BAB III METODE PENELITIAN
3.3 Proses Penelitian Kuantitatif
Proses yang dilakukan peneliti dalam melakukan penelitian kuantitatif ini digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3.1 Proses Penelitian Kuantitatif Sumber: Sugiyono (2019: 58)
62 3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Sugiyono (2019: 285) mengemukakan bahwa populasi adalah suatu wilayah yang terdiri dari objek/subjek yang berkarakter dan berkualitas yang sebelumnya telah ditetapkan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh karyawan ASN pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang yang berjumlah 261 orang.
3.4.2 Sampel
Menurut Sugiyono (2019: 285) sampel merupakan sebagian jumlah dari populasi yang disebutkan sebelumnya. Sampel dalam penelitian ini menggunakan Probability Sampling dengan Simple Random Sampling. Menurut Sugiyono (2019: 129)
βProbability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampelβ. Simpel Random Sampling merupakan Teknik pengambilan sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa melihat staratanya (Sugiyono, 2019: 129).
Populasi yang akan digunakan didalam penelitian ini berjumlah 261 orang responden yang merupakan karyawan ASN (Aparatur Sipil Negara) di Dinas pekerjaan umum dan tata ruang. Dengan demikian maka penelitian ini akan menggunakan Rumus Slovin (Santosa, 2021: 50) yakni sebagai berikut :
n =
π΅π+ π΅ππ
Keterangan :
n = Jumlah Sampel N = Jumlah Populasi
e = Tingkat Kesalahan Sampel (Sampling error) 10%
Jumlah populasi yang ada didalam penelitian ini sebanyak 261 orang. Perhitungan dilakukan dengan tingkat kesalahan atau sampling error sebanyak 10%. Maka dapat dihitung berdasarkan rumus yang ada diatas sebagai berikut :
n = π
1+ ππ2
n = 261
1+ 261 (0,1)2 n = 261
1+261(0,01)
n = 261
3,61 = n = 72,29 α΅ 72
63 Melihat hasil yang diperoleh saat perhitungan sampel, diperoleh angka 72,29. Untuk jumlah sampel yang diperlukan dalam mengisi kuisioner maka jumlah tersebut dibulatkan jadi berjumlah 72 orang. Jumlah responden/karyawaan yang ada pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka.
3.5 Teknik pengumpulan data 3.5.1 Sumber Data
Terdapat dua sumber data yang ada pada penelitian ini, yakni : a. Data Primer
Menurut Sugiyono (2019: 296) data primer merupakan sumber data yang mampu secara langsung memberikan data kepada pengumpul data. Dengan penggunaan data primer di penelitian ini maka data yang diperoleh sesuai dengan organisasi yang sedang diteliti dan juga bisa dijamin untuk keasliannya tersebut. Penelitian ini menggunakan data primer berupa hasil penyebaran kuesioner dan wawancara yang telah dijawab dan diisi oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang serta karyawan ASN Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang.
b. Data Sekunder
Menurut Sugiyono (2019: 296) Data Sekunder merupakan sumber yang didapat secara tidak langsung saat memberikan datanya, yakni harus melalui orang lain atau dokumen tertentu. Dalam penelitian ini data sekunder didapatkan melalui skripsi terdahulu, jurnal, buku, dan dokumen yang berisikan data yang relevan bagi penelitian.
3.5.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah langkah utama dalam melakukan sebuah penelitian yang mana tujuan awal adalah untuk mendapatkan data.
Pengumpulannya dilakukan dengan berbagai setting, sumber, dan berbagai cara. Data dapat dikumpulkan melalui setting alamiah, di laboratorium sesuai dengan metode eksperimen, dsb (Sugiyono, 2019: 296)
a. Wawancara
Wawancara adalah sebuah teknik untuk mengumpulkan data jika ingin melakukan studi pendahuluan dengan tujuan mencari/menemukan masalah yang harus diteliti, dan jika ingin mengetahui hal yang lebih mendalam (Sugiyono, 2019: 195).
Wawancara ini berguna untuk pengambilan data yang ingin secara langsung di teliti, dan sebagai informasi data yang mendalam untuk Gaya kepemimpinan
64 model ohio dan Budaya organisasi serta Kinerja karyawan pada Dinas pekerjaan umum dan tata ruang yang dijadikan sebagai bahan dasar penelitian.
b. Kuesioner
Menurut Sugiyono (2019: 199) berpendapat bahwa Kuesioner merupakan sebuah teknik pengumpulan data dengan menggunakan pertanyaan maupun pernyataan untuk dijawab oleh responden tersebut. Kuisioner adalah Teknik yang sangat efisien dalam mengumpulkan data jika mengetahui variabel yang akan diukurnya.
Pernyataan yang digunakan peneliti dalam kuisioner berbentuk pertanyaan tertutup agar memudahkan responden menjawab cepat dan memudahkan peneliti dalam menganalisis data yang diperoleh.
c. Studi Pustaka
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa buku-buku yang menunjang dan sesuai dengan judul penelitian, serta menjadikan jurnal nasional, jurnal internasional dan skripsi terdahulu sebagai referensi dalam melakukan penelitian ini.
3.6 Uji Validitas dan Reabilitas
Untuk meminimalisir kesalahan dalam melakukan perhitungan dan supaya peneliti mendapatkan data yang akurat. Maka penelitian ini menggunakan bantuan Software Statistical program of Social Science (SPSS) version 25 for windows untuk menghitung jumlah validitas dan reabilitas dari data yang akan diteliti.
3.6.1 Uji Validitas
Menurut Sugiyono (2019: 183) validitas merupakan sebuah ketepatan data yang ada pada objek penelitian dengan data yang akan diserahkan. Oleh karena itu, jika data valid menggambarkan bahwa data yang diserahkan sesuai dengan data yang ada pada organisasi tersebut. Akan tetapi Ghozali (2018: 51) mengatakan bahwa pengujian validitas digunakan untuk melakukan pengukuran valid atau tidaknya terhadap hasil suatu kuesioner. Dengan demikian, kuesioner dikatakan valid jika kuesioner dibuat sesuai dengan pengukuran yang dilakukan di suatu organisasi.
Sekaran & Bougie dalam indrawati (2015: 188) Sebagai berikut βHow well the items of the question naire measure the particular construct intended to measureβ.
Dengan demikian maka validitas menunjukan sejauh mana sebuah alat pengukuran dapat mengkur apa yang akan diukur, sehingga bisa dikatakan semakin tinggi validitas alat pengukur, maka alat tersebut semakin mengenai sasarannya.
65 Menurut Sugiyono (2019:183) mengemukakan bahwa dalam mengukur validitas suatu alat, digunakan rumus korelasi product moment pearson sebagai berikut:
ᴦ =
π (βπΏπ)β(βπΏ)(βπ)βπ.βπΏπβ(βπΏ)π.βπβππβ (βπ)π
Keterangan :
r = Kolerasi produk momen n = Jumlah responden atau sampel X = Skor total responden
Y = Skor total pernyataan
βX = Jumlah skor dalam distribusi X
βY = Jumlah skor dalam distibusi Y
Dalam hal ini kuesioner dikatakan valid apabila instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Sugiyono (2019: 175) mengatakan bahwa hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang di teliti.
3.6.2 Uji Reliabilitas
Sugiyono (2019: 175) mengatakan bahwa pengujian reliabilitas digunakan dalam memastikan responden memiliki jawaban yang konsisten dalam melakukan pengisian kuisioner. Sedangkan menurut Indrayanti (2015: 155) Reliabilitas adalah menyangkut tingkat kepercayaan dan konsistensi atau keberhasilan dari sebuah pengukuran.
Reliabilitas menjadi salah satu ciri bahwa instrumen pengukur berada dalam kategori baik.
Reliabel memiliki arti bahwa alat ukur tersebut jika dipakai dua atau lebih untuk mengukur gejala yang sama maka hendaknya menghasilkan pengukuran yang relatif sama dan konsisten Sekaran dan Bougie dalam Indrawati (2015: 155)
Menurut Ghozali (2018: 53) dalam uji reliabilitas data digunakan metode Cronbach alpha, instrument dapat dikatakan reliabel jika memiliki nilai Cronbach alpha lebih besar dari 0,60. Rumus yang digunakan untuk mengukur reliabilitas dalam penelitian ini adalah Alpha Cronbach, yang memiliki rumus sebagai berikut :
π«
π’= [
π€π€βπ
] [π β
βππ π ππ
π
]
66 Keterangan :
ππ = Reliabilitas Instrumen k = Banyaknya butir pernyataan
βπΌ2π = Jumlah varian butir π2
π‘ = Varians total Kriteria Uji Reliabilitas :
a. Apabila nilai Ξ± = 0,05 dan r β₯ 0,6 maka butir pernyataan tersebut reliabel b. Apabila nilai Ξ± = 0,05 dan r < 0,6 maka butir pernyataan tersebut tidak reliabel 3.7 Teknis Analisis Data
3.7.1 Analisis Deskriptif
Dalam melakukan analisis deskriptif maka harus menggunakan statistik deskriptif.
Sugiyono (2019: 206) mengatakan bahwa statistic deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan mendeskripsikan atau menggambarkkan data yang telah terkumpul sesuai dengan keadaan tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis deskriptif untuk mengetahui bagaimana pengaruh Gaya kepemimpinan model ohio (X1) dan Budaya organisasi (X2) terhadap Kinerja karyawan (Y) pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata ruang, dengan demikian peneliti melakukan pengukuran melalui kuesioner yang setiap pernyataannya disertai dengan lima kemungkinan jawaban yang harus diisi/dipilih oleh responden. Kemudian hasil jawaban yang didapat akan disusun untuk kriteria penilaian dari penyataan-pernyataan yang telah disebarkan. Ada beberapa kriteria penilaian disetiap pernyataan berdasarkan kepada presentase :
a. Nilai kumulatif adalah jumlah nilai dari setiap pernyataan, hasil jawaban dari 72 responden.
b. Presentase adalah nilai kumulatif setiap items yang nantinya akan dibagi dengan nilai frekuensinya dikalikan 100% agar berubah menjadi bentuk persen (%) c. Jumlah responden adalah 72 orang dengan nilai yang dimiliki oleh skala
pengukuran terbesar yaitu 5 dan skala pengukuran terkecil adalah 1. Dengan demikian hasil yang akan didapat adalah :
1) Jumlah kumulatif terbesar = 72 x 5 = 360 2) Jumlah kumulatif terkecil = 72 x 1 = 72
67 d. Menentukan nilai presentase terbesar dan terkecil :
1) Nilai presentase terbesar = πππ
πππ x 100% = 100%
2) Nilai presentase terkecil = ππ
πππ x 100% = 20%
e. Nilai rentang/jarak antara presentase terbesar dengan persentase terkecil adalah 100% - 20% = 80%. Jika nilai rentang dibagi oleh lima skala pengukuran (100% - 20%) : 5 = 16%, maka didapat nilai persentase sebesar 16%.
f. Kriteria skor interpretasi bisa dilihat pada tabel di bawah ini :
Apabila rentang yang dihasilkan antara persentase yang terbesar dan terkecil kemudian dibagi dengan lima skala pengukuran, maka akan diperoleh nilai interval persentase sebesar 16%.
TABEL 3.3
KRITERIA INTERPRETASI SKOR
No. Persentase Kriteria Penilaian
1 20% - 36% Sangat Tidak Baik
2 >36% - 52% Tidak Baik
3 >52% - 68% Cukup Baik
4 >68% - 84% Baik
5 >84% - 100% Sangat Baik
Sumber: Data Olahan Penulis (2021)
Berikut merupakan hasil kriteria menurut penilaian persentase dalam garis kontinum yang bisa dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 3. 2 Klasifikasi Kategori Penilaian Presentase Dalam Garis Kontinum Sumber: Data Olahan Penulis (2021)
68 3.7.2 Methode of successive Interval (MSI)
Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Ordinal dengan Skala Likert yang jawabannya terdiri dari yang Sangat Setuju (SS) hingga Sangat Tidak Setuju (STS). Menurut Siregar (2016: 176) data yang digunakan pada statistic parametrik bersifat interval sedangkan data yang diperoleh dalam penelitian ini berskala ordinal. Maka untuk melakukan penelitian ini, menggunakan Method of Succesive Interval (MSI). Tahapan Method of Succesive Interval (MSI) menurut Riduwan dan Kuncoro dalam (Fadhilah, 2020) adalah sebagai berikut:
a. Memperhatikan setiap butir jawaban responden hasil kuesioner yang telah dibagikan.
b. Dalam setiap pernyataan tentukan orang yang berhasil mendapat skor 1,2,3,4, dan disebut sebagai frekuensi.
c. Frekuensi dibagi dengan banyaknya jumlah responden dan hasil yang didapat disebut proporsi.
d. Menentukan nilai proporsi kumulatif dengan menjumlahkan nilai proporsi secara badminton.
e. Menggunakan tabel distribusi normal, hitung nilai Z untuk setiap proporsi kumulatif yang diperoleh
f. Menentukan nilai tinggi densitas untuk setiap nilai Z yang diperoleh dengan menggunakan tabel tinggi densitas.
g. Menentukan nilai skala dengan menggunakan rumus :
N = (Density at lower limitβDensity at upper) (Area below upper limitβArea under upper limit)
h. Tentukan nilai transformasi dengan rumus:
Y = NS + [1+ β£ πππππ β£]
3.7.3 Uji Asumsi Klasik
Untuk penjelasan dan pemaparannya bahwa dalam persamaan garis regresi linier bisa digunakan untuk mencari peralatan, dan dilakukan dengan bantuan Software Statistical program of Social Science (SPSS) version 25 for windows.
a. Uji Normalitas
Uji asumsi normalitas memiliki tujuan apakah analisis model regresi, variabel residual memiliki distribusi normal atau tidak, Ghozali (2018: 154). Sedangkan menurut Sunyoto (2013: 162) menjelaskan uji normalitas dimana akan menguji
69 data variabel bebas (X) dan data variabel terkait (Y) pada persamaan regresi yang dihasilkan. Berdistribusi normal atau distribusi tidak normal. Persamaan regresi dikatakan baik juga mempunyai data variabel bebas dan variabel terkait berdistribusi mendekati normal atau normal sama sekali.
b. Uji Multikolinearitas
Ghozali (2018: 156) mengatakan bahwa uji multikolinearitas memiliki tujuan apakah model regresi memiliki hubungan korelasi antar variabel independen.
Menurut Indrawati (2015: 190) agar bisa mendeteksi ada atau tidaknya gejala multikolinearitas dalam model regresi berganda adalah dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan nilai toleransi. Ahli berpendapat bahwa nilai toleransi kurang dari 1 atau VIF lebih dari 10 menunjukan multikolinearitas signifikan Cooper & Schindler dalam (Indrawati, 2015: 191).
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali, 2018: 158).
Menurut Indrawati (2015: 191) Uji heteroskedastis memiliki tujuan untuk melihat apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variabel dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda heteroskedastisitas.
Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk memprediksi apakah terjadi atau tidaknya heteroskedastisitas dengan melihat Grafik Scatterplot. Ada beberapa ketentuan yakni :
1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur, maka terjadi heteroskedastisitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas atau titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas atau terjadi homokedastisitas.
3.7.4 Analisis Regresi Linier Berganda
Menurut Indrawati (2015: 188) Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel independen (X1, X2, X3β¦Xn) terhadap variabel dependen (Y) secara bersamaan. Koefisien ini menunjukan seberapa
70 besar hubungan yang terjadi antara variabel independen terhadap variabel dependen.
Teknik ini merupakan sebuah pengembangan dari analisis regresi sederhana.
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh atau hubungan antara variabel independen gaya kepemimpinan model ohio (X1) dan budaya organisasi (X2) terhadap kinerja karyawan (Y).
Dibawah ini merupakan rumus untuk menghitung analisis regresi linier berganda :
Y = Ξ± + ππ πΏπ+ ππ πΏπ + e Keterangan:
Y = Kinerja karyawan
X1 = Gaya Kepemimpinan Model Ohio X2 = Budaya Organisasi
a = Konstanta
π1 , π2 = Koefisien regresi e = eror
3.8 Uji Hipotesis
3.8.1. Pengujian Secara Parsial (Uji T)
Menurut Ghozali (2018: 99) Uji t digunakan untuk menguji seberapa besar pengaruh variabel independen (bebas) terhadap variabel dependen (terikat). Penelitian ini menggunakan Uji t dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Gaya Kepemimpinan Model Ohio (X1) dan Budaya Organisasi (X2) terhadap kinerja Karyawan (Y) pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka.
Adapun langkah dalam melakukan uji t adalah sebagai berikut:
a. Merumuskan hipotesis untuk masing-masing variabel Hipotesis Variabel Gaya kepemimpinan model ohio :
H0 = Secara parsial gaya kepemimpinan model ohio tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka.
H1 = Secara parsial gaya kepemimpinan model ohio berpengaruh
signifikan terhadap kinerja pegawai pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka.
Hipotesis Variabel Budaya Organisasi :
H0 = Secara parsial Budaya Organisasi tidak berpengaruh signifikan
71 terhadap kinerja karyawan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka.
H1= Secara parsial Budaya Organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka.
b. Menentukan tingkat signifikan yaitu sebesar 5 % (0,05).
c. Membandingkan tingkat signifikan (0,05) dengan Tingkat signifikasi t, dengan kriteria berikut:
1) Apabila nilai signifikan t < 0,05 berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, variabel independen secara signifikan mempengaruhi variabel dependen.
2) Apabila nilai signifikan t > 0,05 berarti H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya, variabel independen secara signifikan tidak mempengaruhi variabel dependen.
d. Membandingkan t hitung dengan t tabel dengan kriteria sebagai berikut:
1) Jika t hitung > t tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, variabel independen secara signifikan mempengaruhi variabel dependen.
2) Jika t hitung < t tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya, variabel independen secara signifikan tidak mempengaruhi variabel dependen.
3.8.2. Pengujian Secara Simultan (Uji F)
Menurut Ghozali (2018:98), menjelaskan bahwa uji simultan (F) digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh secara bersama-sama antara variabel independen terhadap variabel dependen. Pada penelitian ini Uji F digunakan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Gaya Kepemimpinan Model Ohio (X1) dan Budaya Organisasi (X2) terhadap kinerja Karyawan (Y) pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka. Adapun cara melakukan Uji F adalah sebagai berikut:
a. Merumuskan hipotesis untuk masing-masing variabel Hipotesis Variabel Gaya Kepemimpinan Model Ohio :
H0 = Secara simultan Gaya Kepemimpinan Model Ohio tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka.
H1 = Secara simultan Gaya Kepemimpinan Model Ohio berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka.
72 Hipotesis Variabel Budaya Organisasi :
H0 = Secara simultan Budaya Organisasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka.
H1 = Secara simultan Budaya Organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka.
b. Menentukan tingkat signifikan yaitu sebesar 5 % (0,05).
c. Membandingkan tingkat signifikan (0,05) dengan Tingkat signifikasi t, dengan kriteria berikut:
1) Apabila nilai signifikan t < 0,05 berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, variabel independen secara signifikan mempengaruhi variabel dependen.
2) Apabila nilai signifikan t > 0,05 berarti H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya, variabel independen secara signifikan tidak mempengaruhi variabel dependen.
d. Membandingkan t hitung dengan t tabel dengan kriteria sebagai berikut:
1) Jika t hitung > t tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, variabel independen secara signifikan mempengaruhi variabel dependen.
2) Jika t hitung < t tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Artinya, variabel independen secara signifikan tidak mempengaruhi variabel dependen.
3.8.3. Koefisien Determinasi
Menurut Ghozali (2018: 97) Koefisien Determinasi (π 2) bertujuan untuk menguji seberapa besar kemampuan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Setelah melakukan pengobservasian kemudian dibagi menjadi beberapa sub-kelompok, melakukan regresi dalam menginvestigasi hubungan antar variabel predictor (X) dan variabel criterion (Y) untuk setiap sub-kelompok Ghozali dalam (Fadhilah, 2020). Kemudian untuk menentukan apakah ada variabel moderator, beberapa peneliti melakukan perbandingan nilai koefisien determinasi (π 2) dari setiap regresinya. Jika nilai koefisien yang dimiliki regresi lebih tinggi maka akan dianggap memiliki nilai yang lebih baik.
73 Dibawah ini merupakan rumus untuk mencari nilai koefisien determinasi (π 2) sebagai berikut :
πΎπ· = π 2 π₯ 100%
Keterangan:
KD = Nilai koefisien determinasi R2 = Nilai koefisien korelasi
Kriteria untuk menganalisis koefisien determinasi adalah:
a. Apabila koefisien determinasi mendeteksi nol (0), maka pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen lemah.
b. Apabila koefisien determinasi satu (1), maka pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen kuat.
74 DAFTAR PUSTAKA
Adamy, M. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia Teori, Praktik dan Penelitian.
Aceh: Universitas Malikussaleh.
Badeni, M. (2013). Kepemimpinan & Perilaku Organisasi. Bandung: Alfabeta.
Benjamin Bukit, T. M. (2017). Pengembangan Sumber Daya Manusia Teori, Dimensi Pengukuran, dan Implementasi dalam Organisasi. Yogyakarta: Zahir Publishing.
Dessler, G. (2020). Human Resouce Management (16th ed.). London: Pearson.
Ghozali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hasibuan, M. S. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Huseno, T. (2016). Kinerja Pegawai (Tinjauan dari Dimensi kepemimpinan dan Misi Organisasi, Budaya Organisasi dan Kepuasan kerja). Malang: Media Nusa Creative.
Indrawati. (2015). Metode Penelitian Manajemen dan Bisnis Konvergensi Teknologi Komunikasi dan Informasi. Bandung: PT Refika Aditama.
Kasmir. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia (Teori dan Praktik). Depok: PT Rajagrafindo Persada.
Liga Suryadana, M. d. (2015). Pengantar Pemasaran Pariwisata . Bandung: Alfabeta.
Mangkona., A. I. (2020). The Effect of Leadership Style, Work Motivation and Organizational Culture on Employee Performance Mediated by Job Satisfaction. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 7(8), 642 - 657. doi: http://dx.doi.org/10.18415/
ijmmu.v7i8.2007
Mangkunegara, A. A. (2019). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mu'ah, M. &. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia Profesional. Sidoarjo:
Zifatama Publisher.
Nugroho, R. E. (2019). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Stress Kerja dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan Kontrak Proyek. Jurnal Ilmiah Manajemen, olume 9, No. 2, Juni 2019 , 341 - 354. doi:DOI: dx.doi.org/
10.22441/mix.2019.v9i2.007
Rahardja., G. K. (2018). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional, Budaya Organisasi dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada
75 Karyawan PD BPR BKK Taman Pemalang). Diponegoro Journal Of Management, 7(2), 1-11. Retrieved from http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dbr
Robbins, &. J. (2017). Perilaku Organisasi Edisi 16. Jakarta: Salemba Empat.
Rohaeni, H. (2016). Model Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Terhadap Kinerja Pegawai. Jurnal BSI Ecodemica, Vol. IV No.1 April 2016, 32-47. Retrieved from https://ejournal.bsi.ac.id/ejurnal/index.php/ecodemica/article/ download/
294/pdf
Santosa, Y. M. (2021). Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan PT Angkasa Pura II Bandung. e-Proceeding of Management, 4(8), 3474 - 3485.
Sedarmayanti. (2017). Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Bandung: PT Refika Aditama.
Sinambela, L. P. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sintaasih., W. G. (2017). Pengantar Perilaku Organisasi Teori , Kasus , dan Aplikasi Penelitian. Denpasae: CV Setia Bakti.
Siregar. (2016). Statistika Deskriptif untuk Penelitian. Depok: PT Rajagrafindo.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sunyoto, D. (2013). Teori, Kuesioner, dan Proses Analisis Data Perilaku Organisasional. Yogyakarta: CAPS (Center For Academic Publishing Service).
Suryani, A. N. (2018). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan melalui Kepuasan Kerja sebagai Variabel Intervening (Studi pada PT The Univenus, Kragilan Serang Tahun 2018). Tirtayasa Ekonomika, Vol. 13, No 2 Oktober 2018, 274 - 299.
Wijaya, C. (2017). Perilaku Organisasi. Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan di Indonesia .
Wijono, S. (2018). Kepemimpinan dalam Perspektif Organisasi. Yogyakarta:
Prenamedia Group.
Yukl, G. (2013). Leadership In Organizations. London: Pearson Education, Inc.
76
LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner Penelitian
KUESIONER PENELITIAN
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN MODEL OHIO DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG KABUPATEN MAJALENGKA
Kepada Yth.
Bapak/Ibu karyawan
Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang
Dengan Hormat
Saya mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Prodi Administrasi Bisnis Universitas Telkom mengharapkan kesediaan bapak dan ibu untuk mengisi kueisioner penelitian ini. Kuesioner ini adalah alat pengambilan data dalam penyusunan skripsi saya yang berjudul. "Pengaruh Gaya Kepemimpinan Model Ohio dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Majalengka".
Informasi dan jawaban yang sedianya bapak dan ibu berikan akan DIRAHASIAKAN dan hanya akan digunakan untuk penelitian. jawaban bapak dan ibu sangat membantu kelancaran penelitian ini. Atas perhatian dan kesediaan saudara untuk mengisi kuesioner ini, saya ucapkan terimakasih.
Hormat saya,
Peneliti
77 Petunjuk pengisian kuisioner :
1. Mohon berikan jawaban dengan cara checklist (v) pada kolom jawaban yang menurut Bapak/Ibu paling benar dan sesuai. Pendapat yang anda berikan akan dinyatakan dalam skala 1 s/d 5 yang memiliki makna :
1) Sangat Setuju (SS) = 5
2) Setuju (S) = 4
3) Kurang Setuju (KS) = 3 4) Tidak Setuju (TS) = 2 5) Sangat Tidak Setuju (STS) = 1
2. Setiap satu pertanyaan yang tertera hanya membutuhkan satu jawaban saja.
3. Mohon isi jawaban yang sebenarnya dan sesuai dengan kenyataan, kuisioner ini tidak akan berpengaruh pada pekerjaan anda.
4. Terima Kasih atas partisipasi yang telah Bapak/Ibu berikan.
IDENTITAS RESPONDEN
Mohon di isi dengan cara (v) ceklist pada kolom jawaban yang telah disediakan dan memberikan jawaban secara singkat dan jelas.
Mohon di isi dengan cara (v) ceklist pada kolom jawaban yang telah disediakan dan memberikan jawaban secara singkat dan jelas.