• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN METODE KERJA PADA PEKERJA DI PT. PLN (PERSERO) UPT MEDAN ULTG PAYA PASIR TAHUN 2020 SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAMBARAN METODE KERJA PADA PEKERJA DI PT. PLN (PERSERO) UPT MEDAN ULTG PAYA PASIR TAHUN 2020 SKRIPSI"

Copied!
168
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh

ENGLI HUTAHAEAN NIM. 161000252

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(2)

GAMBARAN METODE KERJA PADA PEKERJA DI PT. PLN (PERSERO) UPT MEDAN ULTG PAYA PASIR

TAHUN 2020

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh

ENGLI HUTAHAEAN NIM. 161000252

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(3)

i

Judul Skripsi : Gambaran Metode Kerja pada Pekerja di PT.

PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir Tahun 2020

Nama Mahasiswa : Engli Hutahaean Nomor Induk Mahasiswa : 161000252

Departemen : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Menyetujui Pembimbing:

(Dr. Eka Lestari Mahyuni, S.K.M., M.Kes.) NIP. 197911072005012003

Dekan

(Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si.) NIP. 196803201993082001

Tanggal Lulus : 10 Maret 2021

(4)

ii Telah diuji dan dipertahankan

Pada tanggal : 10 Maret 2021

TIM PENGUJI SKRIPSI

Ketua : Dr. Eka Lestari Mahyuni, S.K.M., M.Kes.

Anggota : 1. Ir. Kalsum, M.Kes.

2. Dr. Isyatun Mardhiyah Syahri, S.K.M,. M.Kes.

(5)

iii

Pernyataan Keaslian Skripsi

Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul

“Gambaran Metode Kerja pada Pekerja di PT. PLN (PERSERO) UPT Medan ULTG Paya Pasir” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara – cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, 10 Maret 2021

Engli Hutahaean

(6)

iv Abstrak

Judul penelitian ini adalah “Gambaran Metode Kerja pada Pekerja di PT. PLN (PERSERO) UPT Medan ULTG Paya Pasir”. Latar belakang dilakukan penelitian ini adalah unit layanan transmisi gardu induk merupakan pekerjaan yang memiliki risiko yang tinggi akan kecelakaan kerja. Statistik kecelakaan kerja PLN tahun 2018 menyebutkan bahwa jumlah kecelakaan kerja banyak terjadi akibat bekerja tanpa atau tidak sesuai SOP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran metode kerja proses pemeliharaan dan proses perbaikan di PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir tahun 2020. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional. Responden pada penelitian ini adalah seluruh pekerja dan supervisor di PT. PLN (Persero) ULTG Paya Pasir. Hasil penelitian pada penelitian ini adalah pada metode kerja saat melakukan pemeliharaan meliputi safety briefing, pemeriksaan alat uji, pemeriksaan peralatan kerja, proses pemanjatan, pembersian, dan pengambilan data telah terlaksana sesuai SOP yang ditetapkan dan metode kerja saat melakukan perbaikan meliputi proses menuju lokasi pergantian insulator, pemanjan tower transmisi dan penurunan peralatan kerja berisiko dimana lokasi perbaikan memungkinkan potensi bahaya tenggelam, terjatuh dan tertimpa alat kerja. Saran yang diberikan berdasarkan penelitian ini untuk PT PLN ULTG Paya Pasir agar mempertahankan, meningkatan, mengevaluasi metode kerja dan prosedur secara sistematis saat melakukan pemeliharaan dan perbaikan sehingga dapat menjadi pedoman para pekerja dan supervisor serta penanggungjawab pekerjaan.

Selanjutnya sebaiknya pekerja saat melakukan metode kerja perbaikan, pemeliharaan pekerja dan supervisor harus memahami serta melakukan pekerjaan sesuai dengan standar operasional prosedur dan metode kerja yang telah ditetapkan di PT. PLN ULTG Paya Pasir.

Kata kunci : Metode kerja, pekerja, PLN

(7)

v Abstract

The title of this research is “Description of Work Methods for Workers at PT.

PLN (PERSERO) UPT Medan ULTG Paya Pasir”

.

Background of this research is the substation transmission service unit is a job that has a high risk of work accidents. In 2018 PLN work accident statistics state that the number of work accidents occurred due to working without or not according to the SOP. The purpose of this research was to describe the working method of the maintenance process and the repair process at PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir in 2020. The approach used in this study is observational. Respondents in this study were all workers and supervisor at PT. PLN (Persero) ULTG Paya Pasir.The research result in this study are that the work methods when performing maintenance include safety briefings, examination of test equipment, inspection of work equipment, climbing processes, cleaning, and data retrieval have been carried out according to established SOP and work methods when making improvements including the process to the location of the replacement of the insulator, extending transmission towers and lowering work equipment are risky where the repair site is a potential danger of drowning, falling and being crushed by work tools. The advice are given based on this research for PT PLN ULTG Paya Pasir to maintain, improve, systematically evaluate work methods and procedures when carrying out maintenance and repairs so that they can serve as guidelines for workers and supervisors as well as those in charge of work.

Furthermore, it is advisable for workers when carrying out repair work methods, maintenance workers and supervisors must understand and do work in accordance with the standard operating procedures and work methods that have been set at PT. PLN ULTG Paya Pasir.

Keywords : Methods of work, workers, PLN

(8)

vi

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan yang Maha Kuasa, atas segala rahmat dan karunia Nya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang ditulis berdasarkan hasil penelitian tentang “Gambaran Metode Kerja pada Pekerja di PT. PLN (PERSERO) UPT Medan ULTG Paya Pasir”, merupakan syarat untuk mencapai derajat S-1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Universitas Sumatera Utara.

Selesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tidak terhingga kepada :

1. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes., selaku Ketua Depatermen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

4. Eka Lestari Mahyuni, S.K.M., M.Kes., selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing dalam menyelesaikan kesempurnaan skripsi ini.

5. Ir. Kalsum, M.Kes., selaku Penguji I yang telah memberikan masukan demi kesempurnaan skripsi ini.

6. Isyatun Mardhiyah Syahri, S.K.M., M.Kes., selaku Penguji II yang telah memberikan masukan demi kesempurnaan skripsi ini.

7. Seluruh pekerja PT. PLN (PERSERO) UPT Medan ULTG Paya Pasir yang

sudah memberi bantuan dan dukungan dalam penulisan skripsi ini.

(9)

vii

8. Teristimewa untuk orangtua tercinta Nurhayati Hutasoit, kakak penulis Mariani Hutahaean, Selfry Hutahaean, Veronica Bakara Eriko Hutahaean, Grace Fernando, Tito Hutagalung beserta partner saya Miguel Karinda yang selalu mendukung dan mendoakan selama penyelesaian skripsi ini.

9. Sahabat – sahabat penulis semasa SMP hingga saat ini Sarah Manurung, May Sitepu, Ana Simanjuntak, Melda Nainggolan dan Tasya Aritonang yang telah banyak memberikan semangat dalam penyelesaian skripsi ini.

10. Sahabat – sahabat penulis selama perkuliahan Widya Anastasyia, Agree Vinalia, Theresia Gabriella, Oktavianisa, Balqis Nasution, Samuel Natanael Purba, Riyan Kurniawan, yang telah banyak memberikan bantuan dan semangat dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik, saran dan masukan yang membangun. Penulis juga berharap semoga skripsi yang telah disusun ini dapat memberikan manfaat terkait ilmu pengetahuan kesehatan masyarakat terkhusus keselamatan dan kesehatan kerja mengenai gambaran metode kerja pada pekerja.

Medan, 10 Maret 2021

Engli Hutahaean

(10)

viii Daftar Isi

Halaman

Halaman Persetujuan i

Halaman Penetapan Tim Penguji ii

Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii

Abstrak iv

Abstract v

Kata Pengantar vi

Daftar Isi viii

Daftar Tabel x

Daftar Gambar xii

Daftar Lampiran xiv

Riwayat Hidup xv

Pendahuluan 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 5

Tujuan Penelitian 5

Tujuan umum 5

Tujuan khusus 5

Manfaat Penelitian 6

Tinjauan Pustaka 7

Kecelakaan 7

Sebab - sebab kecelakaan 7

Pencegahan kecelakaan kerja 10

Metode Kerja 11

Transmisi Tenaga Listrik 16

Landasan Teori 21

Kerangka Konsep 23

Metode Penelitian 24

Jenis Penelitian 24

Lokasi dan Waktu Penelitian 24

Populasi dan Sampel 24

Variabel dan Definisi Operasional 25

Metode Pengumpulan Data 26

Metode Analisis Data 26

Hasil Penelitian dan Pembahasan 27

Gambaran Umum PT. PLN ULTG Paya Pasir 27

PT. PLN (PERSERO) UIP3BS 28

Hasil Wawancara Terbuka 32

(11)

ix

Pemeliharaan Arrester 76

Metode kerja aresster 80

Pemeliharaan Trafo Arus CT R3 88

Metode kerja trafo arus CT R3 93

Pemeliharaan Pemutus Tenaga 99

Metode kerja pemutus tenaga 104

Pemeliharaan Trafo Tenaga Tegangan Tinggi 111

Metode kerja trafo tenaga tegangan tinggi 118

Pemeliharaan Pembumian Gardu Induk 122

Gambaran Metode Kerja 123 Perbaikan Transmisi 130

Metode kerja penggantian isolator 132

Potensi Bahaya K3 140

Keterbatasan Penelitian 141

Kesimpulan dan Saran 143

Kesimpulan 143

Saran 143

Daftar Pustaka 145

Lampiran 148

(12)

x Daftar Tabel

No Judul Halaman

1 Karakteristik Pekerja Bagian Pemeliharaan dan Perbaikan di

PT. PLN (PERSERO) UPT Medan ULTG Paya Pasir 31

2 Metode Kerja Safety Briefing Lightning Arraster 32

3 Metode Kerja Pemanjatan Lightning Arraster 34

4 Metode Kerja Prosedur Pelaksanaan Kerja Trafo Arus CT R3 36 5 Metode Kerja Safety Briefing Trafo Arus CT R3 39

6 Metode Kerja Pemeriksaan Trafo Arus CT R3 42

7 Metode Kerja Safety Briefing Pemutus Tenaga 45

8 Metode Kerja Pemeriksaan Alat Uji Pemutus Tenaga 47

9 Metode Kerja Pemanjatan Pemutus Tenaga 51

10 Metode Kerja Pemeriksaan Alat Uji Trafo Tenaga Tegangan

Tinggi 54

11 Metode Kerja Pentanahan NGR Trafo Tenaga Tegangan

Tinggi 56

12 Metode Kerja Safety Briefing Pembumian Gardu Induk 59 13 Metode Kerja Pengambilan Data Pembumian Gardu Induk 62 14 Metode Kerja Menuju Lokasi Perbaikan Insulator 65 15 Metode Kerja Prosedur Pelaksanaan Kerja Perbaikan Insulator 67 16 Metode Kerja Pemanjatan Tower Transmisi Perbaikan

Insulator 69

17 Metode Kerja Penaikan dan Penurunan Peralatan saat

Melaksanakan Perbaikan Insulator 71

18 Metode Kerja Penggantian Insulator 74

(13)

xi

19 Pemeriksaan Visual Arraster 78

20 Pemeriksaan Visual Trafo Arus CT R3 91

21 Pemeriksaan Visual Pemutus Tenaga 101

22 Pemeriksaan Visual Trafo Tenaga Tegangan Tinggi 115

23 Pemeriksaan Visual Pembumian Gardu Induk 124

(14)

xii

Daftar Gambar

No Judul Halaman

1 Kerangka konsep 23

2 Lightning arrester 76

3 Safety briefing 81

4 Skema lightning arrester 83

5 Persiapan peralatan kerja 84

6 Pekerja melakukan pemanjatan arrester dengan tangga 86

7 Trafo arus 88

8 Plat trafo arus 92

9 Prosedur pelaksanaan trafo arus 94

10 Safety briefing 96

11 Pekerja melakukan pemeriksaan trafo arus 98

12 Safety briefing 104

13 Pemeriksaan alat uji 107

14 Pengujian keserampakan pemutus tenaga 108

15 Pemanjantan pemutus tenaga 109

16 Pembersihan pemutus tenaga 111

17 Trafo tenaga tegangan tinggi 112

18 Pemeriksaan alat uji pabrik 118

19 Neutral grounding ressistance 120

20 Safety briefing 126

(15)

xiii

21 Pengambilan data pembumian gardu induk 128

22 Menuju lokasi penggantian insulator 133

23 Prosedur pelaksanaan pekerjaan perbaikan 135

24 Pemanjatan tower transmisi 137

25 Penaikan dan penurunan peralatan 138

26 Penggantian insulator 139

(16)

xiv

Daftar Lampiran

Lampiran Judul Halaman

1 Surat Izin Penelitian 148

2 Surat Selesai Penelitian 149

3 Pedoman Wawancara Terbuka 150

(17)

xv Riwayat Hidup

Penulis bernama Engli Hutahaean berumur 22 tahun, dilahirkan di Tanjung Morawa pada tanggal 11 Juni 1998. Penulis beragama Kristen Protestan, anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Alm. Ottom Hutahaean dan Nurhayati Hutasoit.

Pendidikan formal dimulai di TK. Bhayangkari Tanjung Morawa Tahun 2003. Pendidikan sekolah dasar di SD Negeri No. 105855 PTPN II Tanjung Morawa Tahun 2004 - 2010, sekolah menengah pertama di SMP Swasta Santo Thomas 4 Medan Tahun 2010 – 2013, sekolah menengah atas di SMA Swasta Santo Thomas 3 Medan Tahun 2013 – 2016, selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Medan, 10 Maret 2021

Engli Hutahaean

(18)

1 Pendahuluan

Latar Belakang

Menurut Occupational Safety and Health Administration (OHSAS) 18001 Tahun 2007 Kecelakaan kerja merupakan peristiwa yang terkait dengan pekerjaan yang mengakibatkan cidera atau kesakitan peristiwa kematian atau peristiwa yang bisa mengakibatkan kematian. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 tentang program jaminan sosial tenaga kerja Indonesia menyatakan bahwa kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang tidak di kehendaki dan tidak terduga menyebabkan korban manusia ataupun harta benda terjadi dalam hubungan kerja. Kecelakaan kerja dikategorikan atas 2 jenis yaitu kecelakaan industri (on the job accident) dan kecelakaan kompensasi (off the job accident) yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaaanya.

Berdasarkan Internasional Labour Organization (ILO) 2013, pekerja dapat mengalami bahaya listrik pada kondisi-kondisi saat bekerja berhubungan / menyentuh kedua konduktor pada rangkaian listrik yang bertegangan. Angka kecelakaan kerja tahun 2018 merupakan angka kecelakaan tertinggi berdasarkan data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan pada tahun 2018 terjadi 114.148 atau 40.273 kasus setiap harinya, sebanyak 4.678 kasus (3,18 persen) berakibat kecacatan dan 2.575 (1,75 persen) kasus berakhir dengan kematian. Kasus kecelakaan kerja yang tercatat pada tahun 2018 melonjak sekitar 29 persen dari tahun 2017.

Penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja adalah masih rendahnya

kesadaran akan pentingnya penerapan K3 di kalangan pekerja. Kecelakaan kerja

(19)

juga terjadi pada bidang kelistrikan yang menyebabkan kematian pada pekerja dan menjadi hal yang menakutkan dikalangan pekerja industri. Pekerja yang berada di bagian antara konduktor yang ditanahkan (grounding) dan konduktor yang tidak ditanahkan dapat mengalami bahaya listrik serupa dengan pekerja yang berada pada bagian konduktor yang ditanahkan dengan material yang tidak ditanahkan juga memiliki dalam bekerja.

Statistik kecelakaan kerja PLN tahun 2018 menyebutkan bahwa jumlah kecelakaan kerja pada bagian transmisi sebanyak 45 kasus, meninggal dunia 22 kasus, pekerja bekerja dengan tidak kompeten 18 kasus, tidak mempergunakan APD 16 kasus, bekerja tanpa atau tidak sesuai SOP sebanyak 32 kasus, tidak adanya pengawas ataupun pengawas K3 sebanyak 13 kasus serta alat kerja yang tidak layak sebanyak 10 kasus. Berdasarkan databoks 7 Agustus 2019 terjadi kasus pemadaman sekitar 6 jam lamanya di seluruh wilayah Jakarta. Kejadian ini terjadi karena adanya gangguan transmisi saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET).

Dikutip dari detik finance pada 5 Agustus 2019 terjadi pemadaman massal

listrik di Jawa Tengah akibat terkena pohon sehingga jaringan putus. Sementara

itu pada jambione.com pada 9 Januari 2020 terjadi kecelakaan kerja pada pekerja

SUTET 275 kV yang terkena induksi tegangan di Jambi. Pekerja mengalami

kecelakaan saat melakukan perbaikan pada jaringan SUTET, yakni saat menaiki

tower untuk melakukan perbaikan spacer pekerja turun ke konduktor dengan

tangan kiri memegang isolator sementara tangan kanan memegang arching horn

pada saat ini pekerja terinduksi tegangan.

(20)

3

PT. PLN (Persero) adalah perusahaan listrik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang telah berdiri lama di Indonesia dalam bidang ketenagalistrikan.

Berdasarkan Undang – undang No 30 Tahun 2009 ketenagalistrikan adalah segala sesuatu yang menyangkut penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik serta usaha penunjang tenaga listrik. PT. PLN UPT Medan ULTG Paya Pasir merupakan salah satu layanan transmisi gardu induk yang berada di Jalan Titi Pahlawan, Komplek PLN Paya Pasir, Rengas Pulau, Medan Marelan.

ULTG Paya Pasir membawahi 5 unit yakni Gardu Induk Paya Pasir, Gardu Induk KIM, Gardu Induk Belawan, Gardu Induk lamhota dan Gardu Induk Labuhan. Setiap gardu induk terdiri atas seorang supervisor dan beberapa pekerja.

Pekerjaan di ULTG Paya Pasir terbagi atas beberapa bagian diantaranya bagian transmisi, distribusi dan penjualan tenaga listrik kepada konsumen.

Transmisi merupakan proses penyaluran listrik dari pembangkitan ke distribusi listrik, transmisi juga merupakan jenis pekerjaan yang memiliki potensi bahaya yang tinggi karna dihadapkan dengan arus listrik yang sangat kuat.

Pekerjaan transmisi terbagi atas dua yakni perbaikan transmisi dengan tujuan melakukan pemulihan kondisi transmisi yang mengalami kerusakan dan pemeliharaan transmisi agar transmisi listrik terhindar dari kerusakan. Sistem saluran transmisi yang dipakai oleh PT. PLN yakni sistem saluran udara yang memiliki jarak yang cukup jauh dan berbagai faktor alam serta pemakaian saluran transmisi juga rentan mengalami gangguan.

Menurut Rijanto (2019) risiko dari kecelakaan kerja disebabkan oleh

kecelakaan – kecelakaan, peralatan saat bekerja serta pekerjaan perbaikan. Potensi

(21)

bahaya bekerja di ketinggian dapat mengakibatkan risiko kecelakaan kerja yang terbesar dalam industri yaitu jatuh, tercatat 50 persen kecelakaan ini mengakibatkan kematian. Kebanyakan kecelakaan jatuh terjadi karena peralatan kerja yang disediakan tidak digunakan dengan benar.

Jatuh merupakan potensi bahaya yang dapat terjadi di PT. PLN saat melakukan kegiatan perbaikan transmisi tower pekerja dengan melakukan pemanjatan tower ketinggian 35 – 50 meter. Pada saat melakukan perbaikan tower potensi bahaya kejatuhan material dari atas tower dapat menimpah beberapa pekerja yang berada dibawah tower sering disebut ground man. Kemudian pekerja dapat mengalami risiko cedera seperti terbentur karna metode kerja yang kurang benar.

Metode kerja yang baik dan mudah dipahami oleh setiap pekerja, akan menimbulkan kesadaran pada pekerja mengenai rasa tanggung jawab yang baik dan dapat memperkuat serta mempertahankan perusahaan dari persaingan.

Metode kerja adalah cara pelaksanaan atau tugas untuk mendapatkan rancangan (desain) terbaik sehingga mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Dalam mengetahui seberapa besar metode kerja yang telah diterapkan dapat dilakukan dengan cara membandingkan waktu baku, produktivitas dan efisiensi (Tirkamiana, 2019).

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan di ULTG Paya Pasir PT. PLN

terdapat beberapa metode kerja yang dilaksanakan pekerja dapat menyebabkan

potensi bahaya seperti saat menuju lokasi perbaikan insulator yakni menggunakan

sampan yang kecil. Metode kerja saat melakukan pemanjatan insulator juga

(22)

5

dilakukan pekerja dengan metode menaiki tower transmisi tanpa step bolt melainkan secara langsung. Pekerja yang berada dibawah tower juga dapat mengalami risiko kejatuhan material dari atas tower serta cidera seperti terbentur akibat cara kerja yang tidak sesuai dengan metode kerja

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan dan kejadian yang terjadi saat melaksanakan pemiliharan transmisi tower dan perbaikan transmisi.

Masih terdapat beberapa metode kerja yang diterapkan oleh perusahaan yang dapat menyebabkan terjadi potensi bahaya pada pekerja di PT. PLN ULTG Paya Pasir. Berdasarkan masalah yang ada maka dilakukan penelitian mengenai gambaran metode kerja pada pekerja di PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir.

Tujuan Penelitian

Tujuan umum. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran metode kerja di PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir Tahun 2020.

Tujuan khusus. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini yaitu :

1. Untuk mengetahui metode kerja proses pemeliharaan di PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir.

2. Untuk mengetahui metode kerja proses perbaikan di PT. PLN (Persero) UPT

Medan ULTG Paya Pasir.

(23)

Manfaat Penelitian

1. Bagi PT. PLN Paya Pasir

Menjadi masukan bagi PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir dalam pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), khususnya metode kerja saat pemeliharaan transmisi agar dapat meningkatkan produktivitas pekerja dan perusahaan.

2. Bagi Pekerja

Sebagai sarana dalam memperoleh informasi dan pengetahuan serta meningkatkan rasa sadar bagi pekerja transmisi ULTG Paya Pasir akan pentingnya metode kerja yang baik saat melakukan pekerjaan, sehingga potensi bsahaya dapat dicegah secara optimal.

3. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat menjadi sarana guna menerapkan ilmu serta

meningkatkan pengetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan terkait

ilmu kesehatan dan menambah keterampilan dalam penulisan skripsi.

(24)

7

Tinjauan Pustaka

Kecelakaan Kerja

Menurut Tarwaka (2016), kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang jelas tidak di kehendaki dan sering kali tidak terduga semula yang dapat menimbulkan kerugian waktu, harta benda atau properti maupun korban jiwa yang terjadi pada suatu proses industri. Kecelakaan kerja yang timbul dari atau saat perjalanan kerja dapat mengakibatkan cedera akibat kerja yang fatal dan cedera kerja yang tidak fatal. Permenaker No. 11 Tahun 2016 tentang pelayanan kesehatan dan besaran tarif dalam penyelenggaraan program jaminan kecelakaan kerja mendefinisikan bahwa kecelakaan kerja tidak hanya sebatas kecelakaan saja tetapi juga penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh lingkungan kerja.

Reese (2009), mengungkapkan bahwa kecelakaan kerja merupakan hasil langsung dari tindakan aman dan kondisi tidak aman dan kedua hal tersebut dapat dikontrol oleh manajemen. Tindakan tidak aman merupakan sebagai penyebab langsung kecelakaan karena secara langsung terlibat pada saat kecelakaan terjadi.

Orientasi yang terjadi akibat kecelakaan kerja dialami langsung oleh pekerja dan juga pengelola atau perusahaan sebagai akibat dari kecelakaan sehingga setiap pekerja berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari terjadinya kecelakaan dan tidak pernah berharap mengalami kecelakaan. Kejadian kecelakaan merupakan suatu gabungan kejadian yang disebabkan oleh adaya faktor – faktor atau potensi bahaya yang satu sama lain saling berkaitan

Sebab–sebab kecelakaan kerja. Kecelakaan yang terjadi memiliki sebab

yang harus dianalisis dan selanjutnya ditemukan tindakan pencegahannya agar

(25)

kecelakaan tidak terjadi lagi. Menurut Sumakmur (2014), penyebab kecelakaan terbagi atas 2 jenis yakni disebabkan lingkungan dan mekanis yang mencakup segala faktor selain manusia. Kecelakaan kerja yang disebabkan oleh manusia dapat dianalisis dengan contoh seorang pekerja mengalami kejatuhan benda pada kepalanya sehingga mengalami kecelakaan.

Pekerja tidak akan mengalami kecelakaan jika menerapkan metode kerja yang diperingatkan oleh supervisor kepada seluruh pekerja. Faktor mekanis dan lingkungan sebagai penyebab kecelakaan dapat digolongkan menurut kelompok pengolahan bahan, mesin penggerak dan pengangkat, terjatuh dan tertimpa benda jatuh, pemakaian perkakas yang dipegang secara manual, luka bakar oleh benda pijar dan transportasi. Penyebab kecelakaan terbesar mengakibatkan kematian terjadi karena terjatuh baik dari tempat ketinggian maupun datar.

Faktor manusia terhadap cenderung terjadinya kecelakaan ditempat kerja

memiiki banyak penyebab seperti sifat semberono, selalu bergegas dan terlalu

berani. Pekerja yang memiliki kemampuan lamban dalam pekerjaan yang gesit

tidak akan sesuai, jika pekerja dipaksa bekerja yang memerlukan kegesitan akan

berisiko celaka saat bekerja. Berdasarkan Tarwaka (2016), teori domino

menggambarkan bahwa terjadinya suatu kecelakaan atau cedera dibagi

berdasarkan 3 fase yakni fase pre kontak yang merujuk pada kondisi yang

mengarah pada suatu kecelakaan, fase kontak merupakan fase selama pekerja,

mesin, atau fasilitas lain mengalami kontak dengan bentuk energi yang ada

ditempat kerja.

(26)

9

Fase selanjutnya pasca kontak mengacu kepada akibat dari kecelakaan seperti cedera fisik, produksi menurun, reputasi perusahaan turun dan fasilitas dan peralatan kerja rusak. Kecelakaan menurut jenis pekerjaan berperan dalam menentukan terjadinya celaka. Kecelakaan di industri, pekebunan, pertambangan, pekerjaan berhubungan dengan listrik akan berlainan satu sama lain.

Kecelakaan kerja di pertambangan yakni ledakan, atap tambang dan dinding rubuh, terjatuh saat menaiki dan menuruni tangga. Kecelakaan di industri maritime seperti tenggelam, luka akibat terumbu karang maupun serangan ikan.

Kecelakaan yang terjadi di perkebunan yakni tertimpa kayu dan buah, luka karena gergaji maupun perkakas lainnya.

Pekerjaan yang berhubungan dengan arus listrik terutama yang memiliki tegangan yang cukup tinggi akan sangat berbahaya, terutama bagi orang – orang yang belum mengetahui secara mendalam mengenai seluk – beluk masalah listrik.

Kawat yang memiliki aliran listrik harus tertutup oleh isolasinya, jika tidak dapat menyebabkan hubungan arus pendek (kortsluiting), kebakaran, dan pekerja terkena sengatan listrik. Arus listrik yang memiliki tekanan tinggi hanya dapat diperiksa oleh pihak – pihak yang ahli dalam bidang tersebut. Lemari sakelar juga hanya boleh dimasuki oleh ahlinya dan harus selalu dalam keadaan terkunci.

Perbaikan instalasi listrik hanya dikerjakan saat arus telah dipadamkan.

Kecelakaan oleh arus listrik pada umumnya berdasarkan dari lintasan arus dalam

tubuh, arus yang melalui jantung sangat berbahaya. Dalam pemberian pertolongan

korban hanya dapat dilakukan sesudah arus listrik padam dan menggunakan

bantuan isolator yang telah memiliki standar keselamatan.

(27)

Pencegahan kecelakaan. Kecelakaan kerja mengakibatkan kerugian materi dan kerugian korban jiwa serta peralatan yang cukup besar sehingga perlu diterapkan pencegahan dalam kecelakaan kerja. Pencegahan kecelakaan dapat dilakukan berdasarkan analisis mengenai penyebab terjadinya kecelakaan.

Adapun pencegahan kecelakaan kerja dilakukan dengan identifikasi bahaya yang terdapat dan mungkin menimbulkan insiden kecelakaan di suatu perusahaan dan besarnya risiko bahaya.

Menurut Rijanto (2019), pekerjaan yang berada ditempat ketinggian memerlukan pelataran tempat kerja sudah aman serta sifat dan lamanya kerja juga akan akan mempengaruhi bagaimana tempat kerja yang sesuai. Pencegahan yang sesuai untuk mencegah kemungkinan orang terjatuh dari ketinggian 2 meter atau lebih menggunakan alat pelindung yang memiliki persyaratan seperti terbuat dari bahan yang cukup kuat dan kaku untuk mencegah orang jatuh dan mampu mendukung muatan – muatan lain yang diletakan diatasnya.

Pencegahan ditujukan kepada lingkungan, mesin, peralatan kerja,

perlengkapan kerja terutam faktor manusia. Menurut Suma’mur (2011),

lingkungan harus memenuhi syarat lingkungan kerja aman, persyaratan

keselamatan dan ketatarumahtangaan perusahaan. Syarat lingkungan kerja

meliputi hygiene sanitasi, pengaturan suhu dan lainnya, sedangkan

penyelenggaraan ketatarumahtangaan perusahaan yakni pengaturan penyimpanan

barang, penempatan dan pemasangan mesin. Perencanaan pencegahan kecelakaan

kerja tercermin dari pengaturan operasi proses produksi, pengaturan instalasi

(28)

11

mesin, penerapan norma keselamatan, perlengkapan dan peralatan yang memadai serta pedoman metode kerja dan aturan pelaksanaan kerja.

Metode Kerja

Metode berasal dari bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh, metode dapat diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Syamsi (2004), metode adalah dasar dari setiap tindakan juga sebagai hasil penetapan mengenai cara pelaksanaan kerja untuk mencapai tujuan, serta hasil penetapan penggunaan fasilitas dan keseluruhan pengorbanan baik yang berupa pengorbanan waktu, uang. Metode disimpulkan sebagai cara mengerjakan lebih lanjut dari salah satu langkah maupun beberapa langkah yang telah ditetapkan dalam prosedur selanjutnya disusun teknik pelaksanaanya.

Menurut Syamsi (2004), metode kerja merupakan realisasi pelaksanaan dari prosedur kerja sebelum pelaksanaan teknis di tempat kerja. Metode kerja terkadang dibedakan dengan teknis pelaksanaan kerja, tetapi tidak jarang metode kerja dan teknis pelaksanaan kerja berhimpitan arti dan pelaksanaanya.

Sedarmayanti (2011), mendifinisikan metode kerja dikenal dengan istilah tata kerja yakni cara pelaksanaan kerja yang seefisien mungkin terhadap suatu tugas dan mengingat segi tujuan, peralatan, fasilitas, tenaga kerja, waktu, ruang dan biaya yang tersedia.

Menurut Rijanto (2019), sebelum pekerjaan dimulai rencanakan cara

bekerja yang aman seperti sarana menuju tempat bekerja dan tempat berdiri yang

kuat untuk kendaraan pengangkut, derek, anjungan bergerak dan perancah. Untuk

(29)

menyimpan bahan – bahan dengan aman dan pastikan program kerja kegiatan lain tidak dilakukan dibawah struktur sehingga mencegah risiko orang terluka karena kejatuhan bahan – bahan. Bekerja dengan aman diketinggian, upayakan menggunakan anjungan kerja bergerak bila pekerja bekerja langsung dari rangka struktur pastikan mereka memakai body harness dan sabuk pengaman yang dihubungkan dengan rangka, atau cara pengaman lain seperti memasang jaring untuk menahan jika terjatuh.

Metode kerja yang diterapkan pada pekerjaan ditempat ketinggian harus memiliki ketentuan seperti :

Pemeriksaan. Pemeriksaan mengenai sudah adakah metode yang aman untuk memasuki atau keluar dari tempat kerja

Penentuan. Penentuan peralatan apa yang sesuai dan tersedia di tempat kerja serta kondisinya.

Pastikan. Pastikan bahwa alat – alat yang diperlukan telah diletakan di lapangan pada waktunya dan lapangan juga telah disiapkan untuk itu.

Pemeriksaan keadaan perlatan. Pemeriksaan keadaan peralatan dalam keadaan baik dan pastikan pekerja yang bersama peralatan telah dilatih dan mengetahui apa yang dikerjakannya.

Berikan pelindung. Berikan pelindung serta jangan melepas atau membuang pengaman, alat keselamatan dari peralatan yang ada, kecuali untuk perbaikan atau keperluan penyetelan dan juga setelah sumber daya dimatikan.

Pasang kembali pengaman. Pasang kembali pengaman dan alat

keselamatannya setelah pekerjaan perbaikan atau penyetelan selesai.

(30)

13

Pasang anjungan kerja. Pasang anjungan kerja, injakan, tangga, peganganm dan papan pelindung kaki pada semua peralatan dimana diperlukan untuk jalur yang aman.

Buatlah alat pengaman. Buatlah alat pengaman untuk mencegah orang yang tidak berhak menghidupkan peralatan, dengan cara nenggunakan sistem kunci atau memblok dan mengunci alat penghidup. Pada akhir suatu periode waktu kerja, operator harus mengunci peralatannya untuk mencegah peralatannya hidup tanpa sengaja, terlepas atau terjatuh.

Prosedur kerja adalah tahapan dalam tata kerja tentang bagaimana mengelola sebuah yang mengandung pengertian tentang apa, untuk apa dan bagaimana pekerjaan harus diselesaikan. Sistem kerja adalah satu kesatuan antara tata kerja dan prosedur kerja sehingga membentuk suatu pola yang dapat dengan tepat menyelesaikan sebuah pekerjaan. Manfaat yang diperoleh dari tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja sebagai suatu pola kerja yang merupakan penjabaran tujuan, sasaran, program kerja, fungsi dan kebijaksanaan kedalam kegiatan pelaksanaan kerja yang lebih jelas.

Standarisasi dan pengendalian kerja yang tepat serta menjadi pedoman

kerja bagi semua pihak yang berkepentingan, adapun tujuan diterapkannya

metode kerja yang tepat untuk mencegah terjadinya pemborosan tenaga, biaya,

material, waktu dan terhambatnya proses penyelesaian pekerjaan. Menciptakan

koordinasi, pembagian waktu, tugas dan tanggung jawab secara tepat

(Serdamayanti, 2011). Menyusun metode kerja, prosedur kerja dan sistem kerja

harus memperhatikan beberapa hal yakni :

(31)

Dinyatakan secara tertulis. Dinyatakan secara tertulis disusun secara sistematis, dan dituangkan dalam bentuk pedoman kerja.

Dikomunikasikan secara sistematis. Dikomunikasikan secara sistematis kepada semua pegawai yang bersangkutan.

Disesuaikan dengan kebijaksanaan umum. Disesuaikan dengan kebijaksanaan umum dan kebijaksanaan pimpinan yang berlaku.

Dapat mendorong pelaksanaan kegiatan. Dapat mendorong pelaksanaan kegiatan secara efektif dan efisien serta menciptakan jaminan yang memadai bagi terpeliharanya sumber – sumber yang berada di bawah pengendalian organisasi.

Dievaluasi secara periodik. Dievaluasi secara periodik dan bila perlu direvisi untuk disesuaikan dengan kebutuhan.

Secara umum kebijaksanaan pengaturan di bidang metode kerja, prosedur kerja, dan sistem kerja berdasarkan sebagai berikut :

Setiap pimpinan wajib menerapkan prinsip koordinasi. Setiap pimpinan wajib menerapkan prinsip koordinasi integrasi dan sinkronisasi baik dalam lingkungan kerja masing – masing maupun dengan pihak lain.

Setiap pimpinan bertanggung jawab memimpin. Setiap pimpinan bertanggung jawab memimpin mengkoordinasikan bawahannya masing – masing dan membimbing serta memberikan petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahannya.

Setiap pimpinan unit wajib mengikuti petunjuk. Setiap pimpinan unit

wajib mengikuti petunjuk dan bertanggung jawab kepada atasan masing – masing

dengan menyampaikan laporan berkala tepat pada waktunya.

(32)

15

Setiap pimpinan unit wajib mengolah dan memanfaatkan laporan.

Setiap pimpinan unit wajib mengolah dan memanfaatkan laporan lebih lanjut dan memberikan petunjuk kepada bawahan.

Dalam menyampaikan suatu laporan. Dalam menyampaikan suatu laporan setiap unit wajib memberi tembusan kepada unit lainnya yang secara fungsional mempunyai hubungan kerja.

Dalam teknik penyusunan dan penentuan metode kerja, prosedur kerja dan sistem kerja yang harus dipakai dalam setiap tempat kerja hendaknya dapat memenuhi prinsip – prinsip (Serdamayanti, 2011). Sebagai berikut :

Metode kerja, prosedur kerja dan sistem kerja, harus disusun dengan memperhatikan segi tujuan, fasilitas, peralatan, material, biaya, dan waktu yang tersedia serta segi luas, macam dan sifat – sifat pekerjaan.

Mempersiapkan penjelasan tentang tujuan pokok organisasi.

Mempersiapkan penjelasan tentang tujuan pokok organisasi skema organisasi berikut klasifikasi jabatan dan analisis jabatan, unsur kegiatan didalam organisasi dan lain – lain.

Menentukan satu pokok bidang tugas. Menentukan satu pokok bidang tugas yang akan dibuat bagan prosedurnya.

Membuat daftar rinci tentang pekerjaan. Membuat daftar rinci tentang pekerjaan yang harus dilakukan berikut lamanya waktu yang diperlukan untuk melaksanakan bidang tugas..

Dalam menetapkan urutan tahap demi tahap. Dalam menetapkan

urutan tahap demi tahap dari rangkaian pekerjaan, maka antara tahap yang satu

(33)

dengan tahap berikutnya harus terdapat hubungan erat yang keseluruhannya menuju ke satu tujuan.

Setiap tahap harus merupakan suatu kerja nyata. Setiap tahap harus merupakan suatu kerja nyata dan perlu untuk pelaksanaan dan penyelesaian seluruh tugas atau pekerjaan yang dimaksudkan.

Menetapkan kecakapan dan keterampilan pegawai.

Menetapkan kecakapan dan keterampilan pegawai yang diperlukan untuk menyelesaikan bidang tugas tertentu.

Metode kerja, prosedur kerja dan sistem kerja harus disusun secara tepat sehingga memiliki stabilitas dan fleksibilitas dan selalu disesuaikan dengan perkembangan teknologi.

Menggunakan simbol dan skema. Menggunakan simbol dan skema atau bagan prosedur kerja dengan setepat – tepatnya untuk penerapan prosedur tertentu.

Untuk menjamin penerapan metode kerja. Untuk menjamin penerapan metode kerja, prosedur kerja dan sistem kerja dengan tepat, maka perlu dipakai bukti pedoman.

Transmisi Tenaga Listrik

Berdasarkan Undang – Undang No 14 Tahun 2012 tentang kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik mendefnisikan transmisi tenaga listrik sebagai penyaluran tenaga listrik dari suatu sumber pembangkit ke suatu sistem distribusi atau kepada konsumen ataupun kepada penyaluran tenaga listrik antar sistem.

Usaha transmisi tenaga listrik sebagaimana dalam Undang – Undang No 14

(34)

17

Tahun 2012 mewajibkan membuka kesempatan pemanfaatan bersama jaringan transmisi untuk kepentingan umum dan kewajiban pemanfaatan bersama jaringan transmisi. Pemanfaatan bersama jaringan transmisi dilaksanakan sesuai dengan kemampuan kapasitas jaringan transmisi.

Setiap kegiatan usaha ketenagalistrikan wajib memenuh ketentuan keselamatan ketenagalistrikan yang memiliki tujuan untuk mewujudkan kondisi andal dan aman bagi instalasi, aman bagi manusia dan makluk hidup lainnya dari bahaya dan ramah lingkungan. Menteri menetapkan peralatan tenaga listrik wajib membubuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan tanda keselamatan sehingga sistem dan peralatan listrik harus dipilih, dipasang, digunakan dan dipelihara dengan baik. Menurut Rijanto (2019), peralatan listrik yang digunakan dibangunan adalah peralatan tangan berkekuatan dan berbagai peralatan portable, dengan penggunaan yang terkadang keras sehingga mengakibatkan rusak dan menjadi berbahaya.

Peralatan modern dengan isolasi ganda telah menerapkan perlindungan yang baik tetapi plug kabelnya memerlukan pengecekan secara teratur karena rawan rusak sehingga perlu pengurangan risikonya seperti :

Peralatan tanpa kabel. Peralatan tanpa kabel atau peralatan yang

dioperasikan dengan tegangan 110 volt yang dengan pelindung masa sehingga

tegangan maksimum ke masa tidak lebih dari 55 volt, akan lebih efektif

menghilangkan risiko terhadap kematian dan mengurangi cidera pada kecelakaan

akibat listrik.

(35)

Bila menggunakan tegangan utama. Bila menggunakan tegangan utama risiko cedera akan tinggi bila peralatan dalam kondisi buruk. Pemutus arus diperlukan untuk memastikan bahwa aliran akan terputus dengan segera bila terhubung dengan bagian bermuatan.

Peralatan pemutus arus. Peralatan pemutus arus harus dipasang dan dirawat untuk menyelamatkan kehidupan jika terjadi kecelakaan. peralatan ini harus bebas dari kotoran dan debu dan terlindung dari getaran dan kerusakan mekanis sehingga harus diperiksa setiap hari.

Bila jaringan permanen. Bila jaringan permanen sedang ditingkatkan kemampuannya sebagai bagian dari pekerjaan, pastikan bahwa jaringannya permanen. Pada umumnya dipasang alat pemutus arus pada suplai arus masuk yang baru.

Sistem pelistrikan. Sistem pelistrikan harus diperiksa dan dirawat secara teratur. Pemeriksaan secara visual dapat mendeteksi 95 persen dari kekurangan atau kerusakan peralatan.

Sebelum menggunakan peralatan tangan. Sebelum menggunakan peralatan tangan dengan tegangan 230 volt maka perlu diperiksa bahwa tidak ada kabel yang terbuka. Penutup kabelnya tidak rusak dan tidak terpotong atau tergores, bagian luar kotak peralatan tidak rusak atau lepas dan semua sekrup terpasang dengan baik serta tidak ada tanda bekas bakar atau terlalu panas pada plug, kabel atau peralatan.

Para pekerja diinstruksikan. Para pekerja diinstruksikan untuk

melaporkan dengan segera setiap kerusakan dan hentikan penggunaan peralatan

(36)

19

atau kabel begitu kerusakan terlihat. Pimpinan juga harus mengupayakan inspeksi resmi mingguan secara visual peralatan portable 230 volt.

Perawatan peralatan. Perawatan peralatan yang rusak harus segera dilakukan begitu kerusakan diketahui.

Pemeliharaan SUTT memegang peranan sangat penting dalam menunjang kualitas dan keandalan penyediaan tenaga listrik kepada konsumen. Pemeliharaan SUTT adalah proses kegiatan yang bertujuan mempertahankan atau menjaga kondisi SUTT, sehingga dalam pengoperasiannya SUTT dapat selalu berfungsi sesuai dengan karakteristik desainnya dan mencegah terjadinya gangguan yang merusak. Jadi, efektifitas dan efisiensi dari pemeliharaan SUTT dapat dilihat dari peningkatkan reliability, avaibility dan efficiency SUTT, perpanjangan umur SUTT, perpanjangan interval overhaul (pemeliharaan besar) pada SUTT , pengurangan risiko terjadinya kegagalan atau kerusakan pada SUTT, peningkatan safety, pengurangan lama waktu padam, waktu pemulihan yang efektif dan biaya pemeliharaan yang efisien / ekonomis.

Adapun jenis-jenis pemeliharaan yang dilaksanakan di PT. PLN (Persero) ULTG Paya Pasir meliputi :

Pemeliharaan preventif (preventive maintenance). Pemeliharaan yang

dilaksanakan untuk mencegah terjadinya kerusakan secara tiba-tiba dan untuk

mempertahankan unjuk kerja yang optimal sesuai umur teknisnya, melalui

inspeksi secara periodik dan pengujian fungsi atau melakukan pengujian dan

pengukuran untuk mendiagnosa kondisi peralatan. Kegiatan ini dilaksanakan

dengan berpedoman kepada : instruction manual dari pabrik, standar-standar yang

(37)

ada ( IEC, IEEE, CIGRE, ANSI ) dan pengalaman serta observasi / pengamatan operasi di lapangan. Pemeliharaan ini dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :

Pemeliharaan rutin (routine maintenance). Pemeliharaan secara periodik / berkala dengan melakukan inspeksi dan pengujian fungsi untuk mendeteksi adanya potensi kelainan atau kegagalan pada peralatan dan mempertahankan unjuk kerjanya. Dalam pelaksanaannya, pemeliharaan rutin pada SUTT terdiri dari : pemeliharaan mingguan (ground patrol), pemeliharaan 5 tahunan (climb up inspection) atau 20 persen dari panjang SUTT pertahun.

Predictive maintenance. Disebut juga dengan pemeliharaan berbasis kondisi (Condition Based Maintenance). Pemeliharaan yang dilakukan dengan cara melakukan monitor dan membuat analisa tren terhadap hasil pemeliharaan untuk dapat memprediksi kondisi dan gejala kerusakan secara dini. Ruang lingkup predictive maintenance meliputi : in service measurement yaitu pengujian yang dilakukan saat peralatan beroperasi dan shutdown testing / measurement yaitu pengujian yang dilakukan saat tidak operasi (padam).

Pemiliharaan pasca gangguan. Pemeliharaan yang dilaksanakan setelah

peralatan mengalami gangguan dengan kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan

meliputi in service visual inspection (ground patrol : melakukan pengecekan jalur

setelah reclose / trip akibat gangguan eksternal, dilanjutkan climb up inspection

untuk memastikan sumber gangguan) dan in service measurement (thermovisi

dan korona). Jika diketahui kondisi peralatan masih baik, maka peralatan dapat

dioperasikan kembali, namun bila diketahui telah terjadi kerusakan yang

(38)

21

memerlukan perbaikan, maka perlu ditindaklanjuti dengan corrective maintenance.

Corrective maintenance. Corrective maintenance adalah pemeliharaan

yang dilakukan ketika peralatan mengalami kelainan / unjuk kerja rendah pada saat menjalankan fungsinya atau kerusakan (berdasarkan condition assesment dari preventive maintenance), dengan tujuan untuk mengembalikan pada kondisi semula melalui perbaikan (repair) ataupun penggantian (replace). Di dalam pelaksanaannya, corrective maintenance dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :

Planned. Planned adalah pemeliharaan yang dilakukan ketika peralatan mengalami kelainan saat menjalankan fungsinya, agar mengembalikan kondisi semula melalui perbaikan ataupun penggantian secara terencana.

Unplanned. Unplanned disebut juga pemilaharaan breakdown, yakni pemeliharaan dilakukan ketika peralatan mengalami kerusakan secara tiba – tiba sehingga menyebabkan pemadaman. Untuk mengembalikan pada kondisi semula perlu dilakukan perbaikan besar ataupun pergantian.

Landasan Teori

Menurut Syamsi (2004) Metode kerja merupakan realisasi pelaksanaan dari prosedur kerja sebelum pelaksanaan teknis di tempat kerja. Metode kerja terkadang dibedakan dengan teknis pelaksanaan kerja. Tetapi tidak jarang, bahwa metode kerja dan teknis pelaksanaan kerja berhimpitan arti dan pelaksanaanya.

Menurut Undang–Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang

Ketenagalistrikan sebagai berikut ketenagalistrikan adalah segala sesuatu yang

(39)

menyangkut penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik serta usaha penunjang tenaga listrik.

Menurut Undang–Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum dilaksanakan oleh badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, badan usaha swasta, koperasi, dan swadaya masyarakat yang berusaha di bidang penyediaan tenaga listrik.

Menurut Undang–Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan untuk kepentingan umum, pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik dalam melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik berhak untuk:

1. melintasi sungai atau danau baik di atas maupun di bawah permukaan.

2. melintasi laut baik di atas maupun di bawah permukaan 3. melintasi jalan umum dan jalan kereta api.

4. masuk ke tempat umum atau perorangan dan menggunakannya untuk sementara waktu.

5. menggunakan tanah dan melintas di atas atau di bawah tanah.

6. melintas di atas atau di bawah bangunan yang dibangun di atas atau di bawah tanah.

7. memotong dan/atau menebang tanaman yang menghalanginya.

Menurut Undang–Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang

Ketenagalistrikan setiap kegiatan usaha ketenagalistrikan wajib memenuhi

ketentuan keselamatan ketenagalistrikan untuk mewujudkan kondisi andal dan

aman bagi instalasi aman dari bahaya bagi manusia dan makhluk hidup lainnya

(40)

23

dan ramah lingkungan. Ketentuan keselamatan tersebut juga memiliki sertifikat layak operasi, standar nasional Indonesia, dan sertifikat kompetensi.

Menurut SPLN21 Standar Evaluasi Hasil Pemeliharaan SUTT adalah acuan yang digunakan dalam mengevaluasi hasil pemeliharaan untuk dapat menentukan kondisi peralatan yang dipelihara. Standar yang ada berpedoman kepada :instruction manual dari pabrik, standar-standar internasional maupun nasional ( IEC, IEEE, CIGRE, ANSI, SPLN, SNI dll ) dan pengalaman serta observasi / pengamatan operasi di lapangan.

Kerangka Konsep

Gambar 1. Kerangka konsep

Pekerja Transmisi PT.

PLN ULTG Paya Pasir

Perbaikan Transmisi

Metode Kerja

Pemeliharaan Transmisi

Penggantian Isolator Tower Transmisi

1. Pemeliharaan Arrester

2. Pemeliharaa Tenaga Tegangan Tinggi

3. Pemeliharaan Pembumian Gardu Induk

4. Pemeliharaan Trafo Arus CT R3

5. Pemeliharaan Trafo Arus

(41)

24

Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu bertujuan untuk mengetahui gambaran atau deskripsi tentang metode kerja pada pekerja di PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir secara objektif dengan pendekatan observasional.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian. Bertempat di PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir.

Waktu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret tahun 2020 hingga selesai.

Populasi dan Sampel

Populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang yang terlibat dalam pekerjaan bagian pemeliharaan dan perbaikan di ULTG Paya Pasir yang terdiri dari 30 pekerja dan supervisor.

Sampel. Pengambilan sampel dengan cara total population sampling.

Total population sampling atau sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel, sering juga diartikan sampai yang sudah maksimum, ditambah berapapun tidak akan merubah keterwakilan kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2015).

Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 30 pekerja dan supervisor.

(42)

25

Variabel dan Definisi Operasional

Kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja merupakan permasalahan yang menyebabkan kerugian materi dan dapat menimbulkan korban jiwa yang terjadi saat melakukan pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan di PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir.

Metode kerja. Metode kerja merupakan suatu sistem rangkaian dari tata kerja dan prosedur kerja yang dilakukan oleh pekerja dan supervisor di PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir dalam melaksanakan pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan agar dapat memahami proses kerja sehingga tercapai tujuan yang telah disepakati bersama.

Perbaikan transmisi. Perbaikan transmisi adalah suatu kegiatan di PT.

PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir dalam melakukan pemulihan / memperbaiki kondisi peralatan atau permesinan yang telah mengalami penurunan performa atau kerusakan agar tetap atau mendekati keadaan semula. Indikator risiko dalam proses perbaikan transmisi yaitu melakukan pekerjaan penggantian isolator pada tower transmisi dengan observasi perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja , meliputi proses perbaikan, metode kerja perbaikan dan potensi bahaya perbaikan di PLN ULTG Paya Pasir.

Pemeliharaan transmisi. Pemeliharaan transmisi adalah suatu usaha yang

diterapkan di PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir dengan tujuan

menjaga dan mempertahankan kondisi peralatan atau mesin transmisi listrik

sehingga berfungsi dengan baik dan terhindar dari kerusakan. Indikator risiko

dalam pemeliharaan transmisi terbagi atas pemeliharaan arrester, pemeliharaan

(43)

pemutus tenaga, pemeliharaan trafo arus, pemeliharaan pembumian gardu induk dan pemeliharaan trafo tenaga tegangan tinggi dengan observasi perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja meliputi proses pemeliharaan, metode kerja pemeliharaan dan potensi bahaya pemeliharaan di PT. PLN ULTG Paya Pasir.

Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh dengan observasi langsung dilapangan, observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi pada pekerja transmisi PT. PLN Paya Pasir mengenai metode kerja yang tersedia dan diterapkan selama bekerja dalam pemeliharaan dan perbaikan jaringan pada transmisi.

Metode Analisis Data

Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis statistik

deskriptif pada data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara terbuka dan

dokumentasi di PT. PLN (Persero) UPT Medan ULTG Paya Pasir. Data yang

diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan tentang

metode kerja pada pekerja di PT. PLN (PERSERO) UPT Medan ULTG Paya

Pasir.

(44)

27

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Gambaran Umum PT. PLN ULTG Paya Pasir

Sejarah Berdirinya PT PLN (PERSERO) ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke 19, perkembangan ketenagalistrikan di Indonesia mulai ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang pabrik gula dan pabrik teh mendirikan pembangkit listrik untuk kebutuhan sendiri. Pengusahaan ketenagalistrikan mengalami perkembangan akan pentingannya kelistrikan untuk masyarakat umum, diawali dengan perusahaan swasta Belanda yaitu NV. NIGM memperluas usaha di bidang gas ke bidang listrik. Pada 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah departemen pekerjaan umum dan tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW.

Pada tanggal 1 Januari 1961, jawatan listrik dan gas diubah menjadi BPU-

PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak dibidang

listrik, gas dan kokas. Tahun 1972 sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.17

Perusahaan Listrik Negara (PLN) ditetapkan sebagai Perusahaan Umum Listrik

Negara dan sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) bertugas

menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum. Seiring dengan kebijakan

pemerintah yang memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak

dalam bisnis penyediaan listrik, maka sejak tahun 1994 status PLN beralih dari

Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dan juga sebagai

PKUK dalam menyediakan listrik bagi kepentingan umum hingga sekarang.

(45)

Sejarah berdirinya PT PLN (Persero) sektor pembangkitan medan merupakan pemekaran dari PT PLN (Persero) sektor pembangkitan belawan yang sebelumnya bernama pusat listrik paya pasir. Saat ini menjadi salah satu unit kerja di lingkungan PT PLN (Persero) pembangkitan sumatera utara yang berdiri dan beroperasi sejak tanggal 20 Maret 2007 sesuai SK General Manager No.014.K/GMKITSU/2007 dan SK DIR 261.K/DIR/2012). Pembangkit tenaga listrik ini terletak 17 km sebelah utara kota Medan dengan 3 unit kerja yaitu Pusat Listrik Paya Pasir, Pusat Listrik Glugur, dan Pusat Listrik Titi Kuning untuk memenuhi segala kebutuhan akan tenaga listrik di kota Medan dan sekitarnya.

Lokasi pembangunan dipilih di sebelah utara kota Medan tepatnya di Medan Marelan dengan luas area ±33 ha. PT PLN Wilayah II Sumatera Utara memilih daerah tersebut sebagai lokasi PLTG berdasarkan pertimbangan yang matang, pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut yakni mengingat PLTG Glugur dan PLTD Titi kuning tidak mungkin lagi melakukan pembangunan pembangkit baru karena areal yang tidak cukup lagi dan terjadinya pertambahan perumahan penduduk di sekitarnya.

Lokasi PLTG Paya Pasir dekat ke sungai yang bermuara di Medan, sehingga terjadinya banjir sangat kecil karena aliran air parit dari lokasi dapat dialirkan ke sungai. Untuk membantu daya listrik daerah Kecamatan Medan Marelan, Medan Labuhan dan sekitarnya mengingat di daerah ini banyak didirikan pabrik-pabrik industri dan perumahan penduduk.

PT. PLN (Persero) UIP3BS. PT PLN (Persero) Unit Induk Penyaluran

dan Pusat Pengatur Beban Sumatera (UIP3BS) bertugas untuk mengoperasikan

(46)

29

sistem tenaga listrik sumatera, mengoperasikan dan memelihara instalasi sistem tenaga listrik sumatera, merencanakan pengembangan sistem tenaga listrik sumatera, dan mengelola pemeliharaan sistem transmisi tenaga listrik sumatera.

PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Transmisi Medan, atau yang selanjutnya disebut dengan UPT Medan, merupakan salah satu unit pelaksana di UIP3BS.

Unit Pelaksana Transmisi (UPT) memiliki tugas utama yaitu bertanggung jawab melaksanakan pemeliharaan instalasi penyaluran tenaga listrik di wilayah kerjanya yang meliputi fungsi pemeliharaan dan proteksi, pemeliharaan instalasi penyaluran, pengoperasian dan pemeliharaan gardu induk, logistik dan pengelolaan lingkungan dan keselamatan ketenagalistrikan, penyelesaian permasalahan sosial terkait Right of Way serta pengelolaan sumber daya manusia, administrasi dan keuangan sebagai pendukung kegiatan operasional perusahaan

UPT membawahi Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) yang

bertanggung jawab melaksanakan kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan rutin

transmisi dan gardu induk di wilayah kerjanya untuk menghasilkan keandalan

pasokan tenaga listrik. Seluruh pekerja mengikuti dari ranah kerja ULTG Paya

Pasir yang bertanggung jawab untuk mengelola unit layanan transmisi dan gardu

induk di area kerjanya yaitu GI Paya Pasir, GI KIM, GI Belawan, GI Labuhan,

dan GI Lamhotma. Masing – masing unit kompetensi ini memiliki empat elemen

kompetensi yaitu merencanakan dan menyiapkan pemeliharaan, melaksanakan

pemeliharaan, memeriksa pelaksanaan pemeliharaan, dan membuat laporan

pekerjaan.

(47)

Elemen merencanakan dan menyiapkan pelaksanaan pemeliharaan memiliki ketentuan – ketentuan tertentu seperti pada gambar teknik peralatan yang akan di pelihara dipelajari berdasarkan Standing Operation Procedure. Tata cara berkomunikasi sesuai struktur organisasi unit kerja cara berkomunikasi dipahami dan dilaksanakan sesuai Standing Operation Procedure (SOP) pemeliharaan gardu induk. Rencana kerja disusun agar pekerjaan dapat diselesaikan sesuai jadwal yang ditetapkan

Pekerja yang berwenang dalam perencanaan dan penyiapan pemeliharaan harus dihubungi untuk memastikan bahwa perkerjaan telah dikoordinasikan.

Peralatan kerja sesuai dengan keselamatan ketenagalistrikan dan alat bantu disiapkan sesuai keperluan dan standar melaksanakan pemeliharaan peralatan gardu induk yang ditetapkan perusahaan. Elemen berikutnya merupakan perintah yang diterima diperiksa untuk memastikan bahwa instruksi dapat dilaksanakan sesuai standar perusahaan serta memiliki prosedur dan peraturan berdasarkan keselamatan ketenagalistrikan dipahami sesuai standar yang berlaku.

Elemen ketiga yaitu melaksanakan pemeliharaan memiliki peralatan bantu yang dipasang sesuai Standing Operaton Procedure (SOP) dan instruksi dari pelaksana pengambilan data dilakukan berdasarkan pelaksanaan pemeliharaan.

Alat kerja, material kerja dan APD harus disiapkan atau dikenakan serta dalam

melaksanakan pemeliharaan dilakukan pengambilan data lapangan dan denah

lokasi pemeliharaan. Elemen keempat yakni memeriksa pelaksanaan

pemeliharaan dalam elemen ini dilakukan pemeriksaan istalasi terhadap

(48)

31

kebocoran dan kerusakan lainnya secara menyeluruh kemudian membandingkan dengan target yang ditentukan

Elemen kelima yakni membuat laporan pekerjaan berdasarkan ketentuan – ketentuan seperti laporan pekerjaan dibuat sesuai dengan format dan prosedur yang ditetapkan perusahaan. Selanjutnya berita acara pekerjaan dibuat sesuai prosedur yang ditetapkan perusahaan.

Tabel 1

Karakteristik Pekerja Bagian Pemeliharaan dan Perbaikan di PT. PLN (PERSERO) UPT Medan ULTG Paya Pasir

Responden Umur Lama Kerja Pendidikan Jabatan

Responden 1 35 11 Tahun S1 Spv. Jargi P.Pasir

Responden 2 27 4 Tahun S1 Pekerja

Responden 3 27 6 Tahun D3 Pekerja

Responden 4 23 2 Tahun D3 Pekerja

Responden 5 24 3 Tahun D3 Pekerja

Responden 6 22 7 Bulan D3 Pekerja

Responden 7 25 4 Tahun D3 Pekerja

Responden 1 26 6 Tahun D3 Pekerja

Responden 9 28 7 Tahun D3 Pekerja

Responden 10 26 3 Tahun S1 Pekerja

Responden 11 30 9 Tahun D3 Pekerja

Responden 12 29 8 Tahun D3 Pekerja

Responden 13 26 5 Tahun D3 Pekerja

Responden 14 27 4 Tahun S1 Pekerja

Responden 15 27 4 Tahun S1 Pekerja

Responden 16 24 3 Tahun D3 Pekerja

Responden 17 28 7 Tahun D3 Pekerja

Responden 18 23 2 Tahun D3 Pekerja

Responden 19 24 4 Tahun D3 Pekerja

Responden 20 23 2 Tahun D3 Pekerja

Responden 21 23 2 Tahun D3 Pekerja

Responden 22 24 3 Tahun D3 Pekerja

Responden 23 23 3 Tahun D3 Pekerja

Responden 24 24 3 Tahun D3 Pekerja

Responden 25 24 4 Tahun D3 Pekerja

Responden 26 28 8 Tahun D3 Pekerja

Responden 27 30 7 Tahun S1 Pekerja

(bersambung)

(49)

Tabel 1

Karakteristik Pekerja Bagian Pemeliharaan dan Perbaikan di PT. PLN (PERSERO) UPT Medan ULTG Paya Pasir

Responden Umur Lama Kerja Pendidikan Jabatan

Responden 28 29 7 Tahun D3 Pekerja

Responden 29 28 8 Tahun D3 Pekerja

Responden 30 27 5 Tahun D3 Pekerja

Hasil Wawancara Terbuka Tabel 2

Metode Kerja Safety Briefing Pemeliharaan Arraster pada 30 Pekerja Pertanyaan Jawaban

Bagaimana metode kerja safety briefing saat

pemeliharaan arraster ?

Responden 1 : sesuai dengan instruksi kerja yang diterapkan Responden 2 : dilakukan oleh manajer, supervisor dan seluruh pekerja yang berada di transmisi ULTG Paya Pasir Responden 3 : safety briefing dilakukan sebelum bekerja Responden 4 : safety briefing dimulai oleh PJK3L dengan menanyakan kondisi kesehatan pelaksana pekerjaan, dilanjut dengan pengawas untuk memberitahu daerah – daerah aman dan berbahaya.

Responden 5 : safety briefing yang dilakukan oleh manajer mengenai penyampaian target operasi kembali peralatan dan diakhiri dengan doa.

Responden 6 : dilakukan oleh pimpinan, supervisor, pengawas k3 dan seluruh pekerja yang berada di transmisi ULTG Paya Pasir

Responden 7 : pengawas melakukan safety briefing menyampaikan pekerjaan apa saja yang akan dilaksanakan dalam pemeliharaan arraster.

Responden 8 : safety briefing yang dilaksanakan sudah berjalan dengan baik dengan melibatkan pekerja tentang bekerja aman di lokasi kerja.

Responden 9 : dilakukan oleh manajer, supervisor dan seluruh pekerja yang berada di transmisi ULTG Paya Pasir Responden 10 : safety briefing yang dilakukan saat pemeliharaan arraster dilakukan oleh pekerja yakni personil – personil yang bertanggung jawab dalam pemeliharaan arraster.

(bersambung)

Referensi

Dokumen terkait

Pertamina Dari hasil penelitian yang dilakukan di Terminal BBM Medan Group penerapan K3 yang tampak jelas pada proses ini dilihat dari potensi bahaya yang ditemukan adalah

Perlindungan Hukum terhadap Pekerja Outsourcing yang Mengalami Kecelakaan Kerja secara Praksis .... SURAT

1. Besarnya hari yang hilang karena kecelakaan. Besarnya biaya pengobatan. Besarnya biaya kompensasi. Kerugian yang diakibatkan mesin stop produksi. Biaya personil pengganti

Gerry Silaban, M.Kes selaku Ketua Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara dan juga selaku Dosen

Apakah Anda pernah berkerja mengoperasikan alat atau mesin dengan peralatan safety pada mesin yang

“Semua upaya pengendalian yang diberikan perusahaan harus diterapkan oleh pekerja saat bekerja supaya dapat meminimalkan bahkan menghindari terjadinya risiko

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan waktu lembur, pengetahuan, kelelahan, pengawasa, unsafe act dan unsafe condition dengan kejadian kecelakaan kerja

bermotivasi tinggi dalam bekerja adalah untuk memperoleh keberhasilan, oleh karena itu mereka akan berusaha untuk selalu disiplin dengan mengikuti peraruran serta apapun yang