Pada proses pengecoran operator naik ke atas truk readymix untuk membuka katup adonan beton. Operator naik dengan menggunakan tangga yang ada pada truk readymix. Setelah katup adonan terbuka beton cair keluar dan dituangkan melalui bucket yang berbentuk tabung terbuka, beton akan mengalir ke bawah. Pada saat observasi peneliti melihat bucket saluran beton terlalu terbuka, sehingga beton terpicrat keluar.
Setelah beton dituang, pekerja meratakan beton keseluruh area pengecoran dengan menggunakan cangkul, beton ditarik dari depan pekerja ke belakang dengan posisi membungkuk. Setelah beton diratakan kemudian operator vibrator memasukkan vibrator ke beton yang sudah diratakan. Mesin vibrator diletakkan di luar pengecoran, vibrator memiliki selang agar mesin bisa diletakkan jauh dari pengecoran, operator kemudian memegang kepala selang vibrator yang terbuat dari besi dan memasukkan ke dalam beton. Informan mengatakan vibrator digunakan untuk memadatkan beton, cara kerja vibrator yang menggunakan getaran akan menggerakkan adonan, udara yang biasanya berbentuk gelembung bisa keluar dengan mudah sehingga beton akan menjadi padat.
Tahap terakhir setelah beton dipadatkan adalah meratakan kembali beton agar sisi cetakan rata, digunakan papan sebagai alat untuk meratakan, pekerja memegang papan dengan posisi badan membungkuk kemudian menarik beton dari depan ke belakang sampai beton rata. Informan mengatakan potensi bahaya yang terdapat pada proses ini adalah pekerja dapat terjatuh jika tidak hati – hati saat naik ke truk readymix untuk membuka adonan, pekerja juga bisa terkena
picratan beton dan terpapar getaran dari vibrator saat memadatkan beton karena vibrator menghasilkan getaran, terpapar debu juga bisa terjadi karena dari beton yang di adon. Sedangkan berdasarkan hasil observasi, peneliti melihat penyimpangan yang terjadi selama proses pengecoran adalah pekerja terpicrat beton cair karena bucket saluran beton terlalu terbuka dan ditemukan adanya pekerja yang berdiri disamping bucket tersebut, pekerja juga terlalu membungkuk saat meratakan beton karena menggunakan papan yang terlalu pendek, pada saat melakukan pemadatan dengan alat vibrator, alat tersebut tidak dilapisi karet pada pegangannya yang terbuat dari besi sehingga operator terpapar getaran.
Sedangkan untuk upaya pengendalian, informan mengatakan upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan untuk pencegahan kecelakaan kerja adalah dengan menyediakan APD yang sesuai dengan jenis pekerjaan, jadi semua pekerja wajib menggunakan APD yang telah diberikan. Sebelum melakukan pekerjaan, setiap hari pekerja diberikan pengarahan pada saat tool box meeting terkait potensi bahaya yang ada disetiap aktivitas pekerjaan dan memasang rambu – rambu K3 di area kerja.
Penyimpangan. Proses pengecoran terdapat potensi bahaya atau penyimpangan yaitu terpicrat beton cair saat menuangkan beton, terpapar getaran saat memadatkan beton dengan vibrator, potensi bahaya ergonomi yaitu terlalu membungkuk ketika meratakan beton.
Penyebab. Berdasarkan analisis potensi bahaya pada node proses pengecoran seperti terpicrat beton cair disebabkan karena bucket saluran yang terlalu terbuka sehingga setiap beton yang dituangkan akan terpicrat keluar dan
mengenai pekerja yang berdiri dekat dengan bucket. Potensi bahaya terpapar getaran karena pegangan vibrator yang berbahan besi dan tidak dilapisi bahan karet. Potensi bahaya ergonomi disebakan oleh papan yang terlalu pendek sehingga pekerja harus membungkuk selama meratakan beton.
Akibat. Dampak yang ditimbulkan karena adanya penyimpangan atau potensi bahaya pada node proses pengecoran adalah iritasi kulit karena terpicrat beton cair, gangguan sendi,otot, syaraf dan dan pembuluh darah karena terpapar getaran, keluhan muskuletal karena terlalu lama membungkuk.
Upaya pengendalian. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan dampak yang ada yaitu terpicrat beton dengan menggunakan sarung tangan, masker, baju safety. Potensi bahaya ergonomi dapat dikendalikan dengan menggunakan alat atau papan yang lebih tinggi.
Tabel 2
Analisis Domain Proses Pembangungan Proyek Underpass Tertutup Rincian domain Hubungan sistematik Domain Buruh Bangunan Proyek
Tabel 2
Analisis Domain Proses Pembangungan Proyek Underpass Tertutup Rincian Domain Hubungan Semantik Domain Taat terhadap Program
Analisis Potensi Bahaya Node 1. Proses Penghancuran Aspal
Penghancuran aspal merupakan proses pertama pada pembuatan underpass tertutup, pada proses ini dimulai dari tahapan persiapan alat sampai tahapan inti
pekerjaan yaitu mengancurkan aspal dengan alat berat excavator yang dipasang mata hummer. Pada proses ini terdapat potensi bahaya tergores peralatan yang tajam yaitu sekop yang digunakan untuk menggeser dan mencongkel aspal, tangan terpukul alat yaitu palu dan potensi bahaya ergonomi karena pekerja terlalu membungkuk pada saat melakukan aktivitas kerja.
Proses penghancuran aspal yang menggunakan sekop sebagai alat untuk mencongkel aspal yang dihancurkan dan masil lengket dengan tanah bisa menjadi potensi bahaya ketika pekerja bertindak tidak aman saat menggunakan sekop seperti tergores sekop yang tajam. Potensi tergores benda tajam ini dapat terjadi dikarenakan adanya faktor penyebab kondisi bahaya (unsafe condition) seperti terburu – buru atau tergesa – gesa dalam melakukan pekerjaan dan tidak menggunakan APD sarung tangan. Pada proses penghancuran aspal, pekerja menggunakan sekop dengan cara terburu – buru dan pekerja ditemukan tidak menggunakan APD safety shoes sehingga ujung sekop yang tajam menggores kaki pekerja. Informan mengatakan pekerja bisa tergesa – gesa atau terburu – buru karena pekerja tidak terampil dalam menggunakan alat dan tidak menaati time scedule atau kemungkinan adanya job mendadak dan cuaca buruk yang mendadak.
Selaras dengan pernyataan ILO dalam Riyadina (2006) yang mengungkapkan unsur penyebab utama kecelakaan 85% disebabkan oleh faktor manusia dan 15% merupakan faktor kondisi yang berbahaya. Dan sesuai dengan hasil evaluasi data kecelakaan kerja ESDM (2014) diketahui bahwa ada beberapa penyebab kecelakaan, antara lain kategori tindakan tidak aman (TTA) di
antaranya karena tidak mematuhi prosedur (38%), tidak pakai alat pelindung diri (12%) posisi kerja tidak benar (11%) dan penggunaan alat yang tidak tepat (11%)
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan potensi bahaya adalah menghindari kontak langsung dengan sisi yang tajam serta menggunakan APD safety shoes.
Proses pemasangan mata humer pada penghancuran aspal menggunakan alat spanner untuk membuka dan mengunci baut. Pekerja atau teknisi yang mengunci baut agar pemasangan lebih ketat maka teknisi atau pekerja menggunakan palu untuk memukul spanner, posisi tangan kiri pekerja memegang spanner yang berukuran sekitar 25cm kemudian tangan kanan memegang palu dan memukul spanner. Pada tahapan ini teknisi atau pekerja berpotensi terpukul palu yang digunakan, informan mengatakan terpukul palu dapat disebabkan karena segala peralatan yang untuk keperluan excavator biasanya berlumur oli sehingga tangan akan licin dan saat palu dipegang tidak akan terarah dan menyebabkan pukulan terhadap tangan yang menyebabkan luka memar. Terpukul palu merupakan potensi bahaya yang bersumber dari sikap kerja ( unsafe condition), berdasarkan penelitian Yuliani, dkk (2010) yang menyatakan pekerja yang terpukul palu menyebabkan memar pada bagian tubuh yang terpukul palu.
Penyebab terpukul palu juga disebakan karena pekerja sering kali mengabaikan pemakaian alat pelindung diri seperti pemakaian sarung tangan. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan APD sarung tangan.
Pekerja yang mencongkel dan menggeser aspal ditemukan pekerja melakukan pekerjaan dengan posisi terlalu membungkuk sehingga memiliki potensi bahaya ergonomi. Informan mengatakan pekerja yang terlalu membungkuk dikarenakan tidak terampil saat menggunakan alat karena posisi yang baik saat mencongkel dan mengangkat aspal adalah dengan posisi badan dan alat 45° kemudian pada saat menancapkan sekop sebaiknya pekerja menginjak bagian sisi kiri sekop sehingga beban badan membantu sekop.
Aktifitas mengangkat dan mencongkel aspal membutuhkan kekuatan otot sehingga pekerja yang membutuhkan posisi dan tenaga yang tepat. Selain menyebabkan kelelahan, pekerjaan manual mencongkel dan menggeser aspal berpotensi menimbulkan risiko terhadap bahaya fisik dalam hal keluhan nyeri pinggung, punggung, bahu, dll atau dikenal musculoskeletal disorders (Ayoub &
Dampsey, 1999). Banyak pekerja yang kurang memperhatikan permasalahan ini, padahal akibatnya sangat fatal pada diri pekerja. Bagaimanapun, teknik terbaik dalam mengangkat adalah pengangkatan secara diagonal. Kaki sebaiknya memisah, dengan satu kaki sedikit ke depan dari kaki yang lain. Ini memberikan basis penyangga yang lebar, lebih stabil, lebih bertenaga, dan lebih kuat. Tekuk lutut dan berjongkok, jaga punggung tetap lurus dan kepala juga lurus selama mengangkat. Posisi ini memberikan kekuatan yang lebih untuk otot-otot tungkai yang lelih luas dan menjaga keseimbangan punggung anda. Dan tidak dianjurkan mengangkat dalam kondisi tubuh membungkuk. Cara mengangkat yang salah dengan pembebanan yang tiba-tiba dapat menyebabkan robeknya bagian luar lempeng. Keadaan ini akan mengakibatkan bagian dalam dari lempeng menonjol
keluar serta menekan saraf-saraf yang berada di sekitarnya. Hal tersebut merupakan penyebab keluhan sakit Punggung bagian bawah dan kelumpuhan Anies (2005).
Analisis Potensi Bahaya Node 2. Proses Penggalian Tanah
Penggalian tanah merupakan tahapan selanjutnya dari proses pembuatan underpass tertutup. Pada tahapan ini pekerja menggali tanah dengan menggunakan excavator type backhoe yang memiliki bucket berbentuk garpu untuk mengorek tanah, sebagian pekerja menggeser tanah yang di gali dengan menggunakan cangkul. Pada tahapan ini terdapat potensi bahaya yang diakibatkan dari penyimpangan yang terjadi yaitu kurang pencahayaan, terpapar bising, potensi bahaya ergonomi karena pekerja melakukan aktivitas dengan posisi terlalu membungkuk.
Kurang pencahayaan disebabkan karena area kerja yang berada di terowongan dengan panjang 43m dan tidak di pasang lampu tambahan. Kondisi kurang pencahayaan dapat menyebabkan kurangnya ketajaman dan konsentrasi penglihatan pada pekerja. Menurut Suma’mur (2009), Penerangan yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat objek yang akan dikerjakan secara jelas, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu. Permasalahan penerangan meliputi kemampuan manusia untuk melihat sesuatu, karakteristika dari indra penglihat, upaya-upaya yang dilakukan agar dapat melihat objek dengan lebih baik dan pengaruh penerangan termasuk pencahayaan terhadap lingkungan. Maka upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan bantuan pencahayaan dari listrik agar pekerja dapat melakukan pekerjaan dengan baik.
Proses penggalian tanah yang menggunakan alat berat yaitu excavator akan menimbulkan bising dari mesin. Pekerja lebih banyak terpapar bising karena area kerja yang berada di terowongan sehingga suara tidak menyebar keluar ruangan. Menurut Suma’mur (2009), bising diartikan sebagai semua suara/ bunyi yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat – alat proses produksi atau alat – alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran.
Menurut Tana (2002), kebisingan merupakan salah satu faktor fisik lingkungan kerja yang dapat menimbulakan gangguan pendengaran (audiotory) dan extra audiotory seperti stres kerja/ psikologi, hipertensi, kelelahan kerja dan perasaan tidak senang (abboyance).
Intensitas kebisingan dan waktu paparan perhari yang diperbolehkan tidak melebihi Nilai Ambang Batas yaitu 85dB untuk 8 jam pemaparan. Proyek pembangunan underpass Titikuning memiliki jam kerja mulai dari jam 8.00 – 18.00, hampir semua jenis pekerjaan pembangunan underpass menggunakan alat berat excavator sehingga pekerja akan terpapar bising selama penggunaan alat berat, namun karena pekerjaan proyek merupakan pekerjaan berjalan maka pekerja akan berpotensi terpapar bising lebih kecil dibandingkan dengan pekerjaan yang berulang – ulang terpapar bising. Suara bising yang ditimbulkan dari alat kerja tetap akan mengganggu selama pekerjaan berlangsung. Kebisingan dapat menimbulkan dampak berupa gangguan komunikasi, rasa tidak nyaman, gangguan penurunan fungsi pendengaran. Pengendalian potensi bahaya untuk mengurangi paparan bising bisa dilakukan dengan penggunaan APD ear plug, perawatan dan pemeliharaan mesin secara periodik.
Tanah digali dengan excavator maka sebagian pekerja menggeser tanah galian ke area lain untuk di kumpulkan. Pekerja menggeser tanah galian dengan menggunakan sekop menimbulkan sikap kerja yang tidak ergonomi yaitu posisi tubuh yang salah dan aktivitas yang berulang ulang pada saatmenggunakan sekop untuk menggeser tanah galian ke area lain. Berdasarkan penelitian Sarmauly (2009), pekerjaan dengan beban yang berat dan perancangan alat yang tidak ergonomis pada pekerja pabrik mengakibatkan pengerahan tenaga yang berlebihan dan postur yang salah seperti memutar dan membungkuk menyebabkan risiko terjadinya MSDs dan kelelahan dini. Upaya pengendalian yang dpaat dilakukan adalah dengan rotasi kerja dan melakukan peregangan disela-sela kerja.
Analisis Potensi Bahaya Node 3. Proses Pemadatan Tanah
Proses pemadatan tanah dilakukan dengan menggunakan roller. Pada saat roller meratakan tanah pekerja lain menyiramkan tanah dengan menggunakan sekop dan posisi pekerja terlalu tinggi mengangkat sekop sehingga terdapat potensi bahaya ergonomi.
Pekerja menyiramkan tanah dengan menggunakan sekop ke area pemadatan tanah terdapat potensi bahaya yang bersumber dari sikap kerja yang tidak ergonomi. Informan mengatakan posisi kerja saat mengangkat sekop sebaiknya tidak melewati area perut sehingga otot pekerja tidak terlalu memberikan tenaga yang lebih saat menyiramkan tanah.
Kegiatan memindahkan beban secara manual dengan frekuensi yang sering dan jangka waktu yang lama akan menyebabkan proses rusaknya tulang
belakang (Eko Nurmianto, 2003). Masalah tersebut lazim dialami para pekerja yang melakukan gerakan yang sama dan berulang secara terus menerus.
Analisis Potensi Bahaya Node 4. Proses Pemotongan Beton Pile
Proses pemotongan beton pile adalah proses selanjutnya dalam pembuatan pelat underpas tertutup. Pada proses ini beton pile yang dihancurkan adalah beton pile yang muncul diatas tanah saat pemasangan bore pile. Beton yang dihancurkan dengan menggunakn alat jack hummer akan menimbulkan potensi bahaya terpaar getaran jack hummer, mata kemasukan debu beton, tergores ujung batang pile dan sikap kerja yang tidak ergonomi karena posisi membungkuk selama bekerja.
Terpapar getaran bersumber dari penggunaan jack hummer yang bekerja dengan tekanan dan getaran agar benda yang keras bisa dihancurkan. Semakin keras benda yang dihancurkan maka getaran akan semakin dinaikkan.
Berdasarkan hasil wawancara, terpapar getaran berasal dari getaran yang di naikkan karena kondisi beton yang sangat keras dan pegangan jack hummer yang berbahan plastik dan tidak dilapisi dengan bahan karet.
Penggunaan mesin dan peralatan kerja mekanis yang dijalankan oleh motor penggerak akan menimbulkan getaran yaitu gerakan yang teratur dari benda atau media dengan arah bolak balik dari kedudukan keseimbangannya. Getaran ini menyebar kepada lingkungan dan merupakan bagian dari tenaga yang sumbernya adalah mesin atatu peralatan mekanis. Sebagian dari kekuatan mekanis atau peralatan kerja disalurkan kepada tubuh pekerja atatu benda yang terdapat di tempat kerja dan lingkungan kerja dalam bentuk ketaran mekanis. Getaran yang ditimbulkan oleh peralatan mesin apabila menghantar ke tubuh manusia melalui
tangan, lengan, kaki, atau anggota tubuh lainnya yang akan menimbulkan gangguan kenyamanan sampai gangguan kesehatan (Suma’mur, 2009).
Upaya pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan getaran adalah dengan melapisi pegangan jack hummer dengan bahan karet dan menggunakan APD sarung tangan.
Pekerja atau operator mengancurkan beton, informan mengatakan karena efek getaran dan tekanan yang kuat, debu beton menyebar dan masuk ke mata pekerja yang tidak menggunakan APD safety goggles, beton padas iang hari juga akan lebih getas/ rapuh karena pengaruh panas sehingga debu akan semakin banyak menyebar. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan dampak potensi bahaya yang ada adalah dengan menggunakan APD safety goggles.
Beton pile yang sudah dihancurkan, maka batang pile dibersihkan karena bekas tanah yang ada pada batang pile akibat pengeboran, batang pile dibersihkan dari tanah untuk diratakan dengan menggunakan excavator agar batang pile sejajar dengan pelat underpass tertutup. Pekerja yang membersihkan batang pile dengan menggunakan alat besi yang pendek sehingga pekerja terlalu membungkuk saat membersihkan berpotensi tergores batang pile dan mengalami keluhan muskuluskeletal akibat sikap kerja yang tidak ergonomi. Tergores batang pile disebabkan oleh gerakan bolak balik saat membersihkan batang pile, posisi tangan yang berada disisi batang pile dan tidak menggunakan sarung tangan akan tergores batang pile. Sikap kerja yang tidak ergonomi yaitu posisi terlalu membungkuk karena besi yang digunakan untuk membersihkan batang pile terlalu
pendek mengakibatkan pekerja dapat mengalami keluhan muskuluskuletal. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan dampak adanya potensi bahaya tergores adalah dengan menggunakan APD sarung tangan, sedangkan untuk sikap kerja yang tidak ergonomi yaitu membungkuk, upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah mengganti alat yang digunakan untuk membersihkan dengan yang lebih panjang dan melakukan peregangan di sela-sela kerja.
Analisis Potensi Bahaya Pada Node 5. Proses Pemasangan Bekisting
Beksiting merupakan cetakan beton yang disisi dengan beton cair.
Bekisting dirakit dengan bahan balok dan triplek. Bahan tersebut dipotong sesuai ukuran cetakan yang dibuhkan dengan menggunakan gergaji sebagai pemotong.
Berdasarkan hasil penelitian, pekerja yang memotong kayu dan triplek terdapat potensi bahaya tergores gergaji yang tajam, terpapar debu kayu, mata kemasukan serbuk kayu, tertimpa besi, tertimpa palu.
Pekerjaan yang memotong kayu dan balok juga berpotensi mata kemasukan serbuk kayu dari pemotongan kayu yang menggunakan gergaji.
Informan mengatakan mata pekerja yang kemasukan serbuk kayu karena posisi pekerja lebih rendah dari balok kayu yang digergaji sehingga serbuk kayu jatuh ke mata pekerja yang tidak emnggunakan APD.
Upaya pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan potensi bahaya mata kemasukan serbuk kayu adalah dengan menggunakan safety goggles dan posisi pekerja harus lebih tinggi dari balok kayu yang di potong.
Pemasangan bekisting di area yang tinggi maka digunakan scaffolding sebagai perancah pekerja dan material lainnya. Scaffolding adalah alat perancah yang terbuat dari besi yang berbentuk pipa yang disusun dan dipasang agar bisa menopang pekerja dan material lainnya yang digunakan pada pekerjaan yang tinggi. Pada saat pemasangan scaffolding, potensi bahaya tertimpa besi karena pekerja yang bertindak tidak aman saat memasang besi. Informan mengatakan scaffolding bisa lepas dan menimpa pekerja karena tidak terampil saat memasang scaffolding seperti pemasangan kepala scaffolding tidak tepat sehingga penyambung besi bergeser dan jatuh sehingga menimpa pekerja dan mengakibatkan luka robek. Penggunaan APD seperti safety shoes dapat mengurangi dan menghilangkan dampak dari tertimpa beban berat.
Pemasangan scaffolding, perancah ini disusun dan diletakkan diatas pelat.
Pada saat pemasangan perancah ini kondisi pelat sangat lembek dan tidak rata akibat tanah galian yang berlumpur sehingga ketika pekerja naik, perancah akan goyang dan tidak stabil, informan mengatakan pada proyek ini aliran hujan sementara tidak dikendalikan. Material yang berada diatas scaffolding akan jatuh dan menimpa pekerja yang berada dibawah sehingga dapat mengakibatkan cidera pada pekerja. Tertimpa merupakan klasifikasi kecelakan kerja menurut jenis kecelakaan (Tarwaka, 2014). Berdasarkan data dari Komitmen Rencana Aksi Keselamatan Konstruksi Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), pada 20 februari 2018 terjadi kecelakaan konstruksi yaitu jatuhnya bekisting pier head (proyek tol becakayu) dengan jumlah korban sebanyak 6 orang luka-luka.
Pekerja naik ke astas scaffolding, maka triplek dan balok akn disambungkan dengan menggunakan paku dan palu. Pekerja berpotensi mengalami kecelakaan tertimpa palu jika pekerja bertindak tidak aman saat menggunakan palu sehingga palu jatuh dan menimpa kaki pekerja yang hanya menggunakan sendal jepit menyebabkan kaki pekerja mengalami luka robek.
Tertimpa palu ini disebabkan karena pekerja tidak berhati – hati saat memegang palu sehingga kaki pekerja terluka. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan safety shoes ketika bekerja.
Analisis Potensi Bahaya Node 6. Proses Pemasangan Besi Tulangan
Pembuatan pelat underpass tertutup agar kuat maka dipasangkan besi tulangan sebelum pengecoran. Tahapan pertama pada proses pemasangan besi tulangan adalah pabrikasi besi yang terdiri dari pemotongan dan pembengkokan besi tulangan dengan menggunakan alat bar cutter dan bar bender. Pekerja yang melakukan sikap kerja tidak aman saat menggunakan alat bar bender akan terjepit alat penjepit. Pada saat observasi peneliti melihat posisi tangan pekerja saat menggunakan alat tersebut sangat dekat dengan titik bagian penjepit alat dan pekerja juga ditemukan tidak menggunakan APD sarung tangan saat bekerja.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurnagi dan menghilangkan dampak dari adanya potensi bahaya adalah dengan menggunakan sarung tangan saat bekerja.
Terjepit benda atau alat dapat mengakibatkan memar. Menurut International Labour Organization dalam Tarwaka (2014), terjepit merupakan klasifikasi jenis kecelakaan kerja menurut jenis kecelakaan. Beberapa peralatan
yang digunakan pada proyek underpass adalah peralatan yang memiliki titik jepitan, seperti spanner.
Pemotongan besi dengan menggunakan alat bar cutter, potensi bahaya terpapar percikan api karena proses pemotongan besi. Pekerja yang terlalu lama terpapar dan tidak menggunakan APD sarung tangan akan mengalami luka bakar.
Upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan APD sarung tangan.
Besi tulangan yang sudah dipasang, kemudian diikat dengan menggunakan kawat. Pekerja yang bertindak tidak aman saat mengikat besi dan tidak menggunakan sarung tangan akan tertusuk kawat dan mengakibatkan luka tusuk.
Besi tulangan yang sudah dipasang, kemudian diikat dengan menggunakan kawat. Pekerja yang bertindak tidak aman saat mengikat besi dan tidak menggunakan sarung tangan akan tertusuk kawat dan mengakibatkan luka tusuk.