• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES PRODUKSI

PENANGANAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

5.8. Proses Pengiriman Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan akan dikirim ke PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI). Pengiriman limbah dilakukan setiap 6 bulan sekali karena berdasarkan PP no. 101 tahun 2014 PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk – Divisi Noodle Pontianak menghasilkan limbah yang hanya memiliki masa simpan selama 180 hari sehingga pengiriman harus dilakukan setiap 6 bulan sekali meskipun kebanyakan limbah masa simpannya adalah 365 hari. Apabila pemerintah mengetahui limbah tersebut disimpan lebih dari waktu penyimpanannya maka perusahaan akan diberi sanksi berupa penyegelan perusahaan dengan menggunakan police line dan peninjauan kembali apakah perusahaan masih layak memegang predikat yang didapat sebelumnya.

Proses pengiriman limbah dimulai dengan mengumpulkan limbah-limbah dari setiap unit lokasi yaitu di ruang produksi, teknik, gudang, laboratorium, dan perkantoran serta limbah-limbah B3 yang dibuang di tempat sampah seluruh kawasan pabrik. Limbah yang dihasilkan ada macam-macam seperti kain majun, bekas pelumas, sisa bahan

47

kimia, larutan kimia dan wadah-wadah penyimpanan bahan kimia. Limbah yang telah dikumpulkan kemudian dikemas sesuai jenis dan karakteristiknya. Pengemasan ini dilakukan dengan tujuan agar limbah tidak tercecer kemana-mana dan bercampur dengan limbah jenis lain. Selain itu, limbah yang dikemas akan memudahkan proses pengangkutan.

(Sumber: Dokumen Pribadi)

Gambar 5.15. Proses pengemasan limbah botol kimia

Gambar diatas merupakan limbah bekas botol kimia yang dikemas didalam karton. Untuk menghindari kerusakan yang akan terjadi selama pengiriman maka ruang kosong pada kardus diselipkan plastik agar botol tidak bergerak merusak botol lain. Apabila barang yang dikemas didalamnya rusak, maka pihak penerima -dalam hal ini PPLI- tidak akan menerima dan perusahaan diberi sanksi berupa teguran. Setelah isi didalam sudah dipastikan aman, karton selanjutnya diberi lem dan dipasangkan label serta simbol yang sesuai dengan karakteristik limbah. Beberapa jenis limbah seperti lampu, solar bekas dan oli bekas tidak dikemas didalam karton melainkan didalam tong / drum yang ditutup rapat. Begitu pula dengan limbah bahan kimia cair yang dikemas didalam gerigen bertutup.

Setelah dikemas, limbah kemudian ditaruh diatas palet pengangkut berdasarkan jenisnya. Pengangkutan limbah menggunakan palet dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan pengangkutan dan memudahkan pengelompokkan limbah sesuai jenis dan namanya. Setelah limbah dikelompokkan dalam satu palet, limbah akan dimuat ke kontainer. Saat dimasukkan kedalam kontainer, limbah yang ada di atas palet tidak

boleh diturunkan dan harus tetap dimuat dengan paletnya, tujuannya adalah agar limbah tidak tercampur dengan limbah lainnya mengingat karakteristik limbah yang bermacam-macam dapat dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan apabila tercampur satu sama lain selama pengiriman.

(Sumber: Dokumen Pribadi)

Gambar 5.16. Limbah sebelum diangkut ke kontainer

(Sumber: Dokumen Pribadi)

Gambar 5.17. Limbah saat dimasukkan kontainer

(Sumber: Dokumen Pribadi)

49

Setelah dimasukkan, pintu kontainer kemudian ditutup dan diberi segel. Segel yang digunakan yaitu segel khusus yang sudah ditentukan oleh pihak penerima. Segel yang sudah terpasang tidak boleh dibuka oleh siapapun hingga limbah tersebut sampai di tempat tujuan. Selain diberi segel, kontainer juga diberi simbol tertentu sebagai bukti bahwa limbah yang dibawa yaitu limbah yang berbahaya.

(Sumber: Dokumen Pribadi)

50

6.1. Kesimpulan

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk merupakan salah satu perusahaan besar di Indonesia yang bergerak di bidang industri pangan. Selain menghasilkan produk utama mereka berupa mi instan, dihasilkan juga sisa hasil produksi maupun non produksi yang berupa limbah bahan berbahaya dan beracun. Limbah bahan berbahaya dan beracun merupakan limbah yang mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat merusak lingkungan serta ekosistem dan kesehatan manusia apabila langsung dibuang ke lingkungan sehingga dibutuhkan treatment khusus untuk mengolahnya. Limbah B3 yang dihasilkan berasal dari unit produksi, teknik, gudang, laboratorium, poliklinik, dan perkantoran. Berbagai jenis limbah yang dihasilkan yaitu kain majun bekas, filter bekas, kemasan terkontaminasi berupa kaleng cat, botol kimia, gerigen oli, tabung bekas freon, limbah elektronik, bahan kimia lab, oli bekas, solar bekas, dan aki bekas.

Dalam pengolahan limbah B3, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Divisi Noodle Pontianak menjalankannya sesuai dengan regulasi yang berlaku yaitu berdasarkan Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun yang sekarang berubah menjadi Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014, Kepdal No.1 Tahun 1995 tentang Tata Cara Dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, PERMEN LH No. 3 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pemberian Simbol dan Label Bahan Berbahaya dan Beracun, PERMEN LH No. 14 Tahun 2013 Tentang Simbol dan Label Bahan Berbahaya dan Beracun, serta PP No. 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) terdiri dari dua kategori yaitu kategori 1 dan kategori 2. Kategori 1 yaitu limbah yang berdampak langsung sedangkan kategori 2 yaitu limbah yang berdampak tidak langsung dan menyebabkan efek semi-kronis dan kronis. Limbah B3 dikumpulkan setiap 1 minggu sekali sehingga berat yang dihasilkan

51

berbeda-beda. Disimpan di TPS selama 6 bulan setelah itu dikirim ke PPLI (PT. Prasadha Pamunah Limbah Industri) yang berada di Bogor.

6.2. Saran

Menurut saya pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun yang ada di PT Indofood ini sudah tergolong cukup baik. Saran yang ingin saya sampaikan adalah untuk limbah bahan kimia cair yang dihasilkan oleh departemen Quality Control dapat saling dipisahkan sesuai dengan uji yang dilakukan. Tujuannya adalah pelarut yang digunakan dari suatu uji seperti heksan dan reagen lainnya dapat dimurnikan kembali dan bisa dipakai lagi sebagai pelarut untuk uji yang sama. Selanjutnya yaitu penambahan sarana di TPS seperti alarm sebagai penanda apabila limbah mengalami masalah selama penyimpanan.

52

Fauziah, S. Sirajuddin., U. Najamuddin. (2013). Analisis Kadar Asam Lemak Bebas Dalam Gorengan dan Minyak Bekas Hasil Penggorengan Makanan Jajanan di

Workshop Unhas. Universitas Hasannudin Makassar.

http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/5650/Jurnal%20pisang

%20goreng%20MKMI.pdf?sequence=1.

Keputusan Kepala Bapedal No. 1 Tahun 1995 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan Dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun, Jakarta.

http://dpu.kulonprogokab.go.id/files/Kepka%20Bapedal%20No.01%20Tahun%20

1995%20tatacara%20%20pengumpulan%20limbah%20B3.pdf.

Padmaningrum, R.T. 2010. Penanganan Limbah Laboratorium Kimia. Yogyakarta:

Kanisius.

http://staffnew.uny.ac.id/upload/131930137/pengabdian/c12penanganan-limbah-laboratorium-kimiaregina-tutikuny.pdf.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 3 Tahun 2008 Tentang Tata Cara Pemberian

Simbol Dan Label Bahan Berbahaya Dan Beracun, Jakarta.

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://jdih.pom.go.id/show pdf.php%3Fu%3D406&ved=2ahUKEwil3LOJoYbjAhUymuYKHdk9BKAQFjABegQIAhAB&us

g=AOvVaw1m8YM4f3ntECY1Stx0g2m6.

Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan

Beracun, Jakarta.

http://jdih.pom.go.id/showpdf.php?u=GCr%2BYZvvjyuLwtkY1KmSqVf3dYOfUJcLVFlXZAG

AGDg%3D.

Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun, Jakarta.

https://pelayanan.jakarta.go.id/download/regulasi/peraturan-pemerintah-nomor-101-tahun-2014-tentang-pengelolaan-limbah-bahan-berbahaya-dan-beracun.pdf.

Sidik, A. A., E. Damanhuri. (2012). Studi Pengelolaan Limbah B3 (Bahan Berbahaya Dan Beracun) Laboratorium di ITB. Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 18 No. 1.

http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/article/download/8246/3307.

Utomo, S. 2012. Bahan Berbahaya dan Beracun (B-3) dan Keberadaannya di Dalam

53

https://media.neliti.com/media/publications/108282-ID-salah-satuupaya-penganekaragaman-makanan.pdf.

Widjajanti, Endang. (2009). Penanganan Limbah Laboratorium Kimia. Kegiatan PPM

Prodi Dik Kim. Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY.

http://staff.uny.ac.id/system/files/pengabdian/endang-widjajanti-lfx-ms-dr/limbah.pdf.

Winarno, F.G., 1997. Kimia Pangan Dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. (Buku)

Yuyun, A. 2008. Panduan Membuat dan Menjual Aneka Mi. Agromedia, Jakarta. https://agromedia.net/katalog/panduan-membuat-dan-menjual-aneka-mi-plus-vcd/

54

Dokumen terkait