5.2. Pengendalian Mutu Proses Pengolahan Biji Kopi
5.2.1. Proses Pengolahan Basah (RWP)
Setelah sampai di pabrik buah kopi akan dimasukkan ke bak penampung yang kemudian akan dialirkan menuju bak syphon dengan bantuan aliran air. Sebelum buah kopi dialirkan ke bak syphon, bak terlebih dahulu diisi dengan air sehingga setelah buah kopi masuk ke dalam bak akan ada buah kopi yang tenggelam dan terapung. Tahap ini merupakan tahap sortasi yaitu dilakukan pemisahan antara buah kopi dengan kualitas baik dan kualitas rendah/jelek. Buah kopi yang tenggelam disebut superior atau buah kopi dengan kualitas baik dan buah kopi yang terapung disebut inferior atau buah kopi dengan kualitas rendah. Tenggelamnya buah kopi disebabkan karena buah kopi memiliki berat jenis yang lebih besar daripada air sedangkan buah kopi yang terapung memiliki berat jenis yang lebih kecil daripada air. Hal ini sesuai dengan Ayuna (2017), proses sortasi adalah proses pemisahan berdasarkan densitas atau daya apung bahan yang ingin dipisahkan dari bahan yang tidak diinginkan.
Terdapat batas kritis pada proses pemisahan tersebut yaitu kuat arus listrik <40A dan ketingian air dari permukaan kopi inferior >20 cm (Najiyati dan Danarti, 2004). Jika kuat arus yang digunakan lebih tinggi dari batas kritis maka dapat menyebabkan gangguan pada pengaliran air dari pompa menuju bak syphon sehingga proses pemisahan akan terhambat dan jika ketinggian airnya lebih rendah maka dapat menyebabkan proses pemisahan antara buah kopi merah dan buah kopi hijau menjadi kurang sempurna. Kurang sempurnanya pemisahan ini disebabkan karena ketinggian air terlalu rendah sehingga kopi inferior tidak dapat masuk ke dalam lubang yang akan mengalir menuju ke bak kambangan, tetapi kopi inferior akan terikut masuk bersama kopi superior. Tidak hanya proses sortasi dengan memisahkan buah kopi merah dan bauh kopi hijau, tetapi pemisahan antara buah kopi dengan benda asing yang terikut masuk juga dilakukan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi penyumbatan aliran yang dapat mengganggu proses pemisahan pada bak syphon. Benda asing yang dapat terikut masuk antara lain ranting pohon, tali karung goni, kerikil dan daun. Menurut Wilbaux (1963), bahwa tujuan dilakukannya sortasi adalah untuk memisahkan buah kopi yang diinginkan dari kotoran seperti ranting, daun dan kerikil. Tahap sortasi ini termasuk dalam proses pengendalian mutu. Pengecekan debit air dan kuat arus listrik pada bak syphon juga termasuk dalam pengendalian mutu.
50
Setelah dari bak syphon, buah kopi yang tenggelam akan dialirkan ke raung pulper untuk proses pengupasan kulit buah dari daging buah (masih terdapat kulit tanduk dan kulit ari) dan buah kopi yang terapung akan masuk ke bak kambangan. Terdapat 2 macam cara pengupasan kulit yaitu secara manual dan mekanis. Pengupasan kulit buah secara mekanis dilakukan dengan mesin pulper. Pada umumnya mesin pulper yang digunakan ada 2 macam yaitu vis pulper dan raung pulper. Perbedaan antara kedua jenis mesin tersebut adalah vis pulper hanya berfungsi sebagai pengupas kulit buah sehingga hasilnya (kopi bugil) harus difermentasi dan dicuci kembali. Sedangkan raung pulper berfungsi sebagai pencuci sehingga kopi bugil akan langsung masuk ke tahap pengeringan dan tidak perlu difermentasi atau dicuci kembali (Najiyati dan Danarti, 2004). Di Pabrik Kopi Banaran jenis mesin pengupas buah kopi yang digunakan adalah mesin raung pulper. Menurut Rahmawati (2017) dalam pengolahan kopi secara basah diperlukan proses fermentasi setelah proses pulping. Proses fermentasi ini berfungsi untuk melepaskan lendir yang menempel pada kulit tanduk sehingga pada saat pencucian berlangsung lendir akan mudah terlepas. Hal ini juga mempermudah dalam proses pengeringan. Pengolahan kopi secara basah dibagi menjadi 3 tahap yaitu pengolahan basah dengan fermentasi kering, pengolahan basah dengan fermentasi basah dan pengolahan basah tanpa proses fermentasi. Perbedaannya adalah pada fermentasi basah dilakukan penambahan air untuk merendam biji kopi, sedangkan pada fermentasi kering tidak dilakukan penambahan air namun biji kopi hanya ditutupi dengan karung goni saja. Pengolahan buah kopi yang dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara IX-Pabrik Kopi Banaran yaitu tidak menggunakan proses fermentasi. Avallone et al. (2002) mengatakan bahwa kopi dengan tahap fermentasi mampu memberikan kualitas kopi yang lebih baik dibandingkan dengan kopi tanpa tahap fermentasi.
Selama proses pengupasan (pulping) dilakukan proses pencucian yang tujuannya untuk menghilangkan lendir yang menempel pada daging buah serta membersihkan daging buah dari kulit buah yang menempel setelah proses pengupasan. Karena di PT, Perkebunan Nusantara IX-Pabrik Kopi Banaran tidak menggunakan tahap fermentasi maka dilakukan proses pencucian untuk menghilangkan lendir. Menurut AAK (1988), buah kopi yang sudah masak/matang akan menghasilkan serabut lendir dengan rasa
yang manis, lendir tersebut dapat menarik perhatian hewan-hewan yang ada di sekitar perkebunan kopi seperti musang. Lendir tersebut memiliki kandungan protein dan glukosa yang dapat terurai oleh bakteri jika ada panas, udara dan air (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2008). Kulit buah kopi yang dibuang ternyata mengandung zat nutrisi seperti bahan kering (BK) sebesar 91,77%; lemak kasar (LK) sebesar 2,5%; serat kasar (SK) sebesar21,74%; protein kasar (PK) sebesar 11,18% dan tingkat kecernaan (TDN) sebesar 57,20% (Baonet al., 2005). Hasil yang diperoleh dari proses pulping disebut kopi bugil. Pada proses ini, pengendalian mutu dilakukan dengan pengecekan kopi bugil setelah proses pulping, kopi bugil yang didapatkan harus memiliki kulit tanduk. Jika buah kopi yang masuk ke mesin raung pulper tidak terkelupas sempurna maka dapat mengurangi jumlah kapasitas mesin pengering dan berpengaruh terhadap ketepatan pengukuran kadar air. Apabila kopi bugil yang didapatkan pecah atau kulit tanduk rusak maka biji kopi akan dikategorikan ke dalam mutu lokal. Pengendalian mutu juga dilakukan dengan pengaturan buah kopi yang masuk ke raung pulper. Hal ini ditujukan agar kerja raung pulper tetap terkontrol dan tidak melebihi dari batas kritisnya. Cara yang dilakukan untuk mengatur buah kopi yang masuk ke mesin raung pulper yaitu dengan membuka dan menutup sekat antara bak syphon dengan raung pulper. Kualitas pengupasan menentukan mutu fisik dan cita rasa dari kopi. Jika kualitas pengupasan yang dilakukan kurang sempurna maka hasil yang didapatkan juga kurang baik. Pengupasan buah kopi yang baik dengan diperoleh biji kopi yang masih memiliki kulit tanduk. Hal ini mampu membuat umur simpan biji kopi lebih lama dibandingkan biji kopi tanpa kulit tanduk (Sivetzet al., 1963).
Selesainya proses pengupasan kulit buah lalu dilanjutkan dengan proses penuntasan. Kopi bugil yang berasal dari raung pulper akan dialirkan menuju bak penuntasan melalui pipa-pipa dengan bantuan pompa. Masing-masing pompa mengacu pada 1 mesin raung pulper, namun tidak semuanya akan mengalir ke bak penuntasan. Pompa limbah akan mengalirkan limbah cair hasil pencucian dan pengupasan buah kopi ke tempat pembuangan limbah yang sudah disediakan. Pompa masson dan viss mengacu/mengalirkan kopi bugil dari mesin raung pulper I-III, pompa kambangan mengalirkan kopi bugil dari mesin raung pulper IV. Proses penuntasan berfungsi untuk untuk mengurangi jumlah kadar air berlebih yang ada di kopi bugil agar saat
52
dimasukkan ke dalam mesin pengering tidak dapat merusak instalasi pemanas dan tidak mengurangi kalori panas pada mesin pengering (Najiyati dan Danarti, 2004). Bak penuntasan hanya ada di pengeringan viss karena pada mesin masson sudah terdapat alat putar yang fungsinya sama dengan bak penuntasan yaitu untuk mengurangi jumlah kadar air.
Macam pengeringan yang dilakukan di Pabrik Kopi Banaran ada 2 yaitu pengeringan viss dan pengeringan masson. Pengeringan viss dilakukan di ruangan yang terdiri dari 2 lantai yaitu lantai atas dan lantai bawah. Lantai atas merupakan tempat penjemuran kopi bugil dan lantai bawah merupakan ruang pemanas. Sumber panas yang digunakan berupa tungku pemanas dengan bahan bakar batang pohon karet. Energi panas yang dihasilkan dari tungku api akan dialirkan melalui lorong yang terbuat dari plat besi menuju pipa pemanas. Saat udara dari luar masuk dan bertemu dengan pipa pemanas maka udara tersebut akan berubah menjadi udara panas yang mampu memanaskan/mengeringkan kopi bugil yang ada di lantai atas. Kopi bugil yang dikeringkan akan disebarkan di lantai berlubang yang terbuat dari plat besi dengan ketebalan <20 cm (bordes), ukuran lubang lantai tersebut lebih kecil dari kopi bugil. Selain tungku pemanas juga terdapat ventilasi udara yang terletak di lantai atas maupun bawah. Fungsi dari ventilasi udara ini adalah untuk tempat keluar masuknya udara. Pada lantai atas, ventilasi dibuat terbuka sehingga udara panas dapat masuk dan mempercepat proses penguapan air. Sedangkan lantai bawah, ventilasi udara dibuat berada dibawah posisi pipa pemanas sehingga udara dari luar dapat masuk dan naik ke atas yang kemudian bersinggungan dengan pipa pemanas dan menghasilkan udara panas. Selama pengeringan berlangsung, kopi bugil akan dibalik-balik oleh pekerja dengan tujuan agar proses pengeringan merata dan didapatkan biji kopi yang tidak gosong. Menurut Ekechukwuet al., (1999) tujuan dari proses pengeringan adalah untuk mengurangi kandungan air yang terdapat dalam suatu produk sampai pada tingkat tertentu, sehingga didapatkan produk dengan umur simpan yang panjang serta tidak mudah membusuk. Tujuan dari pengeringan kopi bugil adalah untuk menurunkan kadar air kopi bugil yang semula 60-65% menjadi 12% atau <12%. Kadar air biji kopi yang relatif aman untuk dikemas dalam karung dan disimpan di dalam gudang pada kondisi lingkungan tropis adalah 12% dan untuk menonaktifkan mikroorganisme yang ada di dalam produk, maka
kadar air produk tersebut harus dikurangi sampai hanya tersisa 5-10% (Endri & Suryadi, 2013).
Beberapa kelebihan dari proses pengeringan adalah mengurangi jumlah kerusakan dan pembusukan produk, biaya transportasi dan penyimpanan lebih murah, mengurangi biaya pengemasan dan kebutuhan akan pendinginan dan menjamin ketersediaan produk musiman. Selain kelebihan terdapat pula kelemahan dari proses pengeringan yaitu mutu produk dan kandungan vitamin lebih rendah yang disebabkan oleh panas, terjadi perubahan warna produk dan terjadi case hardening. Case hardening ditandai dengan kerasnya bagian permukaan produk dengan bagian dalam yang masih basah (Endri & Suryadi, 2013). Pengendalian mutu yang dilakukan pada proses pengeringan adalah dengan mengkontol energi panas yang digunakan untuk mengeringkan kopi bugil, mengkontrol waktu pengeringan, memonitor kadar air secara periodik dan mengatur frekuensi pembalikan tumpukan kopi bugil yang dikeringkan. Pengeringan viss juga memiliki batas kritis yaitu warna kopi HS harus kuning kecoklatan dan kulit tanduk mudah terkelupas. Karena adanya batas kritis tersebut maka diperlukan suatu penanganan agar batas kritis tidak dilanggar antara lain melakukan pengecekan pipa untuk memanaskan, memperpanjang waktu pemanasan jika suhu belum mencapai standar yang seharusnya, menghentikan proses pengeringan jika suhu terlalu tinggi dan melakukan kalibrasi alat serta mesin (Najiyati dan Danarti, 2004). Hasil dari proses pengeringan baik pengeringan viss maupun pengeringan masson adalah kopi HS. Suhu yang digunakan untuk pengeringan viss dryer secara bertahap adalah suhu 40-80°C selama 8 jam kemudian dilanjutkan dengan suhu 80-110°C selama 20 jam, lalu dengan suhu 80-60°C selama 8 jam dan suhu 60-40°C selama 2 jam. Di PT. Perkebunan Nusantara IX-Pabrik Kopi Banaran ruang pengeringan viss ada 4 ruang yaitu ruang viss I, ruang viss II, ruang viss III dan ruang viss IV. Ruang viss I dan II mampu memuat kapasitas sebesar 18 ton, ruang viss III mampu memuat kapasitas sebesar 15 ton dan ruang viss IV mampu memuat kapasitas sebesar 8 ton.
Pada pengeringan masson, sumber panas yang digunakan berupa tungku pemanas dengan bahan bakar solar dan batang kayu pohon karet. Namun di PT. Perkebunan Nusantara IX-Pabrik Kopi Banaran mesin masson yang dapat digunakan hanya mesin
54
masson dengan menggunakan bahan bakar batang kayu karena mesin masson dengan bahan bakar solar mengalami kerusakan dan belum diperbaiki. Kopi bugil yang berasal dari pompa masson nantinya akan mengalir masuk ke mesin masson. Satu mesin masson hanya mampu memuat 15 ton kopi bugil. Jumlah mesin masson yang ada di Pabrik Kopi Banaran ada 4 mesin yaitu 3 mesin masson dengan bahan bakar batang kayu dan 1 mesin masson dengan bahan bakar solar. Mesin ini hanya membutuhkan waktu pengeringan selama 18-20 jam. Pengeringan dengan mesin masson lebih efisien dan cepat dibandingkan menggunakan pengeringan viss yang membutuhkan waktu selama 38-40 jam. Beberapa tahapan dari waktu dan suhu yang dibutuhkan untuk pengeringan dengan mesin masson yaitu selama 8 jam dengan suhu 40-80°C dilanjutkan selama 20 jam dengan suhu 80-110°C, kemudian selama 8 jam dengan suhu 80-60°C dan selama 2 jam dengan suhu 60-40°C. Pada proses pengeringan ini dilakukan pengecekan kadar air selama 10 jam terakhir, apabila kadar air kopi bugil sudah mencapai 9% maka mesin masson akan dihentikan. Pengendalian mutu yang dilakukan pada proses pengeringan masson dryer adalah dengan mengecek suhu pengeringan secara periodik, memonitor kadar air dari kopi bugil, mengkontrol jumlah penggunaan kayu bakar dan penggunaan oli sebagai pelumas. Lalu batas kritis dari pengeringan masson yaitu suhu pengeringan yang digunakan maksimal 120°C, waktu pengeringan selama 18-20 jam, kuat arus listrik <40A dan kadar air kopi HS maksimal 12%. Cara penanganan yang dilakukan agar tidak melebihi batas kritis adalah dengan melakukan pengecekan pipa pemanas, memperpanjang lama waktu pengeringan jika suhu belum mencapai standar dan menghentikan proses pengeringan jika suhu terlalu tinggi dan melakukan kalibrasi alat serta mesin.
Faktor terpenting dalam proses pengeringan adalah proses pembalikan biji kopi dan pengaturan suhu yang dipakai. Jika suhu yang digunakan tidak tepat maka dapat menyebabkan off- flavor pada kopi dan apabila proses pembalikan tidak dilakukan secara merata maka dapat menyebabkan penurunan mutu. Menurut Endri & Suryadi (2013) juga mengatakan untuk mendapatkan kualitas pengeringan yang baik maka parameter yang harus dikontrol adalah kecepatan aliran udara, kelembaban relative udara (RH) dan temperature udara. Saran kecepatan aliran udara yang diberikan yaitu sekitar 1,5-2 m/s. Tidak hanya kecepatan yang dikontrol namun arah aliran udara juga
perlu dikontrol, arah yang sejajar dengan produk akan lebih efektif. Penggunaan suhu tinggi memang akan mempercepat proses pengeringan namun suhu yang terlalu tinggi (lebih dari 60°C) akan menyebabkan terjadinya case hardening. Pada umumnya proses pengeringan dilakukan pada RH rendah yang berfungsi untuk mempercepat difusi air. Untuk mendapatkan RH rendah maka sirkulasi udara dari dalam ke luar pengering dibuat sebaik mungkin sehingga uap air yang dihasilkan oleh produk akan langsung dibuang keluar ke udara lingkungan.
Setelah dikeringkan kopi HS didinginkan supaya biji kopi tidak pecah saat proses penggerbusan. Pendinginan dilakukan dengan dimasukkan ke dalam karung goni selama 24 jam yang kemudian kopi HS tersebut masuk ke mesin huller untuk proses penggerbusan. Proses penggerbusan ini dilakukan untuk memisahkan biji kopi dari kulit tanduk dan kulit arinya. Penyetelan pisau pada alat huller menjadi penentu kondisi kopi HS, semakin rapat penyetalan pisau maka semakin banyak hasil kopi HS yang rusak setelah digrebus namun semakin longgar penyetelan pisaunya maka semakin banyak hasil kopi HS yang tidak terkelupas sempurna (masih terdapat kulit ari atau masih ada kulit tanduk dan kulit ari). Hasil yang diperoleh dari proses penggerbusan dinamakan kopi beras. Di PT. Perkebunan Nusantara IX-Pabrik Kopi Banaran pengkontrolan dilakukan secara periodik dengan tujuan untuk meminimalkan adanya hasil yang cacat, pecah, kulit tanduk yang masih utuh serta kulit ari yang masih menempel. Pengkontrolan dilakukan dengan memeriksa sarana dan prasarana pada mesin huller, mengatur jumlah masuknya kopi HS kering ke mesin dan penyetelan pisau huller serta kecepatan perputaran pisau mesin. Proses ini juga mempunyai batas kritis yaitu presentase kopi HS yang terkelupas >5% dan presentase kopi HS yang pecah maksimal 1%. Penanganan yang dilakukan jika proses penggerbusan tidak sesuai adalah mengecek dan memperbaiki mesin huller, membersihkan mesin sesuai dengan prosedur yang ada, melakukan penimbangan penggerbusan ulang.
Proses sortasi dilakukan setelah proses penggerbusan selesai. Proses ini merupakan proses penentu suatu biji kopi dinyatakan layak dengan sesuai berdasarkan standar dan siap untuk dipasarkan atau didistribusikan. Prinsip kerja dari sortasi ini yaitu mengkategorikan biji kopi berdasarkan kualitas mutu dan memisahkan biji kopi yang
56
baik dengan biji kopi cacat seperti berlubang 1, berlubang lebih dari 1, pecah, bertutul, biji berwarna hitam atau coklat, dll. Jenis biji kopi cacat yang sering ditemui di PT Perkebunan Nusantara IX (PERSERO)-Pabrik Kopi Banaran yaitu biji kopi berlubang 1, biji kopi berlubang lebih dari 1 dan biji kopi pecah. Pengkategorian biji kopi berdasarkan kualitas mutu dibedakan menjadi 2 yaitu pengolahan basah (RWP) dan pengolahan kering (RDP). Di PT. Perkebuanan Nusantara IX (PERSERO)-Pabrik Kopi Banaran, kualitas mutu pada pengolahan basah ada 4 yaitu mutu 1, mutu 4, mutu lokal dan mutu RDP. Sedangkan di pengolahan kering ada 2 yaitu mutu 1 dan mutu lokal. Penyortiran kopi beras dilakukan oleh pekerja borongan yang jumlahnya sekitar 300 orang selama musim panen raya (Juli-September) dan sekitar 160-200 orang selama bukan musim panen. Para pekerja borongan akan mengambil kopi beras yang telah di huller di bak penampung. Kapasitas bak penampung ini sebesar 2,5 ton. Kopi beras yang telah diambil kemudian ditampi dengan menggunakan tampah, lalu dilakukan penyortiran secara visual antara biji kopi yang bagus dengan biji kopi gelondongan yang masih terbungkus oleh kulit tanduk, biji kopi kering, kotoran dan kulit tanduk. Penyortiran yang dilakukan oleh pekerja borongan ini tentunya kurang teliti karena hanya memilah berdasarkan sepenglihatan mereka seperti adanya biji kopi yang masih terbungkus kulit tanduk, kotoran (batu kerikil) serta kulit tanduk. Hal-hal tersebut masih dapat dilihat dengan jelas atau dapat dibedakan dengan biji kopi. Namun penyortiran seperti biji kopi yang berlubang dan pecah diperlukan proses penyortiran yang lebih detail dan hal ini dilakukan oleh orang QC (Quality Control). Dalam penyortiran secara detail, orang QC akan melakukan pengecekan kembali dengan mengkategorikan biji kopi tersebut masuk ke dalam mutu 1/mutu 4 / mutu lokal untuk biji kopi pengolahan basah (RWP) dan mutu 1/ mutu lokal untuk biji kopi pengolahan kering (RDP).
Setelah pengkategorian untuk kualitas mutu selesai, kemudian dilakukan perhitungan nilai cacat atau sampling pada biji kopi dengan membandingkannya dengan SNI untuk mutu biji kopi robusta. Perhitungan nilai cacat dilakukan sebelum biji kopi diayak dan disimpan ke dalam karung goni. Proses sortasi merupakan proses terpenting dalam pengolahan biji kopi yang ada di PT. PN karena dari sekian banyaknya pengendalian mutu yang dilakukan dari kebun sampai proses pengolahan, nantinya proses ini yang akan menentukan hasil akhir biji kopi yang diperoleh sudah sesuai dengan pengendalian
atau belum. Cara untuk mengetahui hasil akhir berupa biji kopinya sudah sesuai dengan pengendalian atau belum dilihat dari hasil sampling/nilai cacat yang dilakukan. Jika hasil yang didapatkan melebihi presentase nilai cacat yang sudah ditentukan maka akan dilakukan pengulangan sortasi dan pemberitahuan kepada pihak kebun agar dilakukan penyuluhan kembali. Dalam melakukan sampling atau menghitung nilai cacat, cara yang dilakukan yaitu dengan mengambil 300 gram biji kopi secara acak kemudian dipilah dan dihitung jumlah biji kopi yang berlubang 1, biji kopi yang berlubang lebih dari 1 dan biji kopi yang pecah. Kemudian catat hasilnya, hitung dan bandingkan dengan SNI untuk mutu biji kopi robusta. Dalam menghitung nilai cacat, rumus yang digunakan yaitu:
Total Presentase nilai cacat =
�jumlah biji kopi pecah ×15� + �jumlah biji kopi lubang 1 × 10�1 + �jumlah biji kopi lubang > 1 ×15� 𝑠𝑠
Tabel 5. Macam-Macam Jenis Biji Kopi Beserta Nilai Cacatnya
No Jenis Cacat Nilai Cacat
1 1 biji hitam 1
2 1 biji hitam sebagian 1/2
3 1 biji hitam pecah 1/2
4 1 kopi gelondong 1
5 1 biji cokelat 1/4
6 1 kulit kopi ukuran besar 1
7 1 kulit kopi ukuran sedang 1/2
8 1 kulit kopi ukuran kecil 1/5
9 1 biji berkulit tanduk 1/2
10 1 kulit tanduk ukuran besar 1/2
11 1 kulit tanduk ukuran sedang 1/5
12 1 kulit tanduk ukuran kecil 1/10
13 1 biji pecah 1/5
14 1 biji muda 1/5
58
16 1 biji berlubang lebih dari 1 1/5
17 1 biji bertutul 1/10
Perhitungan presentase nilai cacat/sampling dilakukan setelah proses sortasi berdasarkan kualitas mutu selesai. Misalkan pada hari ini dilakukan penyortiran untuk biji kopi dari pengoalahan basah (RWP) dengan mutu 1 maka perhitungan presentase nilai cacat yang dilakukan, untuk biji kopi dengan pengolahan basah dengan mutu 1. Berikut adalah data dari presentase nilai cacat yang saya lakukan selama 20 hari kerja di PT. Perkebunan Nusantara IX-Pabrik Kopi Banaran dengan ukuran biji kopi yang di sampling adalah ukuran L:
Tabel 6. Presentase Nilai Cacat Selama 20 Hari Kerja di PT. Perkebunan Nusantara IX-Pabrik Kopi Banaran
Tanggal Metode Proses Pengolahan
Mutu
Presentase Nilai Cacat
Total Presentase Nilai Cacat Pecah Lubang 1 Lubang
>1 2 Jan 2018 RWP 1 0 7,1 1,4 8,5 RWP 4 0.4 29,3 34,6 64,3 RDP 1 0 2,3 2,6 4,9 3 Jan 2018 RWP 1 0,6 5,7 2 8,3 RWP 4 0 11,7 13,6 25,3 RDP 1 0,4 3,6 0,8 4,8 4 Jan 2018 RWP 1 0 7,5 2,4 9.9 RWP 4 0,6 11,5 13 25,1 RDP 1 0 2,3 2,6 4,9 5 Jan 2018 RWP 1 0 4,3 2,6 6,9 RWP 4 0,4 9,2 10 19,6 RDP 1 0,2 3,6 3 6,8 6 Jan 2018 RWP 1 0 6 2 8,4