SKRIPSI
Oleh
NAOMI PEBRIANA HUTAURUK NIM. 141000105
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
NAOMI PEBRIANA HUTAURUK NIM. 141000105
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
iv TIM PENGUJI SKRIPSI
Ketua : Eka Lestari Mahyuni, S.K.M., M.Kes.
Anggota : 1. dr.Halinda Sari Lubis, M.K.K.K.
2. Isyatun Mardiyah Syahri, S.K.M., M.Kes.
v
Potensi Bahaya pada Pekerja Proyek Underpass Titikuning PT. Hutama Karya Medan Tahun 2018” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, April 2019
Naomi Pebriana Hutauruk
vi
kecelakaan kerja. Pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan menganalisis setiap potensi bahaya pada setiap proses dengan metode Hazard and Operability Study (HAZOPS). Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap informan dan melakukan observasi terhadap objek yang diteliti yaitu potensi bahaya dan jumlah informan sebanyak lima orang dengan menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi bahaya yang paling tinggi terdapat node lima yaitu proses pemotongan pemasangan bekisting dan sumber bahaya paling berisiko tinggi bersumber dari sikap pekerja yaitu pekerja tidak menggunakan APD lengkap sesuai dengan jenis pekerjaan, tidak melakukan pekerjaan sesuai metode kerja, pekerja bertindak tidak aman saat bekerja. Dampak paling berisiko dari adanya potensi bahaya tersebut adalah tertimpa besi, palu dan material yang menyebabkan luka robek pada pekerja dan terpapar getaran. Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan untuk mengatasi potensi bahaya adalah memberikan APD sesuai jenis pekerjaan, memberikan pengarahan tentang K3 sebelum bekerja, melakukan inspeksi alat, memasang rambu – rambu di area kerja dan melakukan pengawasan selama jam operasi kerja. Peneliti menyarankan kepada perusahaan untuk melakukan sosialisasi SOP dan pemajangan SOP disekitar area kerja, penambahan APD sarung tangan kulit kepada pekerja yang terpapar getaran, melakukan pengendalian engineering control dengan melapisi pegangan jack hummer dan vibrator berbahan karet dan untuk pekerja supaya melakukan pekerjaan sesuai dengan instruksi dan metode kerja, memakai APD yang lengkap sesuai jenis pekerjaan.
Kata kunci: HAZOPS, potensi bahaya, underpass
vii
analyzing each hazard potential in each process by the Hazard and Operability Study (HAZOPS) method. This study is qualitative by holding deep interview toward informants and conducting the observations to object under study, it is the hazard potential in each work process using the HAZOPS approach with five informants by using purposive sampling at PT. Hutama Karya. The results of this study indicate the highest potential hazards found at node five, namely the process of cutting the formwork installation and the most high risk source of danger derived from the attitude of workers, namely workers do not use complete PPE according to the type of work, do not do work according to work methods, workers act unsafe work. The most risky impacts of the potential hazards are iron, hammer and material that causes torn wounds to workers and exposure to vibration. Control efforts by the company to overcome potential hazards are to provide PPE according to the type of work, provide guidance on K3 before each work, conduct inspection tools, install signs in the work area and carry out supervision during working hours. Researchers suggest company to socialize and display the SOP and conducting safety and supervision training to the supervisors and foremen, equiping the worker with safety glasses, face shields, leather gloves particularly for concrete pile cutting and iron fabrication worker, leather gloves for jack hammer operator and vibrator are either, doing the engineering control by coating by rubber jack hammer and vibrator handles and keep working according to instructions and work methods, using complete PPE according to the type of work.
Keywords: HAZOPS, hazard potential, underpass
viii
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Adapun judul skripsi adalah
“Analisis Potensi Bahaya pada Pekerja Proyek Underpass Titikuning PT Hutama Karya Medan Tahun 2018”. Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara.
Banyak pengalaman yang diperoleh penulis selama dalam menyelesaikan skripsi ini dan semua itu berkat bantuan serta dukungan dari berbagai pihak.
Sehingga pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Ir. Erna Mutiara, M.Kes. selaku Dosen Pembimbing Akademik Penulis di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes. selaku Ketua Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Sumatera Utara .
5. Eka Lestari Mahyuni, S.K.M., M.Kes. selaku Dosen pembimbing yang telah banyak memberikan masukan dan arahan dalam menyelesaikan dan menyempurnakan skripsi ini.
ix
7. Isyatun Mardiah, S.K.M., M.Kes. selaku Dosen Penguji II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan masukan serta saran-saran kepada penulis dalam perbaikan skripsi ini.
8. Seluruh dosen dan staf pegawai di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
9. Direktur PT Hutama Karya yang telah memberikan izin penelitian dalam penulisan skripsi ini.
10. Teristimewa kepada orang tua tercinta, Josrin Hutauruk dan Nursinda Situmeang, abang, kakak, adik, Paman Martua Lambas Hutauruk, Bibi Tiambun Nainggolan yang telah memberikan kasih sayang yang begitu besar dan kesabaran dalam mendidik dan memberi dukungan kepada penulis.
11. Teman seperjuagan KKN, PBL dan LKP yang telah memberikan motivasi, semangat dan doa kepada penulis.
12. Teman seperjuangan FKM USU 2014, sahabat penulis dan keluarga besar yang telah mendukung, memberikan motivasi, semangat dan doa kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penelitian skripsi ini. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis
x
Medan, April 2019
Naomi Pebriana Hutauruk
xi
Halaman Persetujuan i
Halaman Penetapan Tim Penguji ii
Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii
Abstrak iv
Abstract v
Kata Pengantar vi
Daftar Isi ix
Daftar Tabel xii
Daftar Gambar xiii
Daftar Lampiran xiv
Riwayat Hidup xv
Pendahuluan 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 8
Tujuan Penelitian 8
Manfaat Penelitian 8
Tinjauan Pustaka 10
Potensi Bahaya 10
Definisi potensi bahaya 11
Jenis bahaya 11
Sumber informasi bahaya 21
Kecelakaan Kerja 22
Pengertian kecelakaan kerja 22
Faktor – faktor penyebab kecelakaan kerja 22
Kalsifikasi kecelakaan kerja 23
Kerugian kecelakaan kerja 26
Pencegahan kecelakaan kerja 26
Identifikasi Bahaya 29
Pengengertian identifikasi bahaya 29
Tujuan identifikasi bahaya 31
Teknik identifikasi bahaya 32
Pemilihan teknik identifikasi bahaya 33
Hazard and Operability Study (HAZOPS) 36
Pengertian HAZOPS 36
Tujuan penggunaan HAZOPS 36
Kosakata yang digunakan dalan HAZOPS 38
Proses kajian HAZOPS 39
Proyek Konstruksi 42
xii
Kerangka Berpikir 52
Metode Penelitian 53
Jenis Penelitian 53
Lokasi dan Waktu Penelitian 53
Lokasi penelitian 53
Waktu penelitian 53
Subjek dan Objek Penelitian 53
Definisi Konsep 54
Metode Pengumpulan Data 55
Metode Analisis Data 56
Hasil Penelitian dan Pembahasan 60
Profil Perusahaan 60
Gambaran Pembangunan Underpass Tertutup 60
Penghancuran aspal 61
Penggalian tanah 62
Pemotongan beton pile 62
Pemadatan tanah 63
Pemasangan bekisting 63
Pemasangan besi tulangan 64
Pengecoran 64
Analisis Potensi Bahaya dengan Menggunakan HAZOPS 65
Node 1 proses penghancuran aspal 66
Node 2 proses penggalian tanah 68
Node 3 proses pemadatan tanah 70
Node 4 proses pemotongan beton pile 72
Node 5 proses pemasangan bekisting 75
Node 6 proses pemasangan besi tulangan 78
Node 7 proses pengecoran 81
Analisis Potensi Bahaya Node 1 Proses Penghancuran Aspal 85 Analisis Potensi Bahaya Node 2 Proses Penggalian Tanah 89 Analisis Potensi Bahaya Node 3 Proses Pemadatan Tanah 91 Analisis Potensi Bahaya Node 4 Proses Pemotongan Beton Pile 92 Analisis Potensi Bahaya Node 5 Proses Pemasangan Bekisting 94 Analisis Potensi Bahaya Node 6 Proses Pemasangan Besi Tulangan 96 Analisis Potensi Bahaya Node 7 Proses Pengecoran 97
Keterbatasan Penelitian 98
Kesimpulan dan Saran 99
xiii
xiv
1 Kosakata yang Digunakan dalam HAZOPS 38
2 Analisis Domain Proses Pembangunan Proyek-
Underpass Tertutup 84
xv
1 Program identifikasi bahaya sesuai kegiatan 35 2 Proses kajian HAZOPS 39
3 Kerangka berfikir 52
xvi
1 Pedoman Wawancara 105
2 Hasil Wawancara 106
3 Tabel Analisis HAZOPS 117
4 Surat Izin Penelitian 124
5 Surat Balasan Izin Penelitian 125
6 Dokumentasi 126
xvii
Februari 1996 di Tarutung Bolak Kecamatan Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Beragama Kristen Protestan, bertempat tinggal di Jalan Jamin Ginting gang Medan Area no.14, Padang Bulan Medan. Penulis merupakan anak keempat dari enam bersaudara dari pasangan Ayahanda J. Hutauruk dan Ibunda N. Situmeang.
Pendidikan formal penulis dimulai di pendidikan dasar SDN 155699 Tarutung Bolak 1 pada Tahun 2002-2008, pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Sorkam pada Tahun 2008-2011, pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Sorkam Barat pada Tahun 2011-2014. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara pada peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Medan, April 2019
Naomi Pebriana Hutauruk
1
Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga kerja yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Dengan menerapkan teknologi pengendalian Keselamatan dan Kesehatan Kerja, diharapkan tenaga kerja akan mencapai kesehatan fisik, daya kerja, dan tingkat kesehatan yang tinggi. Keselamatan dan Kesehatan Kerja juga dapat diharapkan untuk menciptakan kenyamanan kerja dan keselamatan kerja yang tinggi. Unsur yang ada dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja tidak terpaku pada faktor fisik, tetapi juga mental, emosional dan psikologi.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani, dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja maka para pihak diharapkan dapat melakukan pekerjaan dengan aman dan nyaman. Pekerjaan dikatakan aman jika apapun pekerjaan yang dilakukan pekerja tersebut risiko yang dapat muncul dapat dihindari. Pekerjaan dikatakan nyaman jika para pekerja bersangkutan dapat melakukan pekerjaan dengan merasa nyaman dan betah, sehingga tidak mudah lelah.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai usaha untuk menciptakan perlindungan dan keamanan dari berbagai risiko kecelakaan dan bahaya, baik fisik, mental maupun emosional terhadap pekerja, perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Dengan adanya penerapan teknologi pengendalian Keselamatan dan Kesehatan Kerja, diharapkan tenaga kerja akan mencapai ketahanan fisik dan
memiliki tingkat kesehatan yang tinggi (Cecep, D, 2014).
Kecelakaan kerja dapat kita hindari dengan mengetahui dan mengenal berbagai potensi – potensi bahaya yang ada di lingkungan kerja. ILO (1986) dalam Anugrah (2009), mengidentifikasi potensi bahaya atau bahaya kerja (work Hazard) adalah suatu sumber potensi kerugian atau suatu situasi yang berhubungan dengan pekerja, pekerjaan dan lingkungan kerja yang berpotensi menyebabkan gangguan/ kerugian.
Potensi bahaya atau yang disebut hazard terdapat hampir di seluruh tempat kerja. Keberadaan bahaya ini dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan atau insiden yang membawa dampak terhadap manusia, peralatan, material dan lingkungan (Ramli, 2010). Menurut PERMENAKER No. 04 tahun
1993, kecelakaan kerja merupakan suatu kejadian kecelakaan yang berkaitan dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, serta kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang bisa atau wajar dilalui.
Kegiatan analisis bahaya merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengenali dan mengidentifikasi serta menganalisis potensi bahaya di tempat kerja yang menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Kegiatan identifikasi bahaya memiliki tujuan untuk mengurangi dan meminimalisasi risiko, agar dapat mencegah dan menanggulangi kecelakaan agar tidak terjadi lagi dimasa yang akan datang. Pada kebanyakan operasi, bahaya-bahaya akan dikaitkan dengan mesin- mesin dan peralatan-peralatan, pusat kegiatan, perangkat penyaluran tenaga, sumber energi berbahaya, area bukan tempat kerja di sekeliling mesin-mesin,
pekerjaan pelayanan dan pemeliharaan, serta pekerja-pekerja lain yang berdekatan (Rijanto, 2011).
Proses produksi, peralatan atau mesin dan tempat kerja yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk selalu mengandung potensi bahaya tertentu, yang apabila tidak mendapatkan perhatian secara khusus dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Potensi bahaya ini berasal dari berbagai kegiatan atau aktivitas dalam pelaksanaan operasi pekerjaan atau berasal dari luar proses kerja (Tarwaka, 2014). Potensi bahaya tersebut, di eliminasi untuk menghilangkan risiko kecelakaan yang akan terjadi, apabila bahaya tersebut tidak bisa dihilangkan, maka tindakan pengendalian harus diimplementasikan untuk meminimalkan potensi bahaya sampai risikonya dapat diterima oleh pekerja (Ramli, 2010).
Potensi bahaya atau hazard terdapat disetiap tempat dimana dilakukan satu aktivitas, baik di rumah, dijalan maupun di tempat kerja, apabila hazard tersebut tidak dikendalikan dengan tepat akan dapat menyebabkan kelelahan, sakit, cedera, dan bahkan kecelakaan yang serius (Tarwaka, 2014).
Konstruksi merupakan salah satu sektor yang memiliki risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Berbagai penyebab utama kecelakaan kerja pada proyek konstruksi adalah hal-hal yang berhubungan dengan karakteristik proyek konstruksi yang bersifat unik yaitu lokasi kerja yang berbeda-beda, terbuka, dipengaruhi cuaca, waktu pelaksanaan yang terbatas, dinamis, menuntut ketahanan fisik yang tinggi serta banyak menggunakan tenaga kerja yang tidak terlatih, melibatkan tenaga kerja yang cukup besar serta industri konstruksi mempunyai bahaya dan risiko yang banyak pada setiap jenis pekerjaannya.
Bahaya tersebut antara lain terjatuh, tertimpa benda, terkena sengatan listrik,dan kebakaran. Dengan karakteristik dan ruang lingkup seperti diatas industri konstruksi merupakan salah satu yang berkontribusi penyebab kecelakaan kerja (Yanto, A, 2009).
Proyek konstruksi ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan proyek lainnya. Perbedaan itu sangat terlihat karena disamping membutuhkan sumber daya seperti manpower, material, machines, money, method, proyek konstruksi juga tidak dapat dilepaskan dari aspek waktu, biaya, mutu, dan keselamatan kerja.
Hal-hal tersebut menjelaskan bahwa suatu proyek yang baik dalam pelaksanaanya (Ervianto, 2005).
The Health Statistic and Safety (2011) menunjukkan bahwa 171 pekerja meninggal dunia di tempat kerja dengan rata-rata 0,6 falities per 100.000 pekerja.
Sektor kontruksi, pertanian dan pembuangan merupakan yang berkontribusi terbesar yaitu 50,34 juta dan 9 fatality dan 115.379 pekerja lainnya terluka yang menyebabkan hilangnya 4,4 juta hari kerja hilang.
Konstruksi memiliki serangkaian catatan kecelakaan yang memakan banyak korban jiwa, namun sayangnya rangkaian pekerjaan yang berbahaya ini hanya dianggap hal yang wajar dan seringkali luput dari perhatian kita. 32%
sektor konstruksi dan meliputi semua jenis pekerjaan proyek gedung. Menurut catatan Jamsostek pada tahun 2010, angka kecelakaan kerja di Indonesia termasuk yang paling tinggi dikawasan ASEAN, yaitu sebanyak 98.711 kasus kecelakaan kerja. Tahun 2011 terjadi kenaikan menjadi 99.491 kasus, dimana hampir 32%
sektor konstruksi dan meliputi semua jenis pekerjaan proyek gedung,
jalan,jembatan, terowongan, irigasi bendungan, dan sebagainya.
Berdasarkan data dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan, pada tanggal 5 februari 2018 terjadi longsor pada turap underpass jalan perimeter selatan bandara soehatta. Dengan korban 1 orang meninggal dan 2 luka-luka.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yonathan, dkk tentang Kecelakaan Kerja dan Analisis Penerapan Peraturan Keselamatan Kerja Pekerja Galian Tanah pada Proyek Konstruksi di Surabaya menunjukkan bahwa kecelakaan kerja pada pekerjaan galian tanah yang paling sering terjadi adalah terperosok kedalam galian dengan jumlah frekuensi sebesar 74 responden yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: penerangan yang kurang dalam galian (32 responden), sistem proteksi yang kurang memadai (31 responden) dan rambu-rambu/
peringatan bahya yang tidak memadai (29 responden).
Penelitian tentang Analisa Potensi Bahaya dan Upaya Pengendalian Kecelakan Kerja Pada Proses Penambangan Batu Adesit di PT. Dempo Bangun Mitra dengan menggunakan HAZOPS sebagai metode analisa oleh M. Ihsan, dkk diperoleh hasil penelitian dengan “sikap kerja” sebagai sumber hazard ada penyimpangan yang terjadi yaitu pekerja bertindak tidak aman atau melakukan pekerjaan tidak sesuai dengan SOP, pekerja tidak menggunakan APD saat bekerja, APD tersebut disesuaikan dengan area kerja masing-masing. Jenis APD seperti sefty helmet, safety gogles, massker, ear plug, safety gloves, safety shoes, dan safety harness.Sebagai cause atau penyebab dari penyimpagan tersebut adalah kurang displinnya pekerja dalam mengikuti SOP yang ada. Rendahnya kesadaran dan pengetahuan akan keselamatan kerja yang disebabkan oleh kurang
maksimalnya pelaksanaan Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( K3) tentang penggunaan APD. Konsekuensi yang dialami pekerja bila pekerja bertindak tidak aman dan tidak menggunakan APD adalah kepala terbentur, anggota tubuh terluka, terjepit, gangguan pernafasan, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, terjatuh dari ketinggian dan meninggal dunia. Tindakan yang dapat dilakukan segera mengatasi sumber hazard adalah membuat visual display untuk mengingatkan pekerja agar selalu menggunakan APD, membuat prosedur kerja yang baik, melakukan pelatihan K3 kepada para pekerja secara menyeluruh.
PT. Hutama Karya adalah Badan Usaha Milik Negara Indonesia yang bergerak dibidang konstruksi, serta penyedia jalan tol. Salah satu proyek yang sedang dijalankan oleh PT. Hutama Karya adalah pembangunan Underpass Titi Kuning Medan. Pembangunan Underpass menghubungkan langsung Jl. Jendral AH Nasution dengan Jl. Medan Tebing tinggi Ringroad dengan tujuan untuk mengurangi tingkat kemacetan lalulintas dikawasan masing-masing simpang tersebut. Proyek pembangunan Underpass Titi kuning memiliki aktivitas yang berbahaya dan banyak menggunakan alat berat, sehingga proyek ini memiliki risiko terjadinya kecelakaan kerja pada pekerja lapangannya.
Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan oleh peneliti di proyek Underpass Titikuning PT. Hutama Karya, banyak pekerjaan yang berat maupun ringan yang dilakukan baik dilakukan dengan tenaga manusia atau menggunakan alat – alat berat yang mempunyai potensi bahaya. Pada proses pembangunan Underpass,ada lima tahapan pekerjaan utama dimulai dari tahapan persiapan yaitu
tahapan persipan material dan persiapan alat, tahap kedua yaitu pekerjaan bore pile, tahap ketiga pekerjaan underpass terbuka dan tahap keempat pekerjaan struktur pelat atau underpass tertutup dan terakhir adalah tahapan finishing. Pada penelitian ini peneliti lebih fokus menganalisis potensi bahaya pada tahapan pekerjaan struktur pelat atau underpass tertutup dengan proses kerja dimulai dari penghancuran aspal jalan lama, penggalian tanah, pemadatan tanah dengan alat roller, pemotongan beton pile, pemassangan beksiting, pemasangan besi tulangan dan proses terakhir adalah pengecoran ( PT. Hutama Karya, 2018).
Potensi bahaya yang bisa timbul pada pekerjaan proyek undepass titikuning adalah terjatuh akibat tanah yang berlumpur, getaran, terinjak benda - benda tajam seperti kawat, paku, dan lain - lain, bahaya kecelakaan seperti peralataan yang bergerak, terbelit, tergelincir ataupun terjatuh, penggunaan alat kerja yang tidak sesuai, alat kerja yang tidak dijaga dan disusun dengan baik.
Mengurangi atau menghilangkan potensi bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan di tempat kerja maka diperlukan teknik analisis bahaya yaitu dengan menggunakan metode Hazard and Operability Study (HAZOPS). Metode HAZOPS di pilih karena HAZOPS adalah studi tentang hazard/ bahaya dan fokus pada penelitian ini adalah potensi bahaya sehingga analisis potensi bahaya lebih tepat di analisis menggunakan metode HAZOPS yang merupakan teknik analisa untuk menemukan potensi bahaya dan suatu penilaian yang terstruktur dan sistematis terhadap proses produksi atau operasi melalui identifikasi dan evaluasi masalah yang mungkin berisiko pada karyawan atau peralatan kerja, sehingga potensi terjadinya kecelakaan kerja dapat diminimalkan.
Berdasarkan proses kerja tersebut, dapat dilihat bahwa pembangunan proyek underpass memiliki banyak potensi bahaya. Hal ini sejalan dengan adanya kejadian longsor disekitar pembangunan Underpass Titikuning. Oleh karena banyaknya proses kerja dan penggunaan alat-alat berat yang memiliki potensi bahaya pada pembangunan tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Analisis Potensi Bahaya pada Pekerja Proyek Underpass Titikuning di PT. Hutama Karya Tahun 2018.
Perumusan Masalah
Latar belakang yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah adanya potensi bahaya yang berisiko terhadap pekerja, bahaya tersebut berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi pekerja.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi bahaya pada pekerja proyek Underpass Titikuning di PT.Hutama Karya tahun 2018.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:
Sebagai bahan masukan bagi pekerja untuk mengenalis potensi-potensi bahaya pada pembangunan Underpass Titi kuning PT. Hutama Karya agar dapat menghindari risiko kecelakaan kerja.
Sebagai bahan masukan bagi pihak perusahaan dalam mennggulangi potensi- potensi bahaya yang ditemukan pada proses pembangunan Underpass Titi kuning PT. Hutama Karya
Sebagai bahan masukan bagi pihak-pihak yang membutuhkan baik dari
kalangan akademis, masyarakat, dan peneliti serta untuk keilmuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Sebagai pengembangan wawasan keilmuan peneliti dalam memahami potensi bahaya dan proses mengidentifikasi dan menganalisis bahaya untuk pencegahan kecelakaan kerja.
10
Pengertian potensi bahaya. ILO (1986) dalam Anugrah (2009), mengidentifikasi potensi bahaya atau bahaya kerja (Work Hazard) adalah suatu sumber potensi kerugian atau suatu situasi yang berhubungan dengan pekerja, pekerjaan dan lingkungan kerja yang berpotensi menyebabkan gangguan/
kerugian.
Bahaya ditempat kerja timbul atau terjadi ketika ada interaksi berbagai unsur produksi yaitu manusia, peralatan, material, proses atau metoda kerja.
Dalam proses produksi tersebut terjadi kontak antara manusia dengan mesin, material, lingkungan kerja yang diakomodir oleh proses atau prosedur kerja.
Karena itu, sumber bahaya dapat berasal dari unsur - unsur produksi tersebut yakni manusia, peralatan, material, proses serta sistem dan prosedur (Ramli, 2010).
Potensi bahaya merupakan segala sesuatu yang mempunyai kemungkinan mengakibatkan kerugian baik pada harta benda, lingkungan maupun manusia. Di tempat kerja, potensi bahaya sebagai sumber risiko keselamatan dan kesehatan akan selalu dijumpai. Jika setiap bahaya - bahaya tersebut dapat di identifikasi,tindakan harus diambiil untuk menghilangkan atau meminimalkan risiko yang dihadapi oleh pekerja. Jika bahaya - bahaya tersebut tidak dapat dihilangkan, suatu penilaian risiko perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencegahan apa saja yang harus diambil, hal ini diupayakan untuk melindungi pekerja yang merupakan aset yang sangat bagi perusahaan.
Setiap proses produksi, peralatan atau mesin dan tempat kerja yang digunakan untuk maenghasilkan suatu produk selalu mengandung potensi bahaya tertentu, yang apabila tidak mendapatkan perhatian secara khusus dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Potensi bahaya ini berasal dari berbagai kegiatan atau aktivitas dalam pelaksanaan operasi pekerjaan atau berasal dari luar proses kerja (Tarwaka, 2014).
Jenis bahaya. Bahaya dalam kehidupan sangat banyak ragam dan jenisnya. Disekitar kita terdapat bahaya-bahaya yang berpotensi untuk mencederai tubuh kita baik cidera ringan maupun cidera fatal. Kita tidak dapat mencegah berbagai bahaya-bahaya tersebut jika kita tidak mengenali bahayanya dengan baik.
Menurut Kurniawidjaja (2010), bahaya kesehatan di tempat kerja dapat berasal dari semua komponen kerja berupa:
1. Bahaya tubuh pekerja (somatic hazard)
Bahaya tubuh pekerja, merupakan bahaya yang berassal dari dalam tubuh pekerja yaitu kapasitas kerja dan status kesehatan pekerja. Contohnya seorang pekerja yang buta warna bila mengerjakan alat elektronik yang penuh dengan kabel listrik warna-warni, bahaya somatiknya dapat membahayakan dirinya maupun orang lain di sekelilingnya bila ia salah menyambung warna kabel listrik tertentu karena tindakan ini berpotensi menimbulkan kebakaran atau ledakan.
2. Bahaya perilaku kesehatan (behavioral hazard)
Bahaya perilaku kesehatan yaitu bahaya yang terkait dengan perilaku kerja. Contohnya adalah mode rambut panjang di ruang mesin berputar telah
mengakibatkan seorang pekerja di tambang batubara tertarik dalam mesin dan hancur tubuhnya karena tergiling mesin penggiling bongkahan batu (crusher).
3. Bahaya lingkungan kerja (environmental hazard)
Bahaya lingkungan kerja berupa faktor fisik, kimia, dan biologi Bahaya lingkungan kerja dapat berupa faktor fisik, kimia, biologi berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bila kadarnya atau intensitas pajanannya tinggi melampaui toleransi kemampuan tubuh pekerja (efek kesehatannya masuk kedalam penyakit akibat kerja).
Faktor fisik. Berpotensi menimbulkan Penyakit Akibat Kerja (PAK), dari penyakit yang ringan sampai yang berat. Jenis bahaya yang termasuk dalam golongan faktor fisik serta pekerja berisiko terpajan antara lain:
a. Bahaya mekanik
Bahaya mekanik dapat menimbulkan risiko trauma atau terluka akibat kecelakaan. Faktor-faktor yang termasuk dalam faktor mekanik di tempat kerja antara lain adalah terbentur, tertusuk, tersayat, terjepit, tertekan, terjatuh, terpeleset, terkilir, tertabrak, terbakar, terkena serpihan ledakan, tersiram, dan tertelan. Sementara itu, risiko kecelakaan yang dapat timbul dari faktor mekanik tersebut adalah cedera seperti luka, luka bakar, perdarahan, tulang patah, jaringan robek, sesak napas, jantung berhenti berdetak, serta masuknya benda asing ke dalam tubuh (khususnya mata), bila cedera yang ditimbulkan berat dapat menimbulkan kematian.
b. Bising
Bising adalah bunya maupun suara-suara yang tidak dikeheendaki dan
dapat menggaggu kesehatan, kenyamanan, serta dapat menyebabkan gangguan pendengaran (ketulian). Di tempat kerja, bising dapat timbul dari seluruh lokasi, dari area produksi, area generator, area kompresor, area dapur, area umum seperti di pasar dan stasiun, hingga di area perkantoran, dari suara mesin, suara benturan alat, hingga suara gaduh manusia. Pekerja berisiko terpajan bising adalah mereka yang bekerja di pabrik bermesin bising terutama di bagian produksi dan di bagian perawatan mesin, pekerja sektor kendaraan umum, pekerja di bengkel, dan lainnya.
c. Getar atau vibrasi
Getar dapat menimbulkan gangguan pendengaran, muskuloskeletal, keseimbangan, white finger, dan hematuri mikroskopik akibat kerusakan saraf tepi dan jaringan pembuluh darah. Getar dapat memajani seluruh tubuh (whole body vibration) seperti pemotong rumput yang membawa mesin di punggungnya dan pengemudi. Selain itu, ada jenis getar segmental yang memajani tangan dan lengan, contohnya adalah di pabrik atau bengkel otomotif, pekerja berisiko terpajan getar di tangannya adalah mereka yang menggunaan alat tangan getar dan/ atau pneumatik perkusi, seperti saat melakukan tugas mengebor logam dan memukul pelat baja.
d. Suhu ekstrem panas
Tekanan panas yang melebihi kemampuan adaptasi, dapat menimbulkan heat cramp, heat exhaustion, dan heat stroke, kelainan kulit. Di lingkungan kerja, tekanan panas (heat stress) dapat timbul akibat pajanan suhu ekstrem panas yang bersumber dari peralatan maupun lokasi kerja tertentu.
e. Suhu ekstrem dingin
Pajanan suhu ekstrem dingin di lingkunag kerja, dapat menimbulkan frostbite yang ditandai dengan bagian tubuh mati rasa di ujung jari atau daun telinga, serta gejala hipotermia yaitu suhu tubuh di bawah 35°C dan dapat mengancam jiwa. Pekerja yang berisiko terpajan bahaya suhu ekstrem dingin adalah penyelam, pekerja di cold storage, di ruang panel yang menggunakan alat elektronik dalam ssuhu ekstrem dingin, pekerja konstruksi, dan lainnya.
f. Cahaya
Cahaya yang kurang atau terlalu terang dapat merusak mata. Sering atau terus menerus bekerja di bawah cahaya yang redup (insufisiensi) dalam jangka pendek menimbulkan ketidaknyamanan pada mata (eye strain), berupa nyeri atau kelelahan mata, sakit kepala, mengantuk, dan fatigue, dalam jangka panjang dapat menimbulkan rabun dekat (myopia) atau mempercepat terjadinya rabun jauh pada usia yang lebih muda (presbyopia). Selain itu, cahaya yang menyilaukan juga dapat menimbulkan eye strain dan kelainan visus. Semua pekerja berpotensi mengalami insufisiensi cahaya dalam bekerja bila tidak memerhatikan kecukupan cahaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu, terutama dalam melaksanakan pekerjaan yang memerlukan cahaya yang cukup dan ketelitian tinggi. Sedangkan pekerja berisiko terpajan silaunya cahaya contohnya pekerja yang menggunakan visual display terminal seperi komputer dan televisi.
g. Tekanan
Tekanan hiperbarik adalah tekanan yang melebihi 1 atm/ BAR, sering diialami oleh orang yang berada di bawah permukaan laut, semakin dalam
lokasinya semakin tinggi tekanannya. Efek dari tekanan hiperbarik adalah barotitis dan barotrauma yang dapat menimbulkan kerusakan telinga tengah dan paru. Pekerja berisiko terpajan tekanan hiperbarik adalah mereka yang beekerja di bawah laut, seperti penyelam, pemelihara atau pengambil mutiara, pemelihara kapal laut, tim penyelamat (rescue team), dan pekerja konstruksi baawah laut.
h. Radiasi pengion
Radiasi pengion antara lain adalah sinar alfa, sinar beta, sinar gamma, sinar X, dan neutron. Pekerja berisiko terpajan radiasi pengion adalah mereka yang bekerja dengan alat atau mesin yang menggunakan sinar yang memancarkan radiasi pengion, seperti radiografer di bagian radiologi suatu klinik atau rumah sakit, pekerja di laboratorium kimia, pembangkit listrik tenaga nuklir, dan lainnya.
Efek buruk dari radiasi pengion adalah efek genetik, karsinogenik, dan gangguan perkembangan janin.
i. Radiasi bukan pengion (gelombang elektromagnetik)
Radiasi bukan pengion dapat menimbulkan kelainan kulit dan mata.
Radiasi bukan pengion merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik dengan gelombang yang panjang (>100 nm) dan berada dalam frekuensi rendah sehingga pancaran energinya tidka cukup kuat untuk mengionisasi atom dari sel tubuh yang dilaluinya. Contoh penghasil radiasi bukan pengion antara lain sinar inframerah (infrared), microwave, ultra-sound, video display terminal (VDT), sinar ultraviolet, ponsel dan sinar laser. Pekerja berisiko adalah mereka yang bekerja dengan menggunakan atau lokasi kerjanya berdekatan dengan mesin atau peralatan yang mengeluarkan gelombang elektromagnetik, misalnya tukang las,
operator telepon, operator VDT.
Faktor kimia. Berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan yang sangat luas spektrumnya, dari yang ringan seperti bersin-bersin, kulit gatal, sampai yang berat seperti kelainan organ hati dan saraf, gagal ginjal dan cacat fungsi paru, bahkan menimbulkan kanker, cacat bawaan bagi janin yang dikandung oleh pekerja yang terpajan, yang terberat adalah kematian. Bahan kimia dapat merupakan suatu zat yang toksik yang tunggal atau berupa campuran senyawa kimia toksik. Pekerja berisiko adalah mereka yang bekerja dengan menggunakan bahan kimia. Bahan kimia yang ada di tempat kerja sangat beragam jenis maupun bentuknya, yang paling sering digunakan dalam duni kerja dan dunia usaha adalah sebagai berikut:
a. Logam berat
Banyak logam berat yang digunakan di berbagai tempat kerja, jarang dalam bentuk murni namun dalam bentuk senyawa seperti timbal, merkuri, kadmium, krom, cobalt, arsen, aluminium, berilium, nikel, dan mangan. Sebagai contoh timbal banyak digunakan di industri baterai, kabel, insektisida, dan cat.
b. Solvent/ Pelarut organik
Pelarut organik adalah kelompok senyawa hidrokarbon (HC), seperti hidrokarbon alifatik, hidrokarbon aromatik, atau hidrokarbon bersubtitusi. Pelarut organik yang banyak digunakan di industri antara lain adalah asam sulfat, asam fosfat, benzena, toluena, xylena, formaldehid, aseton, tetraklorokarbon, trikloretilen, alkohol, alkali, dan ester. Penggunaan pelarut organik sangat luas hampir di semua bidang kegiatan manusia, sebagai contoh antara lain digunakan
untuk:
a) Melarutkan hidrokarbon lain seperti tar, lilin, minyak, dan bahan petrokimia b) Memproduksi polimer dari monomer, misalnya monomer acrylamide
menghasilkan polimer acrylamide yang digunakan untuk penghancur pengendapan di bidang waste dan water treatment
c) Membuat pupuk asam fosfat, pigment inorganik, serat tekstil buatan, bubur kertas dari asam sulfat
d) Mengencerkan cat, tinta, perekat
e) Menghilangkan oli pada perlengkapan mesin f) Mencuci pakaian cara kering (dry clean) g) Sebagai bahan pemuti
h) Sebagai bahan pendukung dalam proses produksi di bidang farmasi c. Gas dan uap
Gas dan uap di udara tempat kerja ada yang bersifat asphyxiants, iritasi lokal, sensitisasi, dan yang toksik. Gas asphyxiants menimbulkan tubuh kekurangan oksigen (normal 20%), ada dua jenis yang berbeda cara kerjanya, yaitu gas simple asphyxiants dan gas chemical asphyxiants. Gas simple asphyxiants menggantikan oksigen secara fisik, seperti karbon dioksida, nitrogen, gas inert seperti helium, argon, neon; gas hidrokarbon alifatik dengan bobot molekul rendah (C1 sampai dengan C4) seperti gas metana, etana, propana, dan butana. Gas chemical asphyxiants melalui reaksi kimia atau menghambat transportasi oksigen, seperti karbon monoksida, hidrogen sianida, dan hidrogen sulfida.
Faktor biologi. Berpotensi menimbulkan penyakit infeksi akibat kerja, dari penyakit yang ringan seperti flu biasa sampai SAR bahkan HIV-AIDS bagi pekerja kesehatan. Jenis mikroorganisme yang termasuk dalam golongan faktor biologik serta pekerja berisiko terpajan antara lain virus (Hepatitis B/C, HIV), bakteri (Tuberkulosis, Bruselosis, Leptospirosis), jamur (Coccidiomycosis, Aktinomikosis), serta parasit (Hookworm, Malaria).
4. Bahaya ergonomik (ergonomic hazard)
Berupa faktor postur janggal, beban berlebih, durasi panjang, frekuensi tinggi Bahaya ergonomik yang dimaksud terkait dengan kondisi pekerjaan dan peralatan kerja yang digunakan oleh pekerja termasuk work station.
5. Bahaya pengorganisasian pekerjaan (work organization hazard) dan budaya kerja (work culture hazard)
Contohnya adalah faktor stres kerja berupa beban kerja berlebih atau pembagian pekerjaan yang tidak proporsional, budaya kerja sampai jauh malam dan mengabaikan kehidupan sosial pekerja.
Menurut Ramli (2010), jenis bahaya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Bahaya Mekanis
Bersumber dari peralatan mekanis atau benda bergerak dengan gaya mekanika baik yang digerakkan secara manual maupun dengan penggerak.
Misalnya mesin gerinda, press, tempa, pengaduk, dan lain-lain, bahaya yang bergerak pada mesin mengandung bahaya seperti gerakan mengebor, memotong, menempa, menjepit, menekan, dan bentuk gerakan lainnya. Gerakan mekanis ini
dapat menimbulkan cedera atau kerusakan seperti tersayat, terjepit, terpotong, atau terkupas.
2. Bahaya Listrik
Merupakan sumber bahaya yang berasal dari energi listrik yang dapat mengakibatkan berbagai bahaya seperti kebakaran, sengatan listrik, dan hubungan singkat. Di lingkungan kerja banyak ditemkan bahaya listrik, baik dari jaringan listrik, maupun peralatan kerja atau mesin yang menggunakan energi listrik.
3. Bahaya Kimiawi
Bahan kimia mengandung berbagai potensi bahaya sesuai dengan sifat dan kandungannya. Banyak kecelakaan terjadi akibat bahaya kimiawi. Bahaya yang dapat ditimbulkan oleh bahan-bahan kimia antara lain:
a. Keracunan oleh bahan kimia yang bersifat racun (toxic).
b. Iritasi, oleh bahan kimia yang memiliki sifat iritasi seperti asam keras, cuka air aki, dan lainnya.
c. Kebakaran dan peledakan.
Beberapa jenis bahan kimia memiliki sifat mudah terbakar dan meledak misalnya golongan senyawa hidrokarbon seperti minyak tanah, premium, LPG, dan lainnya.
d. Polusi dan pencemaran lingkungan.
4. Bahaya Fisis
Bahaya yang berasal dari faktor fisis antara lain:
a. Bising b. Tekanan
c. Getaran
d. Suhu panas atau dingin e. Cahaya atau penerangan
f. Radiasi dan bahan radioaktif, sinar ultra violet, atau infra merah 5. Bahaya Biologis
Di berbagai lingkungan terdapat bahaya yang bersumber dari unsur biologis seperti flora dan fauna yang terdapat di lingkungan kerja atau berasal dari aktivitas kerja. Potensi bahaya ini ditemukan dalam industri makanan, farmasi, pertanian dan kimia, pertambangan, minyak dan gas bumi.
Menurut penelitian dalam Djati (2002) hampir 85% kecelakaan terjadi disebabkan faktor manusia yang melakukan tindakan tidak aman. Tindakan tidak aman ini dapat disebabkan oleh:
a. Karena tidak tahu
Yang bersangkutan tidak mengetahui bagaimana melakukan pekerjaan dengan aman dan tidak tahu bahaya-bahaya yang ada.
b. Karena tidak mampu/tidak bias
Yang bersangkutan telah mengetahui cara kerja yang aman, bahayabahaya yang ada tetapi karena belum mampu, kurang terampil dia melakukan kesalahan.
c. Walaupun telah mengetahui dengan jelas cara kerja dan peraturan- peraturannya serta yang bersangkutan dapat melaksanakannya, tetapi karena tidak mau melaksanakan maka terjadi kecelakaan. Misalnya tidak mau memakai alat keselamatan atau melepas alat pengaman.
Beberapa prilaku yang tidak aman yang sering menyebabkan pekerja celaka atau berpotensi untuk celaka sebagai penyebab tidak langsung dari suatu kecelakaan kerja yang sering ditemukan dalam aktivitas pertambangan menurut H.W. Heinrich dalam Suryani (2012), yaitu :
1. Mengoperasikan peralatan dengan kecepatan yang tidak layak 2. Mengoperasikan peralatan tanpa perintah.
3. Menggunakan peralatan yang tidak layak.
4. Menggunakan peralatan yang telah rusak atau cacat.
5. Gagal memperingatkan pekerja dan peralatan.
6. tidak menggunakan alat pelindung diri.
7. Bekerja dengan posisi yang salah atau tidak aman.
8. Bermain-main, bersenda gurau.
9. Konsumsi alcohol.
10. Konsumsi obat-obatan.
Sumber informasi bahaya. Bahaya dapat diketahui dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber antara lain dari peristiwa atau kecelakaan yang pernah terjadi, pemeriksaan ke tempat kerja, melakukan wawancara dengan pekerja di lokasi kerja, informasi dari pabrik atau asosiasi industri, data keselamatan bahan (material safety data sheet).
Kecelakaan Kerja
Pengertian kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban jiwa dan harta benda (Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: 03/Men/1998).
Berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia maupun harta benda.
Secara umum kecelakaan kerja di industri dibagi menjadi dua kategori yaitu: kecelakaan industri ( industrial accident), yaitu suatu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja, karena adanya potensi bahaya yang tidak terkendali. Dan kecelakaan disalam perjalanan (comunity accident), yaitu kecelakaan yang terjadi diluar tempat kerja dalam kaitannya dengan adanya hubungan kerja (Tarwaka, 2014).
Faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja. Suatu kecelakaan kerja akan terjadi apabila terdap berbagai faktor penyebab secara bersama pada suatu tempat kerja atau proses produksi. Dalam buku “Accident Prevention”, Heinrich (1972) mengemukakan suatu teori yang selanjutnya dikenal dengan
“Teori Domino”. Dari teori tersebut digambarkan bahwa timbulnya suatu kecelakaan kerja atau cidera disebabkan oleh 5 faktor penyebab yang secara berurutan dan berdiri sejajar antara faktor satu dengan yang lainnya. Kelima faktor tersebut adalah ( Tarwaka, 2014).
1. Domino Lingkungan 2. Domino Kebiasaan
3. Domino tindakan dan Kondisi Tidak Aman 4. Domino kecelakaan
5. Domino Cidera
Selanjutnya Heinrich menjelaskan bahwa untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja adalah cukup dengan membuang salah satu kartu domino atau memutus mata rantai domino tersebut (Tarwaka, 2014). Berdasarkan teori dari Heinrich tersebut, Bird dan Germain (1986) memodifikasi teori domino dengan menfleksibelkan kedalam hubungan manajemen secara langsung dengan sebab akibat kerugian kecelakaan. Model penyebab kerugian melibatkan 5 faktor penyebab berentetan. Kelima faktor tersebut adalah :
1. Kurangnya pengawasan, faktor ini meliputi ketidak tersediaan program, standar program, dan tidak terpenuhinya standar.
2. Sumber penyebab dasar, faktor ini meliputi faktor personal dan pekerjaan.
3. Penyebab kontak, faktor inimeliputi tindakan dan kondisi yang tidaksesuai dengan standar.
4. Insiden, hal ini terjadi karena adanya kontak dengan energi atau bahan-bahan berbahaya.
5. Kerugian, yaitu akibat rentetan faktor sebelumnya yang menyebabkan kerugian pada manusia itu sendiri, harta benda atau properti dan proses produksi.
Klasifikasi Kecelakaan Kerja
Menurut jenis kecelakaan. Klasifikasi kecelakaan kerja menurut jenis kecelakaan, antara lain (Tarwaka, 2014) :
1. Terjatuh
2. Tertimpa atau kejatuhan benda atau objek kerja
3. Tersandung benda atau objek, terbentur benda, terjepit antara dua benda 4. Gerakan-gerakan paksa atau peregangan otot berlebihan
5. Gerak-gerakan paksa atau peregangan otot berlebihan 6. Terpapar atau kontrak dengan benda panas atau suhu tinggi 7. Terkena arus listrik
8. Terpapar bahan-bahan berbahaya atau radiasi, dan lain-lain.
Menurut agen penyebab. Klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut agen penyebabnya, antara lain:
1. Mesin-mesin, seperti: mesin penggerak kecuali motor elektrik, mesin transmisi, mesin-mesin produksi, mesin-mesin pertambangan, mesin-mesin pertanian, dan lain-lain.
2. Sarana alat angkat dan angkut, seperti: fork-lift, alat angkut kereta, alat angkut beroda selain kereta, alat angkut diperairan, alat angkut di udara, dan lain-lain.
3. Peralatan - peralatan lain, seperti: bejana tekan, tanur atau dapur peleburan, instalasi listrik termasuk motor listrik, alat-alat tangan listrik, perkakas, tangga, perancah, dan lain-lain.
4. Bahan-bahan berbahaya dan radiasi, seperti: bahan mudah meledak, debu, gas, cairan, bahan kimia, radiasi, dan lain-lain.
5. Lingkungan kerja, seperti: tekanan panas dan tekanan dingin, intensitas kebisingan tinggi, getaran, ruang dibawah tanah, dan lain-lain (Tarwaka, 2014).
Menurut jenis luka dan cidera. Klasifikasi kecelakaan kerja menurut jenis luka dan cideranya, antara lain:
1. Patah tulang
2. Keseleo atau dislokasi atau terkilir 3. Kenyerian otot dan kejang
4. Gagar otak dan luka bagian dalam lainnya 5. Amputasi dan enukleasi
6. Luka tergires dan luka luar lainnya 7. Memar dan retak
8. Luka bakar 9. Keracunan akut
10. Aksfia atau sesak nafas 11. Efek terkena arus listrik 12. Efek terkena paparan radiasi
13. Luka pada banyak tempat bagian tubuh, dan lain-lain.
Menurut lokasi tubuh yang terluka. Klasifikasi kecelakaan kerja menurut lokasi tubuh yang terluka antara lain:
1. Kepala, leher, badan, lengan, kaki, berbagai bagian tubuh 2. Luka umum, dan lain-lain.
Kerugian kecelakaan. Setiap kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian yang besar, baik itu kerugian material dan fisik. Kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja menurut Anizar (2009) antara lain :
1. Kerugian Ekonomi
Kerugian ekonomi akibat kecelakaan kerja meliputi : (1) kerusakan alat atau mesin, bahan dan bangunan (2) biaya pengobatan dan perawatan
(3) tunjangan kecelakaan
(4) jumlah produksi dan mutu berkurang
(5) Kompensasi kecelakaan
(6) penggantian tenaga kerja yang mengalami kecelakaan.
2. Kerugian Non Ekonomi
Kerugian non ekonomi akibat kecelakaan kerja meliputi (1) penderiataan korban dan keluarga
(2) hilangnya waktu selama sakit, baik korban maupun pihak keluarga
(3) keterlambatan aktivitas akibat tenaga kerja lain berkerumun atau berkumpul, sehingga aktivitas terhenti sementara
(4) hilangnya waktu kerja.
Pencegahan kecelakaan kerja. Pencegahan kecelakaan kerja adalah upaya untuk mencari penyebab dari suatu kecelakaan dan bukan mencari siapa yang salah. Dengan mengetahui dan mengenal penyebab kecelakaan maka dapat disusun suatu rencana pencegahannya, yang mana hal ini merupakan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), yang pada hakekatnya merupakan rumusan dari suatu strategi bagaimana menghilangkan atau mengendalikan potensi bahaya yang sudah diketahui (Tarwaka, 2014).
Menurut Soehatman Ramli (2010), terdapat berbagai pendekatan dalam pencegahan kecelakaan, antara lain:
1. Pendekatan Energi
Sesuai dengan konsep energi, kecelakaan bermula karena adanya sumber energi yang mengalir mencapai penerima (receipent). Karena itu pendekatan energi mengendalikan kecelakaan melalui 3 titik, yaitu pengendalian pada sumber bahaya, pengendalian pada jalan energi, dan pengendalian pada penerima.
2. Pendekatan Manusia
Pendekatan secara manusia didasarkan hasil statistik yang menyatakan bahwa 80% kecelakaan kerja disebabkan oleh faktor manusia dengan tindakan yang tidak aman. Karena itu, untuk mencegah kecelakaan kerja dilakukan berbagai upaya pembinaan unsur manusia untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga kesadaran K3 meningkat.
3. Pendekatan Teknis
Pendekatan teknis menyangkut kondisi fisik, peralatan, material, proses maupun lingkungan kerja yang tidak aman. Untuk mencegah kecelakaan yang bersifat teknis dilakukan upaya keselamatan antara lain:
a. Rancang bangunan yang aman yang disesuaikan dengan persyaratan teknis dan standar yang berlaku untuk menjamin kelayakan instalasi atau peralatan kerja.
b. Sistem penanganan pada perlatan atau instalasi untuk mencegah kecelakaan dalam pengoperasian atau instalasi, misalnya tutup pengaman mesin, system interlock, sitem alarm, system instrumentasi dan lain sebagainya.
4. Pendekatan Administratif
Pendekatan secara administratif dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain;
a. Pengaturan waktu dan jam kerja, sehingga tingkat kelelahan dan paparan bahaya dapat dikurangi.
b. Penyediaan alat keselamatan kerja.
c. Mengembangkan dan menetapkan prosedur dan peraturan tentang K3.
d. Mengatur pola kerja, system produksi dan proses kerja (Ramli, 2010).
5. Pendekatan Manajemen
Banyak kecelakaan kerja yang disebabkan oleh faktor manajemen yang tidak kondusif, sehingga mendorong terjadinya kecelakaan. Pendekatan manajemen menurut Soehatman Ramli (2010), meliputi:
a. Menetapkan system manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3).
b. Mengembangkan Organisasi K3 yang efektif.
c. Mengembangkan komitmen dan kepemimpinan dalam K3, khususnya untuk manajemen tingkat atas.
Sedangkan menurut Anizar (2009), pendekatan manajemen meliputi:
a. Evaluasi pendahuluan tentang karakteristik perusahaan sebelum dimulai oleh orang yang terlatih untuk mengidentifikasi potensi bahaya ditempat kerja dan untuk membantu memilih cara perlindungan karyawan yang tepat dilakukan oleh perusahaan.
b. Pemberian pelatihan untuk karyawan sebelum diijinkan bekerja yang dapat berpotensi bahaya.
c. Pemeriksaan kesehatan setidaknya dilakukan secara berkala misalnya satu tahun sekali dan pada saat karyawan berhenti bekerja.
d. Pemberian demonstrasi kepada karyawan tentang pentingnya Alat Pelindung Diri.
6. Pelaksanaan house keeping yang baik.
7. Pemberian sanksi kepada karyawan yang melanggar peraturan, misalnya karyawan yang tidak memakai APD.
8. Intensif kepada pekerja diberikan jika kecelakaan kerja dapat dikurangi sehingga dana yang dianggarkan oleh perusahaan untuk biaya dampak akibat kecelakaan dapat dialihkan untuk kesejahteraan pekerja.
Identifikasi Bahaya
Identifikasi bahaya. Suatu proses untuk mengetahui adanya suatu bahaya dan menentukan karakteristiknya.
Aktifitas yang dilakukan untuk mengidentifikasi bahaya antara lain : 1. Berkonsultasi dengan pekerja mengenai masalah apa yang ditemukan dan
keadaan bahaya yang belum terdokumentasi.
2. Berkonsultasi dengan Tim Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
3. Mempertimbangkan peralatan dan material yang digunakan pekerja.
4. Pemantauan lingkungan kerja.
Menurut Rijanto (2011), untuk mengidentifikasi bahaya-bahaya khusus yang berhubungan dengan pekerjaan, maka dapat dimulai dengan mencari bahaya-bahaya. Untuk itu perlu dijawab beberapa pertanyaan tentang setiap langkahnya:
1. Apakah ada bahaya terbentur, terpukul, atau lainnya yang membuat luka, dengan suatu objek?
2. Dapatkah pekerja terjepit pada, atau diantara objek?
3. Apakah ada potensi untuk terpeleset, atau tersandung? Apakah pekerja dapat terjatuh, pada lantai yang sama atau yang lain?
4. Apakah ada ketegangan karena mendorong, menarik, membungkuk, atau memelintir?
5. Apakah lingkungan membahayakan keselamatan atau kesehatan? Contohnya, apakah ada konsentrasi gas racun, uap, asap, debu, panas, atau radiasi?
Pengamatan terhadap pekerjaan harus diulang sesering mungkin sesuai dengan kebutuhan sampai semua bahaya dan potensi kecelakaan teridentifikasi.
Kadang risiko timbul secara tidak tetap, dan kondisi yang menunjukkan risiko yang sebenarnya mungkin tidak timbul saat dilakukan pengamatan. Untuk itu pekerjapekerja dapat membantu menidentifikasi risiko-risiko berdasarkan pengalaman mereka.
Kegiatan lainnya yang berkaitan dengan identifikasi bahaya dan risiko adalah melakukan penlaian setiap laporan survei dan/ atau inspeksi K3 atau lingkungan yang berhubungan dengan lokasi. Sumber-sumber tambahan yang mungkin dapat digunakan untuk mengidentifikasi risiko antara lain:
1. Analisis dan prosedur kerja yang dilaksanakan pada atau di dekat lokasi kerja.
2. Laporan kecelakaan/ insiden dari area umum di lokasi kerja.
3. Laporan pengamatan kerja.
4. Peraturan kerja khusus di lokasi.
5. Kebutuhan alat pelindung diri.
6. Gambar, skema atau diagram alir berkaitan dengan lokasi.
Tujuan identifikasi bahaya. Identifikasi bahaya merupakan landasan dari program pencegahan kecelakaan atau pengendalian risiko. Identifikasi bahaya memberikan berbagai manfaat antara lain:
a. Mengurangi peluang kecelakaan
Identifikasi bahaya berkaitan dengan faktor penyebab kecelakaan, dengan
melakukannya maka berbagai sumber bahaya yang merupakan pemicu kecelakaan dapat diketahui dan dihilangkan sehingga kecelakaan dapat ditekan.
b. Untuk memberikan pemahaman bagi semua pihak (pekerja-manajemen dan pihak terkait lainnya) mengenai potensi bahaya dari aktifitas perusahaan sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan dalam menjalankan operasi perusahaan.
c. Sebagai landasan sekaligus masukan untuk menentukan strategi pencegahan dan pengamanan yang tepat dan efektif. Dengan menentukan skala prioritas penanganannya sesuai dengan tingkat risikonya sehingga diharapkan hasilnya akan leih efektif.
d. Memberikan informasi yang terdokumentasi mengenai sumber bahaya dalam perusahaan kepada semua pihak khususnya pemangku kepentingan. Dengan demikian mereka dapat memperoleh gambaran mengenai risiko usaha yang akan dilakukan (Ramli, 2010).
Teknik identifikasi bahaya. Menurut Ramli (2010), identifikasi bahaya adalah suatu teknik komprehensif untuk mengetahui potensi bahaya dari suatu bahan, alat, atau sistem. Teknik identifikasi bahaya ada berbagai macam yang dapat diklasifikasikan atas:
1. Metoda pasif
2. Metoda semi proaktif 3. Metoda aktif
a. Teknik pasif
Bahaya dapat dikenal dengan mudah jika kita mengalaminya sendiri
secara langsung. Cara ini bersifat primitif dan terlamat, karena langkah pencegahan diambil setelah kecelakaan terjadi.
b. Teknik semi proaktif
Teknik ini disebut juga belajar dari pengalaman orang lain karena kita tidak perlu mengalaminya sendiri. Namun teknik ini juga kurang efektif karena;
a) tidak semua bahaya telah diketahui atau pernah menimbulkan dampak kejadian kecelakaan.
b) tidak semua kejadian dilaporkan atau diinformasikan kepada pihak lain untuk diambil sebagai pelajaran.
c) kecelakaan telah terjadi yang berarti tetap menimbulkan kerugian, walaupun menimpa pihak lain.
Sejalan dengan hal ini, setiap sistem K3 mensyaratkan untuk melakukan penyelidikan kecelakaan sebagai “lesson learning” agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
c. Teknik Proaktif
Metode terbaik untuk mengidentifikasi bahaya adalah cara proaktif atau mencari bahaya sebelum bahaya tersebut menimbulkan akibat atau dampak yang merugikan. Tindakan proaktif memiliki kelebihan;
1) Bersifat preventif karena bahaya dikendalikan sebelum menimbulkan kecelakaan atau cedera.
2) Bersifat peningkatan berkelanjutan (continual improvement) karena dengan mengenal bahaya dapat dilakukan upaya-upaya perbaikan.
3) Meningkatkan kepedulian (awareness) semua pekerja setelah mengetahui dan
mengenal bahaya di tempat kerja.
4) Mencegah pemborosan, karena bahaya dapat menimbulkan kerugian. Dewasa ini telah berkembang berbagai macam teknik identifikasi bahaya yang bersifat proaktif antara lain:
1. Daftar periksa dan audit atau inspeksi K3 2. Hazops (Hazard and Operability Study)
3. Analisa Keselamatan Pekerjaan (Job Safety Analysis-JSA) 4. Analisa Risiko Pekerjaan (Task Risk Analysis-TRA)
Pemilihan teknik identifikasi bahaya. Teknik identifikasi bahaya yang digunakan harus sesuai, karena sangat menentukan efektivitas identifikasi bahaya yang dilakukan. Ada beberapa pertimbangan dalam menentukan teknik identifikasi bahaya yang tepat antara lain:
1) Sistematis dan terstruktur
2) Mendorong pemikiran kreatif tentang kemungkinan bahaya yang belum pernah dikenal sebelumnya.
3) Harus sesuai dengan sifat dan skala kegiatan perusahaan.
4) Mempertimbangkan ketersediaan informasi yang diperlukan.
Sumber bahaya di tempat kerja dapat berasal dari unsur-unsur produksi antara lain:
1. Manusia 2. Peralatan 3. Proses
4. Sistem dan Prosedur
a. Manusia
Manusia berperan menimbulkan bahaya di tempat kerja yaitu pada saat melakukan aktivitasnya masing-masing.
b. Peralatan
Semua peralatan di tempat kerja seperti mesin, pesawat uap, alat angkut, dan lainnya dapat menjadi sumer bahaya bagi manusia yang menggunakannya.
c. Material
Material yang digunakan baik sebagai bahan baku, bahan antara atau hasil produksi mengandung berbagai macam bahaya sesuai dengan sifat dan karakteristik masing-masing.
d. Proses
Semua kegiatan dalam proses produksi mengandung bahaya baik bersifat fisis atau kimia. Tekanan yang berlebihan atau temperatur yang terlalu tinggi dapat menimbulkan bahaya peledakan atau kebakaran.
e. Sistem dan Prosedur
Secara langsung sistem dan prosedur tidak bersifat bahaya, namun dapat mendorong timbulnya bahaya yang potensial.
Lain-lain
What If, Hazard Identification, dll
Proses
Hazard and Operability Study, Fault Tree Analysis, What If, Preliminary Hazard Analysis
Manusia
Job Safety Analysis, Task Risk Analysis Sistem dan Prosedur
Job Safety Analysis, What If, dll Peralatan/Teknis
Failure Mode and Effect Analysis, What If
Gambar 1. Program identifikasi bahaya sesuai dalam kegiatan perusahaan mampu menjangkau seluruh potensi bahaya.
Hazards and Operability Study (HAZOPS)
Pengertian HAZOPS. The Hazard and Operability Study (HAZOPS) adalah standar teknik analisis bahaya yang digunakan dalam persiapan penetapan keamanan dalam suatu sistem baru atau modifikasi untuk suatu keberadaan potensi bahaya atau masalah operabilitynya. HAZOPS adalah suatu metode identifikasi bahaya yang sistematis teliti dan terstruktur untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan yang menganggu jalanya proses dan risiko yang terdapat pada suatu peralatan yang dapat menimbulkan risiko merugikan bagi manusia/
fasilitas pada sistem. Dengan kata lain metode ini digunakan sebagai upaya pencegahan sehingga proses yang berlangsung dalam suatu sistem dapat berjalan lancar dan aman (Juliana, 2008).
Menurut Ramli (2010), teknik HAZOPS merupakan sistem yang sangat terstruktur dan sistematis sehingga dapat menghasilkan kajian yang komprehensif.
Kajian HAZOPS juga bersifat multi disiplin sehingga hasil kajian akan lebih mendalam dan rinci karena telah ditinjau dari berbagai latar belakang disiplin dan keahlian. Metode ini sangat membantu tindakan perbaikan dan pencegahan yang mungkin dapat digabungkan kedalam suatu sistem.
Tujuan penggunaan HAZOPS. Tujuan penggunaan HAZOPS sendiri adalah untuk meninjau suatu proses atau operasi pada suatu sistem secara sistematis untuk menentukan apakah proses penyimpangan dapat mendorong kearah kejadian atau kecelakaan yang tidak diinginkan. HAZOPS secara sistematis mengidentifikasi setiap kemungkinan penyimpangan (deviation) dari kondisi operasi yang telah ditetapkan dari suatu plant, mencari berbagai faktor penyebab (cause) yang memungkinkan timbulnya kondisi abnormal tersebut, dan menentukan konsekuensi yang merugikan sebagai akibat terjadinya penyimpangan serta memberikan rekomendasi atau tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak dari potensi risiko yang telah berhasil diidentifikasi (Munawir, 2010).
Konsep HAZOPS istilah terminologi yang dipakai untuk mempermudah pelaksanaan HAZOPS antara lain sebagai berikut:
1. Proses
Proses apa yang sedang terjadi atau lokasi dimana proses tersebut berlangsung.
2. Sumber Hazard
Sumber bahaya (hazard) yang ditemukan di lapangan.
3. Deviation (Penyimpangan)
Hal-hal apa saja yang berpotensi untuk menimbulkan risiko.
4. Cause (Penyebab)
Adalah sesuatu yang kemungkinan besar akan mengakibatkan penyimpangan.
5. Consequence (Akibat/ Konsekuensi)
Akibat dari deviation yang terjadi yang harus diterima oleh system.
6. Action (Tindakan)
Tindakan dibagi menjadi dua kelompok yaitu tindakan yang mengurangi atau menghilangkan akibat (konsekuensi). Sedangkan apa yang terlebih dahulu diputuskan hal ini tidak selalu memungkinkan terutama ketika berhadapan dengan kerusakan peralatan. Namun, pada awalnya selalu diusahakan untuk menyingkirkan penyebabnya dan hanya di bagian mana perlu mengurangi konsekuensi.
7. Severity
Merupakan tingkat keparahan yang diperkirakan dapat terjadi.
8. Likelihood
Adalah kemungkinan terjadinya konsekuensi dengan sistem pengaman yang ada.
9. Risk
Risk atau risiko merupakan nilai risiko yang didapatkan dari kombinasi kemungkinan likelihood dan severity
Kosakata yang digunakan dalam HAZOPS Tabel 1
Kosakata yang digunakan dalam HAZOPS
Kosa Kata Penjelasan
Node Guide Word
Parameter
Deviation
Cause
Consequence
Safe Guard
Recomendation
Titik/ bagian dari proses yang ditentukan sebagai objek analisa Kata-kata singkat yang digunakan untuk membantu mengarahkan jalannya diskusi pada saat meninjau suatu parameter proses.
Contoh: no, more, less, low, high, part of, dan lain-lain.
Rujukan/ ukuran proses tertentu yang ditinjau. Misal : temperature, presure, flow, dll
Penyimpangan proses yang seharusnya (penggabungan dari guide word dan parameter).
Alasan yang dikemukakan mengapa suatu penyimpangan dapat terjadi.penyimpangan.
Akibat atau konsekuensi yang dihasilkan jika terjadi penyimpangan.
Peralatan dan instrumen yang ditambahkan untuk tujuan pengendalian dan pengamanan serta sistem yang dibuat secara administratif untuk mencegah suatu penyimpangan terjadi.
Recomendasi untuk perubahan desain, prosedur operasi atau untuk studi lebih lanjut.
Persiapan
Laporan pemantauan Pilih Node
Pilih Parameter
Gunakan Kata Bantu
Analisa Deviasi
Proses Kajian HAZOPS
Gambar 2. Proses kajian HAZOPS
Kajian HAZOPS dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Persiapan
Sebagai langkah persiapan antara lain menentukan objektif kajian. Apakah untuk kajian suatu proyek baru, modifikasi, atau untuk tujuan lainnya. Tentukan unit proses yang dikaji. Kajian HAZOPS bersifat multidisiplin misalnya dari fungsi teknis, operasi, proses, listrik, instrumen, safety, dan lainnya. Langkah berikutnya adalah mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk suatu kajian Hazops antara lain gambar P&ID (Process &Instrumentation Diagram), PFD
Persiapan
Bentuk Tim
Kumpulkan Data
Proses Data
Kajian Rancangan
Kajian Rancangan
Kajian Rancangan
Kajian Rancangan
Kajian Rancangan