu penyimpanan Fak3 : Lama penyimpanan * : Interaksi
Bila nilai Pr > F lebih kecil dari 0,05, menunjukkan perlakuan memberikan hasil yang berbeda nyata, sehingga perlu dilakukan uji lanjut. Jika sebaliknya, maka tidak menunjukkan perlakuan memberikan hasil yang berbeda nyata, sehingga tidak perlu dilakukan uji lanjut.
58
Lampiran 8 Contoh perhitungan kadar histamin a. Pembacaan awal standar dan sampel
60
b.
Persamaan regresi standar histamin IU 0 0,460 a 0,5496 0,0025 1,240 b 406,72995 0,005 2,727 r 0,99828 0,01 4,980 0,02 8,679 0,04 16,733 y = a + bx 1,003 = 0,5496 + 406,72995x x = 0,0011c.
Perhitungan kadar histamin yang dihasilkan sampel 1Konsentrasi histamin (µg/g) = x . (volume akhir (ml). faktor pengenceran) gram sampel
= 0,0011. 50. 100 10,0000 = 0,5574 µg/g = 0,5574 ppm
Lampiran 9 Contoh perhitungan kadar TVB
Kadar TVB daging perut; 4,4 ºC; Hari ke-0 ulangan 1
= vol ,titrasi sampel −vol ,titrasi blanko x N HCl x Ar N x faktor pengenceran x 100
bobot sampel
= 1,9 ml−0,02 ml x 0,0193x 14,007x2 x 100
10,0075 g =10,1570 mg N/100 g
62
Lampiran 11 Dokumentasi penelitian
Gambar 1 Media analisis BPH Gambar 2 Media analisis ALT
Gambar 3 Alat penghitung koloni Gambar 4 Homogenizer
Gambar 5 Alatdestilasi analisis TVB Gambar 6 Larutan blanko dan larutan contoh analisis TVB
64
Gambar 7 Proses persiapan sampel analisi histamin
Gambar 8 Proses pemurnian sampel analisis histamin
Gambar 9 Proses derivatisasi analisis histamin Gambar 10 Isolasi bakteri dengan metode gores kuadran
Gambar 11 API kit Gambar 12 Indikator pembacaan hasil API kit 20 NE
Lampiran 12 Pertimbangan penentuan suhu berdasarkan risk assessment
Tabel pertimbangan penentuan suhu berdasarkan risk assessment Lama penyimpanan Lokasi daging Perut Ekor Suhu penyimpanan (°C) 4-5 -2-1 4-5 -2-1
Pro/Sev Pro/Sev Pro/Sev Pro/Sev
0 hari L/NL L/NL L/NL L/NL
2 hari L/L L/NL L/L L/NL
7 hari H/ML L/NL H/NL H/ML
Keterangan:
Pro : probability (Low, Medium, High)
HISTAMIN TUNA (Thunnus sp) DAN
IDENTIFIKASI BAKTERI PEMBENTUKNYA
PADA KONDISI SUHU PENYIMPANAN STANDAR
SRI WAHYUNI
DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Abe H, Brill RW, Hochachka PW. 1986. Metabolism of L-histidine, carnosine, and anserine in skipjack tuna. Physiol Zool (4): 439-450.
Alasalvar C, Shahidi F, Miyashita K, Wanasundara U. 2011. Handbook of Seafood Quality, Safety, and Health Applications. UK: Blackwell
Publishing Ltd.
Allen DG. 2004. Regulatory control of histamine production in North Carolina harvested mahi-mahi (Coryphaena hippurus) and yellowfin tuna (Thunnus albacares): a HACCP-based industry survey [thesis]. North Carolina:
Graduate Faculty, North Carolina State University.
Barceloux GD. 2008. Medical Toxicology of Natural Substances. Virginia: John
Wiley & Sons, Inc.
bioMérieux. 2006a. Identification system for non-fastidious, non-enteric Gram negative rods. France: bioMérieux, Inc.
bioMérieux. 2006b. Identification system for Enterobacteriaceae and other non- fastidious Gram negative rods. France: bioMérieux, Inc.
Black JG. 2004. Microbiology: Principles and Exploration. Virginia: John Wiley
& Sons, Inc.
Blanc M, Desurmont A, Beverly S. 2005. Onboard Handling of Sashimi-Grade Tuna. A Practical Guide for Crew Members. New Zealand: Ultimo Group. [BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2003. Pedoman pemberlakuan Standar
Nasional Indonesia (SNI) wajib. Jakarta: BSN.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2006a. Tuna Segar untuk Sashimi. SNI 01- 2693.3-2006. Jakarta: BSN.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2006b. Tuna Loin Beku - Bagian 3: Penanganan dan Pengolahan. SNI 01-4104.3-2006. Jakarta: BSN.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2006c. Cara Uji Mikrobiologi – Bagian 3: Penentuan Angka Lempeng Total (ALT) pada Produk Perikanan. SNI 01-
2332.3-2006. Jakarta: BSN.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2009a. Cara Uji Kimia - Bagian 10. Penentuan Kadar Histamin dengan Spektroflorometri dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) pada Produk Perikanan. SNI 2354.10:2009.
Jakarta: BSN.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2009b. Cara Uji Kimia - bagian 8. Penentuan Kadar Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N) dan Trimetil Amin
42
Nitrogen (TMA-N) pada Produk Perikanan. SNI 2354.8:2009. Jakarta: BSN.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2011. Tentang SNI. http://www.bsn.go.id
[18 Oktober 2011]
Butler KB, Bolton GE, Jaykus LA, Green PDM, Green DP. 2010. Development of molecular-based methods for determination of high histamine producing bacteria in fish. International J of Food Microbiology 139: 161-167.
Buzby JC. 2008. International Trade and Food Safety, Economic Story and Case Study. USA: USDA.
Clucas IJ dan Ward AR. 1996. Post Harvest Fisheries Development: A Guide to Handling, Preservation, Processing, and Quality. United Kingdom: Chatam Maritime.
Craven C, Hilderbrand K, Kolbe E, Sylvia G, Daeschel M, Gloria B, An H. 2000.
Understanding and Controlling Histamine Formation in Troll-Caught Albacore Tuna: A Review and Update of Preliminary Findings from The 1994 Season. Oregon: Oregon State University.
Dalgaard P, Emborg J, Køjlby A, Sørensen ND, Ballin NZ. 2008. Improving Seafood Product for The Customer. England: Woodhead Publishing Limited.
Departement of Health, Education and Walfare. 1972. Food composition table for use in East Asia. http:www.fao.org [7 September 2011]
Departemen perindustrian. 1992. Kumpulan Perundang-undangan Republik Indonesia. Jakarta: Departemen perindustrian.
Destin Florida Fishing. 2005. Yellowfin tuna. http://www.floridafishinginfo.net
[28 November 2010]
Du WX, Lin CM, Phu AT, Cornell JA, Marshall MR, Wei CI. 2002. Development of biogenic amines in yellowfin Tuna (Thunnus albacares): effect of storage
and correlation with decarboxylase-positive bacterial flora. J of Food Science 67: 292-301.
[EC] European Commision. 2010. An EU policy framework to assist developing countries in addressing food security challenges. http://www.ec.europa.eu
[27 Oktober 2011]
Emborg J. 2006. A new psychrotolerant and histamine producing Morganella
species. http://www.seafoodplus.org [7 Februari 2011]
Eskin NAM. 1990. Biochemistry of Food. Ed ke-2. California: Academic press Inc.
Etienne M, Ifremer, Nantes. 2005a. Methods for chemical quality assessment- methodology for histamine and biogenic amines analysis. France: EC. Etienne M, Ifremer, Nantes. 2005b. Volatile amines as criteria for chemical quality
assessment. France: Seafood plus Traceability.
[EU] European Union. 2004. Regulation (EC) No 853/2004 of the European Parliament and of the Council of 29 April 2004 laying down specific hygiene rules for food of animal origin. Official J of the European Union
226: 22-82.
[EU] European Union. 2005. Commission regulation (EC) No 2073/2005 of 15 November 2005 on microbiological criteria for foodstuffs. Official J of the European Union 338: 1-29.
[EU] European Union. 2008. The Rapid Alert System for Food and Feed (RASFF) Annual Report 2007. Luxembourg: European Communities.
[FAO] Food and Agricultural Organization. 1992. International conference of nutrition. http://www.fao.org [28 November 2010]
[FAO] Food and Agricultural Organization. 2004. The world tuna industry -an analysis of imports, prices, and of their combined impact on tuna catches and fishing capacity. FAO.
Farber L. 1965. Freshness Tests. Di dalam: Borgrom G, editor. Fish as Food. Vol IV. New York: Academic Press, Inc.
[FDA] Food and Drug Administration. 2001. FDA and EPA Safety Level in Regulation and Guidance, 3rd Edition. Washington DC: FDA.
[FDA] Food and Drug Administration. 2004. ORA laboratory manual, volume 4, section 9, seafood chemistry. http://www.fda.gov [23 November 2010]
[FDA] Food and Drug Administration. 2009. Chapter 27: Scombrotoxin (histamine) formation. http://www.fda.gov [16 Februari 2011]
[FDA] Food and Drug Administration. 2010. Detention without physical examination of seafood and seafood products from specific manufacturers/shippers due to decomposition and/or histamines.
http://www.fda.gov [28 November 2010]
[FDA] Food and Drug Administration. 2011. Fish and Fisheries Products Hazards and Control Guidance, Fourth Edition. Washington DC: FDA. Fletcher GC, Summers G, Winchester RV dan Wong RJ. 1995. Histamine and
histidine in New Zealand marine fish and shellfish species, particularly Kahawai (Arripis trutta). J of Aquatic Food Product Technology 4(2): 53-
44
Frank HA, Yoshinaga DA, Wai-Kit NIP. 1981. Histamine formation and honeycombing during decomposition of skipjack tuna, Katsuwonus pelamis, at elevated temperatures. Marine Fisheries Review 43: 9-14.
Frank HA dan Yoshinaga DA. 1987. Table for estimating histamine formation in skipjack tuna, Katsuwonus pelamis, at low nonfreezing temperature.
Marine Fisheries Review 49: 67-70.
Gilman E dan Lundin C. 2008. Principles and Methods to Minimize Bycatch of Sensitive Species Groups in Marine Capture Fisheries: Lessons from Commercial Tuna Fisheries. Handbook of Marine Fisheries Conservation and Management. Oxford University Press.
Guizani N, Al-Busaidy MA, Al-Belushi IM, Mothershaw A, Rahman MS. 2005. The effect of storage temperature on histamine production and the freshness of yellowfin tuna (Thunnus albacares). J Food Res 38: 215-222.
Hungerford JM. 2010. Scromboid poisoning: a review. J of Toxicon 56: 231-243. Huss HH. 1986. Fresh Fish Quality and Quality Change. Roma: FAO.
Huss HH. 1995. Quality and Quality Changes in Fresh Fish. FAO Fisheries Technical Paper 348, FAO.
Hwang CC, Lee YC, Huang YR, Lin CM, Shiau CY, Hwang DF, Tsai YH. 2010. Biogenic amines content, histamine-forming bacteria and adulteration of bonito in tuna candy products. J Food Cont 21: 845-850.
Infofish. 2002. Handling and Processing of Tuna for Sashimi and Fresh or Chilled Product. Infofish Technical Handbook 1. Kuala Lumpur: Infofish. Joshi PA dan Bhoir VS. 2011. Study of histamine forming bacteria in commercial
fish samples of Kalyan city. Int J Cur Sci Res 1 (2): 39-42.
Kanki M, Yoda T, Tsukamoto T, Shibata T. 2002. Klebsiella pneumoniae
produces no histamine: Raoultella planticola and Raoultella ornithinolytica strains are histamine producers. Applied and Enviromental of Microbiology 68 (7): 3462-3466.
Keer M, Paul L, Sylvia A, Carl R. 2002. Effect of storage condition on histamine formation in fresh and canned tuna. Victoria: Comissioned by Food Safety
Unit.
Kim BH, Lee HS, Jang YA, Lee JY, Cho YJ, Kim CI. 2009. Development of amino acid composition database for Korean foods. J of Food Composition and Analysis 22: 44-52.
Kim SH, Field KG, Chang DS, Wei CI, An H. 2001. Identification of bacteria crucial to histamine accumulation in pacific mackerel during storage. J Food Prot 64 (10): 1556–1564.
Kim SH, Price RJ, Morrissey MT, Field KG, Wei CI, An H. 2002. Occurrence of histamine-forming bacteria in albacore and histamine accumulation in muscle at ambient temperature. J of Food Microbiology and Safety 67 (4):
1515-1521.
Ko IS. 2006. Factor affecting histamine level in Indonesia canned albacore tuna (Thunnus alalunga) [tesis]. Norway: University of Tromsø.
Kung HF, Wang TY, Huang YR, Lin CS, Wu SW, Lin CM, Tsai YH. 2009. Isolation and identification of histamine-forming bacteria in tuna sandwiches. J Food Cont 20: 1013-1017.
Lampe AS dan Reijden TJK. 1984. Evaluation of commercial test system for identification of nonfermenters. Eur J Clin Microbiol 4: 301-305.
Lehane L dan Olley J. 1999. Histamine (scromboid) fish poisoning, a review in a risk-assessment framework. Canberra: National Office of Animal and Plant Health.
___________. 2000. Histamine fish poisoning revisited. J of Food Microbiology
58: 1-37.
Lerke PA, Werner SB, Taylor SL, Guthertz LS. 1978. Scombroid poisoning. The Western J of Medicine 129: 381–386.
Mattjik AA dan Sumertajaya M. 2002. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab, Jilid 1. Bogor: IPB Press.
Mendes R. 2009. Fishery Product: Quality. Safety, and Authenticity. London: Blackwell Publishing Ltd.
Middlebrooks, B.L., Toom, P.M., Douglas, W.L., Harrison, R.E. and McDowell, S. (1988) Effects of storage time and temperature on the microflora and amine development in Spanish mackerel. J of Food Science 53: 1024-1029. Murray CK, Hobbs J, Gilbert RJ. 1981. Scrombotoxin and scrombotoxin-like
poisoning from canned fish. J Hyg Camb 88: 215-220.
Niven CF, Jeffrey MB, Corlett DA. 1981. Differential plating medium for quantitative detection of histamine-producing bacteria. Applied and Environmental Microbiology 41 (1):321-322.
Önal A. 2006. A review: Current analytical methods for the determination of biogenic amines in foods. J Food Chem 103: 1475-1486.
Özoğul F dan Özoğul Y. Comparison of methods used for determination of total
basic nitrogen (TVB-N) in rainbow trout (Oncorhynchus mykiss). Turk J Zool 24: 113-120.
46
Popovic NT, Rakovac RC, Perovic IS. 2007. Commercial phenotypic test (API 20E) in diagnosis of fish bacteria: a review. Veterinary Medicina 2: 49-53.
Price RJ, Melvin EF, Bell JW. 1991. Postmortem changes in chilled round bled and dress albacore. J of Food Science 35: 318-321.
Saanin H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan I & II. Jakarta: Bina Cipta.
Sato T, Okuzumi M, Masuda T, Fujii T. 1995. Distribution and genus/spescies composition of histamine-decomposing bacteria during storage of common mackerel. Fisheries Science 61: 83-85.
Shakila RJ, Vijayalakshmi K. Jayasekaran J. 2003. Changes in histamine and volatile amine six commercially important of fish of the Thoothukkudi coast of Tamil Nadu, India stored at ambient temperature. J Food Chem
82: 347-352.
Shalaby AR. 1996. Significance of biogenic amines to food safety and human health. Food Research International 29 (7): 675-690.
Silva CCG, Ponte DJB, Dapkecivius MLNE. 1998. Storage temperature effect on histamine formation in big eye tuna and skipjack. J of Food Science 63
(4): 644-647.
Stansby ME dan Olcott HS. 1963. Composition of Fish. Di dalam: Stansby ME, Dassow JA, editor. Industrial Fishery Technology. London: Reinhold
Publishing Co. Chapman and Hall Ltd.
Steel RGD dan Torrie JH. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika: Suatu Pendekatan Biometrik: Edisi kedua. B Sumantri, penerjemah. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Sumner J, Ross T, Ababouch L. 2004. Application of Risk Assessment in The Fish Industry. Rome: FAO.
Taylor SL dan Speckhard MW. 1983. Isolation of histamine-producing bacteria from frozen tuna. Marine Fisheries Review 45: 35-39
Tiwari RP, Hoondal GS, Tewari R. 2009. Laboratory Techniques in Microbiology and Biotechnology. New Delhi: Abhishek Publication.
Trilaksani W, Bintang M, Monintja DR, Hubeis M. 2009. Asesmen semi- kuantitatif risiko histamin ikan tuna dari tempat pendaratan (transit 14). J Ilmu dan Teknologi Pangan 7 (2): 1-20.
___________. 2010. Analisis regulasi sistem manajemen keamanan pangan tuna di Indonesia dan negara tujuan ekspor. J Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia XIII (1): 63-82.
Wauters G, Avesani V, Charlier J, Janssens M, Delmée M. 2004. Histidine decarboxylase in Enterobacteriaceae revisited. J Clin Microbiol 42 (12):
5923-5924.
[WHO] World Health Organization. 2005. About risk analysis in food.
http://www.who.int [10 Januari 2011]
Widiastuti I. 2008. Analisis mutu ikan tuna selama lepas tangkap pada perbedaan preparasi dan waktu penyimpanan [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut pertanian Bogor.
[WTO] World Trade Organisation. 2003. 3.10 Techinal Barrier to Trade. New York and Geneva: United Nations.
Lampiran 1 Good Manufacturing Practice penanganan bahan baku PT Z
1. Proses penanganan sampel tuna di PT Z
Penerimaan ikan tuna dilakukan di dalam ruang penerimaan bahan baku. Ikan satu per satu diturunkan dari mobil, diukur suhunya, dan dimasukkan dalam ruang melalui sebuah loket yang dilengkapi dengan plastik curtain. Daging ikan yang diterima adalah daging yang memiliki warna merah cerah. Suhu ikan yang diterima umumnya kurang dari 0 ºC. bila mencapai suhu 3 ºC, biasanya ikan akan ditolak oleh perusahaan.
Ikan yang telah diterima di ruang penerimaan dicuci dengan menggunakan air dingin bersuhu ± 2 ºC. Air yang digunakan adalah potable water. Ikan yang telah
dicuci, kemudian dimasukkan ke dalam bak penampungan ikan selama 30 menit. Bak penampungan tersebut berisi air dan es curai yang bersuhu ≤ 3 ºC. Proses ini bertujuan untuk menjaga suhu ikan agar ≤ 3 ºC saat menunggu proses selanjutnya. Ikan yang telah ditampung dalam bak penampung, kemudian ditimbang. Ikan yang teelah ditimbang dilanjutkan ke proses filleting dengan pemotongan kepala dan
pembentukan loin. Pembuatan loin dilakukan dengan memotong tubuh ikan menjadi empat bagian dan membuang duri atau tulang yang masih menempel pada daging. Proses selanjutnya adalah pembuangan kulit dari loin, dilanjutkan dengan pembuangan daging gelap dan perapihan. Pada tahap ini dilakukan pengambilan sampel berupa daging perut (belly) dan ekor.
2. Profil PT Z
PT Z berlokasi di komplek Pelabuhan Perikanan Samudra Nizam Zachman, Jakarta. Lokasi perusahaan berdekatan dengan pelabuhan dan tempat pelelangan ikan, sehingga memudahkan proses produksi serta mendapatkan bahan baku. PT Z memiliki visi menjadi perusahaan pengolahan ikan tuna yang paling berkualitas dengan selalu memuaskan kepentingan pelanggan, karyawan, dan lingkungan sekitar, dengan misi mewujudkan pertumbuhan dan keuntungan yang berkesinambungan melalui proses pengolahan ikan tuna yang berprinsip pada zero waste atau cleaner
50
production, yaitu memanfaatkan ikan secara optimal sehingga tidak ada bagian yang
terbuang.
PT Z memfokuskan produksi produk ekspor beku, seperti loin, stick, cubes, chunk, saku dan produk sampingan, yaitu scrab dalam jumah besar. Negara tujuan
ekspor perusahaan ini adalah USA, UE, Jepang, Cina, Taiwan, dan Asia Tenggara. Data ekspor produk tuna PT Z dapat dilihat pada tabel di bawah ini.